Couchsurfing

Menumpang Gratis ala Couchsurfing dan Pengalaman Menggunakannya di Eropa

Di kalangan para traveler, mungkin mendengar kata “Couchsurfing” bukanlah satu hal yang asing. Bahkan, saya pikir, sudah banyak sekali para pejalan yang memanfaatkan komunitas ini untuk menunjang perjalanan mereka. Namun, saat saya membagikan secuil pengalaman itu di beberapa akun sosial media,pertanyaan-pertanyaan semacam ini kian bermunculan.

“Jadi kalau pakai couchsurfing itu bayar berapa?”

Atau

“Sama gak sih kayak Airbnb?”

Ketahuilah, pos terbesar saat melakukan perjalanan itu ada di 3 poin ini : transportasi, akomodasi dan konsumsi. Nah, apalagi jika perjalanannya ke Eropa yang terkenal mahal, maka ketiga poin ini harus disiasati dengan baik. Makanya, (walau semata-mata tidak) untuk berhemat, saya dan adik memutuskan untuk menggunakan jejaring couchsurfing dalam perjalanan kami di Eropa bulan Oktober lalu. Dan, berikut ini adalah suka duka kami menggunakannya.

Sekilas Tentang Couchsurfing

Dalam bahasa yang sederhana, saya selalu menjelaskan apa itu couchsurfing (CS) dengan kalimat, “jadi couchsurfing itu sebuah komunitas yang memungkinkan para anggotanya dapat menumpang atau memberikan tumpangan kepada sesama anggota di manapun, di seluruh dunia.”

Satu yang harus ditekankan, setahu saya misi utama terbentuknya komunitas ini adalah untuk pertukaran budaya. Jadi bukan semata-mata untuk cari tumpangan gratis. Makanya, banyak sekali para anggota CS Menekankan hal ini melalui profil mereka.

Saya sendiri pertama kali tahu tentang couchsurfing dari bukunya Marina K.Silvia yang berjudul Back “Europe” Pack : Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar. Secara ya, sejak dulu saya udah tergila-gila untuk melakukan perjalanan ke seantero Bumi, ya termasuk juga Eropa. Makanya, saat menemukan buku ini di tahun 2009 dan membaca tuntas, saya langsung semangat bergabung walaupun saya sendiri tidak tahu kapan akan menggunakannya.

Jadi, ternyata, sesuai pengalaman Marina, sangat memungkinkan untuk berkeliling Eropa selama 6 bulan dengan hanya modal 1.000 dolar saja. Caranya ya itu, dengan memanfaatkan jaringan pertemanan untuk menghemat pengeluaran terutama akomodasi.

Saya sendiri pada akhirnya bergabung di CS setelah sebelumnya lebih dulu merasa nyaman dengan komunitas HC yakni situs hospitalityclub.org yang memiliki “semangat” serupa dengan CS. Dulu, saya merasa HC jauh lebih user friendly situsnya dan jaringannya lebih luas. Tapi sekarang komunitas ini nampaknya tenggelam dan CS semakin mentereng dan dipakai oleh para pejalan di ratusan negara.

Bagaimana Cara Mendaftar di Couchsurfing?

Mudah banget. Semudah mendaftar akun di facebook, twitter atau instagram. Caranya buka situs Couchsurfing.com dan lakukan pengisian data sebagaimana biasanya. Selanjutnya, lengkapi profil dengan format pengisian yang sudah disediakan oleh Couchsurfing.

Halaman depan situs couchsurfing.com

Dimulai dari profil yang isinya berupa cerita tentang diri kamu, alasan kamu mendaftar di CS, film, musik dan buku favorit kamu, hal-hal istimewa yang sudah kamu lakukan, termasuk kemudian detail keadaan rumah kamu jika kamu menerima tumpangan anggota lain di rumah kamu. Mengenai ini, saya akan jelaskan juga secara terperinci di bagian bawah secara tidak langsung.

Oh ya, pendaftaran juga dapat dilakukan melalui aplikasinya, ya! Cek aja di playstore : Couchsurfing.

Memulai Mencari Host

Oke, pendaftaran sudah dilakukan. Verifikasi awal (melalui email) juga sudah berhasil. Profil juga sudah diisi lengkap. Lantas, langkah selanjutnya ialah mulai mencari host alias member CS yang nanti rumahnya akan kita tumpangi dalam perjalanan.

Langkah pertama, gunakan kolom pencarian dengan mengetikkan nama kota yang akan kita tuju. Di bagian “explore” di kolom pencariannya pilih “Find Hosts”. Seperti yang ada pada gambar, saya coba mencari host di kota Amsterdam.

Pilih “Find Hosts”

Langkah selanjutnya, lakukan filter. Nah, ini terobosan baru yang diberikan oleh CS kepada penggunanya. Jadi, melalui fitus filter ini, kita dapat menyaring host seperti apa yang kita cari. Mula-mula, masukkan tanggal kedatangan dan tanggak kepulangan yang kita butuhkan. Di bagian #Of Travelers, saya masukan angka 2 karena memang saya datang bersama adik.

Jadi, jika kamu datangnya satu keluarga dengan 4 atau 5 orang, ya pilih saja. “Memang bisa gitu nginap rame-rame?” bisa kok. Saya sering member CS yang bersedia menampung lebih dari 5 orang walau jumlah member CS yang begini tentu tidakbanyak.

Ini filter yang biasanya saya gunakan

Dalam hal filter ini, yang menurut saja penting ialah tersedianya fitur “Radius” serta peraturan tentang kebiasaan merokok dan pemeliharaan hewan. Ya, karena saya dan adik nggak merokok, tentu saja kami maunya mendapat tumpangan di rumah yang pemiliknya juga tidak merokok. Mengenai hewan, ini juga penting.

Saat pertama kali nyari tumpangan dan hampir dirampok di New Delhi, India, saya dan 2 travelmates dikejutkan dengan keberadaan seekor anjing besar di sebuah flat yang tidak terlalu besar. Anjing ini menggonggong beberapa kali saat kami tidur. Dan, curiganya, kamar yang kami tempati seyogyanya milik si anjing secara banyak bulunya yang bertebaran dan beberapa peralatan yang biasa digunakan oleh anjing, seperti tulang-tulangan karet dan bola kasti yang bolong di sana-sini bekas gigitan. Apalagi saat itu kami hanya tidur beralaskan matras.

Makanya, saat mencari host di Eropa, saya concern soal ini. Bukan karena saya benci anjing dan hewan lainnya, ya. Tapi jadinya ya agak susah kalau-kalau mau shalat, gitu. –benerinpeci. Alhamdullillah, selama kami di Eropa kemarin kami tidak pernah mendapati host yang memiliki hewan peliharaan di rumah. Mungkin karena rata-rata kami tinggal di flat yang memang sebagian besar melarang penggunanya memelihara hewan.

“Males ah pakai CS, kadang dapat rumahnya pinggiran banget!”

Hehe, mungkin niatnya cari host di Jakarta tapi dapatnya di Bekasi kali, ya! Nah, tentang ini juga dapat menggunakan filter “radius”. Kita dapat memilih host yang rumahnya berada di jangkauan sekian km dari pusat kota. Selama di Eropa lalu juga kami beberapa kali dapat host yang dipinggiran, tapi masih jangkauble kok. Secara di Eropa transportasi itu baik dan terintegrasi.

Fitur filter lain yang menurut saya penting ialah, “Last Login Date”. Jadi kita dapat mencari host yang terakhir kali login akun Csnya seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, atau di hari yang sama. Maklum, banyak member yang sudah nggak menggunakan CS lagi karena berbagai alasan. Jadi, biar gak kena zonk, maka pilihlah member yang paling gak login seminggu belakangan. Centang juga kolom “Accepting Guest” dan “Maybe Accepting Guest” untuk menyaring host. Banyak juga sih host yang mungkin karena kesibukan atau lagi traveling status profilnya menjadi “Not Accepting Guests”.

Ini dia profil calon host kamu yang sudah disaring dari beberapa poin yang kamu pilih.

Fitur-fitur lain seperti penyaringan usia dan jenis kelamin host, atau mencari host yang dapat berbicara bahasa tertentu saja adalah pilihan dan dapat digunakan sesuai kebutuhan. Termasuk jenis tempat tidur yang ditawarkan oleh host, apakah itu di sofa (sesuai nama situsnya CouchSurfing dimana Couch berarti Sofa dan Surfing berarti Berselancar), atau di kamar tamu atau juga di lantai menggunakan matras.

Jika semua fitur filter sudah disesuaikan, maka tekan tombol pencarian. Selanjutnya situs CS akan menampilkan profil-profil para anggota yang sesuai kriteria yang kamu cari. Ini contohnya dan selanjutnya kamu dapat memeriksa satu persatu profil mereka.

Baca Semua Referensi yang Ada

Referensi itu semacam testimoni dari para tamu/host yang pernah menumpang/ditumpangi. Dari referensi ini, kamu dapat menebak seperti apa sifat orang yang akan menjadi host/guest kamu. Penilaian terbagi menjadi 3, yakni positif, negatif atau netral. Menurut saya hal ini penting banget tapi bukan jadi syarat mutlak.

