Pelesiran

5 Alasan Saya Memutuskan untuk Masuk dan Mengeksplorasi Hawa Mahal

Judul tulisan ini mestinya bisa lebih panjang. Masih mungkin loh saya tambah beberapa kata lagi biar lebih heitz dan click bait. Mungkin jadinya seperti ini: “5 Alasan Saya memutuskan untuk masuk ke Hawa Mahal. No.3 Akan Bikin Hepi Syalalala Hingga Tanpa Sadar Joget-joget Keliling Pohon Kayak Pemain Pilem Bollywood.” –bhaique.

Aca! Aca!

Untuk kali ketiga, saya akhirnya kembali ke India. Sekali ini langsung  ke Rajashtan karena di situlah tiket promonya tersedia hahaha. Eh, tapi saya memang mau ke Rajashtan sih sejak pertama kali ke India. Dan, alhamdulillah akhirnya kesampaian. Nah, di hari kedua di Jaipur, saya masih punya waktu seharian sebelum kereta nantinya akan mengantarkan saya ke Jaisalmer.

Harusnya sih, sejak tadi malam, saya sudah loncat ke Jaisalmer. Sayang, karena status tiket saya masih RAC belum CNF, saya memutuskan untuk mengubah itinerary. Penginapan di Jaipur bahkan baru saya pesan beberapa menit sebelum pesawat saya terbang dari Kuala Lumpur.

Tadinya, saya mau ke Hawa Mahal di hari-hari terakhir saya. Tapi perubahan rencana mendadak membuat saya mengunjungi istana indah ini jauh lebih cepat. Saya sengaja keluar hostel agak siang. Langsung check out soalnya. Demi efektifitas, semua bawaan langsung saya bawa. Agak ribet, tapi saya jadi lebih hemat karena nanti dari kawasan Hawa Mahal, sayang langsung ke stasiun dan gak perlu bolak-balik ke hostel.

Hawa Mahal itu Murah

Saya tidak berencana untuk masuk ke dalam Hawa Mahal sebelum saya benar-benar tiba di sana. Yup, saya pikir dulu, cukuplah saya foto dari bagian depannya saja. Atau paling banter saya nikmati keindahannya dari kafe yang berada tepat di seberang jalan Hawa Mahal ini. Namun, begitu tiba di sana, barulah saya sadar bahwa ternyata istana ini gede banget!

Nah loket penjualan karcisnya berada di bagian samping bangunan utama.

Bajaj yang saya tumpangi berhenti tepat di gerbang dekat penjualan loket. Letaknya lumayan berjarak dari bagian depan utama Hawa Mahal. Makanya, kalau cari tiket dan pintu masuk di sana, gak bakalan nemu. Analogi yang pasnya ya kayak Monas deh. Bagi yang pernah ke Monas pasti tahu kalau pintu masuknya bahkan jauh dari sana, bukan?

Hawa Mahal terletak di deretan ruko dan pasar. Semerawut! Tapi, begitu saya masuk ke gerbangnya, saya merasa suasananya beda. Lebih tenang, hijau berpohon dan lebih tertib. Saya melirik ke konter loket. Ternyata tiket masuknya hanya 200 rupee atau sekitar Rp.40.000.

Hawa Mahal dilihat dari bagian belakang. Yes! ini bagian belakangnya.

Wah lumayan murah sih. Saya lantas beli satu dan yang bikin senang, saya gak harus menitipkan ransel dan bayar lebih untuk kamera saya. Penting! Tiketnya jangan sampai hilang, ya! Soalnya saat keluar akan diperiksa. Kalau tiketnya hilang, bisa-bisa disuruh beli lagi karena dianggap masuk secara ilegal.

Hawa Mahal Kaya Sejarah

Hawa Mahal pertama kali dibangun pad atahun 1799 alias 220 tahun lalu oleh Maharaja Sawai Pratab Singh yang merupakan cucu dari Sawai Jai Singh yang merupakan pendiri Jaipur. Dalam bahasa Inggris, Hawa Mahal berarti The Palace of Winds atau The Palace of Breeze. Uih, mantab ya! Trus, kenapa coba bisa disebut Istana Angin?

Jendelanya dilihat dari dalam.

Tuh jendelanya banyak bener, kan!

