Kuliner

Kopdar Kuliner : Kreasi Olahan Makanan Laut? Palembang Juaranya!

dsc_0149

.

“Saya sungguh kasihan dengan orang yang alergi seafood,” tulis Trinity, di salah satu bukunya. “Duh, makanan begitu enaknya, kok, nggak bisa?” lanjut Trinity.

Yup benar sekali. Aku sendiri kadang masih terheran-heran gimana bisa ada tubuh yang menolak dimasuki makanan yang berasal dari laut. Ternyata ada beberapa penyebabnya, misalnya saja faktor keturunan, proses pengolahan yang nggak higienis, atau juga olahan makanan lautnya yang tercemar limbah. Untungnya alergi makanan laut ini sifatnya spesifik. Ada yang alergi kepiting dan udang namun masih bisa makan ikan.

Terus terang, walaupun aku nggak alergi seafood, di beberapa kesempatan aku ikut kelimpungan menghadapi  hal ini. “Kok bisa?” iya bisa! Biasanya saat kedatangan temen jauh dan beliau nggak bisa makan ikan. Aku kan susah jadinya ngajak makan. Soalnya ikan dan olahan makanan laut itu sangat mendominasi kuliner Palembang.

Kusam dan tua, tapi ini dia denyut nadi puluhan pedagang yang sehari-hari menggantungkan hidupnya di sana. Terletak di jantung ibu kota, pasar Cinde terkenal dengan kualitas dagangan yang baik. Memang biasanya harga yang ditawarkan sedikit lebih mahal namun biasanya secara kualitas tidak mengecewakan. Ini dia wajah gedung tua yang turut menjadi saksi sejarah. Tak pernah habis cerita jika berkunjung ke pasar tradisional seperti pasar Cinde ini. Pandangi, nikmati setiap aktifitas yang ada di sana, sebelum pasar ini berubah wajah dikarenakan revitalisasi. #CindeMarket #Pasar #PasarCinde #traditionalmarket #Palembang #PalembangUP #PalembangTerkini #PalembangKuluKilir #OldBuilding #architecture #architectureporn #History #HistoricalBuilding #Shop #Shopping #ShoppingCenter #DailySumatra #VisitPalembang #EksplorPalembang #SumatraSelatan #KelilingPalembang #KelilingSumsel #InstaNusantara #PasarRakyat

A post shared by Haryadi | OMNDUUT | Yansyah (@omnduut) on

Keterangan Foto : Pusat penjualan hewan laut di pasar Cinde

Kalau emang alergi, ya okelah masih dapat diterima. Lucunya, seorang teman menolak diajakin makan pempek hanya karena trauma ketulangan. Oh well. Hahaha. Padahal, kesempatan untuk makan pempek langsung di kota asalnya (lalu ditraktir pula) harusnya sayang untuk dilewatkan, toh? Hihihi.

Nah, kembali lagi ke makanan olahan laut. Pelembang sih nggak punya pantai ya. Namun hasil olahan laut melimpah di Palembang. Maklum saja, provinsi Bangka Belitung (dulu bagian dari Sumatra Selatan) dan provinsi Lampung terbilang dekat sehingga berkontribusi langsung terhadap ketersediaan hewan laut di kota Palembang. Dan perlu diketahui, hasil laut juga dapat diperoleh dari kawasan tertentu yang berhadapan langsung dengan laut (baca : selat Bangka), misalnya saja area Sungsang di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan.

dsc_0182

Pempek, hidangan yang hampir selalu ada/disuguhkan jika ada tamu yang ke rumah 🙂

Hewan laut sendiri, di tangan orang-orang yang kreatif dapat diolah menjadi berbagai macam makanan. Tak terkecuali di tangan-tangan orang Palembang. Mau tahu olahan makanan dari hewan laut apa aja yang ada di Palembang? Ini dia!

Kenalan dengan Pempek dan Teman-temannya, Yuk!

Bukan hanya Unyil yang punya teman Ucrit dan Usro, pempek Palembang pun punya banyak teman hehe. Maksudku gini, pada dasarnya, pempek dibuat dari olahan daging ikan segar yang dicampur dengan tepung terigu (dan beberapa bahan lainnya). Nah, selain menjadi pempek, ternyata dari satu adonan yang sama, dapat diolah lagi menjadi beberapa jenis makanan menggugah selera.

dsc_0694

Bersama Jorge dari Venezuela dan Jinny dari Spanyol. Ini kali pertama mereka makan pempek dan… mereka doyan!

