Bus besar yang kami tumpangi selama perjalanan #KeralaBlogExpress harus berhenti dan menepi di sebuah tebing yang bersisian dengan hamparan kebun teh. Kami semua diminta turun dan diharuskan berganti kendaraan dengan jeep yang berukuran lebih kecil. Maklum, lokasi Suryanelli Camp yang akan kami tuju terletak di kawasan hutan Kupu-kupu. Ya, dalam bahasa Inggris, hutan tersebut dikenal dengan nama Butterfly Forest. Dinamakan demikian, konon katanya banyak kupu-kupu cantik yang tinggal di hutan ini.
Di area pemberhentian, kami bertemu dengan beberapa penduduk lokal. Mayoritas adalah ibu-ibu yang akan mengantar anaknya ke sekolah. Wah lucunya anak-anak Kerala ini. Walaupun mereka berkulit lebih gelap, tetap saja wajah polos mereka turut mewarnai pagi kami di tempat yang sejuk itu. Tak ayal, kami semua langsung berebut memotret, untungnya mereka pun senang difoto walau nampak malu-malu.
Padahal, jujur saja aku agak khawatir perihal ini. Aku teringat pengalaman saat berada di Varanasi setahun sebelumnya, saat itu aku berjumpa dengan penduduk lokal dan mereka berebut minta difoto. Sialnya, kami dimintai uang sesudahnya. Lha! Maka dari itu, terberkatilah masyarakat Kerala, mereka dianugerahi keramahan di atas rata-rata penduduk India.
Satu mobil jeep dapat ditempati oleh setidaknya 8 orang beserta supir. Aku lupa satu mobil dengan siapa saja saat itu, yang jelas, dari pinggir jalan besar, kami menempuh perjalanan sekitar 20 menit untuk mencapai lokasi perkemahan. Yup, untuk malam tersebut hingga esok, kami akan berkemah dan melakukan beberapa kegiatan yang bersentuhan langsung dengan alam Munnar.
Sejak awal, kami sudah diberitahu dan diminta untuk membawa peralatan sekadarnya saja. Jadilah, masing-masing blogger hanya membawa ransel kecil berisikan pakaian untuk satu malam. Koper berukuran besar kami tinggal di bus. Lalu, sebagaimana informasi yang diberikan jauh sebelum kami berangkat, kami juga akan melakukan hiking di lokasi perkemahan.
“Aku nggak sabar nunggu besok,” ujar Anita, blogger dari Selandia Baru.
“Iya, aku juga udah nggak sabar,” jawab Sarah, blogger dari Australia.
Kebetulan aku duduk tepat di belakang mereka. Dasar bule ya, demen banget berkegiatan di alam. Aku sendiri? Duh, belum apa-apa udah ngerasa ngap-ngapan. Mendapati fakta itu, sungguh, aku merasa kotor #eh. Tak heran, saat pembagian kelompok, sebagian besar memilih long trek. Hanya segelintir orang saja yang memilih short trek (ya aku diantaranya). Sebagian lagi memilih untuk tidak ikutan sama sekali dengan alasan kesehatan.
Kami tiba di lokasi perkemahan dengan sambutan kabut tipis. Pemandangan di sekitar perkemahan indah sekali. Dimana-mana terlihat pohon teh. Ada sebuah ruangan besar yang digunakan sebagai tempat pertemuan, di sekitarnya berdiri rapi tenda-tenda yang akan kami gunakan untuk tidur. Di sisi belakang, gunung Phantom terlihat berdiri gagah. Luar biasa!
https://www.instagram.com/p/BCFipchmlEs/
Kami berkumpul di bangunan utama untuk mendengarkan arahan dari tim Kalypso Adventures, operator yang mengurusi perkemahan dan perjalanan kami di sana. Di akhir briefing¸kami diberikan goodie bag berisi topi dan kaos. Kami diminta berganti pakaian saat itu juga karena hiking akan segera dilakukan.
“Berapa lama perjalanan kita menuju titik pemberhentian,” tanyaku ke salah satu pemandu.
“Sekitar 4 jam. Jika cepat, 3 jam bisa tembus,” jawabnya.
Wew, mendengar itu aku mendadak makin galau. “Kira-kira sanggup, gak ya?” batinku. Jojo, blogger asal Filipina yang menjadi room mate-ku pasca pecah kongsi dengan si Spanyol, nampak memiliki kekhawatiran serupa. Tiba-tiba saja dia mendekat dan berbisik, “tenang saja Haryadi, nanti kalau kita nggak kuat, kita langsung nyerah saja.”
