Pelesiran

Balada Berbelanja di Saudi Arabia

.

Ada banyak sekali kisah menarik selama perjalanan umroh April lalu. Dari yang seneng, sebel, bikin ketawa, bikin emosi dan lain sebagainya. Campur aduk deh kayak isi gerobaknya mamang jualan gorengan. –ehgimana? Dan, dapat dibilang, semua pengalaman itu terjadi di pasar, pertokoan atau apapunlah namanya di mana banyak penduduk asli menggelar barang dagangannya.

Ya namanya juga lagi di negeri yang jauh, ya! Biasalah kalau ada keinginan untuk berbelanja dan membeli oleh-oleh. Apalagi bagi para emak-emak, bapak-bapak yang tentu saja sudah mendapatkan pesan cinta berupa, “nanti beliin aak mainan ya Pah,” atau, “kurma nabi di sana murah, beli 3 kg, ya!” dari anggota keluarga.

“Hei, datang ke Saudi Arabia itu buat ibadah, bukan buat belanja,” ujar salah seorang rombongan umroh saat mendengar rencana ibuk-ibuk ke pasar pasca shalat Ashar. Duh, ngegas bener deh ngomongnya, padahal tuh orang adalah yang pertama, dari seluruh rombongan pergi berbelanja tepat di pagi ketika kami sampai di Madinah uhuk.

Beberapa cerita menarik seputar transaksi jual beli di Saudi Arabia, saya rangkum di bawah ini ya!

Mereka Familiar dengan Nama-nama Beken dari Indonesia

Terutama artis, sih. Saat pertama kali mau ke Masjid Nabawi, kami melewati beberapa pertokoan yang berada di bawah gedung-gedung yang kami lalui. Ntahlah, saya rasa orang Indonesia itu dandanannya khas sekali. Jalan berkelompok, pakai atribut khusus dan ganteng-ganteng –uhuk, sehingga dengan mudah langsung ditebak dari Indonesia dan disapa, “hei, Raffi Ahmad, sini masuk. Murah-murah!”

Saya yang mendengarnya langsung ngakak. Boleh juga tuh si onta eh orang Arab menarik perhatian kami. Selanjutnya, tiap kali lewat di sana, pasti kami disapa dengan nama-nama beken berbeda. You named it! Mereka pada tahu haha.

Salah satu toko langgananku di Madinah

Dan, ternyata hal ini berlaku di sebagian besar pertokoan di sana. Jika jalan bersama rombongan ibuk-ibuk, para pedagang ini dengan enteng menyapa, “halo Syahrini, belanja sini.” Nama artis wanita lain yang sering mereka sebut adalah Cita Citata dan Ayu Ting-ting. Hmm, jangan-jangan mereka suka dengerin dangdut juga hehe.

Satu kali, saat kembali melewati toko parfum (yang setiap kali kami lewat pasti diolesi minyak wangi), si penjaga toko berusaha menarik perhatian kami lagi.

“Hei, dari Indonesia, kan? Saya ada paman yang tinggal di Bandung,” ujarnya.

Dia lantas mengapit lengan adik saya. “Sini, saya kasih lihat fotonya,” sahut beliau sambil mengambil hape dari saku baju kurung khas Arab yang ia pakai. Saya yang berjalan lebih dulu mendadak memutar badan karena penasaran.

Pasar di sekitaran Jabal Uhud

Tahu siapa paman yang dia maksud? RIDWAN KAMIL! Hahaha, seketika kami tertawa. Salut sama usahanya menarik perhatian kami. Sayangnya, sampai kemudian kami meninggalkan kota Madinah, gak ada satu pun dari kami yang membeli parfum di tokonya hehe.

Masih di Madinah. Kami tengah asyik memilih baju untuk oleh-oleh di rumah. Negosiasi lumayan alot dan si penjual yang berusia remaja ini jago banget menahan harga.

“Hayolah tambah masing-masing 5 riyal saja. Kamu itu ganteng mirip artis,” rayu dia.

“Kamu juga mirip artis,” ujar kami.

Susu dan KENCING onta, anyone? iyy.

“Siapa?” tanyanya balik.

“Saiful Jamil.”

Aku mengucapkan itu dengan senyum dikulum. Ternyata reaksinya lumayan heboh, “oh tidak mau! Saya tahu, dia dipenjara, kan!”