Seperti yang aku tulis di sini, Pempek sendiri seenggak-enggaknya terdiri lebih dari 15 jenis. Diantaranya pempek lenjer, pempek adaan, pempek kapal selam, pempek pistel, pempek keriting, pempek godo, pempek tahu, pempek lenggang, pempek tunu, pempek kulit dan beberapa jenis lagi. Bahkan, varian pempek kini sudah jauh berkembang dengan munculnya jenis-jenis pempek lain seperti pempek krispi, pempek belah, pempek keju/sosis atau pempek ungu.

dsc_0840

Otak-otak dan aneka pempek

Intinya, pempek masih dapat dikreasikan lagi tanpa batas, tergantung kreatifias pembuatnya. Nah, dari bahan pempek sendiri dapat dibuat menjadi otak-otak. Hanya saat dimasak, adonannya dibungkus dengan daun pisang dulu.

Aku sendiri jika ada teman yang datang biasanya akan diajakin makan pempek dan teman-temannya ini. Bahkan, teman-teman yang datang dari couchsurfing yang notabane warga negara asing pun ternyata doyan makan pempek. Bahkan ada yang seneng banget saat disanguin pempek sebagai bekal di jalan. Pempek bisa jadi hanya makanan rakyat, namun ternyata cita rasanya mampu menggoyang lidah internasional! Eaaa!

dsc_0702

Jenny asyik memperhatikan proses pembuatan pempek lenggang dan pempek tunu/panggang

Hidangan Berkuah dari Adonan Pempek

Bagi yang tidak terlalu suka pedas kuah/cuko pempek, dapat tetap menikmati lezatnya adonan pempek dengan cara yang berbeda. Diantaranya ada model, tekwan, celimpungan dan laksan. Model dan tekwan sekilas tampilannya sama. Kedua makanan itu dimakan dengan tambahan kuah kaldu dengan tekstur ringan dan berwarna bening.

dsc_1001

Julian dan semangkuk model pesanannya. Mangkuk itu berakhir mengenaskan : isinya lenyap! 😀

Jika tekwan terbuat dari adonan ikan yang dibentuk kecil-kecil seukuran biji sate, model dibentuk menyerupai bakso namun berisi tahu di dalamnya. Nah, ikan sendiri pun dapat diolah menjadi bakso, loh! Disebutnya ya, bakso ikan 🙂 rasanya? Dijamin gak kalah enak dari bakso yang terbuat dari daging sapi.

Keterangan foto : Model, pempek lenggang dan pempek panggang 

Celimpungan dan laksan sendiri sama-sama hidangan berkuah. Namun tekstur kuahnya jauh lebih berserat dan berwarna kuning. Kuah celimpungan hampir sama dengan kuah ketupat. Celimpungan pun dibentuk menyerupai bakso namun tanpa isian di dalamnya. Sedangkan laksan, merupakan irisan pempek lenjer yang dimakan dengan kuah santan yang dicampur dengan ditumisan bumbu rempah dengan rasa yang khas. Laksan sendiri adalah hidangan olahan ikan yang paling sering aku makan selain pempek. Rasanya enak banget!

dsc_0838

Burgo, lakso, laksan dan celimpungan. Lagi sedaaap!

Ada beberapa jenis ikan yang dapat digunakan untuk membuat pempek. Untuk ikan sungai, yang paling sering dipakai adalah ikan gabus/delek atau ikan belida –ikan asli sungai Musi. Walau begitu, kedua jenis ikan ini sudah sulit didapatkan. Nah, sebagai gantinya, pembuat pempek pun dapat memilih ikan laut. Ikan yang paling sering dibuat itu adalah ikan tenggiri atau ikan kakap.

dsc_1020

Wotjek, couchsurfer dari Polandia menyantap tekwan bersama keluarga saat lebaran 🙂

“Aku pernah dengar ada pempek udang, Yan,” ujar salah seorang teman.

Aha, bener banget. Udang pun dapat digunakan untuk membuat pempek. Rasanya? Sedaaaap! Di daerah Sungsang, terkenal banget dengan olahan pempek udangnya. Maklum saja, Sungsang berada di tepi daratan yang menjorok ke Selat Bangka (bahkan, dari kota Mentok, Bangka Belitung cukup melakukan perjalanan laut selama setengah jam saja!)

Keterangan foto : Penjual pempek di pasar Cinde. Pempek berukuran besar itu disebut pempek lenjer dan itulah pempek yang biasa digunakan untuk membuat laksan. 

