Pelesiran

Museum “Paksa” di Taman Purbakala Sriwijaya

DSC_0609

“Jangan paksa abang, neng!”

“Gak mau, pokoknya abang harus mau!”

“Sungguh abang udah nggak sanggup.”

“Mubazir abaaang! Ini pempek kapal selamnya masih ada 2 biji. Tekwan satu mangkuk. Pindang patin-nya masih satu panci! Siapa suruh maksa eneng masak sebegitu banyak!”

“Abang nyerah, neng! Abang khilaf!”

“Habisiiinnn!”

*  *  *

Maaf, drama yang tertulis di adegan pembuka fiksi belaka. Lumayanlah  untuk nambahin backlink, so jangan seurieus amat dong, ah! Hahaha. Eh tapi bener lho, jika bicara mengenai museum Taman Purbakala Sriwijaya ini, aku akan selalu mengaitkannya dengan pengalaman ketika masih SMP, saat seorang guru semena-mena memilihku dalam pentas seni yang diadakan di komplek Taman Purbakala Sriwijaya ini.

Bayangin, yang seharusnya pulang sekolah bisa langsung makan siang di rumah, eh aku masih harus latihan pementasan sampai sore. Belum lagi pementasannya hari Minggu. Itu kan harinya nonton Doraemon dan Wiro Sableng! Jadilah, semua kegiatan itu dilakukan dengan penuh keterpaksaan hwhw.

Mengenal Situs Karanganyar

Area seluas lebih dari 500 meter persegi ini dulunya dikenal dengan nama Situs Karanganyar. Katanya sih, area ini diyakini sebagai pemukiman dan area kerajaan Sriwijaya di masa lalu. Kok bisa? Soalnya banyak ditemukan benda peningalan purbakala yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas manusia. Hal lain yang meyakini bahwa tempat ini pusat kerajaan Sriwijaya adalah terdapat jaringan kanal, parit dan kolam yang tersusun rapi.

DSC_0811

Tamannya cakep dan banyak pohonnya jadi nyaman walau cuaca panas.

Berbeda dengan museum Sultan Mahmud Badaruddin II atau Museum Balaputera Dewa, area museum Taman Purbakala ini paling luas dan juga paling rindang. Banyak pohon dan tempat mojok di sini –eh, hehe. Makanya tempat ini sering dijadikan arena outbond. Perusahaan tempat aku ngantor dulu juga pernah pake. Alhasil banyak yang protes.

“Lho, kenapa?”

Soalnya lokasinya jauh! Hahaha. Kendaraan umum sih (sepertinya) ada. Yakni angkot jurusan Tangga Buntung & Gandus. Tapi tetap saja ini termasuk pinggiran kota. Jika berdomisili di kawasan Kertapati, maka akses paling gampang menuju ke Taman Purbakala adalah melalui jembatan Musi II.

“Naik perahu, bisa?”

Hmm, di area depan taman sih emang ada sungai besar ya. Letak area ini memang ada di dataran alluvial meander Sungai Musi sih. Dan menjadi titik pertemuan antara Sungai Musi, Sungai Ogan dan Kramasan. Tapi, aku kurang dapat memastikan apakah dapat dicapai melalui jalur sungai atau tidak.

DSC_0602

Ini terdapat di area belakang. Coba kalau ada perahu/kano/kayak, seru kali, ya!

Situs Karanganyar sendiri terbagi atas tiga subsitus. Situs yang terbesar yakni berupa kolam persegi panjang yang memiliki dua pulau kecil di tengahnya. Yakni Pulau Nangka dan Pulau cempaka. Pulau Nangka berukuran 623 x 325 meter, sedangkan pulau Cempaka “hanya” berukuran 40 x 40 meter saja. Pulau ini dikelilingi parit-parit besar yang berjumlah 7 buah. Penduduk setempat menyebutnya sebagai parit Suak Bujang.

Terdapat beberapa balai besar di area taman. Nah, di salah satu balai inilah dulu aku bersama teman-teman melakukan pertunjukkan. Tak jauh dari area kolam, terdapat balai besar yang menyimpan salah satu prasasti Kedukan Bukit dan plakat peresmian taman Purbakala Sriwijaya yang ditandangani oleh pak Soeharto pada tanggal 22 Desember 1994 silam.

DSC_0603

Terlihat pekerja sedang membersihkan balai. Area di sini emang bersih!

Yuk Berkunjung Ke Museum Purbakala!

Untuk masuk ke area Taman Purbakala, pengunjung dikenai biaya masuk kendaraan dan perorangan. Eyaladalah, pas masuk ke dalam museum, kita semua harus bayar lagi. Untung aja murah hehehe. Waktu main ke museum Purbakala bersama Halim si Jejak-Bocahilang.com, kondisi museum sangat sepi. Beberapa penerangan bahkan padam dan baru dihidupkan ketika kami datang. Tapi aku maklum, ngapain boros energi, kan?

DSC_0818

Bangunan utama museum

Nah, saat datang lagi bersama rombongan dari Kementerian Pariwisata RI yang mengundang para blogger untuk menyaksikan Musi Triboatton 2016, lagi-lagi hanya rombongan kami yang “memenuhi” museum ini. Kenapa bisa begitu sepi? Karena ya itu tadi. Letaknya tergolong jauh dari pusat kota. Eh tapi, museum Al-Quran Terbesar di Dunia yang letaknya tak jauh dari sana selalu ramai loh? Nah kenapa museum Taman Purbakala ini sepi? Hmm, sepertinya pengelola harus mengeluarkan jurus-jurus inovatif terbaru untuk menggaet lebih banyak pengunjung 🙂

Baiklah, mari kita jelajahi, ada apa saja di museum ini?

