Pelesiran

Mendadak Jadi Pangeran Berkuda di Pahalgam

dsc_0456

Masih ada sisa waktu yang aku, Ahlan dan Indra punya untuk mengeksplor keindahan provinsi Jammu & Kashmir yang ada di India. Setelah sebelumnya kami mengunjungi kebun bunga tulip terbesar di Asia dan menjajal cable car tertinggi kedua di dunia dengan view hamparan salju, tujuan selanjutnya kami ialah mendatangi kawasan pegunungan Pahalgam yang diyakini memiliki view selaiknya Swiss.

“Ah ciyus?”

Ya kali. Soalnya kan aku belum pernah ke Swiss. Jom, yang udah pernah ke Swiss coba tengok foto-foto yang ada di postingan ini. Jika mirip, so, bolehlah bagi penduduk Pahalgam untuk menamakan kawasan mereka sebagai Swiss-nya India (lha, Palembang aja di sebut Venice of The East, toh! Padahal sungainya penuh sampah dan ironisnya dapet piala Adipura pula). Lebih bagus lagi sih kalau aku dikasih kesempatan ke Swiss ya, biar bisa membandingkan langsung. Haha modus! Sponsor… mana sponsor.

Perjalanan Menuju Pahalgam

Pagi-pagi benar kami bertiga sudah stand by tak jauh dari gerbang pertama danau Dal. Sambil menyecap hangatnya chai dan mengunyah roti tawar kering yang teksturnya keras, kami bersiap menunggu mobil jemputan. Tak lama, trio Bangladesh (yang juga menjadi travelmates kami ke Gulmarg) tiba dan bergabung bersama kami di sebuah kedai kecil yang pemiliknya jarang tersenyum itu. Di sisi lain, ternyata, uncle driver sudah menunggu di ujung jalan. Ya sudah, tanpa menunggu terlalu lama, kami langsung menuju mobil.

Jarak antara Srinagar ke Pahalgam sekitar 80 km. Untunglah jalanan bagus dan lalu lintas terhitung sepi. Jadi, kami hanya butuh berkendara sekitar 1,5 jam saja untuk menuju Pahalgam. Perjalanan pun terasa sangat menyenangkan. Rasanya adaaa aja bahan obrolan diantara kami berenam. Selain itu, mata kami dimanjakan oleh pemandangan indah di sepanjang perjalanan. Ini salah satunya…

dsc_0327

Suasana perkampungan di Pahalgam

Kami melewati banyak perkampungan penduduk. Termasuklah pasar-pasar tradisional yang suasananya tak jauh berbeda dengan Indonesia. Uniknya, pasar di sana dihiasi pegunungan yang berselumut salju di puncaknya. Subhanallah, indah sekali. Penduduk Pahalgam beruntung dianugerahi pahatan indah Sang Pencipta. Namun sayang, kondisi keamanan di sana cenderung tidak stabil.

dsc_0334

Pohon berdiri tinggi menjulang

Pahalgam sendiri sebetulnya wilayah autoriti khusus yang berada di distrik Anantnag. Puncak tertinggi yang ada di Pahalgam yakni sekitar 7.200 kaki atau sekitar 2.200 meter jika diukur dari tepian sungai Lidder. Oh ya, sepanjang perjalanan kami juga melewati jalan yang bersisian langsung dengan sungai. Melihat airnya yang super jernih, ingin rasanya nyebur ke sana hehe. Namun, aku sadar diri. Di dalam mobil dengan penghangat saja rasanya masih mengigil. Apalagi jika nyebur ke dalam sungai. Bisa-bisa bikin anuku (baca : hatiku hwhw) mengkerut dan badanku membeku.

dsc_0330

Selamat datang di Pahalgam

Saat melewati gerbang besar selamat datang yang besar, itu artinya tujuan kami semakin dekat. Kami sempat diberhentikan oleh petugas keamanan tak jauh dari sana. Aku tak mengerti apa yang petugas keamanan dan supir bicarakan, yang jelas kami langsung diizinkan masuk. Baiklah Pahalgam… kami datang!

Pilah Pilih Kuda

Sejak awal merencanakan perjalanan ke Pahalgam, berbekal informasi dari sebuah buku perjalanan, kami bertiga sudah berencana untuk menyewa kuda. Trio Bangladesh berpikiran lain, “kami mau coba trekking menuju titik akhir Haryadi,” ujar Arshi.

