Pelesiran

Merindu Kulu-kilir di Kota Solo

Beberapa waktu lalu saya ngebagiin info grafis yang bertajuk 7 Kota Layak Huni di Indonesia. Ternyata, yang menempati posisi pertama ialah kota Solo. Ingatan saya langsung melayang saat-saat saya berkesempatan main ke kota ini beberapa waktu lalu. Ada beberapa tempat yang sangat berkesan, walaupun, yeah, sebagian sudah agak keluar Solo, tapi masih jangkauable kok.

“Trus jalan di Solo naik apa enaknya?” Paling enak tentu saja bawa kendaraan sendiri. Tapi kalau kamu anak Sumatra kayak saya, ya paling nyaman ke Solo-nya naik pesawat dulu. Nah begitu tiba, paling bener cari rental mobil di Solo yang aman dan terpercaya. Jadi bebas kan bisa stop ke banyak titik tanpa harus terburu-buru.

Tipe trotoar dan jalanan Solo. Jadi kalau rental kendaraan sendiri enak, gak semacet kota sebelahnya hehe

Yang saya ingat dari Solo itu kotanya gak begitu besar. Suasananya nyaman. Orangnya ramah-ramah. Makanannya uenak, murah pula haha. Nah, jika begini, wajar kan kalau saya kangen kulu-kilir (baca: pelesiran) di Kota Solo? Nah, walaupun saya sudah pernah datang ke tempat ini, tapi rasanya saya rela deh untuk datang lagi ke kota berjulukan The Spirit Of Java itu. Tempat apa saja, sih? Aha, ini dia!

Keraton Surakarta Hadiningrat

Seperti Yogyakarta, Solo itu khas dengan budaya Jawa-nya. Bahkan suka ada meme gitu kan bahwa Jakarta dan Bandung itu nggak dianggap Jawa hahaha. Jawa bagian tengah hingga ke timur sana baru deh dianggap Jawa sebenar-benarnya Jawa.

Bagian depan keraton

Penjaga keraton

Bagian dalam keraton

Nah, untuk mengenal lebih dekat tentang budaya Jawa di Solo, udah paling benar untuk berkunjung ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Inilah istana resmi Kasunanan Surakarta yang didirikan oleh Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang hancur akibat peristiwa Geger Pecinan atau Tragedi Angke yang terjadi pada tahun 1743.

Saya suka banget mengeksplorasi keraton ini. Apalagi di bagian depannya yang masih dijaga oleh penjaga berpakaian tradisional. Kalau kamu mau foto sama mereka, boleh kok. Tapi jangan lupa kasih uang tips, ya!

Menonton Wayang Orang Sriwedari

Saya paling suka nonton drama. Jika kulu-kilir ke satu kota/negara, biasanya saya menyempatkan untuk nonton pertunjukkan drama-teaternya. Nganu, apalagi kalau harga tiket masuknya murah hwhw. Nah, kayak Wayang Orang Sriwedari ini. Tontonan rakyat ini sudah ada sejak lama banget! Awalnya diciptakan langsung oleh Kanjeng Pangeran Adipati Arya I (1757-1759).

Saat pertunjukan

Salah satu pemain wayang orang di ruang ganti

Ialah seorang Tionghoa bernama Gan Kam yang pada akhir masa pemerintahan Mangkunegara VI yakni sekitar tahun 1895 menggelar pertunjukkan dengan panggung proscenium ala opera barat yang kemudian jadi cikal bakal grup wayang orang pertama.

Grup wayang Sriwedari sendiri sudah ada sejak tahun 1911 dan masih rutin dipertontonkan hingga sekarang! Saya yang anak Sumatra aja rela nonton walaupun saya blas nggak ngerti bahasanya. Tapi, bisa ngeliat penonton lain tertawa senang, saya ketularan perasaan hepinya!

Melihat Langsung Proses Membatik di House of Danar Hadi

Baru kali ini saya datang ke satu rumah/gedung yang isinya batik, batik dan batik! Namun, alih-alih bernama Rumah Batik atau House of Batik, tempat ini lebih dikenal dengan nama House of Danar Hadi. Warga lokal sih kadang menyebutnya dengan nama Museum Batik Danar Hadi dan sudah berdiri sejak tahun 1967.

