Pelesiran

Menyusuri Lorong Waktu di Yogyakarta

Saya merasakan aura yang khas dan berbeda di satu tempat setiap kali melakukan perjalanan. Karenanya, saya dapat datang ke destinasi yang sama, berulang kali, hanya untuk merasakan aura menyenangkan seperti yang pernah saya rasakan di perjalanan sebelumnya.

Hmm, saya kira, masing-masing pejalan juga merasakan hal ini. Dan, tentu saja apa yang dirasakan seorang pejalan di satu destinasi belum tentu sama dirasakan oleh pejalan lain. Lalu, bagi saya, salah satu tempat yang memiliki aura yang sedemikian positif itu ialah Yogyakarta.

Saya menyukai semua jenis wisata, baik wisata alam atau budaya. Namun, mendatangi kawasan tua di satu kota ternyata lebih menyenangkan untuk saya lakukan. Jika di kota yang saya datangi tidak memiliki kawasan kota tua, cukup bagi saya untuk mendatangi museumnya. Yogyakarta sendiri merupakan satu paket yang lengkap. Kota ini memiliki panorama alam yang indah serta dipadukan dengan kebudayaan yang kental.

Inilah sekelumit perjalanan saya menyusuri lorong-lorong waktu di Yogyakarta….

Museum Sonobudoyo menempati sebuah bangunan yang berusia 88 tahun. Dari luar, bangunannya nampak sederhana saja, namun tetap terasa khas Yogya-nya. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke keraton, dapat dibilang Sonobudoyo adalah “gerbangnya” karena letaknya yang berada di kawasan Alun-Alun Utara dekat dengan area keraton.

Salah seorang teman saya, datang jauh-jauh dari Filipina ke Yogyakarta “hanya” untuk ngeborong topeng semacam ini.

Dari area depan, berjejer pelbagai instrumen musik khas Jawa. Begitu masuk, Ruang Purbakala langsung menyambut dengan benda peninggalan masa prasejarah (nirlikha) yakni masa saat orang belum mengenal tulisan. Selain itu, setidaknya ada 10 jenis benda koleksi yang tersimpan di sini. Mulai dari koleksi geolika, arkeologi, historika dan sebagainya.

Patung Sendi Singaambara yang melambangkan kekuatan, kekuasaan dan jiwa kesatria ini menjadi salah satu benda seni yang dipamerkan.

Saya suka dengan penataan museum yang dulunya merupakan yayasan yang bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok ini. Favorit saya adalah Ruang Topeng dan Ruang Wayang, karena sangat terasa Jawa-nya. Di ruangan lain, saya sempat melihat kitab suci yang ditulis dengan aksara Jawa. Luar biasa!

Wayang Golek, salah satu jenis wayang yang dikenal luas di Indonesia terutama tanah Jawa. Perhatikan batik yang digunakan, cakep, ya!

Kitab suci yang ditulis menggunakan Bahasa Sansekerta

Saat kedatangan ke sana, museum cukup ramai oleh wisatawan. Selain karena lokasinya yang strategis, biaya masuk ke museum yang buka setiap hari dari pukul 08:00 hingga 15:30 ini juga sangat murah. Hanya Rp.3000 untuk dewasa dan Rp.2500 untuk anak-anak.

Diskon sebesar Rp.500 akan dikenakan jika pengunjung datang dengan rombongan. Untuk turis asing, perbedaan harganya pun menurut saya masih wajar, hanya Rp.5000.

Cuaca sangat bersahabat saat itu. Saya melewati trotoar sambil menikmati hembusan angin. Kehidupan warga lokal tergambar baik di sini. Tukang becak duduk sabar menunggu calon pengguna, sebagian lagi menunggu di warung kecil sambil ngopi. Namun ada satu hal lagi yang sangat menarik perhatian, yakni keberadaan “Cukur Neng Ngisor Ringin” atau tukang cukur di bawah Pohon Beringin.

Pak Udin sedang merapikan rambut salah satu pelanggannya yang berada di sebuah Pohon Beringin besar.

Deretan becak berbentuk khas Yogakarta di sekitaran keraton.

Saya salut, berbekal kursi plastik dan sebuah cermin, Pak Udin –nama beliau, ternyata sudah 18 tahun mencari rezeki sebagai tukang cukur di kawasan ini. Tarifnya sangat murah, hanya Rp.5000 saja. Di Palembang, mana ada tukang cukur yang masih menerima upah sebesar itu. Salut buat kegigihan Pak Udin mencari nafkah untuk keluarga. Juga, pejuang kehidupan lainnya yang ada di sana.

