Pelesiran

Satu Malam Bersama Kaum Sikh dan Serunya Menginap di InnDia Boutique Hostel Amritsar

DSC_0843

.

Pertemuan di Kereta

Di depan kami ada sepasang suami istri yang berusia cukup lanjut. Di atas kereta sleeper class si lelaki tua nampak duduk bersila. Matanya terpejam dan mulutnya komat kamit. Beliau sedang berdoa. Di sebelahnya, sang istri nampak sibuk membuka koper yang ada di kolong kursi. Selanjutnya beliau mengeluarkan beberapa bungkus makanan dan selimut tebal.

Sekilas dupatta, penutup kepala yang digunakan sang istri nampak seperti jilbab. Namun karena kami akan menuju Amritsar, kota pusatnya umat Sikh dan juga dikarenakan sang suami memakai dastar atau turban yang digunakan untuk menutup kepala maka jelaslah sudah mereka adalah sepasang suami istri Sikh yang sedang menuju kampung halaman.

DSC_0849

Yes… LOVE 🙂

Sekali lagi, secara seksama aku melihat aktivitas yang dilakukan mereka. Ada banyak sekali rangkaian doa yang dilakukan si bapak tua. Si Istri nampak ikut berdoa bersama setelahnya. Dari balik pinggangnya, nampak sebuah pedang ukir berukuran sedang (belakangan baru aku tahu, pedang-pedang impor dari Tiongkok ini bahkan dijadikan cinderamata).

“Hayo makan bersama kami.”

Tiba-tiba si bapak menegur dan menawarkan makanannya. Aku, Indra dan Ahlan kompak menolak secara halus. Kebetulan sebelum berangkat kami menyempatkan diri untuk makan dulu di restoran Karim di sekitaran Old Delhi (restoran yang pernah menyabet restoran terbaik di Asia ini akan diulas terpisah), lagipula masing-masing dari kami membawa buah sebagai bekal.

Karena kami duduk berhadapan, mau tidak mau aktivitas sepasang suami istri ini terlihat jelas. Melihat keharmonisan keduanya aku jadi baper. (eh istilah ini belum ada ya tahun lalu, hehehe). Langit mulai gelap saat itu. Begitu selesai makan, beliau lantas membuka lipatan kursi sehingga dapat dipakai untuk tidur. Sebelum lampu dimatikan, si bapak nampak berdoa kembali. Hmm, sepertinya si bapak ini umat Sikh yang shaleh hehehe.

Bertanya Arah ala Orang India

Pagi menjelang, kota Amritsar tak lama lagi akan kami jejaki. Semua sudah terbangun dari perjalanan kereta dari Delhi. Aku membolak-balik daftar penginapan di Amritsar yang akan kami pilih. Di urutan pertama ada nama InnDia Boutique Hostel. Ini sepenuhnya rekomendasi dari Ahlan.  ©

“Skornya bagus Yan di situs pemesanan,” ujar Ahlan.

Aku sendiri mempersiapkan nama-nama penginapan lainnya sebagai opsi tambahan. Namun, kami buta sama sekali tentang kota ini. Dan, hei, di depan kami ada penduduk asli, kenapa tidak bertanya?

DSC02535

Stasiun Amritsar. Relatif bersih dan rapi.

“Uncle, sorry, do you know about this hostel?” tanya Ahlan.

Si bapak lantas melihat catatanku. Kacamata ia kenakan. Dan dia membacanya dengan seksama. Eh omong-omong bagi yang mau ngintip catatanku dapat di download di sini ya.

“Kalian harus menyewa bajaj untuk menuju ke sana. Berapa harganya 1 malam?”

Aku menulis kisaran harga dalam kurs rupiah. Beliau meminta untuk dikonversi ke dalam kurs Rupee.

“Aha cukup murah. Tapi kalian dapat menemukan penginapan yang lebih murah di sekitaran Golden Temple,” ujarnya lagi.

Begitu sampai di stasiun Amritsar, Ahlan meminta kepada si uncle untuk berfoto bersama. Sayang sang istri tidak mau ikutan. Sebelum mencari kendaraan yang dapat mengantarkan kami ke hostel, kami memesan dulu tiket kereta perjalanan selanjutnya. Kami juga sempat sarapan di salah satu kantin yang ada di stasiun tersebut.

DSC02534

Bersama si uncle 🙂 mukaku nggak asyik, nggak berpola akibat yang motret nggak ngasih aba-aba hahaha

Setelah disepakati, tujuan kami masih sama. InnDia Boutique Hostel. Bajaj kami dapatkan dengan mudah. Sayang, si supirnya ternyata tidak tahu letak sesungguhnya hostel kami. Dia hanya tahu kawasannya saja. Alhasil selama perjalanan kami sempat berhenti beberapa kali dan melihat si supir bertanya ke beberapa orang.

