Pelesiran

7 Jurus Jitu Berbelanja di India : Serunya Blusukan Ke Pasar Tradisional

DSC_0520

.

Setiap kali melakukan perjalanan, aku biasanya nggak ada niat khusus untuk membeli oleh-oleh. Selain karena anggarannya nggak ada, duh, aku itu paling males belanja, ngotot-ngototan sama pedagang, packing ulang ransel yang jelas akan overweight dan juga melihat episode drama kumbara dari sodara sepupu yang sirik berjamaah karena ada yang kebagian oleh-oleh dan ada yang tidak. Intinya, say no to beli oleh-oleh. Kalaupun belanja, paling juga beli magnet dan pajangan buat nambahin koleksi di rumah kamar sendiri.

Tapi ya, namanya juga 3 minggu jalan di India, jelaslah ya bakalan sering bersentuhan dengan para pedagang. Sama seperti ke Bangkok dulu, dari awalnya nggak niat belanja, eh pas jalan ke pasar Chatuchak, imanku tergoda sodara-sodara. Nah, di India yang apa-apa serba murah, eh pas jalan nemuin pernak-pernik lucu ya hasrat untuk beli muncul juga. Apalagi kalo ngeliat travelmates udah ngeborong, aku nggak mau kalah dong #eh hahaha.

DSC_0562

Pedagang bahan makanan di Old Delhi India.

“Kapan lagi bang, mumpung di India ini,” ujar Indra.

Tak jarang aku memilih tinggal di satu tempat saat Ahlan dan Indra berbelanja. Karena ya itu, aku takut kalap euy! Hehehe. Oke, berhubung banyak yang nanya soal belanja di India, aku bagikan pengalamanku berbelanja di 6 kota besar di India (Kolkata, Agra, Delhi, Amritsar, Jammu, Kashmir dan Varanasi). Perhatian, ini pengalaman yang aku rasakan secara langsung ya! Dan bisa jadi akan sangat berbeda pengalaman masing-masing orang saat berbelanja di India.

Jangan Pernah Pegang Barang Dagangannya

Masih ingat dong wejangan si Alam Khan, supir bajaj di Agra? Dia bilang, “jangan pernah beli barang dagangan di dalam, semua mahal dan palsu.” Nah nasehat itu kami turutin deh. Keagresifan pedagang di sepanjang jalan menuju Taj Mahal tidak kami gubris satupun.

Eh sialnya saat di Agra Fort, seseorang pedagang menawarkan dagangannya, Ahlan nggak sengaja kepegang snow ball (yang dalamnya berisi minatur Taj Mahal). Harganya sih ya nggak mahal-mahal banget, 50 rupee aja. Namun karena si Alam Khan sudah janji akan ngebawa ke pasar pusatnya oleh-oleh, ya kita nggak minatlah ya.

DSC_0515

Kalau yang ini sih minatur Taj Mahal-nya terbuat dari marmer.

Saat Ahlan mau mengembalikan snow ball itu, si pedagangnya nggak mau. Lha wong si pedagangnya yang menyodorkan, khan eh kan? Eeh si pedagang jalanan (mereka nggak punya lapak, hanya membawa dagangannya dalam sebuah tas besar) keukeuh banget memaksa Ahlan buat beli dagangannya. Sampe-sampe tuh snow ball diletakkan di tanah, eh kita diikutin dong sampe jauuuuh banget. Udah ditolak baik-baik tapi tetep aja maksa.

DSC_0519

Patung-patung berukuran kecil. Masih di toko yang sama, di Agra.

Kita cuek ya, terus berjalan mengelilingi Agra Fort yang gede itu. Eh masih aja diikutin. Piuh, gimana ya, memang di sana kehidupan keras sih, makanya pedagangnya pantang menyerah. Ya sudahlah, snow ball-nya akhirnya dibayar sama Ahlan.

So, jika nggak niat beli, jangan sampe megang deh, yang ada bakalan dipaksa beli sama mereka.

Berani Galak

Saat datang ke Delhi Gate di kota Delhi, kami dikerubuti banyak sekali pedagang. Dari pedagang makanan, minuman, balon, pernak-pernik, pokoknya banyak deh. Delhi Gate juga rameeee banget. Kayaknya kawasan ini dijadikan masyarakat setempat buat ngumpul dan nongkrong sore hingga malam.

