Pelesiran

Prambanan dan Pelajaran Akan Sebuah Kisah Cinta

Candi Prambanan adalah bukti bahwa cinta tak dapat dipaksakan.

Duh belum apa-apa saya udah bicara cinta di tulisan ini. Hahaha. Ya, soalnya dulu saya tahunya Candi Prambanan dari kisah Roro Jonggrang, sih. Eh udah tahu kan tentang kisahnya? Yang nggak tahu coba googling dulu haha. Zaman saya dulu, buku cerita rakyat itu mudah ditemukan. Saya masih menyimpan beberapa serinya. Termasuk kisah Roro Jonggrang ini. Saya tahu tentang Candi Prambanan juga dari seri prangko cerita rakyat yang dulu pernah dikeluarkan oleh PT.Pos Indonesia.

Nah, tahun 2002 saya pernah ke Yogya, tapi saat itu saya kalah suara ngajak orang tua ke Prambanan. Nganu, rombongan lebih memilih ke Malioboro untuk… berbelanja haha. Ya, secara waktu itu jalannya ramean dan orang tua udah berapa kali ke Prambanan. Jadilah, saya mengalah dan waktu itu juga lebih ngebet ke Borobudur memang.

Makanya, saat akhir tahun lalu saya berkesempatan ke Yogya, saya bela-belain jalan sendirian ke Candi Prambanan. –makasih ojol udah anter saya ke sana. Eh sampai sana sempat ketemu sepupu yang lagi sama-sama pelesiran ke Yogya. Jadilah kami jalan bareng dan saya beruntung ada yang bisa ditodong foto hehe.

Sekilas Mengenai Candi Prambanan

Ya, walaupun secara cerita rakyat Candi Prambanan dikisahkan dibangun oleh Bandung Bonowoso dengan bantuan jin demi mendapatkan cinta Roro Jonggrang, faktanya, para ahli meyakini bahwa bangunan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 850 M oleh Rakai Pikatan yang kemudian disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan Raja Balitung Maha Sambu.

Pemandangan dari area loket

Walaupun dinamakan Candi Prambanan, namun candi utama di sana ialah Candi Siwa. Dan memang, jika dilihat dari Prasasti Siwagrha berangka tahun 856 M, bangunan ini memang dibangun untuk memuliakan Dewa Siwa.  Bahkan, nama asli candi ini dalam bahasa Sanskerta ialah Shiva-grha yang berarti ‘Rumah Siwa’ atau Shiva-laya yang berarti ‘Alam Siwa’.

Hebatnya, dalam prasasti disebutkan juga bahwa saat pembangunan candi ini berlangsung, dilakukan juga pekerjaan umum untuk mengubah tata air dengan cara memindahkan aliran Sungai Opak yang berada di dekat candi. Soalnya, aliran sungai tersebut diyakini terlalu dekat dengan candi sehingga erosi dapat membahayakan konstruksi candi. Wuih, hebat ya sampe ke sana mikirnya.

Prambanan dari taman samping

Jika Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia, maka Candi Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi yang berada di kecamatan Prambanan dan sudah berada di daftar Situs Warisan Dunia UNESCOdi tahun 1991 ini sangat mudah dijangkau dari pusat kota Yogyakarta. Saat gempa melanda Yogya tahun 2006 lalu, Candi Prambanan sempat kena dampaknya. Namun, alhamdulillah kini –sejauh-pandangan-mata, sudah baik walaupun terlihat beberapa renovasi.

Petugas terus bekerja. Ntah renovasi atau menemukan jejak-jejak sejarah lainnya.

Menyusuri Keindahan Prambanan

Cukup membayar Rp.40.000, saya sudah memegang tiket untuk menyurusi kompleks Candi Prambanan. Saat itu, petugas sempat menawarkan apakah mau membeli tiket terusan hingga ke Candi Boko. Saya menolaknya karena saya pikir, saya akan diajak ke sana oleh panitia fam trip. Jadilah, saya dan sepupu berpisah. Sepupu langsung ke Candi Boko dengan menggunakan shuttle minivan dengan membayar Rp.40.000 lagi.