“Hei kau tahu dimana letak hostel ini?” teriak si supir sambil membaca catatanku.

“Di sana, kau lurus saja, nanti di simpang 4 kau belok kanan.”

Begitu berada di persimpangan jalan, di supir kembali bertanya ke motor sebelah yang sama-sama terkena lampu merah. Masih dengan gaya yang sama. Bertanya dengan teriak, tanpa kata-kata, “tolong”. Jika di Indonesia, tentu hal itu tidak sopan ya. Tapi ya… ini India.

Selamat Datang di InnDia Boutique Hostel

Amritsar relatif lebih tenang dan sepi ketimbang kota-kota yang kami datangi sebelumnya (Agra, Kolkata dan Delhi). Tidak nampak gelandangan di pinggir jalan. Rumah-rumahnya pun cukup bagus dengan bagunan beton seperti komplek yang ada di Indonesia.

Hostel yang kami tuju pun ternyata begitu. Berbentuk seperti rumah pada umumnya. Namun rumah ini sangat modern. Terdiri dari 2 lantai (lantai ke-3 hanya untuk menjemur pakaian), sekilas aku merasa tidak sedang berada di India. Auranya sangat berbeda! Aku langsung merasa nyaman. Bisa jadi karena lokasi hostelnya terletak di area perumahan yang tertata rapi ya! Suka banget.

Kami diterima oleh seorang pegawai. Begitu masuk, wah beneran deh homey banget. Si pegawai –sebut saja namanya Shah Rukh Khan, lantai menyuruh kami duduk selagi dia memanggil si pemilik. Tak lama, Yajur Taxali si pemilik hostel keluar dari sebuah ruangan. Wah, pemiliknya masih muda dan berparas bak lelaki Utara India.

DSC_0839

Ruang santai InnDia Hostel

“Halo apa kabar,” sapanya hangat.

Kami lantas menanyakan harga kamar yang ada di sana.

“Untuk kamar tipe dorm, harganya 500 rupee per satu ranjang,” ujarnya.

Harga segitu kurang lebih Rp.110.000. Murah sih, tapi terus terang untuk ukuran India itu masih mahal. Kami biasanya mendapatkan harga tak jauh dari itu untuk satu kamar yang dapat dihuni 3 orang. Lha ini 1 ranjang saja!

“Hayolah beri kami potongan harga. Kami mendapatkan informasi bahwa hostel ini keren dan kami ingin merasakan langsung bermalam di sini,” rayu kami semua.

“Harga yang saya berikan sama dengan yang saya jual di internet,” ujarnya lagi. “Tapi baiklah, saya akan turunkan harganya menjadi 400 rupee, bagaimana?”

Yeay, Rp.85.000 untuk penginapan sebagus ini? Lumayan banget! Alhasil kami semua setuju. Yajur kemudian menyerahkan sebuah laptop dan kami diminta untuk mengisi daftar tamu sesuai paspor. Tak lama, kami diberikan masing-masing sebuah kunci dan si Shah Rukh Khan mengantarkan kami ke lantai 2, tempat kamar kami berada.

Begitu masuk…

Wah, kamarnya sangat rapid an nyaman. Hawa dingin langsung menyeruak. Di kamar tersebut ada 2 ranjang susun yang dapat dihuni 4 orang. Ada satu penghuni lagi di sana, wisatawan sekaligus jurnalis dari India juga. Kami sempat mengobrol lama, namun tepat tengah malam si pemuda ini check out karena keretanya memang berangkat di jam tersebut.

DSC_0672

Ini baru inget difoto saat udah ditidurin hahaha. Masih keliat cakepnya kan?

Di sudut kamar terdapat loker yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah tamu yang menginap. Masing-masing ranjang ada colokan charger dan lampu baca. Jadi, bagi yang mau baca malam-malam bisa menggunakan lampu baca itu tanpa mengganggu tamu lain. Atau yang mau berselancar di dunia maya sambil memanfaatkan WIFI gratis (yang koneksinya cepat itu) juga bisa!

Bagaimana dengan kamar mandinya? Wow, modern, bersih, besar dan fungsional! Bagi cewek disediakan hair dryer di kamar mandi. Air yang mengalirpun langsung dari shower tanpa menggunakan bak. Alhasil kamar mandi ini terlihat jauh lebih luas ketimbang ukuran yang sebenarnya. Yang aku suka lagi, ada rak khusus yang dapat digunakan untuk menempatkan toiletries. Baju juga ada gantungannya jadi nggak susah. Ini sederhana namun belum tentu dimiliki oleh penginapan lain.