Hanya boleh motret sampai bagian ini. Di dalam kamera dilarang.

Di belakang ada yang membatik. Nah untungnya di sini boleh motret.

Pemiliknya ialah H.Santosa Doellah, seorang pengusaha yang semangat ingin melestarikan batik. Penataan batik di sini bagus banget! Tempatnya juga sangat nyaman. Hanya sayangnya tidak diizinkan untuk mengambil gambar atau foto di sini.

Ada bagusnya sih, jadi saya dapat menikmati batik yang jumlahnya lebih dari 1000 lembar dengan lebih hikmat. Berbagai macam batik ada. Seperti batik keraton, batik China, batik Jawa Hokokai (batik yang terpengaruh oleh kebudayaan Jepang), batik pesisir (Kudus, Lasem dan Pekalongan) bahkan batik Sumatra pun ada. Saking apiknya, museum ini sudah mendapatkan rekor MURI.

Bertamu ke Rumah Go Tik Swan, Pelopor Batik Indonesia

Rumah atau gedung ini diambil dari nama pemiliknya yakni Go Tik Swan Hardjono. Berbeda dengan House of Danar Hadi, di Go Tik Swan, pengunjung dapat bebas mengambil foto seisi rumah hingga ke pendopo bagian belakang tempat proses membatik dilakukan.

Bak sosok Minke di novel Bumi Manusia, Go Tik Swan kecil pernah dikirim ke sekolah Neutrale Europesche Lagere School dan bersekolah dengan warga keraton, anak ningrat dan anak pemuka masyarakat. Untungnya, kecintaan Go Tik Swan terhadap kebudayaan Indonesia sebegitu besar sehingga dia terus berupaya melestarikan batik dengan caranya.

Salah satu patung di pendopo belakang.

Tempat menjemur batik.

Ini dia batik seharga 7,5 juta.

Sayang kami datang terlalu sore di mana para pekerja sudah pulang. Tapi, saya masih dapat melihat langsung peralatan yang digunakan. Tak hanya batik, di sini juga ada tempat pembuatan keris. Rumah ini sih sekarang dirawat oleh penerusnya karena Go Tik Swan Harjono sudah lama meninggal.

Hebatnya Go Tik Swan, pasa masa hidupnya, dia dekat dengan keluarga keraton bahkan dengan presiden Soekarno. Di sini, saya sempat melihat batik yang harganya bikin melongo haha. Bayangin aja, satu lembar kain harganya bisa 7,5 juta!

Menyusuri Kota Solo Menggunakan Sepur Kluthuk Jaladara

Sepur Kluthuk Jaladara sendiri merupakan rangkaian lokomotif uap kuno, di mana, kereta seri 1218 yang kami naiki itu dibuat di Maschinenbau Chemitz, Jerman pada tahun 1896. Kereta uap ini memiliki dua gerbong (CR16 dan TR 144) yang dibuat pada tahun 1906 dengan bahan baku jati. Tak heran, walau sudah berusia ratusan tahun, secara fisik kereta –beserta gerbongnya itu, masih nampak kokoh.

“Trus jalan ke mana sih jika naik Jaladara ini?”

Sepurnya berjalan bersisian dengan jalan raya

Mejeng di sepurnya

Bayangan saya sebelumnya, kami semua akan diajak ke satu tempat di pinggiran kota. Namun, betapa kaget dan kagumnya saja saat tahu kereta ini berjalan melalui rel-rel heritage yang melintasi kota Solo! Wow! Jadi, saat kami menaiki kereta, kami dengan mudah berjalan bersisian dengan masyarakat lain yang mengendarai motor, mobil ataupun sepeda.

Perjalanan ini sendiri dimulai dari Stasiun Purwosari. Ternyata, stasiun ini juga punya nilai sejarahnya karena menempati bangunan peninggalan Mangkunegara IV. Perjalanan keretanya sendiri akan menempuk jarak 5,6 km, melewati rel yang dulunya merupakan jalan kereta kencana raja yang dulunya ditarik menggunakan kuda. Perjalanan ini dimulai dengan menyusuri perkampungan Purwosari hingga kemudian membelah Jalan Slamet Riyadi melalui rel bengkong/rel yang menikung.

