Serba

Seberapa Efektif Kinerja Petugas Pembuat Paspor di Kantor Imigrasi Palembang?

passport-stamp

Source : thebconnect.com

Nggak kerasa, sejak pertama kali baca tulisan om Rhenal Kasali tentang paspor yang bikin aku terpacu bikin paspor hingga akhirnya berhasil menodai lembaran sucinya karena diajakin jalan-jalan ke Bangkok oleh Claudia Kaunang secara gratisan, eh tahu-tahu masa berlaku si ijo udah mau habis aja.

Habisnya sih masih lama, Oktober 2016 nanti. Namun berhubung paspor sudah nggak bisa dipakai sejak 6 bulan sebelum masa berlaku habis (hmm, ada sih yang pernah lolos dan berhasil ke LN walau sudah lewat 6 bulan, tapi rada ribet), alhasil aku harus segera memperbaharui pasporku itu.

“Emang mau kemana, Yan?”

Belum ada rencana bulan madu kok. Buat para fans, tenang aja. Hwhwhw. So far belum tahu mau kemana. Kalaupun ada rencana, ya aku simpan dalam hati aja, aku gak mau ditodong oleh-oleh soalnya hahaha.

Nggak ding, paspor itu perlu. Ya kali, siapa tahu nanti mendadak diajakin jalan-jalan ke luar negeri gratisan kayak blogger ngetop (eh aku gak sirik ya, cuma mupeng aja hahaha), dan jika paspor udah siap kan enak. Nggak perlu ribet lagi. Ya mumpung waktunya ada, dan keponakan bontot –sebut saja namanya Rais, lagi libur, ya sekalian si Rais ini aku ajakin bikin paspor juga.

Kebetulan sejak beberapa bulan lalu, si Rais uang jajannya aku pajakin karena nih bocah kebanyakan jajan. Dengan iming-iming mau diajakin jalan ke LN, dia mau. Ya sudah, mari kita cus bikin paspor.

Daftar Online atau Walk In?

Nggak tahu ya ini bener atau nggak, setahuku kalau daftar online, waktu pemanggilan wawancaranya ditentukan oleh pihak imigrasi. Karena aku khawatir daftar wawancaranya bakalan melewati hari liburnya si Rais, aku jadi memutuskan untuk walk in alias datang langsung aja.

IMG_20160502_090009

Kantor imigrasi di Palembang. Miring-miring karena candid 😛

Aku sempat baca ada member di grup jalan-jalan yang kepepet bikin paspor karena mau berangkat.

“Daftar online aja!”

Eh pas daftar ternyata tanggal wawancaranya melebihi dari jadwal keberangkatan. Sedangkan kalau mau datang langsung sudah nggak bisa karena pendaftarannya otomatis sudah terdata secara online. Nah kan repot? Eh ini kejadiannya beberapa bulan lalu sih, bisa jadi sekarang udah lebih fleksibel.

Walau begitu aku sempatlah buka-buka tata cara pendaftaran lewat online. “Lumayan, bisa ditulis di blog,” pikirku dulu. Menurutku webnya masih agak ribet navigasinya, eh bisa juga karena aku gak niat sejak awal daftar online ya, jadi aku gak begitu konsentrasi banget.

Persyaratannya apa saja?

Mau perpanjang atau bikin baru, sama aja syaratnya. Secara lengkap bisa lihat di sini ya. Tapi menurutku ada beberapa persyaratan yang tidak dicantumkan di web dan jika tidak dipersiapkan maka di lapangan hal ini lumayan bikin ribet. Apa saja?

Pertama, Persyaratan foto copy. Di web tidak disebutkan jika KTP harus difotocopy sebesar kertas A4. Eh bukan berarti ukurannya digedein ya, maksudnya, ukuran KTPnya tetap namun kertasnya jangan dipotong.

Jujur aja aku sudah tahu tentang ini dari adekku yang baru bikin paspor beberapa bulan lalu. Jadilah, Akta Kelahiran, KK, KTP dan paspor lama aku fotocopy dengan kertas ukuran A4 semua. Pikirku, persyaratan seperti ini diberlakukan untuk mencegah lembaran fotocopy tercecer. Demi mendukung gerakan penghematan kertas (atau pelit?), paspor dan KTP aku fotocopy di satu lembar yang sama. Nyatanya?

“Mas ini KTPnya harus dipisah sama paspor,” kata si mbak pegawai.

