Serba

Mengejar Batman & Badman di Chand Baori

Boleh dibilang, Chand Baori ini adalah tempat yang paling ingin saya datangi di perjalanan saya ke Rajashtan, India selama 2 minggu di bulan September 2018 lalu. “Kenapa?” well, sebetulnya ini karena pengaruh film hahaha. Hayo, siapa yang niatbanget datang ke satu tempat karena kesemsem liat tempat itu di satu film? Mengakulah! Kita bikin club, yuk! Wakakak.

Banyak yang mau ke Eiffel di Paris dan ngarep bisa kayak Tita yang ditembak Adit di film Eiffle, I’m in Love.  Ada yang ke Jepang karena nonton Miyabi eh astagfirullah,The Fast and The Furious: Tokyo Drift maksudnya? Ya sah-sah saja sih. Yang aneh itu kalau ke satu tempat hanya karena mau nyari uget-uget.

Mengejar Badman & Batman

Badman itu adalah tokoh yang ada di film The Fall. Film perjalanan terbaik yang pernah saya tonton karena film ini melakukan pengambilan gambar di 18 negara termasuk datang ke Bali, Indonesia! Nah, kalau kalian pembaca lama blog ini, pasti ngeh karena saya sering banget nyebut film ini. Bagi yang penasaran, saya udah nulis ulasan lengkapnya di sini, ya! Silakan baca sendiri.

Nah, di The Fall, ada sebuah adegan penting yang dilakukan di Chand Baori ini. Saat pertama kali saya lihat adegan itu, saya langsung jatuh hati dan bertekat untuk datang ke sana. Alhamdulillah kesampaian juga walau dengan beberapa drama hahaha.

Tak hanya di The Fall, Chand Baori juga “muncul” di film hollywood lainnya. Tak tanggung-tanggung, munculnya di adegan pembuka film The Dark Knight Rises yang dibintangi oleh Christian Bale. Chand Baori digambarkan sebagai tempat di mana Bruce Wayne dipenjara.

Btw, saya pakai tanda petik di kata muncul karena memang adegan penjaranya tidak dilakukan di sana, tapi memang penjara itu didesain karena terinspirasi oleh Chand Baori. Lengkapnya, coba kalian cek di video di bawah ini.

Selain 2 film itu, Chand Baori juga dipakai sebagai lokasi syuting beberapa film lain. Misalnya saja The Best Exotic Marigol Hotel yang dibintangi Dev Patel, Judi Dench dan Maggie Smith. Termasuklah film produksi tanah air mereka sendiri aka bollywood. Tapi, 2 film inilah yang kemudian mengantarkan ke Chand Baori.

Sekilas Mengenai Chand Baori

Chand Baori sendiri merupakan stepwell. Nah, terus terang susah menerjemahkan apa maksud dari stepwell ini. Tapi, dalam bahasa yang sederhana, katakanlah itu sebuah sumur. Tapi, bukan India namanya jika sumurnya aja nggak dibikin cakep dan megah.

Di India, ada banyak sekali stepwell dibangun. Tapi, Chand Baori adalah yang terbaik, terdalam, terbesar dan terindah. “Bangunan” yang terdiri dari 3500 anak tangga dan 13 lantai ini memanjang sekitar 30 meter ke dalam tanah.

Keindahan Chand Baori.

Tangganya indah banget, ya!

Chand Baori pertama dibangun pada abad ke-8 oleh Raja Chandra yang berasar dari klan Gujara Pratihara. Namun bagian lantai atas baru dibangun 10 abad kemudian, yakni abad ke-18 oleh masa pemerintahan Mughal. Karena dibangun oleh Raja Chandra, tak heran jika tempat ini dinamakan Chand Baori. Baori sendiri merupakan terjemahan stepwell atau sumur dan iasa disebut Badwi juga oleh penduduk setempat. Lantas apa sih tujuannya dibangun sumur ini?

Negara bagian Rajasthan sangat gersang, dan desain dan struktur terakhir Chand Baori dimaksudkan untuk menghemat air sebanyak mungkin. Di bagian bawah sumur, udaranya tetap 5-6 derajat lebih dingin daripada di permukaan, dan Chand Baori digunakan sebagai tempat berkumpul komunitas bagi penduduk setempat selama periode panas yang hebat.

