Serba

[Blog Review] PramuGalau : Catatan Pramugari Galau

Sejak mulai ngeblog dari tahun 2005, seingatku, aku belum pernah mengulas satu blog secara khusus. Mungkin sesekali mengulas blog secara keroyokan, itupun biasanya hanya dikarenakan PR dari giveaway atau ‘Lempar-lemparan Award’ yang dulu kondang banget di multiply. Hmm, karena aku merasa ada secuil kesamaan dalam pekerjaan antara aku dan blogger ini (kami sama-sama melayani orang lain/di bidang jasa). Nah, kali ini aku ingin mengulas satu blog yang menurutku unik, menarik dan sarat informasi.

Oh ya, sebelumnya aku mau cerita dulu sedikit. Dulu, ketika masih jadi pegawai kantoran dan menjelma sebagai teller di sebuah bank (jangan kaget ya bodi security gini bisa jadi teller. Mungkin pimpinan yang interview lagi mabok kali hehehe). Aku sering dihadapkan oleh pertanyaan dari banyak orang. “Ndut, apaan sih kerja teller itu? Cuma berdiri, terima uang, duduk trus berdiri lagi, kan? enak banget!” celoteh sinis beberapa kenalan. “Enak ya kerja di bank. Jam 3 udah selesai kerjanya,” sahut temanku. Atau juga, “kerja di bank pasti gajinya gede! Bagi duit dooong!” sahut sepupu-sepupu tukang pajak.

C360_2013-08-08-07-36-06-496

Dinna si PramuGalau. Berpose paling gokil di belakang. Sumber gambar dari sini.

Nah loh, memang ya, anggapan orang terhadap pegawai bank itu sudah sedemikian kerennya. Padahal kan…… iya sih emang keren kalo soal penampilan (asal jangan ngebayangin aku aja ya hehe. Inget, aku ini security yang tersesat di teller). Padahal mereka nggak tahu, kerja di bank itu ibaratnya satu kaki berdiri di rumah, kaki yang lain berada di penjara. Resikonya gede banget. Apalagi teller. Salah perhitungan, bisa nombok. Bahkan ada temenku yang selisih kas hingga ratusan juta. Tentang jam kerja yang katanya cuma sampe jam 3? Adoooh, itu jam pelayanan aja yang tutup. Jam kerjanya bisa sampe malem euuy. Eh emang ngapain aja? Banyak deh kerjanya. Tentang gaji? Hmm, besar-kecil itu relatif ya. Yang pasti aku gak akan resign kalo pendapatannya ‘sesuai’ dengan keringatku yang sudah diperas habis-habisan #lebay. Hahaha.

Menarik kan ketika kita bisa mengetahui sisi lain dari sebuah pekerjaan? Makanya aku kadang blogwalking nyariin blog yang spesifik menceritakan hal tersebut. Sempat ketemu blog-nya beberapa orang yang menarik. Sayang jarang diupdate. Atau bahkan sudah ditinggalkan blognya. Nah, suatu malam, aku gak sengaja baca tweetnya mas Fahmi Anhar yang promoin blognya Radinna Nandakita aka @NandakitaRadin yang notabene seorang pramugari di maskapai nasional swasta berlogo singa.

after meeting

Dinna tanpa seragam kerja. Sumber gambar dari sini.

Tampilan blognya biasa saja. Malah menurutku terlampau biasa 😉 namun, hal itu berbanding terbalik dengan isinya yang mengagumkan. Kenapa? Karena sebagai pramugari, menurutku Dinna sangat mahir bercerita. Pilihan diksinya beragam dan dibawakan dengan jenaka. Tentu hal ini disesuaikan dengan jargon blognya yang ‘PramuGalau’ itu 🙂 jadi, tak berlebihan jika aku beranggapan bahwa Dinna itu, “….penulis yang menyamar jadi pramugari.”

Banyak cerita menarik yang disajikan di blog PramuGalau. Baca tulisan Dinna, kita diajak untuk menyelami kehidupan seorang Flight Attendant/Pramugari yang penuh liku. Dimulai dari susahnya proses seleksi. Ribetnya pekerjaan ketika mengudara. Gimana sebelnya menghadapi senior yang tidak bersahabat. Dan… tentu saja gimana susahnya melatih kesabaran terhadap penumpang yang tidak mau diatur dan dijaga keselamatannya. Selain itu, beberapa kisah keluarga dan percintaan juga dihadirkan Dinna sehingga blog PramuGalau menjadi sedemikian berwarnanya.

