Mhare Hiwda Mein Nache Mor, Tak Thaiya Thaiya Inside my heart the peacock dances Bhavre Ne Machaya Shor, Khili Dil Ki Kaliyan The bee buzzes and makes noise, the flower-buds of the heart have blossomed Badla Mausam, Badle Nazare, Ya Badla Hai Nazariya The season has changed, the scenery has changed or has my view-point changed Mhare Hiwda Mein Nache Mor, Tak Thaiya Thaiya Inside my heart the peacock dances * * *

.
Sebelum panjang lebar menulis hal-hal apa saya yang harus diperhatikan sebelum berangkat ke India, aku mau berterima kasih dulu kepada raja Bollywood asal Jombang si AlidAbdul[dot]com yang sudah mau dirempongin dan ditanyain seputar video clip lagu India yang dari awal memang aku niatkan buat ditaruh di awal postingan ini.
“Lid, tolong infoin beberapa lagu India yang merepresentasikan keindahan alam dan kebudayaan India.”
Banyak banget judul lagu yang diinfokan Alid, eh ujung-ujungnya aku teringat lagu Mhare Hiwda dari film Hum Saath Saath Hain (1999) ini, jadi semua lagu dari Alid gak ada yang kepakai hahaha, gakpapa ya, Lid! Aku memilih lagu ini karena menurutku lagunya cukup mewakili apa yang aku cari. Misalnya saja, keindahan India terlihat dari keberadaan kuil-kuil tua dan gurun pasirnya (huaaa, jadi nyesel batal ke Jaisalmer) sedangkan kebudayaannya terlihat dari tarian dan pakaian tradisional yang dikenakan beberapa bintang bollywood papan atas di video clip itu.
Diantara itu semua, lagu itu memunculkan kenangan tersendiri.
Kenapa?
Karena aku kenal lagu itu sejak usia SD. Dan, bisa jadi, hasrat untuk dapat mengunjungi India sudah tertanam sejak kecil lewat lagu-lagu/film yang aku saksikan bertahun-tahun yang lalu itu. Kini, ketika backpacking sedang marak, banyak orang yang juga memiliki keinginan yang sama untuk dapat mengunjungi India. Nah, makanya, di tulisan ini aku berusaha merangkumkan apa-apa saja yang harus diperhatikan jika ingin berkunjung ke negeri Hindustani itu.
Semua hal yang aku tulis di bawah ini didasari oleh pengalaman pribadiku sendiri. Untuk itu, jika ada beberapa hal yang dirasa kurang sesuai, ya maklum saja. Pengalaman tiap orang tentu berbeda, bukan? Lalu apa saya hal-hal yang harus diperhatikan sebelum cus ke India? Ini dia!
1. Niat
Kenapa memilih India?
Jawabannya : Kenapa tidak?
India itu negeri yang sangat indah terlepas dari beberapa isu yang menyelimuti negara ini. Salah satunya yang mencolok itu mengenai kejorokannya yang (katanya) luar biasa. Eh, apa iya India sejorok yang dipikirkan orang? Menurutku sih ya nggak juga. Masih bisalah ditolerir-lah apalagi kalau yang udah biasa lihat wilayah kumuh di Indonesia. Aku sih belum ke China Mainland ya, tapi konon katanya di sana lebih ‘horor’ hehehe. Walau begitu, jika ada kesempatan ke Tiongkok, ya aku maulah. Masa iya cuma gara-gara takut jorok aku melewati kesempatan untuk berkunjung ke negeri sejuta pesona ini.
Percayalah, sebesar apapun kekhawatiran kamu terhadap India, sesungguhnya India itu sangat laik untuk dikunjungi. Istilahnya itu : highly recommended-lah!
2. Tiket
Kalau kamu gak punya pintu ke mana saja-nya Doraemon, itu artinya kamu butuh tiket pesawat untuk menuju India.
“Pake kapal laut bisa.”
–tatapan mendelik.
“Menurut ngana? Kenapa gak sekalian nanya ‘Bisa jalan kaki kagak ke India’ coba?”
Ya, cara termudah menuju (salah satu kota) di India itu menggunakan pesawat. Alhamdulillah, ada AirAsia yang gencar memberikan tiket promo. Jadi ya, sekitar bulan Agustus 2014, aku dan 2 travelmates mendapatkan tiket Kuala Lumpur ke Kolkata PP itu hanya seharga 1,6 juta. Bayangin, tiket pesawat ke Bali aja belum tentu dapet segitu. Tapi… ya memang berangkatnya dari Kuala Lumpur, sih! Alhamdulillahnya sekali lagi, harga tiket Palembang ke Kuala Lumpur (begitu pula sebaliknya) juga ada yang promo.
So, begitu menemukan tiket promo, udaaah gak usah banyak mikir. Sikaaaaat!
