Pelesiran

Mabuk di Failonga, Pulau Indah di Tidore Kepulauan

Saat menyiapkan tulisan Visit Tidore Island – Bukti Betapa Indonesia Itu Kaya untuk kepentingan kompetisi, saya sudah kepincut dengan Failonga, sebuah pulau kecil yang berada tak jauh dari Tidore Kepulauan. Alhamdulillah, saat dinyatakan sebagai salah satu pemenang dengan hadiah perjalanan ke Maluku Utara, panitia penyelenggara lomba –Ngofa Tidore, ternyata sudah menyiapkan waktu khusus agar saya dan rombongan dapat mandi-mandi-manjah di pulau seluas 1,1 km2 ini.

Saya bukanlah blogger #KainKodian seperti mbak Rien, yang sudah menyiapkan lima koper kain tradisional dari Sabang sampai Merauke untuk keperluan foto. Satu-satunya persiapan yang saya lakukan sebelum berangkat itu ialah nge-six-packs-in perut biar kece kalo foto telanjang dada kayak seleb-seleb di IG. Sayang, usaha itu gagal. Sama gagalnya seperti usaha saya dalam mendapatkan dik Chelsea Islan. –kasih jari tengah jempol ke Daffa Wardhana.

Jernihnya sungguh menggoda raga

Oke, ketimbang terus meratapi senyum dik Chelsea yang merekah bukan untuk saya, mari kita nikmati keindahan Pulau Failonga yang airnya jernih kayak air PDAM ini. Perjalanan kami ke Pulau Failonga terjadi di hari keempat selama kegiatan di Tidore Kepulauan. Dan, perjalanan itu bermuara di Pantai Tugulufa.

Intip tulisan Keseruan Selama di Tidore - Bagian 1 di sini

“Nyasar” di Pantai Tugulufa

Jarak antara Hotel Seroja, penginapan kami selama berada di Tidore dan Pantai Tugulufa tidaklah jauh. Ya, namanya aja Tidore pulau kecil, kan. Ibaratnya ditantangin jalan kaki ngelilingin pulau pun saya sanggup, asal disiapin bekal pempek dan es kacang merah, sih. Nah, dari Seroja, kami mengendarai mobil bak terbuka yang disopiri oleh sopir favorit sepanjang masa kami semua yakni si Rifqy Papan Pelangi.

Jalanan yang bersih di sekitaran Pantai Tugulufa

Biar kata mobil bak terbuka berwarna ngejreng, ini adalah mobil idola. Sebagain besar rombongan lebih senang berkendara dengan  mobil ini. Makanya, walaupun ada mobil satu lagi yang lebih fancy, biarlah mobil itu digunakan oleh tante-tante sahaja –dilempar nasi kuning sama geng tante-tante.

Pantai Tugulufa sendiri adalah salah satu pantai yang berada di sisi barat pulau jika diposisikan dari Pelabuhan Rum yang ada di Tidore. Ini tipe pantai wisata yang tak berpasir. Makanya, di sepanjang jalan, sisi pantainya dibeton. Kayaknya, sisi paling pinggir sekalipun, kedalamannya mencapai 1 meter. Kalau mau berenang sih bisa, tapi kalau mau pose manjah pake kain berselimutkan pasir, ya jelas gak bisa.

Rasanya ayunannya pingin saya balikin! buahahaha

Kami sempat “nyasar” di pantai ini karena mengira berangkat ke Pulau Failonganya dari sana. Ini karena kami melihat kapal yang akan kami gunakan bersandar di sekitaran pantai. Nyatanya, kami baru dapat menaiki kapal tersebut dari Pelabuhan Goto yang berada tak jauh dari sana.

Jalan menyusuri pantainya sih seru ya walaupun agak jauh. Cuma yang saya gak suka itu banyak muda-mudi pacaran. Ada yang sepedaan, jalan bareng, joging bareng, main ayunan bareng. Dih, begitu banget ya mereka pamer kemesraan. Saya gak suka! –lha, dia yang jomblo, dia yang sewot hihihi.

Bayar Bea di Pelabuhan Goto

Setelah melewati puluhan pemberhentian di sekitaran Pantai Tugulufa akibat oknum-oknum banci kamera, akhirnya kami tiba di Pelabuhan Goto. Pelabuhannya kecil dan sederhana. Hanya ada bangunan semi permanen dengan seorang penjaga berwajah seram –namun giginya cemerlang karena rajin disikat pake odol, yang sudah siap mencegat kami di sebuah kursi dan meja kecil.

Pelabuhan Goto dengan Kie Matubu, gunung cantik di belakangnya.

