Pelesiran

Menyelami Karakter Orang India Melalui Alam Khan si Supir Bajaj dari Agra

DSC_0741

.

Kereta yang kami tumpangi dari Kolkata menuju Agra akhirnya sampai setelah menempuh 30 jam perjalanan. Hmm, sebetulnya sih waktu tempuhnya “hanya” 26 jam saja, namun ntah karena apa, kami yang seharusnya tiba di Agra sore ikutan molor menjadi malam hari. Dan benar saja, 3 traveler ganteng kece memanggul ransel dengan mudah menjadi santapan para pengemudi taksi atau bajaj.

“Mau ke mana?”

“Saya tahu penginapan murah, ayo ikut saya!”

“Halo, selamat datang di Agra. Mau saya antar besok  ke Taj Mahal?

“Apakah Kalian jomblo?”

Maaf yang pertanyaan terakhir itu semacam pertanyaan template dari orang-orang yang kurang piknik. Sebetulnya 3 pertanyaan di atas itulah yang bertubi-tubi kami terima. Di tengah kepungan pengemudi garang itu, kami harus mencari siasat gimana caranya bisa keluar dari situasi itu.

“Maaf, kami sudah memesan hotel dan sedang menunggu jemputan.”

Beberapa supir sih memilih kabur, tapi ya, namanya orang India ya yang keukeuh, beberapa supir tetap saja mengikuti kami. Salah satunya supir bajaj berwajah garang, berkulit hitam dan berperut maju sama kayak aku. Intinya, kalau secara penampilan, dia bakalan menjadi pilihan terakhir untuk kami pilih mengantaran kami ke hotel.

Namun….

“Hayolah, mari saya antar. Kalian dari Malaysia, kan?”

Tak lama dia mengeluarkan sebuah buku dari saku celananya.

“Ini lihat, saya pernah mengantarkan orang Malaysia. Baca, hayo baca tanggapan mereka tentang saya.”

Sekilas kami melirik buku tersebut. Hihi, unik juga nih si supir bajaj. Jadi dia punya sebuah buku yang berisi rekomendasi dari para penumpangnya.

????????????????????????????????????

Mengakrabkan diri dengan penduduk lokal selama perjalanan Kolkata-Agra

Aku, Ahlan dan Indra lantas membaca buku rekomendasi tersebut. Banyak sekali rekomendasinya dan tersedia dalam berbagai bahasa. Kebanyakan sih bahasa Inggris. Tapi aku juga melihat aksara mandarin, bahasa Jepang dan juga Rusia. Lalu kami membaca referensi dari turis Malaysia tersebut.

“Dia orang yang baik, ramah namun harus tegas sikit je.”

Hmm, boleh juga  nih. Ya sudahlah, kami lantas sepakat untuk menggunakan jasanya. Pria yang bernama Alam Khan ini lantas melihat daftar hotel yang berada di catatanku. Sempat berdebat beberapa lama, akhirnya kami sepakat mendatangi sebuah hotel bernama Omega Hotel. Hotelnya sendiri bagaimana? Hmm, nyengnyong abis! Nanti aku bahas terpisah di tulisan mengenai scam di India ya!

*   *   *

Orang India itu…

Pantang Menyerah | Seperti yang kusinggung di tulisan sebelumnya, penduduk India itu banyak banget. Lebih dari 1 miliar orang! Tak heran jika persaingan di sana sangat ketat. Perihal upaya mereka dalam mendapatkan rezeki sih sebetulnya masih wajar ya. Walau kami dikerubuti banyak supir taksi/bajaj, ya masih dalam batas normal lah. Nggak ada yang sampai memaksa, mengambil tas kami atau menarik-narik ke dalam kendaraannya.

Cerewet | Duhai, orang India kalau sudah ngomong kayaknya energinya nggak pernah habis ya hahaha. Tapi sebetulnya seru juga sih bisa ngomong lama gitu sama warga lokal asalkan orangnya menyenangkan ya tak apalah. Kalau sudah dirasa mengganggu ya tinggal bilang aja, “maaf ya bang, eke mau bobo ganteng dulu, jangan ribut ya” beres deh hehehe.

*   *   *

Alam Khan datang lagi ke Omega Hotel pagi berikutnya. Sesuai kesepakatan, dia akan mengantarkan kami berkeliling kota Agra hari itu. Di antara protes kami karena dia telah mengajak ke hotel yang salah, canda gurau diantara kami terjadi begitu saja. Harus aku akui, dia driver yang menyenangkan.

