Pelesiran

7 “Kejutan” di 24 Jam Pertama di India

DSC_0237

.

Dulu, sebelum berangkat ke India, selain mempersiapkan 12 hal penting ini beserta Itinerarynya, ada satu hal yang lebih penting yang tak kalah serius aku persiapkan, yakni : mental. Secara ya… ini yang mau didatangi India gitu. Iyap, Negara dengan penduduk lebih dari 1 miliar orang ini memang dikenal sebagai Negara yang cocok untuk melatih mental dan bukan Negara yang menawarkan kemudahan untuk dijelajahi, ya soalnya India itu kan… begitulah. Makanya gak banyak orang Indonesia yang memilih berkunjung ke Negara ini.

Terutama traveler cewek ya karena tingkat khawatirannya cenderung lebih tinggi. Jelaslah, apalagi kalau dibandingin Malaysia, Singapura, Jepang atau Korea ya! India jauh lebih tidak aman apalagi dengan banyaknya kejadia jelek yang menimpa traveler. Walaupun aku mengenal bebeapa traveler cewek yang berani aja tuh jalan ke India dalam waktu lama SEORANG DIRI.

Walau sudah mempersiapkan mental dengan baik dan berusaha untuk tidak terlalu kaget dengan apapun yang akan kami (aku dan 2 travelmates) hadapi, tetap saja ada beberapa kejadian yang membuat aku tercengang bahkan dalam 24 jam kehadiran kami di India. Apa saja? Ini dia.

I Don’t Care, I Just Wanna Take Some Photos!

Kejutan pertama bahkan kami temui ketika masih berada di pesawat. Pesawat AirAsia yang membawa kami ke Kolkata memang bertolak dari Kuala Lumpur menjelang tengah malam. Dari ruang tunggu, terlihat mayoritas warga India berkulit gelap dengan barang bawaan yang menunjukkan jika mereka ini pekerja di sektor non formal.

Begitu masuk, beberapa dari mereka berebutan kursi. Aku kasihan dengan FA AirAsia yang kewalahan meladeni mereka. Ada satu orang yang maksa mau pindah duduk di hot seat.

“Tak boleh…tak boleh,” ujar pramugari cantik yang wajahnya masih terbayang hingga sekarang ini. Hehehe.

Puncaknya, begitu pesawat take off dan semua lampu dimatikan, orang-orang ini langsung mengeluarkan handphone (yang lumayan canggih) dan mulai berebutan memotret di jendela. Nggak hanya yang duduk di window seat, yang di tengah dan aisle juga ikutan menjorokkan muka ke jendela dan berebutan selfie!

Iyesh, selfie!

Alamat aku, Ahlan dan Indra sibuk menegur mereka dan untungnya mereka mau mendengar teguran kami. Norak? Iya, tapi ya orang Indonesia juga banyak yang begini, kan? :p aku sudah melihat langsung sikap acuh warga India bahkan ketika masih di pesawat. Gimana jika sudah berada di Indianya nanti ya?

????????????????????????????????????

Howrah bridge & Howrah Station

Bentakkan Petugas Imigrasi

Petugas imigrasi di mana-mana ya nyeremin kan? Apalagi ini di India hahay! Nah, pasca mendapatkan e-Visa India, seharusnya proses di Imigrasi lancar dong ah. Tapi…

Ahlan berada di antrian depan petugas imigrasi yang malam itu bekerja seorang diri. Ketika sampai pada gilirannya, Ahlan diminta untuk mengisi kembali aplikasi permohonan Visa. Lha, kan kita udah apply visa secara online kan? Jelas saja Ahlan bingung dan bertanya. Tapi si petugas Cuma bilang, “isi formulirnya!” eh ketika Ahlan mau nanya lagi dibentak dong ya. Aku yang melihat di belakang langsung keder.

Ya sudahlah, kami lantas mengisi kembali formulir permohonan VISA. Setelah selesai, aku antri duluan. Di depanku ada turis asing dari Eropa yang antri. Saat mau scan telapak tangan, ntah kenapa tuh alat nggak mendeteksi tangannya si bule. Petugasnya nampak kesal. Aku yang ngeliat di belakang ikutan deg-degan. Lumayan lama tuh, ada kali sekitar 10 menit tangan si mbak bule-nya disuruh dibasahi, dikeringin trus discan.

