Pelesiran

Mengintip Jantar Mantar: Jam Matahari Terbesar di Dunia

Kalau dilihat dari lantai paling atas Hawa Mahal, sebetulnya Jantar Mantar ini nampak berada tepat di belakang bangunan yang berjulukan The Palace of Winds ini. Padahal ya nggak juga karena jika mau ke sana harus berjalan memutar melewati deretan pertokoan yang memang banyak terdapat di sekitaran Hawa Mahal.

Saya masih punya waktu sekian jam sebelum kereta membawa saya ke kota Jaisalmer. Berhubung sudah siang, saya putuskan makan siang dulu di salah satu restoran yang berada tepat di seberang jalan Hawa Mahal. Lumayan, dari atap resto saya bisa ambil banyak foto sembari melihat keriuhan jalanan kota Jaipur.

Tuh, yang menjulang tinggi itu Hawa Mahal. Nampak dekat, ya!

Setelah kenyang dan cukup bersantai, saya mulai menyusuri jalan menuju Jantar Mantar. Jaraknya nggak jauh sebetulnya, mungkin tak sampai 1 km. Nah, saat jalan sedikit, banyak sopir bajaj yang nawarin, “mau ke mana? Jantar Mantar ya? Hayo saya antar.”

Saya tolak karena memang dekat. “Nggak mahal kok, 20 rupee saja,” tawarnya lagi. Wah, kalau 20 rupee artinya sekitar 4000 rupiah. Jadilah, dengan niat membantu perekonomian lokal –alasan! Buahaha, saya lantas menggunakan jasanya. Lumayan, saat itu cuaca memang lagi terik.

Saat Manusia Belum Punya Jam

Kebayang gak hidup di zaman saat jam belum ada? Bakalan ribet banget, yak! Agenda ngapelin Tara Basro (eh dia udah kawin, hmm) bakalan ribet banget dan bisa-bisa salah waktu. Tercatat, tahun 1776 muncul chronograph yakni alat pencatat waktu yang ditemukan oleh ilmuwan Perancisbernama Jean-Moyes Pouzai.

Sebelum itu? Ya susah! Ada banyak cara orang zaman dulu dalam melihat perbedaan waktu. Salah satu yang terkenal ya menggunakan jam matahari atau sundial yang merupakan perangkat sederhana yang dapat menunjukkan waktu berdasarkan pergerakan matahari. Kuno banget, yak!

Bangunan di Jantar Mantar

Kata mbah Gugel sih jam matahari tertua itu adanya di Yunani, yakni berupa bentukan sirkuler dengan penanda di bagian tengah. Ialah Chaldean Berosis, orang yang hidup di sekitar tahun 340 SM yang menemukannya. Barulah kemudian artefak jam matahari ditemukan di Tivoli, Italia pada tahun 1746, di Casel Nouvo dan Rigano di tahun 1751 dan… di Pompeii tahun 1762.

Berhubung pakai cahaya matahari, jelas jamnya hanya berfungsi saat siang. Nah kalau malam gimana? Ternyata pakai perhitungan jam bintang. Intinya orang zaman dulu ternyata udah melakukan berbagai macam cara untuk melakukan perhitungan waktu. Termasuklah orang-orang yang berada di India sana.

Sekilas Tentang Jantar Mantar

Saya barusan cek, ternyata ongkos masuk ke Jantar Mantar sekarang itu INR 200 atau sekitar IDR 40 ribu. Tapi, seingat saya dulu di tahun 2018 saat saya datang ke sana, tiket masuknya hanya INR 100 saja. Loket penjualannya berada tak jauh dari gerbang utama tempat pengunjung masuk. Dan, asyiknya, saya tidak dikenakan biaya menggunakan kamera di sini sebagaimana beberapa tempat wisata lain di India.

Gerbang utama Jantar Mantar

Jujur saja, dari segi bangunan, Jantar Mantar ini nampak biasa saja. Satu-satunya alasan saya memutuskan ke sini ialah karena tempat ini menjadi salah satu lokasi syuting film The Fall yang dibintangi oleh Lee Pace. Bahkan, adegan yang diambil di sini lumayan penting saat salah satu tokohnya melompat dari bangunan bertangga yang ada di tengah-tengah komplek Jantar mantar ini.