Saya memutuskan untuk beranjak dan kembali berjalan. Saya tiba di pintu masuk keraton tak lama kemudian. Keraton Yogyakarta atau dalam bahasa aslinya disebut Keraton Kasultanan Ngayogyakarta sampai sekarang masih menjadi tempat tinggal resmi para sultan yang bertahta di Kesultanan Yogyakarta.

Patung Batara Kala di pintu masuk keraton. Memiliki unsur dewa dan dewi yang diceritakan dalam cerita wayang Jawa yang diyakini sebagai simbol untuk menolak bahaya (tolak balak) dan menangkal roh jahat.

Keraton/karaton sendiri bentuk singkat dari ke-ratu-an, yakni tempat ratu bersemayam. Saya baru tahu, di Jawa, “ratu” pun dapat diartikan sebagai “raja”.

Pembangunan keraton pun tidak sembarangan, penuh dengan nilai-nilai filosofi (dan juga mistik) yang kental. Masing-masing bangunan yang berdiri di sana, dibuat dengan perhitungan yang matang.

Bangunan-bangunan yang ada di area keraton. Tidak semua bangunan ini memiliki akses masuk ke dalam bagi wisatawan. Semua area ini dapat dijelajahi dengan hanya membayar Rp.5000 saja.

Salah satu pendopo yang ada di area dalam keraton. Konon, dulu tamu yang datang biasanya dijamu di pendopo ini.

Salah satu bagian keraton yang dilarang diakses wisatawan. Hanya dapat memandang keunikan dan kemegahannya dari pagar pembatas.

Sejak pertama kali didirikan pada tahun 1755 oleh Sultan Hamengku Buwuno I, hingga sekarang, secara umum komplek kesultanan ini masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Sungguh, saat berada di sana, saya seolah diajak masuk ke dalam lorong waktu. Belum lagi ditambah alunan gamelan di pertunjukkan wayang yang mengalun merdu. Sungguh harmonis.

Dari balik layar pertunjukkan wayang di area keraton. Berbagai macam instrumen musik ditabuhkan di sini.

Salah satu pemukul gamelan. Sungguh harmoni saat mendengarkan alunan musiknya secara langsung.

Satu hal lagi yang saya suka dari kawasan keraton ini ialah keberadaan Abdi Dalem yakni orang yang mengabdikan dirinya kepada keraton dan raja yang masih memakai pakaian Jawa lengkap. Abdi Dalem sendiri terbagi dua yakni Abdi Dalem Kaprajan yang punya derajat lebih tinggi dari Abdi Dalem Punakawan. Walau begitu, apapun bedanya, pengabdian mereka tetaplah sama.

 

Awalnya, saya mengenal tempat ini dari foto-foto yang ada di instagram. Ya, sekarang instagram jadi salah satu media promosi yang luar biasa. Saat baru akan berencana ke Taman Sari saja, saya sudah membayangkan berbagai macam foto yang akan saya dapatkan 🙂

Istana Air yang terletak sekitar 500 meter dari keraton ini menempati area seluas 12 hektare dan pertama kali dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758 yang terdiri dari 57 bangunan berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air ataupun danau buatan yang disebut dengan segaran.

Salah satu sisi reruntuhan dari Gedhong Kenongo, bangunan dua lantai yang dulu seolah terlihat mengambang karena berada di sisi danau buatan. Kini danaunya sudah berganti dengan rumah-rumah penduduk 😦

Ini dia dinding-dinding kokoh Gedhong Kenongo yang masih dapat dilihat sekarang. Kebayang kan betapa megahnya bangunan ini dulu.

Makanya, tak heran istana ini dikenal sebagai Istana Air karena dulunya kawasan ini terlihat mengambang diantara danau buatan yang ada. Sayang, komplek Istana Air yang juga dikenal dengan nama Taman Sari ini sudah hancur karena bencana alam. Hanya reruntuhannya saya yang dapat dilihat.

Namun, ada bangunan-bangunan yang masih berdiri tegak. Misalnya saja Umbul Binangun/Umbul Pasiraman yang merupakan kolam pemandian bagi Sultan, permaisuri, garwo ampil (para istri), serta putri-putri raja.

Saat berada di sana, sekali lagi, saya seolah tersedot oleh mesin waktu. Imajinasi saya bergerak ke ratusan tahun lalu, saat para sultan dan keluarga menikmati kolam pemandian yang dikelilingi oleh beton tinggi ini.