Berburu Mural di Jalan Gatot Subroto

Nggak perlu jauh-jauh ke Penang jika ingin berfoto di dinding-dinding mural. Nah di Solo juga ada. Tepatnya di sepanjang jalan Gatot Subroto. Waktu itu, saya diajak jalan sama salah satu teman. “Kalau mau foto enak ya malam banget atau pagi banget,” ujarnya.

“Kenapa kalau siang?”

Pak De Mai Lop.

Hayo siapa ini?

Nggak bisa, soalnya kan muralnya dibuat di dinding/pintu toko orang. Oalaah haha. Bener juga. Kalau pemilik toko udah datang, ya gak bisa foto. Tapi jalan di malam hari lebih seru kok. Lebih nyaman dan gak usah khawatir foto jadinya gelap karena akan kebantu sama cahaya lampu jalanan dan toko itu sendiri.

Ada banyak sekali tokoh terkenal dalam ataupun luar negeri. Dimulai dari pahlawan, musisi hingga pejabat. Saya sih paling suka muralnya Bu Susi Pudjiastuti atau Pak Jokowi. Mantul, rek!

Melihat Aktifitas Warga Lokal di Pasar Gede Harjonagoro

Sebagai pemburu pasar tradisional, maka wajib bagi saya untuk mengunjungi Pasar Gede. Dinamakan Pasar gede karena ya memang pasar ini gede. Mulanya, zaman kolinial, pasar ini menempati area seluas 10.421 hektare dan bangunannya dirancang oleh arsitek Belanda bernama Ir.Thomas Karsten (yang juga mendesain mendiang Pasar Cinde Palembang).

Bagian depan Pasar Gede

Bagian dalam dilihat dari lantai 2.

Pedagang camilan.

Bangunannya selesai dibangun pada tahun 1930 yang terdiri dari dua bangunan yang dipisahkan Jalan Sudirman. Sayang pada tahun 1947 bangunannya sempat rusak karena serangan Belanda. 2 tahun kemudian direnovasi dan baru selesai total tahun 1981. Lama juga ya! Maklum bagian atapnya yang sangat besar itu sangat rumit.

Saya suka banget ke pasar ini. Banyak yang dijual. Tapi yang menggoda jelas jajanannya haha. Pedagangnya pun ramah-ramah. Jika berkesempatan balik lagi ke Solo, Pasar Gede adalah tujuan utama saya haha. Katanya ada jajanan favorit Pak Jokowi di bagian belakang yang belum sempat saya datangi waktu itu.

Tertawa Geli di Candi Sukuh

Nah yang ini sebetulnya sudah di luar kota Solo. Tepatnya berada di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso di Kabupaten Karanganyar. Tapi karena jaraknya “hanya” 1 jam saja dari pusat kota Solo, saya kira masih jangkauable-lah ya.

Saya dan dan rombongan melewati kawasan ijo-royo-royo untuk menuju kompleks candi agama Hindu yang pertama kali ditemukan pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta atas “perintah” Thomas Stanford Raffles ini. Awalnya Raffles menungasi Johnson untuk mengumpulkan data demi melengkapo data bukunya yang berjudul The History of Java. Itu semua terjadi pada masa pemerintahan Britania Raya.

Nampak kecil, tapi aslinya lumayan gede sih.

Pemandangan dari atap candi.

Patungnya lagi ngapain ini hah hahaha

Selanjutnya, pada tahun 1842, Van der Vlis, arkeolog asal Belanda “melanjutkan” penelitian. Candi yang telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi bagian daftar Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995 ini pertama kali dilakukan pemugaran pada tahun 1928 hingga sekarang kompleks candi ini sangat baik dan nyaman untuk didatangi wisatawan.

