Pelesiran

Luntang Lantung di Zagreb Saat Salah Pilih Penginapan

Sejak awal akan ke Eropa, demi menghemat anggaran dan menambah pengalaman, saya sudah berencana untuk memaksimalkan penggunaan couchsurfing saja selain juga menumpang di rumah kenalan. Namun, di beberapa kota/negara sih saya nggak ngoyo. Sesekali bolehlah menginap di hostel atau hotel. Apalagi kalau negaranya termasuk murah, ya. Di Republik Ceko misalnya, di 2 kota yang saya datangi yakni Praha dan Cesky Krumlov, saya memutuskan untuk pesan penginapan.

Di Praha, saya dan adik menginap di Hostel Orange. Walaupun agak kesulitan menemukan jalan masuknya, tapi ini hostelnya rekomen banget! Kamarnya besar, ranjangnya nyaman. Kamar mandinya proper. Yang juara sih lokasinya yang tengah kota dan di dapurnya ada bahan makanan mentah gratis. Jadi, pengunjung bisa masak nasi atau pasta secara cuma-cuma. Bayarnya berapa? Cukup 10 euro saja/ranjang.

Di Cesky Krumlov, karena kotanya kecil, dengan harga 20 euro, saya dan adik sudah dapat kamar pribadi dengan kamar mandi dalam. Nama penginapannya Penzion Vysehrad. Dari penginapan ke kawasan kastil di Cesky Krumlov dekat banget! Cuma emang lokasinya agak ke bukit jadi agak capek sedikitlah naik ke atas.

Saya termasuk pejalan yang well prepared. Di perjalanan sebelumnya, biasanya saya sudah membereskan semua urusan akomodasi. Jadi begitu sampai di lokasi, tinggal cus saja kepenginapan. Nah, di perjalanan ke Eropa, saya mau pakai cara baru. Cara yang dipraktikkan oleh teman saya Luhur Pambudi.

Suasana kota Zagreb

“Apa caranya?”

Yakni memesan penginapan begitu tiba di kota tujuan dengan mengandalkan pemetaan jarak/zona/area. Simpelnya gini. Misalnya kamu ke Jakarta, turun di stasiun Gambir. Nah pas udah sampe di Gambir, kamu buka aplikasi booking dot com, lalu cek penginapan yang berada di dekat situ. Voila! Nanti akan muncul info daftar penginapan di sekitar Gambir. Nah, di kota Praha dan Cesky Krumlov, saya berhasil memesan akomodasi dengan cara seperti ini.

Gagal Berlagak Hedon di Zagreb, Kroasia

Nah, saat saya tidak berhasil mendapatkan host CS di Zagreb, saya juga masih selow soalnya Kroasia negaranya tergolong murah sih. Begitu tiba di terminal yang ada di Zagreb, saya dan adik malah memutuskan untuk cari apartemen saja. Pertimbangan kami waktu itu, “ah gakpapalah sesekali nginep di tempat yang bagus. Kalau di apartemen kan bisa masak juga.”

Jadilah kami mulai mencari-cari apartemen yang lokasinya dekat pusat kota. Ketemulah apartemen bernama Centar Oaza Premium. Dilihat dari gambar sih cakep. Harganya 40 euro alias 2 kali lipat dari harga hotel kami di Cesky Krumlov. Tapi, demi satu pengalaman dan bayang-bayang bisa masak nasi dan indomie, saya akhirnya lakukan pemesanan. Done!

Pose setelah drama selesai hehe

Ini kesalahan pertama yang saya buat. Saya lupa, umumnya pemilik properti/apartemen biasanya tinggal terpisah dari unit yang disewakan. Biasanya, jika memesan beberapa hari sebelumnya, pemilik unit akan mengontak untuk janjian kasih kunci. Atau, bisa kasih pin/password untuk ambil kuncinya di safety box.

Sambil harap-harap cemas, pergilah kami menuju apartemen yang dimaksud. Drama pertama dimulai. Apartemennya susah ditemukan. Saya sampai beberapa kali nanya ke orang lokal namun karena nama apartemennya keciiiil banget, jadi susah ditemuin. Saya sempat WA dan telp no telepon yang ada di voucher hotel, namun tidak dapat dihubungi, hiks.

Saya sempat minta bantuan warga lokal. Seorang perempuan muda yang dengan sabar mencarikan apartemen yang dimaksud. Begitu ketemu, cewek ini juga berbaik hati meminjamkan ponselnya agar saya dapat mengontak si pemilik unit. Lagi-lagi zonk. Gak mau mengganggu aktifitasnya terlalu lama, saya bilang saja akan mencoba memanggil orang di dalam.