Ada beberapa anak yang berjualan gelang dengan kombinasi huruf. Jadi gelang itu dapat dituliskan nama kita. Berapa sih? 100 rupee cuy! Mahaaal buat ukuran India tentu. Nah anak-anak ini juga berjualan cat. Jadi anggota tubuh kita dapat dicat membentuk bendera (tentu saja bendera India hehe).

DSC_0623

Sama si uncle ini sih nggak galak. Ilustrasi aja, si Indra dan Ahlan sibuk pilih pashmina. Lokasi di Old Delhi

“Hayolah kakak, beli gelangnya.”

“Maaf tidak, terima kasih.”

“Bagaimana jika saya gambar saja di tangan kakak.”

“Jangan,” kata Indra.

Eeeh, si bocah tanpa tedeng aling-aling langsung mencoretkan cat-cat itu ke tangannya Indra. Lha jelas si Indra bête ya hahaha. Setelah digalakin, baru deh si bocah pergi sambil ngedumel. Ya bukan masalah kasihan nggak kasihan ya, tapi kalau tidak butuh dan dipaksa beli kayak gitu, ya nggak bener juga.

Tanya Harga Dengan Jelas

Namanya juga berbelanja di pasar tradisional ya, jarang ada toko atau lapak yang sudah memberikan label harga pada barang dagangannya. Nah, saat belanja di Varanasi, aku naksir sebuah gaun kecil dengan motif yang khas untuk keponakanku. Saat ditanya, si uncle memberikan harga 100 rupee. Okelah aku setuju dengan harga yang diberikan.

Begitu akan membayar, eh ternyata dimintain 150 rupee. Aku protes dong ya, secara udah disebut sebelumnya 100 rupee. Eh si uncle ini bilang nggak ngerasa nyebut harga 100 rupee. Kita ngotot-ngototan tuh.

DSC_0704

Gaunnya sekilas mirip motif batik ya. Ini toko di Varanasi

“Percayalah itu gaun yang bagus dan harganya murah. Sebagai bonus akan saja tambahkan tali pengikat di roknya,” ujarnya.

Ya sudahlah, secara itu menjelang pulang ke Kolkata (sebelum terbang ke Kuala Lumpur), aku setuju saja. Gaunnya emang… bagus sih dan dengan harga 150 rupee pun sudah cukup murah. Lagipula, aku dan Indra belanja buanyak (pake banget) di toko itu. Dan item-item lain kita dapat potongan harga gila-gilaan.

“Kalian orang pertama yang datang ke toko kami, jadi kami berikan harga spesial,” begitu katanya hehehe. So, kalau belanja di India, pastiin deh harganya dengan jelas. Namanya juga belanja dalam jumlah banyak, bisa jadi si uncle pusing saking banyaknya barang yang kami tanyakan ya hehehe.

Pakai Jurus Pura-pura Pergi

Ahlan berencana membeli gaun sari untuk seseorang. “Untuk siapa sih?” auklah tanya aja sendiri hahaha. Nah mumpung kami lagi di Old Delhi, maka jalanlah kami ke pasar Chandni Chowk, pasar tradisional berusia ratusan tahun yang sering dijadiin lokasi syuting film itu memang terkenal dengan pusat penjualan sari-nya. Apalagi katanya di sana barangnya murah-murah.

Karena pasar ini besar sekali (kayaknya Chatuchak kalah deh), kami bertanya dulu ke beberapa orang di mana lokasi pusat penjualan sari. Setelah ketemu, ternyata lokasinya terdiri dari satu area khusus. Kami mulai mencari sari yang diinginkan. Dari awalnya bertanya ke lapak-lapak bagian luar, kami berjalan ke arah dalam dimana ratusan pedagang sari berada.

????????????????????????????????????

Tuh lihat, jalan sesempit itu dilalui oleh becak pula.

Luar biasa padatnya! Ribuan orang berjalan berdesakan di jalan-jalan sempit di dalam pasar. Nggak warga lokal atau turis asing seperti kami berbaur jadi satu. Bener-bener padat merayap! Yang bikin heran, udah jalannya sempit eeeh pengemudi becak banyak yang masuk ke dalam. Sumpah ya, aku rasanya udah hampir pingsan di sana hahaha.

DSC_0626

Penjual sari di salah satu kios Chandni Chowk

Dengan keberadaan orang aja udah penuh gitu, apalagi becak ikutan masuk. Anehnya nggak ada yang marah, para pedagang melihat itu sebagai suatu yang biasa saja. Coba kalau terjadi di pasar Indonesia, bisa-bisa penarik becaknya kena sambit pake sandal hahaha.

