Pelesiran

From Jammu To Srinagar : Jalan Panjang Menuju Secuil Surga di Dunia

DSC_1026

.

“Hey, what is your name?”

Seorang pemuda nampak mensejajarkan langkahnya denganku. Hari semakin gelap saat itu. Pikiranku sedikit kalut. Terus terang aku tidak terlalu ngeh terhadap kehadirannya, juga terhadap pertanyaannya. Hanya satu yang ada di pikiranku saat itu yakni bagaimana caranya aku harus keluar dari kota ini. Secepatnya!

Oh sorry, my name is Haryadi,” jawabku kelu.

Where are you come from, Haryadi,” tanyanya kembali.

I’m from Indonesia by the way,” jawabku lagi.

Oh my brother,” sahutnya ramah sambil berjabat tangan dan menggenggam erat tanganku. Walaupun hampir tidak ada cahaya saat itu, sekelebat aku melihat senyuman tulus dari bibirnya. Dia lantas memperkenalkan dirinya, “my name is Radja. And, Haryadi… do you believe me?”

Heh? Apa maksudnya coba? Tahu-tahu nanya apakah aku percaya terhadapnya atau tidak. Terus terang, sejak hampir kerampokan di Delhi, aku terus mengukuhkan sebuah prinsip di dalam hati dalam perjalanan ini. Don’t trust anyone! Namun entah mengapa, naluriku berkata lain kali ini. Seketika bibirku berujar, “Yes, I believe in you.”

“If so, please follow me!” 

Aku lantas melangkahkan kaki mengikutinya tanpa ragu.

*    *    *

Kenapa India?

Terus terang, ketika sebagian orang tahu mengenai rencana perjalananku ke India, rata-rata mereka bertanya hal yang sama. “Kenapa memilih India?” Apa spesialnya melakukan perjalanan ke negeri yang terkenal kusam, tidak aman dan jorok itu? Apa karena kepincut beberapa serial TV yang belakangan meledak di Indonesia?

Haha, terus terang, aku sendiri agak sulit menjawabnya.

DSC_0108

Keindahan Mughal garden. Serasa di taman-taman khayangan 🙂

Yang jelas, aku sudah cinta negara ini sejak lama. Bisa jadi awalnya karena gempuran film-film bollywood yang begitu berjaya di akhir tahun 1990-an hingga tahun 2000-an. Walaupun terlihat cliché (misalnya saja ketika inspektur kepolisian kalah dengan jagoan utama dan selalu datang belakangan) tapi tetap saja masa kecilku terasa menyenangkan dengan keberadaan film-film “nggak mutu” itu. 🙂

Baru kemudian, di era baru perfilman bollywood, nama Shah Rukh Khan, Kajol dan Rani Mukherjee muncul. Wajah perfilman bollywood ikutan berubah dan terus bergerak maju. Tak ayal, kegemaranku terhadap kebudayaan India yang ditampilkan melalui filmnya semakin menjadi-jadi.

Namun…. Sebetulnya itu bukan alasan utama.

Seperti apapun penolakan sebagian kecil orang terhadap negeri Hindustan ini, aku tetap menganggap India itu indah. Terlampau indah bahkan hanya untuk dirasakan melalui panca indra manusia. Hanya orang yang pernah melihat langsung Taj Mahal yang tahu betapa agungnya bangunan yang dibangun atas dasar cinta itu. Hanya orang yang sudah mendatangi Gulmarg yang tahu betapa mempesonanya pegunungan bersalju dan betapa lembutnya butiran salju di puncak pegunungan gugusan Himalaya itu.

DSC_0467

Gunung es dari kejauhan 🙂

Hanya orang yang sudah mendatangi taman-taman Mughal yang indah yang dapat mencium segarnya aroma pegunungan. Hanya orang yang sudah mendatangi reruntuhan Qutb Minar yang tahu betapa suara-suara tupai yang lincah berlari ke sana ke mari itu terdengar sangat berirama dan menyenangkan. Dan… hanya orang yang sudah mengecap makanan khas Srinagar yang tahu beratapa nikmatnya olahan masakan warga India tersebut.

Intinya, tidak ada alasan untuk takut mengunjungi India.

Tapi, India itu kan jauh? Tiketnya pun mahal. Lantas, bagaimana dengan keamanan di sana? Katanya tindak kejahatan di sana sangat tinggi. Juga, katanya kalau jalan ke India juga harus siap sakit. Minimal diare karena air di sana sangat tidak higienis. Lalu, maaf, orang India itu kan bau-bau. Bisa-bisa sesak napas kalau berada di dekat mereka. Juga, perangai orang India itu kan kasar-kasar. Ngomong dikit kena bentak.

Hei hei hei, semua kekhawatiran itu bahkan dapat terjadi di depan rumahmu sendiri!

Mencari Teman Jalan Ke India

Keinginan untuk segera menjelajah India terasa begitu menggebu-gebu beberapa tahun belakangan ini. Walau begitu, sebagai traveler pemula, nyaliku ciut juga untuk melakukan perjalanan ini seorang diri.  Beberapa teman sempat aku kontak, “eh kalau nanti ke India, ajak aku ya!”

