Pelesiran

24 Jam “Bermanjah” di Pulau Pisang

.

Nih ya, kalau kata Wikipedia, Indonesia itu punya lebih dari 17.500 pulau dan 5.707 diantaranya udah dikasih nama. Namanya pun lucu-lucu. Di Bangka Belitung misalnya, ada pulau Babi, pulau Burung dan Pulau Lengkuas. Lalu, Sumatra Selatan sendiri gimana? kagak ada pulau. Ya maklum, kita mah kagak punya pantai. Satu-satunya pulau yang Sumsel punya itu adalah pulau Kemaro yang ada di sungai Musi hwhwhw.

So bayangin, dengan pulau yang sebegitu banyak, pilihan untuk liburan atau… ehem, bulan madu kan juga lebih bervariasi. Misalnya saja nih, buat warga Sumatra, boleh banget deh nyobain melancong ke pulau Pisang yang ada di Lampung. Pulau Pisang? Apa di sana banyak pisang? Atau maksudnya populasi lelaki lebih banyak daripada perempuan? –bingung kan nyari korelasinya jumlah lelaki = nama pulau : P I S A N G. Unch Unch.

Pulau cantik yang berada di Pesisir Barat ini masih sangat jangkauable dari pusat kota Bandar Lampung. Akses ke sana juga mudah. Cuma satu yang harus diperhatikan. Sangat disarankan ke sana tidak dalam keadaan jomblo. Kenapa? Soalnya pulaunya cakep dan romantis. Kalau kamu jalannya bareng sama orang yang berpasangan, duh, udah deh, kelar idup lo. Mereka bisa pose pelukan karena udah halal, eh kamunya cuma bisa pelukan sama pohon pisang. Gak malu apa sama Andhika Kangen Band?

Pilah-Pilih di Pelabuhan Kuala Stabas

Ada berbagai macam cara untuk menjangkau pulau Pisang. Pertama, dari Bandar Lampung, kamu harus menempuh perjalanan darat dulu menuju Krui, ibukota kabupaten Pesisir Barat yang berada sekitar 6 jam perjalanan darat yang dapat ditempuh dengan menggunakan mobil sewaan. Rata-rata, tarif penyewaan mobil dari Bandar Lampung menuju Krui dipatok harga Rp.250.000 sekali jalan belum ditambah supir dan bensin.

Suasana pelabuhan Kuala Stabas

Lumayan, ya? Makanya, kalau mau ke Pulau Pisang baiknya emang rame-rame biar bisa patungan. Beruntung banget, aku berkesempatan ke pulau Pisang bersama teman-teman blogger atas undangan resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Barat. Jadi, selain percuma je, perjalanan ini juga makin seru dengan keberadaan mereka.

Kedua, begitu tiba di Krui, untuk menjangkau Pulau Pisang, kami harus menggunakan perahu yang dapat disewa di Pelabuhan Kuala Stabas. Ongkosnya murah, Rp.600.000 untuk pulang pergi dengan kapasitas maksimal penumpang 10 orang. Jika mau lebih murah, bisa saja menumpang pengangkut barang/penumpang dengan ongkos lebih murah Rp.25.000 sekali jalan, namun jadwal keberangkatannya tidak dapat diprediksi sehingga menyewa kapal adalah opsi yang terbaik menuju pulau Pisang.

Ini dia perahu yang kami gunakan

Mau yang lebih murah? Berenang! Hehehe.

Setelah menginap semalam di Krui (info penginapan di Krui akan aku tulis terpisah), sekitar jam 8 pagi, kami berangkat menuju Pelabuhan Kuala Stabas. Sesampai di sana, terlihat ada banyak perahu berbagai macam ukuran yang siap digunakan oleh nelayan ataupun juga wisatawan seperti kami.

Ukuran perahunya bervariatif. Secara umum ukurannya tidak terlalu besar dan memiliki sayap berupa rangkaian rotan di sisi kanan dan kiri yang digunakan sebagai penyeimbang. Aku melirik beberapa kapal yang sepertinya dapat kami gunakan. Eh ternyata, oleh mas Aries –pegawai bagian promosi Dinas Pariwisata Kab.Pesisir Barat, beliau ini juga yang mengundang kami, sudah dipilihkan sebuah perahu yang parkir di sisi kanan dermaga.

