Kerala Blog Express

Sensasi Berkemah & (Pura-pura) Mendaki Gunung Phantom di Munnar, India

berkemah-di

.

Bus besar yang kami tumpangi selama perjalanan #KeralaBlogExpress harus berhenti dan menepi di sebuah tebing yang bersisian dengan hamparan kebun teh. Kami semua diminta turun dan diharuskan berganti kendaraan dengan jeep yang berukuran lebih kecil. Maklum, lokasi Suryanelli Camp yang akan kami tuju terletak di kawasan hutan Kupu-kupu. Ya, dalam bahasa Inggris, hutan tersebut dikenal dengan nama Butterfly Forest. Dinamakan demikian, konon katanya banyak kupu-kupu cantik yang tinggal di hutan ini.

dsc_0465

Berganti kendaraan untuk menuju lokasi perkemahan

Di area pemberhentian, kami bertemu dengan beberapa penduduk lokal. Mayoritas adalah ibu-ibu yang akan mengantar anaknya ke sekolah. Wah lucunya anak-anak Kerala ini. Walaupun mereka berkulit lebih gelap, tetap saja wajah polos mereka turut mewarnai pagi kami di tempat yang sejuk itu. Tak ayal, kami semua langsung berebut memotret, untungnya mereka pun senang difoto walau nampak malu-malu.

dsc_0463

Senyumnyaaa 🙂

Padahal, jujur saja aku agak khawatir perihal ini. Aku teringat pengalaman saat berada di Varanasi setahun sebelumnya, saat itu aku berjumpa dengan penduduk lokal dan mereka berebut minta difoto. Sialnya, kami dimintai uang sesudahnya. Lha! Maka dari itu, terberkatilah masyarakat Kerala, mereka dianugerahi keramahan di atas rata-rata penduduk India.

Satu mobil jeep dapat ditempati oleh setidaknya 8 orang beserta supir. Aku lupa satu mobil dengan siapa saja saat itu, yang jelas, dari pinggir jalan besar, kami menempuh perjalanan sekitar 20 menit untuk mencapai lokasi perkemahan. Yup, untuk malam tersebut hingga esok, kami akan berkemah dan melakukan beberapa kegiatan yang bersentuhan langsung dengan alam Munnar.

dsc_0505

Alam Munnar yang indah itu

Sejak awal, kami sudah diberitahu dan diminta untuk membawa peralatan sekadarnya saja. Jadilah, masing-masing blogger hanya membawa ransel kecil berisikan pakaian untuk satu malam. Koper berukuran besar kami tinggal di bus. Lalu, sebagaimana informasi yang diberikan jauh sebelum kami berangkat, kami juga akan melakukan hiking di lokasi perkemahan.

“Aku nggak sabar nunggu besok,” ujar Anita, blogger dari Selandia Baru.

“Iya, aku juga udah nggak sabar,” jawab Sarah, blogger dari Australia.

dsc_0556

Maka keindahan mana lagi yang kamu dustakan? 🙂

Kebetulan aku duduk tepat di belakang mereka. Dasar bule ya, demen banget berkegiatan di alam. Aku sendiri? Duh, belum apa-apa udah ngerasa ngap-ngapan. Mendapati fakta itu, sungguh, aku merasa kotor #eh. Tak heran, saat pembagian kelompok, sebagian besar memilih long trek. Hanya segelintir orang saja yang memilih short trek (ya aku diantaranya). Sebagian lagi memilih untuk tidak ikutan sama sekali dengan alasan kesehatan.

dsc_0507

Perkemahan dilihat dari atas bukit

Kami tiba di lokasi perkemahan dengan sambutan kabut tipis. Pemandangan di sekitar perkemahan indah sekali. Dimana-mana terlihat pohon teh. Ada sebuah ruangan besar yang digunakan sebagai tempat pertemuan, di sekitarnya berdiri rapi tenda-tenda yang akan kami gunakan untuk tidur. Di sisi belakang, gunung Phantom terlihat berdiri gagah. Luar biasa!

Kami berkumpul di bangunan utama untuk mendengarkan arahan dari tim Kalypso Adventures, operator yang mengurusi perkemahan dan perjalanan kami di sana. Di akhir briefing¸kami diberikan goodie bag berisi topi dan kaos. Kami diminta berganti pakaian saat itu juga karena hiking akan segera dilakukan.

