Pelesiran

Gagal Klimaks di Kota Secakep Praha

Di beberapa kesempatan berceloteh, saya sering menempatkan kota Praha sebagai salah satu kota yang ingin saya kunjungi sebelum mati. “Jadi sekarang udah boleh mati dong?” tanya netijen. Bhaaa ya nggak begitu juga dong maksudnya hahaha. Dari 3 kota yang masuk wishlist itu, dengan dikunjunginya Praha, maka semua sudah didatangi. Dua kota lainnya yakni Agra di India dan Makkah di Saudi Arabia sudah saya datangi lebih dahulu di tahun 2015 dan 2018.

Perjalanan menuju Praha terbilang lancar walaupun di kota sebelumnya –Heidelberg, sempat ada drama yang mengakibatkan saya jatuh terjerembab dan kaki saya memar. Tapi, alhamdulillah perjalanan sepanjang malam melintasi perbatasan Jerman ke Republik Ceko berlangsung aman. Sekitar jam 5 pagi saya terbangun saat bus melewati Dancing House sebelum kemudian berhenti di terminal.

Tahulah ya, jam 5 pagi saat musim gugur itu dinginnya bukan main. Rasa-rasa pingin meluk Tara Basro sambil minum teh anget dan makan pempek pistel gitu hehe. Suasana juga gelap! Makanya saya dan adik memutuskan untuk selonjoran dulu di terminal sambil menunggu hari sedikit terang. Sembari nunggu, saya mencari penginapan untuk kami bermalam di Praha.

“Kenapa nggak pakai couchsurfing seperti biasa?”

Sengaja. Soalnya di kota-kota lain semua pakai CS dan sesekali pengen juga merasakan privasi. Apalagi di Praha kami cuma semalam dan esok subuhnya sudah harus pindah ke kota Cesky Krumlov –masih di negara Republik Ceko. Nah, berbekal aplikasi booking dot com, saya mencari penginapan yang jaraknya dekat dari terminal tempat kami tiba.

Praha! ayem koming!

Nemulah Hostel Orange dengan harga 10 euro/bed, hehe iya niatnya mau privasi ujungnya tetap ngedorm juga. Tapi ya lumayan, seenggaknya gak mesti “berbasa-basi” dengan tuan rumah yekan. Lagian, Hostel Orange skornyanya tinggi banget! Dan, yang bikin senang tersedia dapur di sana. Lumayan kan kalau mau masak nasi.

Oh ya, karena Republik Ceko punya mata uang sendiri –disebut koruna di mana 1 koruna setara 650 rupiah, saya harus menukarkan uang dulu. Opsi pertama sih mau tarik uang di ATM saja. Tapi, pas keluar terminal nemu satu money changer yang buka. Dan, kami masih ada sisa poundsterling sisa perjalanan di London. Saat itu saya menukar GBP 20 dan dapet CZK 400 atau sekitar IDR 260.000. Percaya atau nggak, uang segini ternyata cukup untuk 2 hari selama di Praha dan Cezky Krumlov dengan kondisi penginapan kami bayar pakai euro.

Drama Mencari Hostel

Kami tiba di Praha hari Sabtu. Pagi itu suasana lengang sekali. Saya cukup kaget saat melewati beberapa kawasan di mana banyak sekali sampah yang menumpuk. Sebagian besar sampah berupa botol bir. Hmm, maklumlah, udah akhir pekan dan kayaknya tadi malam banyak yang pesta di sekitaran situ yang memang merupakan daerah wisata.

Dari terminal ke hostel sih nggak begitu jauh. Sekitar 3 km saja. Tapi karena cuaca sangat dingin, jadinya terasa jauh banget. Mana kami sempat dipalak pula sama pemuda lokal yang nampaknya masih teler. Tentang ini (termasuk balada jemuran kancut di hostel) sudah saya ceritakan di buku Modal Ngeblog Bisa Sampai Yurop! Ya –promosi hehe.

Hostel kami berada di sisi kanan foto ini. Benar-benar strategis!