Saya memperhatikan referensi setiap tamu yang akan menginap di rumah. Namun, nggak jadi poin utama. Tentu saya dapat memberikan kesempatan kepada anggota baru yang tengah mencari tumpangan, misalnya saja yang pernah saya ceritakan sebelumnya tentang Julian dari Australia yang menginap di rumah kami saat Ramadan dan nyobain berpuasa dan tarawih.

Klik saja profil host yang kamu pilih

Nah, saat mendapat pesan dari Julian, referensinya kosong. Tapi, dari komunikasi yang beliau lakukan di request message saya yakin beliau orang yang baik. Dan benar saja, dia adalah salah satu tamu yang hingga sekarang meninggalkan kesan yang dalam.

Bagi kamu yang concern prihal faktor keamanan juga dapat mengeceknya melalui fitur ini. Jika ada guest yang memberikan referensi netral atau bahkan negatif dengan kata-kata, “saat tidur, tiba-tiba dia memeluk saya dan berusaha mencium saya,” atau, “saya kehilangan uang di dalam dompet saat menginap di rumah si X” ya berarti ada yang gak beres dari calon host/guest kamu. Maka, cari member yang lain.

Ini contoh referensi. Kelihatan kan kalau dia referensinya positif semua, nggak ada yang netral apalagi negatif

Untuk kota besar, kadang membernya ribuan, loh! Jadi, carilah dengan saksama dan teliti. Jangan sampai mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan.

Mengirimkan Pesan Permintaan

Jika sudah mendapatkan calon host yang diinginkan, langkah selanjutnya adalah mengirimkan pesan kepada calon host tentang rencana kunjungan kita. Tentang hal ini, ada beberapa hal penting yang harus kamu perhatikan.

  • Menyapa dan Perkenalkan Diri dengan Baik

Cara yang paling sederhana ialah dengan menyebut namanya, menanyakan kabarnya dan menyebutkan nama saya secara singkat. Hehe, yang ini mesti hati-hati. Saking banyaknya orang yang akan saya kirimi pesan, pernah saya melakukan kesalahan dengan salah menulis namanya. Mana yang semestinya cowok dipanggil cewek pula haha. Untungnya beliau mengerti dan menanggapi dengan tertawa. Bagi member lain, ini bisa jadi hal yang serius sehingga kamu bisa diomelin.

  • Sampaikan Rencana Perjalananmu dengan Lengkap

Ini yang biasa saya lakukan saat mengirimkan request message. Saya akan menyampaikan kapan saya akan datang, naik apa, jam berapa dan kapan sekiranya akan tiba di rumah beliau. Hal ini dimaksudkan agar host dapat mempertimbangkan menerima kita atau tidak dengan lebih cepat.

“Gimana jika waktu tibanya meleset?”

Ya nggak apa-apa, yang penting jika sudah ada tindak lanjut apakah kamu diterima menumpang di rumahnya atau tidak, maka jaga terus komunikasi hingga waktu ketibaanmu di sana.

Mulai mengirimkan pesan

  •  Sentuhlah Ia Tepat di Hatinya

Kayak lagunya Ari Lasso, ya? Hehe. Tapi ini hukumnya wajib menurut saya. Mula-mula, saya akan menyapa beliau dengan bahasa ibunya. Misalnya ia tinggal di Paris, ya sapalah dia dengan bahasa Perancis.

Baca profilnya dengan teliti. Angkat satu-dua topik ke dalam pesan. Misalnya tentang kegemarannya memasak, berolahraga, berkebun, menonton film (syukur-syukur kamu dan dia punya film favorit yang sama), dan masih banyak lagi.

  • Hati-hati dengan Kata Sandi

“No Template Message” ini yang sering saya temukan di profil calon host. Apalagi yang berada di kota besar dan terkenal susah mendapatkan host seperti Amsterdam, Paris dan London. Ya, rata-rata para host ini akan mendapatkan lebih dari 10 request message perminggu sehingga mereka pun sangat selektif menerima tamu. Selain cara no.3, hati-hati juga dengan kata sandi yang harus kamu sebutkan saat mengirim pesan. Nah, kata sandi ini hanya dapat kamu temukan JIKA kamu membaca profil mereka dengan teliti. Saya sendiri hampir beberapa kali kena jebakan ini. Jadi, kalau kamu kelewat atau kelupaan menyebut kata sandi ini, maka tombol “decline” langsung ditekan bahkan sebelum dia membaca pesanmu.

Salah satu contoh kata sandi. Kamu diminta menuliskan kata “Hobbit Pad” saat mengirimkan pesan.

“Kata sandinya seperti apa?” ya macam-macam. Saya pernah mendapati profil host yang meminta semua orang mengirim request message dengan awalan kalimat, “I love Jesus” 🙂

  • Template Message Boleh, nggak?

      Sebagian besar orang tentu menginginkan mendapat pesan yang lebih personal. Bahkan ada yang tegas menulis di profilnya nggak mau terima template message apalagi yang alakadarnya banget.

     “Hi, saya akan berada di Paris di tanggal tersebut, boleh numpang nggak?” Ada loh yang kasih pesan template kayak gitu. Sekali lagi, ini yang mau kita tumpangi bukan penginapan, tapi rumah orang. Jadi, kirimlah pesan dengan lebih baik dan sopan jika emang mau ditumpangi oleh si calon host.

Nah, begitu pesan dikirimkan, selanjutnya tinggal menunggu. Ada 3 jenis respon yang akan diberikan oleh calon host. Yakni beliau akan menekan tombol “Accept”, “Maybe” atau “Decline”. Saat mencari host di Eropa, saya cukup kenyang menerima respon yang terakhir itu alias ditolak hehe. Apalagi di Amsterdam. Uh, lebih dari 50 pesan saya kirim dan hanya beberapa yang merespon, itupun menolak. Ketika akhirnya saya mendapatkan host di sana pun, lumayan nganu-nganu-lah hahaha.

INTERMEZZO : Saat Ditawari Ngeganja di Amsterdam

Ini adalah kota di mana saya paling stres nyari host. Seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa saya harus mengirimkan pesan ke lebih dari 50 orang setelah kemudian mendapatkan respon dari seorang pemuda bernama Bilal. Ya, sesuai namanya, Bilal ini orang Arab yang dari ngobrol sekilas kayaknya berasal dari Pakistan.

Dari beberapa host lain, normalnya, begitu mendapatkan respon “Accept” mereka akan memberikan informasi berupa alamat dan no WA. Nah, komunikasi dengan Bilal ini sejak awal memang agak susah. Saat saya merespon dengan mengucapkan terima kasih dan meminta alamat dan no WA, beliau baru membalas beberapa hari kemudian. Ya, mungkin sibuk.

Bang ganjanya bang!

Begitu saya tiba di London, saya kembali memberi kabar bahwa dalam waktu dekat saya akan ke rumahnya di Amsterdam, namun dia tidak merespon sama sekali. Saya sudah siapkan plan B sih, kalau-kalau zonk dan dia nggak ada di tempat atau tiba-tiba menolak last minutes walaupun ngebayangin mahalnya penginapan di Amsterdam bikin ngap juga haha.

Hingga kemudian saya tiba di Amsterdam, saya kembali kirim pesan dan tidak ada respon. Pun, begitu saya sudah menuju apartemennya, dia tetap tak memberi respon. Ketika mentok mencari apartemennya, barulah saya telepon beliau dan untungnya telepon saya diangkat. Akhirnya, saya tiba di apartemennya dan ternyata begitu tiba di sana sudah ada tamu lain dari Argentina di tempat itu.

Sebut ini mis-kom, karena setahu saya, di profilnya dia hanya menerima maksimal 2 tamu dalam satu waktu. Dia hanya ada satu kamar dan satu sofa. Saya baca referensi orang lain, jika dia menerima 2 tamu, maka dia akan mengalah tidur di sofa dan tamu akan menempati kamarnya. Lantas, gimana ceritanya saat sofa sudah terisi tamu lain?

“Hmm, apa kalian membawa sleeping bag?” tanyanya kemudian.

“Kami nggak bawa. Kamu gak bilang kalau kami harus bawa sleeping bag,” ujar saya.

“Jadi kalian tidur di mana, ya?” ujarnya dengan ekspresi kebingungan yang dibuat-buat. Di saat yang bersamaan, si tamu Argentina berkata, “saya duluan di sofa, ya.” Serah deh!

Adik bilang ke saya kalau gakpapa tidur di lantai. “Ya udah nggak apa-apa, kami akan tidur di situ,” jawab saya sambil menunjuk satu sudut kosong di ruang tamu tepat di samping meja makan.

“Oh oke, kalian dapat menggunakan sleeping bag ini,” ujar Bilal. “Tapi saya hanya punya satu,” sahutnya lagi.

Host nyebelin gakpapa, tetap harus enjoy kotanya

Ya weslah, itu keadaan yang ada. Saya sampaikan ke adik ini salah satu risiko menumpang di rumah orang walaupun sebetulnya saya kesal juga mengingat sejak awal betapa susahnya berkomunikasi dengan beliau. Jika sejak awal dia sudah bilang, paling nggak kami bisa mempersiapkan diri, bukan?