 “Berapa lama perjalanan kita menuju titik pemberhentian,” tanyaku ke salah satu pemandu.

“Sekitar  4 jam. Jika cepat, 3 jam bisa tembus,” jawabnya.

Wew, mendengar itu aku mendadak makin galau. “Kira-kira sanggup, gak ya?” batinku. Jojo, blogger asal Filipina yang menjadi room mate-ku pasca pecah kongsi dengan si Spanyol, nampak memiliki kekhawatiran serupa. Tiba-tiba saja dia mendekat dan berbisik, “tenang saja Haryadi, nanti kalau kita nggak kuat, kita langsung nyerah saja.”

Sialan, belum apa-apa kok udah mau berkonspirasi begini muahaha.

dsc_0475

Pendakian dimulai

Naik-naik ke Puncak Gunung

Tak lama, pendakian dimulai. Kami berjalan bersama dan semakin jauh meninggalkan lokasi perkemahan. Di sepanjang perjalanan, beberapa kali kami berpasasan dengan penduduk setempat. Ntah dimana lokasi rumah mereka, karena sekeliling pandangan mata, yang aku lihat hanya pohon, pohon dan pohon.

Mulanya, perjalanan masih terasa mudah. Medan yang kami gunakan berupa jalanan yang biasa dilalui oleh kendaraan. Kondisi jalan yang kering juga cukup baik. Matahari mulai meninggi, walaupun cuaca dingin namun sinar matahari terasa mulai menyengat. Persis seperti yang aku rasakan saat berkunjung ke Pagar Alam, beberapa waktu lalu.

dsc_0523

Alam kota Munnar. Cakep, ya?

Karena terletak di dataran tinggi dan dihampari perkebunan teh, Munnar memang menjadi salah satu lokasi wisata andalan di Kerala. Tak heran, di lokasi lain, kami dengan mudah mendapati bangunan modern yang dipergunakan sebagai penginapan bagi tamu yang ingin berlibur di sana. Sebagian besar bangunan ini belum berpenghuni karena baru dibangun. Kami bahkan sempat melihat langsung para pekerja yang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan.

dsc_0538

Hotelnya baru

20 menit berjalan, napasku mulai pendek. Ini nih kalau nggak biasa olahraga, belum apa-apa udah ngap-ngapan. Walau begitu, perjalanan belum ada seujung kuku, aku tetap berusaha agar tidak menyerah. Apalagi berkali-kali teman-teman lain menyemangati, “hayo Haryadi, jangan menyerah!”

Malu dong, mosok semok-semok gini lembek hehehe. Apalagi, beberapa blogger lain yang bobot tubuhnya jauh lebih besar ketimbang aku masih bertahan. Walau nampak kepayahan, tapi mereka masih semangat. Sayang seratus kali sayang, ketika kami tiba di pemberhentian pertama, aku akhirnya memilih untuk menyudahi hiking tersebut.

“Ayolah Haryadi, aku sudah tak sanggup, kita menyerah saja.”

dsc_0511

Jalanan yang kami lalui

Dasar Jojo, jago banget merayunya. Aku kan jadi tergoda hahaha. Ternyata, bukan aku dan Jojo saja yang menyerah. Patricia dari Brasil dan Nidhi dari India pun memilih untuk menyudahi pendakian. Walau begitu, sebelum kembali ke perkemahan, kami memilih untuk beristirahat sejenak dan menikmati panorama lukisan Tuhan yang terbentang indah di hadapan kami.

Kami bergerak ke arah dalam area kebun teh. Di sana, terdapat sebuah bak besar yang ternyata digunakan untuk menampung air hujan.

dsc_0503

Patricia dan bak penampung air hujan

“Air ini digunakan untuk perairan perkebunan,” ujar salah satu guide yang belakangan diperintahkan pimpinan untuk mendampingi kami kembali ke perkemahan. “Selain itu juga, air ini dapat digunakan oleh penduduk setempat.”

Aku menyentuh air dengan telapak tangan. Luar biasa jernih! Airnya juga dingin seperti air pergunungan. Padahal bak besar ini terpapar matahari secara langsung. Kami terus mengabadikan momen sebelum beranjak pulang ke perkemahan. Di sana, kami bergabung dengan Susana asal Portugal dan  Verushka asal Afrika Selatan yang memang sejak awal memilih untuk stay di perkemahan. Kami duduk di sebuah pos pemberhentian hingga kemudian diangkut oleh jeep lain menuju lokasi pemberhentian yang seharusnya kami tempuh dengan hiking.