Ada sebuah tombol bel. Saya tekan. Tak lama, seorang perempuan usia 50 tahunan muncul. Ada celah kaca kecil yang dapat dilihat. Begitu dia membuka pintu dan melihat kami, dia langsung mengomel.

“Aa, I don’t fu*king understand,” sambil berbalik arah dan berlalu dari hadapan kami.

Saya dan adik bengong melihat adegan sepersekian detik itu hahaha. Dia nggak ngerti bahasa Inggris tapi mengumpat dalam bahasa Inggris hwhw. Untungnya pintu yang tadi dia buka saya tahan pakai kaki. Jadi kondisinya terbuka tapi saya gak berani masuk ke dalam. Saya melihat situasi. Tak lama, ada seorang pemuda dari halaman belakang lewat dan tadinya akan naik ke atas. Saya panggil dan ceritakan problem yang saya alami.

“Coba mana no teleponnya, saya coba telp,” katanya kemudian.

Masih zonk dong. Saya meminta untuk diizinkan naik ke atas, ke unit yang akan saya tempati. Siapa tahu pemiliknya ada dan lagi tidur.

“Hmm, kamu tunggu sini saja nanti saya cek ke atas,” ujarnya.

Oke deh mas bule. Adalah sekitar 2 sd 3 menit, dia turun lagi. “Nggak ada orang di atas. Saya coba telepon lagi, ya.”

Tipikal bangunan yang ada di sana.

Trus dengan baiknya dia coba nelepon lagi, tapi tetap nggak ada jawaban. Saya udah siapin plan B sih, yakni batalin penginapannya dengan risiko uangnya hangus. Tapi apa boleh buat, anggap saja risiko perjalanan. Kami nunggu kayak maling di depan pintu apartemen sekitar sejam kayaknya. Perut udah lapar, bayang-bayang bisa masak indomie musnah sudah. Mana saya udah ada janji sama Mbak Arie, traveler Indonesia yang kebetulan berada di Zagreb juga.

Disebabkan situasi serba gak jelas, kami lantas membatalkan penginapan dan mencari penginapan lain. Nemulah sebuah hostel tak jauh dari sana. Namanya Youth Hostel Zagreb yang merupakan jaringan Hostelling International (ngakak di pojokan). Untuk 2 bed, kami membayar 186 krona atau sekitar 23 euro. Sialnya, petugas hanya mau dibayar dalam bentuk krona. Jadilah kami pergi ke kantor pos untuk menukarkan uang.

Drama Pengembalian Dana

Begitu tarok ransel di kamar, saya langsung bergegas menuju kawasan Old Town. Gak jauh sih, jalan kaki 10 menit aja sampe. Saya sempat mampir ke toko roti untuk menganjal perut. Kasihan sama Mbak Arie yang sudah lama menunggu. Begitu jumpa, kami langsung jalan bareng. Lebih tepatnya, Mbak Arie yang jadi guide dadakan kami karena Mbak Arie sudah tiba di Zagreb sehari sebelumnya dan sudah sempat jalan sendirian.

Tempat wisata di Zagreb akan saya ulas terpisah. Di postingan ini, drama pemesanan tiket harus jadi bintang utama hahaha. Saya lupa, tapi seingat saya, adalah kami jalan mengitari Old Town Zagreb selama 3 jam lebih. Sekitar jam 5 sore kami berpamitan kembali ke hostel. Sebentar doang karena balik ke hostel hanya untuk ambil indomie dan telur yang kami bawa dari kota Budapest wakakak. Mie-nya dibawa ke apartemen Mbak Arie. Ya, niatnya memang mau numpang masak dan makan di sana hwhw.

Atas itu foto saat numpang masak di apartemen mbak Arie. Di bawah saat manyun di depan apartemen yang dipesan hehe.

Nah sebelum ke apartemen Mbak Arie, saya sempat kontak booking dot com melalui komputer yang ada di area lobi hostel. Saya ceritakan kronologis kejadiannya. Untungnya respon mereka cukup cepat. Intinya saya minta pengembalian penuh namun, ternyata si pemilik unit gak terima begitu saja.

“Tolong kirimkan bukti foto atau video karena pemilik unit bilang kepada kami bahwa dia ada di tempat dan menunggu kalian,” ujar tim Booking.com yang memediasi kami.

