Pelesiran

5 Anggapan Salah Seputar Imigrasi Singapura

DSC_0566

.

Yan, ayuk dideportasi dari Singapura.”

“Hah kok biso, Yuk?”

“Entahlah, ayuk sedih nian. Sekarang ayuk sudah balik lagi ke Batam.”

Wah wah wah, sampai di deportasi di Singapura, ada apakah gerangan?

*    *   *

Selamat datang di zaman ketika harga tiket pesawat bahkan lebih murah dari sebungkus nasi padang!

Hah, yang bener?”

“Benerlah!”

Bagi sebagian besar orang yang berstatus ticket hunter kayak aku gini, mungkin sudah mahfum ya denger cerita orang yang bisa dapetin tiket pesawat dengan harga yang sangat murah bahkan menjurus ke nggak masuk akal. Aku aja kalau ngomong ke keluarga dapet tiket ke Kuala Lumpur nggak sampai 300 ribu udah pada bengong. (maklum, ke Jakarta aja bisa lebih dari itu). Gimana kalau mereka tahu ada yang dapetin tiket ke LN dengan Rp.0 coba! (ya walau harus bayar pajak bandara juga sih, namun tetep aja murah!)

Tak ayal, jalan-jalan ke luar negeri bukan lagi suatu hal yang mewah. Samalah kayak dulu ketika handphone masih mahal banget. Sekarang, apapun profesinya kalau punya handphone ya biasa aja. Misalnya saja, hari gini untuk memakai jasa nyai-nyai tukang pijat tradisional, aku kini gak perlu repot datang langsung ke rumah beliau, cukup telepon aja!

Nah, bagi yang kepingin banget ke luar negeri biasanya… inget ini biasanya ya, gak semua! Akan memilih Malaysia atau Singapura sebagai destinasi “latihan” traveling aboradnya. Bukan tanpa alasan, karena letaknya yang relatif dekat dengan Indonesia, tentu hal ini berpengaruh juga terhadap harga tiket pesawatnya. Apalagi, banyak alternative untuk mendatangi 2 negara ini. Misalnya saja menggunakan jalur laut memakai ferry melalui Batam, Kepulauan Riau.

????????????????????????????????????

Suasana MRT di Singapura. Tenang, bersih, nyaman.

Di grup jalan-jalan, 2 negara ini hampir selalu dibahas oleh member-member yang berbeda terutama yang masih baru dan akan menyiapkan perjalanan perdana ke luar negeri. Dimulai, “nanti di sana naik apa?” atau, “di sana enaknya menginap di mana?” pokoknya yang nanya beginian adaaa aja 🙂 nah, ada lagi satu topik yang menurutku menarik. Yakni mengenai proses di imigrasi khususnya di Singapura karena banyak sekali orang yang mengalami episode “drama” di negara ini. Dari yang happy ending hingga yang sad ending.

Aku pribadi sudah pernah merasakan pengalaman masuk ke Singapura melalui jalur udara (Changi) dan laut (Harbourfront). Untuk pengalaman di jalur darat aku ambil dari pengalaman adekku si Ari yang pernah masuk melalui perbatasan di Johor Bahru. Gimana rasanya melewati imigrasi Singapura? Rasanya nano-nano, bener! Hehe. Tapi menurutku ada beberapa anggapan yang salah seputar (petugas) imigrasi Singapura. Apa saja? Ini dia.

Petugas Imigrasi Singapura Galak dan Nyeremin

Ah kamu belom mandi kali, makanya digalakin? 😀

Waktu pertama kali ke luar negeri, aku juga denger kabar bahwa petugas imigrasi itu biasanya resek-resek. Pokoknya adaaa aja cela mereka untuk nyari kesalahan. “Pokoknya, siap-siap aja kalau nanti bermasalah di imigrasi,” gitu kata seorang teman. Mendengar hal itu, aku jadi sendu.