Oke, tanpa berdebat, aku segera ngacir ke warung di belakang kantor imigrasi yang menawarkan jasa fotocopy dari printer dengan tariff Rp.1000/lembar. Mana kualitasnya jelek pula. Mau ngomel juga percuma, asu-dahlah!

syarat

Diskrinsut langsung dari situs imigrasi.

Kedua, materai. Ini benda penting yang harus ada TAPI TIDAK DICANTUMKAN di web. Sekali lagi aku beruntung karena sudah tahu dan udah siapin materai dari rumah. Kasihan dengan orang-orang yang harus kelimpungan cari materai. Jikapun ada, aku nggak tahu berapa harganya, jangan-jangan dijual seharga mobil mercy –bercanda.

Materai buat apa? Oh buat ditempel di lembar pernyataan ini itu yang kita isi saat mengajukan pembuatan/perpanjangan paspor.

Ketiga, Map. Eh beda dengan 2 poin sebelumnya, ternyata poin ketiga ini malah tidak harus dibeli. Aku sih berkaca kalau ngurus perpanjangan STNK di Samsat ya (yang warungnya jual map seharga BMW), jadi aku udah siapin map cantik buat urus paspor ini. Nyatanya? Kantor imigrasi punya map sendiri. Yo wes, mapnya balik lagi ke toko hehehe.

Hari Eksekusi, 26 April 2016

Bang datanglah pagi jam 7, karena biasanya udah ramai,” info si adek.

Hmm baiklah, aku sendiri berprinsip lebih baik menunggu lebih awal ketimbang menunggu lebih lama karena datangnya telat. Alhasil pagi itu jadwal ngojek dirjen keuangan di rumah yang minta dianter ke pasar aku delegasikan ke adek hehehe.

Jam 7 tepat kami berangkat. Kantor Imigrasi Palembang yang berada di kawasan Jakabaring ini untungnya tak jauh dari rumah. Benar saja, 15 menit kami berdua udah sampai di kantor imigrasi. Berbekal arahan pak security di gerbang depan, kami menuju bangunan di belakang tempat pembuatan paspor berada.

07:20, aku dan Rais mengambil formulir di area parkir. INFO PENTING : Bagi yang nggak mau ribet, bisa ambil formulirnya kapanpun, isi dirumah, dan begitu datang lagi ke kantor imigrasi semua udah siap. Namun, jika mau diisi di tempat juga boleh, seperti kami waktu itu. Ingat, pengisian formulir hanya boleh dilakukan di luar ruangan.

IMG_20160502_085826

Kasih jempol buat petugas yang bertugas di luar ini. Bukti bahwa pendidikan dan jenjang jabatan tidak selalu berbanding lurus dengan keramahan.

07:30, si bapak yang bertugas membagikan formulir bilang, “mas itu kantornya udah buka, ambil nomor antrian dulu di dalam.”  Aku salut sama si bapak ini, orangnya ramah dan helpful banget ngebantu mbak-mbak yang isi formulir yang sepanjang ngisi nanya mulu dengan pertanyaan nggak penting semisal, “Pak yang ini diisi no KTP siapa?”

Menurut elo, neng?

Atau, “pak masa berlaku KTP lihat dimana?” -bukadada, mungkin ada dihatiku, neng!

Aku bergegas masuk ke dalam ambil nomor antrian. Rais aku tinggal di area parkir dan pengisian formulir. Duh kalah cepat, aku kedapatan nomor antrian 8 dan 9. Ya sudah, apa boleh buat. Dengan counter layanan 4 bilik, setidaknya aku akan dibantu saat putaran kedua, bukan? Aku lantas menyelesaikan pengisian formulir. 10 menit kemudian semua formulir selesai.

08:00. Aku menatap gelisah ke 4 konter layanan. Belum ada satupun orang di sana. Hmm, kemana petugasnya? Pengalamanku dulu bekerja sebagai teller di bank, saat jam 8 layanan dibuka, semua peralatan dan uang kas awal sudah siap. Makanya kami diharuskan tiba di kantor paling lambat 07:30, untuk persiapan dan briefing pagi. Nah apakah kantor imigrasi ada briefing pagi juga? Entahlah.

08:10, seorang petugas datang dan kelihatan mondar-mandir di area konter layanan. Tak lama suara sound opening windows (dari komputer yang terhubung ke speaker) terdengar cukup keras. Alamak, pukul 08:10 baru nyalain komputer?