Aku sendiri paling suka jika ayah dan ibu berkunjung ke sana dan pulang-pulang membawa pempek udang sebagai oleh-oleh. Makanan istimewa itu! Oh ya, untuk makanan berkuah lainnya, walaupun tidak menggunakan ikan sebagai bahan utama, namun tetap saja menggunakan ikan atau udang untuk memperkaya rasa kuahnya. Misalnya saja mie celor, burgo dan lakso.

Burgo dan lakso dibuat dari tepung beras. Umumnya burgo dimakan dengan kuah santan berwarna pucat, namun rasa rempahnya cukup terasa. Lakso hampir sama, namun lakso biasanya kuahnya berwarna kuning dan adonan tepung berasnya dibentuk menyerupai mie. Sebagai menu sarapan, dijamin hidangan-hidangan ini dapat menggucang lidah penikmatnya hehehe.

Kemplang, Kerupuk, Getas hingga Sambal Lingkung

Orang di luar Palembang hanya mengenal satu nama untuk olahan ikan yang dikeringkan hingga bertekstur renyah : kerupuk. Padahal, di Palembang kerupuk sendiri jenisnya dibedakan. Untuk kerupuk, bentuknya ya seperti mie kering yang sering dipakai lomba saat 17 Agustus-an. Maklum, dengan adanya rongga, lebih memudahkan untuk panitia menggantungnya di seutas tali.

img_20161102_113532

Deretan kerupuk dan kemplang. Terlihat ada kerupuk udang. Slrup!

Nah, jika kerupuk berbentuk padat, kami menyebutnya sebagai kemplang hehe.

“Aku mau dong dikemplang,” guyon beberapa temanku.

Kemplang sendiri cara pembuatannya dibagi menjadi 2. Ada yang digoreng, ada juga yang dibakar di atas bara api. Yang dibakar bisanya warnanya kecoklatan dan teksturnya lebih chruncy karena teksturnya lebih berserat. Orang Palembang biasa menyebutnya dengan sebutan kemplang badak. Sekilas, kemplang badak terlihat bertekstur keras (mirip kulit badak hehe), namun ketika dimakan sangat chrunchy.

img_20161102_113522

Kerupuk cumi, disebutnya steak telor cumi. Yang di sebelah kanan itu contok kemplang badak. Kemplang yang proses pemasakannya dilakukan dengan cara dibakar

Lalu, apa itu getas? Nah getas biasanya adonannya lebih padat dan berukuran sebesar kelereng. Sehingga makannya sekali hap (eh ini hap beneran, bukan hap-nya bang Ipul). Masaknya sendiri dengan cara digoreng. Lalu, kapan enaknya makan kerupuk, kemplang dan getas ini? Jawabannya : kapan saja! Hehe, dapat dijadikan cemilan atau teman makan siang/malam. Khusus kemplang bakar, biasanya ada cabe khusus yang dibuat dari campuran cabai dan asam jawa. Rasanya enak! Namun, dimakan dengan cuko pempek juga sedap. Cobain deh!

Ngomongin kerupuk, ternyata cumi dan siput/gondang juga dapat dijadikan kerupuk, loh! Rasanya unik dan sedap! Jadi, hampir rata-rata hewan laut dapat diolah menjadi makanan renyah ini.

img_20161102_113436

Nah ini dia Sambal Lingkung (baca : sambelingkung) aka abon ikan. Rasanya enak banget! wajar harganya mahal ya.

“Sambal Lingkung… Sambal Lingkung… Sambal Lingkung, mulut bergetar, lidah berkoyang.” –permisi, nyamar jadi Ayu Ting Ting dulu hehehe.

Sambal lingkung (dibaca : sambelingkung) ? Makanan apalagi itu? Hihi. Nama boleh menggunakan embel-embek “sambal” namun faktanya, sambal lingkung sama sekali tidak pedas. Masaknya sih memang pakai cabai, tapi hanya sedikit saja. Bahan utamanya tetap saja daging ikan yang dicampur dengan santan dan beberapa bumbu dapur. Jika sudah jadi, sambal lingkung ini persis seperti abon. Sebagian orang yang tidak familiar pun menyebutnya dengan nama : abon ikan, walaupun sesungguhnya dalam bahasa asli daerah Palembang disebut sambal lingkung. Mau coba? 🙂

Seruput Kuah Pindangnya, atuh!

“Fahmi, nanti siang kita makan pindang buatan ibuku ya,” ujarku.

“Suka makan pindang, kan?” tanyaku lagi.

dsc_0572

Aneka pindang. Ada pindang patin dan ekor ikan gabus.