Semua orang yang akan menggunakan jasa perahu di Pelabuhan Goto ini dikenakan bea masuk Rp.1000. Murah euy. Lebih asyiknya lagi saat tahu bea yang murah itu sudah dibayari sama Ci Anita, ownernya Ngofa Tidore Tour & Travel hehehe. Duh, kalau ingat selama di Tidore kami dimanjakan sedemikian rupa, ingin rasanya saya melamar jadi anak saja. Sayang. saya kalau makan itu banyak, sehingga langsung gugur di persyaratan pertama. Oke oce.

Deretan kapal yang siap mengantarkan penumpang ke beberapa destinasi

Selanjutnya, saya dan rombongan giliran memasuki kapal. Dari luar sih kelihatan kecil ya. Tapi ternyata muat kok buat kami semua. Kalau nggak salah hitung sih, belasan orang ada. Apalagi kalau bodi saya dihitung dobel.

Perjalanan dari Pelabuhan Goto ke Pulau Failonga hanya memakan waktu sekitar 20 menit. Sebentar saja. Sepanjang perjalanan, saya cukup menikmati hentakan-hentakan gelombang yang terasa kuat karena dilalui kapal dengan kecepatan tinggi.

Intip tulisan Keseruan Selama Berada di Tidore - Bagian 2 di sini

Mabuk di Failonga

Sayang seratus kali sayang, begitu kapal mendekati bibir pantai yang ada di Pulau Failonga, saya mendadak merasakan mabuk laut. Perut terasa mual. Rasanya, nasi kuning dengan lauk ayam goreng, kerupuk, sambal kacang dan segelas es teh berontak ingin keluar. Kepala langsung pusing kayak pas terima tagihan kartu kredit. Gak enak bodylah bray!

Di sinilah isi perutku hampir tumpah. Ombak di sisi sini lumayan kencang sehingga kami pindah ke sisi lainnya.

Satu persatu rombongan terjun ke air. Ya, kapal memang tidak dapat merapat sempurna ke bibir pantai. Untung saja saya sudah membawa dry bag sehingga semua peralatan elektronik aman dari serangan air garam. Saya belum berani turun karena masih mual dan pusing. Duh, jangan-jangan itu waktunya saya lahiran? Ah belom kok, masih 5 bulan.

Keliatan kecil ya, tapi ya lumayan luasnya 1,1 km2

Karena tak tahan terus terombang-ambing, saya akhirnya memutuskan untuk terjun ke air. Emejing! Mual dan pusingnya langsung berkurang. Fix, goyangan kapal telah membuat saya mabuk. Atau juga, kesegaran air laut yang jernih itu menjelma menjadi obatnya? Ntahlah, yang jelas, saya bersyukur, nasi kuning dan kawan-kawan masih betah berada di perut.

Berenang Manjah di Failonga

Secara ya, di Palembang cuma ada Sungai Musi, saya begitu girang dapat menemukan pantai cantik seperti yang ada di Pulau Failonga. Pasirnya putih dan halus kayak bedak ketek. Airnya jernih sampe-sampe kalau pipis di laut pasti akan kelihatan jelas gradasi warnanya –sungguh bukan pengalaman saya, bener, saya gak perhatiin kok dulu pas pipis #eh

Duh siapa yang melukis langit secantik ini?

Nah itu dia kapal yang kami gunakan 🙂

Di beberapa bagian pantai memang berbatu. Tapi malahnya jadi kelihatan makin cakep! Hanya memang terumbu karangnya tidak sebanyak dan secantik seperti yang ada di Tanjung Konde yang kami kunjungi beberapa hari sebelumnya. Hmm, mungkin karena jenis karangnya juga beda kali, ya!

Sebagian sisi pantainya berbatu, tapi jadinya cakep!

Sambil berenang, saya asyik menangkap gambar bagian dalam laut. Terumbu karang, pasir putih, bebatuan, paha orang, semua berhasil saya tangkap gambarnya. Tapi herannya, begitu pulang ke Seroja, nggak ada satupun fotonya yang berhasil saya abadikan!

Haa, heran deh, padahal kamera aksi yang saya bawa berfungsi dengan baik. Hmm, kenapa ya? Apa karena lupa permisi ya? Secara konon katanya ada makam keramat di bagian bukit pulau ini. Atau, karena motret paha orang tanpa izin? Alaagh, pahanya Mas Eko ini yang dipotret muahahaha.

Tapi untunglah, ada kameranya Ayu yang dapat difungsikan. Jadilah satu foto saya yang tamvvan ini berhasil diambil. Makasih mas Dwi udah bantu motretin, prikitiw!

Berebut Makan Enak

Jatah makanan yang dibawa ke Failonga mah banyak. Tapi kalau makannya adem ayem, gak saling rebutan dan nyela, mana seru, kan? Hahaha. Di Failonga, Bams dan pasukan sudah bawa ikan mentah dan beberapa bahan yang dapat diolah menjadi makanan.