Okelah kalau begitu. Berjalan boleh barengan, namun keputusan ada di tangan masing-masing toh. Begitulah seharusnya perjalanan dilakukan, sob! 🙂 oke kembali ke kuda. Dari area parkir saja kami sudah dikerubuti banyak calo. Yup, tenyata orang-orang yang menawarkan kuda itu adalah calo. Biasanya mereka diuntungkan dari pemilik kuda yang tidak dapat berbahasa Inggris. Padahal, lebih bagus lagi jika bernegosiasi langsung ke pemilik kuda sebetulnya.

dsc_0342

Para penyewa kuda.

Harga awal yang ditetapkan seorang calo dimulai dari INR1500. Gilak! 3 kali lipat dari harga yang diinformasikan di buku. Kami menolak dan terus berjalan naik. Toh masih banyak pemilik kuda lainnya. Kami datang tidak di musim liburan. Jumlah kuda yang nganggur lebih banyak ketimbang jumlah wisatawan. Dengan demikian daya tawar kami seharusnya dapat lebih tinggi. Singka cerita, kami akhirnya mendapatkan 3 ekor kuda dengan harga sewa masing-masing INR 600 atau sekitar Rp.120.000 setelah sebelumnya penawaran di angka INR 1000 dan mentok di INR 800.

Dengan menggunakan jurus pura-pura nggak mau, kami mendapatkan harga tersebut. Yup, masih lebih mahal INR 100 dar info yang ada di buku, tapi masih okelah mengingat kami datang setahun setelah perjalanan penulis buku tersebut dilakukan.

Oleh calo, kami dipertemukan dengan seorang anak muda yang ternyata pemilik kuda sekaligus guide yang akan mengantarkan kami ke beberapa titik wisata. Aku lupa namanya siapa, sebut saja namanya Rahul ya. –nyari bando, mau nyamar jadi Anjeli. Pemuda muslim berusia 20 tahunan yang sudah bekerja menyewakan kuda sejak kecil.

Rahul memiliki beberapa kuda. Seingatku Rahul pernah berkata bahwa 3 kuda yang kami sewa adalah kuda-kuda terbaiknya.

“Eh ini kuda kok kayaknya masih abege. Kuat nggak nih?” tanyaku ke Rahul.

“Kuat kok bang, tenang aja. Badan abang kan gak jauh beda sama Nyle DiMarco,” ujar Rahul. “Jadi amanlah, gak usah khawatir.”

Hmm, ya deh percaya. Walaupun kudanya nggak terlalu besar, Rahul meyakinkan aku bahwa kudanya akan sanggup membawa beban badan dan perasaan yang aku punya. Lagipula, aku perhatikan kuda-kuda di sana emang badannya gak terlalu besar. Belakangan, berdasarkan analisis abal-abalku, ukuran kuda yang tidak terlalu besar akan memudahkan kuda bermanuver membelah pohon-pohon yang berdiri rapat di sana. Benarkah? Baiklah, mari kita buktikan!

dsc_0437

Pohonnya tinggi-tinggi semua!

Pangeran Berkuda di Pegunungan Salju

Arshi, Praveen dan Debangshu terlihat berjalan di jalan setapak yang akan mengantarkan mereka ke titik pemberhentian paling keren yang ada di Pahalgam. Aku sendiri sudah menaiki punggung kuda dan berusaha untuk membiasakan diri dengan kuda gagah bernama Arjuna itu. Sebelum ini, aku belum pernah nyobain menunggangi kuda. Eh sekalinya nyoba, langsung di Pahalgam dengan view pemandangan secakep ini! Alhamdulillah!

dsc_0335

Keindahan Pahalgam dilihat dari sisi sebelah kiri jalur pendakian

Rahul memberikan arahan singkat kepada kami bertiga.

“Jika jalan menanjak, maka bungkukkan tubuh kalian ke depan. Jika jalanan menurun, tegakkan tubuh kalian kebelakang.”

Kami bertiga mendengar dengan seksama.

“Gimana cara menghentikan kuda? Aku khawatir dia akan berlari ke sana kemari tak terkendali,” tanyaku lagi.

“Oh mudah, tarik saja tali kekangnya perlahan. Jangan mendadak, kau bisa terjungkal,” jawab Rahul. “Ada lagi yang mau ditanyakan?” tanya Rahul.

“Lalu, gimana jika kudanya mendadak minta kawin?” tanyaku kalem.

