Pelesiran

Hemat Pangkal Pelit di Ljubljana Castle

Ljubljana yang merupakan ibukota Slovenia ini adalah 2 kota terakhir yang saya datangi sebelum kemudian bertolak kembali ke Indonesia. Drama banget euy buat masuk ke sini hahaha. Masih ingat kan cerita saya dan adik yang dulu ditahan oleh petugas imigrasi di perbatasan?  Nggak kebayang kalau kami dilarang masuk ke Slovenia. Soalnya dari Ljubljana kami harus terbang ke Paris yang jadi kota terakhir di rangkaian perjalanan di Yurop.

Kami disambut hujan saat tiba di Ljubljana. Mau cari makan di sekitar terminal bus eh restoran masih pada tutup karena kalau Minggu baru buka jam 2 siang. Untungnya, saat kemudian berhasil menjangkau rumah Nejc –host CS, kami disambut dengan baik walaupun kemudian dia terheran-heran karena kami kok ya lebih betah di apartemennya ketimbang jalan-jalan sehingga kerap disindir, “emang kalian gak mau gitu jalan-jalan ke luar?”

Kalau malam nggak deh. Semakin ke timur, Eropa di musim gugur itu dingginnya ampun. Sudah paling bener itu berdiam di apartemennya Nejc sambil masak. Kebetulan stok beras dan mie instan masih ada. Jadilah, kami lebih sering masak selama di Ljubljana. Jikapun jajan, ujungnya balik-balik ke Doner Kebab lagi karena di sana makanan yang termurah dan porsinya besar!

Tergoda ke Bled dan Kranj

Kami memang punya 3 hari di Slovenia. Tapi, sebetulnya waktu efektifnya hanya 1 harian. Hari pertama sampai di Ljubljana sudah siang. Hari kedua free! Dan, hari ketiga kami harus terbang ke Paris. Nah, saat nunggu di terminal bus, saya sempat tergoda ambil paket perjalanan one day tour ke Bled.

Bled terkenal dengan danaunya yang indah. Di tengah danau terdapat pulau kecil dengan beberapa bangunan seperti gereja dan rumah. Jarak dari Ljubljana ke Bled sekitar 1,5 jam. Bolak balik 3 jam. Masih bisa sih sebetulnya. Tapi, jika kami ke Bled, waktu untuk eksplor Ljubljana jadi semakin singkat.  Jadilah, saya memutuskan untuk batal ke Bled.

Suasana kota Kranj. Gambar dari visitkranj.com

Selain Bled, sebetulnya ada satu kota lain yang saya pingin datangi. Namanya Kranj. Gara-garanya, saya pernah dikirimin kartu pos oleh seorang postcrosser dari sana. “Beruntung” saya sempat melewati kota ini saat menjangkau bandara. Ya, ternyata bandara Joze Pucnik itu berada di pinggiran kota yang juga berjarak 1 jam lebih dari pusat kota. Oke, karena rencana ke Bled batal, saya jadi punya banyak waktu untuk eksplorasi kota Ljubljana. Terutama kastinya yang berada di ketinggian yang harus saya capai dengan berjalan kaki buahaha.

Menuju Kastil Ljubjlana

Dari apartemen Necj, mula-mula kami naik bus menuju ke halte yang berada tak jauh dari terminal bus. Ya, terminal busnya memang terletak di tengah kota dan dekat dengan pusat wisata. Dari sana, kami tinggal jalan sedikit dan langsung berada di pusat Old Town-nya.

Jalan menuju Ljubljana Castle.

Kalau gak mau capek, ya naik funicular. Tapi bayar hoho

Dari sana, keberadaan Kastil Ljubljana sudah terlihat. Nah, ada 2 cara untuk naik ke atas. Pertama, menggunakan funicular yakni semacam kereta yang relnya menyatu dengan tebing. Untuk menggunakan funicular ini biayanya EUR4 atau setara IDR 70k. Mahal? Nggak juga. Tapi lumayanlah duit segitu bisa dapet kebab atuh haha. Hemat pangkal pelit ceritanya. Oh ya, selain menjual tiket funicular, mereka juga menjual tiket terusan untuk masuk ke kastilnya. Lengkapnya bisa cek di sini, ya.