3. Paspor & VISA
Inget ya, India itu adanya di luar negeri, bukan di dusun sebelah. Jadi ya tentu semua orang yang mau keluar negeri butuh paspor. Belom punya paspor? Ya bikin atuh! Banyak sekali blogger yang nulis step by step pembuatan paspor di blog mereka. Coba dicek deh. Eh ya sebelumnya, coba deh googling tulisan om Rhenald Kasali mengenai paspor. Tulisan itu kece beut dan sangat inspiratif, aku sendiri dulu beringasan bikin paspor setelah baca tulisan itu. Alhamdulillah, dari yang awalnya gak tahu paspornya dipake buat jalan ke negara mana, kapan bakalan dipakenya dan pake duit siapa eeh tahu-tahu adaaa aja jalan agar pasporku yang (awalnya) perawan itu lantas ternodai.
Hayo lekas bikin paspor! Apalagi naga-naganya nih, paspor Indonesia akan makin perkasa di kemudian hari. Dimulai dari Jepang yang sudah membebaskan visa untuk pemegang e-pasport, nah bisa jadi nanti lebih banyak negara yang memberikan kebebasan visa seperti itu juga. Lumayan banget, kan?
Mengenai VISA, yup, India termasuk dari sekian banyak negara yang masih memberlakukan pengajuan VISA bagi pemegang paspor Indonesia. Tata cara pengajuan VISA India secara online sudah aku tulis selengkap-lengkapnya di sini. Cekidot!

Sisa rupee dan stempel paspor dari imigrasi India
4. Uang
Percayalah, godaan tiket promo belakangan ini sangat terasa begitu menggoda. Rasanya nih ya, pingin dibeli semua. “Lebih baik menyesal beli tiket promo ketimbang menyesal nggak beli,” begitu kata sebagian orang. Huaaa, dengan berat hati aku harus setuju dengan anggapan itu. Namuuuunn…. Nih ada tapinya… untuk sekarang ini aku berusaha lebih realistis terhadap kemampuan keuanganku. Toh, pelesiran itu bukan hanya tentang tiket yang murah, bukan? Biaya hidup dan ongkos selama diperjalanan harus benar-benar dipertimbangkan.
Walaupun dik Cindy Cenora bilang kita harus Cinta-Rupiah-Biar-Dolar-Dimana-mana, Nah, di India, mata uang yang berlaku itu rupee. Jadi, sebelum berangkat, ada baiknya kalian mempersiapkan uang rupee terlebih dahulu.
Terus terang, ketika berangkat aku gak membawa rupee sedikitpun. Ya harap maklum, di Palembang, aku harus nukar di mana coba? Nah, berbekal informasi dari dunia maya yang bilang kartu debit dapat digunakan di India, aku pede aja menginjakkan kaki di India tanpa membawa rupee.
Hasilnya? Hwaaaaah ATMnya tidak dapat digunakan! Untung banget Ahlan –salah seorang travelmate, membawa sedikit rupe yang cukup digunakan untuk membayar taksi dan membeli tiket kereta untuk kami bertiga. Lalu, apa yang terjadi dengan kartu debitku? Sabar ya, aku akan tulis di postingan terpisah. Makanya, stay tuned di blog Omnduut hehehe.
5. Itinerary & Observasi
Seberapa penting itinerary? Hmm, jawabannya sangat relatif. Bagi yang suka tantangan, itinerary itu mengekang kreatifitas dan dapat mengurangi keseruan selama perjalanan. Apalagi bagi orang yang sangat ketat dengan itinerary, maka perjalanan serasa dikejar-kejar setan. Tapi, bagi yang punya dana dan waktu terbatas, itinerary menjadi penting untuk dapat mengerem pengeluaran yang nggak perlu termasuklah untuk membatasi pergerakan orang-orang yang suka lupa waktu di satu tempat (saat belanja misalnya :p) sehingga dapat mengacaukan seluruh rangkaian perjalanan.
Perjalanan kami ke India akan dilakukan lebih dari 3 minggu. Maka, setidaknya kami harus membuat daftar perjalanan secara garis besarnya. Misalnya saja kota mana saya yang akan kami kunjungi. Nah, ini adalah bagian yang serunya! 🙂 namanya juga 3 orang dengan 3 keinginan yang berbeda. Di sinilah akan kelihatan bagaimana watak teman jalanmu kelak. Apakah tipe orang yang egois atau tidak. Alhamdulillah, walaupun harus melewati perdebatan seru, kami bertiga (akhirnya) sepakat mengenai kota mana saja yang akan kami datangi. Hal ini pun setelah melewati beberapa pertimbangan, terutama masalah jarak dan waktu tempuh.