Sialan, belum apa-apa kok udah mau berkonspirasi begini muahaha.
Naik-naik ke Puncak Gunung
Tak lama, pendakian dimulai. Kami berjalan bersama dan semakin jauh meninggalkan lokasi perkemahan. Di sepanjang perjalanan, beberapa kali kami berpasasan dengan penduduk setempat. Ntah dimana lokasi rumah mereka, karena sekeliling pandangan mata, yang aku lihat hanya pohon, pohon dan pohon.
https://www.instagram.com/p/BEn1uPAGlOl/
Mulanya, perjalanan masih terasa mudah. Medan yang kami gunakan berupa jalanan yang biasa dilalui oleh kendaraan. Kondisi jalan yang kering juga cukup baik. Matahari mulai meninggi, walaupun cuaca dingin namun sinar matahari terasa mulai menyengat. Persis seperti yang aku rasakan saat berkunjung ke Pagar Alam, beberapa waktu lalu.
Karena terletak di dataran tinggi dan dihampari perkebunan teh, Munnar memang menjadi salah satu lokasi wisata andalan di Kerala. Tak heran, di lokasi lain, kami dengan mudah mendapati bangunan modern yang dipergunakan sebagai penginapan bagi tamu yang ingin berlibur di sana. Sebagian besar bangunan ini belum berpenghuni karena baru dibangun. Kami bahkan sempat melihat langsung para pekerja yang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan.
20 menit berjalan, napasku mulai pendek. Ini nih kalau nggak biasa olahraga, belum apa-apa udah ngap-ngapan. Walau begitu, perjalanan belum ada seujung kuku, aku tetap berusaha agar tidak menyerah. Apalagi berkali-kali teman-teman lain menyemangati, “hayo Haryadi, jangan menyerah!”
Malu dong, mosok semok-semok gini lembek hehehe. Apalagi, beberapa blogger lain yang bobot tubuhnya jauh lebih besar ketimbang aku masih bertahan. Walau nampak kepayahan, tapi mereka masih semangat. Sayang seratus kali sayang, ketika kami tiba di pemberhentian pertama, aku akhirnya memilih untuk menyudahi hiking tersebut.
“Ayolah Haryadi, aku sudah tak sanggup, kita menyerah saja.”
Dasar Jojo, jago banget merayunya. Aku kan jadi tergoda hahaha. Ternyata, bukan aku dan Jojo saja yang menyerah. Patricia dari Brasil dan Nidhi dari India pun memilih untuk menyudahi pendakian. Walau begitu, sebelum kembali ke perkemahan, kami memilih untuk beristirahat sejenak dan menikmati panorama lukisan Tuhan yang terbentang indah di hadapan kami.
Kami bergerak ke arah dalam area kebun teh. Di sana, terdapat sebuah bak besar yang ternyata digunakan untuk menampung air hujan.
“Air ini digunakan untuk perairan perkebunan,” ujar salah satu guide yang belakangan diperintahkan pimpinan untuk mendampingi kami kembali ke perkemahan. “Selain itu juga, air ini dapat digunakan oleh penduduk setempat.”
Aku menyentuh air dengan telapak tangan. Luar biasa jernih! Airnya juga dingin seperti air pergunungan. Padahal bak besar ini terpapar matahari secara langsung. Kami terus mengabadikan momen sebelum beranjak pulang ke perkemahan. Di sana, kami bergabung dengan Susana asal Portugal dan Verushka asal Afrika Selatan yang memang sejak awal memilih untuk stay di perkemahan. Kami duduk di sebuah pos pemberhentian hingga kemudian diangkut oleh jeep lain menuju lokasi pemberhentian yang seharusnya kami tempuh dengan hiking.
Menyusuri Jurang Menuju Titik Pemberhentian
Dengan mengendari satu jeep, kami semua diangkut menuju titik pemberhentian. Untuk menuju ke sana, ternyata kami harus melakukan perjalanan cukup panjang melewati jalanan yang bersisian langsung dengan jurang. Beberapa lokasi ditutup sehingga supir harus mencari jalur alternatif dan bertanya ke beberapa supir lain yang kebetulan ditemui di jalan.
Dasar jalan sama yang demen difoto, di beberapa lokasi cakep, kami meminta kepada supir berhenti agar kami dapat berfoto sebentar. Untungnya supirnya baik bahkan bersedia jadi tukang foto dadakan bagi kami. Selanjutnya, kami harus menembus jalanan hutan untuk menemukan lokasi pemberhentian tersebut.