Ah, untunglah saya dan adik sempat foto-foto di depan pintu apartemennya. Sayangnya saya lupa ambil video. Terutama video saat kami dibantu telp sama beberapa warga lokal. Sempat deg-degan juga sih takut kalo permintaan refund kami tak dikabulkan. Namun, untunglah setelah beberapa kali email sama pihak booking.com, proses refund kami dikabulkan. Dana akan dikembalikan ke CC saya. Alhamdulillah.

Tips Memesan Penginapan Khususnya di Luar Negeri

Drama yang terjadi pada saya ini adalah salah satu contoh saja. Di grup perjalanan, banyak juga yang mendapati drama soal akomodasi.  Dari yang penginapan gak sesuai dengan ulasan di situs pemesanan, kena kejahatan di penginapan (misalnya kecurian) atau juga begitu tiba di sana eh tahu-tahunya penginapannya tutup atau ditolak karena sudah penuh.

Pertama, ulasan di situs pemesanan tidaklah cukup. Untuk melihat ulasan orang yang lebih jujur, coba cek juga di situs lain seperti tripadvisor.

Kedua, begitu sudah memesan, tidak ada salahnya mengontak langsung pihak penginapan untuk memastikan apakah pesanan kalian sudah tercacat di sistem mereka atau belum.

Salah satu gereja terkenal yang ada di Zagreb.

Ketiga, jadikan kejadian yang saya alami ini sebagai pelajaran. Gak salah sih memilih menginap di apartemen, tapi pastikan lagi si pemilik tidak susah dihubungi saat kalian hendak ke sana, ya!

Keempat, pilihlah penginapan sesuai preferensi. Sekarang sih, bagi saya pribadi, harga jadi pertimbangan utama hehe. Saya gak masalah menginap di penginapan murah apalagi kalau selaras dengan aspek lain misalnya jarak, kebersihan, keamanan. Saya anak hostel sejati (karena kere hehe), dan untungnya gak terlalu bermasalah soal privasi alias saya oke aja tidur sekamar rame-rame di dorm. Ntah kalau nanti udah makin kaya ya, mungkin tuntutan keamanan dan privasi juga berbanding lurus dengan tebalnya dompet haha.

Kelima, dulu sih saya favorit memesan di Agoda. Sekarang-sekarang, lebih memilih booking.com. Harus makasih nih sama booking.com karena udah ngebantu pengurusan visa Schengen dan UK saja 🙂 nah, pada akhirnya, bandingkan semua harga. Kadang selisihnya lumayan banyak. Jadi jangan buru-buru memesan pada satu situs. Cek dan bandingkan dulu dengan situs lainnya.

Ada yang punya pengalaman seru menginap di penginapan selama traveling? Cerita, dong!

Iklan

13 thoughts on “Luntang Lantung di Zagreb Saat Salah Pilih Penginapan

  1. Susahnya kalau booking apartment atau semacam villa lewat bookingcom tuh suka harap harap cemas hostnya baca notif bookingan kita apa nggak haha pernah kejadian ternyata hostnya nggak tau ada bookingan saya dari bookingcom setelah 2 hari lewat. Jadi pas hari H saya mau check in, saya kalang kabut karena message saya nggak direspon sama hostnya, di email juga nggak dibalas, di telepon juga susah. Jadi sekarang saya prefer kalau booking apartment atau villa lewat airbnb sedangkan untuk booking hotel masih tetap pakai bookingcom~ karena kalau pakai Airbnb so far belum pernah mengalami hal yang nggak diinginkan 😀

    • Iya bener, kayaknya kalau apartemen lebih oke lewat airbnb ya. Dulu itu termasuk implusif dah haha, gak banyak mikir. Tapi jadi pelajaran haha dan jadi postingan ini hwhw

  2. Aku sama kayak kamu, mas: prepared atau planned traveler. Kalau memang sudah ada itinerary, udah jelas mau ke mana saja berapa lama, aku akan memesan penginapan sebelum trip. Aku nggak mau sih luntang-lantung di jalan buat nyari hostel, haha. Lalu biasanya harga jauh-jauh hari itu lebih murah. Lagipula kalau memesan jauh-jauh hari, kesempatan dapat penginapan yang sesuai kriteria lebih besar daripada go show 😀

    Aku dari dulu cuma sekali naik Agoda, itu pun pas ada promo Big Points AirAsia hehe. Nggak sukanya pake Agoda, harga di hasil pencarian itu belum harga final. Sementara di Booking udah harga final.