Lantas, apa iya petugas imigrasi khususnya imigrasi Singapura se-mengerikan itu? Menurutku, nggak (juga) tuh! Pengalamanku bolak-balik ke Singapura (duh kalimat ini, udah keliatan sombong belom? –ditabok massa) petugas imigrasi Singapura itu baek-baek loh!

Kalo setelan muka petugas imigrasi yang sebagian besar dingin, kaku dan nyeremin sih sebetulnya rata-rata di semua negara bisa jadi begitu ya. Tapi kalau pembawaan kita dari awal sudah selo sih menurutku aman-aman aja. Petugas imigrasi Malaysia misalnya yang terkenal jutek-jutek terlebih jika bertemu pelancong dari Indonesia (you know-lah, dua negara ini kan benci tapi cinta) nyatanya asyik-asyik orangnya. Aku malah sempat diajak ngobrol dan diajak main ke rumah oleh seorang petugas imigrasi wanita (maaf, poin yang terakhir itu hanya fiksi).

????????????????????????????????????

Singa mangap :v

Petugas imigrasi Singapura juga gitu. Kalau kita masuk negara mereka dengan niat yang tulus dan baik (misalnya untuk mencari jodoh bukan mencari kerja dari jalur illegal) harusnya santai ajaaa… kita mau ngehabisin duit di negara mereka, loh ini! –kipas kipas recehan dolar Singapura. Aku sih biasanya kalau sudah diantrian, dan mulai berjalan mengarah ke petugas imigrasi, selalu merekahkan senyum.

Senyum itu ibadah sob!

Asal jangan senyum genit-lenje-manja ya (terlebih ke petugas lelaki), bisa-bisa langsung digiring ke kantor imigrasi. Intinya sih tetap tenang, berdoa (yasinan juga boleh) dan jangan lupa senyum. Kalo memungkinkan ya coba aja disapa macam, “halo, apa kamu masih jomblo kabar?” atau, “Selamat pagi senyummu indah sekali”. Yakin deh, petugasnya gak akan galak-galak.

Sepengalamanku berurusan dengan petugas imigrasi di beberapa negara (udah terdengar pamer belom?) malah petugas imigrasi di Indonesia khususnya di Palembang yang kerjanya bikin hati dongkol. Kalau di negara lain petugasnya masih muda, ganteng-cantik-fresh, eh ini di Palembang udah mukanya nyeremin, udah tua banget, senyum kagak ada, ngambil dan mengembalikan paspor biasanya main lempar aja. Gak oke banget dah! (semoga si anak petugas imigrasi gak baca :p)

Harus Bawa Uang Dolar Singapura yang Banyak

3 kali ke Singapura, aku hanya membawa uang tak lebih dari 10 dolar Singapura aja (nah sekarang udah keliatan kere belom? :p). “Emang cukup?” ya cukuplah! Kan di Singapura cuma numpang lewat doang sebelum ke Malaysia atau kembali ke Indonesia. Jadi uang yang dibawa hanya secukupnya aja untuk bayar MRT.

Alhamdulillah, selama melewati imigrasi Singapura aku nggak pernah ditanya soal duit. (ya gimana ya, kalau punya tampang juragan ya begitulah -oouch) “Jika ditanya gimana?” ya jawab aja sejujurnya. “Saya hanya bawa uang 10 dolar dan hanya di Singapura hanya sehari saja sebelum pindah ke kota ini-itu. Sebagai cadangan saya membawa  di ATM dan kartu kredit.” Tunjukin semua tuh kartu yang dipunya, kartu berobat juga kasih liaaat. sambil pamer dompet kartu.

????????????????????????????????????

Bareng Indra. No pict = hoax, bukan? 😀 semua dokumen berupa paspor, uang dsb aku simpan di moneybelt.