Jalan setapak menuju kastil. Lumayan ngap sih hahaha.

Suasana kota Ljubljana menyembul diantara pepohonan.

Cara kedua yakni berjalan kaki. Nah, cara ini yang kemudian saya pilih. Tak sulit menemukan jalan setapak yang menjadi pintu masuk menuju kastil. Letaknya berada di antara 2 toko souvenir. Walau nggak ada papan petunjuk, tapi ya ikut arus aja karena sudah nampak terlihat ini jalannya menuju ke perbukitan.

Suasana di sepanjang perjalanan terasa menyenangkan. Banyak pohon dan walaupun jalannya kecil, tapi cukup akomodir karena jalanannya keras dan tidak becek kayak hutan-hutan di Indonesia hehe. Selain kami, ada beberapa wisatawan lainnya yang juga menuju kastil melewati jalan ini. Semakin tinggi, suasana kota Ljubljana terlihat makin apik. Saya memang suka melihat suasana kota dari ketinggian seperti ini.

Masuk Kastil Bayar Nggak, Ya?

Suasana di sekitaran area parkir kastil semakin sejuk. Pohon-pohon rindang mampu menghalau sinar matahari. Selagi adik menunggu di kursi taman, saya berencana untuk masuk ke dalam kastil. Ada sebuah loket berada di bibir pintu masuk. Tapi, saya lihat banyak pengunjung yang hanya melewatinya saja.

Akhirnya tiba di area parkir. Nah itu kastilnya.

Pintu masuk kastil. Booth penjual tiketnya berada di sisi kiri saya hehehe.

Saya jadi bingung harus bayar atau nggak untuk masuk ke dalam. Tapi, selagi menerapkan prinsip hemat pangkal pelit, saya coba berlagak culun masuk ke dalam tanpa membeli tiket. Dan, hola! Berhasil. Penjaga loket juga nampak cuek saja. Jadilah saya masuk bersama beberapa pengunjung lain yang juga tak membeli tiket di loket tersebut.

Begitu masuk, ternyata ada sebuah lapangan besar di tengah-tengah kastil. Terdapat sebuah kafe tempat pengunjung santai sambil memesan makanan. Saat melihat suasana keliling, saya mendapati ada sebuah pintu masuk dan saya masuk ke sana.

Nggak ada yang jaga. Jadi tanpa tiket pun ya nyelonong aja.

Suasana di tengah kastil.

Kafe yang saya maksud. Outdoor gitulah.

Ternyata ruangan inilah yang menjadi bagian utama kastil yang sudah dibangun sejak abad ke-11 ini. Di abad ke-12 sempat diteruskan pembangunannya hingga perombakan di abad ke-15. Namun, pada abad ke-19 lah kastil ini digunakan untuk berbagai keperluan sekaligus pusat budaya. Wah lumayan tua, ya! Dan hebatnya masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Menurut arkologis, area kastil ini sudah dihuni sejak 1200 SM. Dan, benteng ini dibangun sebagai basis tentara Romawi di masa Illyrian dan Celtic. Pada tahun 1256, Kastil Ljubljana disebutkan dalam sebuah dokumen sebagai benteng paling penting dari para penguasa Carniola. Namun, kastil ini kemudian menjadi milik Rudolph saat ditaklukkan Raja Ottokar II dari Bohemia pada tahun 1278.

Ntah ada ruangan apa di balik pintu ini.

Foto-foto jadul yang memperlihatkan kastil zaman dulu.

Saat masuk ke dalam, saya sempat melihat ruangan-ruangan yang jelas sekali pernah digunakan sebagai penjara. Pada abad ke-17 hingga 18, kastil ini menjadi gudang senjata dan sempat dijadikan barak serta RS militer pada periode Illyrian. Namun, pada tahun 1815 saat direbut oleh Kekasiaran Austria, kastil ini beralih fungsi menjadi penjara termasuk saat Perang Dunia II terjadi.

