Pelesiran

Keseruan Selama Berada di Tidore – Bagian 2

.

Kalau ngomongin Tidore, rasanya nggak habis-habis, deh! Maklum saja, ke sananya aja lebih dari seminggu. Tentu saja akan banyak kisah yang dihasilkan. Sebagian sudah aku ceritakan di bagian pertama postingan Keseruan Selama Berada di Tidore ini. Bener-bener deh, udah tempatnya cakep, jalannya pun dengan teman-teman terbaik. Love sangat, dah! Oke, tanpa ngoceh lebih banyak, mending baca langsung aja ya, keseruan apa saja yang kami alami selama berada di Tidore saat itu.

Menangkap Sunrise di Benteng Torre

Selain Benteng Tahula, Benteng Torre adalah tempat yang cocok untuk menangkap matahari terbit. Walaupun err, tempatnya rada horor sih haha, nganu, aku sempat lihat “sesuatu” di sini sehari sebelumnya. Tapi, tetap dong datang ke sana subuh-subuh nungguin matahari terbit. Takut? Iya sedikit. Tapi karena niat kita baik, mestinya sih aman saja ya.

Menunggu matahari nongol 😀

Benteng Torre ini cakep karena view yang dilihat adalah hamparan laut dan pulau Halmahera di bagian depan. Jika menoleh ke belakang, Kie Matubu berdiri gagah di belakang. Gunung yang juga menjadi puncak tertinggi di Tidore ini seolah-olah hadir sebagai penjaga bagi masyarakat setempat. Awesome!

Sarapan Kue Khas Tidore

Dunia mengakui, kuliner Indonesia itu juara! Nah, tak terkecuali yang ada di Tidore. Untuk sarapan “besar” biasanya ada nasi kuning dengan lauk ikan laut yang digoreng pedas. Rasanya? Duhai! Nah, untuk selingannya bisa banget mencicipi kue-kue khas Tidore ini.

Favorit semua! 🙂

Aku lupa namanya apa saja. Namun ada satu yang jadi favoritku banget. Yakni kue yang dalamnya dilapisi dengan selai kenari. Uh, kalau hotel udah siapin kue ini, biasanya aku makan banyak hahaha. Secara umum, kue khas Tidore tak jauh beda dengan yang ada di daerah lain. Paling enak sih makan kue-kue ini sambil minum teh atau kopi. Slrup!

Berkunjung ke Masjid Kesultanan

Masjid ini dekat dengan penginapan kami selama di Tidore. Sangat walkable. Namun hingga hari terakhir, kami tak sempat shalat di sana. Jadwal sedemikian padat. Atau bisa juga karena keberadaan mushola yang letaknya lebih dekat, mengakibatkan kami lebih memilih ke mushola tersebut.

Masjid Kesultanan yang tak sempat dimasuki

Ada satu peraturan ketat yang diberlakukan pengurus masjid. Yakni, wajib mengenakan baju koko putih dan celana panjang hitam jika mau shalat di sana. “Jadi pakai sarung gak boleh?” yes, nggak boleh. Alasan tepatnya nggak tahu. Bisa jadi di zaman dulu pakaian itu dinilai lebih aman digunakan di situasi genting. Namun, rata-rata orang sana yang kutanya, jawabnya, “sudah dari dulu begitu.” Hmm.

Blusukan ke Pasar

Lupa siapa yang bilang, namun kurang lebih begini yang aku ingat. “Jika mau melihat kehidupan asli masyarakat setempat, kunjungilah pasarnya.” Dan itu bener banget! Makanya, saat ke Tidore, kita semua sepakat mau main ke pasarnya.

Itu yang digantung tahu apaan? Terasi! hahaha

Untuk ukuran sebuah pasar tradisional, pasar yang ada di Tidore ini bersih. Pedagangnya pun tertata dengan rapi. Sebagian besar menjual hasil laut yang sudah dikeringkan semacam ikan tore, dan juga aneka macam rempah. Coba lihat foto di atas, bisa menebak apa yang digantung itu? Hola! Itu terasi! Hehehe.

Berjumpa dengan Nenek Aminah

Macam jika berkunjung ke Belitong, pasti ada rasa ingin berjumpa dengan bu Muslimah yang ada di novel Laskar Pelangi, toh? Nah, sama halnya dengan nenek Aminah ini. Siapa sih beliau? Beliau adalah penjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan di Tanjung Mareku, Pulau Tidore pada 18 Agustus 1946. Ya, semacam ibu Fatmawati versi Tidorenyalah.

