Couchsurfing

Saat Harus Menjemput Couchsurfer di Kantor Polisi

IMG_20160615_195921

Pavel nganu (lupa nama panjangnya), Couchsurfer dari Belarus

“Halo, dengan bapak Haryadi?”

“Iya saya sendiri, pak.”

“Posisi dimana sekarang?”

“Saya sudah di depan Poltabes, pak.”

“Oke langsung masuk dan naik saja ke lantai 2 ya. Temannya nunggu di sini.”

Singkat, padat dan jelas. Itu adalah telepon yang aku terima pertengahan Ramadan lalu. Yang menelepon ternyata seorang polisi yang bertugas di Poltabes Palembang. Sebelumnya, oleh Pavel, bule asal Belarus, aku memang diminta untuk menjemputnya di sekitaran Poltabes. Namun sungguh aku tidak menyangka jika yang dimaksudkan olehnya ialah ia menunggu tepat di kantor polisi.

“Saya lagi makan malam di sini,” tulisnya di pesan singkat whatsapp sambil ngasih link berisi lokasi via google map. Beberapa hari sebelumnya Pavel sudah mengontakku melalui pesan di situs couchsurfing. Dia mengharapkan aku agar bersedia menampungnya 2 sd 3 hari. Perjalanannya sendiri akan dimulai dari kota Jambi dengan hitchhiking.

Di hari kedatangannya aku kembali mengontaknya. Bertanya perkiraan waktunya dia sampai di Palembang. Maklum saja, itu Ramadan. Aku sudah bilang jika dia sampai sebelum maghrib, aku akan menjemputnya. Jika tidak, aku pinta dia untuk menunggu di beberapa titik pertemuan yang aku sepakati (Unv Bina Darma, Unv Muhammadiyah atau RS Muhammadiyah). Lebih syukur lagi jika dia mendapatkan tumpangan yang bersedia mengantarkan dia sampai ke rumah. Ya, aku bisa tarawihan kan –pencitraan dulu, udah meyakinkan belom? Hihi.

Oalah dalah, kok ya ini malah nunggunya di kantor polisi, coba?

Saat aku penasaran dan nanya melalui whatsapp, jawabannya hanya, “I will tell you details later. This is actually a long story.” Hahaha. Semoga ceritanya nggak setebal novel Dan Brown.

Terus terang, aku nggak begitu suka berada di kantor polisi. Kesannya kaku dan jauh dari kesan bersahabat. Poltabes sudah sepi, aku sempat melewati penjara sementara untuk naik ke lantai 2. Di lantai 2 pun kosong. Hanya ada beberapa ruangan yang terlihat ada tanda-tanda kehidupan hehe. Setelah nyasar sekitar 10 menit, aku akhirnya menemukan ruangan tempat Pavel “ditahan” 😀

“What are you doing here, Pavel?”

Sapaku saat berjabat tangan dengannya. Ada 5 petugas polisi berpakaian preman di ruangan itu (btw, kenapa sih dibilang pakaian preman? Kenapa gak disebut berpakaian narsis gitu? Hehe), aku berkenalan dengan semuanya.

1

Narsis bareng pak polisi 🙂

Tanpa sempat aku bertanya, seorang petugas bernama pak Erwin langsung memberikan penjelasan.

“Jadi dia tadi diantar sama seorang supir ke sini. Kata si supir, bule ini tersesat. Khawatir bakalan kenapa-kenapa, makanya dititipkan di sini.”

Aku angguk-angguk.

“Katanya dia mau ke Lampung ya? Tadi kami tawarkan untuk diantar ke stasiun tapi dia nggak mau.”

Haha, ya jelas nggak mau, wong dia mau istirahat dulu di Palembang. Aku, Pavel dan semua polisi sempat berbincang beberapa saat. Intinya aku ditanyain ada hubungan apa sama si bule (ya kali kami sodara yang lama terpisah hwhw), trus kenal dimana, berapa lama dia akan stay di Palembang hingga tujuan bule datang ke Indonesia. Sebelum pulang, pak Erwin sempat meminta KTP-ku.

“Buat berita acara,” ujarnya.