Rombongan Ngofa Tidore lagi bersantai. Ko Yudi sadar kamera hehehe

Jadi, sebelum makan Bams dibantu Ko Alting dan beberapa rekan lain, bergantian ngebakar ikan. Sebagai pengganti nasi, ada ketupat dan bongkol ketan. Makannya langsung dari atas daun pisang ditemani sambal dabu-dabu. Ya Allah, saya rela dik Chelsea diambil Daffa asal saya dapat makan makanan ini banyak-banyak.

Serhana, namun sangat berkesan. Selama makan, saya memilih untuk dekat-dekat Mbak Zulfa, Deddy dan Mbak Tati. Buat apa? Nganu… buat menampung kepala ikan hahaha. Mereka gak doyan, saya yang habiskan. Antara rakus dan gak mubazir bedanya tipis banget emang errrr.

Kelihatan rapi karena sadar kamera. Begitu kameranya gak ada, rebutan lagilaah! hahaha. Saya sering dapet operan makanan dari Yuk Annie 🙂

Ini dia makan siang kami, slruuppp.

Selesai makan ngapain? Ya berenang lagilah! Kulit gosong gakpapa. Lagian kalau habis jalan ke Indonesia timur gak gosong ntar dikira halu, kan? Sehabis makan, kita secara bergantian menggunakan lazy bag demi foto ala-ala yang cetar di instagram.

Ada juga pose renang ramai-ramai dengan formasi mengambanglah –poor you mbak Tati haha, formasi huruf S-lah, macam-macam. Sampai semua dapat giliran pose manjah, barulah kita pulang dengan membawa beberapa “karung” sampah peninggalan pengunjung sebelumnya. –tepok tangan buat Rifqy.

Dibalik foto-foto yang cetar para tante-tante, inilah para om-om yang berjuang keras demi semua itu.

Alhamdulillah, perjalanan singkat di Failonga berjalan dengan baik dan memorable. Sedikit tips buat kamu yang mau merasakan keseruan yang sama seperti kami, pertama, datanglah beramai-ramai jadi bisa sharing biaya kapal (Rp.500.000 sd Rp.600.000), kedua, bawa bekal karena gak ada warung apalagi resto junk food (ingat semua sampah dibawa pulang!)

Ketiga, bawa dry bag buat melindungi gadget. Bawa juga sun block bagi yang gak mau kulitnya mutung (alih-alih aksotis), dan juga kacamata hitam buat melindungi mata. Keempat, jangan nyoret-nyoret batu ya. Gak kece itu! Kelima, jangan datang dalam keadaan jomblo. Gak enak tahu main cipratan-cipratan air, tapi nyipratnya ke muka sendiri.

So, kapan kamu mau ke Failonga?

Sampai jumpa lagi Failonga

Iklan

43 thoughts on “Mabuk di Failonga, Pulau Indah di Tidore Kepulauan

  1. Cerita tentang pantai dibalut curhat2 ala jomblo emang Yayan bangeeet. Tiada dua! 🤣🤣🤣

    Kalo pasirnya putih dan halus kayak bedak ketek, trus batu2 item berserakan itu apa? Komedo 😂😂

    Foto underwaternya kece. Ketampanan omnduut naik 100 level 😛

  2. Aku menikmati membaca sembari kagum dgn pemandangan pantainya #timpantaibukantimgunung . Baik tulisannya maupun foto2nya sama sama tjakep.

    Pasti abis ini mo nanya : terus kalau orangnya cakep ga? ah dik Chelsea, kamu terlalu cepat memutuskan pilihan sih 😂😂😂

  3. Ya Allah, Bang. Aku cuman bisa terpana bacanya sambil liat foto-foto cakep itu. Sambil berkata dalam hati ” Kapan suami ngajak bulan madu lagi ya ” *eh*

    Itu kok perpaduan alamnya sempurna banget siy. Beningnya air laut, birunya langit, hijaunya gunung sama hasil lautnya yang berlimpah

  4. Jngan dtng dg ngejomblo? Emang Anda udah gak jomblo ya, haha…

    Hebat ya, mungkin krn sugesti atau ap, kok rasa mau mabuk lautnya jd ilang klau pas nikmati keseruan sprti crta Anda ini, hihi….

  5. Ping-balik: Gagal Berlama-lama di Kota Lama Semarang | Omnduut

  6. Aih, bikin kangen Failonga. Dan kayanya aku yang gosongnya paling maksimal di sini. Hahaha. Btw, kukira kamera underwater itu punya Koh Deddy, makanya aku cuek aja nggak minta fotonya. Nanti ajalah mintanya, biar sekalian. Eh, ternyata punya Ayu ya. Dan foto underwater-ku entah di mana. Hiks.

    Btw, kapan ke Failonga lagi?

    • Iya mas, aku juga gak ambil foto underwater itu, karena Deddy semua yang ambil, mestinya aku jua langsung ambil sendiri dengan resolusi gede.

      Semoga bisa ke Failonga lagi nanti amin.

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s