Ini dia, Kolam Pemandian Umbul Binangun yang dulu digunakan oleh para raja dan segenap anggota keluarganya.

Kolam Pemandian Umbul Binangun jika dilihat dari bagian dalam menara.

Kolam Pemandian Umbul Binangun terdiri dari 3 kolam utama. Ini dua kolam yang berada bersisian, satu lagi berada di bagian belakang menara tempat saya mengambil foto ini.

Kolam Pemandian Umbul Binangun yang berukuran paling kecil, berada di bagian belakang menara.

Bagian lain yang buat saya penasaran adalah keberadaan Sumur Gumuling yang menjadi satu bagian dengan Pulo Panembung, bangunan berlantai dua yang konon, dulu, digunakan sultan untuk bermeditasi.

Nah, saat menuju Sumur Gumuling inilah, saya harus melewati lorong-lorong temaram yang membuat jiwa petualangan saya menyeruak. Sungguh, ini sebuah perjalanan luar biasa di Yogyakarta.

 

Saya tak ingin mengakhiri perjalanan terlalu cepat hari itu. Segera, selepas menyusuri lorong-lorong waktu di kawasan Keraton dan Taman Sari, saya melangkahkan kaki menuju Kotagede, sebuah kecamatan yang berada sekitar 5,5 km dari keraton. Saya ingin menyaksikan sisa-sisa kejayaan Kerajaan Mataram dari sana.

Semacam pintu gerbang Kotagede, berupa jembatan yang membelah Sungai Manggisan.

Sebelum menuju ke kawasan komplek pemakaman raja-raja, saya menyusuri kawasan bernama Between Two Gates atau Di Antara Dua Gerbang, sebuah frasa/penamaan dari sebuah sistem tata lingkungan Kampung Alun-Alun di RT.37 RW.09 yang berada di Kelurahan Purbayan. Frasa “Between Two Gates” sendiri pertama kali diperkenalkan oleh tim peneliti arsitektur dari luar negeri pada tahun 1986.

Berjalan di kampung ini, saya serasa masuk ke dalam sebuah labirin raksasa. Sebagian besar lorong-lorong yang ada berukuran sempit dan hanya dapat dilalui oleh manusia, atau setidaknya sepeda. Sebagian lagi ukurannya cukup besar sehingga dapat dilalui sepeda motor atau becak, namun tidak untuk mobil.

Ini tipikal jalanan di kawasan Between Two Gates. Hanya muat maksimal 2 becak.

Pintunya dan jendelanya model lama. Mengingatkanku akan rumah-rumah yang ada di Kampung Arab Al-Munawar di Palembang.

Bersih! Itu kesan pertama saya terhadap kampung ini. Rumah-rumah yang ada sebagian besar masih mempertahankan desain tradisional, termasuk keberadaan Rumah Joglo milik UGM yang dapat saya lihat secara langsung interiornya.

Ruang tengah Rumah Joglo yang dimiliki oleh UGM. Dapat dibilang, ini sebuah rumah pajang bagi wisatawan yang ingin melihat isi Rumah Joglo.

Bagian dapur Rumah Joglo. Peralatan memasaknya masih tradisional.

“Coba lihat bambu kecil ini,” ujar Mas Wawan, penduduk lokal yang menemani perjalanan saya di Kotagede. “Ini lambang semangat gotong royong di sini. Setiap hari, warga memasukkan uang yang nantinya akan digunakan untuk kegiatan bersama,” sahutnya lagi.

Di setiap rumah, ada tabung kecil yang terbuat dari bambu seperti ini. Setiap hari, ada petugas datang untuk mengambil uang yang diberikan oleh pemilik rumah.

Satu hal yang sulit dicari di kawasan ini ialah sampah. Yang mudah ditemukan? keramahan penduduknya!

Cantik sekali jendelanya.

Saya terharu, hal-hal semacam ini sudah jarang saya temui. Namun, pemukiman kecil yang sudah ada sejak tahun 1840 (ditandai dengan tulisan “Atmosoeprobo 1840” di sebuah gerbang di bagian ujung timur) ini masih mempertahankannya.

Unik ya, ini pintu gerbang masjid namun macam pintu masuk sebuah pura. Menunjukkan keharmonisan luar biasa di kampung ini.

Area Masjid Gedhe, besar dan sejuk karena tanpa penyekat sehingga angin langsung menyentuh lembut kulit saya.