08:15, konter layanan no.3 akhirnya dibuka. No antrian 1 dipanggil menuju konter layanan. Kemana petugas konter no.1, 2 dan 4? Auk deh terang!

Aku sih sebetulnya bisa memaklumi ya, jika petugas lainnya ada kerjaan lain. Karena dulu sebagai teller, dari 4 konter, kadang 1 harus tutup demi menyelesaikan transaksi khusus seperti pembayaran pajak, kliring dsb. Tapi, dari 4 dan buka hanya 1, itu jadi pertanyaan besar.

08:22, konter layanan no.1 akhirnya dibuka. Unfortunately, konter ini hanya melayani aplikasi pendaftaran online.

08:40, akhirnya petugas konter no.2 dan no.4 tiba dan semua konter dapat melayani semua pemohon yang jam segitu aku taksir jumlahnya lebih dari 50 orang. Soalnya kursi ruang tunggu hampir penuh!

Balada Penolakan

Lumayan lama menunggu, sekitar pukul 9:00 akhirnya nomor antrianku mendapat giliran. Yang membantuku petugas konter no.2. Namanya nggak tahu, soalnya name tagnya nggak kelihatan dan gak ada papan nama di mejanya. Untungnya orangnya baik dan cukup informatif.

“Bapak orang tuanya Rais?”

“Saya omnya mbak.”

“Paspor orang tuanya mana?”

“Orang tuanya nggak punya paspor.”

Si mbak lantas mengambil secarik kertas berisi persyaratan pembuatan paspor untuk anak. Di sana tertulis salah satu persyaratannya harus melampirkan fotocopy paspor orang tua. Hmm kok syaratnya beda ya dengan di web? Tapi lagi-lagi, hal seperti ini tidak dapat diperdebatkan.

IMG_20160502_084938

Syarat di imigrasi Palembang eh apa seluruh Indonesia? bukankah lebih mudah update info di web ketimbang bikin banner ini? tanya kenapa.

“Orang tuanya harus bikin juga, pak. Jika nanti si anak mau jalan sama om-nya nggak masalah.”

Oke, terpaksa urusan paspor si Rais dipending dulu. Kelihatan banget nih bocah sedih, kecewa dan sebal (karena menunggu cukup lama). Si mbaknya langsung mengecek kelengkapan berkasku. Setelah balada fotocopy KTP yang nggak sesuai, akhirnya urusan di konter layanan selesai.

Sudah, gitu doang? Eh tunggu dulu….

Calo dan Wawancara

Untuk menunggu giliran wawancara (sekaligus foto dan rekam sidik jari), lagi-lagi aku harus menunggu sekitar 20 menit. Lama ya? Hmm relative (eh lama ding waktu segitu). Terasa lebih lama lagi karena aku harus berdiri di pintu depan ruang wawancara karena semua kursi terisi penuh.

Calo…

Ah pasti ada yang penasaran, apa masih ada proses pencaloan di kantor imigrasi Palembang. Alhamdulillah sudah nggak ada. Setidaknya nggak ada tuh aku ngelihat orang yang menawarkan jasa pencaloan di sana. –good job buat Imigrasi Palembang.

Jika aku melihat ada orang yang keluar dari ruang wawancara namun aku tidak melihat orang-orang ini di saat antri di konter, kan belum tentu disebut praktek pencaloan? Apalagi orang di sana BUANYAK, dan aku ini sohibnya Dory yang kadang kumat penyakit short term memory lost-nya. Ya bisa aja aku nggak nyimak tuh orang atau orang itu keluar dari ruang wawancara soalnya habis nganterin indomie buat sarapan? Siapa tahu kan?

Intinya, aku nggak melihat praktik percaloan di kantor imigrasi Palembang.

Saat di dalam, proses wawancara cepat saja. Gak sampai 3 menit selesai (eh sebelumnya antri dululah di dalam sekitar 10 menit).

Menunggu lagi?

Selanjutnya adalah menunggu cetakan resi pembayaran di bank selesai dicetak.

“Mas, saya mau minta resi pembayarannya?”

“Kapan interview?”

“Barusan saja,” jawabku.

“Oh belom ada, nanti dipanggil.”

Sambil menunggu dan menenangkan si bocah gendut yang terus merengek minta pulang, aku melihat konter pengambilan paspor. Diantara semua petugas, si bapak yang berjaga di sana terlihat paling “senior”. Mungkin si bapak lupa sikat gigi, jadi rada nggak enak hati kalau mau senyum kali, ya!