Saat tiba hari sudah malam. Bilal dan si Argentina asyik bermain game, mendengar lagu sembari minum bir. Kami pamit keluar mencari makan malam. Niatnya mau cari nasi kotakan kayak di London, tapi di ternyata nggak nemu di beberapa supermarket yang kami datangi. Jadilah, malam itu kami makan roti saja. Begitu kembali ke flatnya, saya sempatkan untuk ngobrol basa-basi sebentar.

Tak lama, seseorang datang. Semacam kurir. “Omong-omong, apa kamu merokok? Lalu, apakah mudah mendapatkan rokok di negaramu?” tanyanya. Saya bilang saya tidak merokok dan untuk mendapatkan rokok itu mudah banget. Mendengar itu dia kaget. “Hah, di Indonesia ganja legal, ya?”

Gantian saya yang kaget. Tentu saja yang saya maksudkan ialah rokok biasa. Bukan ganja seperti yang tengah ia siapkan, linting, masukkan ke dalam kertas rokok dan mulai menghisapnya. “Kamu mau coba?” tawarnya.

Saya langsung menolak halus dan pamit untuk tidur. Tapi, secara ya, jarak kami hanya 2 sd 3 meter saja, hanya terpisah meja makan, mau nggak mau asapnya kecium juga. Untung saja ada jendela dan saya buka agar anginnya dapat masuk. Malam itu, saya dan adik tidur dengan keadaan yang… ya begitulah. Secara musim gugur, ya! Udara sudah dingin dan kami tidur di lantai yang untungnya terbuat dari kayu/parket sehingga tidak sedingin lantai keramik.

Esok paginya, si Argentina cabut. Mungkin karena kami berdua nggak “seasyik” si Argentina yang bisa diajakin nyimeng bareng, sikap si Bilal ini semakin cuek. Ya, saya pun cuek dengan keadaan itu. Ngobrol basa-basi doang. Untungnya, kami dapat memanfaatkan dapurnya yang luar biasa berantakan yang kemudian saya dan adik beresin. Ya, hitung-hitung terima kasih karena sudah ditumpangi walaupun keadaannya seperti itu.

Di malam selanjutnya, adik tidur di sofa dan saya memakai sleeping bag yang ada. Kami berencana keluar flatnya subuh. “Saya tidak mau mengganggu tidurmu, jadi kami berpamitan sekarang, ya!” ujar saya. Pukul 04:30 saya bangun dan mempersiapkan semuanya. Saya sudah siap mengenakan jaket dan sepatu saat kemudian “panggilan alam” tiba.

Jadilah saya ke toilet dulu. Karena waktu mepet, kami keluar flat terburu-buru. Saya baru menyadari bahwa dompet kartu (berisi KTP, ATM dan tiket transportasi tram di Amsterdam) tertinggal di flatnya Bilal sesaat kemudian. Rasanya saya ingin mengutuki kebodohan diri sendiri. Alhasil, mau nggak mau saya menekan bel beberapa kali sebelum kemudian dia terbangun dan menatap kami dengan sebal. Opps.

Saya menemukan dompet itu di atas sofa pasca melepaskan jaket saat akan ke toilet. Saya berpamitan namun tidak mendapat respon. Ya, weslah, bye-bye, Bilal! Hehehe. Sejak itu, tiap kali akan meninggalkan kediaman host, saya dan adik akan melakukan “absen” terhadap bawaan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal lagi.

Saat Tiba di Rumah Host

Risiko menumpang itu ialah kita baru boleh datang ke rumah host begitu si host berada di rumah selepas kuliah/kerja. Untuk itulah, waktu kedatangan ini harus dikomunikan sejak awal agar masing-masing dapat mengatur kegiatan. Jika sejak awal host bilang, “kalian baru bisa datang pukul 6 sore, ya!” ya maka gunakan waktu sebelum itu untuk berjalan-jalan dulu.

“Eh, bule itu pakai sepatu di dalam rumah, kan, ya?”

Mungkin itu yang ada di benak kalian. Faktanya, hampir semua host kami, selalu meninggalkan alas kaki di depan pintu untuk kemudian menukarnya dengan sandal rumah atau sekadar memakai kaos kaki saja. Jadi, hal-hal kecil semacam ini harus diperhatikan.

Sebagian besar host juga di profilnya menyoroti prihal aksi menghemat energi. Di Indonesia, mungkin kita terbiasa meninggalkan kamar dengan kondisi lampu, TV dan kipas angin menyala, bukan? Nah, di Eropa, kamu harus membiasakan diri untuk mematikan lampu satu ruangan (kamar, toilet atau dapur) jika tidak digunakan.

Begitupun dengan penggunaan air. Nggak dilarang sih untuk mandi 2 sd 3 kali sehari. Tapi ya berhematlah. Lagian, di musim gugur yang dingin, badan nggak gampang berkeringat dan bau kok. Di beberapa kondisi saya bahkan baru mandi setelah 2 hari walau sebisa mungkin saya akan mandi tiap kali akan tidur biar segar. Pagi harinya cukup cuci muka dan sikat gigi saja.

Selama di Eropa, selain memang dingin, umumnya saya menghabiskan malam hari di kediaman host. Waktu inilah yang saya gunakan untuk ngobrol dan bertukar cerita. Sekali lagi, ingat, kamu menginap di rumah seseorang bukan di hotel yang dapat kamu perlakukan seenak hati dimana kamu bisa datang, keluar, dugem sampai malam, pulang lewat tengah malam dsb. Even, host kamu membebaskan itu.

INTERMEZZO : Kertas Peraturan di Atap Rumah

Dari sekian banyak request message yang saya kirimkan, ialah Marieke yang tinggal di Brugge, Belgia yang kemudian untuk pertama kalinya merespon pesan saya dengan pesan bahwa saya diterima menumpang di rumahnya.

Marieke tinggal bersama Bert, suaminya. Namun, saat kami datang suaminya tengah traveling sedangkan dia harus mengajar. Marieke adalah guru bahasa yang menguasai lebih dari 5 bahasa. Selain mengajar di sekolah, dia membuka les gratis di rumahnya saat malam hari. Sejak awal, saya sudah diinformasikan untuk tiba di rumahnya sebelum jam dia mengajar atau sesudah dia mengajar.

Marieke, yang memiliki pandangan unik tentang agama (memilih atheis) dan pandangannya soal anak (memilih tidak mau punya anak)

Untungnya, jadwal bus kami tiba masih jauh dari jam mengajar. Sesuai petunjuknya juga, kami dapat menemukan rumahnya dengan mudah. Ya, inilah satu-satunya host yang betul-betul memiliki rumah, bukan tinggal di flat/apartemen. Walaupun rumahnya mungil, tapi saya nggak bisa ngebayangin betapa mahalnya rumah itu mengingat letaknya yang berada di tengah pusat wisata kota Brugge.

Kami diterima hangat di rumahnya. Saya dan adik sempat ngobrol beberapa waktu di ruang tamu sebelum kemudian diajak berkeliling dan kami ditunjukkan tempat dimana kami akan tidur. Rumah mungil 3 lantai itu memiliki 3 kamar. Kamar pertama untuk mereka berdua, kamar kedua untuk mereka kerja, kamar ketiga kosong, ntah untuk apa, sedangkan semua tamu akan tidur di ruangan kecil yang berada di loteng.

Matras tempat kami tidur di bagian loteng rumah Marieke

Oh sungguh menyenangkan dapat tidur di loteng, persis seperti di film-film haha. Di sana terdapat sebuah matras yang cukup nyaman. Tak jauh dari matras itulah saya menemukan secarik kertas yang berisi beberapa peraturan di rumahnya. Jgleg.

Sebetulnya peraturannya biasa saja. Misalnya peringatan untuk menghemat air dan listrik, membersihkan gelas kaca di shower room dan memastikan gak ada sehelai rambutpun yang tertinggal di lantainya, trus, peraturan untuk tidak berisik (yang ironisnya lantai kayunya berderit tiap kali diinjak), dan satu peraturan lagi yang menggunakan huruf kapital dan ditebalkan yakni harus menempatkan seprai yang sudah dipakai di kamar mandi.

Ada lagi info jika tamu boleh masak bareng dengan “berkontribusi” membeli bahan makanan yang diinginkan disertai info bahan makanan apa saja yang tidak dapat mereka konsumsi. Well, peraturan yang biasa sih, walau saya dan adik deg-degan juga takut nggak sengaja kelupaan melanggar satu-dua peraturan.

Di hari terakhir, Marieke harus pergi dan kami dibiarkan tinggal di rumahnya sambil menunggu jadwal bus. Sama seperti Bilal (dan semua host lain), bahwa kepercayaan sangat dijunjung tinggi jika kamu mau menggunakan couchsurfing. Di flat Bilal misalnya. Kamera DSLR mahal, laptop serta beberapa alat elektronik nampak dibiarkan di ruang tamu. Pun begitu dengan rumah Marieke. Kebayang kan jika tamunya klepto, alamat barang-barang itu akan “berpindah tempat.”

