Couchsurfing / Kopdar / Kuliner

Godah Ganda di Martabak HAR

DSC_0965

Yuk diGOyang liDAH-nya 🙂

“Suka makanan India, kan?”

“Ngg, jujur aja nggak terlalu. Semua serba kari.”

“Lha, ini kan rasanya sama saja. Kari di India juga begini.”

“Nggak, yang ini jauh lebih enak.”

Kurang lebih begitulah percakapanku dengan Alid dan Sander Koers di restoran Martabak HAR yang berada di seberang jalan Masjid Agung Palembang. Oh ya, omong-omong semua pada kenal kan ya dengan Alid si Alidabdul [dot] com? Bagi yang belum kenal, Alid ini blogger nomor wahid dari kota Jombang, Jawa Timur. Beliau ini masuk di jajaran seleb blogger dah pokoknya. Selain femes dan mengaku ganteng, Alid juga kontroversial sih hahaha.

Nah kalau Sander, dia teman baru kenal dari couchsurfing [dot] com. Sander adalah warga negara Belanda yang tinggal di Jerman. Nah, dia sudah berada di Indonesia 1,5 bulan lamanya. Di Palembang, dia menginap di rumah kami satu malam. Hebatnya, perjalanan dari Yogyakarta hingga Palembang, ia tempuh dengan cara hitchhiking alias nebeng. Hitchhiking memang makin popular belakangan ini. Perjalanannya sendiri masih panjang. Ia berencana menuntaskan Asia Tenggara, Tiongkok dan Rusia sebelum kembali dan tiba di Jerman awal Oktober nanti. Dan semuanya dilakukan dengan cara menumpang. Busyet! Luar biasa, kan?

Oke balik lagi ke martabak…

Martabak HAR adalah makanan khas Palembang yang tingkat kepopulerannya berada satu sentimeter aja di bawah pempek. Hehe. Setahuku, rata-rata pelancong pasti pernah dengar kepopuleran martabak yang satu ini. HAR sendiri merupakan singkatan nama dari Haji Abdul Rozak yang konton merupakan pelopor-pencipta-pengembang-penjual dari makanan yang sesungguhnya berasal dari India ini.

DSC_0952

Martabak HAR. Siap meng-GODAH anda!

Lantas apa istimewanya?

Martabak HAR istimewa karena keserhanaannya –kayak akoh geto. Jadi, martabak ini dibuat dari adonan tepung terigu yang dibentuk bulatan kecil sebelum dipipihkan dan di isi dengan 2 butir telur ayam. Yang bikin seru itu teknik pemipihan adonannya. Harus terlatih tuh. Soalnya, salah-salah, adonannya bisa pecah dan telur akan buyar ketika digoreng.

DSC_0959

Bulatan adonan dipipihkan

DSC_0962

Setelah dilempar-lempar ke udara dan mengembang, mulai di isi dengan 2 butir telur. Adonannya jadi tipis banget! wajan sebelah kanan itu kuah karinya.

DSC_0963

Lalu digoreng. Ini yang ngegoreng tukang parkir loh hehehe

DSC_0956

“this is it…” *ala Farrah Quinn

Adonan martabak juga digoreng di wajan khusus. Wajannya berukuran sangat lebar. Minyaknya nggak terlalu banyak. Untuk mematangkan bagian atas, cukup disiram-siramkan dengan minyak panas. Begitu gurih, angkat dan tiriskan dulu minyaknya. Nah jika sudah siap, martabak HAR dapat disantap bersama dengan kuah kari dan cuka cabai. Rasanya? Aih, ngebayanginnya aja aku sudah ter-godah.

DSC_0954

Sebelum makan, pose dan senyum ala Indra Bekti duluuuu

DSC_0977

Karena masih kekenyangan pasca buka puasa, kita sepakat satu porsi bagi dua. Hehe.

