Pelesiran

Keseruan Selama Berada di Tidore – Bagian 1

.

Badan tambah semok? Iya. Kulit makin eksotis? Iya juga. Ganteng? Oh itu udah dari dulu. Makanya makhluk goib banyak naksir. Duh ini ngomongin apa ya? –ngigo. Nganu para fans sodara-sodara, ini aku lagi ngomongin perjalanan ke Tidore selama 10 hari (yup, disambung ke Ternate juga sih di 3 hari terakhir). So, makin hepi dong? Oh tentu saja. Wong jalan-jalan G R A T I S. Mana mungkin aku gak bahagia syalala-syilili. Ini kan Indonesia Timur mamen!

Bagi yang belum tahu –ih, kamu kemana aja? Semedi di goa?  Aku bisa ke Ternate dan Tidore “hanya” berkat ngeblog. Kok iso? Iyalah, “modal” ngetik “doang” tadaaa, diajakin deh naik pesawat ke Maluku Utara. Kece kan?

Eh bentar, mau istighfar dulu –say astagfirullah, ini kok 2 paragraf pertama pongah banget ya? –celingukan, takut ditabok bolak-balik sama calon mertua hehe. Nggak ding, perjuangan untuk ke Tidore juga gak gampang euy.

Baca tulisan #TidoreUntukIndonesia punyaku : Bukti Betapa Indonesia Itu Kaya

Nulisnya butuh perjuangan. Kompetitor di lomba menulisnya juga banyak. Mana master blogger pada turun gunung. Jika bukan karena proses pembelajaran dalam menulis (dan bisa jadi juga karena keberuntungan), -sumpah, jurinya gak ada yang aku sepik, mungkin langkahku semakin berat untuk memenangkan perlombaan ini. Intinya mah, 2017 adalah rezekiku untuk mengunjungi Maluku Utara setelah sebelumnya gagal di perlombaan yang kurang lebih sama 4 tahun lalu.

Baca juga tulisanku tahun 2013 lalu : Mengintip Keindahan Jailolo

So, siapa tahu kan tahun depan giliranku menjejakkan kaki ke pulau indah itu? –mari kita berdoa bersama biar lombanya diadakan tiap tahun, yes! Jujur aja, seminggu di sana, banyak sekali cerita, keseruan, pertemuan dan pengalaman yang tak terlupakan. Nah, sementara nunggu tahun depan, simak dulu yuk 30 hal seru yang aku dapatkan selama berada di Tidore. Yakin, tahun depan kamu akan merasakan keseruan yang sama seperti yang aku rasakan. Apa saja? Ini dia!

Membuncah di Udara

Jauh sebelum tiba di Maluku Utara, di grup whatsapp aku udah bertanya heboh, “kalau mau dapat view kece, bagusnya duduk di mana?” hehehe. Ya maklum, memotret di udara adalah salah satu kegemaranku. Bagi yang follow IG-ku, pasti sering liat ya aku motret dari atas dalam pesawat. Rasanya damai gitu ngeliat pemandangan sekitar. –apalagi kalau ada kepala orang yang disayang menyenderkan kepalanya di pundakku, uhuk.

Yang di tengah itu pulau Maitara. Yang sebelah kiri kelihatan ujungnya Tidore dan yang padat itu Ternate 😉

Nah, bagi yang mau terbang ke Ternate (ya kalau mau ke Tidore, ke Ternate dulu tentu), untuk penerbangan dari Jakarta, pastikan kamu memilih duduk di kursi sebelah kiri ya! Jangan males untuk datang lebih dulu ke bandara untuk meminta kursi sebelah kiri. Lebih bagus sih web chech in dulu dari rumah. Jika berhasil, pemandangan indah seperti di atas itu yang akan kalian lihat. Uh, rasanya senang luar biasa. Kebahagiaan terasa membuncah!

Bersantai di Pelabuhan Rum

Dari Bandar Udara Sultan Babullah di Ternate, kami berkendara dulu selama kurang lebih 20 menit menuju pelabuhan Bastiong sebelum menyeberang menggunakan kapal ke Pelabuhan Rum yang ada di Tidore. Dari bandara Bastiong, untuk menyeberang ke Tidore murah banget! Cukup membayar Rp.10.000 untuk kapal cepat dan Rp.5.000 untuk kapal feri.