Saat giliranku tiba, tanpa ba-bi-bu aku langsung ambil botol air yang ada di meja imigrasi dan langsung membasahi tanganku dan langsung mengeringkan. Ajaib! Mesin scannya bekerja! Ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan kepadaku, semisal berapa lama berada di India, mau ke mana aja trus aku diminta kasih lihat tiket pulang. Setelah proses imigrasi yang agak menegangkan, aku resmi masuk ke India setelah pasporku di stempel dan dibilangin, “have a nice holiday in India” dari petugas Imigrasi.

Balada Mesin ATM di India

Nggak ada yang jual rupee di Palembang. Jadi pilihannya antara 2, nitip sama temen nukar di Jakarta, Medan atau kota besar lainnya atau ngambil uang langsung di mesin ATM. Dari beberapa informasi di grup jalan-jalan, gampang banget katanya narik uang ATM di India. Berhubung kartu debitku Visa, ya paling cari ATM berlogo Visa juga di sana.

Begitu lepas dari imigrasi, kami semua langsung mencari mesin ATM. Nemu beberapa di bandara. Namun, saat kartu dimasukkan, kok ya kartunya nggak ditelan sama mesin.

“Wah kartu kita ditolak nih,” gumamku ke Indra dan Ahlan.

unnamed (3)

Rupee India

Kami mencoba ke ATM lainnya. Tapi tetap saja gagal. “Ya sudahlah, nanti kita cari di stasiun aja,” saran Ahlan. Kami lalu ke konter pre paid taxi dan memesan taksi ke stasiun Howrah. Untung nih ya Ahlan bawa sedikit rupee (yang cukup untuk makan dan beli tiket kereta ber-3).

Namun, sesampai di stasiun, tetap saja kartu debit kami ditolak. Kami udah coba ke lebih dari 3 mesin ATM dari bank berbeda tapi tetap gagal.

Setelah sampai di Agra, barulah kami tahu cara menarik uang di ATM. Yakni, kartunya memang tidak tertelan oleh mesin, jadi proses verifikasi kartu dapat dilakukan hanya dengan cara memasukkan kartu sebentar, tunggu beberapa detik, cabut kartunya dan hola, transaksi dapat dilakukan! Hmm, lumayan praktis, ya? Mungkin bank di India sudah terlalu lelah mengurusi komplen masyarakat yang kartunya tertelan.

Scam Pertama

Ongkos taksi dari bandara ke stasiun itu INR 310. Ketika dibayar dengan pecahan uang INR 1000, Ahlan diberikan uang kembalian dengan banyak pecahan dan setelah dihitung di stasiun kurang INR 10. Bukan jumlah yang besar memang, tapi tetap saja itu scam. Padahal kita bertiga menghitung uang secara bersamaan. Ntahlah, mungkin karena bawaan ngantuk (jam 2 pagi!) sehingga kami semua nggak begitu ngeh.

Sebelum berangkat, aku sudah banyak baca mengenai scam di India. Salah satunya kembalian yang kurang ini. Scam lainnya akan aku bahas di postingan terpisah ya, tenang aja, itu bukan scam satu-satunya yang kami terima selama di India kok hahaha.

Beggars Everywhere!

Sudah nonton film Slumdog Millionaire? Jika sudah, pasti tahu ya gambaran kawasan slum yang ada di Mumbai itu? Nah, sebelum berangkat aku juga sudah tahu bakalan melihat (bahkan bersentuhan langsung) dengan para beggars ini.

Tapi… ternyata apa yang ada dibayanganku itu jauuuh jauuuuh lebih parah. Sepanjang perjalanan dari bandara ke stasiun, aku melihat orang-orang yang tidur di sembarangan tempat. Di dekat pembuangan sampah, di emperan toko, bahkan di trotoar yang berada di tengah antara 2 jalur kendaraan. Melihat itu semua rasanya nyeess banget, betapa, kita semua harus bersyukur karena kehidupan di Indonesia jauh lebih baik.

DSC_0236

Hampir jam 3 subuh, sebagian gelandangan sudah diusir.