Sehat terus ya nek Aminah 🙂

Nenek Aminah sekarang tinggal di Kelurahan Mareku, Tidore Utara. Tepatnya di RT.8. Jika kalian berjalan menyusuri jalanan utama (dan satu-satunya) di Tidore, pasti akan menemukan rumah beliau dengan mudah karena rumahnya tepat berada di pinggir jalan. Walaupun sudah tua, namun beliau relatif sehat. Saat ke sana, masing-masing kami berjabat tangan dengan lama. Genggamannya masih kuat walaupun untuk berkomunikasi agak susah karena beliau memakai bahasa setempat sehingga harus diterjemahkan oleh cucu-cucunya.

Menyapa Maitara

Bersama dengan Pulau Tidore, Pulau Maitara yang berada di tengah-tengah antara Ternate dan Tidore ini juga menjadi ikon yang nampak di uang pecahan Ro.1000 cetakan lama. Walaupun nggak mampir ke pulau ini, kami sempat berjalan mengelilingi pulau menggunakan perahu. Lalu, tampaklah keindahan pasir putih, air jernih dan deretan pohon kelapa yang ada di sana.

Keindahan Pulau Maitara

Konon, di pulau inilah letaknya kebun cengkeh tertua di dunia. Tak heran, penjajah datang ke Indonesia (baca : Maluku Utara). Aku senang karena pulau cantik ini masih terjaga dengan baik. Ah, semoga akan tetap seperti itu ya 🙂

Air Terjun Tangga Jahanam

Ini sih penamaan yang diberikan oleh ayuk Annie saja, haha. Aslinya, tempat ini disebut dengan Ake Celeng. Air terjun yang terletak di antara hutan ini disebut air tangga jahanam karena butuh ekstra tenaga untuk mencapainya.

Mbak @travelerien di Air Terjun

Bersama rombongan, kami harus jalan ke arah bawa melewati ratusan (atau bahkan ribuan) anak tangga. Turunnya sih enak, cuma pas naik udah kebayang engapnya hehehe. Air terjunnya kecil saja, namun airnya sangat jernih dan terdapat tiga lapisan air. Bagian atas, tengah dan bawah. Lumayan banget buat escape dari aktivitas padat di kota. Trekking bentaran doang udah bisa mencapai lokasi air terjun ini.

Melihat Atraksi Seni di Kadaton Kie

Kedatangan kami ke Tidore itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun. Jadi jelas, di saat yang bersamaan tentu dilaksanakan perayaan yang menampilkan beberapa atraksi seni. Seperti nyanyian dan tarian.

Penari Soya-soya

Aku beruntung dapat melihat atraksi penari Soya-soya yang mengisahkan peperangan pada zaman dahulu. Menggunakan tifa dan gong (alat musik tradisional), tarian ini dimainkan oleh para pria. Di saat yang bersamaan, kami juga disajikan Tari Barakati yang dimainkan oleh para wanita diiringi tetabuhan alat musik Saragi dan Rebab. Indah sekali.

Makan Siang ala Kesultanan

Masih dalam perayaan ulang tahun Tidore, aku beruntung berkesempatan untuk santap siang bersama rombongan sultan dan undangan penting. Tepat di depanku bahkan adalah anggota DPR yang berasal dari Maluku Utara.

Kain disingkapkan. Makan siang dimulai 🙂

Makanan yang disajikan sebetulnya sama saja. Namun, penyajiannya ditata sedemikian apik dan ditutupi kain putih panjang. Begitu makan siang dimulai, barulah kain diangkat oleh 2 orang petugas kadaton, dan nampaklah hidangan lezat di hadapan mata. Walau jujur, percayalah makan bareng pejabat itu gak enak. Mesti jaim hahaha. Paling seru itu kalau makan sama temen rame-rame dan saling rebutan hwhwhw.

Mengintip Kehidupan Sowohi

Siapa itu Sowohi? Bisa dibilang, Sowohi adalah orang-orang terpenting yang ada di Tidore. Mereka adalah pemimpin spiritual yang nasehatnya menjadi pegangan oleh masyarakat sekitar. Ada 6 orang yang terpilih menjadi Sowohi. Mereka ini mewakili 6 kelompok adat yang ada di Tidore.

Jadi inget dapur nenekku dulu 😀

Nah, ketika berada di Gurabunga, kami sempat mampir ke salah satu rumah sowohi. “Biasanya, menjelang pilkada, banyak pejabat yang datang kemari,” ujarnya. Hmm 🙂 yang menarik adalah, kami diizinkan masuk hingga ke dapur rumahnya. Duh, dengan dapur menggunakan tungku perapian kayak gini, aku jadi teringat almarhum gede/nenekku dulu yang kalau masak juga masih menggunakan kayu bakar.