DSC02084

Duh om, gayanya biasa aja dong hahahaha photo taken by Ahlan

“Namamu menggunakan embel-embek Khan, apa kamu muslim?” tanya Ahlan.

Hahaha gantian deh kami yang nanya. Soalnya setiap kali orang lokal tahu kami dari Indonesia, biasanya kami akan ditanya mengenai ini. Jika berkenalan, mereka sering nggak percaya kalau kami muslim. Terutama aku dan Indra. Indra itu kan nama dewa Hindu gitu. Hanya Ahlan yang namanya cukup aman 🙂 eh btw, selama perjalanan di India aku selalu dikira orang Tiongkok, Jepang atau Korea. Anek, khan eh kan? –langsung memandang kulit yang gelap ini.

“Iya saya muslim. Semua orang dengan nama belakang Khan itu muslim. Shah Rukh Khan, Aamir Khan, Salman Khan.”

“Ah apa benar kamu beragama Islam?” tanya Ahlan lagi.

“Iya benar, orang tua saya Islam.”

“Kalau begitu, coba ucapkan 2 kalimat Syahadat.”

DSC_0386

Sorry, ini aku emang agak bandel. Motret seenaknya eeh ada yang gak suka difoto. Maaaafff

Terus terang aku udah ngakak aja dalam hati mendengar percakapan antara Ahlan dan Alam. Eh tapi, si Alam beneran ngucapin syahadat loh haha, walaupun ya agak terbata-bata.

Nggak kerasa, kami sudah berada di salah satu gerbang masuk Taj Mahal. Begitu bajajnya si Alam menepi, kami langsung bergegas untuk turun. Eh ya dia malah sebel.

“My friends… my friends… why are you so hurry? Listen to me… listen to me,” ujarnya.

Bayangin ya, aku yang berada di pintu udah separuh keluar eh karena mendadak tampangnya si Alam seriuuuus banget, ya kami duduk lagi. Ternyata, Alam hanya mengingatkan kami bahwa jangan pernah membeli apapun di dalam sana.

“Harganya mahal! Kualitasnya buruk dan saya akan mengantarkan kalian ke tempat penjualan souvenir yang murah nanti.”

“Apa lagi?”

“Jika mereka mengerubuti kalian, teriaklah dengan lantang CHALO…CHALO! dan mereka akan pergi.”

Oh ternyata mau dibilangin itu doang. Serius banget om! Ya deh kami nurut. Selain itu, kami diminta untuk berkumpul kembali di tempat yang sama sesuai waktu yang disepakati. Oke deh, kami masuk ke Taj Mahal dulu ya! –trus aku ditangkap petugas aja begitu masuk ke dalam. Kenapa? Sabar, nanti diceritain hehehe.

DSC02079

we-fie. Photo taken by Ahlan

*   *   *

Orang India itu…

Sumbu Pendek | Sekali lagi, bisa jadi karena kerasnya hidup di sana ya. Di Chandni Chowk, New Delhi, aku melihat betul ada pencopet yang dihajar sama beberapa orang. Hiks kasihan, sampai ditampar, dipukul dan ditendang gitu. Mencopet perbuatan yang salah, tapi kan ya harusnya serahin ke petugas, kan? Kalau beradu kendaraan di jalanan nggak ada yang mau ngalah, malah saling ngotot, aduh! Alam Khan sih asyik-asyik aja sebetulnya. Sekalinya dia serius ya pada saat kami akan turun Dari bajaj itu. Selebihnya dia sering kami bully hahaha.

Gombal | Di pinggiran sungai Gangga, aku melihat betul kegombalan seorang pemuda terhadap seorang wanita yang ntah itu pacar atau gebetannya. Mengenai kegombalan orang India ini sih sebetulnya baru aku ketahui pasca pulang ke Indonesia. Bagi yang temanan sama aku di FB, pasti tahulah ya beberapa hari lalu aku sempat posting status mengenai cowok Srinagar yang minta dicariin pacar. Terlepas dari itu, salah satu sepupuku sudah ditembak berkali-kali, dijanjiin ini-itu sama salah satu kenalanku di Kolkata dulu. Hahaha, beware sist!