Perahunya terbuka, beda dengan perahu tertutup yang aku naiki saat ke Krakatau dulu. Bentuknya juga nggak begitu besar walaupun ternyata setelah dinaiki muat untuk rombongan kami yang berjumlah 9 orang. Untuk naik ke atas perahu, kami membuka alas kaki dan melewati landaian berpasir. Alhamdulillah cuaca baik pagi itu. Matahari bersinar terang dan ombak cukup tenang.

Tanpa menunggu lama, kami segera berangkat! Cus!

Laut Ketumpahan Cat

Aku gak pernah lihat air laut yang warnanya biru yang biru banget kayak perjalanan menuju Pulau Pisang. Bayangkan, air di pelabuhan aja jernih banget. Begitu kapal mulai berjalan dan perlahan menuju ke tengah, air laut yang terkena paparan sinar matahari terasa semakin berwarna biru. Indah banget!

Mas Aries bergelantungan di perahu. Nampak di kejauhan Pulau Pisangnya

Dengan memakai jaket pelampung, kami berusaha menikmati perjalanan yang ada. Sesekali aku terkena hemburan ombak yang membasahi raut muka. Walau begitu, ini perjalanan yang sangat seru! Tak menunggu lama, kami mulai sibuk dengan gadget masing-masing, langsung melakukan live report di akun sosial media. Saat itu pula, untuk pertama kalinya aku nyobain live report di IG. Hahaha norak! Tapi biarin, wong viewnya kece kayak begini, hwhwhw.

Di sepanjang perjalanan, perahu kami sempat berpapasan dengan beberapa nelayan yang sedang mencari jodoh eh ikan. Rata-rata, masyarakat pesisir emang mencari nafkah dengan melaut. Ingin rasanya mendekat ke perahu nelayan tersebut sambil nanya, “pak ada ikan apa? Mau dong digoreng!”

Nelayannya sibuk menjaring ikan

Aku yang sempat mabok saat perjalanan darat dari Bandar Lampung ke Krui, Alhamdulillah banget aman-aman saja selama perjalanan laut ini. Begini kalau nenek moyang pelaut, perut lebih tahan banting begitu di air (kalau hatiku, lebih tahan banting lagi karena sering dikecewakan hwhw), ironisnya, begitu sampai di pulau pisang, maboknya baru datang hahaha.

Sudah mendekati bibir pantai. Rumah-rumah warga sudah mulai terlihat 🙂

Perjalanan menggunakan perahu dengan kecepatan sedang ditempuh dengan durasi 45 sd 60 menit. Sebetulnya jika kami berangkat lebih pagi, ada kemungkinan kami dapat berjumpa dengan lumba-lumba. Yup, jalur dari pelabuhan ke pulau Pisang ini memang menjadi habitatnya lumba-lumba. Sayang, hingga kemudian kapal kami merapat ke bibir pantai pulau Pisang, kami tak jua menjumpai lumba-lumba tersebut.

“Mudah-mudahan ketika pulang kita dapat melihat lumba-lumba itu,” ujar mas Aries.

“Tapi syaratnya kita harus berangkat lebih pagi,” sahutnya lagi.

Ya kali, lumba-lumbanya kan juga mau sekolah. Kalau berangkatnya kesiangan, lumba-lumbanya udah berada di kelas untuk belajar. –angguk-angguk.

Selamat Datang di Pulau Pisang

Sambil menahan perut mual dan langkah tergonta-gonta akibat mabuk laut yang timbulnya baru setelah di darat hwhw, aku berjalan menyusuri pasir putih menuju tempat teduh di bibir pantai. Ada sebuah balai-balai yang terbuai dari bambu yang aku gunakan untuk duduk sejenak sambil menunggu teman-teman lain.

Selamat datang di Pulau Pisang. Foto oleh mas Arif IG @ArifGWibowo

Pandangan aku edarkan ke sekeliling. Di sebelah kiri nampak terlihat dermaga tua yang sudah tak terpakai. Sebetulnya ada “balon” apung yang dapat digunakan untuk berlabuh, namun karena angin cukup kencang dan balonnya tak cukup stabil, maka paling aman langsung berlabuh di bibir pantai.