Beberapa menyambut niat itu dengan baik. Walau sebagian besar hanya menanggapinya dengan jawaban normatif semacam, “iya nanti dikasih tahu.” Walaupun pada akhirnya tetap saja mereka jalan aja ke India tanpa mengajak aku. Sedih? Iya dong, soalnya kan udah ngarep banget bisa diajak. Hahaha, tapi bekalangan aku mikir, lha siapa aku? Wajar jika mereka berpikiran bisa-bisa aku menjadi beban mereka dalam perjalanan.

DSC_0953

Hujan-hujanan di atas shikara, sampannya masyarakat Srinagar. Danau Dal nampak begitu harmonis dengan alam

Tuhan Tahu, Tapi Menunggu…

Beruntung, belakangan aku menemukan dua travelmate yang memiliki semangat yang sama denganku. Mereka berdua ialah Indra & Ahlan. Kami yang tinggal di 3 kota berbeda, yang belum pernah sekalipun bertemu tiba-tiba saja  sepakat untuk melakukan perjalanan bersama. Komunikasi itu berjalan dengan sendirinya. Dimulai saat saling berbagi informasi mengenai India hingga kemudian saat-saat begadang bersama demi mendapatkan tiket pesawat murah yang akan menghantarkan kami menuju India.

Perjalanan yang tergolong nekat!

Bagaimana jika selama di perjalanan masing-masing dari kami bertiga tidak menemukan kecocokan coba? Atau, bagaimana jika salah satu diantara mereka berdua ternyata psycho? Hahaha. Kekhawatiran yang terlalu berlebihan tentu jika sudah begitu. Yang jelas, dari jeda waktu pembelian tiket hingga keberangkatan, kami isi dengan diskusi tiada henti. Masing-masing dari kami berusaha untuk meng-klop-kan diri masing-masing. Dan, lihatlah kami… kini kami terdampar di kota asing bernama Jammu di Utara India. Jammu sendiri bukanlah kota yang menjadi tujuan kami. Tidak ada “apa-apa” di sini. Perjalanan kami menuju sekeping surga di dunia masih sangat panjang!

*   *   *

“Sir, we are looking for a bus to go to Srinagar tonight.” Tanyaku ke sebuah loket bus yang berada di seberang jalan stasiun kereta kota Jammu.

“No, there isn’t bus to Srinagar today,” jawab petugas bus lempeng.

“Hah? what do you mean with ‘there isn’t bus today’?”

“I mean, the streets are closed. And the road to Srinagar only be opened tomorrow.”

Seketika, kami bertiga lemas mendengar kabar itu. Kami baru saja menempuh perjalanan panjang nan melelahkan menggunakan kereta api dari kota Amritsar menuju Jammu. Harapannya, begitu sampai, kami dapat segera meninggalkan Jammu dan bergegas menuju Srinagar malam itu juga. Namun, perjalanan tak selamanya mulus, bukan?

DSC_0287

Menuju puncak Gulmarg. Seolah diajak menembus awan di atas ketinggian 13.500 kaki.

Mengenai apakah kondisi ini sudah berlangsung lama atau baru diberlakukan, kami tidak begitu yakin. Yang kami tahu, sejak banjir besar melanda kota Srinagar setahun sebelumnya, kondisi jalan di sana memang banyak jalan yang rusak. Nah bisa jadi pemerintahan setempat memberlakukan buka-tutup jalur kendaraan karena perbaikan jalan terus dilakukan. Sialnya, kami sampai di Jammu di hari yang salah. Kami tiba di saat jalur menuju Srinagar ditutup.

Tak hilang akal, kami coba mencari operator kendaraan yang lain. Naas, semua mengatakan hal yang sama. Tidak ada yang dapat melintas pada hari ini.

“Hei, I can take you to go to another bus terminal,” ujar seorang pengemudi bajaj.

Ntah datang dari mana supir bajaj ini, yang jelas dia sudah cukup lama memantau pergerakan kami. Jujur saja, bisa jadi itu hanya akal-akalan si pengemudi bajaj. Walaupun ragu bakalan menemukan bus yang dapat mengantar kami ke Srinagar, namun tak ada salahnya mencoba, bukan? Ketimbang kami mentok di terminal Jammu dan tidak dapat berbuat apapun.

Perjalanan menggunakan bajaj ditempuh dalam waktu kurang dari 20 menit. Untuk jarak sedekat itu kami harus merogok kocek 100 rupee. Harusnya bisa lebih murah, namun sekali lagi, kami sudah terlalu lelah untuk berdebat. Kami hanya ingin mendapatkan kepastian secepatnya.

Begitu turun di terminal, segera saja, 3 lelaki berwajah asing yang memanggul ransel berukuran besar menjadi rebutan para calo. Semua berusaha mendapatkan perhatian kami. Beberapa dengan serta merta berteriak, “hei hei, trust me, you can go to Srinagar tonight!” takkala mereka tahu kami mencari bus menuju Srinagar.