Si bapak ini juga kerap kali meninggalkan ruangannya. Kasihan sama orang yang sudah berdiri lama sambil membawa kertas bukti pembayaran. Begitu muncul, masih dengan ekspresi yang sama. Datar, dingin dan cenderung jutek.

IMG_20160502_085757

Jangan malu untuk narsis, lha wong….*isilah titik titik di samping ini*

Aku masih memperhatikan si bapak.

“Bambang?” panggilnya.

Ntah kemana si Bambang, mungkin lagi sibuk tour de Java. Melihat tidak ada orang yang datang si bapak melemparkan berkas (berisi paspor baru tentu saja) ke meja dengan sebal.

“Ani?” panggilnya lagi.

Lagi-lagi Ani nggak ada. Ya jelas, mungkin mbak Ani ini nemenin mas Bambang. Makin bête-lah muka si bapak. “Wow, nih orang yang bakalan aku temui 3 hari ke depan nih!” batinku. “Semoga nggak terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan,” batinku lagi. “Kalau diajak makan di kantin belakang aku siap banget!” –masih membatin.

Balik ke resi pembayaran. Oalah, aku harus menunggu 20 menit lagi euy diproses ini. Lama ya? Menurutku sih iya LAMA. Ntahlah prosesnya sepanjang apa, namun menurutku hal ini tidak efektif. Harusnya bisa lebih cepat menurutku. Namun ntah apa yang ada di balik layar. Seharusnya ada batasan waktu layanan ya. Target sekian menit sejak orang selesai diwawancara harusnya sudah ada. Come on mamen, 20 menit itu lama!

Di PHP Mbak-mbak Kece BNI

Selepas mengantar Rais pulang, aku kembali ke toko yang hari itu jadi buka jam 10. Toeng toeng. Aku langsung ke BNI buat membayar biaya paspor. Gedung BNI-nya sih nggak jauh dari toko. Sambil joget kayang juga sampe. Ternyata, di BNI masih kena biaya ADM lagi. Hmmm… asu-dahlah.

Begitu tiba di konter teller, dan setelah ketak-ketik sebentar, si mbaknya berkata….

“Mas maaf, ini belum bisa dibayarkan.”

“Lho kenapa?”

“Memang kadang suka begitu mas, mungkin di kantor imigrasi pembayaran mas-nya belum diaktifkan.”

Lha, kok kayak kartu perdana hape aja kudu diaktifkan dulu. Gak usah banyak protes, intinya tetap nggak bisa.

“Kalau saya bayar pakai ATM bisa?”

“Nggak bisa juga.”

“Jadi kapan kita jadian bisanya?”

“Coba datang lagi jam 3 sore, mudah-mudahan sudah bisa.”

Lalu apa yang terjadi jam 3 sore? Yup masih nggak bisa. Pembayaran baru dapat dilakukan keesokan harinya. Kenapa hal ini bisa terjadi oh wahai kantor imigrasi?

Pengambilan Paspor, Jumat 29 April 2016

Di berbagai sudut ruangan di kantor imigrasi tertulis “Paspor Selesai 3 Hari Kerja Setelah Pembayaran di Bank”. Nah, harusnya nih hitungannya, jika aku bayar tanggal 27, tanggal 29 udah selesai dong ya? 27, 28 dan 29. Pas 3 hari.

Setelah melihat kerja pegawai imigrasi yang tidak efisien di hari sebelumnya, sengaja aku datang pukul 9. Terlebih memang kantornya buka 8:30 jika hari Jumat. Begitu masuk ke dalam, yup, benar saja, petugas yang membantu pengambilan paspor tidak ada di tempat.

Selain aku, ada 3 orang lagi yang berdiri di depan loket. Kami berdiri sekitar 10 menit. Security tidak berbuat banyak, hanya menyuruh menunggu (mungkin securitynya yang masih muda itu juga segan buat manggil si bapak senior hwhwhwhwhw entahlah). Tak lama, seseorang keluar. Berusia jauh lebih muda. Eh ternyata si pemuda ini hanya minta diambilkan air minum di lemari es di ruang tunggu.

Tak lama kemudian si bapak datang.

“Pagi Pak, mohon dibantu pengambilan paspornya.”