“Atap” Candi

Dipahat dengan detail

Jarak antara gerbang tiket dan candi tidak begitu jauh. Luar biasa perasaan saya saat pertama kali melihat kemegahan Candi Prambanan ini. Bisa dibilang, Prambanan jauh lebih indah dari yang saya lihat melalui foto dan video.

Saat itu saya memilih untuk menyusuri bagian tamannya dulu hingga kemudian ketemulah saya dengan sebuah bangunan lain yang tertuliskan museum. Sayangnya nggak ada yang jaga, namun karena pintu sedikit terbuka, saya masuk ke dalam dan nampaklah beberapa susunan arca yang ditempatkan di area ruang terbuka dan berbagai peralatan musik tradisional di bagian lain.

Bagian depan museum. Pintu terbuka sedikit.

Arca di halaman museum

Saya lantas bergerak ke bagian utama candi. Bedanya, saya menyurusi jalan yang berlawanan arah dengan rombongan lain hehe. Jadilah, saya eksplor bagian belakangnya dulu, baru bergerak ke tengah dan ke depan.

Bagian belakang candi. Indah sekali

Saya sempat lihat langsung bagian dalam Candi Siwa dan candi di sebelahnya. Luar biasa indah. Ukiran-ukiran di tiap dinding-dindingnya bikin saya terpana. Hebat ya jin eh orang zaman dulu bisa kepikiran untuk memahat tiap-tiap bagian dinding sehingga indah kayak gitu. Saya sempat bertemu dengan beberapa turis asing yang nampak asyik menikmati seisi dalam candi. Saya sempat juga masuk ke ruangan tempat arca Roro Jonggrang berada.

Suka banget liat detilnya

Pemandangan dari dalam candi ke arah luar (candi lain)

Pahatan di dinding dalam

Tangganya

Saya tidak terlalu banyak paham soal makna tiap-tiap gambar yang ada di dinding, atau kenapa bangunannya berbentuk A, memakai bahan baku B atau kenapa jumlahnya C. Yang jelas, saya menikmati mahakarya ini. Ratusan ribu atau bahkan jutaan orang datang mengunjungi Prambanan tiap tahunnya.

Beli tiket kereta? di Pegipegi saja!

Wajar sih, karena Yogya secara geografis berada di tengah Jawa sehingga lebih mudah diakses dari 4 penjuru mata angin soalnya. Akses menuju Yogyakarta juga beragam, bisa naik pesawat, naik mobil ataupun menggunakan kereta api. Dari Jakarta saja misalnya, banyak sekali pilihan waktu keberangkatan kereta api untuk menuju Yogyakarta. Dengan durasi perjalanan antara 7,5 sd 8 jam, wisatawan bisa pilih keberangkatan malam dan tiba di Yogya pagi sehingga bisa langsung jalan-jalan deh.

Wisatawan asing nampak mengambil foto

Terpesona Pertunjukan Ramayana Ballet Prambanan

Ini nih yang saya suka, melihat langsung pertunjukan seni tari dan drama dalam satu panggung! Hasek! Jadi, saya dan rombongan fam trip diajak langsung oleh penyelenggara acara untuk melihat pertunjukan Ramayana Ballet yang berada di pelataran dengan latar belakang Candi Prambanan.

Prambanan di malam hari. Hiks, lensa kameranya gak bekerja sempurna.

Untuk menonton pertunjukkan ini harganya bervariasi dari Rp.50.000  untuk pelajar hingga Rp.400.000 untuk kelas VIP. Ada harga ada rupa. Untuk yang VIP dan Special, diberikan minuman saat menonton. Saya sendiri dan rombongan sebelum nonton diajakin makan di restoran tak jauh dari lokasi.

Pasukan hanoman

Pertunjukkan ini ditampilkan di ruang terbuka. Sayang, saat kedatangan kami, cuaca mendung dan rintik sehingga pertunjukkan dipindahkan di ruang tertutup. Walau begitu, tetap menyenangkan, kok! Terlihat sekali para penonton terpukau dengan aksi panggung yang disajikan, terutama penonton bule yang tentu emejing melihat pertunjukkan ini.