  • Ini bank atau warung cabe sih!” umpat seorang nasabah ketika gagal menarik uang karena dana kas habis saking banyaknya transaksi penarikan harian. “Saya INI NASABAH PRIORITAS! Apa mau semua dana saya tarik dari bank ini!” teriak nasabah ketika aku menolak transaksi yang melanggar ketentuan perbankan. “Ndut, kamu sehari bisa nilep berapa lembar uang?” tuduh seorang teman yang mengira aku ini jago sulap sehingga bisa nilep duit nasabah.

Kejadian-kejadian seperti inilah yang juga dialami oleh Dinna. Masih ingat kan kejadian FA yang kena pukul menggunakan koran oleh seorang pejabat daerah beberapa waktu lalu? Di tulisan Dinna yang berjudul “Point of View : Pramugari Hanya Menjalankan Prosedur, Jangan Jadikan Kami Korban.” Aku akhirnya bisa melihat kejadian ini dari kacamata pramugari itu sendiri. Dinna berujar bahwa, “gue percaya banget sama hukum aksi-reaksinya Newton.” Jadi, Dinna bisa bersikap imbang dalam hal ini. Di satu sisi, Dinna meyakini penuh bahwa tindakan pejabat tersebut tidak dapat dibenarkan untuk alasan apapun. Namun Dinna juga berpendapat bisa jadi puncak kekesalan pejabat tersebut dikarenakan sikap pramugari yang (dinilai pejabat tersebut) kurang kooperatif.

Padahal menurut Dinna, pramugari itu punya Senjata Pamungkas dalam menghadapi penumpang semacam ini. Salah satunya ialah dengan senyum. “Senyum yang tulus dari hati, gue yakin, akan sampai juga kehati mereka yang panas,” ujar Dinna. Atau, trik-trik Dinna ditulisan “How To Nge-Troll” juga bisa dicoba.

C360_2013-08-08-07-38-13-066

Keseruan awak maspkapai. Sumber gambar dari sini.

Pada intinya, separah apapun amarah penumpang selagi masih bisa diredam maka situasinya akan dapat diatasi. Namun, memang ada beberapa tipe penumpang yang bersikap terlampau batas sehingga tindakan tegas harus diberlakukan. Misalnya? Dikeluarkan dari pesawat. Yup, dari cerita Dinna tentang Captain Zul aku sedikit banyak tahu tentang peraturan keselamatan penerbangan. Diantaranya, seperti yang dikatakan oleh Captain Zul ini. “…kalau di penerbangan kita nantinya ada penumpang yang melecehkan kalian, ataupun bertindak dengan mengganggu keselamatan penerbangan, segera informasikan kepada saya. Saya akan memanggil pihak security untuk menurunkan penumpang tersebut dan ground staff yang akan mengurusnya. Kita punya dasar hukum yang kuat. Dibawa ke pengadilan manapun, kita pasti menang.”

  • “Bapak mohon maaf untuk selanjutnya uang yang disetor bisa dirapikan terlebih dahulu dan disusun berdasarkan kopur pecahan uangnya ya,” sahutku kepada seorang nasabah. “Yey, itu kan tugas kalian! Kamu sebagai teller males banget sih!” Ya ampuuuun. Pingin rasanya garuk-garuk muka si bapak. Piuuh. Hal-hal semacam ini nih yang cocok banget dijadikan lahan untuk melatih kesabaran. Dituduh pemalas, kerja gak becus, lelet sudah jadi makanan sehari-hari. Padahal, mereka tidak tahu bahwa untuk penyetoran hingga 25 juta seorang teller ditetapkan waktu standar layanan 1,5 menit saja! Sehari, seorang teller bisa melayani minimal 200 sd 300 nasabah. Bayangkan waktu yang terbuang hanya untuk merapikan uang satu nasabah saja? Padahal, jika uangnya sudah rapi, toh nasabah juga yang diuntungkan sehingga waktu pelayanan lebih cepat. Jika sudah begini, aku –sebagai teller, harus tetap bisa tersenyum sambil terus mengedukasi nasabah.