DSC_0777

Kios di Amritsar. Nggak jauh dari Golden Temple. Jangan harap bisa pakai jurus pura-pura kabur di sini.

Mengenai jurus pura-pura pergi, kayaknya nggak usah dijelasin lagi ya. Part ini khusus mau cerita tentang Chandni Chowk aja sebetulnya haha. Oh ya satu hal. Jurus pura-pura pergi tidak berlaku di kota Amritsar. Prinsip pedagang di sana, “elo mau gue jual, kalo kagak ada duit, sono pergi” hahaha.

Menawar Dengan Kejam

Sekali lagi aku bilang, di India itu apa-apa murah. Jadi sebetulnya jika pedagang menawarkan dagangannya dengan harga tinggi, jika dikonversi ke rupiah tetap saja murah. Walau begitu, ya namanya aja kita berbelanja ya, kayaknya kalau nggak menawar itu bikin meriang hohoho.

Dan memang begitu adanya. Harga yang ditawarkan biasanya sudah dinaikkan 2 kali lipat atau lebih. Tergantung barangnya sih. Kalau sari bisa 3 kali lipat terlebih jika tahu yang beli warga asing.

DSC_0951

Boat shop di Danau Dal, Srinagar.

Aku yang sehari-hari malas belanja dan nggak doyan nawar harga ntah kenapa selama di India aku bisa dibilang jadi tokoh antagonis diantara Ahlan dan Indra hahaha. Jika ada pedagang yang menawarkan dagangannya, aku biasanya menawar dengan sangat kejam. Iya, SANGAT KEJAM 🙂

Saat menaiki shikara (perahu tradisional) di Danau Dal di kota Srinagar, perahu yang kami tumpangi didatangi oleh perahu yang menjajakan aksesoris seperti bros, kalung, cincin dan anting. Seperti biasa, karena Ahlan tajir melintir *kedip ke Ahlan*, Ahlan beli beberapa perhiasan imitasi-tapi-keren itu.

Ternyata si uncle ini juga menjual cerutu berbentuk unik yang cocok buat dijadiin oleh-oleh. 1 lusinnya dihargai 200 rupee. Karena aku gak tertarik beli aksesoris (baca : nggak ada duit), jadilah aku pilih beli oleh-oleh yang murah meriah itu. Lumayan, bisa diberikan ke kakak ipar atau sepupu yang emang ngerokok. Tapi, sebagaimana prinsip pedagang di sana yang menaikan harga dengan tinggi, ya aku tawarlah.

“100 rupe buat 1 lusin, bisa?”

“Oh brother tambahlah sedikit lagi. Saya kasih 170 rupee saja.”

Si Ahlan dan Indra ternyata juga tertarik. Nah kekuatan nawarnya lebih bagus dong ya!

“Nggak, 100 rupee buat 1 lusin. Jika dikasih, aku beli 3 lusin. Kalau mau siniin barangnya kalau nggak ya udah.”

“Hayolah, tambah sedikit lagi. Saya kasih 150 rupee ya.”

“Ya sudah, 120 rupee, itu penawaran terakhir dariku,” sahutku lagi.

“Udah Yan nggak apa-apa 150 rupee,” ujar Ahlan pakai bahasa Indonesia.

“Tahan dulu, Lan. Pasti dia mau, lihat aja ntar.”

Si pedagang ternyata pergi. Ya sudah artinya harga nggak cocok, kan?

DSC_0946

Perahu atau Shikaranya kurang lebih seperti ini.

Perahu kami semakin berada ke tengah Danau. Tak lama, si pedagang tadi datang lagi. Ternyata, dia menepi hanya untuk mengambil stok cerutunya. Persediaan yang ada di perahunya tadi nggak cukup untuk 3 lusin. Begitu perahunya mendekat pedagangnya bilang…

“Ini 3 lusin, 150 rupee ya per-lusinnya.”

“Nggak mau, tadi kan sudah kubilang 120 rupee per-lusinnya.”

Si pedagang menatap mataku dengan sedikit jengkel dan memelas.

“Hayolah, selisihnya hanya 30 rupee. Kau tidak akan miskin dengan bersedekah kepadaku sebesar 30 rupee saja.”

Toeeng.

“Ya udahlah Yan, bayar aja nggak apa-apa,” kata Ahlan.