Fahmi adalah salah satu temen-boleh-nemu dari situs hospitalityclub (setipe dengan couchsurfing). Aku ingat, dulu Fahmi ke Palembang melakukan perjalanan overland dari Aceh dan mau pulang kampung ke Bogor. Selama di Palembang dia menginap di rumahku. Aku senang Fahmi tidak ada pantangan dalam urusan makanan. Ibuku, satu-satunya koki kece di rumah juga demen kalau tamu yang datang di rumah melahap masakannya.

“Iya, aku suka kok ikan pindang,” jawabnya.

Baiklah kalau begitu. Namun, begitu tiba di meja makan, Fahmi bengong. Karena ikan pindang yang ada dibenaknya jauh berbeda dengan pindang khas Palembang hehe. Ikan pindang yang ia kenal selama ini adalah produk awetan ikan dengan kadar garam rendah.

Sudah sejak beberapa waktu belakangan aku melihat teman-teman pada pamer kelezatan hidangan di @pempeksulthan namun belum juga berkesempatan untuk datang ke sana. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga mencicipi hidangan andalan yang ada di sana. Terlihat pindang Udang (50k), pindang patin (15k) dan pindang gabus (25k). Menu lainnya juga banyak, terutama pempek dan teman-temannya 😆😉 Terima kasih atas makan siangnya yang seru @deddyhuang & @nanadahlia Lokasi : Pempek Shultan, area ruko pasar induk, Jakabaring, Palembang. Buka dari pagi hingga pukul 21:00. #PesonaSriwijaya #PesonaIndonesia #WonderfulSriwijaya #WonderfulIndonesia #MusiTriboatton2016 #FoodInsta #FoodGasm #PindangPalembang #culinary #IGFood #foodgraphy #KulinerNusantara #Kuliner #FoodGram #MasakanIndonesia #Pindang #Foodism

A post shared by Haryadi | OMNDUUT | Yansyah (@omnduut) on

Keterangan : Pindang kepala baung, pindang udang dan pindang gabus. 

Lha, kalau di Palembang, pindang itu adalah nama lain dari sup ikan. Jadi, ikan segar dimasak di dalam kuah dengan campuran rempah. Jenisnya pun ada banyak macam dan varian. Begitupun hewan laut yang digunakan.

Pindang tidak melulu didominasi oleh ikan. Daging dan tulang/sumsum sapi, ayam bahkan udang dan kerang dapat dijadikan pindang. Bumbunya sedikit berbeda namun kesamaannya adalah makanan tersebut disajikan dengan kuah kaldu yang jika diseruput bisa bikin merem melek hehehe. Aku sendiri, paling suka tulang ikan tenggiri.

dsc_0643

Salah satu hidangan kerang

“Hah, tulangnya?”

Yup, ibuku kalau beli tenggiri, dagingnya dapat dijadikan pempek. Sedangkan kepala dan tulangnya dapat dimasak jadi pindang. Tulang ikan tenggiri itu berukuran besar dan jika dimasak, dapat dikunyah dan dimakan isi tulang (berupa sumsum) dengan mudah. Uniknya, gak ada satupun restoran (sejauh ini, sepengetahuanku) yang menjual pindang tulang ikan tenggiri. Mau icip? Yuk main ke rumah 🙂

Mari Fermentasi Hewan Laut : Mengenal Salai, Rusip dan Bekasam

Di salah satu tayangan televisi, aku sempat menyaksikan proses penangkapan ikan paus secara tradisional di Lamalera, Nusa Tenggara Timur. Saat ikan dibagikan merata ke seluruh pihak yang membantu penangkapan ikan paus, oleh mamak-mamak (para ibu) di sana, ikan sebagian langsung dimasak dan sisanya diasap agar tahan disimpan dalam jangka waktu yang lama.

Nah, di Palembang, ikan juga diasap (kalau disini dikenal dengan nama ikan sale/salai). Namun, biasanya ikan yang digunakan adalah ikan sungai seperti ikan selais, patin dan lele. Namun ikan baung laut juga dengan mudah ditemukan dalam bentuk salai. Trus makannya gimana? Dipindang! 🙂

Begitulah cara orang-orang lama mengelola hasil tangkapan laut yang kadang di saat-saat tertentu berlimpah ruah. Misalnya saja di Palembang, jika musim duren tiba, sisa duren yang melimpah itu dapat dijadikan tempoyak atau lempok. Begitupun jika hasil laut melimpah. Paling mudah sih ikan diasinkan ya. Tapi ikan asin itu sudah terlalu umum dan dapat ditemui di (hampir) seluruh wilayah Indonesia.