Kami meninggalkan rumah Marieke dengan perasaan hepi. Walau, beberapa hari kemudian, saya menerima pesan darinya yang “bernada protes” terhadap kedatangan kami. Apa pasal? Ialah karena sikap kami yang dianggap terlalu pemalu. Saat datang, dia menawarkan apakah mau teh atau kopi. Kami menolak. Di pesan tersebut dia bilang, “sebagai tuan rumah, saya akan merasa senang jika dapat menjamu tamu.” Ooooh.

Dia sampai konfirmasi ke temannya yang pernah backpacking di Indonesia tentang kebiasaan tuan rumah yang memberikan makanan dan minuman tanpa diminta. “Di Eropa, kami tidak melakukan itu. Jadi aku harap kamu mengerti.”

Hehe, inilah salah satu bentuk culture shock itu. Saya membalas pesannya dengan memberikan beberapa penjelasan bahwa saat dia menawari minuman kami benar-benar tidak membutuhkannya. Pun soal makanan, saya paham bahwa di Eropa itu bukan jadi satu kebiasaan.

Bagian dapur dan ruang tengah kediaman Marieke & Bert. Mungil tapi nyaman sekali

Yang saya sesalkan ialah, saat malam hari, saya tidak menghabiskan waktu ngobrol lebih lama pasca jam mengajarnya. Saya sampaikan seharusnya saya meminta izin untuk ikut andil dalam kegiatan belajar mengajar itu, tapi saya segan. Alhamdulillah, dari pesan-pesan selanjutnya Marieke menyampaikan bahwa penjelasan saya lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa saya orang yang open minded. Ya iyalah hehe. Tipikal host ya macam-macam. Ada yang mau ngobrol banyak (padahal saya dan adik banyak juga loh ngobrol sama dia, dari saat datang atau saat sarapan pagi esoknya), tapi itu masih kurang hahaha. Di rumah host lain, saya dan adik pernah “diusir” untuk jalan-jalan karena ngerasa kami lebih banyak berdiam di flatnya ketimbang jalan-jalan wakakak.

Nah, seru kan pengalaman CS saya! Hehe. Oh ya, satu yang kelupaan. Setiap kali meninggalkan rumah host, saya meninggalkan sedikit souvenir berupa kartu pos bergambar Indonesia dan uang pecahan Rp.1000 rupiah yang baru. Murah dan simpel banget! Tapi semua host menyampaikan rasa terima kasihnya atas kenang-kenangan itu.

So, saran saja, bagi yang mau pakai CS terutama di luar negeri, siapkan cinderamata. Gak mesti yang mahal. Yang murah namun unik dan menggambarkan Indonesia, pasti mereka senang. Selain kita menjaga sikap selama menumpang dan membantu mereka untuk pekerjaan rumah. Minimal, rapikan tempat tidurmu sebelum meninggalkan mereka, oke!

Lalu, jangan lupa beri referensi setelah pulang. Saya sendiri pernah kesal sama satu tamu dari Belarusia, dimana sudah dijamu dengan baik, dijemput, ditraktir makan, dikasih tempat tidur, diantar pulang, eh nulis referensi aja nggak mau. Saking kesalnya sampai saya marahi di kolom pesan. Nggak haus pujian dalam bentuk referensi, tapi menurut saya menulis referensi itu wajib hukumnya jika mau pakai CS. Baik atau buruknya host/guest kamu dapat disampaikan di sana. Begitu.

Pertanyaan Seputar Couchsurfing

Saya sempat melempar kolom pertanyaan di instagram dan membuka ruang bagi teman-teman yang ingin bertanya tentang CS. Nah, ini adalah beberapa pertanyaan dari mereka yang saya rangkum sembari menceritakan host-host saya selama di Eropa.

  •  Apakah tamu akan diantar dan dijemput?

Umumnya tidak. Kasarnya nih, kamu nggak boleh manja! Saya sendiri sebagai host biasanya akan menjemput tamu jika memungkinkan. Selebihnya, saya arahkan saja meeting pointnya di mana. Masih ingat nggak pengalaman saya menjemput tamu di kantor polisi beberapa waktu lalu? Hehehe.

Selama di Eropa, saya dan adik nggak pernah tuh dijemput di bandara atau terminal bus. Mandirilah! Paling banter kami dijemput di halte bus atau stasiun underground dekat rumah host. Sebagaimana yang saya tuliskan singkat di tulisan tentang itinerary saya selama di Eropa, saya bela-belain beli simcard agar bisa internetan untuk kontak host CS dan menggunakan google maps.

Apalagi di Eropa yang transportasinya terintegrasi, alhamdulillah rasanya nggak pernah ada kesulitan yang berarti untuk menemukan kediaman host. Di beberapa cerita teman, ada sih host yang bela-belain jemput di bandara segala. Untuk di Eropa sih saya rasa nggak perlu karena jadi nggak efektif walaupun jika ada kejadian kayak gitu ya nggak apa-apa, juga.

  • Apakah dikasih makan?

Sebagaimana budaya di Eropa, jawabannya adalah nggak. Beberapa kali kami duduk di satu meja saat sarapan atau makan malam, namun makan makanan masing-masing. Jadi, jangan buru-buru menilai host pelit (apalagi jika dibandingkan dengan standar Indonesia), tapi itu memang bukan kewajiban mereka untuk kasih kita makan dan budaya mereka ya memang begitu.

Walau begitu, saya ada satu kisah mengharukan prihal makanan ini.

INTERMEZZO : Makan Malam Nikmat di Luksembough

Kami harusnya tiba di rumah host sekitar pukul 5 sore. Namun sayang, akibat macet di jalur antara Belgia dan Luksembourg (and yes! Eropa juga bisa macet loh), saya dan adik baru tiba di apartemen Ray –nama host kami, sekitar pukul 7 malam.

Tadinya, begitu tiba di Luksembourg Central, kami mau cari makan malam dulu. Tapi, dari selemparan pandangan mata, kami nggak nemu restoran ala Doner Kebab favorit kami. Dan, berhubung hari sudah gelap, kami memutuskan langsung ke flatnya Ray dan berharap dapat numpang masak indomie di sana. Jikapun nggak, ya paling kami makan roti tawar perbekalan.

Ray yang sehari-hari bekerja untuk anak berkebutuhan khusus

Kami agak kesulitan menemukan flatnya karena hari sudah total gelap. Saya sempat menelepon dan nggak lama saya bertemu Ray di dekat pintu flatnya. Ia nampak mau keluar mau menjemput kami, namun ternyata sudah keburu bertemu.

Ray menyambut dengan hangat. Begitu tiba di flatnya, kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah, “kalian pasti lapar, bukan? Saya memasak sesuatu untuk kalian.”

Gak usah dibayangin betapa senangnya saya mendengar itu hahaha. Asli, itu kami memang lagi lapar-laparnya. Seharian kami hanya makan roti soalnya. Setelah meletakkan barang, saya langsung bergabung dengan Ray di dapur. Nampaklah sebuah nampan besar berisi sayur-sayuran yang siap dipanggang. Sekilas saya melihat ada kentang, wortel dan sayuran lain (yang setelah saya tanya ternyata labu) yang telah dibumbui dan siap dipanggang. Aromanya, uh nikmat.

Chef Yayan dan Chef Ray beraksi

Makan malam besar di flatnya Ray

“Apa kalian mau makan nasi? Saya punya beras,” ujarnya lagi.

Haaa, pasca dari London, ini dia yang kami cari-cari. NASI! “Saya tidak tahu cara memasaknya, mungkin kalian lebih berpengalaman,” ujarnya.

Wakakak, sumpah, saya gak pernah masak nasi pakai panci. Jika disuruh ibu di rumah, ya pakai penanak nasi. Jadilah, saya memasak dengan ilmu kirologi alias dikira-kira hahaha.

“Aha, apa kau mau mencoba nasi goreng?” tanya saya.

“Apa itu?”

“Itu nasi yang digoreng dengan bumbu. Kebetulan saya membawa bumbunya.”

Sofa ini dapat disulap jadi ranjang loh.

Nah, tips lain buat kamu yang mau nyobain CS. Bawalah beberapa bumbu instan masakah khas Indonesia. Paling gampang ya bumbu nasi goreng. Saya sendiri mempersiapkan 10 bungkus bumbu yang memang akan digunakan jika ketemu momen seperti ini. Saya siapkan 2 bungkus bumbu yang ternyata cukup pakai satu saja. Sisanya saya berikan kepada Ray, “siapa tahu nanti kamu mau masak nasi goreng lagi,” ujar saya.

Dan pas banget! Ray memang mengoleksi bumbu masakan. Dia menggunakan toples selai bekas untuk menempatkan semua bumbu yang ada di sebuah papan magnet. Menarik! “Ini adalah bumbu-bumbu yang diberikan tamu kepada saya,” ujarnya kemudian.

Pemandangan dari jendela flat-nya Ray

Setelah berjuang memasak nasi (yang kelembekan, akibat ditambahin air lagi sama Ray), masak telur rebus dan sayur panggangnya selesai, kami makan bertiga di meja kecil di ruang tamu. Saya bilang, itu adalah salah satu momen yang paling berkesan selama saya menggunakan CS. Terlebih, saat pagi hari dan melonggokkan kepala ke luar jendela, pemandangan seperti inilah yang saya jumpai. Nah, nikmat, bukan?