“Itu kamu nanya atau menyampaikan suara isi hati?”

dsc_0361

Another prince. Yang satu ini sudah laku (baca : pengkhianat dan tidak berperikejombloan lagi)

Oke, dialog terakhir fiktif belaka. Mari kita berjalan, dan biarkan pangeran berkuda ini menebarkan pesona. Ya, siapa tahu ada cewek Kashmir yang kecantol, kan? Hehehe.

Kami berjalan mengikuti jalan setapak yang awalnya berkontur rata. Namun, kok ya lama-lama Rahul membawa kami ke jalur yang kian curam dan menyempit. Aku memandang ke tebing, sungguh curam. Apakah kami akan diajak melewati jalur itu? Ah yang benar saja!

Rahul menuntun kuda Ahlan dan Indra di bagian depan. Arjuna, kudaku otomatis akan mengikuti kemana langkah 2 saudaranya. Terus terang aku mulai merasa ngeri dan khawatir. Bukannya apa-apa, jika terjungkal, bisa-bisa pulang tinggal nama! Bukitnya sungguh curam. Aku menyesal tidak membawa busur. “Heh buat apa?” Ya buat ngukur kemiringannyalah! karena menurutku kemiringannya sudah mendekati 70 atau 80 derajat. Cadas abis!

dsc_0377

Lihat tebing yang di sebelah kanan. Nampak curam? itu belum apa-apa dibanding jalur yang kami lalui!

Melihat kekhawatiranku Rahul berkata, “tenang saja, kudanya akan berjalan dengan hati-hati. Dia pun nggak mau terjatuh, kan?”

Ah betul juga, ya!

Sejak itu, aku mulai menikmati perjalanan. Aku bahkan mampu mengucapkan bahasa kuda seperti yang Rahul lakukan ke ketiga kudanya.

“Syah! Syah! Syah!”

Begitu ucapan Rahul saat menyuruh kudanya berjalan. Hmm, kok kedengarannya malah seperti suara habis ijab qobul, ya? Hohoho. Luar biasa, kami baru berjalan sekitar belasan menit namun sudah mampu berbahasa kuda dengan baik dan benar. –sujud syukur terharu.

Kuda yang Kehausan dan Pedagang Kelinci

Alam Pahalgam luar biasa indahnya! Sambil mengikuti irama perjalanan kuda, aku berusaha untuk menikmati setiap jengkal keindahan yang ditawarkan. Kami melewati pohon-pohon besar, sungai-sungai kecil bahkan aliran air sungai yang menyerupai air terjun mini.

Di beberapa kesempatan Arjuna nampak mencuri-curi waktu untuk minum. Herannya Rahul nampak tidak senang. Tiap kali Rahul minum, raut mukanya terlihat tidak enak. Belakangan aku tahu bahwa dia tak ingin waktu terbuang percuma. Hmm

“Hei, nggak apa-apa dia minum dulu. Haus kali dia. Maklum, yang dibawa kan model beken,” ujarku menenangkan.

“Syah! Syah! Syah!”

Hanya itu responnya. Jadilah, kuda yang nampak tak puas minum itu kembali berjalan. Namun untunglah kami banyak melewati aliran sungai sehingga si Arjuna dapat terus minum walaupun sedikit demi sedikit.

dsc_0370

Hayo Arjuna minum yang banyak sebelum dilihat Rahul

Saat tiba di sebuah titik perhentian (dengan view yang bikin dada berdebar) kami dikerubuti oleh pedagang kelinci.

“Abang, beli kelincinya dong!”

Ya kali pulang ke Indonesia bawa-bawa kelinci. Ogah dah!

dsc_0356

Indra diserbu pedagang kelinci

“Atau mau foto dengan kelinci juga boleh. Hayo dong bang, murah nih,” ujar si adek yang semangat menawarkan jasa.

Ya, maaf deh, gimana ya, namanya juga nggak butuh. Kami lalu mengabaikan permintaan gadis kecil itu. Sorry ya dek! Untung tak jauh dari sana ada wisatawan yang mau menyewa kelincinya untuk digendong dan difoto.

“Hayo kita jalan!” ajak Rahul.

Ya elah ini orang kok buru-buru amat ya. Kami kan mau foto-foto dulu biar bisa nampang di sosmed heuheuheu. Dan, ini dia hasil jepretan Ahlan buatku. Si pengeran di pegunungan salju.