Selanjutnya, perjalanan saya berlanjut ke di Masjid Gedhe Mataram. Di sana, saya sempat menunaikan shalat di masjid yang dibangun oleh Sultan Agung bersama-sama penduduk setempat termasuklah umat Hindu dan Buddha pada tahun 1640 lalu. Tak heran, arsitektur bagian gerbangnya mirip pura yang ada di Bali. Masjidnya sendiri tidak terlalu besar, namun cukup mengakomodir kebutuhan beribadah penduduk sekitar. Di area samping masjid inilah terletak makam para raja-raja Mataram.

Selama ini, saya sangat terbantu saat melakukan pemesanan transportasi pesawat atau kereta dan juga pemesanan hotel melalui Traveloka. Kini, Traveloka hadir dengan layanan Aktivitas & Rekreasi-nya, dimana, para pelancong dapat mempercayakan aktivitas liburannya kepada Traveloka tanpa perlu antre sehingga waktu berlibur menjadi lebih efektif.

Sebuah gerbang dengan ukiran indah yang berada di kawasan Taman Sari.

Tak hanya di Yogyakarta dan beberapa kota besar lain di Indonesia, jangkauan aktivitas dan rekreasi yang ditawarkan oleh Traveloka pun dapat ditemukan hingga ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, Jepang, Thailand dan Australia.

Saya sendiri pernah membantu sepupu mencarikan tiket masuk ke Universal Studio yang ada di Singapura, dan saya menemukannya di Traveloka dengan harga yang jauh lebih murah daripada yang dijual di situs resminya. Selisihnya hampir Rp.80 ribu! Lumayan banget, kan?

Bagi teman-teman yang ingin merasakan pengalaman seperti saya menyusuri lorong waktu di Yogyakarta, dapat mengambil paket perjalanan One Day Holiday Yogyakarta yang tahapannya saya jelaskan di bawah ini.

Oh ya, pilihan aktivitas & rekreasi-nya pun beragam. Misalnya, setelah mengikuti One Day Holiday Yogyakarta wisatawan dapat memilih aktivitas lain seperti Midnight Trekking di Gunung Merapi, Exploring Kalisuci & Nglambor Beach Day Tour, Exploring Yogyakarta’s Natural Beauty dan masih banyak lagi.

Ketika perjalanan sudah direncanakan sedemikian baik oleh Traveloka, jelas menjadikan liburan semakin mudah dan menyenangkan, bukan? Rasanya, saya tidak sabar untuk merencanakan perjalanan selanjutnya bersama Traveloka. Ada yang mau ikut? 🙂

Iklan

131 thoughts on “Menyusuri Lorong Waktu di Yogyakarta

  1. Dulu klo ke Taman Sari mblusuk lewat belakang Kampung Cyber, sekarang loket di mana-mana hahaha. Terakhir ke sana malah dikasih tiket lima lembar sama tante-tante haha.

  2. Aku suka dengan konsep rumah joglo. Selain itu auranya juga terasa beda. Ngademin banget istilahnya. Kesan Njawani yang kuat bikin betah lama-lama di sana☺. Udah lama aku ngga mampir ke Jogja, nih. Rinduuuuuu😍

    • Sama-sama mbak Ima 🙂

      Samalah, di Palembang juga penduduk lokalnya bisa jadi gak pernah mendatangi tempat wisata tertentu jika gak sedang nemanin tamu. hihi

    • Iya ada 🙂 selain menyediakan paket wisata, beberapa tiket masuk wahana/atraksi juga dijual dengan harga yang lebih murah ketimbang situs resmi wahana tersebut. Keren banget emang Traveloka ini 🙂

  3. Entah kenapa dulu saat masuk Taman Sari itu, nuansa mistisnya berasa sekali. Kecuali bagian kolam yang terbuka. Ada satu kamar yang di dalamnya ada ranjang “ratu”, aku masuk dan melihatnya. Saat ditawari masuk lorong bawah tanah, aku menolak. Abis dari sana aku cari bacaan tentang lorong itu. Penasaran.

    Btw, fotomu bagus2 banget Yan. Jogja tergambar indah dalam gambar dan tulisan ini.

  4. Bertahun-tahun tinggal di Klaten yang tetanggaan sama Jogja, aku baru sekali lho ke Museum Sonobudoyo, bulan Agustus tahun ini. Hahahaha.. dan setuju, ini museum cakep banget sebenernya. Cuma sayang sepi pengunjung.

    Oh, juga Kotagede itu bikin jatuh cinta setengah mati sama Jogja. Aku suka banget pas main ke Between Two Gates di sana.