Masalah saldo di ATM sudah mengenaskan sekali dan limit CC sudah habis kepake kan petugas imigrasi nggak bakalan tahu. Kecil kemungkinan kamu akan digiring ke mesin ATM buat ngecek saldonya. Jika kejadian? Silakan berimprovisasi. “Wah ATM saya yang saldonya miliaran ketinggalan di rumah.”

Harus Punya Bukti Penginapan

Di grup traveling ada salah satu member yang ngotot banget bilang, “Harus punya bookingan penginapan kalau mau ke Singapura, jika nggak siap-siap di deportasi.”

Ketika beberapa anggota grup lain bilang bahwa itu nggak perlu eh si beliau ini masih saja ngotot. Akibatnya harus siap menerima komen dari komentator garis keras deh :p rasain! –eh. Seperti yang aku bilang, aku ke Singapura itu numpang lewat aja. Terakhir ke sana pas pulang dari menang tiket gratisan Hong Kong. Pulangnya lewat Batam. Waktu itu ditanya sih, “how many days in Singapore?” aku jawab aja, “Satu hari je, bang!” tanpa ba-bi-bu, halaman pasporku kembali ternodai.

Oh ya, untuk masuk ke Singapura itu kita masih harus isi immigration card ya. Kalau masuk Malaysia sih nggak perlu kartu beginian. Nah kalau ke Singapura, pengisian kartu ini harus diperhatikan. Kalau salah isi bagaimana? Yaelah, namanya juga manusia bang, khilaf kan biasa apalagi salah tulis doang mah masih dimaafkan. Aku pernah tuh kejadian, tapi cuma disuruh coret dan nulis yang benar aja. Beres! (salah tulis no penerbangan waktu itu)

2009-SLREVED-133-RG-1-1243452556-0026

Kartu imigrasi Singapura. Source : statutes.agc.gov.sg

Nah, di kartu imigrasi ini kita harus diminta menuliskan alamat penginapan selama di Singapura. Lantas gimana kalau beneran nggak nginap?

Kalau di grup sih mayoritas bilang, “tulis aja alamatnya, jangan dibiarkan kosong.” Aku sih sepakat. Lalu bagaimana? Caranya tulis saja alamat salah satu penginapan di Singapura yang didapatkan di internet (bisa cek di agoda, booking dot com atau situs-situs penjualan lainnya). Catat di buku saku dan tuliskan kembali di kartu imigrasi. No teleponnya jangan lupa ya!

Aku pernah tuh kelupaan mencatat no telp hostelnya. Untung aja aku selalu siapin alamat penting kantor kedutaan Indonesia di negara tujuan. Alamat ini aku catat jika sewaktu-waktu dibutuhkan (amit-amit, kehilangan paspor misalnya). Nah, no telp kedutaan Indonesia di Singapura-lah yang aku tulis waktu itu. Gak akan di cek ini juga, kan?

1

Informasi ini aku cetak dan tempel di buku saku. Syukur-syukur info ini gak pernah digunakan selama perjalanan 😀

Siap-siap Kena Masalah Jika Paspor Kosong

Karena kalian datang bersepuluh, jangan kaget ya nanti kalau ada diantara kalian yang kena random check dan harus di interogasi di kantor imigrasi,” ujarku.

Wejangan itu aku katakan kepada adek dan 9 temennya yang bakalan ‘pecah telor’ ke luar negeri. Bukannya apa-apa, mereka harus tahu tentang hal ini dan jangan sampai kaget kalo ternyata kena random check.

Pas pulang, aku tanya ke adek, “siapa yang kena random check?

Semuanya kena, bang!

Toeeng! Hahaha.

Jadi ketika ada salah satu temennya si adek ditanya, “dengan siapa ke Singapura?”  dan oleh si temen ini dijawab, “rame-rame,” petugas imigrasi memutuskan untuk memanggil semuanya dan mereka digiring ke kantor petugas. Hahaha. Tapi sampai di kantor mereka hanya ditanya pertanyaan standar. Mereka ditanya jumlah uang yang dibawa, berapa lama di Singapura dan bukti bookingan penginapan. Ya, tentu saja imigrasi Singapura tidak ingin kemasukan 10 gembel dalam waktu yang bersamaan, bukan? Hihihi.