Kami lalu masuk ke dalam sebuah kantor penjualan tiket. Ternyata…

Sorry, the man who told you in station was right. There isn’t bus to Srinagar today.”

Hiks! Gimana nggak makin galau coba? Trus itu tadi calo yang yakin bilang bisa menyediakan bus untuk malam itu juga lari ke mana sih? –mau tak kecup pake lipstik harga 50 ribu tinta pemilu rasanya.

Trust me, the first bus to go to Srinagar only will leaving in early morning. I sell the tickets.”

Setelah berdiskusi, kami bertiga lalu sepakat membeli tiket ke operator bus tersebut. Itu pun kami lakukan setelah kami bertanya lagi di luar apakah benar tidak ada bus ke Srinagar dan memang semua orang yang kami temui berkata hal yang sama.

DSC0290322

Tulip garden. Tepat berada di kaki gunung kota Srinagar. Sementara yang di India dulu, semoga kelak bisa yang ke Belanda atau Turki 🙂

Maghrib menjelang, kami bertiga sudah sangat lelah, lapar dan rasanya hopeless sekaligus merutuki kelalaian kami karena tidak mencari informasi mengenai buka-tutup jalur ini. Kami lantas masuk ke sebuah kedai muslim dan mencicipi nasi biryani dengan lauk mutton atau domba yang dimasak kari sebagaimana makanan khas India Utara. Rasanya sangat lezat. Terlebih disantap di saat kelaparan dan lelah seperti itu.

Begitu selesai, kami berkeliling ke seputar terminal. Niatnya mencari penginapan. Anehnya, di Jammu tidak semua penginapan diperbolehkan menerima tamu asing. Alamak! Peraturan dari mana pula itu! Eh jadi ingat, di Delhi kami juga sempat kesulitan mencari penginapan. Ntahlah, sepertinya ada regulasi khusus dari pemerintah sehingga hanya hotel-hotel tertentu saja yang diperbolehkan menerima tamu asing.

In case jika kami tidak menemukan penginapan, sepertinya kami akan bermalam di terminal bus saja.

Saat berkeliling, kami melihat keramaian di sebuah kantor penjualan tiket. Ternyata ada operator bus yang menyanggupi dapat mengantarkan penumpang menuju Srinagar dan akan berangkat pukul 10 malam itu juga!

Duh, bagaimana ini? Tiket bus untuk besok kan sudah dibeli?

Coba batalin aja, Yan,” saran Ahlan.

Bersama Indra, aku lalu mendatangi operator bus sebelumnya dan meminta agar diperbolehkan membatalkan tiket yang kami beli kurang satu jam sebelumnya. Mengingat sebelumnya dia haqqul yakin bahwa tidak akan ada bus yang berangkat, kan? Eh nyatanya ada. Itu berarti dia sudah berbohong kepada kami.

Sure, but you’ll be charged a fine of 500 rupees.”

Alamak! Mahal amat cancelation fee-nya. Yakni lebih dari setengahnya. Aku berusaha bernegosiasi dan  memohon agar ia menurunkan sedikit dendanya, namun si operator ini berada di atas angin. Tatapan mata dan senyum aneh yang terlihat di bibirnya seolah berkata, “take it or leave it.”

Dia menang!

Senyum jelas mengembang dari bibirnya takkala mengembalikan sisa uang kami yang telah dipotong lebih dari setengahnya itu. Lupakan serpiring nasi biryani dan semangkuk mutton curry, diperlakukan semena-mena seperti ini membuat aku menjadi lapar kembali! –Eh. Ah sudahlah, semoga uang itu menjadi berkah buat usahanya.

DSC_0422

Penduduk setempat menyebutnya “Switzerland View”. Daerah bernama Pahalgam ini memang indah!

Di kantor operator bus lain itulah untuk pertama kalinya aku melihat Radja. Berbeda dengan orang India kebanyakan yang berkulit gelap dan cenderung pendek, Radja adalah representasi pemuda tampan khas utara India. Dia nampak melakukan perjalanan bersama seorang laki-laki (yang belakangan kami ketahui adalah Jamal, kakaknya). Mereka berdua juga berupaya untuk mendapatkan kendaraan yang sama menuju Srinagar malam itu.

Operator bus lalu menjelaskan, bahwa kami akan diberangkatkan tepat pada pukul 10 malam dengan sebuah mobil. Bersama kami, Radja dan kakaknya serta beberapa orang dari Srinagar juga sedang mencari keberuntungan yang sama. Kami harus membayar biaya kendaraan lebih mahal. Tak apa, asalkan kami bisa berangkat dan menghemat akomodasi. Lagipula, kami sudah tak sabar untuk segera menjejakkan kaki di Srinagar.

Tepat pukul 10, mobil siap berangkat. Aku sudah sangat lelah waktu itu. Begitu mobil berjalan, inginnya aku dapat segera tertidur. Namun nyatanya tak berapa lama mobil berjalan, aku dikejutkan oleh sebuah suara…

“Get out!” teriakan penjaga perbatasan menyadarkan aku dari tidur yang belum seberapa nyenyak.