Lalu, apakah ada cara lain untuk “mengawetkan” ikan?

img_20161103_071658

Ini adalah rusip yang dibuat dari bahan dasar ikan teri.

Tentu saja ada! Di Palembang, orang dapat mengolah hasil laut yang melimpah itu dengan cara difermentasi! Tuh, kurang kreatif apa coba? Hehehe. Ada 2 jenis fermentasi ikan yang dikenal di Palembang. Yang pertama disebut rusip. Rusip ini biasanya dibuat dari ikan teri (atau udang), garam dan gula aren. Cukup itu saja, untuk kemudian diolah dan disimpan dalam sebuah botol kaca (biasanya).

Rusip dapat dimakan mentah sebagai teman lalapan atau cecelan ikan, cumi, udang atau apapun. Rasanya? Asin dan gurih. Jika mau dimasak dengan cara ditumis, juga bisa. Tinggal tambahkan irisan bawang merah, serai dan cabai. Dijamin akan menggoyang lidah dan menambah nafsu makan.

img_20161102_113816

Nah kalau ini rusip yang dibuat dari bahan baku udang

Untuk bekasam sendiri sebetulnya hampir sama, yakni proses fermentasi dilakukan dengan menggunakan ikan dan garam. Namun uniknya, pembuatan bekasam dicampur dengan nasi!

“Jadi makan nasi basi, dong?”

Ya nggak dong. Kan nasinya difermentasi bersamaan dengan ikan dan garam. Semua bahan itu dicampur jadi satu. Disimpan di dalam toples rapat dan diaduk per tiga hari sekali dengan sendok bersih. Dalam waktu 10 hari, bekasam siap untuk disantap. Sebelum dimakan, boleh banget ditumis dengan irisan tomat dan cabai. Aku ya, kalau makan dengan bekasam ini bisa kalap! Suer!

Ketimbang makan makanan dengan pengawet, menyantak makanan fermentasi tentu jauh lebih sehat. Makanan fermentasi biasanya mengandung enzim hidup, dapat menurunkan inflamasi (radang), meningkatkan kekebalan tubuh dan menyehatkan otak, mengandung lebih banyak prebiotok (suplemen untuk pertumbuhan) dan dapat membantu organ pencernaan. So, jangan khawatir untuk mengkonsumsi olahan hewan laut dalam bentuk fermentasi seperti ini.

img_20161102_071031

Ini dia penampakkan bekasam udang sebelum dimasak. Kelihatan kan butiran-butiran nasinya? 😀

Belum lagi kalau ditambah dengan sambal terasi. Nah terasi (yang di Palembang disebut caluk/belacan) pun terbuat dari ikan atau udang. Bagi sebagian orang baunya mungkin terasa begitu menyengat. Namun, menurutku disanalah letak nikmatnya makan terasi. Oh ya, selain dibuat sambal, terasi juga sering digunakan sebagai campuran membuat pindang, loh!

Sampai sini, pasti semua langsung pada ngeh ya. Bahwa, hewan laut itu ternyata dapat diolah menjadi berbagai macam olahan makanan laut. Dimulai dari ikan, udang, cumi, kerang, kepiting bahkan siput semua dapat diolah lagi menjadi jenis makanan lain. Belum lagi daerah laut di Indonesia Timur yang keragamannya biota lautnya lebih bervariasi, hewan macam tripang, lobster, gurita bahkan bulu babi pun dapat diolah jadi masakan yang enak. Luar biasa kayanya dan kreatifnya (orang) Indonesia, ya!

Nutrisi dari Hewan Laut

Namanya juga negara kepulauan ya. Ibaratnya, melipir dikit pasti ketemu pantai dan laut. Dan tentu saja hal itu pun berdampak positif terhadap hasil tangkap hewan laut di Indonesia. Apalagi sejak dipimpin oleh menteri yang “preman” (I adore her, btw), penghasilan ikan di Indonesia terus meningkat. Setidaknya pada triwilan II tahun 2016, produksi perikanan tangkap naik sebesar 1,68 juta ton dan produksi perikanan budaya naik sebesat 4,32 juta ton (dimana produksi ikan patin tertinggi se-Indonesia dipegang oleh Sumatra Selatan). Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi perikanan tumbuh sebesar 6,06% wow!