Di postingan ini pula aku membagikan itinerary sederhana yang aku buat menggunakan excel. Aku bagikan buat pembaca blog Omnduut dengan harapan itinetrarynya dapat bermanfaat. Penjelasan detail mengenai itinerary akan aku jabarkan di poin-poin selanjutnya dari tulisan ini.
Intinya sih, walaupun itinerary sudah dibuat dan dijadikan acuan dalam perjalanan, jangan pula hal itu menjadikan perjalananmu terasa begitu kaku. Sebagai traveler, kita harus siap dengan segala sesuatu/hambatan selama diperjalanan. Sebagai informasi, kami harus merelakan kunjungan ke Jaisalmer karena kondisi di lapangan tidak memungkinkan kami melakukannya. Kami juga harus membatalkan untuk berpartisipasi menjadi tenaga sukarelawan di Mother Teresa House karena lagi-lagi terkendala waktu.
Mau itinerarynya? silakan ambil : Itinerary India 2005 Omnduut dot com
6. Akomodasi
Nih ya, salah satu kelebihan dari India itu apa-apa murah! Termasuklah biaya akomodasi aka penginapan. Coba lihat itinerary yang aku buat, dari berbagai situs pemesanan hostel/hotel seperti agoda[dot]com atau booking[dot]com, kita masih dapat menemukan penginapan bahkan seharga tak sampai Rp.20.000! Tapi… ya tergantung jenis penginapannya juga sih ya. Yang harga segitu biasanya bertipe dorm/asrama yang satu kamar rame-rame.

Dapur umum di sebuah hostel di kota Amritsar, India.
Aku sudah mempersiapkan daftar penginapan murah di setiap kota, walau begitu aku tidak memesan satu kamar pun selama di India. Kenapa? Karena perjalanan kami itu sangat fleksibel. Dengan India yang unpredictable kami memutuskan untuk mendapatkan penginapan secara go show. Nggak sulit kok, karena penginapan di India itu buanyaaaak. Kita bisa memilih harga yang sesuai kantong dan… kita lebih lebih kita bisa nawar langsung ke pemiliknya!
Karena di selama di India kemana-mana kami naik kereta, jadi kebanyakan juga menginap di kereta. Selain itu kami juga menggunakan situs pertemanan couchsurfing[dot]com di beberapa kota. Bukan hanya untuk alasan berhemat semata, namun dengan tinggal di kediaman penduduk lokal kami dapat mengenal dan melihat secara langsung kehidupan masyarakat lokal di India.
Jadi, mau pesan penginapan atau tidak, tergantung dari kebutuhan masing-masing, oke!
7. Transportasi
Sebagian besar traveler yang ingin mengunjungi India paling pusing mengenai hal ini. Dan terus terang, 90% persen emosi jelek kami selama di India juga terkait dengan masalah transportasi ini. Tahulah ya, India itu negara besaaaar. Untungnya transportasi kereta apinya dapat menjangkau (hampir) semua wilayah di India. Tak heran kereta api adalah transportasi yang menjadi andalan dan bisa jadi merupakan jalur kereta tersibuk di dunia.
Idealnya, semua tiket kereta api untuk perjalanan rute domestik sudah dipersiapkan sejak di Indonesia. Silakan cek di beberapa blog, ada yang sudah menuliskan hal ini secara lengkap. Ada anggapan bahwa, “jika elo gak dapetin tiket sejak dari tanah air, mending gak usah ke India.” Nah, kami bertiga ingin mematahkan anggapan tersebut.

Becak dan bajaj saling berebut membelah jalan kota Delhi
Hasilnya? Kami bisa survive!
Memang gak mudah sih tapi ya nggak mustahil juga. Bisa kok beli tiket go show. Toh memesan secara online pun gak menjamin tiket yang dipesan sudah fix 100% dapat digunakan. Kemungkinan besar tiket yang dipesan statusnya waiting list. Dan…. Banyak hal yang menyebabkan ini dapat terjadi, misalnya saja keberadaan tour & travel yang menjual tiket kereta ada main mengenai hal ini :p Cerita tentang kereta api di India aku akan tulis secara terpisah.
Transportasi lainnya yang kami gunakan selama di India itu bajaj. Uniknya, masing-masing kota bentuk bajajnya beda-beda. Ada yang kecil seperti di Delhi, ada yang besar seperti di Amritsar. Ada juga yang bersekat seperti di Srinagar. Sebagian bajajnya sudah pake argo loh walaupun pengemudinya masih lebih demen main tembak dan tawar menawar harga. Cerita mengenai ini akan aku tulis secara terpisah juga ya!