  • Apakah Wajib Membayar dan Verifikasi Lanjutan?

Jika kamu melihat tanda centang di profil seseorang seperti punya saya, itu artinya member CS tersebut telah melakukan verifikasi dengan cara membayar kepada couchsurfing. “Jadi, jika sudah verifikasi artinya lebih terpecaya ya?”

Ya nggak begitu juga sih. Menurut saya, keuntungan utama dari verfikasi lanjutan itu ialah kamu dapat mengirimkan pesan tanpa batas alias unlimited! Jika gratisan, kamu hanya diizinkan mengirimkan pesan maksimal 10 buah dalam seminggu. Nah, bayangkan jika harus jalan di belasan kota kayak saya, mesti stress dengan kebijakan ini.

Makanya, sebelum berangkat ke Eropa, saya bela-belain verifikasi dan membayar sebesar 60 euro atau sekitar 900 ribu. Mahal? Iya! Tapi saya anggap itu sebagai “modal” awal saya backpacking ke Eropa dan itu cara saya untuk menyokong komunitas ini. Dulu gak semahal ini euy! Haha, mestinya sejak dulu saya sudah verifikasi akun. Tapi ngerasa gak perlu, dan begitu perlu sekarang ya mau gak mau bayar sejumlah itu.

Ada beberapa member yang menulis di profilnya, “saya hanya mau menerima orang yang akunnya terverifikasi.” Ya terserah. Jika nemu yang model begitu abaikan saja, cari host lain. Soal trust itu nggak bisa tergambar dari apakah akun kamu terverifikasi atau nggak atau dari banyak atau sedikitnya jumlah referensi sih kalau menurut saya.

  • Apakah Boleh Menumpang Nyuci?

Selama hampir sebulan jalan di Eropa, saya hanya membawa sedikit pakaian. Jadi, tentu saja saya dan adik mencuci terutama untuk pakaian dalam. Nah, sebetulnya jika ingin mencuci di rumah host boleh-boleh saja. Terlebih jika hanya pakaian dalam yang modal kucek-kucek pakai deterjen (kami bawa yang cair) di wasfatfel aja bisa.

Jika mau mencuci dalam jumlah banyak pakai mesin cuci, ya boleh, asal izin dulu.

INTERMEZZO : Opps, Jangan Sentuh Kancut Saya, James!

James adalah host kami di kota London sekaligus host pertama dari serangkaian perjalanan di Eropa. Dapat dibilang, mencari host di London ini juga sebuah tantangan tersendiri. Tapi ya nggak sesusah di Amsterdam sih. Alhamdulillah, setelah kirim pesan ke belasan orang, akhirnya nyangkut satu dan saya akan cerita betapa beruntungnya kami mendapatkan host seperti James ini.

James yang aslinya berasal dari Hong Kong bekerja sambil kuliah di London. Di flatnya yang berada di sekitaran Imperial Wharf, James memiliki 2 kamar tidur, dapur dan ruang tamu. Kamar utama tentu ia tempati. Sisanya, yang seyogyanya kamar adiknya akan ditempati oleh saya dan adik.

London’s treasure!

Di ruang tamu, sepasang traveler asal Spanyol tidur di sana. Sebetulnya, si Spanyol ini sudah akan meninggalkan flat James di hari kami datang, namun mereka minta extend satu malam lagi dan bersedia tidur di sofanya.

Di balik kesederhanannya, dijamin James ini tajir melintir. Apartemennya aja berada di kawasan elit kalau saya bilang. Walaupun kemana-mana dia naik underground sama kayak saya, ternyata James punya mobil yang saya ketahui di hari terakhir saat dia pamit bilang mau ambil mobil di bengkel. Selama tinggal di sana, kami juga diberi kunci cadangan sehingga bebas mau pergi dan pulang kapapun.

James memang tidak menyediakan makanan untuk kami, tapi di dapurnya tersedia berbagai makanan instan yang dia katakan, “kalian boleh gunakan semuanya. Masak saja mie-mie ini dan makanan ringan yang ada.” Di sana juga tersedia beras, pasta dan macam-macam. Di London sih kami belum kepikiran masak beras karena di supermarket dekat apartemennya ada yang jual nasi siap saji tinggal dipanaskan di microwave.

Kamar tidur kami di apartemennya James

Pagi-pagi sekali, dia akan berangkat kerja. Saya sih udah bangun sejak subuh ya. Biasanya di waktu sempit itu kami ngobrol sebentar. Yang nggak kuat kalau dia pulangnya terlalu malam sedangkan saya dan adik udah tidur. Rasa bersalah kayak memberlakukan apartemennya hotel saja walaupun dia bilang gakpapa.

Saat dia kerja, di dapur kadang saya menemukan camilan, kue atau buah dengan pesan di secarik kertas, “ini untuk kalian. Semoga perjalanan hari ini mengeksplorasi kota London menyenangkan.”

Intinya, James ini host yang perfect! Bayangkan, pasca dari apartemennya James kami pindah ke flatnya Bilal buahahaha. Timpang abis, kan?

Nah balik soal mencuci. James punya mesin cuci yang dapat dipakai. Tapi karena saya hanya cuci celana dalam alias kancut, makanya saya nggak pakai. Di hari terakhir, kami izin untuk meninggalkan flatnya sore hari karena bus kami dari London ke Amsterdam baru berangkat malam.

“Oh nggak apa-apa,” kata James. “Tapi nanti barang kalian tarok di ruang tamu aja ya, kamarnya mau saya siapkan untuk tamu berikutnya.”

Ya nggak apa-apa banget itu mah. Kebetulan itu Sabtu dan James nggak kerja. Saat James pamit ke bengkel, saya memindahkan kancut-kancut saya yang  tadinya saya letakkan di jendela balkon kamar ke kawat jemuran portable yang ada di ruang tamu. Saya anginkan kancut-kancut murahan saya itu di sana hehehe.

Pemandangan dari jendela apartemen James. Itu adalah stasiun underground Imperial Wharf. Jalan kaki paling 2 sd 3 menit.

Saya dan adik sendiri kemudian memutuskan untuk jalan ke Stasiun King Cross London untuk foto narsis di  Platform 9 ¾, dan begitu pulang, betapa kagetnya saja ketika mendapati kancut-kancut itu sudah berpindah tempat karena kawat jemurannya direntangkan (sehingga ukurannya lebih besar) dan digunakan James untuk menjemur pakaian-pakaiannya. Muahahaha. Asli malu euy, tapi ya wes, cuek aja.

Saya, adik dan James menghabiskan waktu makan bareng (beli nasi di supermarket) sebelum kemudian kami pamit menuju Victoria Couch Station. Cuaca jelek dan hujan rintik tapi James bersihkeras ikut berjalan kaki mengantar kami ke Imperial Wharf Station. Berkali-kali kami menolak, tapi dia memaksa. Letaknya dekat sih, tapi kan rintik. Ya weslah, selain memang tempat tinggalnya nyaman, keramahan James betul-betul mengesankan. Alhamdulillah.

  • Katanya Cewek Lebih Mudah Dapat Host. Benar, kah?

Hmm, soal ini mesti dijawab dengan statistik haha. Jawabannya bisa jadi iya, bisa juga nggak. Pengalaman kami sih nggak juga, tuh. Di beberapa kota sih susah, tapi ya emang karena kotanya wisata banget. Di kota/negara lain sih bisa dibilang saya mendapatkan host dengan cukup mudah.

Tapi memang lebih banyak host pria yang hanya mau menerima guest cewek hehe. Kalau host cewek tentulah ya, mayoritas akan menerima host cewek saja. Tapi di pengalaman kami menginap di rumah Marieke, itu nggak berlaku.

Ada juga anggapan bahwa tamu Asia agak susah dapat. Karena ya itu, kurang bisa diajak asyik-asyik ala Eropa kayak dugem, ngebir atau kebiasaan-kebiasaan orang Asia yang bikin tekor kayak mandi beberapa kali sehari atau penggunaan heater (terutama di musim dingin) yang berlebihan. Saya pribadi sih sudah nulis di profil bahwa saya gak suka night life. Jadi mestinya host nggak kaget. Termasuk keputusan saya untuk nggak minum alkohol. Karena apa? Walau gratis, ada sih calon host yang ngasih kode, “nanti kalau datang bawain bir ya, biar kita bisa minum bareng.”

  •  Menumpang dengan Mengajak Anak, Apakah Boleh?

Boleh kok. Kayak Marieke itu misalnya, dia pernah nerima satu keluarga yang berkeliling Eropa dengan bersepeda. Banyak juga yang melakukan perjalanan dengan mengajak anak atau bahkan bayi mereka. Mengenai ini, balik-balik ke kondisi hostnya. Bahkan ada yang jalan-jalan bersama hewan peliharaan (anjing atau kucing misalnya) dan jika hostnya pun suka hewan, pasti dengan senang hati diterima.

Jadi, tinggal memilih host dengan tepat. Kalau tinggalnya di flat mahasiswa ya tentu saja nggak bisa. Lha mereka aja tinggalnya satu flat ramean, kok! Hehehe.