Menyusuri Jurang Menuju Titik Pemberhentian

Dengan mengendari satu jeep, kami semua diangkut menuju titik pemberhentian. Untuk menuju ke sana, ternyata kami harus melakukan perjalanan cukup panjang melewati jalanan yang bersisian langsung dengan jurang. Beberapa lokasi ditutup sehingga supir harus mencari jalur alternatif dan bertanya ke beberapa supir lain yang kebetulan ditemui di jalan.

dsc_0547

Meleset dikit… piuuh

Dasar jalan sama yang demen difoto, di beberapa lokasi cakep, kami meminta kepada supir berhenti agar kami dapat berfoto sebentar. Untungnya supirnya baik bahkan bersedia jadi tukang foto dadakan bagi kami. Selanjutnya, kami harus menembus jalanan hutan untuk menemukan lokasi pemberhentian tersebut.

 

dsc_0565

Si jeep ikutan mejeng

Lebih dari 30 menit berkendara, barulah kami tiba. Ternyata, titik pemberhentian yang dimaksud berada di tengah hutan di dekat aliran sungai kecil yang terbentuk dari air terjun mini. Aku melihat ada tenda sederhana telah dipersiapkan oleh petugas. Kursi kayu lipat juga sudah dipersiapkan. Beberapa kru nampak sibuk mengatur konsumsi untuk makan siang kami.

dsc_0584

Itu dia si Jojo, yang berdiri paling kanan

“Sungguh, perjalanan yang melelahkan, ya!” ujar Jojo bermasksud sarkas.

Hehehe, yang lain masih berpeluh ria, kami udah asyik duduk-duduk menikmati udara segar di tengah hutan. Tak cukup sampai di situ, Jojo meminjam bendera #KeralaBlogExpress dan memintaku menggunakannya untuk berpose.

“Nanti kau bisa posting di facebook, Haryadi,” sarannya, “lalu, jangan lupa sertakan keterangan : sungguh pendakian yang sangat berat,” begitu ujarnya sambil tertawa membahana. Dan begok-nya, aku nurut saja berpose demikian. Alhasil, terciptalah foto penuh kepalsuan ini hehehe.

dsc_0575

Mendaki tanpa peluh hahaha

Tak lama, kami mendapatkan kabar yang menyenangkan hehehe. “Ada 4 orang lagi yang menyerah di tengah jalan,” ujar guide kami.

Nah loh, ternyata ada yang nyerah lagi. Kami berempat lantas saling menebak, siapakah gerangan yang menyerah tersebut hehe. Seingatku aku dapat menebak 2 dengan benar. Yakni Breifne dari Irlandia dan Rebecca dari Belize. Sisanya ternyata ditempati oleh Valentina dari Austria dan Janet dari Irlandia.

dsc_0600

Rombongan yang menyerah sesi kedua hehehe

“Sungguh medan yang sangat menantang,” ujar Briefne dengan aksen British-nya yang kental.

Sembari nunggu teman-teman lain tiba, kami duduk menikmati alam sambil berbincang. Sebetulnya kami dipersilahkan untuk makan siang lebih dulu. Tapi, sepertinya nggak tahu malu sekali, kan? Jadilah, kami menunggu sekitar 1 jam hingga semua rombongan tiba di titik pemberhentian.

dsc_0580

Tenda buat makan siang

Tak lama, suara sayup-sayup terdengar. Mereka datang!

Mereka berjalan menuruni bukit yang berada tepat di samping kami. Kami berteriak-teriak menyambut mereka. Wajah-wajah lelah namun puas menghampiri kami satu persatu. Di dalam hatiku, sungguh aku merasa senang dan bangga karena mereka berhasil menaklukan jalur pendakian tersebut.

dsc_0605

Yuhuu, mari makan ramai-ramai

Tak lama, kami makan bersama. Hidangannya tidak mewah namun juga tidak ala kadarnya. Hidangan khas India tersebut kami santap dengan nikmat. Makan siang bersama di tengah hutan dengan iringan suara hewan-hewan seperti itu jadi salah satu kegiatan yang tidak akan pernah aku lupakan dari perjalanan tersebut. Sangat berkesan!