Suasana kota Praha

Berdasarkan info di google maps, lokasinya berada di sekitaran Wenceslas Square. Dari sini, kalau mau ke kawasan Old Town dan Charles Bridge itu tinggal jalan kaki. Deket banget! Ini kawasan yang super strategis. Mau cari makan, banyak pilihan. Supermarket sekelas indomart/alfamart juga banyak. Di sana namanya ada Billa, Albert atau Manni Mini. Tinggal pilih mana yang murah.

Sayangnya sudah bolak-balik mencari, tapi tak juga menemukan gedung Hostel Orange ini. Eh, tahunya tulisan Hostel Orangnya berada di bagian dalam gedung yang satu bangunan dengan Original Czech Restaurant. Oalah, pantes aja susah dicari!

Kami lantas naik ke lantai 3 tempat resepsionis berada. Berhubung datang terlalu pagi, jelas belom boleh masuk kamar. Tapi, kami diizinkan duduk di ruang tunggu yang bersebelahan dengan dapur. Kami juga diperkenankan kalau mau pake dapurnya. Nah, satu hal lain yang jadi nilai plus, di sini disediakan kopi, teh, beras, pasta dan sereal yang bisa dikonsumsi sesuka hati gratis dan unlimited! Mantab tuh!

Saya dan adik baru berencana memanfaatkan dapurnya nanti saat makan siang dan malam. Untuk sarapan, kami masih ada bekal roti yang kami bawa dari Jerman. Baru sekitar jam 10 pagi, kami menitipkan ransel dan keluar untuk menjajal beberapa lokasi wisatanya.

Sekilas Tentang Praha

Saya pertama kali ‘mengenal’ Republik Ceko dari sebuah buku berjudul Menyusuri Lorong-Lorong Dunia yang ditulis oleh Sigit Susanto belasan tahun lalu. Republik Ceko digambarkan sebagai negara kecil yang sangat cantik walaupun di buku itu penulis lebih banyak membahas mengenai Franz Kafka, penulis terkenal asal Republik Ceko yang karya-karyanya sangat ia sukai.

Nah, saya mulai jatuh cinta dengan heart of Europe ini melalui salah satu episode tayangan The Amazing Race. Langsung deh saya klepek-klepek sama negara yang terletak di Eropa Timur ini. Bagi yang kenal saya lama, kayaknya udah tahu (atau bosen hehe) saking seringnya saya menyebut nama negara ini. Beberapa kerabat yang tahu saya suka sama Praha lantas berbaik hari mengirimkan kartu pos dari sana. Dan, tadaaa semesta mendukung dan tibalah saya ke kota Praha.

Keindahan kota Praha dilihat dari seberang Sungai Vltaya

Praha adalah ibu kota dan kota terbesar di Republik Ceko dan menjadi kota keempat belas terbesar di Uni Eropa. Kota ini juga merupakan ibukota historis Bohemia dan memiliki Sungai Vltaya yang indah.Praha didirikan selama Romawi berkembang di era Gothic dan Renaissance. Satu hal lagi yang bikin Praha spesial yakni kota ini juga menjadi ibukota Kekaisaran Romawi Suci. Hebatnya, kota ini memainkan peran utama dalam Reformasi Protestan, Perang Tiga Puluh Tahun yang termasuk dalam sejarah abad ke-20. Tak heran jika sejak tahun 1992 Praha ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Kota ini juga merupakan sebuah kota penting bagi Habsburg Monarki dan Kekaisaran Austro-Hungaria dan setelah Perang Dunia I menjadi ibukota Cekoslowakia. Nah, dulu saya banyak tuh prangko bekas bertuliskan Cekoslowakia yang kini pecah menjadi 2 negara yakni Republik Ceko dan Slovakia. Beruntung, di perjalanan ke Eropa ini, saya juga sempat mengunjungi Bratislava yang jadi ibukota Slovakia.

Nano-nano di Charles Bridge

Walau lokasinya nggak jauh dari hostel tapi kami memutuskan naik metro menuju Charles Bridge. Biar jalan kakinya nanti pas pulang aja. Naik metro juga gak mahal, tarifnya hanya CZK 12 atau setara IDR 8000. Dari stasiun terdekat, kami masih harus jalan menuju jembatannya. Dan, saat semakin dekat huhuhu, saya langsung terharu. Ini dia jembatan yang belasan tahun lalu saya lihat di Amazing Race dan sangat ingin saya datangi.