Kita pasti sudah paham betul bahwa gandungan gizi yang ada pada hewan laut terutama ikan itu luar biasa mengagumkan. Yang paling sering disebutkan yakni ikan mengandung zat Omega 3 yang mampu merasangsang pertumbuhan dan perkembangan otak (hmm, pantes ya badanku “tumbuh” banget hahaha). Serat protein yang ada pada ikan pun dapat membantu proses pencernaan. Efek lain yang dapat dirasakan yakni dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan risiko penyakit degenerative seperti jantung koroner, tekanan darah tinggi dan kanker.

Mengantuk, menguap bahkan sesekali memejamkan mata itu tanda bahwa manusia tetap hidup. Itu pula yang dirasakan pedagang ikan di Pasar Cinde ini. Terlebih, mereka biasanya berdagang sejak lewat tengah malam hingga siang hari. Pasar Cinde terkenal dengan bahan dagangan berkualitas baik. Lihat saja, ikan yang sudah mati bahkan diberi bongkahan es batu agar tetap segar. Di pasar lain, orang jarang melakukan hal ini. Sederhana, namun efek terhadap barang dagangan lumayan besar. Selalu ada cerita di pasar tradisional. #CindeMarket #Pasar #PasarCinde #traditionalmarket #Palembang #PalembangUP #PalembangTerkini #PalembangKuluKilir #OldBuilding #architecture #architectureporn #History #HistoricalBuilding #Shop #Shopping #ShoppingCenter #DailySumatra #FishMarket #VisitPalembang #EksplorPalembang #SumatraSelatan #KelilingPalembang #KelilingSumsel #InstaNusantara #PasarRakyat

A post shared by Haryadi | OMNDUUT | Yansyah (@omnduut) on

Keterangan foto : Pedagang ikan di pasar Cinde. Salah satu denyut nadi perekonomian rakyat di Palembang.

Ada banyak lagi manfaat dari mengkonsumsi hewan laut terutama ikan. Yakni dapat menjaga kesehatan mata, pembentukan energi, baik untuk pembentukan sel darah merah (sehingga mencegah anemia), membantu pembentukan enzim dan hormon, mencegah penyakit gondok dan penuaan prematur, serta kandungan mineralnya dapat menyehatkan gigi.

Ada sederet manfaat lain dari konsumsi hewan laut terutama ikan (sangat mudah ditemukan di laman pencari). Untuk itu, sangat disayangkan jika tidak menyukai makanan laut padahal di sisi lain tidak memiliki alergi. Beberapa sepupuku sendiri mengakui tidak terlalu menyukai hewan laut dikarenakan hal-hal yang sepeleh seperti tidak suka aroma amisnya atau takut ketulangan. Hmm… itu semua dapat disiasati pada saat proses pengolahan hingga menjadi makanan siap santap, toh?

Yuk Kopdar Kuliner Makanan Olahan Laut

Udah paling benar jika kumpul-kumpul bareng teman sambil mencicipi berbagai macam kreasi olahan makanan laut. Kalau ke Palembang, buang dulu deh istilah/jargon, “makan nggak makan yang penting ngumpul” hahaha. Kenapa? Ya soalnya banyak banget tempat kuliner di Palembang yang dapat dipilih untuk tempat kopdar (namanya aja kopi darat, lebih sering malah minum cuko pempek). Dari yang amigos (agak minggir got sedikit) hingga ke tempat-tempat yang fancy semua ada. Istilahnya, kalau ke Palembang itu, ngesot dikit pasti akan ketemu warung pempek. Gak percaya? Sini aku tantangin untuk dibuktikan 🙂

dsc_1025

Mari, makan pempek dulu kita 🙂

Aku sendiri, hampir selalu mengajak teman yang berkunjung ke Palembang untuk mencicipi makanan olahan laut ini. Selain harganya relatif murah, banyak ragam yang dapat ditawarkan dari makanan olahan laut ini. Semakin banyak yang mengkonsumsi makanan olahan laut, di sisi lain juga berdampak atas majunya perekonomian lokal, toh? Gak perlu beli ikan impor yang mahal. Beli ikan hasil tangkap dan budidaya tanah air pun udah bagus banget. Mana ikannya merupakan “ikan mati sekali”* kan? Hehehe.

So, kapan mau makan pempek atau pindang di Palembang? Sekalian aku tantang icip rusip dan bekasam juga ya. Berani? 😀

dsc_1103

Sumringah bersama pegawai warung pempek 🙂

Catatan : Ikan mati sekali adalah istilah yang aku temukan di salah satu seri buku yang ditulis Trinity. Istilah tersebut digunakan untuk ikan yang perlu waktu berhati-hari untuk di didistribusikan. Tentu saja hal tersebut turut mempengaruhi kondisi kesegaran dan juga rasa dari ikan tersebut.

yn-yucrf

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba #JelajahGizi2016 Info lengkap klik situs sarihusada ini.