"Neng, boncengan naik kuda sama abang mau?" "Gak mau!" "Lha kenapa?" "Astagfirullah, sadar sama berat badan abaaang! Gak kasihan sama kudanya apa?" "Opps bener juga! Hehehe" . . . . . Seumur-umur, aku belum pernah nyobain menunggangi kuda. Eh, sekalinya nyoba langsung di Pahalgam, Jammu & Kashmir, India dengan pemandangan seindah ini Alhamdulillah kudanya nggak ngamuk dan anteng banget saat ngajakin aku membelah pepohonan pinus dengan kemiringan lahan hampir 90 derajat Bayangin kalau kudanya cewek, trus naksir aku*, nembak aku, dan karena aku setia sama si eneng, lalu aku tolak, trus udahnya aku dilempar dari badannya ke dalam jurang. "Selesai hidup abang, neng!" . . . Ntar ya, cerita tentang Pahalgam akan tayang segera di blog Omnduut. Sementara, simak dulu pengalamanku menyentuh salju untuk pertama kalinya di Gulmarg. Ini dia https://omnduut.com/2016/09/10/first-snow-in-my-life-gulmarg-in-india/ . . . . *Ya ya ya, ini cerita fiktifnya agak nyeremin emang 😂 Photo taken by @reza_ahlan #India #India_gram #_soi #Mountain #Horses #snow #indiapictures #Instagram #IndiaDaily #ThisIsIndia #JammuAndKashmir #BeautifulIndia #VisitIndia #Escape #Traveling #india_tourism_ #phodus #phodus_competetion #EarthPorn #PhotographyIndia #grass #Trees #indianphotography #indianphotographyclub #omnduutpahalgam

A post shared by Haryadi Yansyah | Omnduut (@omnduut) on

Bengong di Switzerland View

“Hayo kita jalan. Kalian akan saya ajak ke tempat paling indah yang ada di sekitaran sini,” ajak Rahul.

Kami kembali berjalan membelah pegunungan. Sebelum tiba di titik yang dijanjikan, kami sempat berhenti di beberapa titik untuk mengambil foto dan memberikan kesempatan kepada kuda untuk beristirahat. Tempat ini kaya akan tanaman hijau, terutama rumput yang menjadi makanan utama kuda. Senang rasanya melihat kuda yang nampak menikmati makan siang mereka.

Saat itu sudah hampir tengah hari memang, namun cuaca masih dingin. Aku bahkan terus mengenakan sarung tangan. Menjadikan kegiatan memotret sedikit terganggu. Tak lama kemudian kami kembali berjalan hingga Rahul berkata,“tak lama lagi kita sampai.”

Kami berada di atas sebuah bukit yang landai. Saat mendekati lereng, kami belum dapat melihat pemandangan seperti apa yang akan kami temui. Namun ketika mendekat, aku tercekat. Di hadapanku ada sebuah lembah dengan hamparan rumput dengan hiasan jajaran pegunungan salju yang terlihat sempurna.

“Selamat datang di Switzerland view,” ujar Rahul.

Huaaa INDAH SEKALI!

Kami turun dari kuda dan mulai berjalan ke sana kemari. Sekali lagi, aku belum pernah ke Swiss dan aku tak lagi peduli apakah benar pemandangan yang ada di hadapanku ini sama atau tidak dengan yang ada di Swiss. Yang jelas, pemandangan mahal yang jarang aku lihat seperti ini sangat membuncah perasaan!

Kami berjalan ke arah lembah. Ternyata di sisi kanan pepohonan sebagian tanahnya masih diselumuti salju. Wow, luar biasa! Jadi bisa pegang salju lagi nih.

Di tengah padang rumput, sebagian pengunjung pun nampak asyik bermain zorbing (bola transparan yang dapat dikendarai itu loh). Aku sendiri, karena tidak tertarik untuk nyoba langsung berjalan ke sana kemari sambil menenteng kamera.

dsc_0457

Ada yang mau main zorbing?

Di sebuah tempat yang sepertinya merupakan food center kami bertemu dengan Arshi. Loh kok naik kuda?

“Di tengah jalan aku nggak kuat. Makanya aku sewa kuda Haryadi,” ujarnya menjelaskan.

“Berapa kalian sewa?”

“800 rupee.”