Anggapan semacam ini pula yang dirasakan Dinna. Sebagai pramugari, tugas utamanya adalah memastikan keselamatan penumpang. Sayangnya, banyak penumpang yang menganggap pramugari itu tak ubahnya porter yang berada di pesawat. Seperti kisah “Ibu Mau Barangnya yang di Cargo atau Ibu yang Saya Cargoin?” dimana ada seorang penumpang yang keukeuh menempatkan bawaannya diantara kaki sehingga jika terjadi keadaan darurat barang itu bisa menghalangi jalannya evakuasi. Si Ibu dengan sangar menentang permintaan Dinna untuk menaruh barang di compartment atas. Setelah komunikasi alot, si Ibu akhirnya mau memindahkan barang bawaannya tapi dengan semena-mena menyuruh Dinna tak ubahnya porter.

Buat para pembaca, please… I beg to you, kalian boleh meminta pertolongan kami, dengan senang hati akan kami bantu. Tapi jangan pernah sekalipun merendahkan kami! Jangan pernah sekalipun mempermalukan kami dan menjatuhkan wibawa kami! Bagaimanapun, pada saat terburuk, kalian akan bergantung kepada kami. And please, don’t be such stupid to make yourself in danger! Jadilah penumpang yang cerdas dan mengerti peraturan. Peraturan dibuat, bukan untuk dilanggar!

Pramugari = babu? Itu pula yang dialami Dinna saat berhadapan dengan seorang aparat kepolisian yang angkuh di cerita “Pramugari VS Polisi”. Ketika Dinna mengingatkan si bapak polisi untuk mengenakan sabuk pengaman bukannya menurut, lagi-lagi penumpang sok berkuasa ini mengucapkan kata-kata tak pantas padahal Dinna menerangkan betapa pentingnya mengenakan sabuk pengaman itu. “Saran saya, Mbak gak usah melebih-lebihkan profesi Mbak itu. Babu ya tetep aja Babu. Di pesawat aja namanya pramugari, tapi di rumah saya namanya tetep babu.

Nah loh ribet banget, kan? Itu adalah beberapa cerita dimana orang-orang sering merendahkan pekerjaan seorang pramugari. Belum lagi menghadapi penumpang yang iseng seperti yang ada di cerita “Maaf Mbak Cuma Ngerjain Kok” dimana penumpang dengan sengaja iseng hanya untuk mengetes kesabaran pramugari. “Ah, ini dia si Mbak! Maaf ya, gue pasti nyebelin banget tadi. Cuman pengen tau, pramugari itu ramah-ramah atau enggak. Eh ternyata bener loh! Padahal udah dikerjain segitu rupa, masih ramah banget. Hehehe… Maaf Mbak, Cuma ngerjain kok!

Eh tunggu, apakah menjadi Flight Attendant selamanya diselimuti cerita pilu? Tentu saja tidak 🙂 Diantara penumpang tak bermoral, tentu saja ada penumpang berhati malaikat. Seperti di kisah “Terima Kasih Untuk Sebuah Rasa” dimana penumpang menghargai betul pekerjaan seorang pramugari. “…dia adalah sedikit dari mereka yang menghargai kami. Dia gak tau, gue berterima kasih karena ucapan spontannya tadi. Dia gak tau dampak apa yang dia beri kepada gue. Ibu (itu) gak tau, karena pertemuan gue dengan Ibu hari ini, gue semakin semangat untuk memperbaiki kualitas kepramugarian gue dalam melayani penumpang. Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih…”

Seru sekali kan pengalaman Dinna? Sekelumit cerita itu pula yang bikin aku menuliskan blog review ini. Aku harap, semakin banyak yang baca sehingga semakin banyak pula orang-orang mengetahui tentang pekerjaan pramugari sehingga secara tidak langsung kita dapat bersikap kooperatif sehingga tidak menyulitkan pekerjaan mereka. Oh ya, PramuGalau juga tak hanya berisi seputar kehidupan Dinna selama bertugas lho 🙂 Di beberapa tulisan, Dinna juga kerap bercerita mengenai keluarganya. Menceritakan sosok sang Ibu dan Kakak misalnya. Sangat menarik!