Zoom maksimal lensa kamera. Ini bagian air di dasar sumur

Sementara itu, di salah satu sisi, terdapat sebuah paviliun 3 lantai dan ruang istirahat yang biasa digunakan oleh para bangsawan. Nah, di paviliun inilah adegan penting di film The Fall dilakukan. Sayangnya, saat saya ke sana, area ini terutup untuk umum. Pun area tangganya yang dipagari. Tapi, ya wajar sih karena sumur itu dalam sekali. Sangat berbahaya.

Jalan Panjang Menuju Chand Baori

Chand Baori ini berada di desa Abhaneri. Jaraknya sekitar 95 km dari kota Jaipur. Kalau berkendara ya sekitar 1 sd 2 jamlah ya, tergantung kecepatan dan kondisi jalan. Nah, jauh sebelum berangkat, saya sudah cari tahu gimana caranya untuk mencapai Chand Baori ini.

Saya sempat menelusuri blog blogger luar. Juga bertanya ke forum traveling baik di Indonesia ataupun yang ada di India. Setidaknya, ada 3 opsi jika mau ke sana. Pertama, sewa kendaraan. Jelas ini opsi yang paling mudah tapi juga paling mahal. Saya sempat cek, biayanya sekitar 2000 sd 3000 rupee. Atau sekitar 400 sd 600 ribu rupiah. Sebagai backpacker belum kaya, jelas opsi ini saya coret.

Stasiun Bandikui

Hati-hati jalan di Bandikui. Takutnya dicium babi hehe

Kedua, bisa naik bus. Bisa pilih rute ke Sikandra dulu dengan biaya 20 rupee. Dari sana baru naik jip/taksi ke Abhaneri dengan kisaran biaya sekitar 300 rupee. Bisa juga naik bus ke Gular, lalu pindah bus dan jalan selama 1 jam ke Abhaneri. Tapi opsi ini juga mahal dan ribet.

Pengalaman saya sih, lebih mudah naik kereta ketimbang bus di India. Maka, opsi itulah yang sekaligus jadi opsi ketiga dan terakhir yang saya pilih. Saya akan mencapai Abhaneri menggunakan kereta api. Saya sih biasanya beli tiket kereta api di India sendiri. Nah berhubung jatah pemakaian akun saya sudah habis, maka saya bisa ganggu Alid buat minta beliin tiket kereta hehe.

Nggak ada rute langsung dari Jaipur ke Abhaneri. Stasiun yang saya tuju ialah stasiun Bandikui. Di perjalanan menuju ke sana, saya sengaja pilih kelas Second Sitting Class. Kelas rakyat jelatanya hehe. Soalnya orang yang naik kereta ini gak dicek tiket. Jadi bisa naik kereta gratis! Tiketnya pun murah banget, hanya 60 rupee atau sekitar Rp.12.000 saja.

Kereta menuju Bandikui berangkat pukul 06:15 pagi. Sejak subuh, saya sudah bangun dan bersiap menuju ke stasiun. Ampun gelap dan sepi. Saya sempat berjalan lama sebelum menemukan becak yang dapat mengantar saya ke stasiun. Hmm, sebetulnya jalan kaki nggak jauh banget, tapi saya takut banget sama anjing. Trauma pernah dikejar anjing di Jodhpur.

Tangganya semakin ke dalam posisinya.

Bagian lain Chand Baori

Alhamdulillah kereta berjalan tepat waktu. Saya berangkat bersama orang-orang yang nampaknya akan pergi kerja. Oh ya omong-omong, lupakan soal kursi yang sudah saya pesan. Gak ngaruh haha. Prinsipnya naik kereta second sitting class itu, kalau nemu tempat kosong, langsung aja didudukin. Gak usah sopan amat dengan nanya, “can I sit here?” kepada orang sebelah karena belum dijawab udah diserobotorang lain hahaha.

Pemandangan di sepanjang jalan biasa saja. Tandus walau sempat melewati sebuah danau atau kolam kecil. Sekitar pukul 07:30 saya tiba di stasiun Bandikui. Dari sini, saya hanya perlu menempuh jarak 10 km untuk mencapai Chand Baori di desa Abheneri.