DSC_0613

Pencahayaannya bagus

Jujur saja, ini museum yang menarik. Tata letaknya bagus. Tata cahayanya juga apik. Bahkan menurutku lebih rapid an bersih ketimbang museum lainnya. Saat berkunjung pertama kali, Halim sempat meminta brosur. Maklum, dia demen banget sama yang museum hehe. Untungnya masih sisa satu brosur, itupun setelah dicari-cari di dalam laci. Nah, semoga ketersediaan brosur ini dapat diperhatikan, mengingat (nampaknya) tidak ada jasa guide di museum ini.

DSC_0604

Halim lagi baca-baca informasinya

Untungnya lagi, papan informasi yang disediakan cukup mumpuni. Aku takjub sekali saat melihat alat pengendali kapal berukuran sangat besar. Bayangkan, jika alat pengendalinya sebesar ini, gimana kapalnya coba?

DSC_0610

Tuh, navigasi kapalnya gede kan!

“Aduh kak Yayan, kok aku tiba-tiba merinding,” ujar Maman.

“Merinding kenapa?”

“Nggak tahu, itu pas liat patung hitam jadi merinding.”

Hehe, jangan sampai dah kejadian di film Night at The Museum terjadi pada saat itu juga. Eh tapi, bener juga sih. Patung hitam ini paling beda penampilannya diantara patung lainnya. Huaaa, jangan-jangan…. Jangan-jangan…. Dia lupa pake sun screen pas lagi berjemur. –abaikan

DSC_0614

Si patung hitam…maniiis eh hitam manis

Hampir sebagian koleksi patung di sini adalah imitasinya. Yang asli kebanyakan disimpan di museum Nasional di Jakarta. Sebagian lagi di museum provinsi, museum Balaputera Dewa. Walau begitu, benda seni yang dipamerkan tak kalah bagus dengan aslinya.

DSC_0619

Serem, nggak? 🙂

Tapi memang jika dibandingkan dengan dua museum lainnya, dari benda koleksi, ini yang paling sedikit. Daya tarik utama museum ini jelas di bagian taman purbakalanya (yang sayangnya juga belum dioptimalkan). Terakhir kali aku mendengar kabar bahwa museum ini dihiasi payung-payung cantik seperti sebuah area di Bandung sana. Namun sayang saat aku ke sana udah nggak ada.

Area ini sangat potensial! Sungguh. Apalagi seperti yang kubilang sebelumnya, museum ini dekat dengan Galeri Al-Quran Al-Akbar. Mungkin diantara keduanya bisa saling kerja sama untuk menopang jumlah kunjungan wisata. Hmm, misalnya dengan menempatkan brosur antar museum di kedua tempat. Kadang kala orang bukannya tidak mau berkunjung, tetapi tidak tahu.

DSC_0607

Jika orang sudah berkunjung, tantangan selanjutnya adalah apakah orang mau datang untuk kedua kalinya? Rasanya itu tantangan yang harus dihadapi oleh setiap pengelola museum di Indonesia, ya! Eh omong-omong, bisa loh apa yang aku alami saat SMP dulu (yakni undangan pentas seni persekolah) kembali diadakan di area taman Purbakala ini. Gakpapalah dipaksa sedikit. Toh anak abege sekarang pasti demen ke sana, bisa foto-foto dan pamer di Instagram hehehe.

Yuk main ke Museum Taman Purbakala Sriwijaya!

Iklan

30 thoughts on “Museum “Paksa” di Taman Purbakala Sriwijaya

  1. Backlinknya banyak hehehe. Dulu pas madrasah juga sering diminta-minta gitu buat ngisi pidato perpisahan/kenaikan kelas hahaha.

    Hmmm, kalau dilihat di foto mungkin belum kerasa merinding ya Om, entah kalau saya lihat langsung di sana *kode*

  2. Om! Aku ke museum ini April kemarin sama blogger Palembang, Heru. Sama, kita satu-satunya pengunjung di sana waktu itu.

    Di samping museum, ada semacam tempat pertunjukan outdoor. Dulu pentas di sana, kah? Hehe..

    • Hahahaha betuuul persis di samping museum itu. Nah kan sepi museumnya. Museum lain masih jauh mendinglah, yang ini memang karena jaraknya terlalu jauh ya kayaknya.

  3. jadi penasaran yayan dulu nari apo disini? pagar peganten? tanggai? #lalu ditujah

    aku baru tau dari postingan halim soal museum ini, kirain situsnya ya kanal2 biasa gak ada museum… duh, aku durhaka jadi wong kito

  4. tempat yang kece ini berpotensi banget buat di explorasi hahaha.. sayangnya museumnya monoton, bersih iya tapi kurang greget aja… aku sempat merinding pas didepan patung hahahha… bantu kami dewaaaa *berubah jadi nenek tapasya*

  5. Masih gregetan lihat replika Prasasti Kedukan Bukit yang kacanya pingin kupecah biar terlihat lebih jelas, Yan hehehe. Untungnya sepulang dari Palembang kuniatin masuk ke Museum Nasional di Jakarta lagi. Hasilnya ketemu prasasti Kedukan Bukit yang asli, di pojokan, berdebu, rawan digores benda tajam, ahh ngenes gitu. Sedih banget prasasti asli yg dipindah ke pusat kok malah diabaikan, kurang dihargai…

  6. Ping-balik: 5 Hal Ini Seharusnya Bikin Kamu Mupeng Datang Ke Festival Sriwijaya | Omnduut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s