Kartu pos bergambar pelabuhan Rumlah yang selama bertahun-tahun merasuki pikiranku, “Yan, kamu harus lihat langsung” dan alhamdulillah kesampaian.

Jangan tanya ya view selama menyeberang kayak gimana. Petjah! Jika melihat ke belakang, kota Ternate dengan gunung Gamalama yang diselimuti awannya keren banget. Begitu menghadap ke depan, pulau Maitara dan pulau Tidore (yang ada di uang Rp.1.000 pecahan lama) seolah bersiap menyambut kami. Nah, begitu tiba, aktivitas warga yang ada di Pelabuhan Rum menjadi hiburan tersendiri. Logat ketimuran yang kental mulai terdengar lantang. Walau begitu, tak sekeras anggapanku selama ini. Mereka bercanda, menyapa dengan ramah bahkan mengizinkan kami menaiki perahu-perahu mereka hanya untuk berfoto. I lope yu!

Napak Tilas di Tugu Pendaratan Spanyol

Pada masa kejayaan kesultanan Tidore, yakni sekitar abad 16 hingga 18, kerajaan ini menguasi sebagian besar wilayah Halmahera selatan, Pulau Buru, Ambon dan sebagian besar pulau di pesisir barat Papua. Pada tahun 1512, pulau ini pernah diperebutkan bangsa Eropa bahkan terkena imbas Devide Et Impera atau politik adu domba. Wajar, karena kawasan ini pernah meraih zaman keemasannya pada abad ke-7 karena menjadi jalur perdagangan internasional pada masa kerajaan Sriwijaya.

Yang pake jilbab itu mbak Kajol. Bukan Talia Sebastian, keturuannya Juan Sebastian hehehe

Jejak sejarah ini dapat dilihat pada monument Tugu Pendaratan Spanyol, yang merapat ke Tidore pada tanggal 8 November 1521, ditandai dengan kedatangan Juan Sabastian De El-Cano beserta awak kapal Trinidad dan Viktoria. Tugu yang dibangun pada tahun 1993 oleh kedutaan besar Spanyol ini berada di kelurahan Rum tak jauh dari pelabuhan Rum. Nah, kita gak mau ketinggalan dong mampir ke sini. Kejutan lainnya adalah, kami disambut oleh Bapak Yakub Husain Kadispar Tidore Kepulauan dengan tarian Kapita yang dibawakan oleh ko Gogoo dan dua temannya.

Menyantap Gohu dan Teman-temannya

Uhlala, Tidore ternyata punya sashimi! Seumur-umur, gak ada ceritanya aku makan ikan mentah. Niatnya sih sekali icip, mau langsung cobain sushi yang ada di Jepang hahaha –gaya lu Yan!, eh makan siang di Safira yang ada di Cobodoe, sama pemilik restoran kami dihidangi menu bernama Gohu itu. Dari tampilannya sih biasa aja ya, namun begitu dimakan. Oalah, gimana ceritanya itu ikan meleleh di mulutku coba! Slurp!

Gohu itu yang di atas, yang di samping kiri roti itu. Enaknya warbiyasak!

Gohu dibuat dari ikan segar. Ini syarat mutlaknya. Begitu ikan segar dibersihkan dan dipotong-potong, dikasih beberapa macam bumbu dan disiram pakai minyak panas. Jadi sebetulnya bisa dibilang gak mentah-mentah banget, ya. Makannya bisa pakai nasi atau kasbi alias roti parutan singkong/sagu singkong. Menu lain berupa ikan kakap bakar, sop ikan dan sambal dabu-dabu bikin makan siang itu semakin semarak! Sayang perutku masih penuh pasca makan nasi kuning di Pelabuhan Rum sehingga gak sanggup buat “membersihkan” semua hidangan yang disajikan hehehe.