Lebih dari 30 menit berkendara, barulah kami tiba. Ternyata, titik pemberhentian yang dimaksud berada di tengah hutan di dekat aliran sungai kecil yang terbentuk dari air terjun mini. Aku melihat ada tenda sederhana telah dipersiapkan oleh petugas. Kursi kayu lipat juga sudah dipersiapkan. Beberapa kru nampak sibuk mengatur konsumsi untuk makan siang kami.
“Sungguh, perjalanan yang melelahkan, ya!” ujar Jojo bermasksud sarkas.
Hehehe, yang lain masih berpeluh ria, kami udah asyik duduk-duduk menikmati udara segar di tengah hutan. Tak cukup sampai di situ, Jojo meminjam bendera #KeralaBlogExpress dan memintaku menggunakannya untuk berpose.
“Nanti kau bisa posting di facebook, Haryadi,” sarannya, “lalu, jangan lupa sertakan keterangan : sungguh pendakian yang sangat berat,” begitu ujarnya sambil tertawa membahana. Dan begok-nya, aku nurut saja berpose demikian. Alhasil, terciptalah foto penuh kepalsuan ini hehehe.
Tak lama, kami mendapatkan kabar yang menyenangkan hehehe. “Ada 4 orang lagi yang menyerah di tengah jalan,” ujar guide kami.
Nah loh, ternyata ada yang nyerah lagi. Kami berempat lantas saling menebak, siapakah gerangan yang menyerah tersebut hehe. Seingatku aku dapat menebak 2 dengan benar. Yakni Breifne dari Irlandia dan Rebecca dari Belize. Sisanya ternyata ditempati oleh Valentina dari Austria dan Janet dari Irlandia.
“Sungguh medan yang sangat menantang,” ujar Briefne dengan aksen British-nya yang kental.
Sembari nunggu teman-teman lain tiba, kami duduk menikmati alam sambil berbincang. Sebetulnya kami dipersilahkan untuk makan siang lebih dulu. Tapi, sepertinya nggak tahu malu sekali, kan? Jadilah, kami menunggu sekitar 1 jam hingga semua rombongan tiba di titik pemberhentian.
Tak lama, suara sayup-sayup terdengar. Mereka datang!
Mereka berjalan menuruni bukit yang berada tepat di samping kami. Kami berteriak-teriak menyambut mereka. Wajah-wajah lelah namun puas menghampiri kami satu persatu. Di dalam hatiku, sungguh aku merasa senang dan bangga karena mereka berhasil menaklukan jalur pendakian tersebut.
Tak lama, kami makan bersama. Hidangannya tidak mewah namun juga tidak ala kadarnya. Hidangan khas India tersebut kami santap dengan nikmat. Makan siang bersama di tengah hutan dengan iringan suara hewan-hewan seperti itu jadi salah satu kegiatan yang tidak akan pernah aku lupakan dari perjalanan tersebut. Sangat berkesan!
Pisang Kari dan Suara Lenguhan di Sore Hari
Setelah makan, kami kembali ke perkemahan dengan menggunakan jeep. Hebatnya, sebagian dari tim pendaki yang sukses menempuh perjalanan memilih kembali ke perkemahan dengan…. Berjalan kaki! Luar biasa! Aku gak habis pikir dengan kekuatan mereka. Untungnya, perjalanan pulang ternyata lebih singkat karena terdapat short cut. Ya walau begitu, tetap saja, kan? Setidaknya mereka akan berjalan kaki selama 1,5 hingga 2 jam. Bayangkan jika mereka jadi menempuh long trek dengan durasi perjalanan 6 sd 7 jam itu. Ckckck.
Di ruang utama di lokasi perkemahan, sebagian besar mengisi waktu dengan berbincang atau bermain games Heads Up! yang terdapat di salah satu ponsel temanku. Bermain tebak kata seperti itu ternyata menyenangkan. Sebagian lagi memilih untuk tidur siang di dalam tenda atau juga berkeliling ke area sekitar untuk memotret.
Aku sendiri, (lagi-lagi) bersama Jojo, memilih untuk mengeksplor area sekitar dan berharap menemukan pemukiman warga. Kami menyusuri jalan setapak di samping perkemahan. Terlihat ada warga yang melintas. Kami berusaha mengejar langkah. Setelah dihadang anjing galak berkali-kali, akhirnya kami tiba di sebuah area yang disekitarnya berdiri beberapa rumah kayu yang sayangnya nampak tak berpenghuni.