Pisang Kari dan Suara Lenguhan di Sore Hari

Setelah makan, kami kembali ke perkemahan dengan menggunakan jeep. Hebatnya, sebagian dari tim pendaki yang sukses menempuh perjalanan memilih kembali ke perkemahan dengan…. Berjalan kaki! Luar biasa! Aku gak habis pikir dengan kekuatan mereka. Untungnya, perjalanan pulang ternyata lebih singkat karena terdapat short cut. Ya walau begitu, tetap saja, kan? Setidaknya mereka akan berjalan kaki selama 1,5 hingga 2 jam. Bayangkan jika mereka jadi menempuh long trek dengan durasi perjalanan 6 sd 7 jam itu. Ckckck.

dsc_0621

Suasana di sekitar perkemahan

Di ruang utama di lokasi perkemahan, sebagian besar mengisi waktu dengan berbincang atau bermain games Heads Up! yang terdapat di salah satu ponsel temanku. Bermain tebak kata seperti itu ternyata menyenangkan. Sebagian lagi memilih untuk tidur siang di dalam tenda atau juga berkeliling ke area sekitar untuk memotret.

dsc_0616

Yuk main teka teki

dsc_0626

Menyururi jalan setapak

Aku sendiri, (lagi-lagi) bersama Jojo, memilih untuk mengeksplor area sekitar dan berharap menemukan pemukiman warga. Kami menyusuri jalan setapak di samping perkemahan. Terlihat ada warga yang melintas. Kami berusaha mengejar langkah. Setelah dihadang anjing galak berkali-kali, akhirnya kami tiba di sebuah area yang disekitarnya berdiri beberapa rumah kayu yang sayangnya nampak tak berpenghuni.

dsc_0639

Ntah apa ini yang sedang dijelaskan oleh si abang guide

Disana pula, tepat di persimpangan jalan, aku dan Jojo akhirnya bertemu dengan rombongan yang tadi memilih pulang ke perkemahan dengan berjalan kaki. Kami memutuskan untuk kembali ke perkemahan bersama-sama. Di sepanjang jalan, guide mencoba menjelaskan tumbuhan-tumbuhan aneh yang kami temui. Kami juga sempat menjumpai sebuah kolam berukuran sedang berada tak jauh dari situ.

Betapa menyenangkannya, setiba di lokasi perkemahan, ternyata petugas tengah sibuk menyiapkan kudapan di dapur. Aroma harum makanan menyeruak. Ada 2 jenis makanan yang disajikan, yang pertama pisang goreng dengan bumbu kari dan yang kedua semacam bakwan yang lagi-lagi berbumbu kari. Oh well, kari dimana-mana.

dsc_0649

Goreng pisangnya 10 bang!

Untuk aku yang tidak terlalu suka masakan berbumbu medhok, aku memilih untuk menyantap pisang goreng saja. Itupun masih terasa kuat bumbu karinya. Sungguh sore yang menyenangkan. Tak lama, aku bergegas masuk ke dalam tenda dan bersiap-siap untuk mandi. Kami sudah diberitahu bahwa harus berkumpul lagi jam 8 malam untuk “pesta” barbecue.

dsc_0607

Yang tengah itu ranjangnya Javier. Rasakan ngorokan maut duo Asia! hehehe

Aku melirik ke dalam tenda. Terdapat 3 ranjang di sana. Hmm, seharusnya satu tenda hanya berkapasitas 2 orang saja. Berhubung jumlah lelaki di sana ganjil, jadilah aku dan Jojo harus berbagi kamar lagi dengan seorang blogger lain. Siapa sih? Itu si Spanyol hwhwhw. “Semoga dia minggat mendengar suara ngorok kita, Haryadi,” ujar Jojo pelan. Aku tertawa mendengarnya.

Walau terletak di tengah hutan, area perkemahan ini dilengkapi dengan kamar mandi dan toilet yang berkondisi baik. Bahkan, terdapat air panas untuk mandi. Berhubung aku lebih nyaman mandi dengan air dingin, aku tak terlalu peduli air panasnya menyala atau tidak.

dsc_0678

Deretan bilik kamar mandi dan toilet

Aku memilih salah satu bilik dan mulai membasahi badan ketika suara lenguhan terdengar persis di sampingku.