Pintu masuk Chand Baori gini doang.

Begitu keluar, saya langsung dikerubuti sopir jeep. Harga yang mereka tawarkan mahal. Bisa 1000 rupee. “Gila mahal banget. Kalau semahal itu mending saya langsung sewa mobil dari Jaipur,” ujarku kepada mereka.

Tahu bahwa turis yang mereka incar ini rada medit (saya maksudnya haha), tarif mulai diturunkan hingga 500 rupee. Masih mahal. Berhubung sopir jeep banyak, saya jual mahallah ya. Pake jurus pura-pura pergi. Tak lama, ada seorang pemuda yang mendekati. Saya sudah mencatat nama dan no WA-nya. Sayangnya buku catatan saya hilang huaaa. So, daripada saya ribet nulisnya, sebut saja namanya Mamat. Hehehe.

Mamat kasih harga 350 rupee atau sekitar Rp.70.000 untuk pulang pergi dan eksplor Chand Baori selama 1 jam. Saya setuju. Jadilah, bersama Mamat, saya memulai perjalanan ke Chand Baori. Sempat terhalang oleh polisi di salah satu jalan yang diblokade karena ada acara, dan setelah melewati kawasan pedesaan yang banyak banget babinya, saya tiba di Chand Baori sekitar pukul 8 pagi.

Dari luar, bangunannya nampak biasa saja. Namun, ketika masuk…. haaaa LUNAS SUDAH MIMPI SAYA. Sebagaimana yang saya lihat di film dan di internet, Chand Baori ini sama indahnya. Bahkan melebihi espektasi saya karena ketika di sana, bangunan ini terasa jauh lebih besar.

Burung kayak gini banyak banget di Chand Baori. Termasuk… kotorannya yang berserakan di sekitaran paviliun hehe

Lagi berdoa.

Adeknya Christian Bale.

Bagian paviliunnya tidak terawat. Jadi sarang burung. Banyak banget burung yang main-main di sana. Saya sempat melewati seseorang warga lokal yang khusus berdoa di sebuah altar kecil. Suasana masih sepi. Maklum masih pagi kan. Tak lama, beberapa wisatawan asing dan lokal ikut membaur bersama saya.

Berhubung jalan sendiri, selain jadi sopir, Mamat saya jadikan fotografer dadakan. Hasilnya banyak yang ancur haha, tapi ya lumayan ketimbang gak ada sama sekali kan. Eh ya, wajah Mamat ini mirip banget dengan pemilik kuda saat saya nyamar jadi pangeran di Pahalgam di kunjungan pertama saya di India hahaha.

Si Mamat yang mirip guide penyewaan kuda di Pahalgam

“Mat, elu punya sodara gak sih di Kashmir?” tanya saya.

“Kagak ada bang,” jawab Mamat seadanya. Ntah karena emang gak ada atau gak ngerti dengan pertanyaanku. Bahasa Inggrisnya kurang bagus soalnya. Eh walau bahasa Inggrisnya kurang kece, gini-gini dia udah gak jomlo. Udah nikah dan akan punya anak loh. Saya mah kalah jauh. –nangis di pojokan.

Sebagaimana yang saya bilang sebelumnya, Chand Baori ini dipagar. Saya sempat iseng bilang ke Mamat, “boleh gak masuk ke dalam, Mat?” tanya saya sambil memperagakan jari telunjuk ke dalam. Dengan tegas Mamat menggeleng hehe. Lagian, kalau saya berhasil foto di dalam, pasti udahnya saya dihujat netijen hwhw.

Paviliun yang saya maksud.

Kebayang gak kalau airnya penuh?

Pengunjung lokal pun ikut merasakan keindahan Chand Baori ini

Perjanjian awal memang eksplor selama 1 jam. Tapi si Mamat ini kek orang gak sabaran. Kebiasaan deh. Dikit-dikit nyamperin dan nanya, “udah? Udah?” kayak Cici Grace Natalie. Saya agak bete juga. Tapi, sejujurnya setengah jam udah cukup sih. Kecuali kalau kamu mau datang sambil makan nasi bungkus kayak emak-emak di stasiun MRT. Uhuk.