Cuaca terik! Jadilah saya berjalan melipir di bawah pepohonan yang untungnya banyak terdapat di sana. Nah, saat berjalan inilah saya dapat melihat ada banyak sekali tupai yang berlalu lalang, persis seperti saat dulu saya mengunjungi Qutb Minar yang ada di New Delhi.

Hi tupai!

Berkat pepohonan ini, suasana sekitar Jantar Mantar jadi sejuk

Tupai lagi.

Lokasi Jantar Mantar ini super bersih. Saya nggak melihat ada satupun sampah yang berserak. Jelaslah, karena di beberapa sudut nampak petugas kebersihan stand by melaksanakan tugasnya. Termasuk juga, beberapa petugas keamanan yang berdiam di lokasi-lokasi strategis tempat pengunjung dilarang untuk mengakses bagian tersebut lebih lanjut.

Nama Jantar Mantar sendiri setidaknya “baru” berusia 200 tahun saat penyebutannya dituliskan dalam arsip negara Jaipur di tahun 1803. Sebelumnya, tempat ini dinamakan dengan sebutan lain. Kata Jantar sendiri berasal dari kata Yantra yang berarti instrumen. Sedangkan Mantar berasal dari kata Mantrana yang berarti menghitung. Jadi, Jantar mantar berarti Instrumen Penghitung.

Jantar Mantar merupakan jam matahari equinoctial yang terdiri dari gnomon segitiga raksasa dengan sisi miring paralel dengan sumbu Bumi. Di kedua sisi gnomon terdapat kuadran lingkaran yang sejajar dengan bidang khatulistiwa. Nah, instrumen ini dimaksudkan untuk mengukur waktu sehari, mengoreksi setengah detik dan deklinasi matahari terhadap benda langit lainnya.

Kompleks Jantar Mantar

Penjaga seperti ini banyak terdapat di sana.

Aslinya ini bangunannya tinggi banget. Keliatan, kan?

Bingung? Sama! Haha tapi itulah yang tertulis di wikipedia. Saat saya ke sana, saya memang nggak memakai jasa pemandu. Eh, rasanya nggak ada juga yang nawarin, lupa saya. Sama halnya saat saya mengunjungi Astronomical Clock yang ada di Praha, Republik Ceko, saat melihat bangunan yang ada di Jantar Mantar, saya hanya dapat mengira-ngira cara penggunaannya dulu.

Nah banyak sekali video tentang penjelasan penggunaaan bangunan-bangunan yang ada di sana. Biar makin pinter, coba cek video di bawah ini ya. Saya pilih yang ada penjelasan dan terjemahan bahasa Inggrisnya.

Fakta unik yang saya dapatkan saat mengulik informasi mengenai jam matahari di India, ternyata, Jantar Mantar yang ada di Jaipur ini bukanlah satu-satunya jam matahari di India. Ada 4 lagi Jantar Mantar yang tersebar di New Delhi, Ujjain, Mathura dan Varanasi. Kelimanya dibangun oleh orang yang sama yakni Maharaja Jai Singh II di abad ke-18. Semua bangunan itu dibangundan selesai antara tahun 1724 dan 1735.

Ntah benteng apa yang ada di ujung sana itu.

Lha, saya sudah pernah ke Varanasi dan merasakan serunya sensasi Sungai Gangga, tapi saya nggak ngeh soal keberadaan Jantar Mantar itu. Ya sudahlah, mungkin lain kali saat balik ke Varanasi saya dapat mengunjunginya. Yang jelas, saya beruntung bela-belain ke Jantar Mantar di Jaipur ini karena inilah Jam Bayangan Matahari terbesar di dunia dan menjadi salah satu warisan situs dunia yang dilindungi UNESCO. Mantul!

Instrumen di Jantar Mantar

Sebut saja instrumen ini sebagai bangunan yang aneh haha. Tapi instrumen-instrumen inilah yang membentuk Jantar Mantar sehingga menjadi padu. Beberapa instrumen yang ada di sana diantaranya Samrat Yantra yakni bangunan paling tinggi berupa menara dengan tangga yang hanya dapat dilalui oleh satu orang manusia-berbadan-gendut-kayak-saya hahaha.

Samrat Yantra, instrumen paling tinggi di sana.

Kebayang betapa tingginya kan!

