Pelesiran

Selayang Pandang Yogyakarta

.

Sungguh, saya nggak nyangka Yogyakarta semenarik ini!

“Heh?” haha, iyalah ya, secara kota dengan kunjungan wisatawan yang banyak, tentu banyak terdapat tempat wisata menarik yang dapat dikunjungi. Well, walaupun singkat, perjalanan saya ke Yogyakarta dalam rangka merayakan HUT Yogyakarta ke 261 lalu alhamdulillahnya berlangsung menyenangkan dan sangat memorable.

Dalam jangka waktu “liburan” (baca : kerja) selama 4 hari di Yogyakarta, saya beruntung dapat berkesempatan ke beberapa tempat yang sejak lama sudah menarik perhatian. Ke mana saja, sih? Aha, ini dia. Btw, di tulisan ini, saya mencoba mengkompilasi kegiatan selama di sana. Beberapa dari tempat ini akan saya ulas/tulis secara terpisah. Tentu dengan pembahasan yang lebih rinci. So, sementara, simak selayang pandang Kota Yogyakart saya kali ini ya 🙂

Tercengang di Candi Prambanan

Bayangin saja, dulu 15 tahun lalu saya dan keluarga mengunjungi Yogyakarta namun tidak mendatangi candi yang dilindungi UNESCO ini. Kata orang tua saya dulu, “sama sajalah, kan kita sudah ke Candi Borobodur.” Errr, untung aja dulu masih kecil dan belum banyak protes haha, kalau dibilang menyesal, ya menyesal sekali. Secara Candi Prambanan ini salah satu candi cantik yang ada di Indonesia. Bayangin, film The Philosophers aka After The Dark aja syuting di sini. Walaupun, yeah, di film candinya “dihancurkan” sih hehe.

Macam ketemu calon mertua! deg-degan pas pertama kali sampai dan melihat bangunan indah ini.

Sebetulnya, mengunjungi Candi Prambanan tidak termasuk dalam agenda fam trip. Beruntung, saya diizinkan datang 1 hari lebih awal dari agenda sesungguhnya, sehingga saya dapat mengunjungi candi ini secara mandiri. Alhamdulillah, bahagia luar biasa! Dan, ingin rasanya dapat menghabiskan waktu lebih lama di kawasan yang rindang ini.

Salah satu adegan di Ramayana Ballet Prambanan

Oh ya, di sekitaran Prambanan ini pula saya sempat menyaksikan pertunjukkan Ramayana Ballet. Sebagaimana tajuknya, ini memang pertunjukkan yang menggabungkan tari dan drama yang diangkat dari cerita Ramayana. Hebatnya, sendratari ini sudah dipertontonkan sejak tahun 1961 loh! Nanti ya saya tulis terpisah karena memang pertunjukkannya memukau, terutama oleh penonton yang datang dari negara lain. Tjakep!

Nostalgia di Alun-alun Selatan Yogyakarta

Saya sudah ke sini saat pertama kali mengunjungi Yogyakarta. Atraksi utamanya ialah berjalan menuju jalan diantara dua pohon besar dengan cara menutup mata. Konon, hanya hati yang bersih yang dapat melakukannya. Saya bisa? Oh tentu saja… NGGAK! Ya maklum, bakat nyinyir udah ada sejak dulu hahaha. Saat itu, hanya ayah dan ibu saya yang berhasil berjalan melalui celah di kedua pohon. Yang lain gagal total (dengan daftar dosa masing-masing hahaha).

Warna-warni gemerlap!

Nah, begitu saya dan beberapa teman kembali ke Alun-alun Selatan ini, saya kaget. Tempatnya luar biasa ramai. Eh mungkin karena bertepatan dengan weekend kali, ya! Atraksi yang ada di sana juga mulai banyak. Misalnya saja permainan enggrang, parade kendaraan warna-wani (macam yang ada di Malaka, eh Malaka kali ya yang sontek Yogyakarta hehehe), dan juga banyak warung-warung makan yang tersedia. Kalau sudah begini, ya kalau sepi malah aneh, kan?

Blusukan ke Pasar Tradisional

Beruntung, saya mendapatkan penginapan di tengah kota yang tak jauh dari pasar tradisional. Di penginapan pertama, di Hotel Grand Aston Yogyakarta yang kece abis itu, ternyata letaknya berada tak jauh dari Pasar Kranggan. Saat menginap di Hotel 101 Yogyakarta, juga dekat dengan satu pasar tradisional besar.