Lha, ternyata dia sampai tahu berita penyanyi dangdut yang hobi hap-hip-hup itu dipenjara. Ah, jangan-jangan mereka follow akun IG-nya Lambe Turah hahaha. Oh ya, bagi yang penasaran, semua dialog yang saya tulis ini mendekati aslinya. Alias, memang dilakukan dalam bahasa Indonesia. Hebat pedagang di sana, rata-rata mampu berbicara banyak bahasa. Ya, terutama orang Indonesia karena paling doyan belanja kali, ya!

Kamu Itu Bukan Orang Indonesia. Kamu Orang Arab!

Tipikal pedaganglah ya, pasti berusaha menahan calon pembeli agar mau membeli di tempat mereka. Di sisi lain, pembeli (baca : saya) juga berusaha mendapatkan harga semurah mungkin. Sebetulnya, sejak pengalaman berbelanja di India, saya sudah (sedikit) tobat bersikap “kejam” dengan cara menawar harga sedemikian rendah.

Namun, setelah beberapa kali blusukan ke pasar, ya saya jadi tahu batasan harga jual produk yang mereka jajakan. Ada hikmahnya juga jalan ke sana ke mari menemani rombongan ibuk-ibuk yang (awalnya) khawatir soal komunikasi. Jika mereka belanja banyak dan saya juga tertarik beli, jadinya kan dapat harga yang lebih murah.

Oh ya, sebagian besar toko di sana memasang bendera Indonesia dan Malaysia. Hwhwhw, mungkin jamaah dari 2 negara inilah yang paling banyak memberi pemasukan kepada mereka. Secara ya, penampilan warga kedua negara ini sama, mereka kerap kali bertanya asal tentang itu.

Perhatikan merek dagang tokonya, ada bendera Malaysia dan Indonesia

“Kamu dari mana?”

“Indonesia.”

Namun, begitu tengah terlibat tawar menawar yang alot, mereka biasanya kembali bertanya ulang.

“Kamu dari mana?”

“Indonesia.”

“Bukan, kamu bukan orang Indonesia. Kamu dari Arab.”

“Hah?”

“Iya, soalnya kamu pelit. Orang Arab itu pelit!”

Jamaah Indonesia sih gak bisa liat ada lapak dikit hahaha

Lha, rasanya ingin ngasih cermin gede ke hadapannya hahaha. Eh tapi, benar yang diceritakan Vabyo di buku Negeri 1001 Mimpi-nya. Kadang, orang Arab itu sebal dengan orang bangsanya sendiri. Satu kali, saat berbelanja juga, kami bertanya, “ini barang produksi mana? Arab ya?”

“Semua ini barang dari luar negeri, lah. Orang Arab tak dapat buat apapun. Mereka hanya tahu makan saja!”

Hwhw, makanya, kalau belanja di sana mestinya bisa direm. Toh rata-rata barang ini dikirim dari China, Turki, Korea atau bahkan dari Indonesia sendiri. Saya lihat kok banyak produk Indonesia yang dijual di Arab.

Makan Sepuasnya di Tempat

Di kota Madinah, oleh panitia tur, kami diajak ke sebuah area perkebunan kurma. Sayang, sampai di sana ternyata tempat yang sejak awal dibilang perkebunan itu ternyata hanya terdiri dari sedikit area saja. Kondisi pohonnya pun mengenaskan. Kering kerontang dan rata-rata (sedang) tidak berbuah.

“Silakan cicipi semua jenis kurma yang dijual. Mau seberapa banyak boleh, asal makan di tempat,” ujar tour leader kami.

Wuih terdengar menyenangkan, bukan? Hahaha. Apalagi di sana tidak hanya menjual kurma, namun juga aneka kacang-kacangan dan cokelat. Para rombongan mulai “kalap” mencicipi aneka kurma yang ada.

Silakan icip sepuasnya 🙂 jangan dibungkus ya hehehe

Namun, sepertinya itu trik jualan yang biasa ya. Secara, seberapa banyak sih orang mampu makan kurma dalam satu waktu? Manis gitu kan bikin nyelu. Dan, rasanya nggak ada anggota rombongan yang nggak belanja di sana. Saya saja sampai beli 2 kg kurma madu pesanan ibu dimana sekilonya dijual dengan harga hampir 240 ribu rupiah! (stt, belinya urunan sama 2 adik haha). Jadi, saya yakin pedagang ini tetap memperoleh keuntungan yang lumayan.