Ini bangunan yang saya sebutkan sebagai lokasi bunuh diri tokoh di film The Fall tadi. Niat hati sih mau naik, tapi, penjaga bertampang seram dengan kumis tebal sudah menunggu tak jauh dari sana. Gawat kan kalau saya nekat naik dan dikawinin sama anak gadisnya, eh.

Instrumen lain yang juga muncul di film The Fall adalah Jai Prakash Yantra, yakni cerukan berlubang dengan dasar gelap/berwarna hitam. Katanya, instrumen ini dibuat berdasarkan konsep jam matahari yang ada di tahun 300 SM saat astrinom Yunani-Babilonia Berosus dikatakan sudah membuat jam matahari hemisfer.

Ini dia Jai Prakash Yantra

Ada garis-garisnya di bagian bulatan itu.

Gak boleh naik ya!

Lalu ada juga Rama Yantra, instrumen yang cukup fotogenic –eh, karena instrumen ini terdiri dari sepasang struktur silinder terbuka kelangit dengan pilar/tiang di tengahnya. Lalu, ada juga jari-jari struktur yang mengelilingi tiang tersebut. Lantai dan permukaan interior dindingnya menunjukkan skala sudut ketinggian dan azimuth. Instrumen Rama Yantra ini hanya terdapat di Jantar Mantra Delhi dan Jaipur saja.

Masih banyak lagi instrumen lain yang ada di Jantar Mantar ini. Ada Disha Yantra, Chakra Yantra, Rashiwalay Yantra, Dingash Yantra dan Utaansh Yantra. Bagi yang suka sejarah dan kepo soal bangunan  ini bisa dilihat di jantarmantra.org, ya!

Ada papan larangan naik ke atas.

Instrumen ini pasti ada maknanya.

Coba liat video youtube atas. Ada penjelasan fungsi cerukan ini.

Semua instrumen dilarang dinaiki. Bagus! biar gak rusak.

Lebih dari 1 jam saya duduk-duduk menikmati sejuknya udara di bawah pohon sambil menikmati pemandangan bangunan aneh di dapan saya. Jantar Mantar tak terlalu ramai saat itu. Mungkin karena hari kerja dan sudah agak sore juga. Selain liatin tupai, yang asyik itu liat anak-anak sekolah yang gegoleran santai sambil selfie-selfie di rerumputan hehe.

Jantar Mantar dilihat dari ketinggian. Sumber mohsinphotos.blogspot.com

Tiket bagi orang lokal sih INR 15 rupee aja sekarang. Bisa jadi tahun 2018 lalu hanya INR 5 atau INR 10. Murah! Makanya kalau mau santai sih memang enak ke Jantar Mantar. Oh ya, Jaipur Palace lokasinya gak jauh dari Jantar Mantar ini loh. Tapi, saya sengaja skip karena itu adalah hari-hari awal saya di India dan tiket masuknya mahal banget.

Masih banyak tempat yang lebih menarik yang akan saya kunjungi di petualangan 2 minggu saya di Rajashtan soalnya. Kayak ke Mahrangah Fort di Jodhpur, Udaipur Palace di Udaipur atau juga Amer Fort yang berada di Jaipur. Semuanya belum saya tulis. Itu destinasi oncak alias destinasi utama saya selama berpetualang di Rajashtan, so, harap bersabar ya para pembaca semua hehehe.

48 komentar di “Mengintip Jantar Mantar: Jam Matahari Terbesar di Dunia

  1. Mungkin bisa dibilang situs UNESCO yang aku nggak sreg adalah Jantar Mantar ini hehehe. Udah bangunannya nggak fotogenik, akunya juga nggak ngerti ilmu penanggalan muehehehe. Pertama kali ke sana cuma yaa oh hmmm, kedua kali ke sana ya tetep yaa oh hmmm. Rugi nggak ke sana, lha wong aku beli tiket terusan di Jaipur huehehe.

  2. Sepertinya bakal balik lagi ke sana. Masih ada 3 Jantar Mantar yang belum dilihat.

    Tolong dong Om, sekali lagi berulah dikit. Siapa tau di kawinkan sama anak penjaga disana. Hahaha

  3. The Fall itu salah satu film yang gambar-gambarnya paling bagus menurut saya. Dulu susah sekali buat nonton filmnya sampai akhirnya nemu dvd bajakannya di ambas 😂

    Sepanjang film benar-benar penuh shot-shot cantik. Tarsem Singh memang paling jago soal beginian. Sayang banget filmnya rada flop di pasaran.