Tanpa banyak ba-bi-bu, dia langsung mengambil kertas bukti pembayaran kami semua. Khusus kertasku, dia melihat lebih lama. Duh gusti, salah apa ya?

“Kamu baru bayar tanggal 27. Saya cek dulu, sepertinya belum selesai.”

“Oke terima kasih, Pak. Sekalian dibantu untuk pengambilan paspor lama, saya butuh untuk pengajuan visa,” ujarku.

Si bapak mengangguk. Piuh lumayan, ternyata si bapak nggak jutek-jutek amat. Tak kenal maka tak ditraktir, ingat pepatah itu! Kami lantas duduk semua, si bapak sibuk ketak-ketik di komputer dan membuka file cabinet berisi berkas.

IMG_20160502_112636

Ayeeey udah selesai! dapet solmet baru 🙂

“Haryadi.”

“Iya Pak.”

“Benar, punya kamu belum selesai.”

“Oh oke, Pak. Jadi Senin, ya?”

Beliau mengangguk. “Paspor lama sekalian Senin juga, Pak?”

“Iya,” katanya datar.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku lantas pulang. Nah nah nah, jika sudah begini, mana yang benar? 3 hari itu apakah tidak termasuk hari saat pembayaran? Sampai detik ini masih jadi misteri.

Datang Lagi, Senin, 2 Mei 2016

“Assalamualaikum, pagi, Pak. Dibantu pengambilan paspornya,” ujarku ke bapak yang lagi menatap komputer.

“Pagi,” jawabnya datar.

“Ini bukti pembayarannya saya letakkan di sini ya,” ujarku sambil meletakkan kuitansi di atas meja. Si bapak melirik sekilas. Aku langsung duduk.

Pukul 08:50 saat aku menghempaskan pantatku di kursi tunggu terdengarlah suara mesin pemanggil antrian.

“Antrian 7, silakan ke konter 3.” Wow, udah 50 menit dari jam buka layanan, dengan 4 konter, namun antrian masih no.7? seketika aku melirik ke ruang tunggu. PENUH! Banyak juga ya yang mau jadi TKI di luar negeri –eh, hwhwhw. Ternyata orang Palembang ini berduit semua hahaha. Gak kebayang bakalan lama banget nunggu di sana. Apa ini pegawainya telat lagi seperti aku dulu? Entahlah.

Gak harus menunggu lama, aku dipanggil. Yeay pasporku selesai. Sebelum pulang, aku menuliskan beberapa data di sebuah buku besar yang sudah disediakan. Alhamdulillah lagi, si bapak yang kelihatannya jutek itu ternyata nggak seburuk yang aku duga. Ya, beliau kurang senyum, tapi ya nggak sampe demen menumpahkan serapah kayak mamak-mamak petugas imigrasi di Medan yang videonya jadi viral itu hwhw.

Bagaimana dengan paspor lama? Amaaan! paspor lama juga langsung diberikan dengan terlebih dahulu digunting bagian dalamnya sedikit. Huaa Alhamdulillah, penantian (agak) panjang berakhir sudah. Terima kasih kantor Imigrasi Palembang! 🙂

KESIMPULAN :

  • Dari segi fasilitas, kantor imigrasi Palembang sudah jauuuh lebih baik. Setidaknya saat aku bandingkan dengan 5 tahun lalu saat aku pertama kali membuat paspor. Walau begitu, peningkatan di semua lini harus tetap diperhatikan. Terutama waktu layanan, efektifitas petugas dari mulai antrian, lama menunggu interview, pengambilan resi hingga kemudian pengambilan paspor.

  • Persyaratan siluman eh tambahan seperti KTP yang difotocopy ukuran sekian-sekian, materai dsb, bila perlu diinformasikan juga di web imigrasi. Dan semoga imigrasi ke depan lebih aware dengan lingkungan. KTP sekecil itu harus difotocopy 1 lembar penuh? Tanya kenapa. Jika alasannya mempermudah arsip, masih banyak cara lain yang dapat dilakukan. Lagipula, aku udah fotocopy ukuran besar, kok! Hanya bedanya digabung dengan paspor dan KTP. Lantas apa bedanya?