Bisa naik ke menara itu buat lihat pemandangan ke sekelilng.

Soalnya ada 953 jendela di istana ini! Jika dibuka semua, ya sama aja kayak AC sih, Angin Cepoi. Tak heran walau saya ke sana siang hari, tapi udaranya sejuk. Padahal gak semua jendelanya dibuka, loh! Tapi memang di bagian dalamnya ada satu ruang terbuka gitu sehingga angin dapat menerobos masuk dengan lancar.

Istana ini dibangun dengan menggunakan bahan batu pasir merah dan merah muda. Konon, istana ini dibangun karena Maharaja Sawai terinspirasi dengan Istana Khetri/Khetri Mahal yang ada di kota Jhunjhunu. Tapi, Hawa Mahal kayaknya lebih cakep, deh. Istana yang dirancang oleh Lal Chan Ustad ini terdiri dari 5 lantai yang masing-masing jharokha/jendela-nya dihiasi dengan kisi-kisi rumit yang indah.

Tuh kan istananya luas banget!

Duduk santai menikmati air mancur

Lorong-lorong bagian atasnya

Ternyata kisi itu ada maksudnya. Jadi, kisi dibuat agar wanita kerajaan dapat mengamati kehidupan sehari-hari warganya, termasuk ketika ada festival yang dilakukan di jalanan yang berada tepat di belakang Hawa Mahal.  Maklum, dulu ada peraturan ketat yang dinamakan “purdah” yakni larangan mereka tampil di depan umum tanpa penutup wajah. So, biar gak ribet, mereka bisa lihat dari jendela bagian belakang saja, yekan.

 “Hah belakang? Bukannya tadi dibilangnya depan?”

Nah, ini yang tidak banyak orang tahu. Eh termasuk saya juga ding sebelumnya hahaha. Jadi, bagian yang berada di sisi jalan raya ini sering dianggap orang bagian depan. Padahal itu adalah bagian belakangnya!

Hawa Mahal itu Indah

Soal keindahan Hawa Mahal sudah saya singgung bahkan sejak awal tulisan ini. Nah, melalui foto-foto ini, saya akan ajak kamu melihat lebih dekat keindahan istana yang menjulang setinggi 15 meter ini. Arsitekturnya sendiri khas perpaduan Hindu Rajput dan Islam Mughal. Hal ini ditandai dengan bentuk kanopi kubah, pilar bergalu, lotus dan pola bunga. Itu mencirikan Hindu Rajput.

Adegan ini sungguh merusak pemandangan.

Pintu yang ada di kiri bawah itulah jalan masuknya.

Pilar-pilar bagian dalamnya

Sedangkan, Islam Mughalnya tergambarkan dari pola lengkungan dan batu inlay-nya. Mirip seperti yang biasa ditemui di masjid-masjid gitulah. Dan, keberadaan pola lengkungan ini hampir merata ada di kelima lantainya. Tiga lantai teratas strukturnya memiliki lebar satu kamar. Makanya sebetulnya bagian ini kecil saja. Dan gak ada ruangan khusus di sana.

Nah, di lantai pertama dan kedua barulah lebih luas dan bahkan memiliki teras. Bagian inilah yang sepertinya dulu digunakan sebagai ruang pribadi penghuninya. Terlihat dari pilar dan koridor dengan ornamen yang khas. Dari sini, penghuni di dalam dapat melihat air mancur yang berada tepat di tengah-tengah istana bagian dalam.

Berbekal tongbro, “tolong bro!” hehe. Lumayalah ya.

Pemandangan dari atas ke sekeliling kota Jaipur. Cakeeep!

Ngeliat gak tangga yang menjulang tinggi itu? nah itu dia Jantar Mantar.

Oh ya, dari lantai paling atas, saya dapat melihat Jantar Mantar, sebuah area yang memiliki koleksi instrumen arsitektur astronomi yang dibangun oleh Mahaaja Jai Singh II pada tahun 1727. Saya juga ke sana, soalnya Jantar Mantar termasuk UNESCO WHS. Mengenai Jantar Mantar, akan saya tulis terpisah, ya!