Penjaranya cukup sempit. Ntah, berapa orang ditempatkan dalam ruangan saat itu. Ada sih foto-foto jadul yang tertempel di dinding. Beberapa peralatan seram juga terlihat, seperti besi-besi tajam yang ntah dulu digunakan untuk apa, hiy.

Bilik-bilik penjaranya.

Jangan tanya ini untuk apa. Saya juga gak tahu dan ngeri membayangkannya.

Ntah seberapa banyak orang di penjara sesempit ini.

Kapel Cantik di Sisi Lain Kastil

Mestinya, jika saya membayar, ada ruangan-ruangan tertentu yang dapat saya masuki. Di titik-titik penting juga tersedia informasi dalam bentuk tulisan. Tapi, ada juga informasi tambahan yang diperoleh jika pengunjung membayar sehingga dipinjamkan audio yang dapat menjelaskan sejarah lebih detail.

Saat keluar, saya sempat masuk ke bagian lain kastil yang ternyata berfungsi sebagai chapel atau kapel. Setahu saya, kapel ini versi mini-nya dari gereja. Ya tempat ibadah juga tapi secara bangunan fisik berukuran lebih kecil. Mungkin korelasi yang dapat mengambarkannya mirip kayak masjid dan mushola, kali, ya!

Langit-langit kapelnya cakep, ya!

Ini kapelnya. Mini banget.

Salah satu tower di Kastil Ljubljana.

Kapel ini bernama Chapel of St George yang berdiri atas dasar dokumen tahun 1489 yang dikeluarkan kasiar atas St.George, St.Pancracio dan Permaisuri Helena. Letak kapel ini berada di sisi utara dan memiliki bukaan langit tinggi dan bergaya gotik. Kapel ini masih berfungsi hingga sekarang, loh! Untuk saat saya datang sedang lagi nggak ada prosesi ibadah sehingga saya dapat masuk dan melihat.

Kastil ini aslinya luas banget. Tadinya saya agak menyayangkan keberadaan kafe yang berada di dekat pintu masuk. Tapi, ya mungkin ditujukan bagi pengunjung yang capek berkeliling kasti, ya! Saya pribadi, walau gak masuk ke semua ruangannya tapi cukup senang dapat mengunjungi kastil ini secara… gratisan hahaha.

Kastil dari sisi samping.

Suasana kota Ljubljana dari kejauhan.

Nah ini kawasan kota tua-nya. Terlihat triple bridge dari kejauhan.

Sisi lain kota Ljubljana yang berlawanan dengan kawasan kota tuanya.

Saya dan adik menghabiskan waktu cukup lama di sini untuk bersantai dan menikmati suasana. Untuk pulang, kami melewati jalan yang sama namun melewati sisi kastil yang berbeda. Ternyata, dari sana sudut lain kota Ljubljana terlihat jelas. Jika sebelumnya saya hanya dapat melihat sisi modern kota Ljubljana, nah di sisi kanan kastil ini kawasan Old Town-nya yang menjadi panoramanya.

Saat menuliskan ini, saya baru sadar bahwa nggak ada satupun foto saya di kastil Ljubljana ini buahaha. Padahal, jika mau foto banyak spot yang menarik. Apalagi kalau saya bawa outer etnik nusantara, ya! Bisa sekalian pamer-pamer kebudayaan Indonesia, yekan! Next time, deh! Saya mupeng balik lagi ke Slovenia soalnya. “Ngapain?” itu, untuk mencari cinta yang hilang. Blah!

Btw, video kompilasi perjalanan di Eropa sudah tayang di channel youtubeku. Ljubjlana ada juga nyempil di video ini sekilas. Bantu subscribe, ya! makasih loh. Sini tak ketjoep satu-satu.

60 komentar di “Hemat Pangkal Pelit di Ljubljana Castle

  1. Dilihat sekilas kok kastilnya nggak wow ya hehehe. Tapi aku paling suka view kota dari ketinggian. Jadi setelah Slovenia kemudian Paris, dan bubar edisi plesiran Yuropnya?