Berteduh tak jauh dari dermaga tua

Luar biasa indahnya pulau seluas 231 hektare ini. Sepanjang pandangan mata yang ada air biru berkilau, pasir putih dan pulau besar yang berada di sisian pulau Pisang. Ternyata itu adalah daratan yang termasuk di Desa Tembakak Kec.Karya Penggawa, Pesisir Barat. Jika menyeberang dari Desa Tembakakak, waktunya jauh lebih singkat. Lalu, kenapa kami gak menyeberang dari Desa Tembakak saja? Lebih karena akses darat menuju bibir pantainya yang sulit dilalui, dan di sana tidak terdapat pelabuhan yang dapat mengakomodir kebutuhan wisatawan.

“Yuk kita jalan menuju homestay,” ajak mas Aries.

Begitu rombongan komplet, kami berjalan menuju sisi dalam pulau. Ternyata, kediaman bang John, yang menjadi tempat bermalam kami letaknya tak jauh dari balai bambu tempat aku beristirahat tadi. Hanya terhalang satu rumah tua yang tak berpenghuni. Bahkan, dari terasnya bang John, langsung terlihat hamparan pantai.

Bang John Homestay, adalah salah satu dari beberapa rumah warga yang dapat dialih fungsikan sebagai penginapan. Selain penginapan bang John, ada beberapa rumah penduduk lagi yang dapat dijadikan tempat bermalam. Tarif menginapnya pun cukup murah, hanya Rp.200.000/malam per orang sudah termasuk makan 3 kali sehari dengan tambahan cemilan dan minuman berupa teh dan kopi yang dapat diminta kapanpun, unlimited!

Tetangga kanan bang John

Fasilitasnya basic¸sebagaimana rumah penduduk pada umumnya. Aku melirik kamar tempat kami bermalam. Di kamar perempuan yang digunakan oleh mbak Rien, mbak Dee dan mbak Annie, terdapat 1 ranjang berukuran besar ditambah extra bed. Sedangkan di kamar kami, kamar para lelaki tamvvan, terdapat 2 kasur spring bed berukuran besar yang sebetulnya cukup untuk ditiduri 5 sd 6 orang.

Suasana pemukiman di Pulau Pisang. Rapi dan asri.

Aku meredakan rasa mabuk dengan meminum teh hangat sambil rebahan di kursi yang ada di ruang tamu. Coba kalau ajak istri, kan bisa minta tolong pijat eh elus manjah. Alagh. Aku melirik jam dinding yang ada di tembok, hmm, masih ada sekitar 1,5 jam sebelum waktu shalat Jumat tiba.

“Yuk kita ke pantai, foto-foto,” ajak mbak Rien.

Aha, itu dia balai bambu yang aku pakai buat istirahat sebelumnya

Jauh sebelum keberangkatan ke pulau Pisang, di grup whatsapp, kita semua pada heboh menyiapkan properti untuk foto. Jadilah, kain-kain motif daerah kepunyaan mbak Annie, mbak Rien dan mbak Dee dibawa untuk kepentingan foto. Tanpa menyiakan waktu lebih lama, kami semua langsung beranjak ke pantai untuk sesi foto yang pertama.

Nyle DiMarco, beware, kamu punya saingan sekarang!

Heboh Pose Manjah di Bibir Pantai

Kalau ngomongin pose manjah, pasti langsung keingat om Cumi. –hi om, baca postinganku ini ya! 🙂 Maklum, kalau sudah main air, pose manjahnya om Cumi gak ada yang ngalahin hwhwhw. Jadilah, kami yang model ala-ala jebolan Krui Top Model ini langsung menjajal diri berpose tak ubahnya peragawan/peragawati.

Tak peduli dengan matahari yang menyengat, semua pada rela berpanas ria demi mendapatkan pose yang kece bana-bana. Tinggallah, duo fotografer kami –mas Aries dan mas Arif, pada kelimpungan menghadapi arahan kami, si para model. Untung aja provosnya ikutan, tinggal bilang, “mas, nanti fotonya kayak begini ya!” si fotografer langsung nurut. –lirik mbak Rien hwhwhw.

Raja arab ketemu pantai, ya begini posenya

Kain-kain tradisional yang ada langsung dipakai secara bergantian. Heboh bener! Sampe-sampe penduduk lokal yang baru datang dari Krui hanya dapat menyaksikan tingkah laku kami dengan perasaan takjub muahaha.

Berbagai macam gaya kami coba. Niat mau gegayaan ala-ala levitasi, selalu gagal akibat modelnya pada kelebihan lemak (ini ngomongin diri sendiri ceritanya hahaha). Gakpapa deh, yang penting seru dan penuh tawa. Kapan lagi kan mentertawakan keindahan lemak sendiri?