    Saking out-of-this-worldnya penggambaran adegan dan setting di The Fall, dulu saya pikir itu sebagian besar syuting di studio dan pake CGI. Ternyata ada lokasinya beneran ya. Baru denger juga soal jam matahari raksasa ini.

    Jadi kepikiran, hebat banget ya berarti peradaban jaman dulu. Mereka mesti dan mau bikin objek raksasa rumit begini “cuma” untuk mengetahui jam berapa sekarang. Kok kayanya lebih mudah hidup di jaman sekarang ya 😂😂😂

    • Aku juga dulu nemu di bajakan haha. Tapi beda dengan film lain yang sengaja dibeli karena udah incar, kalau film ini aku beli random hanya karena kavernya aneh! Haha.

      Dan, ini salah satu film perjalanan terbaik. Di postingan tentang Chand Baori, aku juga bilang bela²in ke sana ya karena The Fall ini 🙂

      Betuuuul. Dibuat di lokasi aslinya. Aku juga nonton behind the scenenya. Ya ampun senengnya ketemu orang yang udah nonton The Fall juga haha karena jarang ada yang tahu film ini soalnya.

      • Hahaha iya, ada orang kaya pake “kacamata merah” gede dari tirai (?) gitu kalo ga salah ya covernya. Untungnya ada dijual di bajakan karena kayanya sampe sekarang di netflik aja ga ada. Dulu sempat nyari di indoxxi juga ga ada. Di torrent mungkin ada kali ya 🤪

        Ada juga ya behind the scenenya? Ntar nyari ah siapa tau ada si yutub.

        Sekalian meluncur ke tekape tulisan Chand Baori juga ah ntar hahaha..

        • Iya ada. Sayangnya barusan aku cek dan ubek-ubek youtube nggak nemu Behind The Scene yang dulu aku tonton. Yang sekarang lebih ke potongan adegan aja. Kalau dulu proses produksinya yang lebih ditonjolkan. Kayak gimana ngebawa gajah di Andaman dan ngesyut dari bawah air itu. Atau proses ledakan bangunan dsb. Ke hal-hal teknis. Hiks manaaaa ya video itu. >.<

          Betul, kavernya yang itu wakakak. Ntah kenapa aku mendadak tertarik aja padahal dulu gak tahu sama sekali tentang filmnya.

          Chand Baori ada di sini https://omnduut.com/2019/03/28/mengejar-batman-badman-di-chand-baori/

          • Bener euy, semalam nyari-nyari di yutub ternyata potongan pendek-pendek doang. Paling panjang cuma featurette 8 menitan. Emang ga ada kayanya yang full hehe, penasaran juga padahal gimana proses produksinya.

            Absurd ya covernya, mencolok perhatian gitu hahaha.

            Siaap, meluncur ke tekape!

  4. Tangga ke Samrat Yantra ngeri mas, aku nggak berani naik 😀

    Aku lebih tertarik sama lanskap tamannya daripada bangunannya sendiri. Iya, bangunannya nggak gimana-gimana, sejarah dan fungsinya yang istimewa. Once again, satu spot yang mas Yayan kunjungi karena film 🙂

    • Memang bahaya tangganya karena spacenya sempit dan pembatasnya kayaknya gak tinggi Banget. Oleng sedikit bisa langsung jatuh. Haha iya, other places that I’ve visited which I saw in the movie!

  5. Ngerti dikit2 lah akhirnya baca jam nya :D. Salut sih aku, kok bisa yaa orang2 zaman dulu menghitung dan menentukan waktu begini. Apalagi ada perbedaan di tiap kota nya. Blm lagi summer dan winter beda lagi perhitungan :D. Ampe skr aja aku msh bingung gimana menentukan jam misalnya antara wib,wita dan WIT. Trus antara Indonesia Ama Malaysia beda, tp Ama Thailand malah sama :D. Sumpah bingung hahahaha..

    • hahaha nah ini bener. Padahal Thailand itu rasanya lebih jauh dari Malaysia kan ya. Aku tercengang lagi pas tahu di Burj Khalifa, orang buka puasanya nggak sama. Ada lantai tertentu yang buka puasa (masuk waktu magribnya) lebih cepet sekian detik/menit ketimbang lantai lainnya hahaha.