INTERMEZZO : Menyimak Gaya Hidup Anak Kuliahan di Eropa!

James tentu saja pengecualian karena dia kuliah tingkat lanjutan sambil kerja makanya dia bisa menyewa (atau mungkin membeli) apartemen mewah di London. Nah, di Vienna, Austria dan di Heidelberg, Jerman, saya dan adik berkesempatan tinggal di flat yang dihuni oleh para mahasiswa.

Saat mendapatkan respon dari Armin, mahasiswa jurusan musictherapy (sumpah baru tahu ada jurusan ini haha), saya sudah mempersiapkan diri bahwa akan tinggal satu kamar dengannya karena di profilnya tertulis jelas : kalian akan tinggal satu kamar dengan saya.

Satu kamar bukan berarti satu ranjang (walau beberapa host lain kondisinya begitu loh). Jadi, ternyata flatnya Armin ini cukup besar kamarnya. Dia juga punya satu matras besar yang cukup untuk saya dan adik tempati. Matras itu ia gunakan jika sedang menerima tamu seperti kami.

Si Armin ini tingginya hampir 2 meter! hehehe

Saya tiba terlambat di flatnya. Armin yang juga seorang musisi sudah lebih dulu latihan bersama grup bandnya. Jadilah, kami tiba agak malam. Sekitar pukul 8. Setelah sempat salah ketuk pintu rumah orang wakakak, akhirnya saya dan adik tiba di flatnya.

Armin menempati kamar di lantai bawah bersisian dengan dapur. Kami yang tiba saat lapar, meminta izin untuk memakai dapurnya. Ceritanya mau masak indomie. Setelah ditawari, ternyata Armin mau icip juga. Jadilah kami masak indomie tiga porsi dengan tambahan salmon panggang darinya plus sambal kacang buatan ibu dan bon cabe hehe.

Tak lama, teman-teman satu flatnya tiba dan menyapa kami dengan ramah. Kesan saya terhadap orang Jerman yang jutek langsung hilang pasca bertemu mereka (ironis, setelah ngobrol lama, baru tahu kalau mereka pun orang datangan, bukan orang Jerman asli hahaha). Kami makan malam bersama (dengan makanan masing-masing hehe) dan ngobrol sampai tengah malam. Seru juga.

Asli teman satu flatnya Armin sangat menyenangkan. Kesan saya tentang kehidupan anak muda di Eropa yang “bebas” tidak tergambar dari Armin dan teman-temannya hingga kemudian saya tinggal di apartemennya Dennis di Wina, Austria.

Si Dennis, yang banyak mengenalkan saya musik-musik keren dari Austria

Sama seperti Armin, Dennis menempati apartemen (yang “sialnya” berada di lantai belasan. Ngaplah naik ke atas haha) bersama 5 flatmates yang semuanya wanita! Wow. Hahaha. Jadi, dalam satu lantai ada 6 kamar. Kami sendiri tidur di ruang tamu dimana ada sofa yang dapat disulap menjadi tempat tidur.

Dennis ini orangnya pendiam dan agak kaku awalnya. Saya juga agak kaget begitu tahu pacarnya menginap di sana juga malam itu (ada juga cewek lain yang ajak pacar cowoknya tinggal di sana hoho). Di Wina, saya agak merasa bersalah karena sempat ketemu sama teman-teman dari Indonesia (Mas Sony, Mbak Desty dan Mbak Rini) sehingga pulang agak malam.

Barulah malam selanjutnya kami punya waktu cukup banyak. Kami banyak ngobrol sembari menemaninya memasak (kami nggak ikutan, karena sudah kenyang dibeliin bekal makan malam sama Mas Sony). Baru deh suasana mencair. Dennis ini pengetahuan akan musiknya boleh juga. Saking penasaran sama musik Indonesia, dia meminta saya memutar lagu-lagu Indonesia. Lalu, mengalunlah lagu Sayang-nya Via Vallen hahaha.

Jika ikutan CS ya mesti siap dan harus open minded dengan situasi seperti ini. Saya pribadi senang tinggal di apartemen Armin dan Dennis karena dari sana saya bisa melihat banyak bagaimana mahasiswa di sana berjuang mendapatkan pendidikan sekaligus dapat mengamati gaya hidup mereka.

Mesti terbuka emang bahwa di luar sana banyak orang yang menjalani hidup dengan “pola” yang tak lazim untuk ukuran Indonesia. Misalnya aja diajakin TELANJANG-TELANJANG kayak gini. Hehehe.

Ya, di luar sana ada orang yang menganut gaya hidup nudist.

  • Apakah Host Akan Menemani Guest Jalan-jalan?

Sebetulnya bagian ini sama saja dengan apakah host akan antar jemput. Jawabannya tergantung hostnya. Namun, untuk di Eropa saya sering baca referensi di mana host akan dengan senang hati menemani jalan-jalan. Apalagi jika di akhir pekan di saat mereka lowong. Mereka senang loh melibatkan kita dalam kegiatan aktivitas mereka.

Tentu saja ini ada plus-minusnya. Misalnya ternyata diajakin jalan ke destinasi yang kita kurang minati. Misalnya diajakin ke danau yang sepi padahal kitanya lebih suka jalan ke pusat kota yang sangat touristic. Atau diajakin ke acara kumpul-kumpul mereka, pernikahan, ulang tahun dsb. Walau jangan kaget kalau pas bayar disuruh bayar sendiri-sendiri ya. Percayalah, mereka bukan orang yang pelit (buktinya mau menumpangi kita) tapi kadang budayanya yang beda.

Ikutan CS ini emang harus open minded sama perbedaan cara menjalani hidup, termasuk hal remeh temeh sekalipun.

INTERMEZZO : Diusir Halus dari Rumah Host

Hehe, ya nggak diusir yang gimana banget, tapi ntah kenapa Nejc, host kami di kota Ljubljana ini sering sekali menyuruh kami untuk keluar flat mewahnya. Bahkan, di referensinya terhadap saya, dia menulis, “They looked around Ljubljana somewhat, but mostly stayed at my not-so-interesting apartment” hahaha!

Ntah ya yang dalam benaknya itu, “ya elah kok sampe sini di rumah aja, jalan sana.” Atau dia emang butuh lebih banyak waktu sendiri mengingat ruang kerjanya berada di ruang tengah tempat kami menginap.

Di hari pertama, kami tiba di flatnya sudah sore. Sekitar pukul 4. Nejc tinggal di kawasan elit. Kerjaannya full di rumah dengan komputernya. Kemana-mana dia bawa mobil sendiri sehingga nggak begitu mengenal kotanya sendiri (well, dari awal dia sudah mengingatkan ini). Ya, pertanyaan semacam bagaimana menggunakan bus saja dia kesulitan menjawab hehe. Mungkin sejak lahir si Nejc ini sudah kaya hehe.

Jangan usir kami Nejc! hehehe

Berhubung sudah sore dan cuaca dingin banget habis hujan seharian, ya kami milih istirahat di rumah. Dia berkali-kali nanya, “kalian nggak keluar gitu? Ke club atau minum bir di mana gitu?”

Saya bilang bahwa saya tidak minum alkohol. Dan lebih suka di rumah. Dia nerima sih, tapi besoknya ya begitu lagi hahaha. Nejc ini setipe juga dengan Marieke. Ada beberapa aturan di flatnya. Paling sering dia ingatkan soal sampah sih. Dia memilah-milah sampah mana yang bisa didaur ulang mana yang nggak.

Lingkungan tempat tinggal Nejc ini super keren.

Tempat tidur kami di apartemennya Nejc

Ada cerita lucu haha. Jadi, saat kami datang, Nejc memberikan kami masing-masing sebuah pan cake. Dia bikin sendiri. Kuenya sih enak, tapi isiannya, berupa kacang-kacangan, itu rasanya aneh. Kami coba makan tapi eerr nggak enak. Tak lama dia pamit keluar, dan di saat itulah kami berusaha melenyapkan kue itu haha. Takut ketahuan, alhasil, isiannya kami remat-remat dengan air dan kami buang ke kloset lol.

Tapi ya overall Nejc ini baik sih walaupun nggak sehumoris kalau chat di WA. Ljubljana ini kota terakhir kami pakai CS. Saya cukup intens berkomunikasi dengannya sebelum berangkat. Pikir saya dia sehumoris saat chatting tapi begitu ketemu ya biasa saja hehe. Sebelum pergi, kami foto bareng dengan kamera polaroidnya. Dan sama seperti saat meninggalkan flat Balil, Marieke, Dennis atau Balint, kami juga meninggalkan flat Nejc saat dia pergi dimana semua peralatan elektronik canggihnya ditinggal begitu saja di sana. Sekali lagi, trust is no.1.

  •  Jika Mendapat Konfirmasi Lebih dari Satu Host, Mana yang Dipilih?

Di beberapa negara seperti Turki, Iran atau India, jika kamu mengirimkan permintaan menginap, bisa jadi kamu akan mendapatkan lebih dari satu orang yang bersedia menumpangi kamu karena memang di sana cenderung mudah mendapatkan host. Apalagi kalau kamu cewek hehe.