Levitasi gagal :p Foto oleh Aries Pratama IG @Riez_Aries

Kami bertahan berada di bibir pantai hingga kemudian terdengar suara azan. Jika sudah begitu, pose manjahnya harus disudahi dulu. Aku, mas Aries dan mas Arif harus bergegas menuju masjid. Deddy Huang? Oh dia lagi dapet katanya. Walau begitu, sebagai bentuk mahkluk berperikepisangan, Deddy ikutan juga ke masjid buat motret.

Ingin rasanya cepat-cepat selesai shalat, karena apa? Kami akan mengekplor seisi pulau pisang dengan mengendari motor! Yihaaa!

Blogger Jalanan di Pulau Pisang

Et, sebelum jalan, perut yang kosong harus diisi dulu dong, ah! Duh, beruntungnya tinggal di homestay Bang John, si ibu aka istrinya bang John itu jago banget masak. Walaupun hidangannya sederhana berupa ikan bakar segar, sayur daun katu, sambal kentang dan… petai rebus, ini adalah hidangan yang mevvah di Pulau Pisang.

Yang bentuknya panjang dimasak berkuah, itulah buah kelor.

Gimana nggak, itu ikannya mati sekali euy! Ikannya segar asli tangkapan nelayan sekitar. Bahkan, saat makan malam, kami berkesempatan mencicipi ikan tuhuk atau ikan blue marlin yang menjadi ikon kota kabupaten Krui. Karena ikannya berukuran besar, oleh si ibu, ikannya dimasak goreng dengan cara di fillet atau diambil dagingnya saja, sehingga pada awalnya aku mengira itu daging ayam. Rasanya? Endes!

Di pulau Pisang pula, untuk pertama kalinya aku mencicipi sayur daun kelor dan juga buah kelornya. Ternyata rasanya enak! Untung saja temvvanan yang aku punya asli bukan karena susuk. Karena konon katanya, susuk akan hilang jika habis makan daun kelor hahahaha.

Perut kenyang, saatnya jelajah pulau!

Siap berangkat! foto punya mbak Katerina IG @Travelerien

Walaupun pulaunya nggak begitu besar, kalau jalan kaki ya betis Ken –nganu, pacarnya Berbih, bisa makin bengkak. Untung saja terdapat penyewaan motor di Pulau Pisang. Tarifnya murah, cukup bayar Rp.60.000, kita sudah bisa pakai motornya seharian. Kami menyewa 4 motor pada saat itu. Aku sendiri mendadak jadi ojeknya mbak Dee. Deddy berpasangan dengan mbak Annie, mbak Rein tentu dengan raja Arab sedangkan mas Aries dengan temannya yang asli penduduk lokal.

Go, blogger jalanan siap beraksi!

Tipikal jalanan yang ada di sana

Tak jauh dari homestay, kami mendapati sebuah sekolah tua yang ternyata dibuat oleh penjajah Belanda. SD negeri Pasar Pulau Pisang namanya. Salah satu dari dua SD yang ada di Pulau Pisang. Untuk sekolah setingkat SMP hanya ada satu, sedangkan untuk menempuh pendidikan di bangku SMA, anak penduduk pulau Pisang mau gak mau harus pindah ke Krui atau ke kabupaten lainnya karena tidak ada SMA di pulau Pisang.

Aku suka suasana pemukiman warga di pulau Pisang. Tenang, rapi, teduh. Kami berpapasan dengan warga saat melewati jalanan kecil yang ada. Sayang, sebagian rumah di sana sudah tak berpenghuni karena pemiliknya pindah dari Pulau Pisang dan hanya sesekali datang untuk memeriksa keadaan rumah.

Ini dia sekolah tuanya

Sambil terus mengendarai motor, tiba-tiba mas Aries yang berada di paling depan, membelokkan arah ke arah pepohonan rapat yang jalanannya tak tersemen. Untung saja tanahnya kering karena jika hujan turun, dapat dipastikan tanahnya akan sangat licin.

Sambil terus membelah pepohonan (yang ternyata sebagian besar adalah cengkeh), tiba-tiba kami sudah tiba di Menara Rambu Suara!