Charles bridge terlihat dari kejauhan

Menara sekaligus pintu gerbang Charles Bridge

Jembatan Charles dianggap sebagai salah satu bangunan paling menakjubkan bergaya gothic yang pernah dibangun di dunia. Sisi-sisi jembatan ini dihiasi oleh 30 patung bergaya baroque yang menggambarkan berbagai sosok kudus dan pelindun yang paling dihormati saat itu. Bahkan dulu tantangan di Amazing Race itu mencari petunjuk di patung-patung yang ada di sepanjang jembatan ini.

Jembatan ini semula dibangun untuk menggantikan Judith Bridge yang dibangun pada tahun 1158-1172 yang telah rusak parah karena diterjang banjir tahun 1342. Jembatan ini awalnya disebut Jembatan Batu (Kamenny most) atau Jembatan Praha (Prazsky most) namun kemudian diubah menjadi Charles Bridge di tahun 1870.

Aku gak jago potosop, jadinya foto langsung di sini deh hehehe

Susah kan kalau foto tanpa bocor err.

Nah ini kedua menara di sisi Quarter Lesser.

Dulu, inilah jembatan sepanjang 621 meter inilah yang menjadi satu-satunya akses untuk menyeberangi Sungai Vltava. Kalau mau ke Kastil Praha dari Old Town atau sebaliknya, ya lewat jembatan ini. Baru setelah tahun 1841 dibangun jembatan lain. Oh ya, di ujung jembatan terdapat 3 menara di mana 2 menara berada di sisi Quarter Lesser dan satunya lagi berada di sisi Old Town. Nah, saya naik ke jembatan ini dari menara yang ada di sisi Old Town.

Gantengnya gak beda jauh dari saya, yes!

Pelukis jalanan kayak gini banyak banget.

Walau udah berusia lanjut, masih bisa mencari uang dengan pentas.

Saya menyesal tak datang ke sini lebih pagi. Kenapa? Soalnya jam segitu ternyata Jembatan Charles udah rame banget. Susah mau foto tanpa bocor. Di sepanjang jembatan juga banyak para pekerja seni yang “ngelapak”. Diantaranya para pelukis dan para pembuatan kerajinan tangan. Di beberapa bagian juga nampak pengamen yang membawa alat musik.

Ntah ya mereka ini legal atau nggak. Di satu sisi bikin suasana semakin menarik. Tapi di sisi lain jadi bikin riweh juga haha. Untung yang mereka sajikan itu keren-keren. Apalagi para pemain musiknya. Mau muda atau tua, ganteng-ganteng kayak saya. Bhaaaa. Pokoknya suasana ramenya dibikin asyik aja. Saya baru bete pas liat sepasang turis asal Asia cipokan pas foto pra-wed. Ingin rasanya saya jorokin ke Sungai Vltava. Ops.

Duh pengen ganti posisi si koko itu deh ya.

Salah satu patung yang ada di Charles Bridge.

Hari udah siang, perut udah lapar. Di sekitar Charles Bridge sih banyak restoran ya. Saya mupeng lihat Trdelnik, roti gulung khas Praha. Tapi, pas lihat harganya, saya mundur. Ternyata lumayan mahal. Ya gini nih kalau traveler kere. Saat blusukan mencari Anuskha Sharma di Bruges, Belgia saya juga melewatkan mencicipi waffle. Kenapa? ya karena kere itu tadi hehe.

Eh, tapi sebetulnya saya pribadi bukan pejalan yang wajib icip makanan suatu daerah juga sih hehe. Jadilah, kami melipir ke toko sebelah dan beli donat saja buat camilan sebelum makan siang di hostel.

Mesem-mesem di Astronomical Clock di Old Town

Tiba di Old Town situasi semakin padat. Ampun ramainya hari itu. Kayaknya semua orang tumpah di sana terutama di dekat Astronomical Clock yang terkenal itu. Ini adalah jam astronomi ketiga tertua di dunia yang masih beroperasi. Maklum, jam ini dibangun pada abad pertengahan dan telah terpasang pada tahun 1410.