????????????????????????????????????

Pingin naik, apa daya backpacker kere :p

Karena semua sudah mempersiapkan ini dengan baik (kalau jumlah uang sih gak banyak, standar ajalah untuk habisin 2 hari di Singapura), maka semuanya aman terkendali.

Jadi, sebetulnya, aman-aman saja bagi traveler pemula yang ingin memulai perjalanan ke luar negerinya dari Singapura. Samalah kayak lowongan pekerjaan, ‘dibutuhkan yang berpengalaman.’ Lha, kalau semua perusahaan menyaratkan semua calon pekerja adalah orang yang berpengalaman, maka tidak ada lagi tempat bagi fresh graduate untuk berkarir, dong? Ya samalah, jika Singapura melarang orang yang baru pertama kali ke luar negeri untuk masuk ke negaranya, mereka sendirilah yang rugi. Batal deh tuh orang turut memajukan pariwisata negaranya, bukan?

Amanlah, Saya kan Punya Keluarga di Singapura!

Nah ini balik ke kisah awal tulisan ini, tentang seorang ayuk (kakak) yang di deportasi dari Singapura. Sumpah, aku pas dapet pesan dia kena deportasi itu udah gatel banget pingin nanya. Tapi aku tahan dulu dan tunggu sampai beliau tiba kembali di Palembang.

“Jadi, kayak manolah ayuk tuh biso di deportasi.”

“Ayuk jugo idak ngertilah dek. Ayuk ditanyo bawak duit berapo, trus ayuk kasih bilang bae bawak 100 dolar.”

“Wah lumayan tuh 100 dolar, seharusnyo sih dak masalah. Trus ditanyo apo lagi?”

“Ayuk kan di tanyo lagi, bakalan nginep di mano. Trus ayuk bilang, bakalan nginep di rumah abang angkat.”

Jreng.

“Wah harusnyo ayuk jangan bilang gitu.”

“Ayuk disuruh kawan dek, katonyo bilang bae bakalan tinggal di rumah abang angkat. Pas ayuk ditanyo alamat, ayuk dak tahu, kan kawan ayuk ditanyo petugas lain.”

Salah bener kan ya kalo kejadiannya begitu >.< wajar jika petugas imigrasi untuk curiga. Pertama, nggak jelas bakalan nginep di mana. Abang angkat? Abang yang mana coba? Kedua, dengan begitu makin besar kecurigaan petugas imigrasi jika si ayuk ini bakalan overstay. Iya kalau cuma overstay kalo ntar tertarik jadi tenaga kerja ilegal gimana, coba?

Mengenai pertanyaan seputar keluarga ini sih kalo menurutku perlakuannya sama di negara lain. Di grup sering kali dibahas, “mending lo bilang aja mau liburan, titik.” Lain ceritanya jika kedutaan minta invitation letter dari anggota keluarga ya (macam di Eropa). Lha kalau cuma mau liburan satu-dua hari, bilang aja mau liburan. Beres deh!

*   *   *

Itu aja dulu 5 anggapan yang kerap kali keliru prihal imigrasi di Singapura. Sekali lagi, bisa jadi kondisi yang aku ceritakan di postingan ini juga dapat berlaku di negara lain. Intinya, Singapura itu okelah buat ajang ‘pecah telor’ jalan-jalan ke luar negeri. Yang patut di perhatikan adalah di sana apa-apa serba mahal. Namun bisa disiasati sih, misalnya dengan membawa bekal makanan dari Indonesia (kalau lewat Batam lebih enak tuh).