*tutupmata

Ke pasar, ngapain? Nganu, buat jajan hihihi. Kapan lagi kan bisa icipin jajan pasar yang warbiyasak enak dan murah itu. (btw, harganya sama kok dengan yang di Palembang). Tapi, di Palembang gak tahu bakso. YES, TAHU BAKSO. Cemilan favorit tanah Jawa sepanjang massa. Ya ampun, aku kalap.  Harganya sedikit lebih mahal Rp.1500, tapi saya bisa abisin 5 sekali berdiri uwuwuwu. Selalu menyenangkan mengunjungi pasar tradisional. Saya bisa melihat langsung kehidupan masyarakat setempat. Ah, I love Yogyakarta!

Nongkrong di Tugu Yogyakarta

Jujur aja, bangunan tugu ini biasa aja kalau gak mau dibilang jelek oops haha. Tapi ini tugu yang sangat bersejarah. Dikenal dengan nama lain Tugu Golong Gilig atau Tugu Pal Putih, pertama kali dibangun pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I yang juga sekaligus pendiri kraton Yogyakarta. Ada nilai simbolis yang tersembunyi dari keberadaan tugu ini. Yakni, merupakan garis magis yang menghubungkan Laut Selatan.

Mungkin lewat tengah malam baru deh kawasan ini clear dan dapat difoto haha

Perayaan hari ulang tahun Yogyakarta pun dipusatkan di sini. Banyak tokoh penting yang datang dan hadir di malam perayaan HUT ke-261 Yogyakarta tersebut, termasuklah Sultan Hamengku Buwono X yang untuk pertama kalinya saya lihat dengan mata kepala telanjang (tapi sayanya pake baju tentu).

Salah satu tim parade di malam puncak perayaan HUT Yogyakarta

Di hari-hari biasa, kawasan tugu ini juga ramai dengan keberadaan anak-anak komunitas. Ada komunitas fotografi, komunitas buku (mereka menggelar banyak buku untuk dibaca oleh pengunjung), komunitas a sd z rasanya ada dan mereka secara bergantian datang ke sana. Ramai dan meriah! Namun, PR banget buat bisa motret tugu ini dalam keadaan sepi.

Melirik Koleksi di Museum Sonobudoyo

Selain letaknya yang strategis (dekat dengan alun-alun lor) dan keraton, museum ini ramai didatangi wisatawan karena menyimpan 10 jenis benda koleksi. Misalnya saja, jenis koleksi Geologika, Arkeologi, Historika dan sebagainya. Museum yang dulunya sebuah yayasan yang bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok ini tidak begitu besar, namun koleksi yang ditampilkan didatata dengan apik. Bangunannya juga udah tua, loh. Dibangun sejak tahun 1929!

Selalu punya impian dapat mengoleksi wayang semacam ini. Tapi, mau simpan di mana? ntar yang ada rusak >.< mana mahal pula, kan?

Saya suka berada di museum ini. Banyak benda yang menarik dan beberapa areanya sangat instagramable. –alagh. Saya paling suka melihat benda yang dibuat secara handmade. Ya, seperti wayang ini. Apik!

Jumpa Dedek Emesh di Bukit Breksi

Bukit Breksi termasuk tempat wisata alternatif baru yang ada di Provinsi Yogyakarta. Terletak di Kecamatan Prambanan, Sleman, area wisata yang masih terus berbenah ini menawarkan sebuah bukit (kapur) dengan panorama pepohonan dari atasnya.

Dek, dek, sini nengok ke abang, atuh! Haha, sengaja pilih gambar yang ini. Buat gambaran terhadap Bukit Breksinya, googling yah! hwhwhw

Jujur saja, tempat ini tidak eh belum begitu menarik buat saya. Walau begitu, saya optimis kawasan ini dapat dikembangkan dengan lebih baik dan menarik. Ada kawasan khusus untuk wisata kuliner, dan itu tertata apik. Saat ke sana, saya juga melihat potensi wisata off road. Di puncaknya, terdapat beberapa spot foto dengan properti yang dibayar seikhlasnya. Ya, seperti yang dedek emesh perlihatkan di foto ini hehehe.