Blog ini juga tidak akan mempunyai jargon PramuGalau kalau tidak berisi cerita cinta penulisnya. Hehe. Eh ternyata Dinna ini berpacaran dengan seorang pilot di maskapai yang sama lho! Wow, romantis dan kocaknyaaaa. Heh kok kocak? Iya, menurutku gaya pacaran Dina dan Maherda –nama mas pilot, kocak banget. Misalnya saja di tulisan Diary Pak Pilot ini. Dinna sebetulnya mempunyai mimpi menjadi penulis. Dia tak bercita-cita menjadi pramugari. Tapi toh hikmahnya, Dinna sekarang memiliki Maherda. “Ahh… Gue boleh jadi gak pernah bercita-cita menjadi pramugari. Tapi gue gak akan menyesalinya sama sekali. Berkatnya, gue dipertemukan dengan Maherda. Berkatnya, gue diberi sebuah cerita yang gue beri judul ‘Love On The Sky’

terbang bareng

Mas Pilot Maherda yang lagi duduk. Soulmate-nya Dinna. Sumber gambar dari sini.

Beruntung, cita-cita Dinna menjadi penulis sebentar lagi akan terwujud. Catatan Dinna di blog PramuGalau akan segera dibukukan. Yeey, senangnya 🙂 Blog sarat informasi yang jenaka (dan sebagian lagi getir) ini akhirnya bisa lahir dan berwujud dalam sebuah buku. Bisa jadi ini akibat kebaikan Dinna juga karena semangat berbagi pengalamannya terhadap kehidupan pramugari sedemikian besar. Dinna tak segan-segan berbagi pengalaman dan menuliskan pengalamannya agar bisa menjadi pramugari seperti tulisan ini dan itu.

Dinna adalah blogger yang aktif. Pasca menemukan blog PramuGalau (yang semua tulisannya langsung aku tuntaskan malam itu juga) setidaknya dalam satu atau dua hari akan ada cerita seru yang diposting oleh Dinna. Berhubung blogku dan Dinna berbeda ‘rumah’ jadi kadang aku terlewat tulisannya. Tapi bagus juga sih. Kenapa? Karena jika sudah begitu artinya jika aku berkunjung ke PramuGalau aku bisa baca banyak tulisan sekaligus. 🙂 Oh ya, ketika menuliskan blog review ini aku baru ngeh kalo ada beberapa cerita yang sekarang sudah nggak ada di blog PramuGalau. Misalnya saja cerita tentang Ayah, Diary Pilot atau kisah ketika Dinna mendapatkan tip pertama dari penumpang. Hmm, mungkin demi kepentingan terbitnya buku PramuGalau kali ya.

Haaaah, sekian dulu blog review yang panjang ini. Semoga sukses terus ya Din. Ditunggu terus cerita-cerita pengalamannya yang lain sebagai pramugari. Semoga juga proses penerbitan bukunya lancar sehingga PramuGalau bisa semakin dikenal banyak orang sehingga makin banyak orang yang sadar bahwa kerjaan pramugari itu tak sekedar “….cuma mungutin sampah, safety demo, dan melayani penumpang.” seperti yang dibilang pak Polisi ngaco itu. Hidup PramuGalau! Yeaaah! 🙂

61 thoughts on “[Blog Review] PramuGalau : Catatan Pramugari Galau

  1. berkunjung ahhh 🙂
    tapi pegawai bank kan juga gitu tuh kalo ngadepin cust priority. ehh kalo priority cust ngurut dadanya sambil ngomong ” wajarlah, duitnya milyaran di bank kita ” kalau yg complain itu orang yang ngutang, astagaaa….rasanya pengen garuk2 mukanya hahahaha.

    • Hahaha, iya kalo ngadepin nasabah kredit bikin tes kesabarannya makin besar.
      Yang paling sebel itu kalo orang-orang terdekat nasabah prioritas yang tingkah lakunya nyebelin. Lha kartu prio punya emaknya eh si anak-anak belagunya kebangetan. Atau kadang tangan kanan si bos. Ih rasanya pingin dicakar-cakar hahaha.

  2. Hahahahaha.. Omnduut, seru banget ceritanya. 🙂 Bicara mengenai point of view di sini, kita jadi bisa ukur suatu peristiwa gak cuma dari satu sisi aja. Kita belajar banyak dari sisi-sisi yang lain. Seperti anggapan, mencoba menjadi lebih bijak, ciyeeee 🙂

    • Haha betul 🙂 Masih banyak yang bisa diulas sebetulnya. Tapi ini aja udah kepanjangan (banget) kayaknya. Takut pembaca bosan. Hal-hal lain yang lupa aku ceritakan ialah tanggapanku sendiri mengenai FA-FA yang ada di maskapai Dinna itu. Hihihi. Terlepas dari aku ‘kenal’ Dinna (di dunia maya) sepengalamanku ketika dulu perjalanan Dinnas, FA dari maskapai Dinna itulah yang paling pelit senyum hehehe. Tapi setelah baca blognya Dinna, aku berusaha memahami. Bisa jadi FA tersebut sudah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan sehingga tanpa sadar kadar senyum mereka berkurang hahaha.