Dalam bahasa setempat jam ini dikenal dengan nama Prague Orloj. Jadi, ada tiga komponen utama dari jam ini. Pertama, the astronomic dial yang mewakili posisi matahari dan bulan yang menampilkan detail astronomi. Kedua, the walk of the apostles yang memperlihatkan patung-patung santa dan yang ketiga calendar dial yang mewakili nama-nama bulan.

Jamnya unik, yes!

Sempat masuk ke menara ini tapi gak sampe atas banget wakakak.

Kelihatan gak jaringnya?

Sebelum ke sini, saya sih pasrah ya. Soalnya yang saya tahu jam ini tengah direnovasi. Eh, dasar rezeki, pas ke sana ternyata proses renovasi sudah hampir rampung. Hanya tersisa jaring tipis yang melindungi jam ini. Dan, saat difoto juga nggak terlalu nampak sih. Bahkan dilihat secara kasat mata pun harus dengan teliti untuk mengetahui keberadaan jaring tersebut.

Omong-omong soal jam ini, saya jadi mesem sendiri hehe. Saya tahu jam ini untuk pertama kali dari film pendidikan-malam-pertama. Ntah JAV atau bukan, yang jelas tuh cewek Jepang terbang ke Praha untuk “syuting” lol. Nah, ada satu scene saat cewek itu diajakin sama cowok-cowok Praha nyantai duduk di kafe tak jauh dari situ. Duh, jadi kangen nonton ulang deh pilemnya wakakak.

Saya dan adik sempat masuk ke dalam menara tempat jam itu ditempelkan. Sempat numpang ke toilet segala. Bayar sih. Lupa berapa koruna,  tapi ya nggak terlalu mahal jika dikurskan ke dalam rupiah. Sayangnya, saya nggak sampai ke puncak menara. Karena, setelah naik berapa lantai, tahu-tahu mendekati lantai paling atas kami “dihadang” petugas. Ternyata, untuk masuk ke area itu ya mesti bayar. Oke baik, mari segera melipir dan kembali ke bawah hehehe.

Kawasan kota tuanya. Nah itu dia bagian dari The Church of Mother of God before Tyn

Banyak bener yang kayak gini. Aladin pun ada haha.

Mau keliling Praha pake mobil/kereta ini juga bisa. Bayar tapinya bos!

Tiba di bawah niatnya mau cari tempat duduk buat santai sejenak. Tapi penuh euy. Ari saya suruh melipir dulu sedangkan saya mengambil foto. Saya berkeliling di sekitaran alun-alun dan mendapati beberapa gedung bersejarah. Seperti The Church of Mother of God before Tyn yang kedua menaranya menjulang “menembus” langit Praha.

Ada juga Municipal House yang biasanya digunakan untuk konser atau acara besar di Praha. Dan ada juga Powder Gate, yakni menara bergaya gotik yang memisahkan antara kawasan kota tua dan kota baru. Masih banyak lagi gedung tua tapi cuakep di sekitaran Old Town. Yang jelas, suasana alun-alun begitu meriah dengan banyaknya atraksi orang-orang berpakaian khusus yang bisa diajak foto bareng dengan bayar sukarela.

Nah, dari sini kami tinggal berjalan kaki sedikit lagi ke hostel. Kami sempat mampir beli kentang goreng di satu kedai sebelum memutuskan untuk makan siang di dapur hostel, mandi dan… tidur siang.

“Hah, kok traveling malah tidur siang?”

Nah, inilah enaknya kalau jalan secara mandiri. Bebas aja bro! Haha. Kalau merasa capek ya istirahat, nggak harus dipaksain. Toh penting juga menjaga kesehatan secara rasanya satu hari sebelumnya di Heidelberg kami keluar banyak energi. Agak sorean kami baru jalan lagi keluar di sekitaran Wenceslas Square sambil blusukan ke beberapa swalayannya untuk cari makanan. Kami sempat beli beberapa telur dan roti untuk teman makan malam.

Pemandangan dari hostel kami ya Wenceslas Square ini.

Suasana makan malam begitu meriah karena sebagian besar penghuni hostel ngumpul di dapur dan kita harus berebutan masak dan menggunakan kompor. Saya bertemu dengan sekelompok pemuda asal Australia saat itu yang lumayan heboh masaknya haha. Kami sendiri memutuskan untuk masak nasi, indomie plus telur dan makan ditemani sambal tempe buatan ibu yang masih tersisa.

