Publikasi

Masjid Agung : Bukti Jejak Kejayaan Kesultanan Palembang

C15 - Stock 1 Pc

Masjid Agung Palembang, tampak samping

Matahari terasa begitu terik, namun hal itu tidak menyurutkan langkah saya menapaki tiap jengkal bebatuan yang tersusun rapi di trotoar Jembatan Ampera. Dari sisi kanan jembatan, terlihat aktivitas perdagangan di pasar 16 Ilir yang tidak pernah surut. Kapal tongkang berbagai macam ukuran terlihat lalu lalang di Sungai Musi. Semua nampak begitu harmonis dan dinamis. Inilah denyut nadi Kota Palembang, kota yang oleh banyak orang dijuluki sebagai Venice of The East (Venesia dari Timur).

Paparan matahari terasa kian menyengat, saya mempercepat langkah menuju titik nol kota Palembang yang ditandai oleh air mancur berukuran besar dengan air yang terus memancar. Ketika melewatinya, butiran-butiran air sedikit membasahi pipi takkala diterpa oleh angin. Suara gemericik air sedikit banyak turut mententramkan hati. Namun, tujuan saya bukan di sini, melainkan sebuah bangunan gagah yang berdiri kokoh tepat di samping air mancur, yakni Masjid Agung.

Masjid Agung Palembang merupakan hasil karya monumental Sultan Mahmud Badaruddin 1 yang dibangun pada tahun 1738-1748. Bertandang ke masjid yang telah berusia lebih dari 2,5 abad ini,tak hanya mengingatkan saya pada Allah SWT, tetapi juga pada keragaman budaya Palembang, sekaligus pengobat rindu akan kejayaan Kesultanan Palembang di masa lalu.

C6 - Stock 1 Pcs

Pusat perdagangan

Gerbang utama Masjid Agung berhadapan dengan bundaran air mancur. Sebuah gerbang besar yang dihiasi bebatuan bermotif ukiran khas Palembang dan sebagian lagi bertuliskan kaligrafi menawan. Saya masuk melalui gerbang belakang yang terdapat taman dan air mancur berukuran lebih kecil.

Rumput hijau terbentang sepanjang halaman Masjid Agung. Ada sudut tertentu yang ditanami dengan berbagai macam jenis bunga. Pohon-pohon rindang sejenis palem juga terlihat menghiasi taman sekaligus halaman belakang masjid Agung ini. Di kala penuh, halaman ini juga beralih fungsi sebagai lahan parkir.

Tentu tidak dengan cara menginjak rumputnya karena memang ada bagian khusus yang disediakan untuk menampung puluhan kendaraan di bagian ini. Untuk keradaan roda dua, ada tempat lain yang terpisah. Tempat parkir ini cukup akomodif untuk menampung kendaraan jamaah walaupun tak jarang di saat-saat tertentu pengunjung harus memarkirkan kendaraannya di sisi jalan.

Kian mendekati bangunan utama, terlihat sebuah kolam air mancur berukuran sedang. Di sekelilingnya dipasang pipa-pipa yang dapat digunakan oleh jamaah untuk mengambil wudhu. Sebetulnya ada bangunan khusus lainnya yang dapat digunakan untuk mensucikan diri sebelum shalat. Namun jika diperhatikan, pengunjung lebih senang mengambil air di pipa tersebut.

C13 - Stock 1 Pc

Kolam di depan Masjid Agung

Walaupun terlihat sangat besar, sesungguhnya Masjid Agung kini bernama Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II ini terdiri dari dua bangunan yang terpisah. Saya melangkahkan kaki menuju bangunan yang lebih kecil. Inilah bentuk bangunan asli Masjid Agung ketika didirikan pertama kali pada tahun 1738 lalu. Berbentuk hampir bujur sangkar dan berukuran 30 x 36 meter, dulunya masjid Agung ini pernah menjadi masjid terbesar di nusantara yang dapat menampung hingga 1200 jamaah.

Namun sekarang, setelah dilakukan beberapa kali renovasi dan ditambah bangunan yang lebih besar di sisi depan, masjid Agung Palembang mampu menampung hingga 9000 jamaah. Renovasi terakhir kali dilakukan pada tahun 2000 dan selesai pada tahun 2003 demi menyambut pelaksanaan PON XVI tahun 2004.

Arsitektur masjid agung mengadaptasi gaya Eropa, Cina dan Nusantara. Tak heran, karena pada mulanya, masjid Agung dirancang oleh arsitek dari Eropa. Gaya bangunan tiongkok dpat dilihat dari sisi atap masjid yang masing-masing memiliki jurai atau ornamen berbentuk lengkungan kecil pada atap seperti yang biasanya terdapat pada kelenteng.