Tukang Pamer | Di stasiun kereta kota Jammu, aku berkenalan dengan sepasang suami istri yang memperlihatkan kehebatan dan kekayaan mereka hahaha. “Ini lihat, mobil terbaru saya,” ujarnya sambil memperlihatkan sebuah foto dari ponselnya. “Ini saat kami mencoba menaiki helicopter,” sahutnya lagi. Hahaha, ya kurang lebih begitulah. Mayoritas penduduk India gemar sekali memperlihatkan foto-foto yang ada di ponsel mereka. “Haryadi, ini istri saya. Dia cantik, bukan?” ya karena istrinya memang cantik ya aku bilang cantik tentu. “Mana foto pacar kamu, aku mau lihat.” –aku langsung mendadak tuli. Hehehe.

*   *   *

“Alam tolong antar kami restoran halal, ya!”

“Siap!”

Puas mengeliling Taj Mahal, kami diantarkan ke sebuah restoran kecil namun cukup baik dan nyaman. Restorannya bersih, toiletnya dalam status : aman hehehe, pegawainya ramah dan makanannya enak. Begitu kami akan masuk si Alam berkata, “silakan kalian makan. Aku tunggu di luar.”

????????????????????????????????????

Orang India itu demen banget pake baju dengan warna mencolok 🙂

“Heh bagaimana bisa begitu? Kau harus ikut bersama kami.”

“Tidak usah. Tadi saya sudah makan.”

“Alah sudah nggak usah bohong, mari ikut kami.”

Bagi kita orang Indonesia, wajar banget ya untuk mengajak siapapun yang membantu kita untuk makan bersama. Ntah apakah selama ini Alam belum pernah diajakin makan sama orang yang menggunakan jasanya, tapi kayaknya dia kelihatan terharu gitu deh. –kasih tisu hehehe.

“Bagi kami orang Indonesia, biasa makan bersama seperti ini. Kau tidak usah segan,” ujar Ahlan.

Obrolan santai mengalir selama kami makan bersama. Sebagai pecinta bollywood, bisa dibilang aku yang paling nyambung ngobrol sama Alam lebih-lebih kalau ngomongin film dan lagu. Bahkan saat berjalan ke taman Mehtab Bagh, kita nyanyi lagu India bersama hahaha. Walaupun aku nggak ngerti bahasanya dan bisa jadi pengucapannya keliru yang penting goyang bang!

????????????????????????????????????

Ahlan bersama anak-anak di sebuah desa di Srinagar. Cakep-cakep kan?

*   *   *

Alam Khan adalah salah satu contoh kegigihan warga India. Tanpa keluhan, kami semua tahu bahwa hidupnya cukup sulit di sana. Setiap hari harus berjuang diantara puluhan atau ratusan pengemudi lain demi mendapatkan lembaran rupee, tentu bukan suatu yang mudah. Sekali lagi, aku salut dengan usaha extraordinary­-nya dalam menggaet penumpang.

“Kau tahu, aku berusaha melakukan segala sesuatunya dengan baik,” ujarnya suatu waktu.

“Iya memang harus begitu.”

“Aku mengharapkan usahaku ini terus berkelanjutan. Makanya tolong jika ada temanmu yang akan mengunjungi Agra, bujuk mereka agar mau menggunakan jasaku.”

DSC_0336

Pemuda Pahalgam. Yes, ini di India loh! yakin gak mau ke sini? 🙂

“Tenang saja, kami memiliki banyak teman yang akan mengunjungi Agra,” jawab kami.

Aku, Indra dan Ahlan dipertemukan di sebuah grup jalan-jalan. Makanya, tidak menutup kemungkinan toh teman-teman lain di grup perjalanan tersebut tertarik untuk menggunakan jasa Alam Khan ini. Jika memang tertarik, bisa hubungi beliau di no telp 00919837658566 dan jika nanti kalian bertemu, sampaikan salam kami bertiga untuknya ya! 🙂

P.S : Mengenai karakter orang India yang aku sebutkan di atas, bisa jadi juga berlaku sama terhadap orang Indonesia bahkan orang-orang di seluruh dunia. Jika kalian dapat membantuku menyebutkan sebanyak-banyaknya sifat baik manusia, maka ke semua sifat itu juga ada pada orang India, ya! Intinya sih kembali ke pribadi masing-masing. Ingat, India itu indah, jangan (terlalu) khawatir terhadapnya! 🙂

Iklan

116 thoughts on “Menyelami Karakter Orang India Melalui Alam Khan si Supir Bajaj dari Agra