  6. malesnya ke India tuh cuma satu, gak bisa cuma sekali 😀 😀 😀 karena setiap tempat punya cerita yang bisa panjang banget diceritain.
    BTW, pantesan orang India itu hebat banget soal waktu ya, dari jaman dulu setiap anak lahir dihitung baik-buruknya hehehe

    • Sama kayak Indonesia. Luas banget haha jadi memang cocoknya dikunjungi berkali-kali. Itupun kalau gak kapok di perjalanan pertamanya hwhwhw.

  7. Bahaha, penuh dengan kosakata baru yang jelimet.

    Tapi setelah nonton video yang di-embed, ternyata seru banget tempat ini. Raj Jai Singh II ini ternyata ahli matematika dan bisa bangun tempat dengan 2 sisi yang unik gini.
    Kayaknya bakal seru tuh om klo ke sana bareng pemandu, jadi bener-bener bisa buktiin klo Jam Matahari ini masih bekerja

  8. jadi penasaran, apa di Indonesia ada peninggalan jam matahari juga atau nggak ya? soalnya di luar negeri ternyata banyak juga..

    pgn datang ke suatu tempat tu kadang karena alasan2 simpel ya, kek misalnya karena pernah jadi lokasi syuting film a, film b,, sesimpel itu 😀 ..

    • Ternyata ada di Puspa Iptek Bandung hahaha. Tapi termasuk “modern” karena baru dibangun belakangan. Walau begitu kayaknya jam matahari jadul/kuno memang ada di Indonesia.

      Haha iya, makanya media promosi melalui film itu menurutku efektif.

  9. Jangan2 wilayah di sekitar Jantar Mantar ini bisa mengalahkan Negeri Singa kebersihan lingkungannya ya? Bersih banget kayaknya sampah ga kelihatan hehehe. Iya nih gimana ya cara menghitung orang2 dulu sebelum terciptanya jam? Pakai pasir dalam botol yang ditegakkan dan dibalik mungkin ya? Mau 40K atau 100K tetep aja itungannya murah ya HTM segitu.

    • IDR 40k atau IDR 20k. Ya, tetap terjangkau untuk sebuah kunjungan ke situs warisan dunia UNESCO 🙂

      Bagian luar Jantar Mantar ini juga relatif bersih. Tapi kayaknya masih sulit mengalahkan Singapura, mbak hehe.

  10. Ternyata bidang-bidang miring itu tangga ya. Engga eifisien gitu desainnya, wkwkwk. Tapi dilihat dari atas keren kompleksnya. Sun dial di Bandung, di kota baru Parahyangan mah engga ada apa-apanya deh….

  11. Yang deket rumah aku aja ada di puspa iptek sundial kotabaru padalarang belum terlalu menarik. Ga tau kalo beneran bisa ke india sekalian nyari yang kaya kajool bang hehehe

  12. Saya pikir jam Jantar Mantar ini ada di Mesir atau Eropa tenryata di India, ya. Bangunannya kuno, punya nilai estetik. Suka deh kalau mengunjungi bangunan yang punya history kaya gini. Foto-fotonya bagus, Kak. Salam kenal, ya.

  13. Hemmm masih gak paham gimana caranya baca jam dari matahari. Tapi memang yang bikin penasaran adalah bentukan bangunannya, gak biasa banget dan setuju sama Mas Yan, pasti ada maknanya (atau janjangak gak ada hahahaha).

    Dan beneran kalau dilihat dari atas ternyata bagus ya. Kayak ada orang yang lagi main balok-balokan. Tapi itu keknya orangnya fotonya udah lama ya karena gak begitu buluk warnanya.

  14. Ping balik: 5 Alasan Saya Memutuskan untuk Masuk dan Mengeksplorasi Hawa Mahal | Omnduut

  15. Saya jadi bersyukur hidup di zaman yang kita nggak perlu pergi jauh-jauh cuma buat lihat jam. 😀 Tinggal buka HP sudah ketahuan sekarang jam berapa, hari apa, tanggal berapa. 😀

    Cuma, sundial ini hemat banget, sih, Om. Nggak perlu baterai. Hehehe….

Jika ada yang perlu ditanyakan lebih lanjut, silakan berkomentar di bawah ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s