Doeng, mahal bener! Udah makenya separuh perjalanan harga sewanya pun lebih mahal. Ya sudah, artinya rezeki si pemilik kuda tuh. Kami sempat berbincang sambil menyeruput chai di sana sebelum kembali berpisah menjelajah Pahalgam dan saling berjanji untuk bertemu di area parkir.

dsc_0432

Kantin ala-ala

Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam di sana. Rahul sudah berkali-kali mengajak kami pulang namun kami abaikan. Setelah dirasa cukup, barulah kami mendekati kuda kami kembali dan berjalan pulang dengan menggunakan rute yang sama!

Ternyata, berjalan menuruni tebing itu berkali-kali lipat menegangkan ternyata! Apakah sama menegangkannya dengan malam pertama dengan istri yang sudah berhasil dihalalkan? Auk deh. Yang jelas, mengunjungi Pahalgam adalah salah satu kenangan terhebat yang pernah aku rasakan.

“Are you happy?” tanya Rahul.

Hmm mulai deh. Itu adalah perkataan orang India jika ingin meminta tips.

“Ya kami senang, tapi sedikit saja. Habisnya kamu selalu nampak tak sabar,” ujarku.

Mendengar itu dia diam. Tapi tenang, kami tak sekejam itu. Dia tetap kami beri tips kok. Herannya lagi setelah pulang dan kembali bertemu dengan si calo, lagi-lagi kami ditodong untuk memberikan tips.

“Tidak! Perjanjian di awal harga tersebut sudah termasuk tips.”

“Hayolah kasih sedikit,” ujarnya sedikit memaksa.

“Kami sudah kasih langsung dengan Rahul. Jika tidak percaya, tanya saja dia.”

Rahul mengangguk. Kami menang. Rasanya nggak tega tips yang seandainya kami beri kepadanya akan disunat lagi. Dasar calo! Kami lalu berjalan menuju area parkir. Di sebuah kedai kecil trio Bangladesh sudah menunggu kami sambil menyantap sepiring mie kuah hangat dengan irisan cabai dan telur.

Nikmat!

Sambil mencecap kuah mie berkari itu lamunanku berpendar ke segala penjuru. Ah, semoga berkesempatan ke Pahalgam lagi di waktu yang akan datang. -Kedip ke Eneng.

Iklan

48 thoughts on “Mendadak Jadi Pangeran Berkuda di Pahalgam

  1. Yayan, Kamu nggak berhenti di desa desa di lembah itu kah ?Bukan yang diatas, naik kuda. lho. Masih dibawah, dengan mobil. Ahhhhhh, Justru yang cakep itu di desa desa bawahnya. hamparan kemuning bunga, pohon Apel, “Sakura” .

    Semoga next ada rezeki pingin nginep disini. Beneran itu kayak di Yurop, Switzerland. Emang sudah ke Yurop? hehehe.

    • Huhuhu nggak mbak. Gak tahu dan kayaknya waktu itu nggak kepikiran. Padahal emang kalo main ke desanya pasti seru ya huhuhuhu. Ajak aku ke sana lagi mbaaak, sekalian ke Sonamarg saat musim semi ya haha.

      Hahaha ntah deh sama atau nggak, tapi orang nyebutnya begitu. Mungkin sama tapi sekian persen aja hahaha

      • Ada kok mbak zulfa

        Di ladang mustard kan ?

        Kami sempat berenti kok
        Pas pulang dr pahalgam.

        Mungkin itu tulisan yayan untuk episode selanjutnya
        Hehe

  2. Perjalanan kapan itu om nduut? Bikin mupeng aja sih.
    Tadi aku selesai sholat magrib dapat notif email masuk omnduut ngpost ini… Penasaran dan langsung aku baca.

  3. Kayak di kalender-kalender gitu ya om pemandangannya? Jadi pengen nyobain kayak gitu. Ah masih panjang ceritanya tapi buay nyoba kayak gitu hehehehe

    Btw, itu motretnya gimana om? Tangan kan megangin tali kuda?

    • Sebagian besar foto yang ada di sini diambil saat nggak menunggangi kuda Bay. Yang saat naik tanjakan udah gak berani, yang ada mulut komat kamit berdoa hehe. Nah yang foto dia lagi minum itu aku ambil secepat kilat *alagh

      Mainlah ke sana Bay, biar bisa lihat langsung “foto kalender”-nya 😀

  4. Ping-balik: Visit Tidore Island – Bukti Betapa Indonesia Itu Kaya | Omnduut

  5. Ping-balik: Membeku di Padang Rumput Emas : Sonamarg, Kashmir | Omnduut

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s