Petugas perbatasan dengan tampang seram dan masing-masing memegang tongkat itu bahkan tak segan-segan memukuli kap depan mobil kami. Terus terang, suasana agak mencekam. Terlebih aku, Ahlan dan Indra tidak tahu apa yang dibicarakan. Petugas itu memaksa untuk supir segera turun. Mereka berbicara menggunakan bahasa India atau urdu. Ntahlah, yang jelas penolakan petugas perbatasan memberi sinyal buruk kepada kami semua.

????????????????????????????????????

Es di mana-mana. Sonamarg, dengan suhu minus

Oh Tuhan, apalagi yang akan kami terima sesudah ini?

Supir mengalah dan memundurkan kendaraannya. Walau begitu, supir bukannya tidak berusaha. Beberapa kali, begitu melihat cela, sopir menggerakkan kendaraan demi menembus perbatasan. Berkali-kali mencoba, berkali-kali juga dia gagal. “Ah ternyata semua orang benar, tidak ada yang bisa melalui perbatasan malam ini,” batinku.

Karena petugas perbatasan terus memantau kendaraan kami, supir lalu mengarahkan kendaraan dan menyembunyikan kendaraan di balik lembah. Dari jauh terlihat beberapa mobil yang melintas masuk ke arah kota Jammu. Aku memandang dengan lirih.

Tahu-tahu azan subuh berkumandang. Aku melirik handphone, hampir pukul 5 pagi. Tak terasa ternyata 7 jam sudah kami menunggu di dalam mobil tak jauh dari perbatasan. Aku memandang wajah-wajah yang ada di dalam mobil. Semua nampak lelah, tak terkecuali aku sendiri.

Antiklimaks!

Supir menyerah dan mengarahkan mobil kami kembali ke terminal bus. Uang yang sudah kami bayarkan dikembalikan (lagi-lagi disertai potongan beberapa puluh rupee). Lantas, bagaimana selanjutnya? Hari sudah berganti, dan harusnya pagi ini jalur menuju Srinagar sudah dibuka, bukan?

Pada saat inilah Radja menawarkan bantuannya.

“If you trust me, you can follow me, brother,” ajaknya lagi.

Sebetulnya, bisa saja kami menolak ajakan Radja dan Jamal. Kami bisa mencari bus lain menuju Srinagar. Namun, jika begitu, kami harus mengulang semuanya dari awal. Sekarang, kami serahkan perjalanan ini kepada dua kakak beradik ini. Sebuah keputusan yang tidak akan pernah kami sesali dan menjadi pengobat kekecewaan karena sudah menghadapi situasi sulit sehari sebelumnya.

DSC027322

Ahlan, Sunil, Indra, Jamal, Radha dan Bajur

Perjalanan dari kota Jammu menuju Srinagar masih 12 jam lagi. Dan, semua kami lakukan dengan cara ngeteng alias berpindah dari satu kota ke kota yang lain menggunakan berbagai jenis kendaraan. Ini cara yang asyik sebetulnya. Kenapa? Karena perjalanan kami ini melintasi beberapa kota dan kami berkesempatan untuk singgah walaupun hanya sebentar di kota-kota yang kami datangi.

Dengan cara ini pula pengeluaran kami terasa lebih murah. Dan, dengan cara ngeteng ini, kami menghemat beberapa jam perjalanan karena tidak harus memutar. FYI, jika melakukan perjalanan darat dari Jammu ke Srinagar, maka harus memutar dan melewati jalan pegunungan yang di sisinya ternganga jurang sedalam ratusan meter!

DSC_0464

Salah satu jenis bus yang ada di India

Dengan ngeteng kami melewati beberapa kota kecil seperti Udhampur, Patnitop, Ramban dan Banihal. Sepanjang perjalanan ada saja halang rintangan yang menghalangi. Yang paling sering itu ketika jalur kendaraan yang hanya setapak (hanya muat untuk satu mobil) terhalang kendaraan berat yang parkir karena sedang proses perbaikan jalan sehingga perjalanan menjadi terhambat dan menegangkan karena kami harus melalui kendaraan berat itu dengan jurang di sisi lainnya.

Belum lagi pemeriksaan-pemeriksaan oleh tentara dengan persenjataan lengkap. Maklum, Jammu & Kashmir dikenal sebagai daerah rawan konflik karena hingga kini masih diperebutkan oleh India dan Pakistan. Untungnya, kami sebagai penumpang tidak harus diperiksa satu persatu. Paling sering supir yang jadi sasaran. Namun, jika surat menyurat lengkap, langsung dikasih izin jalan lagi.

Dari perjalanan-perjalanan inilah kami mulai mengenal satu sama lain. 🙂

Radja dan Jamal ternyata seorang polisi. Beda dengan Jamal yang perawakannya tegas dan agak menyeramkan (walau bekalangan paling akrab denganku hehe), Radja seperti yang kugambarkan di awal, sama sekali tak terlihat seperti anggota polisi. Dia lebih cocok jadi artis sinetron kalau aku bilang hehe.