Bener ya, suhu Praha di musim gugur itu mengigit. Kami memutuskan untuk tidak keluar lagi di malam hari dan menghabiskan malam dengan beristirahat di hostel karena esok subuh kami harus berpindah ke kota Cesky Krumlov. Jujur saya merasa kurang puas eksplor kota Praha. Ada beberapa spot yang belum berhasil saya datangi. Terutama spot foto dari ketinggian tempat saya dapat memotret deretan jembatan yang ada di Praha.

Saya gagal klimaks di kota impian yang ingin saya kunjungi sebelum mati ini hehehe. Eh soal ini, sama nasibnya dengan kedua kota lainnya sih. Setelah dikunjungi, ternyata saya tak suka dengan Agra. Saya lebih suka kota-kota lain yang lebih laid back. Soal Makkah juga, jika dibandingkan dengan Madinah, maka saya jauuuuuuh lebih suka Madinah.

Tentang Praha…. tunggu nanti saya akan nulis soal Cesky Krumlov dan kamu akan tahu kenapa saya begitu klepek-klepeknya dengan kota ini. 🙂

32 komentar di “Gagal Klimaks di Kota Secakep Praha

  1. Praha juga menjadi salah satu wishlist jika nanti kesampaian ke Eropa. Yak gimana yak, kota ini rasanya jadi tempat syuting default banyak film hahaha. Apalagi jika film tentang spy, dikit-dikit Praha.

  2. Bah, Omnduut baca Menyusuri Lorong-lorong Dunia? Saya juga, Om. Tapi, ya, udah lama banget juga, cuma sampai yang nomor 3 apa. Legend banget itu buku-bukunya Sigit Susanto.

    Bikin mupeng ini postingan. Jadi ngebayangin jalan di jembatan lihat bangunan-bangunan tua, nonton musisi jalanan beraksi.

    Saya udah punya koin krona nih 1. Mudah-mudahan ini bisa jadi pancingan buat ke sana. Hahaha…

    • Haha iya. Dulu aku pertama baca tahun 2006. Dan memang ada 3 seri dia. Belum nambah lagi. Jauh sebelum buku-buku perjalanan booming aku udah kepincut dulu sama tulisan om Sigit itu.

      Aha bisaaa. Aku dulu pancingannya ya kartu pos, prangko, nonton TAR haha. Lama² semesta bosen kali ya trus dikasih deh kesempatan ke sana. Alhamdulillah

      • Woh, untunglah. Kalau ngeluarin terus, ketinggalan banyak berarti saya, Om. Iya, ya. Saya juga baca tahun segitu, Om. Pinjem buku kakak tingkat dulu. Terperangah baca penjelajahan penulis legend itu. Semacam Alm. H.O.K. Tanzil versi tahun 2000-an. 😀

        Hahaha…. TAR racun banget emang. 😀 Moga-moga semesta juga bosan di meniup ke sana 😀

          • Sempat ketemu beberapa catpernya di Intisari edisi lawas, Om. Tapi cuma sekitar 6 kayaknya. Susah banget emang nyarinya. Kalau ke loakan pasti tak ubek-ubek tumpukan intisari lawas.

            Kalau buku cuma ada 1 nih di koleksi, yang Catatan Perjalanan Pasifik, Australia, Amerika Latin. Harta karun banget, Om. Hahaha…

  3. napa gak bikin plang di depannya aja ya tu hostel? atau di sana susah perijinannya? bikin repot aja 😀 ..untungnya banyak ransum gratis..

    bisikin om, film JAV nya, pgn tau lebih seru mana dari dragon ball z… Eh btw, JAV = Japanese Anime Video kan??

    sayang cuma singkat di sana ya bang,, mungkin itu tanda disuruh balik ke sana lagi 😀 ..

    -Traveler Paruh Waktu

    • Haha ntah kenapa. Di sana kan emang gak kayak di sini ya yang plangnya tumpah² hwhw

      JAV ikeikekimoci lah pokoknya Gar haha. Aku dah gak inget judulnya. Padahal pengen banget nonton lagi wakakakak.