Uh cakeeep 🙂

Penampilan yang memukau walau gak ngerti bahasanya hehe

Ah, senang rasanya bisa melihat langsung salah satu Mahakarya yang ada di Yogyakarta ini. Di sisi lain, saya belajar juga sih, bahwa cinta tak berbalas itu emang mengerikan dampaknya hahaha ini kalau dikaitkan dengan kisah Roro Jonggrang. Eh tapi masih mending cinta tak berbalas ketimbang cinta yang dibalas tapi ujung-ujungnya disetop tengah jalan dengan alasan, “kamu terlalu baik buatku.” Muahahahaha.

42 thoughts on “Prambanan dan Pelajaran Akan Sebuah Kisah Cinta

  1. Aku nggak terhitung ke Yogyakarta, tetapi ke Prambanan hanya sekali hahaha. Bandung Bondowoso modalnya banyak memperjuangkan cinta, eh bertepuk sebelah tangan. Kayak aku udah modal banyak beliin berlian eh dilepeh. Halah!

  2. Ini yang aku selalu sesali, beberapa kali ke Prambanan tp gak sempat2 liat sendratari Ramayana cobak!! Huh banget khan. Secara perginya sama yang gak mau nonton. Besok2 mau sendiri aja deh. *beburu cek tiket di pegipegi

  3. Itu diaaaa.. Sendratari Ramayana!!
    Aku seumur-umur baru sekali lihat. Itu juga karena termasuk dalam rangkaian suatu kegiatan dari kampus. Pas nonton itu, terkesima dari awal sampai akhir. Apalagi pas babak bakar-membakar itu. Gila itu jerami-jerami dibakar beneran lho. Meski harga tiketnya mahal untuk ukuran mahasiswa (100rb kelas ekonomi) tapi kalau penampilannya kayak gitu sih sangat layak.

    Beberapa waktu lalu aku juga ke Prambanan, tapi malah nggak main ke candi utamanya. Hahaha. Nanti ada di postingan blogku selanjutnya :p

  4. Candi Prambanan itu, menurut aku mirip banget dengan Angkor Wat. Mungkin orang yang membangun satu generasi atau emang modelnya dibawa dari sana ya

  5. Aku ke Prambanan ini sudah beberapa kali, tapi malah nonton sendratari Ramayana nya yang belum kesampaian. Pasti adaaa aja halangannya. Belum berjodoh. Paling ya aku gitu aja kalau urusan cinta Yan, udah naksir tapi gak berjodoh #eeaaa

    Btw, kapan-kapan kalau ke Yogyakarta, cobain juga kunjungi Candi Sewu, Bubrah, dan Pawon yang gak jauh dari kompleks Prambanan. Gak kalah keren, tapi lebih sepi. Hmm favoritku sih Candi Plaosan sebenarnya, yang letaknya juga gak terlalu jauh dari Prambanan. Karena bentuknya unik, perpaduan antara gaya arsitektur Buddha dan Hindu. Candinya fotogenik banget, terutama kalau kita datang menjelang senja.

  6. “kamu terlalu baik buatku…,”
    Ah, itu cara mutusin yang justru rasanya bikin nyesek
    Sakit tapi tak berdarah kalau kata orang hihihihi

    Aku berkali-kali ke Prambanan dan tetap saja jatuh cinta sama tempat ini
    Bentuknya unik, latar belakang sejarahnya menarik dan auranya terasa hangat

  7. Belum pernah sekalipun saya ke Prambanan. Padahal udah beberapa kali ke Borobudur. Gak tau kenapa, kalau jalan sama rombongan maunya ke Borobudur melulu. Nanti kalau ke Jogja lagi, harus ke Prambanan 😀

  8. Ping-balik: Prambanan dan Pelajaran Akan Sebuah Kisah Cinta | Napsu Jalan

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s