  • Mengenai pembuatan paspor anak-anak. Sebaiknya persyaratan ini dipertimbangkan lagi. Di banyak kondisi, bisa saja ada anak-anak yang berkesempatan berkunjung ke luar negeri tanpa dampingan orang tua. Mau itu alasannya liburan diajakin om/tante-nya, atau ke luar negeri atas dasar prestasi (diundang pentas kesenian di luar negeri, ikutan olimpiade pelajaran atau lain sebagainya). Nah, jika kondisi itu dapat dimaklumkan, seharusnya hal yang sama juga terjadi di kasusku saat mau ajak keponakan liburan. FYI, si Rais ini kedua orang tuanya berstatus sebagai PNS yang jika mau pelesiran ke LN tidak segampang warga sipil lainnya. Ketertarikan Rais terhadap dunia luar (negeri) sangat besar. Les bahasa Inggrisnya semangat buanget! Kalau ada bule couchsurfing ke rumah dia juga suka ikutan ngomong. Rencana ngajakin dia jalan masih jadi misteri hingga sekarang mengingat orang tuanya agak keberatan bikin paspor namun ujungnya nggak dipake untuk jalan. Yup, ini case by case. Harusnya imigrasi lebih fleksibel terhadap hal ini. I know, ini untuk melindungi si anak yang bisa saja jadi objek trafficking, tapi coba dipertimbangkan cara lain. Misalnya, surat pernyataan orang tua di atas materai yang menyatakan member izin anak membuat paspor, misalnya? Atau ada cara lain? Biar orang-orang pintar di imigrasi yang mikir.

  • IMG_20160426_081631

    Penuh!

  • Mungkin terlalu tinggi espektasiku petugas imigrasi dapat memberikan layanan serupa greetings atau salam saat bertemu dengan masyarakat. Ya nggak usah sapa yang penuh puja-puji semacam, “Wah mas ini ganteng sekali, sini saya bantu.” Tapi cukup dengan, “selamat pagi atau siang.” Terlalu tinggi pula jika aku berespektasi di depan konter layanan terdapat banner bertuliskan, “Silakan ambil minuman gratis jika karyawan kami tidak mengucapkan salam” seperti di pasar swalayan hwhwhw. Minimaaal banget, petugas imigrasi itu harus komunikatif. Garda terdepan kantor pelayanan itu ya terletak di komunikasi. Petugas harus sabar dan paham menghadapi berbagai macam karakter orang dan bisa jadi sudah bosan dengan pertanyaan remeh-temeh seperti, “Pak ini saya mau ambil paspor, ini bukti pembayarannya.” Jika petugas terlalu lelah untuk berkata, “letakkan saja di sana,” bisa dipakai cara lain. Siapkan wadah kecil dan standing paper bertuliskan, “silakan letakkan resi pembayaran untuk pengambilan paspor.” Mudah, kan?

  • Perbaiki lagi sistem IT-nya. Saat aku dilayani di konter, aku mendengar percakapan antara petugas yang mengeluhkan kegagalan pembayaran. Nggak nyangka, aku ternyata harus mengalaminya juga. Atau, bisa juga diinformasikan peraturan, “Pembayaran dapat dilakukan 24 jam dari sekarang” sehingga masyarakat nggak harus bolak-balik ke bank. Ya kalau yang kasusnya kayak aku deket, tinggal ngesot aja. Gimana kalau yang letak banknya jauh?

Itu saja dulu deh. Semoga kantor imigrasi Palembang terus berupaya memberikan layanan yang terbaik buat masyarakat! So, jalan kemana lagi kita?

Iklan

46 thoughts on “Seberapa Efektif Kinerja Petugas Pembuat Paspor di Kantor Imigrasi Palembang?

    • Nah itu dia mbak Nella. 🙂 aku heran ini peraturannya hanya diberlakukan di Palembang atau seluruh Indonesia. Anehnya di web resmi imigrasinya gak ada persyaratan itu. Si petugasnya sempat bilang, “Nggak masalah si anak mau pergi dengan siapa, yang pasti orang tuanya harus bikin juga.”

      Bener yang dibilang mbak Nella, gimana dengan anak-anak pedesaan berprestasi yang diundang ke luar negeri. Jika ada suara dari imigrasi, “oh itu pengecualian,” lantas apa bedanya dengan ponakanku ya? wong ke luar negerinya sama-sama didampingi orang lain (kalau mereka panitia, kalau ponakan ya omnya sendiri).