    • Kebetulan pas aku datang itu agak rame museumnya, mungkin karena akhir pekan, ada beberapa wisatawan yang mau ke keraton mampir dulu ke Sonobudoyo 🙂

      Iyaa 🙂 kayaknya aku kalau tinggal di sana bakalan betah. Kayaknya tenang gitu. ^^

  5. Yok ke jogja lagi.. Sekarang pas ada even pasar malam sekatenan… Mas yan dah tau blm sejarah ada nya pasar malam sekaten??? Hayuuuuk.. Jogja emang nggak ngebosenin dah

  6. Aha, Water Castle! Ini tempat pertama yang kukunjungi di awal-awal merantau di Jogja tahun 2000 dulu. Ada teman yang kerja di toko Dagadu (bajakan) persis di sebelah Pasar Burung Ngasem yang sekarang kayanya udah gak ada. Dulu biasa masuk ke Gedhong Kenongo lewat jalan belakang Pasar Burung Ngasem ini.

    Udah gitu, masuk ke Sumur Gumuling alias masjid bawah tanah yang cuma sepelemparan batu dari Gedhong Kenongo. Masa itu belum ada tiketnya, cuma disediain wadah buat orang-orang yang mau nyumbang sukarela aja.

    Puas di Sumur Gumuling, masuk ke Taman Sari lewat “jalan belakang” alias kampung-kampung yang sekarang kondang sebagai Kampung Cyber itu. Nanti tembusnya pas di gerbang yang ada di foto. Tapi sekarang kayanya udah gak bisa ya lewat situ, mungkin udah ada yang jaga juga. Hahaha.

    • Sekarang banyak penjaganya mas Eko. Rasanya di tiap pintu masuk baik itu lorong, atau bangunan, ada orang-orang yang menjaga. Untungnya tiket masuknya (masih) murah, dan aku suka gap antara harga turis lokal dan asingnya nggak gila-gilaan banget.

  7. Dari semua yang dirimu beberkan di atas, cuma Kotagede aja yang belum pernah aku kunjungi. Anehnya, setiap kali ke Jogja adaaaaa aja yang membuat aku urung ke tempat satu itu. Kalau dilihat sekilas sih, Kotagede ini mirip dengan kampung kakekku di Kudus. Penuh labirin, rumah-rumah berbenteng, bangunan yang lawas-lawas dengan penanda tahun di atasnya, dan juga gapura-gapura bergaya Hindu Buddha.

    Yayan harus main ke Kudus ya kapan-kapan 🙂

  8. Aku pertama liat kolam pemandiannya langsung menganga om. Besar kali. Coba kalo sedikit di pugar. Foto di sumur gumuling itu instragamable banget, sering juga digunakan untuk prewed tjakep. Aku dapat informasi sumur gumuling itu ada yang bilang masjid bawah tanah, terliha dari lorongnya. Rumah joglo itu milik UGM ya om, emang dari dulu kah? Gak ada habisnya kalo ke Jogja kayak akan wisata. Udah lama gak ke sana >.<

    • Seingatku, rumah joglo itu dulunya bukan disitu, sama UGM dibeli, dibongkar pasang dan ditempatkan di lokasi yang sekarang di sekitaran Kotagede 🙂

      Iya, aku setuju, kolamnya bisa direnovasi, tapi jangan sampai menghilangkan “kejadulannya” karena itulah yang bikin cakep. Betul, Sumur Gumuling juga katanya masjid bawah tanah. Keren ya 🙂

    • Bukan begitu 😀 jadi dibeli sama UGM karena demi mempertahankan si rumah.

      I’m not sure, namun menurutku kurang lebih begini, itu rumah penduduk lokal yang mau dijual. Sama UGM dibeli dan dipindahkan ke kawasan ini. Dibeli untuk mempertahankan si rumah, karena jika dijual sama orang lain, kita gak tahu rumahnya bakalan diapakan.

      Sama UGM, rumah ini dijadikan semacam rumah contoh, dan semua orang bisa datang, masuk dan melihat isi rumahnya dengan segala perabortannya yang masih asli.