Aha, sejak masih berada di atas perahu, kami sudah membicarakan rencana kunjungan ke menara yang berdiri tinggi menjulang ini. Menara yang tadinya kami kira sebuah mercusuar ini ternyata terdiri dari 5 lantai dengan tangga terbuka. Eh kata mas Aries sih, aslinya malah menara ini terdiri dari 6 lantai. Tapi dibuang satu karena alasan keamanan kontruksi bangunan.

Ini dia menaranya jika dilihat dari perahu

Oke, Untuk naik ke atas, kami harus memanjat menggunakan tangga vertikal. Terus terang, aku ngeri juga saat naik ke atas. Soalnya jika tidak berhati-hati, ya bisa kepeleset dan jatuh ke tanah. Saking ngerinya, aku sendiri hanya berani memanjat hingga ke tingkat tiga. Tanggung ya, tinggal 2 tingkat lagi sampe deh di puncak. Walau begitu, coba lihat, dari tingkat 3 saja pemandangannya sudah luar biasa kayak gini. Huaaaaa! Cakepnya kebangetan! Rasanya, gak mau pulang, mau tetap di menara aja gitu (padahal aslinya takut turun hahaha).

Pemandangan dari atas

Tebing Makam Keramat Batu Liang

Puas narsis di Menara Rambu Suara, perjalanan kami lanjutkan dan pemberhentian selanjutnya yakni di sebuah makam keramat yang berada di sisian jalan.

“Motornya parkirkan saja di sini, kita jalan masuk ke dalam,” ujar mas Aries.

Pemandangan ini persis tempat aku parkir motor.

Kami melewati jalan setapak yang berada di sisi makam. Ini adalah makam keramat yang konon “orang sakti” di Pulau Pisang. Aku sempat melirik tulisan yang ada di batu nisan. Di sana, tertulis beliau lahir pada tahuin 1844 dan meninggal pada tahun 1964. Gak perlu jadi juara olimpiadi matematika untuk mengetahui bahwa usia Syekh tersebut mencapai 120 tahun saat meninggal dunia. Luar biasa!

Ini dia sumur kecilnya.

Tak jauh dari makam, terdapat sebuah “sumur” kering. Jujur saja, aura di sekitar sumur ini agak nggak enak.

“Jika air laut pasang, barulah sumur ini akan terlihat airnya,” info mas Aries.

Gak perlu berlama-lama, kami langsung beranjak dari sana. Kami berjalan agak susah payah karena harus melewati rimbunan semak dan pepohonan kecil. Aku tak tahu tempat apa yang akan kami tuju hingga kemudian ketika rimbunan semak berakhir, terhamparlah pemandangan indah ini!

Ini di Bali? oh bukan, pulau Pisang aja.

Wow, ternyata kami berada di sebuah tebing dengan pemandangan langsung membentang ke arah lautan. Ini adalah salah satu spot terbaik untuk mengejar sunset. Nah, berhubung kami datangnya siang, kami ke sana hanya untuk…. Ya, foto-foto manjah lagi!

Gak banyak ruang tersedia di tebing ini. Singkat kata, ini tebing yang sempit! Makanya, kami harus berbagi pantat untuk sekadar duduk nyaman hwhwhw. Aku gak tahu pasti berapa ketinggian tebing ini. Hmm, 20 meter ada kayaknya. Di ujung tebing, terdapat karang besar yang dapat dijadikan panggung pemotretan.

Aku sempat naik ke atas karang itu untuk persekian detik, namun langsung memilih foto dari bawah saja karena keseimbangan jadi nggak bagus ketika berdiri di sana. Jangan sampe deh, hanya karena foto jadi membahayakan diri sendiri. Big No banget!

Buktinya, dari bawah saja foto-foto tetap asyik kok. Kami berdiam cukup lama di tebing ini hingga kemudian kami bertolak ke lokasi berikutnya : Pantai Batu Gukhi.

Alam Memahat Wajah di Batu Gukhi

Namanya juga pulau kecil. Berkendara 10 menit, kami sudah tiba di Batu Gukhi. Seperti yang sudah aku singgung sebelumnya, bahwa pulau Pisang ini cocok digunakan untuk berselancar. Ombaknya cukup besar terutama di Batu Gukhi ini yang berada di utara pulau.