Obrolan demi obrolan datang silih berganti diantara kami semua. Ada dua orang lain yang hadir diantara kami. Mereka bernama Sunil dan Bajur. Sayang mereka tidak dapat berbicara menggunakan bahasa Inggris hingga lebih banyak diam. Uniknya, seperti halnya kebiasaan orang India, mereka gemar sekali memperlihatkan foto dari handphone mereka.

Look at her Haryadi. Is she beautiful?” tanya Radja.

Yes, she is! Who is she?”

“She is my beautiful wife,” ujarnya dengan senyum merekah.

Radja lalu memperlihatkan foto gadis kecil yang sangat cantik. Jelas itu anaknya.

“And now, I want to see your girlfriend, Haryadi.”

Alamak! Seketika aku terkesiap. Hahaha.

“Haha, sorry Radja, my phone was broken and I don’t save any pictures anymore.”

Terus kalau handphonenya nggak rusak emang ada foto yang bisa dipamerin? Auk deh, biar itu jadi misteri hahaha. Padahal nih ya, nyesel aja gitu gak simpen fotonya dik Chelsea Islan di hape. 🙂

Perpisahan di Tepi Surga Dunia

Sebuah kejutan manis hadir di akhir perjalanan ngeteng ini. Awalnya kukira jalur kereta terakhir di India itu hanya sampai di kota Jammu. Ya, mengingat selepas kota Jammu kontur wilayahnya sudah pegunungan dan tidak memungkinkan dibangun jalur kereta. Ternyata, dari kota Banihal, kota terakhir ngeteng kami ada jalur kereta jarak pendek menuju kota Srinagar! Perjalanannya sendiri kurang lebih 20 menit saja. Dan, sejauh ini, itulah perjalanan jalur kereta terindah yang pernah aku alami. Subhanallah, indah sekali.

DSC_0897

Bahinal station. Pinggiran “surga” Srinagar

Itulah, selalu ada hikmah di balik setiap perjalanan, bukan? Coba kalau kami tidak ditahan di perbatasan, maka kami tidak akan merasakan jalur kereta super indah ini. Terlebih lagi, belum tentu kami akan mengenal dengan dekat sepasang kakak beradik berhati mulia seperti Radja dan Jamal itu.

Sebelum berpisah, kami sempat bertukar no ponsel dan akun sosial media. Sayang sejuta sayang, baik aku, Ahlan atau Indra, tidak dapat menemukan akun sosial Radja dan Jamal sebagaimana nama akun FB yang mereka tuliskan di buku catatanku.

Salah satu momen mengharukan itu yakni sebelum pulang Jamal, orang yang awalnya aku takuti, paling berusaha keras agar menghubungi host kami dapat beliau menjemput di stasiun Srinagar. Berulang kali dia menelepon host kami dan berulang kali pula dia “menitipkan” kami kepada keluarga host.

Banyak sekali kesan yang ditinggalkan dari sepotong perjalanan 24 jam bersama Radja dan Jamal. Sedih rasanya ketika harus berpisah dengan dua orang baik itu. Ketika tiba waktunya kami harus berhenti di stasiun Srinagar, peluk hangat dari brother baru kenal ini seolah sulit untuk dilepaskan.

????????????????????????????????????

Eropa? bukan! masih di India kok ini 🙂

Sungguh, perjalananku ke India ini merupakan perjalanan yang mengajarkanku banyak hal. Dimulai dari awal ketika memutuskan untuk pergi bersama dua orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Hingga kemudian kami menghadapi tantangan bersama di perjalanan. Hampir dirampok supir bajaj yang mabuk misalnya atau juga harus ngotot mempertahankan kursi penumpang di atas kereta yang diklaim sepihak oleh penumpang lain. Belum lagi deretan scam yang kami terima di sepanjang perjalanan.

Ibaratnya seorang pilot, kami harus mengambil keputusan dengan cepat. Kami juga diajarkan untuk tidak selamanya diperbudak oleh prasangka. Boleh berhati-hati terlebih ada pengalaman buruk yang sebelumnya menyertai, namun jangan pula hal itu dijadikan tameng sehingga membutakan mata hati hingga naluri menjadi buta dan tuli atas upaya kebaikan tulus orang lain.

Jika sekarang dikenang, semua pengalaman buruk itu bukanlah sebuah kesialan. Namun tak lebih dari warna sebuah perjalanan. Bukankah harus berjuang dulu demi menggapai sesuatu? Apalagi yang diperjuangkan itu berupa kepingan surga yang tersisa di dunia : Srinagar.

Iklan

86 thoughts on “From Jammu To Srinagar : Jalan Panjang Menuju Secuil Surga di Dunia

    • Hajaaar, India itu sayang banget dilewatkan mbak Dee 🙂
      Sedihnya, beberapa orang menolak ke India karena pradigma India yang jorok. Sayang banget, kan?