    Aku juga nggak masalah sih bobok bareng sama orang, atau mandi bareng juga huahahaha

    • Sama haha. Aku ngerasa gak tenang kalau jalan belum ada penginapan. Tapi dulu itu karena perjalanan masih lama, dan masih menunggu respon dari host CS, jadinya gambling. Diajarin pula sama Luhur, katanya gak perlu khawatir apalagi kalau datangnya di low season. Dan bener, last minutes promo hampir selalu ada dan harganya gak jauh beda dengan hotel di Malaysia atau Singapura 😀

      Aku dulu anak Agoda banget. Malah dulu seingatku Agoda lebih enak karena fix price, eh tahunya sekarang emang gitu ya Nug, belum harga final.

      Aku bobo bareng sering banget. Mandi bareng belum buahaha. Nggak ngebayangin lol.

  3. Wahahaha kok sedih sih. Aku terakhir jalan yg hostelnya belom pesen itu Jerman, pesennya baru H-3 gegara males aja gitu pesen pesen wkwk. Untungnya dapet yg mayan cakep~

    Etapi mas yan, aku kan sering pake hostel ya kalo traveling sendiri, nah dari kantor mayan lah selalu dapet hotel bagusan. Tapi surprisingly kalo di hotel, aku malah males keluar. Maunya tidur aja. Kalo hostel, meski gak bisa keluar misal gegara hujan gitu, nongkrong di dapur atau living room mesti nanti ngobrol sama traveler lain. Seneng banget rasanya! Gak bisa di hotel kek begitu~

    • Ikut nyamber aah.
      Aku sendiri kalo nginep di tempat yang bagusan biasanya malah ketika jalan di Indonesia. Karena udah sering liat harga penginapan di negara yang mahal (kok kayak sombong ya?), jadi ketika ngebandingin sama harga penginepan di Indonesia, kerasa banget. Jadi sering ngerasa, “Wah yang ini aja bagusan, nggak begitu mahal.”
      Terus ketika hari H, saking enaknya tempat nginep malah jadi males ke mana-mana. Selalu ada alasan, check outnya ntar aja ah, sekalian jam check out. 😀

  4. Aku juga termasuk yang well prepared tiap traveling. Jadi udah jelas di mana tempat nginap setiap malemnya. Menurutku mempermudah untuk membagi waktu. Tapi ternyata cara begini tergantung juga sama tipe tujuan. Pas di Ladakh misalnya, karena cuma berdua itin kami sampai harus dirombak ulang karena minimnya transport. Ujung ujungnya kami tekor, ada penginepan yang udah bayar eh kami nggak jadi nginap di sana.
    Soal pengalaman tentang penginepan sepanjang hayat pertravelingan paling banyak cerita memang ketika di Ladakh, sempet bikin ceritanya di https://bardiq.me/2017/10/21/ladakhaccommodation/
    *lho kok aku malah ngiklan posingan blog? Ahahahaha.

    Ah iya setuju, makin kesini kredibilitas Agoda makin saya pertanyakan. Beberapa kali mesan tempat dan confirmed, tapi ternyata mendekati hari H, saya kontak untuk memastikan konfirmasi dari Agoda, ternyata bodong. Paling sering karena feature Free Cancellation – Pay Later – Pay at property yang ternyata menjebak. Memang sih kita belum bayar. Tapi property sendiri kalau harus menunggu kita bayar saat datang tentu lebih prefer kasih kamar ke pemesan yang mau bayar duluan. Sejauh ini saya masih demen Airbnb, kalo harganya melambung baru deh beralih booking.com.

    • Aku sekali bermasalah sama Agoda, pas pesen kamar twin bed eh pas keluar vouchernya jadi double bed. Untungnya pas protes bisa diganti ke ranjang yang sesuai keinginan.

      Airbnb belum pernah coba. Penasaran. Dulu pas ke mana ya pengen coba, Singapura kalo gak salah. Tapi ujungnya milih hostel karena harga lebih murah hahaha.

  5. Mungkin si nenek itu cuma bisa bahasa inggris itu doang, udah latihan berkali2 haha..

    Wah luntang-lantung gini emang gak enak bgt ya apalagi kalau tipe traveler yang aslinya well-prepared sebelum berangkat..

    Aku sih kalau urusan penginapan kuserahkan semua pada Mrs. Traveler Paruh Waktu ahaha..

    -Traveler Paruh Waktu

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s