Menyaksikan Pertunjukkan di Gurabunga

Masih ingat kan pengalamanku merasakan permaina bambu gila di Gurabunga? Nah atraksi Kabita, atau seni berbalas pantun yang dilakukan penduduk saat menumbuk padi seperti ini juga diperlihatkan di Gurabunga.

Berpantun sambil numbuk padi. Unik 🙂

Dengan menggunakan topi besu (untuk para lelaki), orang-orang ini berdendang, saling berbalas pantun dengan menyesuaikan irama hentakan Dutu Ma Ngofa (tongkat penumbuk padi). Sekilas nampak sederhana, namun jika gak kompak, maka atraksi ini akan gak sempurna. Salut buat penduduk Gurabunga yang masih mempertahankan tradisi ini. Love!

Leyeh-leyeh di Pulau Failonga

One of the best parts selama berada di Tidore, yakni mengunjungi Pulau Failonga! Huaaaaa. Dari dermaga, hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai di pulau kecil yang berada di antara Tidore dan Halmahera ini. Walau begitu, sempat mabok euy sama ombaknya hwhwhw.

Ketenangan yang menghanyutkan perasaaan. Eaaaa

Namun, begitu sampe, ketemu air yang super jernih, langsung hilang semua itu rasa mualnya. Yang ada, pada asyik berenang, pose manjah dan foto ala-ala hwhwhw. Nikmat banget menghabiskan waktu di pulau indah ini. Kamu gak mupeng?

Nge-Liwet di Tidore

Ini adalah cara makan yang paling sering kami lakukan selama berada di Tidore. Ikan segar dipanggang dengan bara api. Nasi? Gak ada, gantinya ada ubi rebus dan ketupat, juga beras yang dimasak ala lontong dan namun bentuknya lebih kecil kayak bongkol dan berbentuk lonjong atau segitiga. Temennya apa? Sambal dabu-dabu!

Sambalnya juaraaaa!

Gak ada ngalahin nikmatnya makan liwet ala-ala ini hahaha. Di grup WA, rencana kumpul bareng dan makan dengan cara seperti ini bahkan kerap kali dilontarkan. Baru-baru ini rombongan pejabat ibukota yang main ke Tidore juga diajakin makan dengan cara ini. Sungguh mevvah!

Merasakan Keseruan Parade Juanga

Parade Juanga ini adalah versi mininya pelayaran ritual adat Lufu Kie yang dilakukan dengan cara mengelilingi Pulau Tidore dengan menggunakan perahu kora-kora. Hal ini dimaksudkan sebagai rasa syukur terciptanya keamanan, kedamaian dan ketentraman di kehidupan masyarakat Tidore.

Yang sebelah kanan itu perahu kesultanan

Kebetulan saat itu aku mengendarai kapal no.1 yang bertindak sebagai komando. Perahu kesultanan ada di belakang (lihat perahu yang sebelah kanan di foto). Luar biasa meriah. Puluhan perahu hias bergerak bersamaan menuju Ternate hingga kemudian kembali lagi ke Tidore. Senangnya bisa berjalan menggunakan kora-kora haha, soalnya selama ini paling banter naik getek di Sungai Musi, sih!

Tegang di Atraksi Ratib Taji Besi

Nah, ini adalah salah satu atraksi atau juga ritula khas dari Tidore. Jika di Jawa dan Sumatra dinamakan debus, di Tidore, atraksi menghunuskan senjata tajam ke tubuh manusia ini disebut Ratib Taji Besi. Ada semacam alat menyerupai paku namun berukuran besar yang digunakan.

Atraksi dimulai

Untuk memulai ritual ini, sebelumnya dilakukan doa-doa dulu. Barulah setelahnya orang-orang meringsek ke depan, mengambil senjatanya lalu mulai menghunuskan senjata itu ke tubuh mereka. Kuncinya sih harus yakin ya, jika nggak, ya bisa terluka. Aku nyoba nggak? Duh, makasih deh. Mending aku disuruh nyobain kulinernya aja hehehe.

Jatuh Cinta dengan Orang-orangnya

Kami bertemu banyak sekali orang selama di Tidore. Tua-muda, lelaki-perempuan. Semuanya BAIK dan hangat. Bayanganku terhadap orang Indonesia timur yang mengerikan sirna sudah pasca mengunjungi Tidore.

Senyum ramah penduduk Tidore

Mereka berbicara dengan logat yang khas, namun intonasinya tetap terjaga baik. Kami dianggap anggota keluarga baru di sana. Huaa sungguh baik orang-orang di Tidore ini. Makanya, tak heran, selain alam, budaya dan kulinernya (teuteup), kebaikan orang-orang di Tidore adalah hal yang menjadikan Tidore terasa makin istimewa.

