Pelesiran

Sapa Hangat di Kuil Matahari, Kashmir

.

Saya lupa tepatnya, namun rasanya sekitar 3 bulan pasca kepulangan saya backpacking ke India, saat telepon genggam saya berdering dan saya mendapati nomor asing berawalan +91 di layar gawai. Tanpa berpikir lama, saya tahu itu telepon dari India. Perjalanan backpacking memang sudah berakhir. Namun, rasanya segala sesuatu yang berhubungan dengan India masih melekat baik di benak.

“Hello, namaste,” sapa saya.

“Hello, I got the photos,” ujar suara di ujung telepon langsung ke sasaran.

“Who are you?” tanya saya balik.

Sayang, suara di ujung telepon terdengar tidak jelas. Lelaki itu masih sempat berbicara beberapa hal sebelum kemudian teleponnya terputus. Saya agak bingung sembari menerka siapakah gerangan lelaki yang menelepon saya itu. “Oh, mungkinkah dia lelaki dari Kuil Matahari?”

*   *   *

Mobil berkendara melalui jalanan yang mulus. Saya duduk di samping sopir sembari terus memandang ke luar jendela, memperhatikan dengan baik setiap lekukan pegunungan bersalju yang nampak di depan mata. Saya tersenyum simpul, mengingat betapa menyenangkannya berlagak menjadi pangeran tampan yang gagah duduk di balik pelana kuda di Pahalgam, kawasan indah yang baru saja kami semua datangi.

Jalanan mulus dan pemandangan indah adalah satu paket lengkap dari sebuah perjalanan.

“Bolehkah kita mampir sebentar ke kuil kecil tak jauh dari sini?” pinta Arshii, travelmate yang berasal dari Bengalore. Bagi yang sudah baca kisah perjalananku di Kashmir sebelum ini, pasti udah tahu bahwa selama di Kashmir, Arshii dan dua temannya –Debo dan Praveen, adalah teman seperjalanan kami. Karena bertemu merekalah, perjalanan selama di Kashmir terasa lebih smooth. Kami pun dapat menyewa kendaraan pribadi demi memudahkan mobilisasi.

“Oh tentu saja boleh Arshii,” jawab kami kompak.

Wanita cantik berkulit terang itu lalu tersenyum. Tak lama, dia sudah berbincang dengan sopir dalam bahasa setempat. Alhamdulillah, sopir kami menyetujui. Salah satu keberkahan juga mendapatkan driver yang nggak cerewet seperti beliau. Walapun saya tahu, Arshii menambahkan tips demi mengabulkan permohonannya itu.

Tak lama, mobil melipir ke kiri, ke sebuah jalanan yang lebih kecil. Walaupun tak sebagus jalanan utama, jalanan kecil yang kami lalui masih terbilang baik walaupun sempit dan menanjak. Mobil harus berhenti beberapa kali dan bertanya ke masyarakat lokal sebelum kemudian kami tiba di kuil yang Arshii ingin datangi itu.

Mobil diparkirkan di samping pintu masuk utama kuil. Saya menatap ke sekeliling. Nampak beberapa rumah warga di sana. Desa kecil yang termasuk dalam distrik Anantag ini nampak lengang. Hanya terlihat satu-dua orang yang berada di sekitar itu. Tak menunggu lama, kami langsung menuju ke kuil yang berada di bagian atas. Tidak nampak penjagaan, apalagi orang yang menjual karcis.

Untuk melihat kuil utama, kami harus melalui pintu yang ada di tembok ini.

Kuil yang kami datangi itu bernama Martand Sun (मार्तंड सूर्य मंदिर). Martand sendiri adalah nama lain dalam bahasa sansakerta untuk menyebut Dewa Matahari dalam keyakinan umat Hindu. Dan, sesuai namanya, kuil yang dibangun pada abad ke-8 Masehi ini memang didedikasikan untuk Surya, yakni dewa matahari utama dalam hinduisme.

Dari luar, yang terlihat hanya sisa-sisa reruntuhannya saja. Dari balik tembok pembatas, nampak pohon-pohon apel berdiri rapi. Ternyata, kawasan luar kuil ini digunakan warga sebagai lahan perkebunan. Bagus, ketimbang nganggur. Toh lebih bermanfaat, kan?

Papan petunjuk kuil yang sudah mulai berkarat.

Lokasinya bersih. Gak kelihatan sampah satupun.

Saya ngerasa nggak lagi berada di India.

Kami harus bergerak menuju ke dalam untuk melihat bangunan utamanya. Nampak satu bangunan yang berada di tengah-tengah yang terlihat paling utuh. Sebagian dindingnya sudah hancur memang, namun tidak menyurutkan imajinasi saya betapa gagahnya bangunan ini dulu. Konon, dasar candi ini sudah ada sejak tahun 370-500 masehi sebelum kemudian dibangun oleh penguasa Dinasti Karkota: Lalitaditya Muktapida pada tahun 725 dan selesai di tahun 756 masehi.