“Ooohh….oooohhhh….”

Aku menghentikan mandi. Mencoba mendengar suara tersebut dengan lebih jelas.

“Aaahhh…oooohhh…ooohhhhhh….”

Suara tersebut terdengar makin keras.

“Sialan! Siapa yang sinting melakukan itu di sore hari begini, di kamar mandi pula!” rutukku dalam hati.

Suara makin terdengar jelas. Di luar, beberapa orang tertawa terbahak-bahak.

“Andrea, what are you doing?” teriak Veronika, blogger asal Republik Ceko.

“Sumpah, airnya dingin banget! Kayak mandi air es,” teriak Andrea dari dalam kamar mandi.

Oalaaah, ternyata itu suara orang kedinginan, toh? Tak kirain suara lenguhan. Aku yang tadi merutuk jadi ikutan cengengesan sendiri mendengar percakapan tersebut. Hikmahnya, setidaknya aku tahu suara Andrea jika tengah mengerang. –langsung istighfar.

Kehangatan Api Unggun

Pukul 8 malam, semua berkumpul di lapangan dan duduk membentuk lingkaran. Tepat di belakangku, kru perkemahan tengah sibuk menyiapkan hidangan makan malam. Menu malam ini adalah ayam bakar. Sungguh, harum ayam bakarnya sangat menggoda. Begitu selesai dimasak, aku dan Farah, blogger asal Malaysia yang juga muslim menyantapnya dengan bismillah.

dsc_0665

Betty merekam proses pemanggangan ayam

Sayang sekali tidak ada nasi malam itu. Kentang khas India yang rasanya aneh bikin selera makanku berkurang. Jadilah, aku hanya memakan lauknya saja. Teman-teman lain menyantap ayam dengan minum alkohol yang tersaji tanpa batas. Sebuah kemewahan bagi mereka, mengingat di kota dan hotel sebelumnya, alkohol tidak termasuk di daftar minuman yang dikaver oleh Kerala Tourism. So, kalau mau ngebir, ya beli sendiri!

dsc_0657

Yuhu, duduk bersama mengitari api unggun

“Andrea, I heard your moaning this afternoon. What are you doing in the bathroom, huh?” ujarku membuka obrolan. Kebetulan, cewek kiyut asal Slovenia ini duduk di sebelahku.

“Buahaha, apa kau mendengarnya?”

“Iyalah, aku kan berada di sebelahmu.”

“Aku tidak tahan dengan airnya yang dingin. Aku seolah mandi dengan air es.”

“Sungguh? Kau tidak…” aku sengaja membiarkan kalimat itu mengambang.

“Sialan, tentu saja tidak!” cecarnya cepat.

dsc_0623

Kondisi di sekitar perkemahan

Kami tertawa bersama. Andrea tidak tahu, untuk menghidupkan air panas, dia terlebih dahulu harus memutar panel yang berada tak jauh dari wastafel. Sayang semua terlambat… terlambat yang menyenangkan hehehe.

Kami membentuk kelompok kecil. Semua asyik dengan obrolan masing-masing. Pukul 11 malam aku memilih untuk tidur. Andrea berulang kali melarang, “hei Haryadi, ini masih pagi!”

dsc_0476

Suryanelli Camp

Kukira dia mulai mabuk. Aku melihat ke sekeliling, semua sudah nampak teler. Ketika semua masih asyik tertawa, akhirnya aku berhasil menyelinap setelah berkali-kali gagal karena terus diledek Andrea dan beberapa teman lain. Untuk yang tidak terbiasa bergadang, aku harus segera memutuskan beristirahat agar keesokan harinya badan fit.

Keesokan harinya…

Matahari bersinar malu-malu. Aku terbangun lagi di tengah kabut tipis yang menyejukkan. Agenda hari ini kami akan meninggalkan area perkemahan setelah sarapan pagi. Aku kembali memutuskan untuk mandi lalu melirik sarapan yang disajikan petugas. Ada beberapa jenis makanan khas india dan roti bakar.