UPDATE

Setelah melalui serangkai penilaian dari dewan juri (yang sayangnya tahun ini nggak disebutkan siapa jurinya), terpilihlah 10 pemenang yang akan diajakin food-trip ke Minahasa 🙂 selamat buat pemenang.

pemenang

Pengumuman dapat dilihat di sini http://bit.ly/2fGvafJ

Berikut tulisan para pemenang, urutan disesuaikan dengan nama yang tertera pada gambar :

[1] http://bit.ly/2fGxX4N  |  [2] http://bit.ly/2fGvaMJ  |  [3] http://bit.ly/2eGU4r6  | [4] http://bit.ly/2eOspYx  | [5] http://bit.ly/2eOu8wX   | [6] http://bit.ly/2fGvYz6   | [7] http://bit.ly/2fhZeO7  | [8] http://bit.ly/2fhWuQY  | [9] http://bit.ly/2g1UM7s  | [10] http://bit.ly/2foNAih

Dengan tema : Kreasi Makanan Olahan Laut, aku pribadi senang karena peserta dituntut kreatif menggali potensi kreasi makanan olahan laut di Indonesia. Aku banyak menemukan fakta tentang hewan laut yang sebelumnya bahkan tak aku sangka dapat dijadikan makanan, misalnya saja bulu babi.

Nntah siapa yang nulis, aku lupa, tulisannya keren banget, dan jadi salah satu jagoanku walau sayang tidak beruntung. Jika udah begini, balik-balik ke SELERA juri sih ya. Peserta lain yang menang juga tulisannya bagus-bagus. Beberapa nama memang langganan juara. Ada yang niat banget blusukan ke pasar buat membuat video dan mengolah bahan baku hewan laut jadi makanan.

Walau begitu, ada juga yang tulisannya hanya berdasarkan googling (dengan gambar yang googling juga tentu). Hmm gakpapa sih, sekali lagi, balik-balik ke selera juri. Namun rasanya tulisan semacam itu kurang terasa personal dan secara gak langsung penulis menyiakan kesempatan untuk menggali potensi makanan olahan laut yang ada di kotanya. *imho* Sekali lagi, selamat buat pemenang. Sampaikan salamku ke Minahasa dan Tomohon.

Iklan

100 thoughts on “Kopdar Kuliner : Kreasi Olahan Makanan Laut? Palembang Juaranya!

  1. Sebagai penggila seafood, baca tulisanmu pas jam makan siang adalah kesalahan besar! Huhu pengen pempek, tekwan, kemplang, pindang. Asli ngeilerr! Suamiku ga terlalu doyan pempek tapi doyan banget tekwan. Lumayanlah punya suami beda warna kulit ini ga terlalu sulit adaptasi sama makanan Indonesia. Semoga menang Om lombanya.

    • Kenapa gak suka mbak? apa karena teksturnya yang kenyal itu? hihi.

      Soalnya dulu ada guru bahasa Inggrisku (orang asing) bilang, “saya gak suka pempek, seperti makan karet” hahaha.

      Dan dia suka banget tekwan atau model.

      Amin, makasih supportnya mbak Deni 🙂

  2. aku termasuk orang yang alergi, untungnya yang baru ketahuan cuma udang yang ukurannya kecil-kecil saja hehehe. mungkin harus ada yang rela jadi pemakan sayur-sayuran kali ya..alias menghindari ikan-ikanan. btw itu mas Djangki numpang eksis di blognya oom ndut ini hehehe

  3. Awas ya nanti kalau aku ke Palembang gak diajakin ke tempat tempat yang diomongin ini semua, tahu sendiri ntar.
    Niatnya mbungkusin buat bawa pulang. Kan kalau olahan ikan ndak apa apa dibawa ke US.

      • Insya Allah boleh, bukan olahan daging.
        Eh di sini ada orang Palembang yang jago bikin pempek. Hampir semua bagian ikan tengiri dimanfaatin ama dia, sampe tulangnyapun dibikin krupuk.
        Rasanya jangan ditanya. Huenakkkk sekali. Dari sekian pembuat pempek yang pernah kubeli, pempek bikinan dia yang rasanya pualing mirip ama pempek bikinan langgananku di Surabaya, ampe cuko2nyapun mirip sekali.

        Tapi karena aku lebih suka bikin cuko sendiri, aku gak pernah minta cuko ke dia. Ordernya selalu pempek doang, tanpa cuko.