  3. Makanya aku paling suka senyumin pramugari dan pramugara kalau pas naik dan turun pesawat biar kalo ada apa-apa nolonginnya ikhlas, senyumin teller-teller di bank biar ngitung duitnya dilebihin, senyumin kasir-kasir di mart biar kembaliannya bukan permen hahahaha

    Nice post, Yan, as usual 🙂

    • Iya mbak 🙂 makanya dulu ketika jadi teller standar layanan pertama kali adalah senyum dan menyapa nasabah. Ketika training bahkan ada waktu khusus untuk belajar senyum dan menyapa doang. “Bapak yang diantrian, silahkaaaan… selamat pagi blablabla” hihi.

      Haha, kalo ngitung duitnya dilebihin, perhitungan kasnya nombok mbak ^^ Makasih mbak Uci.

  4. aduh.. jadi terharu banget bacanya.. harapan gw kalo byk yg bablog gw, bakal byk yg mengerti pilunya hidup kami. ihik ihik.. soalny byk yg ngira, jd pramugari enak bener. cus, terbang ke surabaya, istirahat, malemnya dugem, besoknya balik lagi ke jakarta. waahh.. mereka gak tw, gw pernah 16 jam di pesawat, dan gw udh SAMA SEKALI gak bs senyum. badan rontok, buat gerak aja udh susah. gmn maksain senyum. tp yah, begitulah.. gw masih krg profesional mungkin. tp seirinwktu gw akan berusaha memperbaikinya.

    • Mengerti banget Din 🙂 Aku juga dulu pernah kerja sampe jam 1 malem dan besoknya kudu kerja lagi. (udah beda bagian sih gak di teller lagi). Rasanya untuk berinteraksi normal aja udah syusyeh haha. Yang penting masing-masing orang selalu belajar untuk memperbaiki diri 🙂 Makasih juga atas catatan-catatan di blog PramuGalau.

  5. aha keren yayan ngereview pramugalaunya yang bentar lagi jadi buku..
    apapun profesinya ya pramugari ya teller ya akuntan yang menghadapi orang yang kita layani, ujiannya ada aja ya.. ceritanya jadi seru..
    abis ini meluncur kesana deh..

  6. Reviewnya bikin ingin baca PramuGalau 😀
    Btw, Febi justru salut dgn profesi pramugari, resikonya .. Duh 😦
    Memang paling senang kalau pramugari ramah, senyum tulus, rasanya tenang dalam pesawat 😀

    • Sodara sepupuku juga ada yang jadi Pramugara. Gajinya aduuuh… 5 bulan gajiku dulu euy. Tapi memang resikonya gede (banget)! 🙂

      Aku juga seneng kalo pramugarinya ramah. Eh sebelumnya kadang aku duluan sih yang ramah. Minimal senyum. Kalo ramah yang berlebihan malah ngeri. Disangka naksir ntar hahaha

  7. udah baca beberapa, bahasanya lucu, enak dibaca.. layak dibukukan deh ya.. bakat bercerita, ternyata dulunya juga orator di sekolah.. keren deh pramugalaunya.. tapi ga galaugalau amat lah bacanya..

    • Iya, gak galau-galau banget 🙂 sama, kayak aku gak gendut-gendut banget *lha malah bahas lemak haha*

      Memang layak dibukukan. Tentu konsepnya harus dimatangkan dan harus dipoles lagi 🙂

  8. Pramugari juga manusia.semua yg berhubungan dengan customer dan service saya yakin mencoba bersikap profesional.mencoba selalu tersenyum meski kadang lagi ada masalah bukan hal yang gampang.customer adalah raja tapi sesekali mengertilah tidak semua manusia adalah sempurna.
    *cling jadi pohon lagi

  9. jadi inspirasi saya untuk lebih sabar menghadapi penumpang,maklum belom terlalu lama jadi flight attendant jadi belom terlalu banyak pengalaman kyk mbak dinna.