  1. “mana foto pacar kamu, aku mau lihat”, aku langsung mendadak tuli.. lol
    hahaha… om nduuut mksi mau share no hp alam khan, bntar lg mau ke agra jd pingin jg pake jasa nya 😊

      • rencana bln juli tp kawan yg di sana bilang klau mo dtng ke arga bagus nya oktober smpi desmber akhir tahun krn juli di india musim hujan… jd galau nie… insyaallah klau memang bs mengunakan jasa dia akan di kasih liat om (dgn senang hati) 😉

    • Aku datang itu bulan Maret. Cuaca di Agra udah mulai mendekati musim panas. Agra itu… kota paling nggak banget selama di India hahaha (menurutku ya), jika nggak ada Taj Mahal, ntah deh apa jadinya. Semoga jadi dan beneran bisa ketemu dengan dia ya mbak 🙂

    • Haha amiiin 🙂 intinya sih “berbisnis” dengan dia okelah. Mengenai hotel yang dia rekomendasikan, sebetulnya itu keputusan kami bersama. “Saya tahu hotel ini” dia cuma bilang gitu, tapi ya dia nggak maksa. Intinya keburukan hotel itu bukan salah dia hehe. Cuma kita wanti-wanti, “tolong jangan pernah bawa tamu lagi ke hotel itu” dan dia angguk-angguk 🙂

  2. Selain gombal orang india adalah sosok yang sangat pede menurut aku. Bisa2nya makai baju warna mentereng dan kontras dengan kulit. Tapi mereka pede2 aja dan menurut aku mereka pantas berprofesi sbg entertainment. Karena mereka mudah membuat orang lain senang.

    • Betul bangeeet 🙂 makanya aku singgung di foto hahaha. Tadi mau dituliskan tapi kok ya nggak pas sama tulisannya. Ini teori abal-abal dari aku ya hehe. Semakin simpel warna/motif baju (terutama pria) maka semakin tinggi pula kesejahteraannya 🙂

      *siap-siap dibantah sama mbak Zulfa emakmbolang.com* hihihihi

  3. Haha seru banget mas… bisa seakrab gitu sama tukang bajaj… ttg orang india itu crewet bin bawel emang bener banget, aku punya temen ya kaya gitu. Penginnya caper terus, tapi masalah etos kerjanya duh luar biasa mereka!

  4. Bagi saya, ini artinya orang India itu ekspresif sekali. Saya salut dengan kegigihan mereka berjuang, dan memang untuk bisa bertahan di persaingan yang sangat ketat ini kita mesti berani menjadi berbeda, berani berinovasi di hal-hal positif dan berusaha agar sebanyak mungkin orang tahu itu. Mudah-mudahan kita juga bisa jadi orang yang setangguh mereka ya Om :amin. Saya butuh belajar nih bagaimana mengakrabkan diri dengan orang lokal :hehe.

  5. Kesan saya terhadap orang India itu, gak ada yang berwajah jelek. Semua hidung mancung dengan mata bak biji buah badam. Karakter wajah yang saya akrabi gegara dulu sering baca komik semacam Gina dari Gunung Goby, gitu 🙂

  6. india?? mengingatkan ku pada sosok kakekku yang mirip banget ama orang india dan demeeen banget ama india. parahnya lagi, hobi itu turun ke adek perempuanku. alamaaak.. dia selalu memutar lagu2 india, dari mulai jaman ana malipum sampai jaman rani mukerjee 😦
    belum lagi pas kuliah dulu ketemu dosen yang asli india.. killernyaaa dan ngomong inggrisnya itu loh.. ngebut abis 😀

  7. Keren yan
    Alam .. Alam .. Gak sanggup ketawa aku membayangkan dia nanyi sambil bawa bajay.
    Dia mengingatkan aku dengan temen kuliah ku yan.
    Mirip banget.
    Salah satu alasan kenapa aku pilih dia.
    Hehe

  8. Jadi ikut terharu pas bagian mengajak makan bersama 🙂
    Kok aku jadi tertarik sama India ya, selain pilem2nya

  9. “Dia orang yang baik, ramah namun harus tegas sikit je.” — Abang Khan ini bener driver bajaj 3.0 ; punya inisiatif buat buku rekomendasi itu inovatif skale 😀