Sayangnya aku nggak bawa. Lha wong itu siap-siap mau ke Masjid kok rencananya –pencitraan lagi hehe. Jadilah, aku meninggalkan alamat rumahku, no telp rumah, alamat blog sampai nama akun FB, Twitter dan Instagramku. Ya lumayan nambahin temen (baca : followers) muahaha.

Sebelum berpamitan, Pak Erwin sempat memberikan bungkusan makanan kepada Pavel.

“Tadi dia sudah kami ajak makan nasi bungkus. Ini kami belikan pempek, siapa tahu dia masih lapar.”

Oalah, kalau pak polisi baiknya kayak gini, Palembang bisa bebas darurat kelaparan ya, kan? Hihi. Jadilah, bungkusan berisi pempek itu dibawa pulang ke rumah. Endingnya sih aku yang makan, soalnya Pavel bilang udah kenyang. Ya rezekiku dong namanya? Hehe. Malam itu Pavel tidur dengan nyenyak (walau tanpa kelambu) sampe-sampe saat besoknya aku pergi gawe dia belum bangun hehe.

Si Bule dan Sepotong Kue Ulang Tahun

“Besok temennya ikutan puasa nggak, Yan?” tanya ibukku.

Hehe, ibuk teringat sama Julian, bule asal Oz yang tinggal di rumah kami dan ikutan nyoba puasa tahun lalu. Aku sendiri sempat bertanya kepada Pavel apakah dia tahu tentang puasa. Ternyata Pavel sempat bekerja di Turki selama beberapa bulan dan sedikit banyak pengetahuannya terhadap Islam lumayanlah.

Keesokan harinya, Pavel ikutan berbuka puasa bareng kami sekeluarga. Btw, selama Ramadan 2016 ini, aku sukses menampik semua undangan ajakan buka bersama di luar. Alhamdulillah, buka puasa di rumah bersama keluarga itu lebih priceless rasanya. (stt, selain penghematan juga, lumayan buat modal pelesiran eh nikah hehe).

Nah berhubung meja makannya nggak muat, jadilah makannya ala ngidang di lantai seperti ini. Beruntung lagi, Pavel makannya nggak milih-milih. Apa yang dihidangkan dicoba sama dia. Bahkan nih bule lumayan tahan sama sambal. Baguuus!

IMG_20160615_181518

Makan makanan sederhana 🙂 tapi dijamin seru!

Di foto kelihatan rame banget ya? Kebetulan lagi keponakan yang paling kecil ulang tahun yang  ke-5. Jadilah mereka ikutan buka puasa di rumah. Nah, salah satu alasan kenapa aku rela menerima tamu asing (gak melulu dari luar negeri, jangan salah. Aku bukan bule mania) yakni biar sodara dan keponakan terbiasa berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal.

IMG_20160615_185146 (1)

Anggota keluarga baru : Hello Kitty :v

“Pavel nanti coba ajak keponakanku ngomong ya!”

Ya biasanya gitulah, aku meminta kepada tamu yang datang untuk berinteraksi dengan sodara dan keponakan. Untuk keponakan yang besar –Rais, karena dia les bahasa Inggris, jadi untuk pertanyaan-pertanyaan sederhana ya bisalah dijawab. Yang penting berani dulu, kan? Gak ngomongin benar-salah. Lha wong aku aja bahasa Inggrisnya masih suka ngelantur. Mau bilang saya lapar, eh bilangnya I love you –kalo ngomong sama dik Chelsea Islan :))

Untungnya Pavel ini pembawaannya ramah. Jadi keponakan juga gampang akrab. Saat disuruh ngasih kue ulang tahun, eh si Ciput –Syifa, malah berinisiatif menyuapin. Hehe, serulah!

IMG_20160615_184926

Omnya sendiri aja malah gak disuapin >.< 😀

Petualang Tangguh

Terhitung sudah 1 tahun si Pavel nggak pulang ke negaranya. Aku suka geleng-geleng sama bule yang daya jelajahnya luar biasa seperti Pavel ini (rata-rata bule yang ke rumah ya gitu, udah traveling setidaknya lebih dari 6 bulan).

Bahkan selepas dari Indonesia, Pavel akan mendatangi benua Amerika dan mengeksplor Amerika Selatan.

“Banyak duit ya bulenya?”