        Tentang rusip, kayaknya mirip makanan Filipina ya, namanya bagoong apa ya? Sering liat di Asian Market.

    • Untuk bikin cuko, gula merah mudah ditemukan kah mbak?

      Iya bener, tulang tenggiri itu tergolong lunak. Dapat dimasak jadi makanan atau jadi kerupuk. Suka banget sama ikan tenggiri 🙂

      • Gula merah banyak yang jual Yan, meskipun gak semua Asian Market jual ya. Aku beli gula merah secara online, karena gak ada Asian Market di kotaku.

  4. Haaar..postinganmu ini aku pandangin satu satu pics nya..ternyata seru juga ya aneka mpek2 itu..yang kukenal cuma beberapa ternyata ada 15! uiih…aku hrs main ke tempatmu Har, setidaknya ntar aku nitip ya buat dikirim 🙂

  5. Waduh, Yan liat makanannya langsung ngeces saya. Dulu waktu di Palembang saya tinggal di Dwikora. Setelah liat google earth ternyata pasar Cinde gak jauh dari Dwikora.
    Nanti kalo ke Palembang lagi saya mau samperin pasar Cinde.

  6. Kapan2 kalau mampir kepalembang mau ditemani sama om ndud ah. Bisa kan om?. Dulunpernah pergi sendirian tapi gk banyak yg bisa dicoba karena waktu dan kerjaan juga. Sekarang palembang udah ditagih sama istri…semoga segera kesampaian.hehe

  7. Sama om, aku juga penggemar mentri kelautan dan perikanan sekarang ini, dia betul-betul bekerja dan menyelamatkan kemaritiman Indonesia! salute!

    Sebetulnya bukan ikan atau hasil laut yang bikin alergi, tapi karena ikan tersebut mengandung Polycyclic Aromatic Hydrocarbon/ PAH *gila! aku masi inget ini pelajaran SMA* (takjub sendiri), jadi ya kalo lautnya babas polusi ya makan ikan laut gakan alergi.

    Ini tulisan buat lomba? tapi ga menang ya? padahal ini bagus lho, segala aspek diungkit , cuma jurinya beda selera kali ya? pengen yang lebih ilmiah kalik om… eniwey, semang terus ikut lomba2 ya om, pasti berhasil. Good luck

  8. Yan, postingan ini padat bergizi lho, kalo aku jadi juri pasti bakal lolos jadi pemenang! *kasih trophy & piagam*

    Dan ini juga postingan paling bikin mupeng, musti cicip semua dan bungkus buat oleh-oleh! #tekad Dan kunjungan ke pasar Cinde juga pasti bakal jadi photo essay yang sungguh menarik!

    • Iya mas, nanti aku ajakin ke pasar cinde. Buruan, sebelum pasarnya dihancurkan >.< *lagi pada protes orang-orang soalnya.

      Mengenai tulisan ini, makasih 🙂 belum rezeki dan sesuai dengan penilaian juri.

  9. Ping-balik: Bahasa Jambi di Kamus Besar Bahasa Indonesia – djangki | Avant Garde

  10. ternyata banyak bgt yg blm aku cobain makanan palembang ini… kamu beruntung bgt sih tingal di sana mas… pempek segala sudut kota ada… pindang ikan ama udangnya ampuuuuun ^o^!.. gila nih, aku jd kalap pgn ke palembang… rusip ama bekasan penasaran bgt juga mau nyobain…

  11. Ping-balik: Free Walking Tour Kampong Bharu : Jelajah Perkampungan Tradisional di Jantung Kuala Lumpur | Omnduut

  12. Tidak ada yg bisa menggalahkan Pempek dari Palembang!
    Berbagai turunan pempek berikut kuahnya pun byk jenisnya.
    aku pun takjub loh sm varian pempeknya. (waktu mencoba berbagai variannya itu.. lidah itu mencecap nikmatnya cukooo pempek, menjelajah perbedaan rasa gitu ) enakkk euyyy
    aku mahhh puas makan pempek2 selama 2 minggu wkt liburan di Palembang hahaha
    Pagi, Siang, Sore makan pempek.. (harap maklum.. di Jakarta itu cukooonya beda, ada cuko yg agak mirip pun hrs titip sm tmnnya adek di Bogor.. Ini yg bikin orang Palembang asli.)

    Kalau utk krupuk dan variannya.,
    Krupuk Palembang di bwh satu tingkat dgn krupuk asal Bangka & Belitong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s