DSC_0525

Koleksi toko Varanasi. Ini toko komplet banget! stt, ada jual buku panduan nganu juga hwhhwhw

Hahaha, ya sudahlah, kalau si pedagangnya udah memelas begitu apa boleh buat. Si tokoh antagonis (yang kalau di sinetron suka melotot kayak Leily Sagita itu) akhirnya menyerah. Belakangan ya aku nyesel juga sih terlalu kejam hehe. Apalagi pas ngeliat meme-meme di sosial media yang suka nyindir prilaku menawar yang berlebihan kayak yang aku lakukan.

Oh, aku sungguh berdosa, kakak! 🙂

Minta Diskon dan Bonus. Atau…. Memelaslah!

Minta diskon dan menawar dengan kejam itu sama nggak sih? Ya mirip-mirip ya hehehe tapi ini kondisinya agak berbeda. Begini, diskon dan bonus biasanya baru aku minta saat sudah berbelanja dengan jumlah yang cukup besar.

Di kota Jammu, saat menunggu kereta ke Varanasi, aku dan Indra sempat jalan ke kios-kios yang berada tak jauh dari stasiun. Lihat punya lihat, eh aku naksir keychain yang dijual pedagang di sana. Harga satu setnya pun murah, aku lupa berapa, yang jelas tanpa menawarpun harganya sudah sangat masuk akal.

“Apa harganya tidak bisa kurang lagi?”

“Maaf sekali tidak bisa, itu saya kasih harga yang murah untukmu.”

“Ya sudah, kasih saya bonus tambahan mainan kunci lainnya saja, ya!”

“Oh boleh, kamu mau yang mana, pilih saja yang ada di kotak ini,”ujar si pedagang sambil mengeluarkan sebuah kotak dari etalasenya. Lumayanlah dapet bonus 1 mainan kunci.

????????????????????????????????????

Foto bareng atas permintaan si pemilik toko. Fotonya aku kirim ke Varanasi dan direspon melalui pesan whatsapp 🙂

Nah, saat berbelanja di Varanasi lain lagi. Saat memilih kemeja untuk ayah dan dua adik, aku dan Indra berhasil merayu si uncle karena kami memelas dengan meyakinkan (gak sia-sia dulu dapat Razzie Award).

“Uncle, please, give us special price. We are just student in Indonesia, we don’t have much money,” ujarku memelas.

DSC_0705

Koleksi lain dari tokonya uncle di Varanasi

Duuh, maaf ya agak bohong dikit. Aku kan emang student tapi iya itu dulu. Eh Indra juga student-lah, walaupun status kemahasiswaannya nggak jelas *dipelototin Indra* hahaha. Ntah karena kasihan atau apa, si uncle ini akhirnya memberikan harga yang kami minta. Alhasil, kemeja yang kami inginkan berhasil kami dapatkan. Alhamdulillaaaah 🙂

Harus Ikut Berhitung

Nah hal satu ini berlaku di semua kota. Jika berbelanja dengan jumlah banyak, ikutlah berhitung bersama si penjual. Aku sendiri biasanya memisahkan semua barang yang aku pilih ke sebuah sudut lalu melihat secara langsung saat si penjual menghitung melalui kalkulatornya.

Selain menghindari perilaku curang pedagang, hal ini juga dapat dijadiin kesempatan untuk memperoleh diskon lebih banyak.

DSC_0526

Mari hitung bersama. Lokasi di Agra.

“Total belanjaannya 2150 rupee,” ujar si uncle.

“Aah tanggung banget itu ujungnya. 2000 ribu sajalah, ya.”

“Janganlah, tadi sudah saya kasih diskon banyak.”

“Hayolah uncle, aku aja belanjanya 2000 rupee. Tuh temen saya lebih banyak lagi, kasih diskon tambahanlah biar tokonya makin laris,” ujarku penuh puja puji hehehe.

“Ya udah deh, sini mana uangnya.”

Horeee berhasil! Hahaha.