Ternyata praktik berjualan seperti ini umum dilakukan tidak hanya di Madinah namun juga di Makkah. Jika mau makan kurma gratis, masuk saja ke salah satu toko. Icip kurma sebanyak yang mau. Jika kamu punya cukup modal muka tebal sih silakan saja hehehe.

Kamu Sudah Tua, Kenapa Belum Kawin?

Coba bayangkan, saya menempuh jarak lebih dari 7500 km dari Palembang jauh-jauh ke Makkah dan pertanyaan yang saya dapatkan masih sama –pukpuk –Nyeder di punggung Chelsea Islan. Yup, ntah kenapa, para pedagang di sana rajin banget nanyain, “sudah kawin belum?”

Dan, ketika dijawab belum, dengan nada bangga mereka akan berkata, “hah? Saya saja umur 17 tahun istri sudah dua!”

Dasar onta!

“Jika memang begitu, carikanlah saya istri satu di sini,” jawab saya lagi.

Di tengah panasnya padang onta, remaja ini menjual kacang-kacangan

“Tidak. Di sini beli perempuan mahal!” katanya lagi. Hmm, mungkin dia salah pakai kata ya haha, mungkin maksudnya beli = meminang. “Coba kau lihat dia,” ujar penjaga toko ini sambil menunjuk bosnya. Seketika saya melirik ke arah orang yang dimaksud.

“Lihat, dia lagi pusing. Dia punya istri tiga tapi semua lagi marah sama dia.”

Mendengar itu saya nyengir saja.

“Kamu cepat menikah. Kamu sudah tua,” ujarnya lagi. Saya melirik ke sekeliling. Nampaklah sebuah kursi kayu yang sepertinya dapat saya lemparkan ke mukanya hwhwhw.

“Doakan saya segera dapat jodoh, ya!” jawab saya pasrah. Mau marah gak jadi, langsung ingat lagi di tanah suci. “Nanti kalau saya menikah tahun depan, saya datang lagi ke sini sama istri. Dan, saya ingin dengar kalau kamu sudah tambah istri satu lagi.”

“Tidak mau. Tidak ada uang,” jawabnya cepat.

Menghabiskan sisa uang riyal terakhir di Jeddah dengan membeli es krim ini.

Ya serah deh, mestinya sejak awal milih satu orang saja. Gak mesti dua, tiga atau empat. Emang situ nabi?

Setelah selesai melakukan pembayaran, saya, adik dan seorang om keluar dan menuju toko lain. Tiba-tiba, ada beberapa anak muda yang berdiri di dekat sebuah toko menyapa kami.

“Dari mana?”

“Indonesia,” jawab adik.

“Aha, puncak,” sahut salah seorang dari mereka dengan kerlingan mata yang menjijikkan. Ingin rasanya aku tonjok itu orang (gaya lu Yan! Dipelototin preman pasar aja keder hahaha). Namun, lagi-lagi aku hanya bisa beristighfar. Mungkin itu salah satu ujian kesabaran saat beribadah umroh.

Terlepas dari kejadian tersebut, berjalan-jalan di sekitaran pasar yang ada di Makkah dan Madinah menyisakan banyak kenangan saat kemudian saya kembali pulang ke Indonesia. Kangen euy sama Tanah Suci. Terutama kangen icip kurmanya yang gratisan itu hahaha. Gurau je’ ye bang!

Sampai jumpa lagi Arab Saudi

Iklan

55 thoughts on “Balada Berbelanja di Saudi Arabia

  1. Bangsa kita juga terkenal royal dan suka belanja. Jangankan Arab, di pasar oleh-oleh misalnya di Korea juga pedagangnya bisa Bahasa Indonesia dasar.

    Paling suka kacang-kacangan dan buah kering produk negara-negara Arab sana. Jadi klo ada yang habis dari Arab pasti saya todong kacang almond whehehe.

    • Faktanya, selama di sana gak beli satu kacangpun hahaha. Karena kata ibu beli di Palembang aja di toko oleh-oleh haji.

      Beli kurma nabi aja (di atas aku tulis kurma madu, ntar diedit hwhw).

    • Iya. Hebat ya 🙂 aku juga lihat langsung saat ada pembeli lain datang eh mereka ganti bahasa (kayak bahasa Turki atau Farsi gitu, beda dengan Arab).