  4. Yah, begitulah kalo hanya sebentar di satu kota, pasti kurang puas. Praha cakep banget ya mas, tapi juga udah rame banget sekarang 😅😅😅

    Aku sih diusahakan makan kuliner lokal, tapi nggak terpaku sama restoran tertentu. Setelah capek jalan, makan sambil nyantai itu adalah caraku recharge energi hehe. Aku juga pernah tidur siang atau bangun siang saat traveling. Lah kalo ngantuk atau capek banget, sleeping is worth any time. Daripada jalan ke sana kemari tapi mood rusak karena ngantuk, mending tidur dulu.

    • Haha iya, aku dah pernah liat kamu ngantuk dan kayaknya kalau ngantuk Nugie gak bisa konsen hwhw. Better tidur dulu memang.

      Iya, risiko sejak awal mau banyak datangi kota tapi waktu (dan duit) terbatas haha. Aku bela-belain sehari doang demi bisa ke Cesky Krumlov soalnya.

    • Ke mana aja bisa yang penting cari tiket murah hehe. Tapi idealnya 3, yakni Belanda, Perancis atau Jerman. Banyak maskapai murah ke negara ini dan dari sana tinggal naik bus/kereta.

  5. Dududu, Praha ini kota idamanku yang entah kapan bakal bisa ke sini. Pas Euro 2004 aku fans berat timnas Ceko sih, soalnya pemain-pemain klub idolaku masa itu (Borussia Dortmund) berasal dari Ceko. Nggak nyambung, wkwkwk. Itu jam keren sudah lama banget memikat hatiku.

    • Enaknya di sini biaya hidup gak semalah di Eropa lain. Kayaknya gak beda dengan Jakarta lah mas. Tapi kalau mau murah ke sini tetap lewat negara besar lain 😀

      Semoga ada kesempatan ke sini mas. Amin.

  6. Praha seperti menyenangkan ya, sampai cewek jepang aja jalan° kesana. eh buat syuting apaan seh tadi? masih belum ngeh aku tuh, rekomendasikan dong filmnya. 🙂

    dah bahasan paling aku inget kok malah itu sih. puasa puasa

    • Haha unfortunately, aku pun gak tahu judulnya apa. Film JAV gitu, dan dia terbang ke Praha untuk syuting bersama pria-pria Ceko. Cariin dong 😀

  7. Sebenarnya ya paling enak kalau pas traveling itu, eksplor dari pagi, balik hostel buat bobok siang, terus sore keluar lagi. Jadi pas cakep juga dapat semburat matahari plus gak capek capek amat. Gak sabar pingin baca tulisan kota Cesky Krumlov, karena saya gak begitu excited sama Praha yg sudah kayak cendol gini wkwk.

    Di Cesky Krumlov klimaks kan?

    • Haha bener banget. Enaknya gitu, siang balik ke hostel tidur dulu, sore baru jalan lagi. Cesky klimaks banget. Gak nyesel bisa ke sana 🙂

  8. Kalo negara yg wajib aku datangin sblm umur selesai, itu NZ , Finland dan Rusia mas 😀 . Mimpi terbesar banget utk traveling kesana :p

    Itu yg jam astronomi, nth mataku makin rabun, ato gimana, tp ga kliatan loh jaringnyaaa hahahahaha. Setipis apaa itu :p. Hebat yg bikin jam nya yaa,masih berfungsi setelah sekian lama gitu.

    Eh kita sama nih, akupun LBH suka Madinah dr Mekkah :).mungkin Krn LBH rapi kali yaa kotanya :). Jd LBH enak aja kesannya

  9. Ping balik: Mengintip Jantar Mantar: Jam Matahari Terbesar di Dunia | Omnduut

  10. Aku baca ini udah ikutan klepek-klepek sama Praha. Aku jadi pengen jelajah Eropa dan paling nggak tinggal 2 malam di Praha. Seru kayaknya jalan aja tak tentu arah, kayaknya kok tiap sudutnya cantik dan menarik.

    Siapa tahu bisa lihat yang lagi foto prewed cipokan di jembatan.

  11. Ping balik: Menikmati Kelabu di Langit Budapest | Omnduut

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s