Bangunan utamanya, dilihat dari samping

Sambil berkeliling, saya memperhatikan dengan saksama reruntuhan yang ada. Saya sempat bertemu dengan pengunjung lain di sini. Saya lupa mereka datang dari mana. Namun, merekalah pengunjung lain, selain kami, yang berada di kuil matahari saat itu.

Indra berpose dengan pengunjung lokal yang menyapa kami.

Mirip sama reruntuhan yang ada di Yunani gak sih? 😀

Saya terus menjelajahi kuil ini. Sedikit mengingatkan saya terhadap Qutb Minar, bangunan yang dilindungi oleh UNESCO yang sebelumnya kami datangi saat berada di New Delhi. Saya membayangkan jika kuil matahari ini masih berdiri seperti saat dibangun, pasti keren banget.

Sayang candi ini hancur total atas perintah pembongkaran oleh penguasa muslim Sikandar Butshikan pada abad ke-15. Penghancuran yang berlangsung setahun itu telah memusnahkan kuil matahari ini. Sayang sekali, ya! “Untungnya” sisa-sisa bangunannya dapat direstorasi sebagian hingga nampaklah seperti sekarang ini.

Senyum Hangat di Sekitar Kuil

Sembari menunggu Arshii mengeksplorasi kuil, saya, Ahlan dan Indra memilih untuk duduk santai di atas rumput di sekitaran kuil. Nampak beberapa anak yang sibuk mencabuti rumput. Tangan-tangan mereka lincah memasukkan rumput itu ke dalam karung kecil yang mereka bawa.

“Untuk apa?” tanya saya ke salah seorang diantara mereka.

“Kami mengambil rumput untuk hewan ternak,” ujar salah seorang yang kelihatannya dapat berbahasa Inggris paling baik.

Kalah ganteng sama mereka, euy! hehe

Mereka menatap kami dalam diam. Namun, senyum mereka terkembang sempurna. Khas khasmiri alias orang Kashmir yang ramah. Kami terus mengajak berbincang. Perlahan, mereka mulai berani mendekat. Terlebih, saat Ahlan mulai memperlihatkan sesuatu dari ponselnya, semua nampak antusias.

Tampan-tampan ya, mereka. Pakaian yang mereka kenakan juga necis. Berbeda dengan anak-anak petani atau tukang kebun yang sering saya tonton di tayangan Si Bolang yang ada di TV, hehe. Begitulah rupa masyarakat Kashmir yang berkulit terang dan berhidung mancung. Saya kalah deh kalau dibandingkan dengan anak-anak ini.

Kalau gak salah, Ahlan kasih lihat video tentang Indonesia

Anak-anak ini beranjak pulang. Kami mengikuti mereka menuju jalan kecil tempat mobil kami diparkirkan. Ada sebuah warung kecil di sana. Ahlan mentraktir anak-anak ini dengan permen. Nampak sekali muka-muka bahagia mereka saat memperoleh hadiah dari Ahlan itu.

Kami Arshii dan teman-temannya di sekitaran warung. Kami juga berusaha berbincang dengan pemilik warung, walau sayang si uncle ini tidak dapat berbahasa Inggris. Tak lama, datanglah dua lelaki menghampiri kami. Salah seorang memakai turban, seperti pemeluk agama Sikh yang banyak saya temui di Golden Temple yang ada di kota Amritsar.

Sayang, tawaran untuk minum teh dari mereka gak bisa kami penuhi.

Terus terang saya lupa siapa namanya. Namun kami bebincang hangat saat itu. Bahasa Inggrisnya baik sekali. Tak heran, setelah digali kisah hidupnya, uncle ini pernah menepuh pendidikan Bahasa Inggris setingkat DIII dulu. Pantas ya….

Pemilik warung yang bernama Nissar Ah Malik menyimak percakapan kami dengan senyuman. Lelaki lain yang berada di dekat kami ternyata adalah anaknya. Uncle Nissar berkata sesuatu yang tak kami pahami.

“Dia menyuruh kalian masuk ke dalam untuk mencicipi teh,” ujar uncle Sikh menerjemahkan.

Sayang sekali, Arshii, Debo dan Praveen sudah selesai mengeksplor kuil. Kami harus segera berpamitan. Hari sudah sore dan lagipula kami masih harus mampir ke satu tempat sebelum kembali ke penginapan.

“Hayo kita foto bersama,” ujar mereka.

Tentu, dengan senang hati kami melakukannya.

“Tolong nanti fotonya dicetak dan dikirimkan ke sini,” ujar uncle Nissar yang lagi-lagi maksudnya saya ketahui setelah diterjemahkan. Saya mengangguk sembari memberikan buku catatan yang biasa saya bawa. Saya minta kepada anaknya uncle Nissar untuk menuliskan alamat lengkap di sana.

Begitu pulang ke Palembang, saya memang mencetak beberapa foto dan saya kirimkan ke sana. Harap-harap cemas, karena alamat yang mereka kasih sederhana sekali. Namun, sepertinya foto-foto itu sampai ke tangan mereka dengan adanya telepon yang saya terima beberapa bulan setelahnya.