Inget kan berita gelombang panas yang menerjang India Mei-Juni lalu? Dimana korban meninggal itu lebih dari 2000 orang? Nah sebagian besar korban yang tewas ya para homeless/gelandangan ini. Habisnya gimana, mereka gak punya tempat tinggal. Mandi pun di pinggir jalan yang ada akses selang gratis. Belom lagi cakupan air, makanan yang cukup. Menyedihkan ngeliatnya.

Tak heran Mother Teresa fokus banget sama Kolkata (nanti ya aku posting khusus kunjunganku ke Mother Teresa House). Dan begitu masuk stasiun, wow! Para homeless ini berbaur dengan penumpang kereta. Penuuuuh banget stasiunnya sampai-sampai mau jalan ke loket aja kadang harus melangkahi orang yang sedang tidur. Dan yang bikin sedih lagi, di beberapa bagian stasiun, para gelandangan ini dibangunkan dengan cara dipukul pakai tongkat dan disiram pakai selang. 😦

Officer No, Student Yes!

Tantangan selanjutnya adalah mencari loket penjualan kereta yang akan mengantarkan kami ke Agra.  Nih ya, di stasiun Howrah itu ada puluhan, iya, PULUHAN Konter penjualan tiket dan saat kami datangi semua nggak ada yang tahu mana loket penjualan kereta ke Agra.

Sebagian penjaga hanya menunjuk ke sembarang arah dengan tatapan, “sono, cari tempat lain, jangan bikin gue pusing!” sebagian lagi sudah meneriaki kami untuk menjauh bahkan sebelum konter tiketnya kami datangi.

Petugas kereta berkumis dan janggut tebal bak inspektur Vijay nampak berkeliaran. Kami bergantian bertanya, namun kok ya heran banget, petugasnya aja nggak tahu loket penjualannya coba! Hmm, nggak tahu apa nggak mau tahu ya? Sumpah, mengingat kejadian malam itu rasanya nyes banget dah! Capek, kesal, marah namun nggak bisa ngapa-ngapain itu rasanya… coba bayangin deh!

“Sorry sir, I looking for counter which selling ticket to Agra,” tanyaku sopan ke petugas yang agak mudaan sedang duduk di kursi sambil mainin handphone.

Dia menoleh sejenak lalu menatap handphonenya lagi tanpa dosa.

DSC02687

Officer stasiun ya begini tampilannya. Photo taken by Ahlan

“Sir….”

“Just go to those counter,” sahutnya malas-malasan sambil menunjuk ke sebuah loket yang ternyata ZONK. Gini nih petugas yang makan gaji buta! Apa nggak bisa bahasa Inggris? Alah bisa kok, bahasa Inggris di India itu sudah kayak jadi bahasa kedua. Pengemis aja jago bahasa Inggris apalagi petugas ya.

Saat sudah hopeless diantara para homeless, dewa penolong hadir dengan wujud seorang pemuda yang nampaknya terpelajar. Dan benar saja, si pemuda ini mau membantu kami ke sebuah konter yang ternyata baru akan dibuka jam 5 subuh. Waah terima kasih. Saat aku curhat mengenai petugas stasiun yang acuh, jawabnya cukup mencengangkan, “Iya, sebagian petugas memang acuh seperti itu, jika kamu mau bertanya sesuatu, tanyakan kepada orang lokal saja.” Gubrak!

Chai & Calo

Sungguh, saat menuliskan hal ini, aku kangen sekali dengan teriakan para pedagang chai (teh susu) yang bersuara cempreng di atas kereta hahaha. Walaupun aku nggak suka chai (karena aku nggak minum susu), tapi ya aku iciplah (oops, aku baru icip chai di Kashmir, karena gak kuat cuaca dingin hwhw) minuman semiliar umat di India itu 🙂

DSC_0255

Pagi hari, stasiun mulai steril

Saat berhasil mendapatkan tiket, kami punya waktu menunggu sekitar 3 jam. Jadilah, pagi itu kami mencoba berjalan ke arah luar stasiun mencari sesuatu yang dapat dimakan. Adanya ya penjual chai. Dan… ramaai banget pembeli yang mau menyantap chai ini. Harganya juga murah, antara 3 sd 5 rupee saja.