 

Fasilitas yang Lengkap

Mengetahui terdapat dapur umum di hostel ini, Indra langsung mengeluarkan sebungkus mie instan yang dibawa dari Indonesia.

“Aku boleh menggunakan dapurnya, kan?” tanya Indra ke Yajur.

“Oh tentu saja. Kau boleh menggunakan dapur yang di atas atau bawah,” sahutnya.

Tuh, dapurnya aja ada 2! Yang paling lengkap yang di bawah tentu saja. Karena ada kulkas dengan air dinginnya. Lumayan kalau kehausan bisa minum di sana. Oh ya, harga yang kami dapatkan itu sudah termasuk sarapan pagi loh! Walaupun ya hanya roti, tapi lumayanlah untuk mengganjal perut, kan?

DSC_0845

Dapur di lantai bawah

DSC_0675

Dapur di lantai 2

Tak jauh dari dapur terdapat ruang santai. Ada mini library dengan deretan buku-buku perjalanan semacam lonely planet. Buku fotografi yang memperlihatkan eksotisme India juga ada. Huaaa sumpah aku naksir dengan buku itu hahaha. Di sudut lain terdapat sofa yang lebih besar dengan TV yang juga berukuran besar. TV ini dilengkapi saluran luar negeri, loh! Jika mau nonton film juga bisa, disediakan DVD Film yang dapat ditonton sesuai keinginan.

DSC_0848

Rak bukunya kece!

 

Bagaimana dengan mencuci pakaian? Traveler yang menjelajahi India itu biasanya pergi dalam jangka waktu lama. Sangat dimungkinkan tamu membutuhkan fasilitas ini. Nah, di lantai 2 terdapat mesin cuci dan peralatannya yang dapat digunakan gratis! Jika nggak mau repot, bisa juga menggunakan layanan laundry-nya. Untuk setrika juga dapat digunakan di sana.

Sambil nyuci, bisa ngopi-ngopi di teras lantai 2. Sungguh sebuah penginapan murah yang sangat lengkap!

Papan Testimoni

Lantas bagaimana sebuah penginapan murah dapat tersaji dengan sedemikian baiknya? Ternyata Yajur si pemilik pernah tinggal lama di Eropa. Dia juga orang yang suka traveling. Makanya tak heran semua fasilitas yang ia siapkan memenuhi standar penginapan yang laik bagi para tamu.

Yajur juga dapat dibilang pemandu gratis kami! Hehe. Dengan sabar ia menerangkan beberapa objek wisata yang harus kami datangi, diantaranya menyaksikan War Ceremony di Wagah Border. Dia menuliskan info-info penting yang sangat bermanfaat bagi kami. Tak heran, di papan testimoni, tanggapan para tamu terhadap hostel ini sangat positif dan menurutku itu benar adanya tanpa dilebih-lebihkan.

DSC_0850

Papan testimoni

Silakan cek skor hostel ini di situs pemesanan penginapan. Bahkan, hostel ini terpilih sebagai penginapan terbaik kedua di Amritsar oleh Tripadvisor. Sayang, saat kami check out keesokan harinya, Yajur masih tidur sehingga salam perpisahan kami sampaikan melalui papan testimoni tersebut. Tak lupa, kami menyelipkan beberapa uang rupiah di meja kaca yang ada di ruang tengah.

DSC_0678

Yajur paling kanan. Sisanya penghuni hostel 🙂

Jika ke Amritsar, InnDia Boutique Hostel pilihannya!

Iklan

33 thoughts on “Satu Malam Bersama Kaum Sikh dan Serunya Menginap di InnDia Boutique Hostel Amritsar

  1. Wah asik nih hostelnya, dan harganya cukup murah, walaupun dengan harga yang sama di Agra aku bisa dapat kamar private double bed dengan kamar mandi dalam. Tapi kadang-kadang kalau jalan sendiri, lebih enak di dormitory sih, bisa kenalan dengan banyak orang. Btw dari InnDia ini kalau ke Golden Temple jauh gak Yan? soalnya sepengamatanku di sekitar Golden Temple itu justru riuh banget.

    O iya, aku waktu itu gak sempat mengamati detail bagian luar stasiun Amritsar. Justru aku baru ngeh lewat fotomu di postingan ini Yan. Makasih yaaaa … Jadi kangen Amritsar 😀

  2. uwaahhh keren nih kayaknya.. eh di sana tp ada kamar privatenya? aku juga biasanya slalu teratrik kalo denger penginapan pake kata2 boutique, krn biasanya pasti lbh bgs dan komplit fasilitas 😉

  3. Ping-balik: Dilema di Wagah Border : Gerbang Batas Antara India dan Pakistan | Omnduut

  4. Ping-balik: Mencecap Kesyahduan Tempat Paling Suci Bagi Kaum Sikh : Golden Temple | Omnduut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s