Berkunjung ke Desa di Atas Awan

Jauh sebelum aku tiba di Guraubunga, aku sudah jatuh cinta kepada desa ini saat mempersiapkan tulisan lomba tentang Tidore. Lebay gak sih jika dibilang ini desa yang berlokasi di atas awan? Eh ternyata emang begitu adanya. Nih ya, saking tingginya desa ini, gak sembarangan mobil bisa mencapai desa Guraubunga. Gak kuat nanjak neng! Hehehe.

Tuh diselimuti awan desanya. Warbiyasak, kan!

Begitu tiba, kami disambut udara yang sejuk dan… coba lihat, itu awan rasanya dekat banget dengan kepala, kan? Desanya sangat bersih (eh satu Tidore bersih euy!) dan rumah-rumah tertata dengan rapi. Aku sempat shalat di masjid yang ada di foto itu. Lantainya bening sampe-sampe aku bisa ngaca dan keliatan mukaku makin ganteng –yaaelah Yan, disebut lagi. –kena lepeh. Satu yang gak kesampaian : menginap di salah satu rumah yang ada di Guraubunga. Tenang, masih bisa balik ke Tidore lagi toh kapan-kapan?

Main Bambu Gila

Emang cinta aja yang bisa bikin gila? Bambu juga tauk! Hwhw. di Tidore ada sebuah permainan yang disebut Baramasuwen atau disebut juga dengan nama permainan Bambu Gila. Kenapa disebut Bambu Gila? Karena permainan ini menggunakan sebatang bambu dengan ukuran minimal 4 ruas. Dengan bantuan seorang pawang atau pembaca mantra dan menggunakan beberapa benda lain seperti sabut kelapa, kemenyan dan bara api. Kemudian, bambunya akan bergerak kesana kemari seperti digerakkan oleh sesuatu. Unik, bukan?

Ini tampang sebelum dimulai. Begitu selesai, basah oleh keringat hahaha. Foto oleh @annie_nugraha

Makanya, begitu aku ditawarkan apakah berani mau main bambu gila ini, aku dengan lantang berteriak IYA! Hehehe. Kapan lagi kan ngerasain permainan yang gak ada di Palembang? Trus apa rasanya begitu dicoba? Capek mamen! Kebetulan aku berada di ujung dan ya ampun, itu bambunya macam digerakkan pake remote control-nya Suneo. Liar!

Kalap di Parade Makanan

Masih di Guraubunga, di malam pertama kami ke sana, ternyata digelar pertunjukkan seni dan berbagai macam perlombaan. Nah, ternyata para ibu-ibu di Guraubunga sudah menyiapkan banyak sekali hidangan khas Tidore. Jauh lebih lengkap ketimbang yang kami makan siangnya. Yang bikin haru itu ialah, mereka memasak semua makanan tersebut secara bergotong royong dan dana yang digunakan diambil dari kantung pribadi. Itu semua mereka lakukan (katanya) untuk menghormati kedatangan kami. Huaaaa.

Mas Eko, tolong itu jangan dimasukkan ke dalam tas kresek hwhwhw

Puluhan jenis makanan langka mereka siapkan. Bayangkan, makanan yang sehari-hari pun udah jarang ada (karena bahan makanannya sulit dicari) mereka hadirkan untuk kami. Semua hidangan itu mereka kemas dengan baik dan informatif karena ada kertas berisi nama dan cerita singkat tentang makanan tersebut. Semua penduduk Guraubunga bersuka cita malam itu. Kami makan bersama di bawah langit berbintang. Sungguh tak terlupakan.

Berenang di Belakang Hotel

Tidore adalah pulau yang kecil. Belum ada hotel mewah di sini. Sebagai sarana penginapan, yang ada hotel kecil ataupun homestay seperti yang jadi rumah kami selama di Tidore. Kami menginap di Seroja, penginapan sederhana namun laik di Tidore. Fasilitasnya standar, namun keramahan pemilik dan petugas penginapan yang menjadikan homestay ini spesial.