Hawa Mahal Cocok Untuk Norak-norak Bergembira

Saat saya datang ke Hawa Mahal, pengunjung lumayan padat tapi masih aman terkendali hehe. Saya lihat ulasan Hawa Mahal di beberapa blog dan ebuseeet, rame bener! Haha. Nah, saat saya datang itu, lebih banyak warga lokalnya sih ketimbang turis asing.

Kayaknya turis asing lebih milih untuk menikmati Hawa Mahal dari luar atau dari kafe. Nah, soal kafe yang sebelumnya saya singgung ialah sederet kafe yang berada di seberang jalan bagian belakang Hawa Mahal. Untuk menuju ke sana, masuk saja lewat pintu yang ada di ruko bawah. Nanti akan ketemu jalan setapak kecil.

Bangunan tinggi bercat putih itulah deretan kafenya.

Ini pemandangan dari kafe. Bayangin sore-sore duduk di sini, nikmat bener!

Ada beberapa kafe di atas sana. Pilih saja sesuai selera. Saya sih dulu pilih makan di Wind View Cafe. Gak ada alasan khusus. Saya pilih karena pintunya yang pertama kali saya temui hehe. Lupa saya makan apa. Kalau gak salah sejenis mie dan minuman dingin. Harganya? Standar kafelah ya. Rata-rata makanan di sana dijual dengan harga awal 100 rupee.

Kok gak ajak saya sih norak-norak bergembiranya? haha

Petugas yang menjaga di menara.

Bagian atas sekali Hawa Mahal.

Ok balik lagi ke dalam Hawa Mahal. Nah, di sana kalian akan jumpa turis lokal yang akan datang secara bergerombol. Heboh deh saling foto walaupun yang difoto kadang suka gak jelas hahaha. Oh ya, warga lokal sih cukup bayar 50 rupee saja atau sekitar Rp.10.000. Sepertiga dari harga turis. Makanya banyak menarik turis lokal ya.

Hawa Mahal Tak Hanya Istana, Tapi Juga Museum dan Arena Pertunjukan

Hawa Mahal dikenal sebagai chef-d’œuvre Maharaja Jai ​​Singh karena merupakan istana favoritnya. Sekarang, ada bagian yang dijadikan museum. Tepatnya museum arkeologi yang menyimpan berbagai macam benda seni.

Koleksi bagian museumnya

Saya sendiri baru menemui museum ini ketika hendak pulang. Ternyata, benda-benda bersejarahnya dipamerkan di ruangan yang bersisian dengan lorong-lorong menuju pintu keluar. Ini bagian paling sepi di istana ini haha. Kayaknya orang gak begitu suka melihat patung/arca. Atau udah bosen? Ntahlah.

Selain museum, ada satu ruangan terbuka di lantai 2 atau 3 saya lupa di mana pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan drama boneka/puppet show. Pertunjukannya sih nggak semegah yang ada di Bagore Ki Haveli, Udaipur. Tapi lumayanlah kalau mau lihat boneka joget hehe. Omong-omong, saya sering menjumpai pertunjukan boneka ini di kota-kata di Rajashtan lainnya. Kayaknya udah jadi ciri khas negara bagian/provinsi Rajashtan kali ya.

Nah ini puppet shownya

Hampir 3 jam saya keliling di Hawa Mahal. Ya gak full jalan juga. Tapi saya suka duduk berlama-lama di kursi taman yang menghadap ke air mancurnya. Lumayanlah santai sambil makan biskuit hehe. Lebih asyik lagi duduk santainya sambil liat tingkah pola penduduk lokalnya wakakak.

So, bagi yang berkesempatan ke Jaipur, gak ada salahnya datang dan masuk ke Hawa Mahal ini loh.

Iklan

24 thoughts on “5 Alasan Saya Memutuskan untuk Masuk dan Mengeksplorasi Hawa Mahal

  1. Dua kali ke Jaipur, tetapi yang kemarin baru agak puas explore Jaipur. Agak puas yak ehehe. Sebab pas ke sana setelah mendarat di bandara dan berpeluh ria dari Amber Fort. Gotong ransel dengan suhu udara 45 derajat, rasanya sungguh nggak semangat menyelami sudut Hawa Mahal. Aku beli tiketnya tiket terusan dari Amber Fort. Sudah mau pingsan, lanjut ke kafe itu. Bukannya foto-foto, malah keasikan ngadem dan habis 50k untuk dua gelas banana shake wkwkwkwk. Giliran tenaga udah terkumpul, lah matahari tepat di belakang hawa mahal. Foto dari kafe sungguh backlight wkwkwkw.