Aku yang sejak awal niat mau berenang jadi gentar melihat ombaknya yang heboh menari. Terlebih lagi, area pantainya berkarang sehingga kemungkinan untuk cidera jauh lebih besar. Di Batu Gukhi, kami bertemu dengan beberapa penduduk lokal yang nampak sedang memancing ataupun bersantai menghabiskan sore hari.

Pantai di Batu Gukhi

Di sisi kanan Batu Gukhi, terdapat sebuah batu besar yang sekilas mirip dengan wajah manusia. Hebat ya alam membentuk batu keras itu. Ironisnya, di sisi lain keganasan alam juga berdampak pada sisi pantai. Abrasi mengoyak sebagian area bibir pantai sehingga pohon bertumbangan dan garis pantai kian bergeser ke dalam.

Mata, hidung, mulut dan pepohonan itu menyerupai rambut.

Kami menghabiskan sore hari di Batu Gukhi ini. Sambil menyecap nikmatnya kopi Lampung dan beraneka cemilan, kami duduk santai, beristirahat sambil menunggu proses matahari terbenam. Sambil nunggu, ya kita foto manjah lagi dong ah. Di sini, aku sampe buka baju demi foto ala-ala. Sayang, begitu lihat hasilnya, boro-boro mirip Nyle DiMarco, yang ada aku lebih kelihatan seperti Dugong DiMarco. Cukup sekian dan terima kasih hwhwhw.

Sayangnya, langit mendadak mendung sehingga matahari ketutupan awan. Gakpapa deh gak nemu sunset, toh duduk-duduk di tepi pantai kayak gini aja rasanya udah mewah sekali!

Si Penyulam Tapis

Ini adalah potensi lain yang ada di Pulau Pisang. Aku gak nyangka, di pulau kecil ini ternyata penduduknya mampu menghasilkan karya yang luar biasa. Sehabis makan malam, kami diajak untuk mengunjungi rumah tetangga yang ternyata si ibunya merupakan pengrajin tapis, kain tradisional khas Lampung.

Berbeda dengan songket Palembang yang dibuat dengan menggunakan alat khusus, ternyata, tapis Lampung dibuat dengan cara disulam atau dijahit satu persatu. Warbiyasak!

Si ibu menyulam sambil di wawancarai

“Satu kain selesainya berapa lama, bu?” tanyaku.

“Kalau cepat bisa 2 bulan, kalau lagi banyak kerjaan rumah tangga, bisa hingga 3 bulan,” jawab si ibu.

Lama ya pengerjaannya? Tak heran, satu kain tapis bermotif indah seperti ini dihargai hingga 3 juta rupiah! Mahal? Hmm, kalian harus melihat sendiri proses pembuatannya sebelum berpikir demikian. Produk lain yang dijual oleh pengrajin di pulau pisang ini adalah berupa tirai pintu/jendela yang proses pengerjaannya lebih cepat. Makanya harganya lebih murah, yakni sekitar Rp.1,5 juta hingga Rp.2 juta rupiah.

Nah, tirai kayak gini 1,5 jutaan

Aku sempat bertanya apakah si ibu punya produk kecil yang harganya lebih ekonomis. Sayangnya tidak, mereka hanya fokus mengerjakan kain tapis berukuran besar seperti itu. Dalam hematku, bisa saja mereka membuat produk lebih kecil sehingga harganya lebih murah. Misalnya dompet, mainan tas atau topi khas Lampung. Sepertinya lumayan juga untuk oleh-oleh, kan?

Lumba-Lumba di Semburat Fajar

Selepas subuh, kami sudah terjaga penuh dan bergegegas menuju pantai demi menangkap matahari terbit. Kami tiba di pantai dengan kamera masing-masing. Debur ombak di pagi nan syahdu bikin suasana hati jadi ikutan tenang.

Pemandangan mewah di pagi hari

Sayangnya ini hari terakhir kami di pulau Pisang. Pasca menangkap sunrise, kami harus bergegas bersiap untuk kembali ke Krui. Sayang, lagi-lagi matahari tertutup awan sehingga kami tak mendapatkan sunrise yang sempurna. Walau begitu, melihat cahaya matahari perlahan menembus awan yang seolah disulam, sudah cukup menghangatkan kami.

Sungguh pagi yang indah dan menggalaukan –teuteup, ya! Hehehe.