Satu porsi martabak HAR dihargai antara Rp.18.000 sd Rp.20.000 saja. Harga tersebut bervariasi karena cukup banyak restoran Martabak HAR di kota Palembang. Jadi tinggal pilih restoran martabak sesuka hati. Rasa sih rata-rata sama, paling kuah karinya aja yang berbeda. Ada yang lebih kental, lebih encer, ada yang rempahnya terlampau pekat, ada yang tidak. Silakan dicoba satu persatu dan kalian akan menemukan restoran favorit nanti.

Aku memilih mengajak Alid dan Sander ke restoran yang ada di depan masjid Agung biar bisa sekalian ke bundaran air mancur. Dari titik 0 kota Palembang itu, mau jalan ke jembatan Ampera juga deket. Paling 30 menit ngesot, 1 jam maju-mundur cantik  atau 10 menit jalan kaki. Monggo dipilih. Syalalala.

Menyenangkan bisa bertemu dengan Alid setelah sekian lama hanya saling nyeletuk di dunia maya atau blog. Mana dibawain oleh-oleh makanan sekarung pula sama Alid. Prikitiew. Ketemu Sander juga asyik. Dia bule yang sedikit berbeda. 😀 Kenapa? Soalnya dia rajin mandi, nggak merokok, bisa bangun pagi dan ngakunya 90 persen vegetarian hehe alias sangat jarang makan daging. Nah ini dia foto Alid dan Sander di dermaga sungai Musi.

DSC_0951

Amperanya cakep ya. Alidnya kagak hahaha

Foto narsis berdua sama Alid nanti nyusul ya, kudu culik dari kamera-nya Alid dulu hehe. Waktu itu rada segan minta tolong orang buat difotoin. Untung aja kamera Alid ada strapnya. Dengan strap itu, kamera Alid yang berukuran kecil dapat diproteksi dengan cara melilitkan ke tangan. Kalau nggak sengaja kesenggol jadi nggak jatuh, kan? Keren juga ya.

DSC_0973

Difotoin sama anak abege alay yang sebelumnya foto bareng sama Sander

Nah kalau sama Sander, kita jadi pusat perhatian hehe. Para gadis abege nana lay pada minta foto sama aku dia. Setelah dibolehin foto bareng, gantian dong aku yang minta difotoin. Eh setelahnya makin banyak yang datang dan ngajakin foto bareng aku dia. Sampe-sampe Sander harus menolak permintaan foto bareng saking kebanyakannya. Terlihat ada yang kecewa ketika ditolak. Pukpuk kasihan. Sini neng poto sama abang.

Intinya GOyang liDAH ganda (karena bersama Alid dan Sander) di Martabak HAR adalah momen yang menyenangkan. Hayo, siapa yang mau aku ajak GOyang liDAH di sini? Yuk mari ke Palembang.

Iklan

97 thoughts on “Godah Ganda di Martabak HAR

  1. Wah Alid udah nyampe Palembang.. aku kapan dooonk?
    Martabak HAR Palembang emang terkenal banget ya, Yan.. Mamaku waktu pulang dari Palembang yang diinget dan dikangenin justru martabak HAR, bukan pempek… 😀

    • Wah ternyata ada yang lebih jatuh hati sama HAR ketimbang pempek. Itu si Sander awalnya mau diajak makan pempek. Pas nanya pempek apa dan aku jelasin dari ikan, dia gak mau, katanya gak suka ikan :p

  2. Busetttttttttt sudah upload ajah hahahaha… martabaknya sederhana tapi nendang… foto kita berdua nyusul ya om masih di kamera…

    Ngaku kalah ganteng deh sama ampera hahaha

    • Pas kita makan itu satu porsi kan, aku kuat aja. Padahal habis buka puasa, makan pempek, srikaya segala. Eh sama Sander rasanya kenyang banget 😀

      Iya, kamu emang kalah keren dari Amperanya hehe

  3. Nama restorannya mengingatkan saya pada Jogja, lebih tepatnya kawan-kawan Jogja kalo sedang ngeritik walikotanya. Piye Har kok tambah bubrah? Piye Har kok dalanan macet? dst…

  4. Seru banget kayaknya pertemuan kalian :hehe. Saya juga kepengen ketemu dengan blogger-blogger hits seperti kalian, pasti kalian punya banyak cerita yang bisa dibagi ke saya :hehe. Dan itu… menebeng? Sumpah, menebeng dengan orang yang saya kenal saja agak sungkan, apalagi ke orang yang belum dikenal… tapi salutlah dengan keberanian Sander itu :)).