Disana pula, tepat di persimpangan jalan, aku dan Jojo akhirnya bertemu dengan rombongan yang tadi memilih pulang ke perkemahan dengan berjalan kaki. Kami memutuskan untuk kembali ke perkemahan bersama-sama. Di sepanjang jalan, guide mencoba menjelaskan tumbuhan-tumbuhan aneh yang kami temui. Kami juga sempat menjumpai sebuah kolam berukuran sedang berada tak jauh dari situ.
https://www.instagram.com/p/BCHE5xEmlOs/






























Hiks aku pengen trekking di Munnar, aku pasti kuat setrong perkasa haha.
Btw kata temenku yang orang India sendiri, orang selatan lebih santun dan bersih daripada orang utara hehehe.
enak ya di Munnar mewah gitu pake air panas. AKU DONG MANDI MALAM DAN PAGI PAKAI AIR SEDINGIN ES DAN MENDESAH AH UH AH UH.
Ah kamu mah mendesah sengaja buat #kode kan? mengakulah hahaha. Coba Andrea melakukannya sebagai kode juga, aku kan…. *istighfar lagi hehe.
4 Jam mereka hiking. Warbiyasak. Tapi kalo berkesempatan ke sana lagi, mau deh coba, tapi kudu persiapan dulu. Soalnya panorama dari atas puncak gunung jauh lebih cakep. *lah iyalah yaaa
Tingginya berapa Mdpl?
Hiking 4 jam doang? Nggak masalah kalo aku. Aku kan pendaki cepat. *iya, cepat lelah, cepat laper, cepat haus
Hahaha
Setinggi langit di angkasaaaaaa…. *nyamar jadi Agnez Mo.
Gak tahu ding berapa tingginya haha. Waktu ke sana aku lupa bawa penggaris. Nah aku juga pendaki cepat BANGET malah hwhwhw
Hahahaha bisa ya mandi kedinginan terus melenguh gitu? Suk iseng coba aahhh siapa tahu memang terasa nikmat bagi jiwa yang kesepian. 😀 😀
Mandinya sambil ngelus-ngelus ya…
.
.
.
.
Ngelus jempol kaki, dijamin main melenguh hahahaha
Gunung Phantom itu apa sumber inspirasinya DJI Phantom ya 🤔
Nah gak paham juga aku hahaha
pengalaman yang seru ya mas. menjelajah belahan bumi lain
Iya, alhamdulillah mbak Ivone 🙂
Di India apa2 dikasih bumbu, ah..Buah segar aja makannya pakai bumbu… 🙂
Oh ya? untung pas ke sana gak nemu buah bumbu. Eh, ada ding rujak di Kochi, tapi gak icip haha.
Aaaah menarik sekali siiiiiih…..Penasaran sama rasa pisang goreng yang berasa bumbu kari, cemana tu rasanya 😉 dari cara masak si babang kayaknya meyakinkan…
Samaan kita Har, aku juga nggak bisa long trek, kalau traveling selalu pilih yang short trek..nggak kuaat..
Tapi short trek ala yurop pasti lebih lama haha. Jangan-jangan short trek di yurop sama dengan long trek di asia.
Pisangnya biasa, tapi lapisan tepungnya medhok mbak hihihi.
Mobil jeep nya bikin kangen bromo!
Aku belom pernah ke Bromo 😥
Ayooo, nggak nyesel deh ke Bromo
Pastinya, soalnya cakep banget dari foto. Apalagi kalau lihat langsung
Hhahahaha, ide bagus kalau nyerah duluan. Toh sesekali olahraga jalan rute yang jauh, om. 😀 😀
Kalo rutenya datar, mau berapa jam aja hayok hahaha, kalo rute mendaki…rrrrrr
Jadi iri Om, udah jauh aja, camping aja ke India. 😀
Iya, “nipu”-nya juga jauh, sampe ke India hahaha.