Atap masjid Agung sendiri berbentuk limas yakni terdiri dari tiga undakan yang dipengaruhi bentuk candi Hindu-Jawa. Sedangkan sentuhan Eropa dapat terlihat pada pilar masjid yang lebar dan kokoh serta pemilihan rupa jendela yang tinggi dan besar. Bahkan material bangunan seperti marmer dan kaca di impor langsung dari eropa.

unnamed

Bagian dalam Masjid Agung

Seperti umumnya sebuah masjid besar, biasanya hampir selalu memiliki menara, begitupun dengan masjid Agung. Bahkan terdapat dua menara yakni menara lama dan menara baru. Menara lama berukuran 20 meter dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (pemerintahan 1758-1774) yang terletak di sisi barat masjid. Sedangkan menara baru dengan ukuran lebih tinggi yakni 45 meter dibangun pada tahun 1970. Menara dengan tangga melingkar dengan 130 anak tangga inilah yang masih digunakan hingga sekarang. Sayang menara ini tertutup untuk umum. Padahal memandang kota Palembang dari ketinggian tersebut pasti akan jadi pengalaman yang istimewa.

Hal unik lainnya dari masjid agung adalah desain interiornya. Ukiran khas Palembang berbentuk bunga melati atau teratai serta ornamen hiasan daun sulur menghiasi hampir seluruh benda yang ada di dalam masjid. Mulai dari pintu masuk, jendela, puncak mihrab, mimbar hingga tiang-tiang tak luput dari ragam hiasan nan elok khas Palembang ini. Hal yang biasanya mendapatkan perhatian lebih jika saya mengajak tamu asing saat mendatangi masjid megah ini.

Tak hanya menjadi pusat kegiatan umat Islam, Masjid Agung juga menjadi salah satu bagian dari sejarah Indonesia. Sejak pertama kali di dirikan, Masjid Agung telah menjadi saksi penting dari banyaknya peristiwa bersejarah yang terjadi di Palembang. Misalnya saja di tanggal 1-5 Januari 1947 pasca Perang Dunia II, Masjid Agung adalah saksi dari terjadinya peristiwa yang dikenal dengan nama perang “Lima Hari Lima Malam”.

C22. - Stock 1 Pcs

Saksi pertempuran 5 hari-5 malam

Kini, setelah masa-masa kelam penjajahan Indonesia berakhir, Masjid Agung menjelma menjadi salah satu pilar pariwisata dari Kota Palembang. Banyak turis yang mendatangi masjid ini, baik yang ingin merasakan pengalaman beribadah ataupun hanya sekadar menikmati keindahannya.

Masjid Agung terus digunakan untuk berbagai kegiatan. Terlebih di bulan Ramadhan, kegiatan keagamaan terus digalakkan selama sebulan penuh. Dimulai dari kajian keislaman, tadarusan, khatam Quran, kuliah dhuha, penyaluran zakat fitrah, perlombaan islami bagi anak-anak dan remaja, hingga menyiapkan buka bersama dan sahur bersama bagi warga. Bahkan, dulu terdapat pasar bedug/pasar ramadhan di halaman masjid agung yang sekarang sudah dipindahkan ke halaman Monpera.

Bangunan Monpera yang berada di seberang Masjid Agung merupakan bangunan bersejarah yang kini beralih fungsi menjadi museum. Uniknya, pengunjung dapat menaiki atapnya dan dapat melihat Palembang dengan point of view yang berbeda. Selain Monpera, tak jauh dari Masjid Agung juga terdapat Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Museum ini berhadapan langsung dengan sungai Musi.

C12 - Stock 1 Pcs

Monpera

Kharisma Masjid Agung kian berpijar. Sebagaisalah satu peninggalan bersejarah yang perlu dilestarikan dan dijaga, masjid kebanggaan warga Palembang ini tidak hanya berfungsi sebagai rumah peribadatan umat Islam, tetapi juga sebagai bentuk konservasi bangunan kuno peninggalan kejayaan masa lalu yang patut dicontoh. Semoga semua warga Palembang dan juga pendatang terus bersama menjaga masjid agung agar keindahan dan manfaatnya dapat terus dirasakan oleh generasi di masa yang akan datang.

*    *    *

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Yogyakarta, Sabtu 1 Agusutus 2015.

Masjid Agung

Iklan

22 thoughts on “Masjid Agung : Bukti Jejak Kejayaan Kesultanan Palembang

  1. Baru lusa kemaren makan pempek, sekarang baca tulisan tentang Palembang. Jadi pengen lagi 🙂 Baru tahu kalau Palembang itu sebutannya Venice of The East. Monpera itu ada singkatannya kah? Adakah arti khusus dari Monpera?

    • Monumen Perjuangan Rakyat mbak 🙂 isinya sekarang museum persenjataan. Yang jelas, kalau ke sana bisa naik ke atap dan melihat kota Palembang secara keseluruhan 🙂

  2. Ping-balik: Kopdar Mancanegara di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s