3 pemuda dengan backpack di punggung masing-masing pergi celingukan ke luar stasiun? Ya bakalan jadi santapan para calo. Di India, calonya nyeremin euy, kadang kita ditarik-tarik buat naik bajaj/bus mereka padahal udah dibilang cuma mau cari sarapan. Ya nggak kaget banget sih, karena di beberapa daerah di Indonesia juga begitu, kan?

Calo dan Chai, dua hal yang menghiasi hari kami di 24 jam pertama di India sebelum kami menaiki kereta. Welcome to India!

 

Iklan

37 thoughts on “7 “Kejutan” di 24 Jam Pertama di India

  1. Hadooh ngga pernah kebayang pergi ke india om. Mau holiday atau mau cari penyakit hahaha btw om Ndut ngga kena diare di sana? Konon perut orang asing ngga bakal tahan makan makanan PKL. Atau perut orang kita udah kebal juga?

    • Alhamdulillah aku sehat-sehat saja 😀 memang di sana orang biasa langsung minum dari keran. Kami sih selalu beli kecuali… di Kashmir haha. Soalnya airnya langsung dari gunung hehehe, ya sudahlah bismillah aja.

      Aku kena diarenya malah ketika sampai di Kuala Lumpur, transit sebelum pulang ke Palembang. Ini karena asyik makan sambal di food court di KL Sentral hwhwhw.

  2. Duuhh seru banget baca cerita ini. Sambil ngebayangin juga. Semoga menang ya Om kompetisi ke Kerala nya. Biar aku bisa mengikuti jalan2 India lebih jauh.
    Petugas Imigrasi itu entah kenapa dipasang orang2 yang mukanya jutek ya. Padahal kalo sudah ngomong mah biasa, ga terlalu jutek juga haha *pengalaman di Imigrasi Belanda

    • Atau memang settingan wajahnya harus kaku, dingin dan pelit senyum, padahal ganteng2 dan cantik2 hahaha, jadi kesannya nyeremin 🙂

      Makasih ya mbak, amin doakan terus semoga berkesempatan ke Kerala 🙂

  3. Ngalamain juga yang soal Hot seat di pesawat, foto selfie, and imigrasi, cuma waktu itu pakai visa on arrival.. India not on my list for travelling, tapi ternyata malah ngalamin nya di awal2 traveling,, Haha.. semangat Om..

  4. Ini cerita yg pertama ya mas ? Endingnya masih chai soale..

    Btw disana ngomongnya gak ikut2an goyang kyk tinatoon khan ya mas ? Acha.. Acha.. Hehehe..

    Mudah2an lomba nya menang ya mas..

  5. Aku ikut deg2an baca postingan ini. Emang bener banget Oom, aku salah satu traveler wanita yang urung ke India. Entah kenapa masih berasa serem dan belum ada keinginan ke sana. Beda banget waktu solo traveling ke yurop, ngrasa pede. Aku udah vote karna masih pengen baca kisahnya di India! Good luck! 😉

  6. Lain kali siapin duit kecil yang banyak biar gak perlu kembalian.. ATMnya canggih juga yaa, kena biaya berapa sekali narik dit rupee di atm india?
    Ke india sendirian? nggak ah, makasih 😀

    • Iya, mending kasih uang pas hahaha. Aku pake Mandiri, sekali narik kena 20 ribu dan kurs jual belinya bagus banget, ketimbang nuker di money changer atau nukar ke dolar dulu (yang lantas kena kurs jual beli 2 kali) mending narik ATM.

  7. Iya, memang mesti siap mental banget ya Om kalau mau jalan ke sana… :hehe. Tapi setelah ada di sana pasti jadi lebih bersyukur dengan keadaan Indonesia, meski negara kita seperti ini tapi masih ada yang ada di bawah kondisi kita ya :hehe.
    Saya juga sudah vote! Salut dengan perjuanganmu Om, pasti berbuah maksimal banget nantinya :amin. Semoga berhasil berangkat ke India, ditunggu cerita-ceritanya :hehe.

  8. Ping-balik: Menyelami Karakter Orang India Melalui Alam Khan si Supir Bajaj dari Agra |

  9. Ke india boleh bawa rendang nggak?:) kalo ke kashmir naik kereta ,tiket kereta nya bisa beli langsung di loketnya atau mesti online?dari jammu ke kashmir berapa jam ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s