Jangan sirik, ini dia kolam renang kami selama berada di Tidore hehehe

Mau membahasai “insang”? tinggal ke belakang aja, maka kami sudah puas berjerit ria main seluncuran yang langsung mengarah ke (bibir) laut. Luar biasa! Lelah seharian keliling Tidore, sore harinya bisa kami habiskan bersenang-senang di kolam renang alami ini. Harga penginapan per kamarnya Rp.300.000 sd Rp.350.000 bisa diisi hingga 4 orang loh karena terdiri dari 2 ranjang besar. Enaknya lagi, selain dikasih sarapan, tiap sore kami selalu dikasih teh dan cemilan khas Tidore. Aaaa aku suka!

Ikut Mancing Bersama Warga

Untuk aku yang terbiasa ngelihat sungai Musi yang butek dan kecoklatan, begitu tiba di pelabuhan Bastiong aku bengong. Airnya jernih sampe-sampe dasarnya kelihatan, padahal dasarnya gak ada apa-apa. Begitu tiba di Rum begitu juga. Ngeliat ikan gede-gede berenang bebas rasanya pingin nangkep dan digoreng #eh hehehe.

Keliatan kan airnya yang jernih. Ikannya buanyak!

Nah, gak jauh dari penginapan, ada dermaga kecil buat warga mancing. Itu ya, di belakang rumah orang. Karangnya bagus,ikannya buanyak dan warga di sana kayaknya pantang kelaparan. Modal pancing aja pasti dapat ikan banyak. Hebatnya, warga di sana taat. Hanya memancing di lokasi tertentu dimana ikannya siap pancing. Jika di lokasi yang banyak anak ikan, mereka gak mau. Kece ya! Demi keberlangsungan ikan di kemudian hari. Mereka juga mancing seperlunya aja kok, anti maruk.

Bersantai di Tahula

Bukti lain bahwa Tidore diperebutkan bangsa Eropa dapat terlihat dari keberadaan Benteng Tahula yang merupakan peninggalan bangsa Portugis. Benteng yang terbuat dari batu gunung dan campuran kapur dan pasir ini berada di ketinggian 50 meter di atas permukaan laut sehingga view dari atas sana sungguh indah. Lucunya, walaupun benteng ini terletak tak jauh dari penginapan Seroja, kami baru berkesempatan ke sana di hari ke-5 haha, maklum jadwal kegiatan padat dan biasalah ya, karena dekat, jadi mikirnya, “ntar-ntar aja deh.”

Laut membentang, view dari benteng Tahula.

Pemandangan dari atas sana luar biasa bagus. Em, bagusnya kebangetan! Laut membentang, kawasan Soasio nampak jelas dengan jalanan yang bersih. Bahkan dermaga kesultanan juga nampak dari atas sini. Benteng Tahula adalah salah satu tempat favoritku. Soalnya viewnya emang jawara walaupun agak ngap kalau mau naik ke atas sana hahaha.

Bertamu ke Istana kesultanan 

Dalam bahasa setempat, istana kesultanan Tidore disebut dengan nama Kadato Kie. Istana yang sempat hancur di awal abad ke-20 ini direnovasi oleh Sultan Djafar Syah pada tahun 1997 dan selesai pada tahun 2010. Istana ini terletak di atas dataran tinggi. Makanya kalau berada di teras atasnya, laut membentang langsung nampak.

Itu bendera warna-warni ada maknanya semua, loh!

Bangunannya sederhana untuk ukuran sebuah istana. Namun, ini seolah melambangkan kesederhanaan pemimpin Tidore. Aku melihat langsung betapa sultan Tidore itu orangnya humble, simple dan gak bawa tembok kemana-mana (banyak kan orang yang beken dikit, bawa tembok kemana-mana?). Saat ke sana, kami sempat ditemani oleh Kapita Ngofa (semacam pasukan khusus kesultanan), Ko Muhammad Ali Alting dan dijelaskan makna bendera-bendera yang ada di Kadato Kie itu. Nanti secara lengkap aku ceritakan ya 🙂

Menyelami Tanjung Konde

Masih di hari-hari awal perjalanan ke Tidore, kami langsung diajaki untuk mengeksplor Tanjung Konde yang letaknya ternyata gak jauh dari Pelabuhan Rum. Mau berenang langsung dari Pelabuhan Rum juga bisa kalau kamu ada bakat terpendam kayak ikan lele. Berhubung aku orangnya low profile walau kemampuan berenangku sama kayak Michael Phelps waktu masih bayi, aku memilih naik kapal aja.