Oh ya, nggak ada biaya apapun untuk masuk ke sini. Asyik, kan! Tapi, saya dipajakin uang parkir sebesar 50 rupee oleh seseorang yang sejak awal ikut perjalanan saja ke Chand Baori sama Mamat. Akal-akalan banget tuh biaya parkir. Tapi ya sudahlahm hitung-hitung Mamat udah bantu foto saya kan. Paling juga uang 50 rupee ini dibagi dua sama mereka nanti.

Tempat ini relatif bersih

Semacam arca yang banyak berada di dinding-dinding bagian dalam Abheneri

Saya kembali menuju Stasiun Bandikui. Perjalanan sekitar 20 menit. Mamat banyak berhenti buat cari penumpang lain. Gakpapa sih, karena jadwal kereta saya itu jam 12 siang. Sambil nunggu Mamat ngetem, saya bisa melihat aktivitas penduduk sekitar. Oh ya, walau sewa jeep private, tapi jangan heran kalau mereka bisa ambil penumpang lain ya. Kalau mau protes sih bisa. Tapi saya sih nggak masalah. Hitung-hitung bantu Mamat cari penghasilan lebih.

Saya tiba di stasiun sekitar pukul 10 kurang. Masih ada 2 jam untuk menunggu. Niatnya sih cari makan di sekitaran stasiun. Tapi saya nggak berselera. Jadilah, bekal biskuit saja yang saya makan untuk menganjal perut.

Drama Kereta di Bandikui

Stasiun Bandikui sebetulnya nggak kecil-kecil banget. Cukup besar dan lumayan bersih. Ada ruang tunggu khusus dan ada toilet yang memadai. Saya naik kereta udah puluhan kali di India. Tapi, baru di Bandikui ini saya dibikin pusing karena jadwal keberangkatan kereta yang tercetak di tiket, tidak terlihat di papan informasi elektronik.

Saya sempat masuk ke ruang petugas dan nanya soal itu. Dari 3 orang yang saya tanyain, semua kasih jawaban nggak pasti. Pun ketika saya tanya ke penumpang lain soal di peron mana saya harus nunggu juga ngambang.

Jeep punya Mamat yang saya tumpangi kayak gini juga. Keren ya, jeep dijadiin angkot hehe

Suasana Desa Abhaneri ya kayak gini. Masih asri.

Mendekati jam keberangkatan, saya melihat peningkatan aktivitas di salah satu peron. Saya ikutin arus orang. Setelah saya tanya, kereta itu memang menuju ke Jaipur. Saat itu masih pukul 11:30. Dari jauh nampak sebuah kereta datang. Semakin mendekat, saya lihat di badan gerbong tertulis “Second Sitting Class”.

Saya galau. Pertama, tiket saya itu Sleeper Class yang lebih mahal. Harganya 140 rupee. Kedua, itu bukan kereta jam keberangkatan saya. Kereta saya baru akan berangkat setengah jam lagi. Tapi… saya khawatir kereta itu nggak ada. Soalnya gak ada di papan informasi dan petugas gak kasih jawaban pasti. Jadilah, saat kereta itu berhenti dalam sekian menit, hup, saya langsung loncat ke dalam kereta. Merelakan tiket sleeper class saya hangus. Dan, resmilah saya menjadi penumpang yang tidak membeli tiket.

Perjalanan sekitar 1 jam. “Berarti jam 12:30 udah sampe stasiun,” pikir saya. Saya udah kebayang mau cari makan siang di sekitaran stasiun. Tapi, apa yang terjadi saudara-saudara?

Pemandangan indah saat naik Second Sitting Class hahaha.

Kereta yang saya tumpangi berhenti berkali-kali. Kereta ini menepi di sebuah jalur dan merelakan kereta lain melintas. Sekali berhenti bisa satu jam! Saya kualat, naik kereta nggak bayar. Singkat cerita, saya baru tiba di stasiun Jaipur jam 3 sore alias saya butuh waktu 3,5 jam untuk mencapai Jaipur.