  1. wah om, aku bacanya sambil nahan napas di awal. ngebayangin kalau aku yang terdampar di terminal pasti udah nangis minta pulang.
    Iya pertanyaan aku sama, kenapa India? ternyata ada tempat sekece itu di India :’D
    *ketawan banget pengetahuan wisata LN nya cuma mentok di yurop dan US*

  2. Ah keren ceritanya
    Aku deg-degan bacanya
    Beruntung ketemu Radja dan Jamal ya, orang-orang baik yang berjasa
    Perjalanannya jadi seru.
    Eh, kenapa dirimu gak jujur aja sih bilang masih single gitu, kali aja si Radja punya adik cewek yang mau dikenalin #eh

    Btw tulisan calon pemenang nih
    Semoga menang yaaaaa…..

    • Saat perjalanan ini dilakukan, sesungguhnya aku memang punya pacar mbak Arni. Nah pulang dari sini hubungannya berakhir, soalnya dia minta oleh-oleh cowok Kashmir coba! aku putusin deh hahahaha.

      Aaaak makasih doanya. Nothing to lose aja, minimal aku udah update tulisan tentang India. Kasihan sejak Maret belum nulis satupun 🙂

    • Dulu cuma sempat nulis tentang permohonan e-VISA India aja mbak Arni. 🙂

      Ya agak beda dengan Hong Kong, kalo itu kebanyakan kocak gak jelas nulisnya hahaha

  3. Seru banget Yan, sejak awal sampai beres baca aku deg-degan. Serasa ikut juga di dalam perjalananmu itu. Pembukanya udah bikin stress duluan, trus lanjutannya bikin penasaran. Untungnya semua berakhir dengan indah ya.

    Kenalan sama Ahlan dan Indra nya via jejaring apa? Aku solo traveling pernah, bareng orang yang kenal sering, tapi kalau sengaja janjian jalan sama orang yang belum kenal belum pernah. Kayaknya seru juga ya. Meskipun gambling, karena ada kemungkinan gak cocok juga.

    Kalau aku ingat-ingat pengalamanku di India yang agak-agak buruk kayaknya gak ada. Palingan cuma pas jalan disamperin orang yang mau nunjukkin hotel, padahal aku udah tau hotelnya dimana, trus dia ngikutin terus dan minta duit. Sama pernah sekali sengaja hamper ditipu dan disasarin supir Bajaj, cuma supir Bajaj nya aku kerjain balik, dia yang nyerah hahahaha 😀

    Please kejadian yang hampir dirampok di Delhi diceritain dong, aku penasaran. O iya dirimu cerita kalau di Delhi susah cari penginapan? Kenapa gak ke Paharganj aja? Di sana khan bejibun peninapan khusus Backpacker, lumayan murah juga harga dan fasilitasnya.

    Aku tunggu lanjutannya ya Yan 🙂

    Btw, saingan berat nih kita dalam lomba ini. Tulisanmu seru!

    • Aku gak kenal sama Ahlan. Kenalnya sama Indra di grup Komunitas Postcrossing Indonesia. Eh ternyata Indra join juga di grup FB : Backpacker Dunia. Nah, Indra dan Ahlan temenan, sedangkan aku dan Indra yang temenan. Sebelumnya sama sekali gak kenal sama Ahlan 🙂 ketemu pertama kali pun ketika akan berangkat ke Kolkata di KLIA2 🙂

      Pengalaman kami di India nano-nano banget mas Bart haha. Dibilang sial banget ya nggak juga. Cuma sangat “berwarna” 🙂 Kena scamnya sih walau gak banyak cuma itungan satu jari tangan lewat muahahaha.

      Yang di Delhi itu bakalan aku ceritain. Pasti! 🙂 cuma intinya itu hampir kena rampok di atas bajaj sama supir bajaj dan dua temannya yang mabok. Tuh orang ngeracau terus minta duit. Kita bertiga udah siap-siap sih. Aku udah copotin memori kamera, dan kita sudah diskusi pake bahasa Indonesia masing-masing nonjok orang yang mana hahahahaha. Kejadiannya hampir tengah malam 🙂

      Tentang penginapan di Delhi, itu juga gak sengaja. Karena kami udah punya host couchsurfing di sana. Namun karena satu hal kami memilih untuk keluar lebih cepat. Nanti aku ceritakan juga 🙂

      Aaak, ini tulisannya kayak curhat mas Bart haha, aku sendiri rada-rada sama tulisannya. Cuma memang tergantung juri ya.

      • Wuiiih tampaknya bakalan seru banget deh ini. Hmmm kayaknya bagus kalau kita kompilasi dan tandem dibikin buku! #eeaaa

        Soalnya kebanyakan cerita India itu serem2, lah aku malah asik-asik aja di India. Yang serem cuma ngerasa kesepian aja selama di Varanasi hahahaha

        Ooo jadi postcrossing juga tho? Toss dulu deh kalau begitu 😉

    • Wah mas Bart postcrosser juga? Setahun belakangan aku rada meninggalkan nih hobi yang satu itu. Galeri kartu pos di omnduut.blogspot.com aja udah lama gak diupdate.