Hmm, yang jelas mereka punya modal buat perjalanan. Pavel ini pegawai IT di Belarus yang resign demi passionnya menjelajah dunia. Untuk berhemat, ya dengan cara hitchhiking dan couchsurfing itu. Di malam terakhir dia di Palembang aku kasihan karena dia belum jalan kemana-mana. Jadilah aku ajakin ke Jembatan Ampera. Masa iya udah ke Palembang tapi gak ada foto selfie sama Ampera. Apa kata dunia? Hehehe.

Pavel meninggalkan Palembang dengan menumpang kereta. Tujuan selanjutnya ialah kota Bandar Lampung hingga kemudian dia keliling Jawa overland dan akan meninggalkan Indonesia dari pulau Bali. Ada kejadian lucu juga saat di stasiun. Begitu masuk ke ruang tunggu, Pavel malah duduk padahal waktu keberangkatan sudah dekat.

IMG_20160616_081054

Siap-siap berangkat. Pas difoto ni bule gayanya candid gitu hehe

Seorang petugas menyuruhku untuk masuk ke dalam dan mengantarkannya ke gerbong yang sesuai. Makanya aku bisa ambil foto kayak gini hehe. Yo wis, aku beruntung bisa bertemu dengan petualang tangguh seperti Pavel ini. Secara nggak langsung cerita-cerita perjalanan mereka menjadi inspirasi buatku. Sampai bertemu lagi di lain waktu dan tempat, dek bro! hehehe.

Iklan

109 thoughts on “Saat Harus Menjemput Couchsurfer di Kantor Polisi

  1. seru ya mas ! aku jg seneng tiap ngehost anak CS gt (bule/lokal) sll ada cerita baru. kemarin aku abis ngehost cewe dr Kazakhstan, dia jg hitchhike selama travelling. di Semarang cm semalem sebelum ke Jakarta lanjut ke Sumatera hitchhike jg. Kebetulan ex ku org Argentina dia jg travelling gt hitchhike, kerja di IT sekolah gt, setahun kl travelling bs 6 bulan. kalau di sini wes dipecat ya xD belajar banyak dr dia ttg travelling, seru lah pokoknya
    *ah jadi gagal move on*

    • Lha ini gagal move on sama orang Argentina ya? hahaha. Aku pernah sekali ngehost orang Argentina, dia datang sama pacarnya (yang dibilang istrinya). Aku kan gak mau terima pasangan kalo gak resmi, eh si cewek keceplosan kalo mereka cuma pacaran. Terserah deh, asal gak bikin kehebohan di rumah karena status pernikahan palsu mereka itu aja hehehehe

  2. Baca ini jadi pingin nangis, jadi inget ceritanya …… ah sudahlah #moveon.
    Jemput juga di kantor……………..ah Sudahlah. Apalagi pavel naik kreta, duh tambah…… ahhhhhh Sudahlahhhhhh.

    Aku yang “bule” India ini juga boleh kan nginep dirumahmu? plus disupain kue ama ponakanmu? #ngarep

    • Ih komen kok bikin kepo gini. HARUS CERITA! *sambil makan pempek ya nanti mbak Kajooool. Di Palembang yaaaah, ajak adekku yang ganteng itu yaaa.

      Nanti tak beli kue ulang tahun, pura2nya aku yang ulang tahun. Asal kadonya lauk Karim. Oke sip.

      • CERITA APAAAAA ???????? klo cerita sambil makam pempek takut cukonya lebih berair gegara air mata eaaaaaaaaaaaaaaaaa.

        Karim? Jadi kangen makan di karim 😦

    • Dia ada luka di pahanya mas. Hmm, katakanlah bisul 🙂 dia agak malu ngelihatinnya. Aku bilang duduk aja kayak gini (sambil peragain duduk yang normal) tapi jawabnya, “aku cukup nyaman duduk begini, gak apa-apa” gitu. Kayaknya dia kebanyakan makan telor di Indonesia :))

    • Kenanya pas di Riau katanya. Udah ke dokter dan ada obatnya sih. Kalau dokter sini bakalan disedot itu. Tapi dia gak mau ke dokter (sudah ditawarin sama ayah sih).