    Martabak Har… hmm, kayaknya saya pernah lihat juga satu di seputaran Harmonie, cuma belum pernah coba makan di sana. Kelihatan enak, Om! Kayaknya di sana lebih otentik juga, kan secara geografis Palembang lebih dekat dengan India daripada Jakarta :)).

    • Idih, yang ngehits mah Alid doang. Aku mah blogger jelata (tapi hepi) hehe.
      Salah satu tamu dari couchsurfing yang bakalan datang hari ini lebih gila lagi. Mau minta ditemenin beli motor buat keliling Jawa Sumatera. Wew.

      Dicoba Gar yang di Harmoni, siapa tahu sama 😀 tapi yang jelas makan langsung di sini lebih spesial hehe

      • Keliling motor Jawa Sumatera memang sesuatu yang gila, tapi bukannya tidak mungkin, kan :hihi. Baiklah, nanti saya coba, dan tentu saja saya mesti ke Palembang biar bisa mencicipi martabah HAR yang otentik!

      • Oh yaa? Aku belum pernah ke india jadi gak bisa bandingin. Mungkin di negaranya rempahnya keras bgt kali ya. Kalo yg dijual di Indonesia atau negara2 luar India udah disesuaikan dgn selera lokal.

  5. haha sini neng foto bareng abang Yayan aje :))

    Untuk martabak HAR sebeken dan seenak itu, harganya muraaaah.
    Cek Yan asyik bener liat2 dapurnya. Nanti kalo ke sana aku juga mau jelajah dapur pembuatan martabaknya. Pingin liat cara menipiskan adonan martabaknya itu 😀

    Hi Alid dan Sander, salam kenal ya 😀

    • xixixi aku kudu pirang dulu baru deh ada yang ngajak foto bareng :v

      Dapurnya ada di bagian depan, sengaja biar pembeli bisa lihat proses pembuatannya. Soal harga, iya ini lumayan, soalnya pempek kapal selam aja udah Rp.20.000 sekarang 😀

  6. Ternyata martabaknya beda dengan martabak yang selama ini aku tahu, ngebayangin rasanya sukses menggoda lidah yg lagi puasa 😛

  7. bikin kulit martabak kyk gitu emang butuh keahlian, pernah berguru sama mbah google..ambyarrr semua..heheh, wah cocol kari rasanya gmn mas *ga doyan kari juga soalnya:D* apa ada pilihan cocolan lain gitu

  8. Ping-balik: Nomadic Heart : Tentang Julian dan Kecintaannya Terhadap Indonesia |

  9. Aku pernah baca tentang martabak Har ini. Pastinya kalau makan ini kau langsung jatuh cinta. Aku nggak kenal alit ini cuman kayaknya pernah baca blog dia, pernah ke India, waktu itu aku yang Darjelling.

    Salam ke sanders, wajahnya mirip si Dia, ehemmmmm

  10. Ya Allah martabak HAR lemaknyoooo, di sini susah padahal dak jauh dari Palembang 😦
    Btw salam kenal Mas Yan. Seneng deh kalo ketemu ‘wong kito’ di Blog hihi.

  11. Baca hitchhiking jadi ingat pasangan bule dari Rusia yang pernah nyasar ke daerah saya. Selama 3 hari berturut-turut menjadi guide dadakan. Mereka suka sekali makan goreng singkong.

    Wah Bang, beruntung sekali bisa bertemu dengan celeb blogger. Abang suka mengikuti pesta blogger tahunan ndak?

    • Oh ini, kuah cuka putih yang ditambah kecap sedikit.

      Kalo Cuka (merujuk ke Cuko pempek) jadi aneh. tapi aku suka sih makan martabak pake cuko, tapi tanpa kuah karinya 😀

  12. Ping-balik: Berjoang Demi Merasakan Sensasi Mie Ayam Roxy di Cikini |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s