Cieh gaya yang mau menyelam di Tanjung Konde. 😀

Ini pertama kalinya aku melihat karang-karang indah. Pertama kalinya juga nyobain snorkeling dan pertama kalinya juga menyadari betapa bodohnya aku bawa action camera tapi baterenya belum terpasang dan ketinggalan di hotel. Jadilah, momen-momen di bawah laut biar jadi kenangan indah di dalam benakku sendiri muahahaha –ayuuuu, mana ayu, pinjem foto bawah lautnya please 🙂

Ngeliatin Orang Pacaran di Pantai Tugulufa

Jalan santai, lari pagi, main sepeda, kok dimana-mana aku ngeliat orang berpasangan ya di Pantai Tugulufa. Sungguh tidak berperikejombloan bingits, kan? Hehehe. Pantai Tugulufa gak jauh dari Soasio. Ibaratnya jalan kaki juga sampe. Tapi kalau gak mau ketek basah, naik bentor juga bisa. Bentor di Tidore keren loh, bisa bikin dangdutan keliling!

Foto orang pacarannya sudah aku enyahkan semua. -esmosi

Oke, balik lagi ke Pantai Tugulufa. Aku membayangkan bisa lari dari kenyataan pagi di sana. Tapi gak kesampaian. Yang terealisasi malah makan-makan di warung pinggir pantainya berkali-kali. Uhuk. Pantainya… seperti biasa jernih khas pantai Indonesia Timur. Di hadapan pantai ini ada pulau Halmahera membentang. Percaya, cari angin (sambil ngemil) di pantai ini bikin kamu seger, dijamin!

Ziarah ke Makam Sultan Nuku

Ini adalah nama besar yang sangat berjasa bagi Tidore. Sultan yang bernama lengkap Saidul Djehad Muhammad El Mabus Amiruddin Sjah Kaitjil Paparangan Jou Barakati ini juga merupakan pahlawan nasional RI yang makamnya dapat dijumpai di kawasan Soasio. Lagi-lagi, gak jauh dari penginapan tempat kami bermalam.

Rifqy berdoa untuk Sultan Nuku.

Tidore juga dikenal dengan wisata ziarahnya. Beberapa makam tokoh penting yang kerap diziarahi antara lain makam Sultan Syaifudin, sultan Tidore ke-19. Atau juga makam Sultan Muhammad Taher, sultan Tidore ke-28. Sultan Taher dikenal karena beliaulah yang membangun Kadato Kie. Tidak semua makam mereka dapat kami ziarahi memang, namun aku sudah senang dapat berziarah ke makam Sultan Nuku dan berdoa di sana.

“Main” ke Kebun Pala

Letak Tidore yang sangat strategis di pesisir Laut Maluku, menjadikannya sebagai salah satu sentra perdagangan rempah-rempah bersama tiga kerajaan lain : Ternate, Bacan dan Jailolo. Keempat kerajaan yang dipimpin oleh seorang sultan itu menjadi magnet bagi pedagang rempah-rempah dari Eropa. Di Tidore, rempah yang banyak ditemukan itu ialah biji pala, cengkeh, gula merah, jahe dan masih banyak lagi.

Pala ini dapat diolah jadi manisan juga loh.

Banyak kejadian seru dan lucu saat kami mengunjungi perkebunan rempah. Diantaranya, rombongan pada heboh mencari pala yang mletek, yakni yang sudah matang, posisinya terbuka sebagian namun belum jatuh bijinya. Mbak Zulfa sampe bawa ke Surabaya. Ntah buat apa, mungkin buat ditambahin ke sesajen buat mantra penurun hujan di malam Minggu. –eh itu aku ya yang biasa bikin? Hehehe.

*   *   *

Banyak ya kegiatan yang dilakukan di Tidore? Oh tentu saja. Ini yang aku tulis hanya sebagiannya saja. Simak terus blog Omnduut ya!