    • Hahahaha iya ;D

      Soal tegas, aku sepakat sama orang Malaysia yang nulis di buku itu. Walau gimanapun dia kan orang India yang agak ngeyel hwhwhw misalnya pada saat kami minta jemput jam 8 pagi, dia bilang jam 9 aja. “Kalian butuh waktu istirahat lebih banyak, jadi saya jemput jam 9 aja” wew enak aja hahaha, makin berkuranglah waktu eksplore Tak Mahalnya. Untung kami gak minta anter subuh coba 😀 (ngeliat sunrise)

    • Haha iya, pas kejadian kami dilarang belanja ya modus sih, jadi dia bisa anter kami ke toko-toko yang bakalan ngasih dia fee. Tapi untungnya tokonya emang nggak mahal (banget). Dan begitu kami mendatangi sebuah toko dan kami ga belanja apa-apa, ya dia tetep hepi. Begitu di toko selanjutnya ada yang kalap belanja *lirik Ahlan* makin hepilah si Alam Khan hahaha

      • Si Khan pake prinsip sekali mengayuh dua pulau terlewati dong wakakkaka. Calak mun kato wong Plembang 😀 Ini nih yang aku sebut ‘pengalaman yang tak terbeli dengan uang’ ketika travelling Om. Lucky you! 😀

    • Iya, aku jadi nyesel nggak beli miniatur Taj Mahal murmer di sekitaran Taj Mahal. Karena mikirnya bakalan dibawa ke tempat yang lebih murah. Eh begitu masuk ke tokonya, yang ada Tah Mahal dari marmer yang jelas mahal hahaha

    • Dari sekian kota yang aku datangi saat ke India, Agra satu-satunya kota yang nggak mau aku datangi untuk kedua kali (lain cerita kalo gratisan ya hahaha).

    • Soalnya Agra paling nggak asyik kotanya. Kalo nggak ada Taj Mahal dan Agra Fort kayaknya Agra nggak ada kecenya sama sekali hahaha. Scams everywhere. Jalanan parah, kualitas air sangat buruk, sangat turistik dsb 😀

  10. Ping-balik: Rona Cemas Saat Ditangkap Petugas di Taj Mahal |

  11. Aku di sini punya banyak teman orang India. Karakternya macem-macem, Yan.. Ada yang baik, ada yang ngeselin juga, hahaha…
    Eh itu idenya Alam keren ya, nyediain buku rekomendasi dari para tamu gitu..

  12. Ping-balik: 7 Jurus Jitu Berbelanja di India : Serunya Blusukan Ke Pasar Tradisional |

  13. Pingin bgt ke india…rencna 2017..mhn bantuan donk biar dapet tmn buat ke india nanti..coz br 2 orng cwek smua lg

  14. Ping-balik: Cara Lain Menikmati Keindahan Taj Mahal : Berkunjung ke Mehtab Bagh | Omnduut

  15. liat gaya si om bajaj kok aq ngrasa melas ya om ndut… gayanya mantep banget tapi kerjanya nyupir bajaj, enivei disana supir bajay ya kayak disini kan ya?

    tapi mah biar kesian mukanya, org India banyak yang pinter2 ya, banyak yg kerja di perush2 top di LN, macem google, yahoo, dll.

  16. Halo om nanya agak oot.
    Kalau naik kereta di india, apa ada pemberitahuannya kereta sampe di stasiun apa gitu?
    Bulan depan berangkat nih dan saya anaknya nempel molor wkwkkw takutnya kebablasan atau salah turun stasiun hahahaha

  17. Hi mbak Gaby. Sayangnya nggak ada pengumuman hehe. Jadi harus waspada. Cara paling gampang ialah dgn meminta bantuan org lokal yang jadi teman seperjalanan. Perkirakan waktu tempuh dan begitu dekat pastikan turun di stasiun yg benar. 🙂

  18. Ternyata karakter orang India beti dengan Indonesia ya? Mantab, ada nomor si Abang India. Sapa tau pas ke taj mahal bisa dipake nih #tapikapanya?

  19. mksih infox om…
    btw cowok india suka gombl tuw benar banget deh,, bru2 ini aku dpt tmn cowok india dr fb, saat baru hai-haian dy uda bilang i love u, lucu jadinya… trus saat jd teman kow sukanya maksa githu dan mau menang sendiri. nah kenal sama aku yg orgx jg keras kpala jd brantem melulu, ew tiba2 dy blokir aku hahaha.. aku jd pnasaran sma karakter org india jd nyari artikel ttg orang india n dpat artikel yang keren n menghibur ini… jangan lupa nulis lg ya om… keren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s