*     *     *

Itu dia 7 jurus jitu jika ingin berbelanja di India. Hmm, sebetulnya poin-poin yang aku sebutkan di atas juga berlaku jika berbelanja di negara lain. Kurang lebih samalah ya. 🙂 semua poin di atas didasari atas rangkuman selama perjalanan di India. Sekali lagi, sangat mungkin pengalaman yang kita dapatkan berbeda. Gimana, ada pengalaman seru nggak saat berbelanja di kota atau negara lain? Cerita doooonggg. 🙂

Iklan

71 thoughts on “7 Jurus Jitu Berbelanja di India : Serunya Blusukan Ke Pasar Tradisional

  1. Waaaah aku paling maless kalau pedagangnya ngotot Oom. Maunya tuh kalau ke pasar, pegang-pegang barang yang sekiranya mau dibeli, kalau ga jadi beli ya dibiarken pergi dengan damai. Kalo sampe diikutin begitu preman plembang jadi jiper juga kakaaa hihihi.. 😀

  2. asyiik banget ya belanja, ternyata cowok juga demen belanja tahan juga keluar masuk umpel-umpelan di pasar kupikir cuma cewek-cewek yg kalap kalau belanja. Kalau aku gak jago nawar soalnya mudah kasihan trus skrg benar2 selektif belanja kalau barangnya unik, murah dan gak ada di Indonesia baru beli om soalnya gak pernah beli bagasi naik AA

  3. Aaakk..aku paling ga bisa nawar Oom. Cuman bisa ngedorong2 suami utk nawar..hehe. Pernah pas di ladies market hong kong, lagi liat2 brg eh ada org india nawar pasmina. Saking hot nya si mamak india itu nawar pake ada acara dicubit segala sama yg jual. Haha..kesel kali ya tu penjual ama si penawar. Sampe ditarik2 pas mau ninggalin lapak. Aku atuuutt, jd ga brani nawar disitu..hahaha

    • Aku di Ladies market karena udah terpatri dalam pikiran “awas akan dimarahi kalo nawar kelewatan” aku gak berani nawar banyak. Alhasil dapet barangnya yg mahal.

  4. tipsnya cuman satu Yan.. Tawar Dan kasih duit DG harga kita di meja langsung. Take it or we leave. Kenapa? ITU nunjukkin kita serious beli, nggak cuman nawar. Klo OK, mreka lsg kasih. That how Indian did. As simple as that 🙂

  5. Hihihi.. Bagian ‘bukan masalah kasian ga kasian’ ini bener banget sih. Karena rupee ini dikonvers ke rupiah masih tetep murah, jadi ada aja temen yg gampang kasian dan akhirnya cepet ngeiyain, dan pas ngobrol ma kakak2 di PPI dibilangin itu masih mahal. Hahaha. Mana lah gampang kasiannya itu ga cuma ke pas beli barang, tapi juga pas naik transportasi dan ke pengemis. Sampe kita pelototin karena dampaknya ke yg lain juga dan jadi dikerubungin ma Indian itu 🙈😂

    • Bener banget! Kalau kasih 1 bakalan rame banget yang datang. Eh tapi kita pernah ya bertiga sumbang uang ke restoran, kita pesen makanan buat dibagiin ke homeless (ajakannya Ahlan nih) duh rasanya nyes banget.

      • Iyaaa bener bgt Ka.. Jangankan ngasih deh. Kalo temen nawar trus dia langsung oke dgn harga sekian yg blm ditawar *gara2 dia bandinginnya dikonversi dulu ke rupiah* itu jadinya bikin keki karena si penjualnya gamau nurunin harga. Padahal masih mahal. Ahaha. Atau pas naik trnasportasi becaknya gitu, sepakatnya berapa rupee, trus ada yg ngasih lebihin dua kali lipat karena kasian dan ngeliat konversinya ke rupiah jadi murah, ehhh.. Becak2 yg dinaikin ma yg lain pada nagih semua mibta dibayar segitu juga. Makanya akhirnya kita tegasin tuh temen yg gini XD

    • Duh iya, ongkos becak di sana murah banget. Kita sewa becak buat bertiga keliling Red Fort dan Chandni Chowk hanya 100 rupee, kasihan euuy. Walaupun sempet sebel sama si tukang becak di ajak ke toko mahal dan kita marahin udahnya hahaha

  6. Jadi aku sdh banyak punya tips belanja di India. Pergi saja yang belum. Pasti gondok juga ya Mas Yan, dari seratus berubah 150 sampai di konter 🙂

  7. Ngeri cara belanja nya omnduut… Kalo gak mau turunin harga, konversi ke barang yg gratisan :p

    kalo sy mah nggak bisa, mending cari yg ada label harganya.. Hahaha..