  10. Salam kenal Om Ndut, saya juga pembaca setia blognya Dina Sang pramugalau.. kebetulan adik saya adalah juniornya di maskapai singa.. jadi keranjingan deh buka-buka halaman pramugalau supaya tahu spesifikasi pekerjaan adik saya.
    Saya juga baru tau kalau teller bank juga banyak tantangannya ya.. benar kata ibu saya, di manapun kita bekerja pasti akan ada saja masalah yang menghampiri. bukan hidup namanya kalau tidak ada masalah.. Yang sabar ya Om, semoga para nasabah yang membaca postingan Om di sini bisa memperbaiki sikap saat berhadapan dengan para teller maupun pramugari.. Amin…

    • Salam kenal kembali mas 🙂
      Terima kasih ya atas respeknya. Bekerja di bidang pelayanan bikin aku menghargai banyak pekerjaan lainnya. Terutama yang berkaitan dengan layanan. Makanya kadang gak habis pikir bertemu dengan frontliner (di perusahaan apapun) yang bahkan jauh lebih nyolot dan galak ketimbang customer haha. Biasanya perusahaan seperti ini tidak mempunyai standar layanan. Tapi menurutku sekarang makin banyak perusahaan yang menerapkan standar layanan yang baik.

      Iya mas, setiap pekerjaan ada resikonya. Teller juga begitu 🙂 gak terhitung pegawai teller yang resign setelah mengganti kerugian karena nombok. Nombok 20 juta trus sudahnya resign karena takut nombok lagi. Yang begitu, sungguh, banyak sekali. Aku rencana dikesempatan lain akan nulis tentang itu haha.

  11. ada cerita blog pilot ga? soale dulu cita cita pertama pingin jadi pilot, gagal gara2 gigi dan mata. trus cita cita punya suami pilot..gagal juga..akhirnya sekarang mengandalkan pilot membawa terbang kemana mana…*pilot aja ah..eh gantian ceritanya kan sekarang omnduut udah juragan..beda pengalaman dong..heheee…

  12. Memang tulisannya keren, Mas. Segar, mengalir tanpa beban, mendobrak pakem bahasa baku, tapi jujur dan menghibur. Saya langsung baca beberapa artikel dan saya jadi ketawa-ketiwi sendiri (sambil nahan boker kayak postingannya soal ibu-ibu 2A yang tidak mau kopernya dipindahkan). Saya jadi ingat chaos@work dengan blog-novelnya My Stupid Boss yang booming itu :hehe.

    Memang, pekerjaan pelayanan sipil memang punya banyak sekali cerita. Mungkin karena pelakunya setiap saat menghadapi masyarakat, banyak orang, yang tentunya unik satu sama lain dan punya ceritanya masing-masing. Cerita itu yang harus ditampilkan dalam tulisan-tulisan segar dan menghibur begini :hihi. Saya punya banyak banget teman pegawai pajak (iya, seperti sepupu-sepupu Mas yang selalu minta bagi gaji itu :hihi) dan cerita-cerita mereka soal wajib pajak yang mereka hadapi juga sangat berwarna. Apalagi pegawai pajak, ya, yang punya stigma sendiri :hehe

    Maka dari itu, ayo Mas, bagi ceritamu! Saya tunggu sebagai pembaca :hihi.
    Mohon maaf kalau komentarnya agak… panjang :).

    • Haha, iya, banyak yang ngira pramugari = porter. Kasihaaan *pukpuk Dinna*
      Tentang pengalamanku, buanyaaak haha, nanti aku bagiin satu persatu kalau….. buku yang kutulis gak kadung “dilamar” sama penerbit ya haha.

  13. om sih masih enak jadi teller.. yudi 3 tahun jadi marketing mikro.. sampai jam 3 pagi dtlpon ama calon nasabah, cuma buat nanya duit dia jadi cair nggak besok.. huaaaaa..

    btw, di aceh, jadi pegawai bank itu prestige loh om.. bikin mudah ngelamar anak gadis :))

    • “Selamat, nilai ‘jual’ kalian kini lebih tinggi di mata calon mertua,” sahut deputy-ku dulu hehehe.

      Emang betul bang. Pegawai Bank, BUMN, pasti prestige, tapi… ya begitulah, sebatas itu haha

  14. wkwkwk betul, kalau cuma melihat saja kelihatannya memang wah tapi kalau sudah merasakan pekerjaan tertentu pasti ada sisi capeknya baik yang kerjanya cuma duduk atau jadi petani sekalipun.intinya sawang sinawang kalau bahasa jawanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s