      Bikin buku? Hwaaah mau banget. Jadi tersanjung diajakin mas Bart 🙂 kalo bener jadi dan aku masuk kualifikasi, mau banget hehe

      • Postcrosser tapi masih ngandelin temen hahaha ,,, jadi aku udah ikutan postcrossing.com tapi belum kesampaian kirim2. Hmmm diniatin deh mulai sekarang dimanfaatin keanggotaannya .. mohon bimbingannya 🙂

        Itu tiba-tiba kepikiran aja Yan, soalnya masih jarang buku yang bahas soal pengalaman menjelajah negara satu itu, kebanyakan buku panduan 🙂

    • Aku malah off sekarang postcrossing mas Bart. Mulai beralih ke lain hati haha ngumpulin magnet 🙂

      Buku yang membahas tentang India lumayan sih. Pernah denger Two Travel Tales-nya mbak Ade Nastiti? atau Jingga-nya Marina K.Silvia. Bukunya baguuus banget dan “dalam”. Dan memang bukan sekadar buku panduan perjalanan. Lebih ke buku “pencarian” makna perjalanan.

      Tapi bener loh ini haha kalo emang memungkinkan bikin buku bareng maulaaah ^^

      • Itu kode ya Yan ngumpulin magnet? #eeaaa

        Nah kalau soal bacaan kayaknya aku harus banyak nanya sama dirimu deh, yang lebih banyak membaca dan rajin mereview buku. Aku catat ya judul-judulnya. Dan buku jenis itu yang aku suka, bukan sekedar jalan, tapi juga ada makna perjalanan yang dicari dan digali.

        Mungkin-mungkin aja sih Yan, aku juga pengen, asal konsepnya cocok.

    • Eh kode gimana ini? agak gak nyambung aku 😀
      Aku beneran ngumpulin magnet mas. Kalo postcard sih masih asal datangnya dari negara yang aku belom punya 😀

      Two Travel Tales deh mas, itu bukunya nusuk banget haha. Terlepas aku kenal siapa yang nulis ya. Mirip-mirip tulisan Agustinus Wibowo namun lebih ringan (walau bukan berarti gayanya gak serius) duh gimana ya menggambarkannya haha.

      • Becanda itu Yan ,,, maksudnya magnet khan menarik besi, jadi biar lebih menarik rejeki gitu hehehe. Tapi kalau magnet aku ngumpulin juga sih, cuma gak terlalu niat banget. Kalau pas jalan aja baru beli, kalau nitip belum pernah. Nerima sih sering 😀

        Ooo dirimu kenal penulisnya? Mantap itu, jadi bisa belajar juga dari mereka-mereka. Siap! Aku coba cari bukunya, kalau dah mendarat besok 🙂

    • Oh magnet menarik rezeki, kirain tadi menarik hati dik Chelsea hahaha.

      Bukunya sudah lama mas, tapi kayaknya masih bisa ditemukan di toko buku online. Iya mbak Ade dulu juga ngeblog di MP 🙂 have a safe flight mas!

      • Chelsea mana dulu nih? Kalau Chelsea Olyvia udah ada yang punya, kalau Chelsea Islan kita saingan! hahaha 😀

        Oh coba nanti aku cari-cari, siapa tahu masih ada yang versi cetaknya. Sempitnya dunia, lagi-lagi tetangga di MP hahaha … makasih Yan, sebenarnya ini masih di laut dua minggu lagi 🙂

    • Chelsea Islankuuuu hahaha.

      Suka banget sama belio. Kiyutnya kebangetan, eaaa.

      Iya mas, mbak Ade dulu ngeMP juga 🙂 kapan-kapan cerita tentang pekerjaannya dong, pasti banyak hal menarik yang bisa diceritakan. ^^

      • Cantiknya natural! Pasti panas telinga doi sore-sore gini diobrolin 😀

        Hehehe sebenarnya sih lagi siapin postingan tentang itu. Beberapa kartu pos dari tengah samudra kali ya, sebagai pembuka 🙂

  4. Baca ceritamu jadi teringat perjalanku jelajah Himalaya. Edan tenan! Dah capek rasanya eyel eyelan sama mreka. Rupeee semakin menipis. hehehe

    Iya Jalur kereta Api dari Jammu ke Srinagar itu belum selesai, masih kepotong potong. Dalam perjalanan darat, keliahatan semua, gimana mereka mebelah gunung dan menyatukan dua bukit buat jalur kereta itu.

    Jalur kereta ke Srinagar, nggak harus sampe Jammu. Bisa sampai Udhampur juga. jarang yang tahu.

    Itulah mengapa jalur darat ebih banyak emmbawa cerita ketimbang Udara. it’s a Journey, not destination. Halah!

    • Wah jadi bakalan ada kereta dari Jammu ke Srinagar ya mbak? Luar biasaaa 🙂 dan bener begitu jalan pulang aku ngeliat langsung gunung-gunung yang digali dan dibuat terowongan.