Itu adalah perjalanan terakhir saya menggunakan kereta di India di perjalanan kali itu. Itu sudah satu hari menjelang saya pulang ke Indonesia. Dan, ada-ada saja cara Tuhan kasih saya pengalaman biar bisa dituliskan di blog ini ya hahahaha.

Iklan

24 thoughts on “Mengejar Batman & Badman di Chand Baori

  1. Eh aku nggak ngeh klo Marigold Hotel juga syuting di Chand Baori. Ntar ah aku tonton ulang ehehe. Berarti secara harfiah artinya Sumur Bulan ya? Secara Chand artinya Rembulan. Klo di Jawa mungkin itu jenis kereta KRD murah super ekonomi yang selalu ngalah setiap kereta penting lewat haha. Btw yakin Mamat menggeleng tanda gak boleh? Orang India kan menggeleng berarti IYA wkwkwkw.

  2. Baru mikir kemarin kayaknya lihat ada postingan soal selebgram yang foto2 di sini, di akun siapa ya? Jebul akunne Alid hihi.

    Baca-baca cerita perjalanan rangorang ke India tu nano-nano banget ya, seru-seru gimana gitu. Jadi penasaran.

    Ngomong-omong kalau Bang Yayan banyak terinspirasi dari film, aku banyakan dari buku sih. Pengen pergi ke suatu tempat gara-gara baca buku. Jarang nonton film soalnya.

    • Haha iya, Alid yang share. Tapi stepwellnya beda. Itu di pusat kota Jaipur. Yang ini di Abhaneri.

      Buku dan film sama. Aku juga bisa ke Kashmir karena baca buku Jingga-nya Marina K.Silvia. Pengen ke Belitong gara-gara Laskar Pelangi, dsb. 🙂

  3. chand bori..pintu gerbang depannya macam mau masuk sekolah SD saya dulu:D tapi dalemnya luar biasa ya.., solo travelling seru jg ya..eksplor india, dan itu semoga kaki penumpangnya ga bau ya, kebayang kalau kombinasi bau ketek dan bau kaki menyatu

  4. Itu emang selalu dipagerin apa ada waktu waktu tertentu dibuka ya Mas? Ngebayangin kalo pas rame terus berjumpal rebutan sama turis India. Senggol kanan, senggol kiri, takut terus ada yang jatuh. Wkwkwkwk.

    Hahaha, kereta India nih emang nggak jelas ya. Jadi inget pas balik dari Agra, beli tiketnya dapet status WL. Berdoa jadi CNF pas mau berangkat. Beneran CNF. Pas udah naik, bergerbong gerbong itu kereta api kosong melompong, sampe takut salah naik kereta api. 🤷🏻‍♂️

    • Ada salah satu temenku yang bilang kalau mau turun ke bawah apapun tujuannya, boleh. Tapi harus izin dulu dan bayar 5000 rupee haha. Lumayaan banget. Mungkin kalau mau meneliti atau mau syuting kali ya. Kalau sekadar foto doang sayang amat duitnya wkwkwkw.

      Aku pernah juga gitu, pas beli susah banget, tiket terbatas katanya. Eh pas jalan kok sepi :p

  5. Selama ini aku nggak pernah menargetkan tempat-tempat tertentu yang mau dikunjungi sih, mas. Paling landmark kotanya doang. Makanya pas pertama ke Bangkok aku ikhlas2 saja meski nggak jadi masuk Grand Palace. Sisanya ke tempat-tempat yang mudah dijangkau hehe. Efek nonton film atau serial atau anime pun begitu, sebatas pengen ke negara atau kotanya, nggak sampai spesifik ke tempat-tempat tertentu.

    Jadi Chand Baori ini selain sebagai wadah air juga jadi tempat ngadem ya. Bahasa Jawanya: ngisisss.

    Btw, MAMAT ITU SALAH SATU NAMA PANGGILAN GUE 😂😂😂

    • Mungkin karena Chand Baori ini begitu berkesan jadi aku rela ke sana ya hehe.
      Sisanya, aku bisa nahan diri untuk suka sama satu tempat. Apalagi kalau tempatnya mahal banget buahaha. Jadi tingkat kemupengan itu dapat disesuaikan dengan isi dompet wakakakak.

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s