  3. Hahaha. Duh serunya Oooom. Sebenarnya ya, Kantor Polisi itu tempat yang selalu dianggap angker nakutin tapi lucunya pas didatangin ternyata polisi2nya pada suka guyon juga. Aku kaget dulu pertama masuk udah diajak guyon. Trus akunya yang kaku formal gitu, merekanya malah becandaan. Hahaha.

  4. ya ampuun Rais udah gede ya..
    masih pengen bgt “nampung” tamu di rumahku, tapi ya itu rumahku jauh dari tempat wisata/ terminal manapun sih, mana macet bgt, kesian nanti yg nginep

  5. Udah gw tungguin dari kemaren ceritanya.. ternyata segini aja.. kirain dia minta dcariin jodoh gtuu… aahhh kecewa… 😂😂

  6. Omnduuut, Bulan puasa tahun kemarin rumah ibu mertuaku juga kedatangan tamu dari Jerman namanya Tamina. Adik iparku yang ikut couch surfing itu. Lumayan lama loh di rumah ada kali dua mingguan.

  7. Wuih, seru ya jadi host Couchsurfing? Dia ke Palembang nebeng-nebeng dari Jambi? Mudah-mudahan yang ditumpangi truk sawit. Gak bisa bayangin kalo dia numpang truk karet 😀

    • Hahaha, dia ikutan mobil ekspedisi seingatku mas Eko. Sama dia udah dibilang bahwa turun di salah satu titik temu yang sudah disepakati, tapi si supirny (karena kendala bahasa) khawatir makanya diangkut ke kantor polisi hwhwhw

  8. Pavel kaosnya cuma 1?

    Jadi ingat teman traveler manca, kerja 6 bulan, plesiran 6 bulan, kerja lagi 6 bulan, plesiran lagi 6 bulan. Sekarang kerja dulu setahun karena mau plesiran setahun. Andai semudah itu cari kerja di Indonesia 😀

    • Tasnya penuh haha. Dia kan 3 hari tuh di rumah, aku udah tawarin buat pake mesin cuci. Eh dia cuma ngasih beberapa baju kotor aja (kebetulan ada yang bantu cuci di rumah), aku baru ngeh dia pake baju itu-itu aja *seingatku sih ganti baju juga dia, pas foto aja kebetulan sama hehe.

      Kalau dicermati, itu kaosku juga sama dengan postinganku setahun lalu muahahaha

  9. “… salah satu alasan kenapa aku rela menerima tamu asing (gak melulu dari luar negeri, jangan salah …”

    typo ya yan, tamu domestik?
    kedatengan tamu dari jauh pasti bikin baper pas farewell ..
    hug hug

  10. Banyak cerita yah temen couchsurfing-mu, Yan. Pas ketemu peyoga dari Rusia aja udah bisa nangkep ini pasti punya cerita, mana dateng pas bunting lagi hahaha. Bikin buku gih cerita temen couchsurfing dikumpulin semua. Ditambahi tulisan tentang bloger Solo yang sempet ngerepoti keluargamu jg boleh loh hahaha.

    • Maunya begitu kakak Halim. Biar kayak mas Ariy dengan buku Nomadic Heart-nya. Tapi pengalaman jadi guestnya yang belom banyak. Nanti kalo udah banyak baru deh bikin 🙂

  11. polisinya baik ya ngasih makan segala, pengen sih traveling berbulan-bulan dan bertahun-tahun kayak Pavel ini pasti seru, kalo nyali ada tapi budgetnya sama izin ortu itu yg blm ada hahaha. asyik ya jadi host CS punya banyak pengalaman bergaul dgn byk orang dr berbagai bangsa

  12. Lega rasanya saat tahu ada orang yang mau bantu pejalan seperti yang dilakukan pak supir. Mungkin bapaknya khawatir ya Pavel nyasar makanya dibawa ke kantor polisi.