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan Arshii begitu ingin mendatangi kuil matahari ini? Ternyata, kuil ini pernah dijadikan lokasi syuting film Haider yang dibintangi oleh Shahid Kapoor. Kuil matahari yang diselimuti oleh salju dapat dilihat di video klip berjudul Bismil ini.

Umum sekali seseorang mendatangi satu tempat karena pernah melihat tempat itu dari sebuah film. Itu yang Arshii lakukan, dan berkat keinginannya itu, saya dan travelmates dapat berkenalan dengan penduduk di sekitaran kuil matahari yang luar biasa ramah. Sebuah sore yang menyenangkan dan memorable saat berada di Kashmir.

Melipir Ke Padang Kanola

Kami menghabiskan malam pertama di Srinagar di rumah host couchsurfing di mana, bunga Kanola atau Brassica napus, banyak terlihat di sekitaran rumahnya. Ternyata, bunga indah berwarna kuning ini banyak tumbuh di Kashmir.

Gak usah melipir ke satu taman khusus seperti Kebun Tulip terbesar di Asia yang ada di Srinagar karena apa? Bunga ini dengan mudah dijumpai bahkan di pinggir jalan. Berfoto di hamparan Bunga Kanola adalah salah satu wish list Ahlan saat merencanakan liburan ke Kashmir.

Ahlan akhirnya berhasil nyoret salah satu wishlistnya.

Dan, sebelum kembali ke penginapan, keinginan itu akhirnya tercapai. Dengan bantuan Arshii, komunikasi kami dengan sopir kian lancar. Sopir juga setuju untuk berhenti sejenak untuk berfoto. Bahkan, sopir kami pula yang memilihkan tempat yang dirasa cocok untuk mengambil gambar. Dan memang, uncle tepat memilih tempat berhenti, di mana, hamparan Bunga Kanola nampak di sepanjang sapuan pandangan.

Ini dia, trio tempat perjalanan yang sedari tadi saya ceritakan. Yang di tengah itu Arshii. Yang kiri Debo dan yang kanan Praveen.

Sekilas, bunga ini nampak seperti rumput liar. Namun ternyata bunga ini adalah tumbuhan penghasil minyak rapa yang dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Minyak rapa juga dapat digunakan sebagai campuran oli/pelumas, pembuatan cat, lilin, farmasetika, campuran plastik dan bahkan sabun. Luar biasa ya penggunaannya.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di sekitaran padang Bunga Kanola, sebelum kemudian beranjak pulang, beristirahat sebelum kemudian melanjutkan petualangan lain keesokan harinya. Hi, Kashmir, sungguh saya merindu!

Semoga bisa ke Kashmir lagi nanti. Biar bisa pose sama bunga ini.

Iklan

32 thoughts on “Sapa Hangat di Kuil Matahari, Kashmir

  1. Duh lihat bunga kanola jadi inget lagu Tujhe Dekha To Yeh Jana Sanam. Aku gak inget udah nonton Haider belum yak 😦

    Martanda the dead sun, duh ngences pengen foto-foto ganteng di kuil itu 😀

    • Langsung cek di youtube tadi lagunya. Keinget masa lalu, jadul abis hahaha.
      Nah, cemmana master of bollywood lupa sama film. Keknya belom nonton kamu Lid hehehe

  2. Asyik ya kalau kita berkunjung ke suatu daerah dan penduduknya ramah menyambut. Selain pemandangan indah dan makanan khas, bagiku itu poin yang bakal bikin terkenang-kenang terus sama tempat yang pernah dikunjungi.

    Btw, sayang banget kuilnya dihancurkan. Kebayang deh kalau masih utuh atau seenggaknya 60-70% bakalan cantik banget. Tapi si penguasa muslim punya dalil sih, meski nggak bisa dibenarkan 100% karena nggak ada dalam sejarahnya Nabi dan Khulafaur Rasyidin menghancurkan tempat ibadah di negara-negara taklukan mereka.

    • Bener mas. Sebenernya, dibandingkan tempat lain yang ada di Kashmir, kuil ini gak ada apa-apanya. Atau dibandingkan dengan kuil lain yang jauh lebih megah, cantik, tua dsb, kuil ini mudah terlupakan. Tapi, keberadaan masyarakatnya yang jadi kenangan manis.

      Makasih udah baca dengan baik hehe. Dan makasih juga info soal Khulafaur Rasyidin. Aku cek nanti cerita sejarahnya.

  3. Wogh iya lokasi kuilnya bersih kali ga berasa suatu tempat di India biasanya kan India kan… *gajadi ngomong

    Mungkin nih ya omnduut mungkin…. klo aja omnduut ga ada di dalem mobil itu mungkin jalannya cuma sempit doang gapake nanjak huahahahaa *kabur ah

    • Udah sore. Lagian itu mereka ngajak minum teh-nya kok ya pas mau pulang hahaha, padahal kami ngobrol udah lumayan lama sih.

      Hahaha bener, persis yang Alid komenkan di atas.

  4. tahu gitu aku bikin klip di kuil matahari, nggak tahu film itu.

    pingin tinggal lama di kashmir mulai salju hingga musim semi, ikut bercocok tanam.

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s