Ah, terima kasih ya kepada semuanya. Aku gak akan menyebutkan nama-namanya, karena terlalu banyak sehingga takut ada yang kelupaan hehe. Terima kasih juga kepada Ngofa Tidore Tour & Travel yang sudah menjadikan perjalanan ini sedemikian berkesannya. Sampai jumpa lagi di lain waktu. Di Palembang, yes? 🙂

Ngofa Tidore Tour & Travel, Info : Anita Gathmir 0815-1433-7014/0816-829-959
Iklan

47 thoughts on “Keseruan Selama Berada di Tidore – Bagian 2

    • Ho oh hehe. Yang bakalan pengalaman lengkap macam ke Failonga bakalan ditulis terpisah. Jg perjalanan ke Torre, Tahula, perayaan HUT dsb dsb 😀 stay tunned di omnduut.com *alaaagh

  1. Banyak sekali yang bisa dilihat dan dirasakan di Tidore! Tulisan Part 2 ini saja masih kurang. Padahal sudah banyak yang diurai. Tidore memang memesona dari segala sisi. Lihat ikan bakar, nasi/tupat, dan sambal dabu2 itu sukses bikin ngiler lagi, teringat makannya rame gaya rebutan haha.

    • Ini yang bikin makan makin enak. Padahal cara bikinnya sederhana saja. Ntah kenapa pas makan di sana jadinya berkali-kali lipat enaknya. Sambal semangkuk besar itu habis! 😀

  2. Seru ya kisahnya di Tidore itu, sekitar 17 atau 18 kegiatan, yang diulas dg santai, klau saya gak slh itung. Blm lg yg di bagian 1, huh…pnjang banget ceritanya ya…

    Yg bikin ku pnsran itu, aksi debusnya ala sana itu, menegangkan kyaknya.

    Tp di bagian akhir ulsannya, sebenarnya sy harap2 cmas, coba ada kisah cinlok klian dg gadis atau cowok asli Tidore, psti pnglman yg lebih rame tu, wkwkwk…maaf, khayalan yg gak mutu banget, 😂😂

    • Buahahaha, yang jomblo, datang ke Tidore, pulangnya tetap jomblo mas 😀 Cewek sana cakep-cakep euy padahal. Mungkin mesti balik sana lagi biar ketemu pasangan hahaha #modus

      Iya, aku kadang ngeri ngeliat orang-orang menghunuskan senjata tajam ke tubuh mereka. Tapi itulah, salah satu atraksi khas dari Tidore 🙂

    • Rasa-rasanya pernah lihat petis deh di pasar, tapi aku gak yakin juga hehe.

      Iya, dulu rasanya pas mau ke Magelang sempat lewat Brebes, banyak banget yang jualan bawang. Mau dibawa ke Palembang baunya lumayan hwhwhw. *kebayang bawang goreng

  3. bagian terpenting dari sebuah jalan-jalan adalah pas kulineran atau makan2nya, apalagi mencicipi hidangan lokal setempat, ah rasanya pengin dimakan semuanya andaikan perut bisa muat *rakus* olahan ikan ternyata enak juga padahal sebelumnya kurang suka hmmm pelajaran yang bisa dipetik adalah jangan terlalu membenci sesuatu karena suatu saat kamu bisa jatuh cinta..

  4. “sudah dari dulu begitu.” Hmm.
    ^ ini penjelasan yang singkat dan sederhana menjelaskan segalanya krn mrk pun tak tahu sejarah asal muasalnya hehehe

    jawaban aku banget deh kalau kyk gini.. hehehe

    • Dulu pas ngantor, pimpinanku ketat sekali dengan 3D (Dari Dulu-Dulu) haha, soalnya menyangkut transaksi pelayanan.

      Sebenernya ini juga aku gak puas dengan jawabannya, mesti ada alasan/sejarah itu diberlakukan, tapi pas ditanya gak ada yang tahu hehehe

  5. Samaaa, aku juga suka kue-kuean, semuanya bakal jadi favorit. Kalau ada kue aja, aku udah nggak pusing lagi mikir menu sarapan. Dinikmati sambil menyeruput minuman panas, wah…

    Setuju, pasarnya bersiiihhh!

  6. Aku jadi penasaran anak tangga ke air terjun ada berapa sampai disebut jahanam 😀 Bayangin Mbak Annie komen sambil mijat betis pake salonpas cair. Ih, pengen ke sana. Tapi blum tentu dapat moment pas ada atraksi seni dan makan siang di tempat sultan ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s