  1. Sebenarnya aku juga sudah pengin banget bikin passpor dari tahun lalu, walau tidak atau belum ada rencana berkunjung ke luar negeri tapi mitosnya kalau sudah punya passpor biasanya bakalan bisa ke LN …mitosnya lho….tapi sampai sekarang belum terlaksana juga hahahah. Padahal beberapa kali sudah sering lewat kantor imigrasi Wonosobo…

    • Mitos itu terbukti di aku 🙂 ini konsep mestakung kejadian hehe. Jadi ibaratnya alam semesta ikut mendukung agar paspornya segera dipakai. Hayo bikin paspor mas 🙂

      • Betulll dan itu gegara pak Rhenald Kasali….yang aku selalu menyimaknya di tl twitter hehehe.
        Btw aku penasaran sama video mamak-mamak itu, tadi langsung ngeyoutube tapi cuma ada video bagian akhirnya yang mbak-mbaknya berniat ngelaporin gitu

    • Hahaha iya, itu video yang aku maksud. Gak ada versi marah-marahnya. Sayang ya gak terekam hwhwhw. Tapi di sana juga kelihatan angkuhnya pas bilang dia nggak marah-marah. Ntah gimana nasip petugas ini sekarang. Harusnya yang senior-senior kayak beliau kerjanya di belakang. Udah gak zaman yang tua-tua berada di garda terdepan terlebih yang temperamen kayak gitu.

  2. Ciyee yg punya paspor baru..
    Eh semua dokumen kudu dicopy terpisah soalnya nanti discan dan dimasukin ke sistem masing2 datanya

    • Paspornya masih perjaka bijo, kayak tuannya hahaha.

      Aha, scan ya… jadi ingat dulu terakhir kerja aku di HRD ngurusin aplikasi karyawan. Jadi input2 data gitu dan emang pake scan juga. Tapi ini soal teknis aja, walau digabung jadi satu (kayak kasusku paspor dan KTP) masih bisa discan, tinggal croping aja, beres dah 🙂

  3. Eh boleh kok anak-anak bikin paspor walau emak bapaknya kagak bikin… emang untuk melindungi anak2 dari trafficking kok, bahkan pas foto emak bapaknya ada yg diwajibkan hadir.

    • Nah makanya heran. Aku baca pengalaman om Roda dan Roti yang linknya ada di kolom komen, di Surabaya juga ada syarat melampirkan fc paspor orang tua Lid. Heran, masih 1 lembaga/institusi kok ya masing-masing kota bisa beda. Gak ada persamaan yang baku.

  4. Wah. Baru inget ketunda terus rencana perpanjang masa berlaku paspor. Syaratnya banyak juga ya… Mana akta kelahiran hilang pula. Hahahaha. Harus rapiin satu2 nih.

    Iya juga, Oom. Kalo diperhatiin, sebenernya beberapa kantor layanan publik kita udah punya fasilitas yang bagus, ya setidaknya membaik. Tapiiiiii, SDM-nya masih ngegemesin bikin geregetan. Ya mungkin customer’s delight jadi nomor sekian di penilaian atasan mereka. Semoga membaik! 😁

    • Aku sama sekali gak diperiksa yang asli, semua copyan aja mas. Dan kalau gak ada akte kelahiran dapat gunakan ijazah 🙂

      Soal ramah gak ramah relatif banget ya 🙂 tapi kalo kinerjanya efisien, dapat dipinggirkan. Gakpapa gak senyum, gakpapa gak dengan nada ramah asal kerjaan beresnya cepat kayak CS2 di luar negeri (katanya sih begitu hehe)

  5. Panjang prosesnya yak, semangat bener bikinnya.

    Oh iya ktp, dan dokumen laen kudu dicopy terpisah soalnya scanan dimasupin ke sistem datanya masing2.

  6. DI jkt kayaknya sih rada teratur, ga ada calo, tapi tetep antrian buat yag manual bukan online, dibatesin sehari hanya 50 org kalau gak salah, dan antirnya bisa dr jam 4.30 pagi ( pengalaman pribadi hahah )

  7. Jadi wawancaranya langsung di hari pendaftaran ya mas? Kalau dulu saya buat di Palembang wawancara nya itu beda hari dari hari pendaftaran.. yaitu pada hari ketiga dimana kita menyerahkan bukti pembayaran BNI nah disitulah wawancara nya.. lalu jadwal pengambilan paspor nya diberikan setelah wawancara dan gak pake mundur.. apa sekarang berubah ya?