  5. Subhanallah drama banget perjalanan ini Mas Yan. Nah aku yg baca aja sampai deg2an . Diberkati lah Radja dan Jamal. Mereka berdua membuat India tak terlalu menakutkan 🙂

    • Srinagar aja udah cakep banget mas. Apalagi surga Firdaus ya 🙂 untuk visa bisa cek di sini omnduut.com/2015/04/30/10-langkah-mudah-proses-visa-on-arrival-india-secara-online/

  6. Gaya penulisannya asyik banget Yan. Emosi diajak naik turun, mulai dari deg-degan – takut – lucu – amaze – lega. Gak nyangka ada tempat seindah ini di India. Di bagian Utara sih ya, udah deket Himalaya. Kalau aku memang punya cita-cita traveling ke India suatu saat nanti. Nunggu anak-anak gede dikit lah 🙂 Doain atuh Yan, hehehe.

    • Makasih mbak Anne 🙂

      Iya utara India itu pemandangannya sangat mempesona. Bukan berarti India bagian lain nggak indah sih 🙂 cuna di Srinagar ini kami betah banget. Cuaca dingin, makanan enak, orang yang ramah. Kangen bisa balik ke sana lagi 🙂

  7. Bagi sebagian besar orang di Indonesia (termasuk kamu) traveling solo itu termasuk menakutkan….Sekarang aku ngerti kenapa orang Indonesia suka traveling ramai2. Kebanyakan mencari ramai, sedangkan aku selalu cari thriller…..Biar seru karena ada adrenalin rush-nya….tapi adrenalin rush itu nagih sifatnya kayak drugs atau seks….Jadi, setelah lewat episode ini, bisa2 kamu nagih cari thriller yang lebih kalau traveling Har…hehehe…

    • Aku akan memulai the real solo traveling tahun depan bang John 🙂
      Bukan karena gak suka jalan bareng temen (sejauh ini berdua, bertiga) namun seperti yang bang John bilang, aku ingin mencari sesuatu yang beda. Tentu ada plus-minus-nya ya 🙂 *kekhawatiran terbesarku itu gak ada temen buat sharing cost buahahaha*

      Cuma plusnya, aku bisa kemanapun yang aku mau tanpa harus mempertimbangkan temen jalan bakalan mau atau nggak 🙂

  8. Keren Om. Kebayang serunya perjalanan ngetengnya deh. Danhebat jiwa petualanganmu. Aku sudah gak bisa bayangin bagaimana kalo dihadapkan sama kejadian disuruh balik itu..

  9. nggak kuat baca sampai habis..lempar handuk putih.. terkadang, disinilah jomblo menang :((

    #ngawurtengahmalam

    Cek, kenapa g bawa pulang satu gadis dari sana? 😀

  10. pengeennnn bgt ke india juga mas.. Tapi memang krn bnyk dgr hal2 serem ttg India, trutama untuk cewe, aku jg jd lebih hati2 mw bikin planning kesana.. dan pgnnya sih, harus ama suami.. Kalo sampe suami g tertarik, sepertinya aku lbh milih ikut tur travel spy ga sendirian ;D

  11. Halo Omnduut, ternyata aku belom follow blogmu yakk, hehehe yah begitulah kadang rada gak ‘ngeh’. Sampe kemaren liat di FB kok ada Omnduut lagi foto di India n lagi ikut kompetisi Kerala Blog. Pas inget maka mainlah ke sini. India pengen bangett, cuman kan yah itu buat cewe katanya kudu hati2 dan belom dapet barengan temen trip. Ini Srinagar keren bangetlah sama ceritanya seru. Foto bus nya kece banget lah banyak pernak pernik eksotik ala India sama berbau adventure banget. Keren banget bisa ngeteng di negeri yang kita masih asing dan buta, pasti adrenalinnya itu bikin nagih ngetrip lagi. Eh malah baca obrolan dari Kak Bart sm Omnduut (except Chelsea Islan yah, xixixi jeles sm cewe indo blaster) iya donk bikin buku kalian termasuk penulis dengan gaya tulisan yang aku suka. Sama dapet info tentang Two Travel Tales mau cari beli online-nya cover bukunya aja dah bikin mupeng.

    • Semoga nemu Two Travel Talesnya ya, itu buku yang istimewa banget buatku 🙂

      Hahahaha, obrolan lelaki ya, ngomongin cewek. :v
      Soal India, waspada aja, dan India itu sangat laik untuk dikunjungi. Beneran! 😉 atau cari temen jalan yang kira-kira cocok hehehe

  12. Ping-balik: Gagal Berbagi Kasih Bersama Bunda Teresa |

  13. Ping-balik: Rock View Srinagar : Bukan Sekadar Restoran |

  14. Ping-balik: Saat Harus Merasakan Gempa Nepal di Varanasi, India | Omnduut

  15. Ping-balik: Ingin Melihat Keindahan Kebun Tulip? Ke India Saja! | Omnduut

  16. Terkadang Tuhan memberikan jalan lain untuk ditelusuri dn menjadikannya indah di akhir perjalanan. Tq sdh berbagi 😄 Ngeteng y.. seru tuhhh hahaha

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s