Nah kenapa saya bilang kalian dapat tertawa geli di Candi Sukuh? Tak lain dikarenakan keberadaan patung telanjang dengan pose yang bikin salah tingkah hahaha. Terlepas dari itu, kawasan Candi Sukuh ini keren! Saya suka memandang sekeliling kota dari ketinggian.

***

Nah, itu dia beberapa tempat yang dapat kalian datangi kalau berkesempatan ke Solo. Jika ke sana, ajak saya, ya!

18 thoughts on “Merindu Kulu-kilir di Kota Solo

    • Haha aku beberapa kali nginap di hotel spooky. Sampe ransel aku tarok di atas ranjang karena takut kalo tidur trus madep samping yang keliat sosok mengerikan hwhw

  1. aku ke solo pas udh nikah, karena raka org sana. itu langsung seneeeeeng banget mas. krn brg2 di solo murah kelewatan, dan kulinernya enak2 yaaa :D. dibandung jogja aja msh lbh murah solo 😉

    udh lama bgt ga ksana,kangeen sih.kalo wisatanya selama di solo, jujur aja aku jrg. krn memang lbh fokus ama kuliner di sana. kalopun wisata, aku ke tawangmangu ato perkebunan teh nya. 😉

  2. Hampir 8 tahun di Solo, dan dari list di atas, yang kecentang versi saya cuma berapa biji aja. Hahaha. Memalukan.

    Yang paling tak pengeni itu naik Jaladara, tapi pas tahu kalau mau naik kereta lawas ini harus reservasi dan biayanya sungguhlah WAOW buat saya, jadi sampai sekarang belum kesampaian mas. Tapi pernah naik Railbus Bathara Kresna yg sama-sama nglewati rel di Jalan Slamet Riyadi juga, ding.

    • Hi Wisnu. Haha iya, aku juga kalo gak datang rombongan susah kalau mau naik itu. Mahal euy hwhw. Bagusnya sih mereka siapin jadwal sebulan sekali ya, atau 2 minggu sekali jadi bisa ramean. Atau bisa juga cari temen yang banyak trus kontak mereka hehehe.

  3. Ada 2 aktivitas di Solo yang paling aku suka: berburu sarapan di Pasar Gede Hardjonagoro, dan menyusuri Jalan Slamet Riyadi saat pagi-pagi. Mungkin karena geliat pariwisata di Solo itu belum semeledak Jogja, jadi Solo masih terasa nyaman banget. Namun kalau dilihat dari cuaca, Solo itu gerah, sementara Jogja lebih berangin karena lebih dekat dengan pantai.

    Solo mirip sama Jogja karena dulu keduanya adalah 1 kerajaan hehe. Soal Jawa dan non-Jawa, masalah suku aja sih. Jakarta adalah betawi, Jawa Barat dan Banten adalah Sunda. Bukan cuma kami yang nggak menyebut mereka Jawa, namun mereka sendiri juga nggak menyebut diri mereka sebagai Jawa. Ada sejarahnya sih soal kerenggangan hubungan antara Jawa dan Sunda ini 😀

    Arsitektur Candi Sukuh kayak candi peninggalan suku Maya Aztec ya. Kamu nggak ke Candi Cetho, mas?

    • Nggak Nug, padahal pengen juga ke Cetho.
      Nah aku juga nyesel gak kulineran di sana. Pengennya blusuka sampe ujung pasar yang ada jual makanan kesukaan Jokowi 😀

  4. Saya ke Solo cuma dua kali kayaknya itupun sudah lama banget dan yang saya ingat cuma main ke Jalan Slamet Riyadi sama ke keraton hehehe. Nanti kalau ke Solo lagi pengen banget coba naik kereta itu, dan ke pasarnya~ kayaknya seru apalagi bisa jajan banyak makanan pasar 😀

    Dulu impresi saya soal Solo adalah terlalu kalem hihi agak beda sama Jogja dari segi hingar bingarnya, makanya di Solo lebih enak buat santai mencari ketenangan. Mungkin itu juga alasan kenapa Solo dapat peringkat pertama kali ya. Karena untuk hidup memang terasa damai sih, apalagi kalau dibanding sama Jogja yang sudah penuh penghuni dan macet setiap hari 😀

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s