  13. Hahaha.. “kenapa disebut polisi berpakaian preman sih?” Itu pertanyaanku sejak kecil dulu. Aku dulu ngebayangin pakaian preman itu yang menyeramkan, ternyata baju kasual aja seperti kita rakyat jelata pada umumnyaa.. :p

    Aku juga sering banget ketemu bule yg travelingnya lama.. bulanan, bahkan bertahun2. Enaknya kalau mereka dari negara maju, nabung sekian2 aja cukup buat jalan2 di negara berkembang macem kita ya. Lah kita kalau mau ke Eropa misalnya, kebalikannya.. nabung gak seberapa tp biaya hidupnya jauh lbh mahal dari di sini. Tapi kembali lg semua ttg pilihan yaaa. 🙂

    Btw seru kalau di rumah ramai sama keluarga. Couchsurfernya bisa berinteraksi dan kenal lebih banyak orang. 🙂

    • Aku ngobrol banyak tentang negaranya. Ternyata dia bilang, Belarus itu ya nggak kaya-kaya banget. Dan ternyata penghasilannya juga sama kayak orang Indonesia. (hmm gak jauh beda deh hehe). Dan aku tanya lagi, apakah umum di Belarus orang traveling lama seperti halnya traveler asal Eropa lainnya? (seperti Jerman, Belanda dsb) dan dia jawab nggak. Belum banyak orang yang traveling seperti dia. Bahkan adiknya pun harus “pindah” ke Polandia untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik. (sedangkan temanku lainnya orang Polandia malah pindah ke Belanda untuk alasan yang sama haha. Perbedaan warna “rumput” ya Cha)

      Iya, kita keluarga besar (keluarga intinya aja udah rame). Seneng kalo keluarga di rumah mau berinteraksi sama warga asing (bule). Ayah dan ibu yang gak bisa bahasa Inggris pun mulai pede sekarang nanya-nanya walaupun hal yang umum.

      Inget banget, ibu dulu gak pernah mau terima tamu bule. “Ibu bingung kasih makan apa.” Saat dijelasin bahwa makannya sama aja (dan bule pertama yang nginep itu gila banget pempek) ibu baru welcome hwhwhw (selama ini tamu lokal aja yang diterima). Bahkan kalo dibeliin roti nggak disentuh. Lah iyalah ya udah bosen.

      Cuma kadang ada juga traveler yang masih sangat kebaratan. Agak kurang sopan, cuek dan keliatan banget kurang bisa berbaur ke keluarga host. Kapan-kapan aku cerita tentang ini 🙂

      • Oh dari Belarus yaa.. Iya bener, di Belanda banyak mahasiswa dari Eropa Timur, mungkin di negara2 tetangga Belanda juga banyak. Karena ya di Eropa sendiri beda2 kondisi ekonominya. Hehe.
        Soal makanan itu emang hal mendasar bgt ya, kekhawatiran itu dialami juga oleh keluarga angkatku di Bawean waktu mau terima aku tinggal di rumah mereka. Katanya takutnya orang kota nggak cocok sama makanan orang desa. Alhamdulillah karena aku pemakan apa aja jadinya mereka ya biasa juga. 😉
        Ditunggu cerita lainnya. 😀

    • Haha, nah tuh, ternyata orang desa pun mikirnya gitu. Padahal makanan di desa itu enaknya gila-gilaaaan 🙂

      Sip, nanti ditulis lagi pengalaman CS yang lain.

  14. Wuih, bisa bisa punya tamu kaya bule gitu, sesuatu banget. BTW kenapa disebutnya bule ya? Orang bule sebut kita pribumi dong 😀 (*gagal fokus)
    Nice share..

  15. loooalah… baru ngeh, ternyata orang palembang. bulan lalu udah mo fixed ke palembang om.. tapi gagal karena terpedaya oleh bandung. eh next time ya aku ke palembang, kita meet up ya om…

    pamer blog ah, walau baru jadi 1 dan masih di revisi kiri kanan atas bawah….

  16. Oalaaah.. Dek bro pernah mampir ke Riau tho? Pantesan kayaknya familiar liat wajah dek bro, lagi muter2 kayak orang bingung di pasar kodim, akunya lagi terburu-buru jadi gak bisa SKSD. Klo gak salah awal mau puasa deh #sokyakinkepekanbaru
    Btw, asyik banget pak polisinya. Next ke Palembang boleh dong ikutan daftar kayak mbak Donna, barang 3-4 hari aja. Hehehe..

  17. Ping-balik: Momok Itu Bernama : Bahasa Inggris | Omnduut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s