Kami dijadwalkan dijemput oleh pemilik kapal pada pukul 07:00 WIB. Pasca menangkap momen di pagi hari, kami bergegas pulang, mandi dan menyiapkan semua barang bawaan. Tak lupa, sebelum berangkat, si ibu lagi-lagi telah menyiapkan sarapan nikmat buat kami berupa nasi goreng dengan lauk telur dan cemilan pisang. Pisang asli yang ditanam di pulau ini. Walau begitu, penamaan pulau ini konon didasari dari bentuk pulau ini yang jika dilihat dari ketinggian menyerupai pohon pisang.

Kami molor setengah jam dari jadwal yang sudah disepakati. Di sepanjang jalan pulang, kami semua harap-harap cemas, semoga si lumba-lumba kesiangan, terlambat bangun dan berangkat sekolah agar dapat berpapasan dengan kami.

Kumpulan lumba-lumba yang berenang di dekat kami. Foto oleh Aries Pratama IG @Riez_Aries

Seolah untuk mengganjar rasa kecewa tak dapat melihat lumba-lumba sehari sebelumnya, di perjalanan pulang ini, kami berpapasan dengan sekelompok lumba-lumba yang berenang dekat sekali dengan kami! Haaaa! Mereka bahkan berenang melintasi bagian bawah kapal kami. Sungguh luar biasa! Melihat lumba-lumba ini, rasa mual akibat ombak yang jauh lebih besar untuk sejenak dapat terlupakan.

Pertemuan kami dengan lumba-lumba ini adalah bonus yang sangat indah dari perjalanan kami (tak sampai) 24 jam bermanjah di Pulau Pisang. Ah, semoga aku dapat berkesempatan menginjakkan kaki di pulau Pisang ini lagi, nanti, bareng istri. 🙂

Dadah pulau Pisang, jumpa lagi di lain kesempatan 🙂

Terima kasih kepada Dinas Pariwisata Krui yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menelisik keindahan Krui dalam rangka menyambut Pesona Krui 2017. Ada apa saja sih kegiatan di Pesona Krui 2017?

Aha, diantaranya ada Krui Pro 2017 WSL QS1000 Surfing Competition pada tanggal 15-20 April 2017 yang akan dimeriahkan oleh surfer baik lokal ataupun interlokal eh internasional hehehe. Beraneka lomba juga akan digelar mulai 13-22 April 2017, diantaranya lomba tari adat, pidato bahasa Inggris, layang-layang, lagu Lampung, foto wisata, ngunduh damar dan masih banyak lagi.

Khusus ngunduh/memanen Damar, bahkan akan ada pemecahan rekor MURI 1001 orang ngunduh Damar pada tanggal 13 April 2017. Wow, gak boleh dilewatkan nih! nah, untuk info lebih lengkap, silakan cek di poster-poster ini ya.

Oh ya, bagi yang berencana menyusuri Pulau Pisang namun gak mau ribet, bisa banget ikutan open trip yang diadakan oleh mas Aries (+62 821-8683-9738) atau om Yopie (+62 812-7348-4536). Harganya sangat bersahabat dan anti ribet! info lengkap, kontak mereka saja langsung di no masing-masing ya.

Simak keseruan kami di Pulau Pisang

 

Tulisan mbak Katerina : Jejak Keindahan Pulau Pisang Pesisir Barat
Tulisan mbak Annie : Hatiku Tertambat di Pulau Pisang
Tulisan mbak Dee : Menyusuri Pesona Pesisir Barat Lampung
Tulisan Deddy : Jelajah Pesona Pulau Pisang, Krui

					
Iklan

74 thoughts on “24 Jam “Bermanjah” di Pulau Pisang

  1. Denger nama Pulau Pisang, aku inget temenku di Mesir, kena scam pas di daerah Hurghada. Ditawari tur ke Banana Island. Eh pas nyampe tempat, ternyata cuma Kebon Pisang. Kalau gini, mah, di Indonesia juga banyak, kata temenku….

  2. Daya tarik pulau kecil ini lumayan kuat. Sampai bikin penasaran. Setelah didatangi memang menawan. Seru menjelajahinya. Apalagi sambil motoran. Wajar kalau masuk daftar kunjung jika ke Pesisir Barat.

    Suasananya bikin ingin romantis2an. Syahdu2an. Eeeh ndak taunya malah pecah oleh sesi foto2 yg bikin ngikik itu. Dari kain, syal, sampe topi bergilir. Hingga Ogik, telanjang dada, peluk pohon, sampe pangeran Arab :))

    Suasana heboh dan gembira yang gak bisa dilupakan. Banyak keseruan dibalik indahnya Pulau Pisang. Paling takjub liat lumba2nya. Trims keseruannya Yan. Tulisan ini amat berharga.