Aku mengambil setangkup roti dan mulai memakannya sembari meminum teh hangat yang nikmat. Sungguh berkemah di Suryanelli menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Pelan-pelan aku teringat, bahwa terjadi sebuah kehebohan tadi malam. Tak lama setelah aku terlelap.

dsc_0672

Selamat pagi dari Munnar

Ya, ada seseorang yang tiba-tiba mengamuk dan berteriak lewat tengah malam. Tak hanya itu, dia bahkan sampai menyerang seseorang dan melemparnya dengan botol bir. Penyebabnya dikarenakan bahan candaan yang diserap dalam kondisi mabuk. Benarlah kata bang Oma, jangan begadang dan minum-minuman keras. Karena apa? Tiada bergunanya, bray! Hehehe.

Lalu, seperti apa kejadiannya? Kapan-kapan ya aku ceritakan….hihihi.

Iklan

59 thoughts on “Sensasi Berkemah & (Pura-pura) Mendaki Gunung Phantom di Munnar, India

  1. Hiks aku pengen trekking di Munnar, aku pasti kuat setrong perkasa haha.
    Btw kata temenku yang orang India sendiri, orang selatan lebih santun dan bersih daripada orang utara hehehe.

    enak ya di Munnar mewah gitu pake air panas. AKU DONG MANDI MALAM DAN PAGI PAKAI AIR SEDINGIN ES DAN MENDESAH AH UH AH UH.

    • Ah kamu mah mendesah sengaja buat #kode kan? mengakulah hahaha. Coba Andrea melakukannya sebagai kode juga, aku kan…. *istighfar lagi hehe.

      4 Jam mereka hiking. Warbiyasak. Tapi kalo berkesempatan ke sana lagi, mau deh coba, tapi kudu persiapan dulu. Soalnya panorama dari atas puncak gunung jauh lebih cakep. *lah iyalah yaaa

  2. Tingginya berapa Mdpl?
    Hiking 4 jam doang? Nggak masalah kalo aku. Aku kan pendaki cepat. *iya, cepat lelah, cepat laper, cepat haus
    Hahaha

    • Setinggi langit di angkasaaaaaa…. *nyamar jadi Agnez Mo.

      Gak tahu ding berapa tingginya haha. Waktu ke sana aku lupa bawa penggaris. Nah aku juga pendaki cepat BANGET malah hwhwhw

  3. Aaaah menarik sekali siiiiiih…..Penasaran sama rasa pisang goreng yang berasa bumbu kari, cemana tu rasanya 😉 dari cara masak si babang kayaknya meyakinkan…

    Samaan kita Har, aku juga nggak bisa long trek, kalau traveling selalu pilih yang short trek..nggak kuaat..

    • Tapi short trek ala yurop pasti lebih lama haha. Jangan-jangan short trek di yurop sama dengan long trek di asia.

      Pisangnya biasa, tapi lapisan tepungnya medhok mbak hihihi.

  4. Seru pasti pengalaman kayak gini. Gak ada duanya. Btw, akukan jadinya penasaran gimana tuh dengan ” cerita lempar-lemparan botol” Untung gak benjol ya. Ayo dong,lanjutin..

  5. Membaca trekking sekitar 4 jam itu peluhku langsung berceceran, Yan …
    Sebuah pengalaman yang luar biasa ya berkemah di kebun teh dengan udara dingin seperti itu. Tendanya berdiri permanen di sana kah atau hanya khusus untuk acara Kerala Blog Express ini saja?

    • Haha iya mbak. Jadi medannya kayak waktu ke air terjun pelangi gitu heuhuehue gak sanggup.

      Itu tendanya semi permanen, bisa dibongkar kapanpun. Tapi, keberadaannya dipertahankan di lokasi tsb mengingat dikelola oleh operator kamping dan rutin digunakan 🙂

  6. Ya ampun aku ngekek baca tentang lenguhan :)) baru tau orang kedinginan lenguhannya kayak gitu #eh
    Dan namanya India itu ya identik dengan kari, kari di mana-mana, nggak kebayang pisgor sama kari >.<
    Menyenangkan banget ya mas, punya teman 'satu frekuensi' kayak Jojo heheheh

  7. yg short trek aja butuh 3-4 jam mas? wkwkwkwkw aku sepertinya jg bakal menyerah ;p.. tp cakep yaaa pemandangannya…. duuuh, india yg ini aku mau nih datangin… 😀

  8. Ping-balik: Jiya Jale di Taman Nasional Periyar | Omnduut

  9. Ping-balik: Nikmatnya Menginap di KTDC Tea County Munnar, India | Omnduut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s