Cave Tubing di Kalisuci

Sepertinya, inilah satu-satunya kegiatan alam yang saya dan rombongan rasakan selama di Yogyakarta. Tak serta merta memandang keindahannya, namun merasakan langsung keindahan tersebut! Kalisuci berada di kawasan Kars Gunungsewu yang ternyata telah diusulkan oleh International Union Speleology (IUS) untuk menjadi salah satu warisan alam dunia. Oleh Presiden SBY, di tahun 2004, kawasan ini ditetapkan menjadi Kawasan Ekokarts.

Lihat lorong sempit yang gelap itu? disanalah kami melakukan tubing!

Ini kali pertamanya saya nyobain tubing alias mengendarai ban saat menyusur sungai/kali. Tak main-main, lokasinya langsung di Kalisuci, aliran kali yang berada di dalam gua. Luar biasa pengalaman yang saya dapatkan. Untuk yang suka aktivitas di alam, wajib coba yang satu ini!

Bertamu ke Kraton Yogyakarta

Ini kali kedua saya bertamu ke sebuah istana yang ada di Indonesia. Sebelumnya, saya pernah mengunjungi Kadato Kie, Istana Kesultanan Tidore yang ada di Maluku Utara. Nah, di Yogyakarta, betapa beruntungnya saja dapat mengunjungi istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini. Awalnya, saya pikir kraton hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sultan.

Rimbun, asri dan bersih. Kesanku terhadap kraton.

Ternyata, sebagian kompleks keraton dialihfungsikan sebagai museum yang memamerkan sebagian koleksi kesultanan, termasuk hadiah dari raja Eropa dan repilika pusaka keraton. Hebatnya, walaupun bangunannya sudah tua, namun masih terjaga dengan sangat baik.

Pertunjukkan wayang. Ini di balik layarnya.

 

Di sebuah balai-balai, saya pun sempat melihat atraksi pertunjukkan wayang yang sangat indah. Belum lagi keberadaan pegawai istani/abdi-Dalem yang bertugas dengan seragam khusus dengan segala macam aktivitasnya. Ah, akan saya ulas secara lengkap, nanti.

Mengkhayal di Taman Sari dan Sumur Gumuling

Taman Sari yang merupakan komplek pemandian Sultan di zaman dahulu sebetulnya masih menjadi bagian dari Kraton. Namun letaknya sedikit berjauhan dengan lokasi utama Kraton. Ya maklum, namanya saja lokasi peristirahatan dan relaksasi, mestinya berada di tempat yang agak tersembunyi, bukan?

Tua dan kusam. Namun disanalah letak cantiknya!

Ternyata, di kawasan Taman Sari, terdapat lorong rahasia menuju masjid bawah tanah! Saya takjub saat menyusuri lorong-lorong gelap yang ada di sana. Luar biasa, di tahun 1768, Sultan Hamengku Buwono I sudah memikirkan untuk membangun kolam pemandian, jembatan ganung hingga danau buatan dan lowong bawah air. Sekarang sih sudah tidak difungsikan, atau sepenuhnya digunakan untuk kepentingan pariwisata.

@lenny.diary berpose di sekitaran sumur.

Aha, itu dia selayang pandang kunjungan saya ke Yogyakarta beberapa waktu lalu. Beberapa tempat di atas akan saya ulas terpisah dan rinci mengingat banyak sekali yang mau saya ceritakan di masing-masing spot tersebut.

Nah, kalau kamu, apa tempat yang paling kamu sukai di Yogyakarta?

Iklan

40 thoughts on “Selayang Pandang Yogyakarta

  1. Membaca Yogyakarta dari kacamata orang yang jarang ke Jogja sangat menarik. Lah gimana saya sudah bosan haha. Beberapa tempat sudah beberapa kali saya kunjungi. Daerah Malioboro, Kraton, Taman Sari, dan sekitarnya menarik untuk berburu potret nyetrit. Jadi uda nyobain Bakmi ngehits sama Gudeg belom?

    • Hampir selalu begitu, bukan? Aku aja kalo ke Jombang pasti kagum, secara belom pernah. Sudut pandang wisatawan kan unik. Apalagi wisatawan yang nyamar jadi blogger hahaha.

      Gudeg coba secuil di resto. Bukan yang otentik pinggir jalan gitu. Next time deh.

      Kalp bakmi gak sempet. Padahal mau coba yang masuk NET oleh Aji.

  2. Tempatnya bagus, jadi pengen ke sana. Hahaha… *komen template
    Ituuu… bukan Alun-alun Utara, tapi Alun-alun Selatan atau Alkid (Alun-alun Kidul). Kalo Alun-alun Utara yang deket keraton dan Masjid Kauman. Alun-alun Utara ramenya pas Sekaten kayak sekarang. Yuk, ke Jogja lagi, ditungguin tahu bakso.