    Jadi Omnduut bawa bekal berapa kardus mi instan ke yurop?

    • Iya, dibandingkan kastil lain, ini biasa aja haha. Iya, abis Ljubljana terbang ke Paris trus kelar. Tapi dari Paris mesti ke London dulu untuk terbang. Berangkat malam, sampe pagi, langsung ke bandara.

      Mie bawa sedikit, tapi selama di sana beli beberapa kali. Ada yang jual indomie hehehehe.

  2. Untuk ukuran kastil yang dibangun sejak abad ke-11, kastil ini keliatan sangat ‘seger’ ya. Dinding-dindingnya relatif bersih dan ga keliatan tua-tua amat. Apa ada bagian-bagian yang direstorasi ya dari bangunan aslinya?

    Ngakak baca masuknya cukup modal nyelonong. Azas kepercayaan banget ini kastil kayanya. Untung ga ada satpamnya ya :))

    • Haha iya. Satpamnya ada di bagian menara. Saat aku mau naik dimintain tiket. Jadi ada area-area yang boleh dimasuki secara gratis, ada yang mesti bayar.

      Iya, untuk ukuran kastil abad ke-11, termasuk yang “bersih”. Padahal aku lebih suka kastik yang “kotor” hahaha

      • Oo ternyata ada pembagian areanya gitu, jadi ga masalah juga lah ya hehe.
        Bener, kastil-kastil jadul dan “kotor” kok kayanya lebih nyambung sama bayangan kita soal “kastil” yang kita dapat dari media ya hehe.

  3. Serasa lagi baca buku cerita Hans Christian Andersen 🙂
    Jadi benar adanya ya kastil-kastil di buku cerita itu, yang kalau pas dibaca trus gumum; semoga bisa berkunjung ke lokasi cerita.
    Btw, kalau udah subcribes yutubnya, bisa nggak dikirimin pempek aja :))))

    • Ada beberapa kastil lain yang aku datangi dan jauh lebih cakep dari ini mbak Injul. Akan ditulis segera hahaha.

      Hayo main ke Palembang dong mbak Injul, tak ajakin mabok cuko hwhwhw

  4. orang yurop plesiran ke indo jalan kaki, org indonya naik kendaraan.. pas org indo ke sana kebalikannya, tuh yg di funicular org kaukasoid semua, org indonya jalan kaki ngap2an sampai ke kastil ahaha..

    -traveler paruh waktu

  5. Tp ya mas, kalo sedang di Eropa gini, apalagi saat cuacanya udh sejuk, aku jg LBH milih jalan drpd naik kendaraan. Krn alurnya juga enak utk pejalan kaki dan ga gampang capek toh kalo sedang sejuk :). Tau2 pas liat google tracker ga nyangka aja jalan seharian bisa total 20 km hahahah. Aku srg ngalamin gitu.

    Kec di kota yg panas yaa, itu sih aku lgs milih kendaraan ajalah drpd pingsan kepanasan hahahah.

    Cakep bgt kota iniii, secakep namanya yg susah diucapin :p. Pgn bgt lah pastinya bisa kesini 🙂

  6. beneran ngecek kok ga ada foto oomndutnya..padahal view pohon berantingnya cakep banget..ternyata dia lupa—padahal kan bareng adik bs dimintain tolong. btw Llubjana itu dibaca orang lokalnya gimana: lubjana?

    • Saat di kastil, adekku mager. Gak mau ikutan ke dalam, jadi dia duduk di luar aja haha. Tapi di tempat wisata lain di Ljubljana kita saling foto kok 🙂

  7. Mas Yan, makasih ulasannya, kami jadi tau gimana Kastil Ljubljana karena pas ke sana, mampirnya cuman ke kedai kebab doang terus lanjut ke Bled. Dan kayaknya ya, doner kebab di Ljubljana itu yang paling murah se-Eropa. Gak tau sih kalau di tetangganya kayak Kroasia yang katanya lebih murah. Tapi cuman di Ljubljana, kebab harganya bisa under 5 euro!