8. Waktu Terbaik
Saat pencarian tiket di bulan Agustus 2014, tiket promo kebanyakan berada pada bulan Maret & April. Sebetulnya bulan ini cukup tepat jika mau ke India karena tengah musim semi yang artinya cuacanya cukup bersahabat. Inget gak berita tewasnya ribuan orang di India dan Pakistan selama musim panas tahun ini? Nah, musim panas itu terjadi pada bulan Mei & Juni. Jika gak mau kepanasan, mending pilih berkunjung di bulan lain.

Memundurkan jadwal demi datang ke Tulip Garden
Ketika itu, kami sempat galau antara ingin menyaksikan holi festival di bulan Maret atau Tulip Garden di bulan April. Karena tulip garden nampak jauh lebih menarik, maka kami mengambil keputusan untuk berangkat April 2015.
Bagi yang belum tahu, India itu punya 5 musim! Musim dingin berlangsung pada bulan Desember hingga Februari, musim hujan pada bulan Juli sd Agustus dan musim gugur pada bulan September hingga November. Hei hei hei, aku menyentuh salju pertama itu di India, loh! Alhamdulillah banget ketika datang di bulan April, saljunya masih cukup tebal padahal biasanya jika mendekati peralihan bulan maka salju di Gulmarg sudah mulai mencair.
Rezeki anak soleh…
9. Mental
Tiket udah punya. Visa udah siap. Uang ada. Nah jangan lupa siapin mental ya! Heh? Kok kesannya serius sekali? Hahaha, ya gak juga sih. Tapi memang India itu menawarkan sejuta kejutan. Kita harus siap ketemu orang yang tidak ramah bahkan cenderung ketus. Siap-siap juga dengan semua keterbatasan di India. Siap-siap dengan ketimpangan kesejahteraan disana, juga harus tahan banting kalau kena scam 🙂
Selain itu, kalian harus bersiap takkala menjumpai pemandangan spektakuler yang bisa bikin bengong dan gak habis pikir, “bener ini gue di India?”, juga, harus siap dengan keramahan orang India yang walau baru ketemu udah dianggap kayak anak sendiri. Siap-siap juga mendapatkan pelajaran tanpa tepi di negeri Aamir Khan ini.
Kamu suka bepergian? Kunjungilah India… setidaknya sekali dalam seumur hidupmu. Rasakan sensasinya melakukan perjalanan di negara ini dan kamu akan tahu kenapa cinta terhadapnya akan tumbuh walau tanpa diminta.

Di tingkat 2 kereta sleeper class. Kereta penuh jadi hanya muat aku seorang dengan 3 buah backpack 🙂
Pas banget aku habis nonton film India (filmnya Priyanka Chopra) lalu sempat terbesit keinginan untuk ke sana. Tapii kok image India jadi agak jelek gegara video di medsos, yg jalanannya kotor, yg makanannya gak higienis. Jadi fear factor kalo mau ke sana.
Tapi we don’t know if we don’t try. Setelah Mas Yayan ke India ternyata gak seburuk yg dibayangkan banyak orang ya.
Kalo ke sana aku mending ikut travel agent aja deh. Bawa USD lalu ditukar pake Rupee di sana, bisa?
Bisa mbak Avi. USD mah perkasa di mana-mana haha, dan uangnya laku ditukar di mana saja.
Emang bener ya Mas Yan kalau ke India paling utama niatnya. Kalaupun ada rezeki buat traveling ke sana (gara-gara suka nonton Jodha Akbar dan Mahabarata) maka harus suntik vaksin meningitis dulu, pake travel terpercaya, dan beli asuransi perjalanan. Itinerary ngikut travel aja deh. Beneran kudu kuat nyali dan jangan nonton video food street prindavan nanti malah batal ke sana.
Bener, kalau ditambah asuransi perjalanan harusnya bisa lebih aman dan merasa ada yang memproteksi mbak Avi.
Sesungguhnya sebelum nikah aku pengen banget ke India, tentu karena alasan suka nontonin film Bollywood nya juga. Tapi setelah punya anak (apalagi sekarang udah 3), terus liat banyak cerita India ini jorok jadi agak gimanaa gitu, ahaha.
Bener sih, kayanya India ini cocok buat traveler yang masih single dan masih berjiwa petualang banget. Soalnya lihat cerita di sini kayak kalau kita memang berpositif thinking dan memang bisa menjaga diri, ya insyaAllah gak akan kenapa-kenapa.
Sama lah kayak cerita di manapun, kita mesti cari tau dulu latar belakang dari cerita yang kurang mengenakkan itu. Bukan victim blaming, tapi untuk bikin kita jadi lebih waspada aja.
Kalau udah berkeluarga, rasanya India bakal jadi negara ke sekian untuk dikunjungi sih, hehe.
Haha ya, India sangat adventourist. Sebenernya cocok aja ajak keluarga terutama anak. Tapi emang yang mungkin udah terbiasa dengan hal-hal yang undpredictable.