  3. Aku iri terutama bagian jajanan pasarnya , mengunjungi pasar tradisionalnya — soalnya kalau ke yogya suka terjebak dengan kemalasan nggk mau kemana-mana maunya bobok aja seharian. hehehe, btw pasar tradisional yang mana itu ya omndut? Siapa tahu besok kalau main ke yogya mo jajan makanan di sana. aku tahunya beringharjo doang 😦
    .
    ,

    • Pasar Kranggan sama pasar satu lagi aku lupa namanya, tak jauh dari Tugu, jalan ngesot paling 3 menitan. Cuma pas aku googling kok aku ragu dengan namanya, soalnya beda dengan yang di google haha.

      Yang jelas, main ke pasar itu seru! haha, bisa makan banyak tanpa takut kantong jebol.

  4. Baca ini sekaligus nostalgia, kebetulan akhir November ini mau pulkam bablas Jogja dulu, jadi dapat deh feelnya pas baca. Jogja emang ngangenin. Aku paling suka kulinernya. Kalau kesana lagi cobain deh mangut lele Mbah Marto juara banget mangut lelenya.

    • Nah kalau lele aku suka! 🙂 kalau gudeg terlalu manis buat lidah Sumatraku haha. Boleh banget nih dicoba, Mbah Martoooo tunggu aku, aku mau ke Yogya lagi (walau ntah kapan :D)

  5. Tempat apa yang paling kusukai dari Yogyakarta? Semua tempat yang ada kenangannya, eaa.. Kalau didaftar mah bisa panjang bener. hehe. Kaliurang, deretan pantai di Gunung Kidul (someday mesti ke sini ya Om ndut), dan Museum Ulen Sentalu juga bagus lho.

    • Langsung googling tentang museum Ulen Sentalu, haaaa yaaa bagus banget. Jadi nyesel gak ke sana. Gunung Kidul mesti di eksplor lebih nanti. Amiin, mudah-mudahan bisa balik ke Yogya lagi 🙂

  6. Whuaaaa….ternyata banyak juga yang belumaku kunjungi ya di Jogja,semakin mupeng pengen traveling ke Jogja lagi.Padahal adikku ada di Jogja, tapi kalau mau ke sana mikirnya seribu kali. Anak-anak masih kecil

  7. Yayan, aku mau komentar fotomu dulu. Makin lama makin bagus dengan angle yang selalu menarik. Suka foto Prambanannya.

    Yogyakarta selalu menarik, dan aku suka dengan budayanya. Taman Sari legend banget ya, kusamnya malah membawa kita terlempar ke masa silam. Aku mau Prambanan lagi kalau ada rejeki, terakhir ke sana saat Humayra masih batita. Ga masuk gara2 sedang direnov paska gempa.

    • Makasih mbak Rien 🙂 belajar terus ambil foto dengan angle yang bagus hihi.

      Oh ya bener jadi ingat gempa Yogya ya. Semoga kejadian itu gak terulang lagi, amiiin.

  8. Foto main tubingnya gak ada?
    Keraton itu dulu pernah di depannya aja, dulu jg ngiranya Sultan tinggal di sana 😀
    Ini postingan ketiga tentang Yogya yg kubaca hari ini.
    Entah kapan bisa ke sana lagi 😛

    • Ada beberapa di kamera aksi 🙂 ntar kalo ditulis terpisa aku tampilkan di sana.

      Wah postingan siapa lagi tentang Yogya? haha jadi penasaran mau baca juga 😀

  9. Asli nyesel banget pas ke Jogja sama anak-anak waktu itu gak naik mobil lampu gonjreng.. Gak nemu alun-alunnya masaaa ooom.. Hahaha.. Aku sama suami emang suka tersesat dan hilang arah kalo jalan.. 😀 Aku kalo ke Jogja lagi pingin eksplor pantai-pantainya om.. Yuukk..

  10. Terimakasih dah tulis blog ini dan ngomongin jogja ku, secara rmh ku cuma ngesot bentar klo mau ke alkid, alun utara ato malioboro.. Hehe… Lain kali mampir yaaa mas yan.. Itu yang ditulis semuanya hampir tiap hari aq liat.. Senang juga tau pendapat org lain mengenai kampung halaman ku..

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s