    • Kalau jalan rame-rame itu pasti seru. Gak pernah gagal bikin kenangan manis pasca pulang hahaha. Semoga makin sering jalan sama mbak Rien dan rombongan blogger lainnya.

  3. Tulisan ini bisa menjadi contoh yang baik sebagai strategi memperkenalkan kekayaan (potensi) wisata tanah air..

    Tulisan ini membawa pengalaman nyata bagi pembaca.. bagi saya, secara pribadi yang beberapa tahun belakangan ogah berpelesir..membaca tulisan ini, samar-samar geliat itu muncul lagi.. terimakasih atas informasi dan inspirasinya, mas

  4. Ah akhirnya Mas Yayan singgah ke Pulau Pisang. Sudah bisa Move On belum Mas dari Pulpis 😋

    Seru ya mas di Pulau Pisang. Ah waktu aku ksana tidak bisa naik ke Mercesuar nya Mas dan dapat sunrise tidak disana mas.

  5. Sudah sering mendengar namanya dan ternyata pulau Pisang memang unik ya Yan. Air lautnya itu memang pas banget ketumpahan cat, warna biru nya bikin mupeng. Ah Semoga nanti saya juga sampai di pulau Pisang. Amin

  6. Paduan pantai pasir putih dan air sebiru beledru memang tak pernah gagal memikat hati ya. Seru akhirnya bisa disapa si lumba-lumba dalam perjalanan pulang 😀

    Entah kapan terakhir kalinya gue lihat lumba-lumba secara langsung…

  7. Ping-balik: Jelajah Pesona Pulau Pisang, Krui (Bagian 1) | Koh' Huang

  8. Ping-balik: Jelajah Pesona Pulau Pisang : Bertemu Teman Baru (Bagian 2) | Koh' Huang

  9. Dari awal cerita sampai mau habis, penasaran sama penampakan pohon pisang, eh taunya dinamain Pulau Pisang gegara diliat dari atas ketinggian bentuknya kayak pohon pisang, wkkkkk..

    Lautnya biru banget, mercusuar itu kelihatan menggoda untuk dinaiki dan berselfie ria, hahaha. Semoga ntar aku juga bisa main ke sana, aamiin.

  10. Om Nduut, baca judulnya, jadi inget om cumi deh 😖😖😖

    Om Nduut, kok motornya tanpa plat nomer? Hehehehe
    Oh ya, itu yakin naik perahunya perahu nelayan gitu om? Aman-aman aja kah? Hehehehe

    Oh ya om, nanti Whatsappnya aku kontak yaaaa, mau tanya-tanya hehehehe 😁

    • Iya Bay, emang jadi inget om Cumi ya.
      Hahaha iya itu motor di sana asal punya aja kayaknya. Mudah2an beli resmi hwhwhw.

      Monggo aja Bay WA kalau mau nanya-nanya ya.

  11. What the…… take me to this place soon please… btw, itu beneran air lautnya warnanya biru gitu? tanpa edit? awesome… *Lalu masukin Pulau Pisang sebagai tempat yang akan segera dikunjungi.

    Pengalamannya di Pulau Pisang seru banget mas.. *sirik berjuta-juta sirik.

  12. wah ternyata lampung punya pulau pisang yang keren … banyak spot untuk pose manjah .. hehe .. pulangnya bener2 dapat bonus .. amazing .. rezeki anak sholeh 😀

  13. Ping-balik: Restoran Kece di Bandar Lampung | Omnduut

  14. Ping-balik: Jangan Bingung Pelesiran & Mencari Penginapan di Krui, Lampung Barat | Omnduut

  15. Ping-balik: Jangan Bingung Pelesiran & Mencari Penginapan di Krui | Omnduut

  16. Ping-balik: Way Kambas, Aku Datang! | Omnduut

  17. Yaaaaan, kok gak ada foto-foto underwater nyaaa? Padahal ngarep ada. Eh tapi aman khan buat berenang-renang di pantainya. Aku tuh suka kecewa kalau main ke pantai tapi gak bisa berenang-renang 😀

    *langsung cek googlemaps buat liat Krui itu dimana*

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s