Untuk menyiasati mahalnya akomodasi juga bisa memilih menginap di Batam atau Johor Bahru. Atau jalan seharian di Singapura cukuplah kalo budgetnya memprihatinkan kayak aku haha. Bisa berangkat naik ferry pertama dari Batam dan pulang naik ferry terakhir dari Singapura. Lumayanlah, harga penginapan di Batam jelas lebih murah. Belanja di Batam juga jauh lebih menyenangkan ketimbang di Singapura. Orang yang dikasih oleh-oleh gak bakalan tahu kamu belinya di mana kok hahaha. Mau made in Singapura atau Made in Nagoya, yang penting ada oleh-olehnya hahaha.

Peringatan keras : Tulisan ini ditulis atas dasar pengalaman yang aku dapatkan. BISA JADI akan ada pengalaman yang berbeda di masing-masing orang (inget, kadang tergantung amal ibadah juga sih haha). Sangat mungkin ada kekeliruan dalam penulisan, feel free loh kalo mau ngasih tahu kekeliruannya atau mau ngasih tahu info tambahan.

Iklan

322 thoughts on “5 Anggapan Salah Seputar Imigrasi Singapura

  1. Kak, katanya sekarag peraturan imigrasi singapire, passport dengan nama tunggal gak bisa lewat ya? Kebetulan saya pemilik nama tunggal. 😦

    • Siapa bilang? bohong ah itu. Banyak kok temenku yang nama tunggal tapi lewat aja. Tapi emang, kecenderungan pemilik nama tunggal akan kena random check. Kuncinya tenang aja, buktikan kalo kamu emang mau liburan di sana. Siapkan tiket pulang, bukti penginapan, uang yang cukup (bukan banyak, kalo mereka ga percaya, tantang aja, “hayo ikut saya ke mesin ATM”).

      Sekali lagi, kuncinya harus tenang. Kalo ke sana emang tujuan mau liburan, santai aja.

      • Halo kak, Saya sudah balik nih dari liburan SG sama keluarga, berkat blog kakak ini dan bantuan saran dari kakak, kami aman2 aja melewati imigrasi, walaupun akhirnya dari 9 orang (1 rombongan) kena random check nya 3 orang (laki2 semua) yang di pilih untuk di introgasi, tapi ga dipersulit sih, hanya di wawancara biasa saja.. dan walaupun akhirnya harus di tinggal bus. tapi tetap lancar liburan nya.. thanks kak… ^.^

  2. Siap kak. Oh ya. Saya rencana liburan 2 hari 1 malam. Kira2 minimal bawa brp dolar singapore ya. Sedangkan hotel sudh pesan online n tiket pp sudh beli

    • Aku 2 kali ke Singapura hanya bawa 10 dolar! hahaha hanya buat bayar MRT.
      Menurutku bawa sekitar 100 dolar udah lumayan. Asal kondisi itu disesuaikan dengan pertanyaan mereka. Kalau ditanya mau ngapain aja dan kamu jawab mau ke Unv Studio, jelas gak cukup. Kalau dibilang mau menikmati singapura aja, uang segitu cukup. Kalau dibilang gak cukup ya kamu jawab dengan tegas, “memangnya berapa minimal uang yang harus saya bawa selama 2 hari hanya untuk makan dan bersantai dari kepenatan rutinitas kerja?”

      Mereka itu gertak aja. Kitanya harus tenang.

    • No problem 🙂 aku juga gak jago kok. Tapi yang standar2 mestinya tahu, macam, “do you know where is toilet?” bisa kan pasti? 🙂 have fun di Singapura ya.

  3. kak mau nanya nih,kan aku ada rencana mau trip sendiri di singapore tapi masih di bawah umur lah, kira kira di imigrasinya itu gimana yah?

  4. kak mau tanya, aku rencana mau liburan kesingapore, tp aku ga begitu bisa bahasa ingris, apakah ada beberapa petugas imigrasi yg bs bhs Indonesia? takutnya sih pas ditanya aku malah ga bs jawab, nnt jadinya ga lolos 😦

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s