    • Sepertinya sekarang dibuat agar jauh lebih praktis mas, jadi wawancara langsung, setelahnya bayar, baru 3 sd 4 hari kemudian ambil paspornya. Andai kinerja pegawai di sana dibuat lebih efektif lagi, tentu bakalan lebih oke

  8. Saudara Haryadi Yansyah Yth

    Terimakasih atas koreksi yang disampaikan pada Instansi kami, akan kami jadikan bahan evaluasi agar dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

    ttd.
    Kepala Kantor

    • Wah dikunjungi oleh Kepala Kantor Imigrasinya langsung. Terima kasih pak. Saya sangat mengapresiasi. Semoga kantor Imigrasi Palembang kian baik di kemudian hari. Saya tunggu juga perubahan positif dari kinerja para pegawainya. Salam 🙂

  9. hehe … kurang lebih samalah dengan pengurusan di Jakarta, sebetulnya bisa di improve lagi nih system online-nya ,,,, apalagi kalau yang perpanjangan pasport .. harsnya lebih simple … btw .. benar tuh ada syarat2 yang tidak di cantumkan di web dan dipermasalahkan saat di kantor imigrasi .. bikin bete

  10. aku boleh ngelepasin uneg2 pas aku perpanjang paspor kemarin ga ;p?? Rada sama sih yg kita alamin mas :D.. kalo aku nih, kmrn itu apply nya pas april akhir.. online juga.. tapi krn penuh, dpt tgl 3 may.. gpplah, toh aku msh maternity leave wktu itu.. pas hari H, semua udh dibawa, aku ambil antrian, trs pas giliranku, tau2 si mbaknya bilang, aku g bisa interview hari itu karenaaaa…… di paspor lamaku, bulan lahir salah ditulis…Aku protes, krn toh kesalahan itu dr imigrasi sebelumnya, dan itu juga udah di revisi di halaman keduanya, di chop, dan ditandatanganin ama ketua imigrasinya juga.. logikanya, ksalahan yg mrk buat udh diakui dan dibenerin kan ya????

    Tapi si mbak bilang ttp ga bisa, dan aku hrs bikin BAP di lantai atas.. itu udh tertera di aturannya, sambil nyodorin kertas aturan ke muka ku… Heloooooo, menurut looeee , gw bisa tau getooooh ttg aturan yg kalian tulis di kertas kumel dan dipajang di kantor kalian sendiriiiii??? :D.. tapi percuma ya marah2 ama petugas negara ;p.. tpkasa naik k lt 3, utk bikin BAp.. dan aku baru tau bikin BAP itu ada jdwalnya… dan aku dpt jdwal yg msh kosong tgl 31 may -__-. bayangin aja, jeda harinya lama bgttttt.

    tgl 31 may aku dtg, dan itu petugas cuma ngetik kronologi kenapa bulan lahirku bisa salah.. trs dia bilang 3 hari aku BAKAL DITELP, untuk balik lagi.. 3 hari aku tunggu, g ada telp samasekali, ape hari k4 aku dtg snediri, dan trnyata berkasku blm diapa2in mas.. malah si bpk dgn entengnya bilang, “kalo mau cepet, coba kamu skr ke lt4, minta nomor ama ibu X.. dia udh ngerti kok…” Hebyaaat byangeetttt kelakuan petugas negara yak :D.. saluuut aku selalu ama para pengayom masyarakt ini ;p . malah aku yg disuruh2.. singkat cerita, stlh dpt nomor, barulah aku bisa interview rada siangan itu, dan dapet kejutan lagiii ;p.. kata petugas interview, krn pasporku yg lama salah, tpksa paspor baru akan makan wkt 1 bulan utk jadi, sebabnya hrs dikirim ke pusat -__-. siiip lah kakak…. take your time aja yak ;p.. untung aku ga buru2 berangkatnya, kalo ga pgn aku gibal juga nih ;p intinya, pasporku baru jd akhir juni kmrn mas, dari bulan april awalnya ;p

    • Aku yang baca aja ikut gregetan mbak. Mereka ini pegawai yang masih memegang teguh prinsip, “Jika dapat dipersulit kenapa harus dipermudah” ya kan? meh banget. Bikin tulisan mbak, bila perlu surat pembaca.

  11. Bang mau nnya nih skrg kan sistem online udh ga bisa lgi jdi manual, lah trs pembayaran nya gimana? kita bayar d tempat ya saat melakukan pendaftaran pembuatan paspor?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s