Iklan

56 thoughts on “Keseruan Selama Berada di Tidore – Bagian 1

    • Mau nulis serius tadinya, gak bisa mbak haha, biar itu jadi bagian Rifqy dan mas Eko *mereka datanya paten hwhw, aku nulis hore-hore aja ya.

      • Jadi pertanyaan seriusnya adalah, kenapa fotoku tampil di bagian yang bahas makanan. Maksud? Hahahaha.

        Btw, aku malah belum mulai nulis. Suer, bingung banget mau mulai dari mana. Agaknya aku bakalan nulis reportase aja deh nanti. Itupun kalau dibikin per hari satu posting, jadi deh 10 posting. Serial. Sebulan postingnya tentang Tidore semua 😀

    • Sama mas Eko, aku juga bingung mau nulis kayak apa, dimulai dari mana, saking banyaknya ingatan yang mencuat tiap kali mau nulis tentang Tidore hahaha. Jadilah tulisan yang semacam teaser ini. Beberapa topik lainnya akan aku tulis khusus 🙂

  1. Waah…kelihatannya juga cuaca mendukung ya Om selama di Tidore?
    Memang keren nih Tidore, moga tahun depan bisa melipir ke sini buat jeprat-jepret landscapenya yang khas daerah timur… ☺

    • Alhamdulillah, mendukung. Pernah sekali pas parade di laut, kehujanan. Tapi amanlah di dalam kapal (walau jadinya oleng sana sini hehe). Selebihnya cuaca bagus, terik dan hujannya pas malam jadi gak ganggu hehe.

  2. Yayan, foto di Tahulanyo cantik nian. Sudut foto yg belom aku dapat dari yg lain.

    Kito harus balik lagi ye Yan. Tiduk di Gurabunga belom kesampean

  3. Sampe sudah ketemu di Tidore baru nyadar, ternyata tulisan yg bikin Yayan sampe di Tidore aku komentari…

    Omduut luar biasa…!!
    Ditunggu lagi di tidore…

    • Aku lebih gak nyangka lagi, bisa jalan bareng, dijamu di rumahnya dengan sangat baik. Hua aku terharu, makasih banyak ko Yudi dan keluarga. Gantian nanti datang ke Palembang, yes! hehe

  4. makanan yang sehari-hari pun udah jarang ada (karena bahan makanannya sulit dicari)
    ^ ini makanannya dibahas selanjutnya? *penasaran*

    di foto : Masjid dgn kubah merah dan biru. Masjidnya terpisah? dua2nya masjid tuhh *msh memandangin foto masjid*

    kalau dah mencoba snorkeling di pantai/laut yg bgs. bakalan ketagihan buat snorkeling lagi.. lagi.. dan lagi…

    • Iya, untuk cowok dan cewek dipisah 🙂

      Yang gede untuk yang cowok. Makanan yang dimaksud gak dibahas spesifik, tapi menurut warga di sana begitu.

  5. Penasaran sama permainan bambu gilanya. Selama ini liat di tipi-tipi aja. Inu bisa dibuktikan sendiri ya? Berat mas?

    • Berat banget! bisa jadi karena aku yang paling ngeyel ya haha, sebelum nyoba aku yang gak percayaan ini ngebatin, “ih apa bener ini bergerak sendiri?” makanya saat bergerak aku sekuat tenaga melawan arus. Kalo bambunya ke depan, aku tarik ke belakang, terus begitu. Tapi ternyata emang dahsyat kekuatan dorongannya. Cerita orang, bahkan ada yang pernah terpental ke atas.

      Bapak2 yang nyoba setelah kami ada yang jatuh tersungkur hehehe

  6. eh, ada Kajol Sebatian Elcano :)))

    Tidore memiliki wisata komplit, mulai sejarah kerajaan, peninggalan kolonialisme, laut, gunung dan adat budaya yang memiliki roh tersendiri.

    lagi nungguin cerita “ditangkep” satpol PP :))

  7. Kece bener yakk..masih rencana aja nnih ke Ternate dan Tidore, belum sempat diwujudkan. Semoga segera deh. Asik bener penginapannya, bangun pagi bisa langsung nyebur. Sebagai pencinta ikan hmmm langsung meleleh nih liat hidangan gohunya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s