Duh kalo bisa menang #KeralaBlogExpress itu dimanjain banget ya… soalnya saya anaknya manja banget *ndusel-ndusel*
Iya manja banget, sampe-sampe pas pulang ngerasa berat, kebiasaan dimanja 2 minggu muahahaha
om bawa aku ke india om
Hiks kapan ya bisa balik ke India lagi….
coba suara lenguhan tadi dibales, emowwwwwww…..suara sapi hahahaha
Hahahaha lucuuu lucuuu sungguh lucu. Uniknya di Kerala susah nemuin sapi 😀 aku pakai suara apa ya enaknya? hmmm, monyet? ala nyepiknyepik gitu muahaha
untungnya ya om, cuma karena kedinginan. inilah uniknya cerita perjalanan apalagi kalau rame-rame hehehe
Iya, tingkah laku yang ajaib keluar semua 😀
salah satu alumnus kerala nih, siapa berikutnya yang mewakili Indonesia ya?
Siapa ya? aku juga penasaran 🙂
Nggak sakit perut makan menu Indian Food?
Nggak mbak. Tapi makanan India gak cocok di lidahku haha. Bumbunya terlalu medok.
Malem-malem acara api unggun gitu asik sekali. Pantes dirimu terkesan om 😉
Hehe iya, apalagi udahnya ngeliat ada yang berantem lempar2an botol bir. Seru! hahaha
Ah suasana nya asyik banget mas. Apa lg melihat warga lokal tersebut..
Tahun depan ya Fajrin ikutan 🙂
Amien. Mudah”an y mas klo aku dah ganti domain.. 😂
Hayo pake domain 🙂
Seru pasti pengalaman kayak gini. Gak ada duanya. Btw, akukan jadinya penasaran gimana tuh dengan ” cerita lempar-lemparan botol” Untung gak benjol ya. Ayo dong,lanjutin..
Haha akhirnya ada juga yang penasaran sama adegan lempar botol. Kapan-kapan ya aku cerita 🙂
Kirain dipinang dengan bismillah, mas 😀
Ayo rajin olahraga, mas. Nggak usah yang susah-susah, jalan kaki rutin tiap hari udah bagus buat menambah stamina. Kamu pasti bisa!
Hayo Nugie jadi PT aku ya. Kalo aku nyerah, aku sogok pake pempek #lha
Mau cari temen nyerah juga, mas? Hahaha
Membaca trekking sekitar 4 jam itu peluhku langsung berceceran, Yan …
Sebuah pengalaman yang luar biasa ya berkemah di kebun teh dengan udara dingin seperti itu. Tendanya berdiri permanen di sana kah atau hanya khusus untuk acara Kerala Blog Express ini saja?
Haha iya mbak. Jadi medannya kayak waktu ke air terjun pelangi gitu heuhuehue gak sanggup.
Itu tendanya semi permanen, bisa dibongkar kapanpun. Tapi, keberadaannya dipertahankan di lokasi tsb mengingat dikelola oleh operator kamping dan rutin digunakan 🙂
Ya ampun aku ngekek baca tentang lenguhan :)) baru tau orang kedinginan lenguhannya kayak gitu #eh
Dan namanya India itu ya identik dengan kari, kari di mana-mana, nggak kebayang pisgor sama kari >.<
Menyenangkan banget ya mas, punya teman 'satu frekuensi' kayak Jojo heheheh
Hahaha Jojo mah temen berghibah lol. Iya mbak, dimana-mana kari. Asli gak kuaaat.
Wah…keren banget nih perjalanannya…
Jumpa teman2 blogger dan mendaki berkemah bersama.
Hebat Mas.Salut…
Salam,
Iya alhamdulillah 🙂 walaupun aku gak ikutan mendaki sampe puncak hihi
Ternyata ada juga yah orang yang kedinginan bilang aahh oohhh aahh ohhh. Jauh banget mainnya ke India.
Hahaha iya, ada itu si Andrea 😀 kebetulan aja berkesempatan main ke sana mas 🙂
yg short trek aja butuh 3-4 jam mas? wkwkwkwkw aku sepertinya jg bakal menyerah ;p.. tp cakep yaaa pemandangannya…. duuuh, india yg ini aku mau nih datangin… 😀
Haha iya, ini aja yang short. Gak kebayang kalo yang long trek. India yang kayak gini cakep, tapi aku lebih suka main ke bangunan tua 😀
asik banget kalo bisa jalan sama2,
apalagi sama komunitas travel blogger 😀
Iya alhamdulillah, asyik 🙂
Ping balik: Jiya Jale di Taman Nasional Periyar | Omnduut
Ping balik: Nikmatnya Menginap di KTDC Tea County Munnar, India | Omnduut
Ping balik: Pengalaman Dikepung Monyet di The Windflower | Omnduut