Lantas, bagaimana cara milihnya? Ya bisa dipertimbangkan dari banyaknya referensi, kesamaan minat, jarak rumahnya dsb. Tapi jangan kelamaan milih dan menggantung konfirmasi ya! Bisa-bisa orang sebal kelamaan nunggu dan membatalkan semuanya, berabe!

Saya pribadi berkomitmen untuk mengkonfirmasi menginap ke orang yang pertama kali menerima saya sebagai tamunya. Karena apa? Dengan saya mengirimkan request message  ke beberapa orang, semuanya adalah calon host yang masuk ke kriteria saya. Jadi siapapun yang akan menerima, ya sama saja.

Saat mencari host di Budapest, ada 2 orang yang menekan tombol “Maybe” sebagai respon. Dua-duanya saya balas dengan ucapan terima kasih dan saya bilang bahwa saya menunggu konfirmasi selanjutnya.

Pada akhirnya saya memilih Balint karena kemudian dialah orang yang lebih dulu mengubah tombol “Maybe” menjadi “Accept”. Tak lama, saya langsung mengkonfirmasi lagi ke Balint dan mengirimkan pesan pembatalan ke host lainnya yang kemudian dijawab, “maaf saya lupa memberi konfirmasi apalagi sebenarnya kamu dapat tinggal di rumah saya.”

Host yang satu ini rumahnya lebih dekat pusat kota loh. Pun, referensinya lebih banyak. Tapi saya tetap pada komitmen saya untuk memilih Balint, dan keputusan saya ini sangat tepat.

INTERMEZZO : Kisah si Guide dari Budapest

Kami datang ke kediamannya saat dia tengah putus cinta hahaha. “Tadinya saya tinggal bersama pacar saya. Tapi kami baru saja putus,” ujarnya hehehe. Saat pertama jumpa, bisa dibilang Balint inilah yang menyambut kami dengan sangat hangat dan ramah. Flatnya memang ada di pinggiran kota dan berada di lantai 10, namun untungnya ada lift nggak kayak flatnya Dennis haha.

Hanya ada satu kamar di sana. Kami sendiri tidur di sofanya yang berada di ruang tengah. Nyaman sekali. Nah, Balint ini ternyata kerjaannya sebagai tour guide namun saat menerima kami dia lagi kosong jadwalnya. Selain bekerja sebagai pemandu, dia juga nyambi sebagai editor video. Enaknya, dengan demikian dia bekerja di rumah seharian sehingga kami dapat datang kapanpun di hari pertama kedatangan (selanjutnya kami diberikan password untuk masuk ke apartemennya)

Foto saat pamitan di subuh hari hoho

Bahasa Inggrisnya sangat bagus. Keliatan dia juga pintar karena kami bisa nyambung ngobrolin apapun. Dia bangga sekali dengan kemampuannya memainkan ‘Rubik Cube’ yang ternyata penemunya seorang profesor dari Hungaria.

Saya juga suka dengan koleksi bukunya yang kebanyakan tentang fotografi. Dan, dialah satu-satunya host yang paling penasaran sama Indonesia dan dia bahkan janji kepada dirinya sendiri untuk berkunjung ke Indonesia nanti.

Di malam pertama, kami meminjam dapurnya untuk masak nasi goreng (saya sudah jago memasak nasi dengan panci haha). Dia makan dengan lahap dan malam selanjutnya gantian dia yang berbelanja dan memasak ‘mushroom with paprika souce’ yang lagi-lagi kami makan dengan… nasi hehehe.

Pemandangan dari jendela flatnya Balint

Bagi saya, dapat diterima di flatnya Balint adalah sebuah keberuntungan. Saya merasa betah tinggal di sana. Jika diranking, Balint ini setara dengan Jameslah hahaha. Dan, saya nggak menyesal mengkonfirmasi langsung lebih dulu tak lama setelah dia menekan tombol “accept”. Saya yakin, jika saya menunda dan menunggu konfirmasi host satunya lagi, belum tentu saya akan mendapatkan pengalaman dan obrolan menyenangkan sebagaimana yang saya dan adik dapatkan dari Balint.

* * *

Wah panjang ya cerita saya! Haha, kayaknya tulisan ini adalah salah satu yang terpanjang yang ada di blog ini. Itu dia pengalaman saya menggunakan couchsurfing setelah sebelumnya saya gunakan di India (New Delhi dan Srinagar). Ada banyak hal yang saya dapatkan dari CS. Sekali lagi, nggak semata-mata mengincar gratisan.

Soal isu keamanan, dimana ada cerita yang kemalingan saat menginap di rumah host atau saat ditumpangi oleh tamu, atau bahkan cerita yang kena pelecehan seksual atau sampai diperkosa, saya mau bilang bahwa hal itu dapat terjadi bahkan saat kamu menginap di hotel bintang 5. Jadi, selalu ada dua sisi dalam setiap hal. Buktinya saya dan mungkin ribuan orang lain sudah menggunakannya dan baik-baik saja. Jika ada satu-dua hal yang gak sesuai espektasi (kayak pengalaman saya di rumah Balil), ya anggap saja itu seni perjalanan, toh!

Oh ya, saat di Eropa lalu, saya sempat juga menginap di rumah 2 keluarga Indonesia tanpa jalur CS. Melalui kesempatan ini saya ingin mengucapkan jutaan terima kasih untuk keluarga Bang Juraj dan Mbak Essy, serta Mas Patrick dan Mbak Rosita. Saya dan adik benar-benar SEHAT saat dijamu di rumah dua keluarga ini. Haaa, alhamdulillah.

Makan malam bersama keluarga Monluis di Paris.

Langsung minder sama kadar kegantengan yang di tengah -colek Ernest haha. Makan malam menyenangkan di Bratislava, Slovakia.

Ada yang pernah CS-an juga? Gimana, kapok nggak? Hehehe. Atau ada yang masih perlu ditanyakan? Monggo sampaikan di kolom komentar, ya!

Iklan

52 thoughts on “Menumpang Gratis ala Couchsurfing dan Pengalaman Menggunakannya di Eropa

  1. Ping-balik: Aha! Ini Dia Persiapan dan Itinerary 25 Hari Jelajah Eropa | Omnduut

  2. Aku baru tahu soal Couchsurfing ini, dan ternyata Omnduut udah sangat berpengalaman soal Couchsurfing ya 😁

    Kira-kira di Indonesia sendiri ada semacam Couchsurfing gini juga gak yaa om? Hehe

    • Nggak banyak mas, tapi ya udah beberapa kalilah nyoba sebagai host ataupun guest.

      Kalau di Indonesia kayaknya gak ada. Tapi banyak banget orang Indonesia yang gabung di CS 🙂

  3. Setelah sekian lama gak lihat-lihat atau BW, akhirnya memberanikan diri baca tulisan ini.

    Beberapa posisi aku ambil, supaya namatin cerita ini, hahaha.

    Dari tulisan di atas, kalau disuruh milih, suka Ray karena bisa nanya soal masak-masak, dan Nejc, karena flatnya unik.

    Sejauh ini, gak pernah pake fasilitas CS, karena aku sendiri paling Ndak bisa ngerepotin orang, atau direpotin. Mungkin ke depannya akan pakai, bukan hanya sekadar aplikasi pajangan di hape aja.

    Nah, itu selfienya, kok rada buram ya? Saatnya ganti hape tuh, hehehe.
    Terus, kendala bahasa Inggris gimana? Gak semuanya yang pintar bahasa Inggris secara tertulis, bisa ngomong lancar saat speaking in personal, bukan?

    Thanks to omnduut.

    • Untuk urusan masak, Balint lebih jago. Kalau Ray kayaknya selevellah sama Dennis dan Nejc hehe. Aku sempat perhatikan gaya mereka masak. Masakan Balint lebih kompleks dan susah.

      Cemmana kalau sekalinya nyoba CS di Palembang aja? haha *siapsiapgelarkarpetmerah

      Iya, hapenya udah rusak sebelum berangkat. Dan begitu sampe di sana jatuh dan makin rusak hahaha. Jadinya beli setelah sampai di Indonesia. Untuk bahasa Inggris, kayaknya mereka yang lebih mengkhawatirkan aku, hwhw soalnya bahasa Inggrisku STD banget.

      Kebetulan aku dapet host yang rata-rata jago bahasa Inggrisnya. Dan, karena bahasa Inggris bukan bahasa utama (even si James, yang tinggal di London tapi asli Hongkong) aku masih dapat mencerna kata-kata mereka dengan baik.

    • Ada mbak 🙂 tergantung di calon hostnya. Kalau hostnya satu keluarga gitu biasanya mau terima satu keluarga juga apalagi kalau ditunjang keadaan rumah mereka yang memadai.

      Iya haha. Kepalaku langsung pusing. Tanggung banget, mestinya coba aja kali ya. *langsung istighfar hahaha

  4. Aku membaca dari atas sampai bawah. Ikut deg-degan. Ikut merenggut baca tentang Bilal. Kesimpulan, wah sepertinya cukup keras juga ya hidup dengan CS ini hahaha..