  2. aku takjub krn bangunannya segede itu, tp bisa simetris banget yaaaa.. :O . Hebat memang arsitek2 di sana.. rata2 bangunan yg mereka buat bercirikan simetris gini..ga salah sih diksh nama hawa mahal. ngeliat bentuknya aja, udah kliatan ini istana bukan sembarangan :D. bucket listku kalo ke India nanti 😉

    • Iya mbak Fanny. Boleh banget nanti main ke Hawa Mahal, langsung blusukan ke dalam. India emang jagonya bikin bangunan simetris gitu ya. Taj Mahal itu dilihat dari berbagai sudut sama. Hebaaat.

  3. Aku sering banget ngelihat travelo blogger foto di depan Hawa Mahal, tapi jarang yang explore dalamnya. Gara-gara tulisan ini aku jadi gak penasaran lagi. Eh, masih penasaran deh. Emang wajib ngunjungin langsung 😀

    • Haha iya, jelas beda kalau datang dan lihat langsung di sana. Kayak Eifel, orang udah bosen liat di foto, tapi tetep aja kalau ke sana mesti pengen liat langsung yekan 🙂

  4. 5 alasannya bisa diterima om… apalagi alasan norak norak bergembiranya karena bisa masuk ke hawa mahal dengan harga murah, dan melihat yang indah dan menakjubkan disana… selama ini liat teman foto latar belakang bangunannya aja, kali ini bisa liat lebih spesifikasi…mantaplah!!

  5. Yes been there mas. Ke kafe2 di roof top nya ditunjukin sm org india yg ktmu d jln ktanya tenang gausah mkn dikafe gpp. Tp ujung2 dsruh mampir ke tokonya dan jd beli deh itu baju khas india dan akhirnya kami smua ber5 jd belanja dstu wkwkwkwk. Scam terselubung….

  6. Rajashtan itu negara bagian tempat Jaipur berada ya, mas? Masuk atau menikmati dar cafe, ada kesukaan tersendiri ya.

    Tapi kalau aku sih, melihat bangunannya yang megah dan arsitekturnya yang rumit, aku akan langsung memutuskan untuk masuk ke dalam. Hm, make sense kalau bagian yang dikira depan itu adalah bagian belakang istana. Karena keadaannya yang sebagai pasar, semrawut dan tempat rakyat jelata bertemu.

    Aku langsung membayangkan gadis-gadis istana itu melihat sobat misquen dari atas sambil berkata satu sama lain, “Yang tabah ya rakyat jelataku.” 😀

    • Iya betul Nugie. Jaipur masuk bersama beberapa kota lain. Jaipur, Udaipur, Jodhpur, Jaisalmer masuk Rajashtan.

      Hahaha iya bener masuk akal kalo itu bagian belakang. Aku mikir ini istana konsepnya kayak peacock. Jadi indahnya di bagian belakang haha. Bagian depan langsung ke jantar mantar.

  7. Hari ini lagi pusing memikirkan bagus ke mana kalau ke India lagi, eh pas banget baca tulisan mas yang ini hahahaha~ fix kayaknya saya akan mampir ke kota ini dan masuk ke dalam juga 😀 suka sama penjelasan mas soalnya, detail dan membuat penasaran hehehe. Thank you ya mas, langsung mau ubek-ubek archive blog ini siapa tau ada cerita India yang lain 😛

  8. Wah, beruntung banget sudah ke Hawa Mahal. Saya sering lihat foto tempat ini berseliweran di lini masa, hanya saja saya nggak tahu ini di India sebelah mana. Hanya tahu ini di India dan saya juga harus ke sana. ahahah

    Bagus banget omnduut tempatnya. Mampir ke sini sambil ada yang ngedongengin (guide) pasti asyik banget. Tempat dengan view bagus kayak gini pasti kaya banget akan cerita 🙂

    • Nah herannya, gak kayak tempat wisata umumnya di India, tempat ini aku gak nemu jasa guide. Biasanya dari pintu masuk aja udah banyak yang ngehadang haha nah ini nggak ada.

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s