  8. Paling males berada di pasar atau berhadapan dengan penjual yang gak boleh memegang barang dagangannya, pegang berati beli hehehe bikin nyesek pas repot nolaknya kadang jatohnya kyk pemerasan. Wuehehe harus tabah dan diminta ngertiin klo hidup penjualnya keras..jurus2 belanjanya mantep banget Oomndut. Gw punya kakak cewe yang gak bisa nawar klo ketemu pasar beginian langsung bayar aja mungkin dia adalah yang bikin meme jangan nawar sm pedagang kecil :-D, malah kadang males mau belanja bareng jadinya haha. Btw itu becak di dalem pasar sari wahh Beringhardjo yang terkenal penuh ruwet itu kynya liwaaat 😀

    • Buahahahaha ya ampun ini komennya kocak bangeeet! bisa jadi bisa jadi kakaknya yang bikin meme itu hwhwhw.

      Asli itu becak di Chandni Chowk gila gilaan. Aku beneran mo pingsan di sana hahaha ya karena belom makan juga sih 🙂

    • Itu Delhi panasnya ampun dah (sebulan setelahnya banyak yang tewas), pas berjuang membelah lautan manusia di dalam pasar *tsaaah* udah kayak lempar jumroh (eh belom pernah sih aku, semoga suatu saat nanti amiin).

      Cewek mah mau secantik apa kalau udah di pasar mah bakalan survive hwhwhwhw apalagi kalo rebutan barang diskonan :p

  9. GUE BISA PURA-PURA JADI PELAJAR.
    Hahahaha. Baiklah, caranya bisa dicoba suatu hari nanti, kakak.

    Btw, aku malah kasihan sama pedagang-pedagang yang harus dihindari gitu. Mereka mungkin sangat memaksa karena memang jarang banget dapet pembeli. Kalau semua menghindar, terus siapa yg beli dagangan mereka? Yah, anggap aja sedekah mas. Niscaya tabur tuai, apa yang kau beri, kelak akan kau dapatkan kembali 🙂

  10. Yan, toss dulu. Aku juga kalo beli apa-apa suka nawar, Ivon aja kalah he3.
    Saking jagonya nawar pas dulu ke Bali ada rekan kerjaku (ibuk-ibuk padahal) yang nitip belanja sama aku biar dapat harga murah. Trus dapat pujian juga dari para penjualnya kalo aku jago nawar 😛

    • Kayaknya kemampuan menawarku hanya berlaku kalo jalan aja ya, aslinya di Palembang aku emoh banget nawar, mending belanja ke tempat yang harganya pasti. Hemat emosi hahaha

  11. Berguna banget nih buat yang mau ke India, Oom. Mungkin kalimat “I have no money. I want it free” cukup ampuh buat mentalin pedagang yang maksa jualan? Hehe. *ditabok polisi india*

  12. Pakai jurus pura-pura pergi itu kayaknya berlaku dimana-mana ya. Di pasar-pasar di Indonesia, trik itu juga jitu 😀

    Kalo ke India, barang yg pingin aku cari kayaknya kain sari 😀
    Kalo nanti ke sana, jurusnya mesti aku praktekkan semua nih :))

  13. Omg, i can relate so much to this post. 7 minggu di India bener-bener bikin ngerasa bisa naklukin negara-negara lain hahahaha

  14. Temenku di delhi gate tanggannya langsung disamber sama anak kecil dan langsung digambar pake hena dan minta dibayar 500 rupees for real.. Ujungnya setelah berdebat cuman bayar 50 rupees. Kalo mau belanja barang oleh2 yg murah pilihannya bisa si panharganj market. Semuanya ada disitu dan jauh lebih murah daripada di toko2 souvenir di kota wisata such varanasi, jaipur, jodhpur, agra etc

  15. Ping-balik: Saat Harus Merasakan Gempa Nepal di Varanasi, India | Omnduut

  16. Ping-balik: 5 Hal Yang Biasanya Tidak Diketahui Oleh Si Peminta Oleh-oleh | Omnduut

    • Halo mas

      Wah sayangnya aku belum pernah ke Noida. Simpelnya, coba minta antar sama driver ke pasar tradisional BUKAN toko. Biasanya di sana jauh lebih murah 🙂

  17. Ping-balik: Mencecap Kesyahduan Tempat Paling Suci Bagi Kaum Sikh : Golden Temple | Omnduut

  18. Ping-balik: Hari-hari Pertama di Kerala Blog Express, Ngapain Aja? Ini Dia! | Omnduut

  19. Ping-balik: Menyusuri Old Delhi : Dari Qutb Minar, Tersesar di Labirin Urdu Bazaar & Chandni Chowk Hingga ke Jama Masjid | Omnduut

  20. Ping-balik: Ini Yang Terjadi Jika Pria Ber-BLANJA | Omnduut

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s