    • Jangan-jangan kedai kebab yang kita datangi sama. Yang di deket terminal itu kan? 😀

      Iya, Ljubljana murah. Jadi kami makan kebab mulu buahaha. Yang di Zagreb malah gak makan kebab. Belinya roti, donat dan masak sendiri. Yang aku inget lagi, yang murah itu di Budapest. Makan mewah pake nasi tapi seharga fast food di Indonesia. BAHAGIA! hahahaha

  8. Hahahh kalo bisa gratis kenapa harus bayar yah bang :p
    Ehtapi emang kadang suka bingung juga sih yah, kalo ada loket tiket dan petugasnya tapi masih banyak orang yang mondar-mandir nggak bayar wkwk

  9. Efek dapat kiriman postcard, akhirnya dapat berkunjung langsung. Wah sungguh perjuangan yang panjang prosesnya. Apalagi kalau udah jatuh cinta sama pemandangan, fisik, bangunan kota tua. Semua cara akan dilakukan. Traveling sama rasanya dengan jatuh cinta. Hahaha

  10. Bentar-bentar.. yang bagian masuk aja melewati penjaga loket sambil berlagak culun itu jangan2 disangka rombongan tour yg masuk barengan apa ya? Hehehee..

    Tapi tetaplah semua fotonya menggiurkan 🙂 juara dah om…

  11. Om ndut cerita nya selalu keren-keren. Foto nya juga mantul. Btw abis brpa itu om untuk keliling yurop?

  12. di jakarta pernah makan doner kebab, duh lajju kepengen lagi kan. tapi blom ado di palembang. molly jd ngiler doner kebab, ujinyo kalo di eropa porsinyo jumbo ye hargonyo murah hehe.. tp dak bagus pulo makan daging2an, jadi solusinyo makan pediolah??

  13. Wah penjara kastilnya kayak ada di film-film dracula 🤣 (efek kebanyakan nonton film dracula,maapkeun) kayaknya jalan kali ke kastil nggak terlalu bikin ngos-ngosan ya omnduut. Suatu saat kalau bisa menginjakkan kaki ke kastil Ljubljana aku juga pilih opsi jalan kaki. Sekarang sih baca artikelnya omndut dulu sambil liat-liat potonya 😁😁😁

  14. Selalu asyik baca postingan di blog ini. Foto-fotonya bagus banget. Berasa ikut jalan-jalan. Eh, hemat pangkal pelit mah harus kalau posisi traveling. Dari pada berabe kehabisan uang di jalan. Bahaya dong terlantar gak jelas.

  15. Bangunan baru sama tua kayaknya hidup berdampingan dengan damai di Ljubljana, ya, Om? Paling suka lihat foto kapel kecil itu. Bentuk langit-langitnya bagus, warnanya juga keren. Jadi ngebayangin kapel di buku Da Vinci Code. 😀

    • Nah, salah satu yang bikin sedih karena gak jadi ke Italia ya itu. Aku pengen banget liat lokasi syuting film-film adaptasi buku Dan Brown. Dan, kalau ke Italia mesti langsung dapet Vatikan juga mestinya. Ah… next time mudah-mudahan ada rezeki lagi agar bisa balik ke Yurop 🙂

  16. emang ya cahaya di eropa itu beda dengan cahaya di negara tropis kek Indonesia
    ga overexposure meski siang-siang
    cakep cakep banget foto di ljubljana om

  17. Aduhhh selalu mupeng abis baca cerita perjalanan kak Yayan. Kukira Eropa itu hanya kota-kota besar. Ternyata banyak kota yang aku nggak pernah dengar seperti kota ini menarik banget buat dijelajahi. Keren!

  18. Selalu terkesan sama hasil foto Kak Yayan, dan imagine ini take-nya gimana posisinya hehe. Kalo ceritaaaa selalu bikin ngiler. Juga khasssss, pelit pangkal meditnya itu :p

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s