  2. Sambil baca sambil ngebayangin logat mereka ngomong bahasa Indonesia pasti lucu. Hhaa
    Btw tapi niat banget ya sampe belajar bahasa. Terus tahu nama artis2 sini juga dan update beritanya. Ampun dah

    • Haha, yang baca bukuku juga kaget Nugie. Katanya beda banget sama tulisan di blog. Lah iyalah haha. Nulis kocak gini cukup sering sih rasanya. Tapi emang porsi ditulisannya gak begitu banyak 🙂

  3. Wakakakakakak tumben aku ngakak terus baca ini. Njalur dikrues aja itu lambenya.

    Jadi ngebayangin, klo nanti jadi umroh bisa dibilang artis beneran aku. Udah artis begini sih ya. Hehehe. Ya, pada dasarnya sama, kalo kaitannya sama turis Indonesia. Pertanyaan tentang pernikahan itu akan menghantui aja. Maleeeees wkwkwk 😛

    • Trus nanti akan dipanggil siapa dong? Vino G Bastian? Hamish Daud? hahaha.

      Iya, sebel sih ditanya begitu. Apalagi karena perbahandaraan kata mereka sedikit jadinya ngomong, “kamu kan sudah tua!”
      Kalau di sini bisa lebih halus, “usia kamu udah pas” gitu. Hehehe

  4. duhhh jadi kangen tanah suci….penjualnya juara deh kalo ngerayu biar beli di tempatnya, segala macem jurus dikeluarin hahaha. Tapi itu yang bilang udah tua males juga ya, aku ga jadi beli kalo digituin *sensi* wkwkwk

  5. Weekekeke, nggak nyangka bisa selucu itu pengalaman belanja di Saudi Arabia Yan. Tapi yang bahas-bahas soal status lajang itu perlu dikasih pelajaran, mau narik pembeli kok malah melanggar privasi.

  6. entar kalau ke sana lg bawa istri, jangan2 istrinya dibilang syahrini…hadeuh ada2 aja, btw kalau orang turki ngenalin jamaah indonesia itu gampang: katanyaibu2nya menor2..duh…,sampe ibu mertua nanya sama saya, itu jamaah indonesia mau sholat apa mau kondangan.di mekkah, .yaa mana saya tahu:D

    • Haha harus diakui ini bener mbak. Minimal banget mereka (para ibu-ibu ini) tetap memakai alis yang presisi buahahaha. Sebagian lagi memang tampil sederhana. Tapi ya mayoritas tetap gitu sih 🙂

  7. Baca ini jadi kangen mau Umroh lagi 😀 merasa familiar sama kota-kotanya terutama Madinah yang terkenal sama orang-orangnya yang ramah. Mungkin karena mereka bisa bahasa Indonesia jadi rasanya Arab jadi kaya rumah kedua :))

  8. itu tuh yang seru kalo belanja di luar negeri ya mas, beberapa pedagang pasti mahir bahasa Indonesia.
    secara orang Indonesia emng kesukaannya shopping haha

    bahkan ada di beberapa negara, kalo orng Indo udah kehabisan uang buat belanja, para pedagang selain terima USD juga terima aja rupiah haha

    cerita pengalaman yang menarik mas 🙂
    keep sharing ya!

  9. Setuju sama Lianawati.
    Aku alami itu. Mereka terima pecahan duit Indonesia yang 50 ribu dan 100 ribu. Warbiyasah ya Indonesia.
    Aku juga sempat dipanggil Syahrini, hwhwhwhw…
    Duh jadi kangen suasana tanah suci.
    Cerita di atas asli bikin aku ngakak Yan, di siang terik di Balikpapan menuju 3 jam menjelang berbuka ^^
    Kangen travel bareng kamu lagi…

    Btw, soal jodoh itu, aku kadang ga percaya orang sebaik kamu belum menemukan belahan jiwa…
    Tapi percayalah, pasti Allah punya rencana besar untukmu!

    Tetaplah berbaik sangka ya, dear…

    Puk-puk Yayan…

  10. Waduh, kalo saya di sana kayaknya saya banyakan melipir deh daripada dirayu untuk belanja dan ditanya macem-macem. Banyak pedagang di Mekkah dan Madinah bisa Bahasa Indonesia mungkin selain karena banyak orang Indonesia yang umrah dan haji juga banyak orang sana yang suka liburan dan belanja di sini kali ya. Jadinya dua arah.

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s