  9. Sebagai orang Jawa dan sering ke Jogja, aku malu lho baca postingan ini karena belum pernah ke Kotagede. Bahkan, weekend kemarin pas mau Borobudur Marathon pun udah merencanakan mampir ke Kotagede belum kesampaian juga. Hiks 😥

    • Kayaknya gak ada orang yang gak pingin balik ke Yogya lagi, lagi dan lagi ya mbak hahaha, kecuali orang yang punya kenangan jelek di sana. Macam, diputusin pacar hihihi

  10. Wah ngiriiiiiiii 😛
    Di sana masuk museum boleh ya foto2 bawa kamera, soalnya kan ada bbrp museum yg gak ngijinin.
    Jadi ikut ngebayangin masa lalu di keraton2 itu, keluarga raja tinggal. TFS

  11. Tes tes tes….. *semoga komen ini nggak mental lagi -__-”

    Hai Salam kenal !! *dikeplak.
    Duh aku tuh dalam sebulan bisa dua kali bolak balik Jogja buat ngatur bisnis wkwkw tapi kok yaa nggak pernah sempet mampir ke museum sonobudoyo itu (atau mungkin udah pernah kali ya, terus aku lupa).

    Aku pengguna traveloka garis keras banget, tapi belom nyobain beli tiket rekreasi via traveloka *cobainahabisini.

    • Alagh sok mau ngatur bisnis, padahal ada cem-ceman kan di sana? hahahaha.

      Haha aku pun penggemar garis keras Traveloka, sangat terbantu buat buking-buking. Aku mau cobain ah ntar beli tiket atraksi kalo main-main ke negara tetangga.

  12. Baru ngeuh kalo daftar pilihan rekreasi di Traveloka bisa seseru itu euy. Tiap buka app traveloka lihatnya cuma hotel + kereta api 😀

    Saya pernah ke Kotagede & menjelajahinya. Sangat berkesan. Terutama kebersihannya. Apa yg bikin mereka sekompak & sepatuh itu ya. Iri saya mah euy. Di Bandung rasanya gak ada yg kayak gitu. Jogja ini ya, antara hedonisme wisata & kehidupan tradisinya bisa beriringan.

    • Iya setuju 🙂 aku juga salut masyarakat di sana bisa seharmonis itu. Mungkin karena pada dasarnya mereka menerapkan penuh prinsip-prinsip berkehidupan yang selaras ya. Gak usil sama tetangga, saling membantu dsb dsb 🙂

  13. Baca artikelmu yang ini Om, mengingatkanku waktu perjalanan ke Jogja dulu. Karena terbatas waktu dan maksa ke tetep ke Jogja jadi akhirnya gak sampe 24 jam di sana tapi aku sempet main ke Taman Sari dan Malioboro.

    Setelah baca ceritamu, ternyata banyak banget yang belum ke-explore.
    Nambah lagi deh nih bucket list destinasi buat balik ke sana 😄

    Makasih udah sharing Om, nanti cerita lagi ya!

  14. Kangen jogja.. dlu hmpr tiap minggu k sana.. aktivitas di traveloka aq udah coba utk beli tiket transmart, cm petugasnya krg familiar cr reedemnya jd nunggu lmyn lama.. semoga ditempat laen g spt itu yaa..

  15. Ping-balik: Gagal Berlama-lama di Kota Lama Semarang | Omnduut

  16. Hai, Om Ndut. Dah kesini belum ya, sepertinya gak asing sih sama blog ini. Tapi ya udah lah, salam kenal ya 🙂

    Udah 4 tahun di Jogja, meskipun gak asing lagi tempat-tempat diatas, tapi bagiku tetap gak ngebosanin untuk main lagi ke tempat diatas. Terlebih disaat taman sari, dulu mah gak seketat sekarang. Maksudnya sekarang kan tiket dimana-mana ya. Dulu mah nggak seperti itu..he

    • Hi mas Andi 🙂 rasanya tak asing juga, makasih udah mampir yaaa.

      Bener, tempat-tempat itu sungguh ngangenin. Btw, ada blog juga? apa alamatnya? aku mau mampir ke sana hehe

  17. Saya pernah lari terbirit-birit di bawah lorong Sumur Gumuling tahun 2011 bersama sahabat saya gegara kami tersesat cari jalan masuk awal kami parkir motor. Asli pengalaman konyol. Gelap, maghrib, mencekam..hahaha

    Jogja gak ada matinya! Ngangenin

  18. Hwaa Jogja. Aku udah sempat ke Keraton (tapi tutup) terus mampir ke Tamansari tahun lalu 😀
    Tahun ini belum ada ke Jogja lagi, Tapi kayanya kalau ke Jogja aku maunya main ke pantai2 yang di Gunung Kidul deh, tempo hari belum sempet. Tapi sik jalan-jalan di kotanya aja udah nyenengin sih kalo Jogja.

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s