  5. Panjaaaaaaang
    Dan aku baca semuanya lho
    Luar biasa pengalamanmu, Yan
    Aku selalu salut sama traveler kayak kamu ini, keberanian (dan nekatnya) itu luar biasa. bertemu orang-orang baru, dengan ragam budayanya, bahasa dan kehidupan pribadinya lalu melakukan penyesuaian dalam waktu sesingkat-singkatnya itu gak mudah lho. Aku kayaknya belum bisa seluwes itu deh

    Btw aku geregetan sama cerita di Amsterdam itu
    Huhuhuhu kalau aku jadi kamu, udah kabur aja dah nyari penginapan
    Eh tapi aku tertarik sama Marieke dan Bert, membayangkan kehangatan sambutannya dan rumah mungilnya yang cantik. Pengeeeeen

    • Iya. Aku sendiri kadang gak nyangka bisa cepat beradaptasi kayak gitu. Dulu, aslinya pemalu banget. Ngomong sama orang aja suka deg-degan. Makanya bahkan istri/suami para sepupu ngecap aku sombong saking pendiemnya haha. Alhamdulillah lama-lama berkurang.

      Sayang Bert lagi traveling ke Romania, jadi kami gak ketemu. Ini pasangan kayaknya seru. Pingin ngobrol soal keputusan Bert yang vasektomi, atau alasan mereka menjadi atheis 🙂

  6. Seru-seru ceritanya bikin pengen jalan-jalan, tapi kepanjangan, coba dipecah di seri berikutnya 🙈

    Host di London baek banget, gak banyak peraturan. Kalo ketemu yang kaya gitu terus asik haha

    Aku cuma sekali nyobain cs pas di Iran, dan hostnya baik-baik. Dapet free place to stay, free breakfast/dinner, malahan free hug wkwk

  7. Ini yang 7400 kata? Sudah selesai dibaca, Om.
    Ngos ngosan bacanya.

    Kalau baca cerita tentang CS gini seru banget kayaknya. Kayaknya yang di Belgia itu Om Ndut bisa ikut ngajar, bahasa Indonesia gitu. Biar dikenal hahaha.

    Kalau aku kok tertarik jadi host CS jadinya, semoga nanti bisa ada kesempatan kuliah di luar negeri. Kalau jadi, aku mau buka flatnya untuk CS insya Allah. Haha

    • Iya, mestinya aku bilang aja ke dia pengen ikutan proses belajar mengajar mereka. Tapi aku masih terlalu segan. Padahal jika ditolakpun ya gakpapa ya. Amin amin, bagus banget itu niat baiknya. Semoga tercapai amiiiiin.

  8. Di Indonesia CS ini dulu sempet booming kalo ga salah. Dulu temenku pernah ngehost seorang bule, dan akhirnya bisa ngomong bahasa inggris langsung meskipun ala kadarnya hahaha.

    Seru sekali pengalaman dg CS ini di Eropa ya? Tetap saja harus membaur mau ga mau, karena kita dikasih tumpangan gratis. Dan betul, bukan gratisnya yg menjadi tujuan CS ini, tapi saling membaur antar budaya, sosial, dll. Itu yg menjadi pengalaman berharga ketika traveling menggunakan CS ini ahahaha.

    • Bahkan bisa dibilang, aku mau nerima tamu bule awalnya itu, biar memperlancar bahasa Inggris. Mau kenalin juga ke keponakan-keponakan bahwa di luar sana ada orang yang totally berbeda dengan kita. Dari secara tampilan, warna rambut, tinggi badan, kebiasaan, sampai…. agama 🙂

      • Dan memang benar ya, traveling itu membuat lebih open minded. Suka sedih kalo ada yang ngatain traveling itu cuma seneng-seneng, ngabisin duit, sampe dituduh ikut aliran sesat 🤣🤣🤣

        Padahal kalo diliat-liat ya banyak susahnya juga, ga melulu seneng-seneng. Tapi dengan bersusah-susah di kota/negara orang, bersusah-susah berinteraksi dengan penduduk setempat, bersusah-susah riset dan segala macem, dengan uang yang kita habiskan. Kita membeli pengalaman yang mungkin orang lain belum bisa dapatkan.

        *Duh curhatnya kepanjangan 🤣🤣

        • Haha iya. Selalu ada plus minusnya. Jalan dengan tur, yang kemana-mana dilayani bak raja, gak salah. Enak emang. Tapi, jalan tipe kayak gini aku bilang lebih memperkaya pengalaman. Di saat bersamaan, ada temen yang jalan ke Eropa juga model begitu. Mereka sampai gak pernah nyobain sekalipun naik underground. Atau ngerasain nyasar dan ketemu destinasi yang malah jauh lebih menarik. Hidden gem-lah ibaratnya hehe

  9. busetttt… panjang banget tulisannya kak…. hehehe…
    tapi emang ya pengalaman di Couchsurfin itu berbagai macam, dan seru banget kalo diceritain lagi. Alhamdulillahnya aku gak pernah dapat cerita yang ngeri dari ikutan komunitas ini. belakangan banyak loh cerita yang “macem-macem”. tapi tips-tips buat milah-milah host sama traveler-nya udah lengkap nih.. jadi para pemirsa bisa milih-milih yag baik dan kurang baik kalo pakai Couchsurfing…

    • Betul. Kejadian buruk BANGET, bisa terjadi bahkan menginap di hotel bintang 5. Bukan komunitasnya yang salah jika ada beberapa anggotanya yang brengsek hehe. Soal ditawarin ganja, itu bumbu perjalanan hehe, toh dia juga gak maksa.

  10. Aku lagi gabut di kereta, terus baca ini, terus ingat dulu (banget) pernah bikin akun CS tapi udah lupa kata sandinya. Satu pertanyaan setelah baca tulisan panjang ini, gimana aroma ganja? 😂😂😂

  11. Ya Allah, nano2 bangeeeet pengalamannya, Om Ndut. Kebayang gondoknya ketemu host kayak Bilal, terharu berkali2 oleh kebaikan James, pucuk dicinta ulam pun tiba dari Ray, dan ga enak hati denger kalimat “ngusir” Nejc. Tapi kalo ga gitu, ga jadi cerita dong, ya, hehehe.. . Btw sepagian ini aku abisin untuk baca2 postingan di blog ini. Warbiyasak. Masuk list travel blogger favoritku walo aku sering masih jarang traveling jauh (maklum #SobatMisquin). Tapi seperti halnya Omdut, aku gak berhenti berdoa dan berharap tiap kali baca postingan2 semacam ini. Semoga suatu hari bisa menjelajah negeri2 yang aku impikan untuk dikunjungi. ^_^

    • Hi Mbak, makasih udah baca sampai tuntas tulisan 7400 kata ini haha. Terima kasih juga dengan komentarnya yang bikin senang karena aku merasa tulisan ini beneran diapresiasi.

      Btw, ini aku jalan-jalannya bisa dibilang “gratisan”, pun sebagian besar perjalanan yang kulakukan sebelum ini. Yakin aja, dan jangan pernah bosan bermimpi kalau ada keinginan untuk datang ke satu destinasi akan terjadi nanti. Kalau nggak rezekinya dicukupkan Allah swt, ya bisa datang dengan jalan tak terduga kayak yang sering aku dapatkan.

  12. Saya baca sampai habis. Seru, seruu.. Pengalaman yang bikin deg-degan.

    Pada dasarnya host itu baik. Bukti kebaikan itu bersedia menerima kita sebagai tamu. Kita hanya perlu menyesuaikan diri dengan masing-masing host, sebagaimana kita kalau menerima orang lain di rumah kita.

    Jurnal perjalanan ini akan lebih bagus dibuat buku, Yan.

    Salam

  13. Waaah jadi tahu sedikit banyak tentang bagaimana hal2 yg harus diperhatikan kalau kita mau pake CS di Eropa.. Sejauh ini sih aku belum pernah jadi guest, tapi beberapa kali jadi host sih pernah, tamunya ya dari Indo, Asean, dan bule..

    Kalau ke luar negeri pengen juga sih pake CS biar tahu juga kehidupan sehari2 orang disana kek mana..

    btw itu pas bilal ngeganja, kecium ga omndut aromanya? hahaha.

    -Traveler Paruh Waktu

    • Iya betul. Gak melulu soal uang sih, (walau di Eropa ini faktornya lebih ke sana haha). Menarik liat cara mereka menjalani keseharian hehe.

      Keciumlah hahaha jaraknya hanya 2 sd 3 meter gitu, 😀

  14. Seru dan tidak membosankan bacanya. Pengalaman pribadi yang “tidak umum” memang tidak pernah membosankan dan bisa jadi pelajaran untuk banyak orang.

    Saya oernah pake CS dan itu tahun 2016, udah lama banget. Sekarang fiturnya makin banyak ya. Jadi mempertimbangkan nih untuk beli yang berbayar 🙂

    Btw, itu Darius kenapa harus ngajakin telanjang sih. Shock saya baca namanya. Ahahah

    • Jangan-jangan itu kamu mas, mengakulah! hahaha.

      Iya fiturnya makin banyak. Kalau jalan-jalan singkat sih gak verifikasi gakpapa. Kalau jalannya lama, perlu banget.

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s