Pelesiran

Pengalaman Dicolek Banci di Ana Sagar di India

Saya masih punya waktu setengah hari sebelum kemudian meninggalkan kota Ajmer. Sebetulnya tujuan utama saya datang ke kota ini bukanlah untuk eksplor kota Ajmer-nya. Tapi kota Pushkar yang berjarak sekitar 20 km dari sana. Eh sialnya, di kota Pushkar saya mengalami kejadian yang nggak mengenakkan. Saya kena jaringan scam para holy man palsu di sekitaran Danau Pushkar. Mengenai hal itu, sabar ya, nanti akan saya ceritakan terpisah.

Hari kedua di Pushkar, saya memutuskan kembali ke Ajmer. Setelah mengendarai bus kaleng selama hampir setengah jam, tibalah saya di terminal kecil di Ajmer. Nah, berhubung kereta saya baru akan jalan sore hari, ya tentu sayang waktu yang ada nggak saya gunakan untuk berjalan-jalan, toh.

Saya melirik kertas itinerary yang sudah kumal, dan ada beberapa destinasi wisata kota Ajmer yang saya catat di sana. Salah satunya Ana Sagar yang memang jadi daya tarik utama kota Ajmer yang ternyata merupakan kota tertua di negara bagian Rajashtan ini. Omong-omong, “sagar” sendiri berarti “danau”, jadi “Ana Sagar” berarti “Danau Ana”.

Ajmer sendiri dulunya didirikan sebagai Ajayameru yang berarti ‘Bukit Tak Terkalahkan’ oleh penguasa Shakambhari Chahamana dan pernah menjadi ibukota Chahamana hingga abad ke-12 masehi. Hmm, Ajmer ini cakep loh sebetulnya. Kotanya dikelilingi oleh Pegunungan Aravalli dengan keberadaan Ana Sagar di bagian bawahnya.

Danau buatan tapi panjangnya 13 km!

Oh ya, sebetulnya, saat bus tiba di terminal, saya masih galau mau mengunjungi Ana Sagar atau Ajmer Sharif Dargah. Ajmer Sharif Dargah ini salah satu tempat penting bagi umat Islam yang ada di India. Kalau saya nggak salah ingat, dulu, film Haji Backpacker yang diperankan oleh Abimana itu syutingnya di sini.

Namun, lagi-lagi, karena kejadian di Pushkar, saya tiba-tiba saja minta sopir bajaj untuk mengantar saya ke Ana Sagar. Saya agak trauma datang ke tempat ibadah gitu. Takut ketemu para petugas ngehe dan ujung-ujungnya saya di scam lagi. Oh tidaaaaak, boleh kan saya keluar dari kota ini dengan hati tentram?

Spot instagramable? haha

Saya lupa berapa ongkos dari terminal ke Ana Sagar. Sebetulnya, sepanjang perjalanan dari Pushkar saya sudah melewati danau ini. Danaunya besar banget! Tapi tentu ada titik dimana wisatawan biasa menghabiskan waktu di sana kan? Nah tempat itulah yang menjadi tujuan saya.

Setelah membayar ongkos (seingat saya hanya 100 rupee atau sekitar Rp.20.000) saya tiba di gerbang utama danau ini. Ada nampak pos penjagaan, tapi saya tidak melihat ada aktivitas penjualan tiket. Gerbang utamanya juga dipagar, tapi rantainya melonggar sehingga dapat dimasuki oleh orang. Sepertinya dipagar agar kendaraan gak masuk ke dalam.

Dari pintu gerbang, danaunya sudah nampak terlihat. Di sisi kiri jalan ada taman dengan rumput hijau yang terawat rapi. Banyak sekali orang yang baringan dan tidur di sana. Sebagian lagi, area rerumputannya sudah “dikavling” oleh anjing hehehe.

Santai kayak di atas rumput. Ya iyalah.

Itu saya datang di hari Rabu loh, tapi suasana Ana Sagar siang itu lumayan ramai. Gak kebayang kalau akhir pekan, kan? Sambil menikmati suasana, saya terus melangkahkan kaki menuju bibir danau. Nah, di saat itulah untuk pertama kalinya saya melihat 2 sosok waria dari kejauhan yang berjalan ke arah saya.

Sumpah ya, sebetulnya saya nggak pernah ada masalah dengan orang-orang yang menjalani hidupnya sedemikian rupa. Apalah hak saya untuk menghakimi hidup orang. Tapi, pengalaman saya dengan para banci/waria seperti mereka itu banyak jeleknya haha.

Saya nggak berani klaim diri saya sebagai coulrophobia alias phobia terhadap badut. Tapi emang saya ngeri terhadap sosok apapun yang melakukan riasan tebal di mukanya. Nah, sialnya para waria itu kan seringkali berdandan berlebihan. Bedaknya aja bisa 2 cm kayaknya haha. Belum lagi kalau nemu yang agresif, maka, makin takutlah saya.

Nah, saat datang ke Ana Sagar, saya berhasil menghindari 2 banci itu. Dari kejauhan saya perhatikan mereka mendatangi semua orang yang asyik santai duduk di paviliun yang ada di sekitaran danau. Ntah apa yang mereka lakukan demi mendapatkan rupee, saya gak begitu perhatikan lagi. Yang penting saya bebas dari mereka.

Sekilas Tentang Ana Sagar

Saya baru tahu kalau Ana Sagar ini danau buatan sesaat mempersiapkan tulisan ini loh! Oalah, ternyata benar, danau sepanjang 13 kilometer ini ternyata dibuat (baca: dikeruk) dan dibangun  pada tahun 1135 hingga 1150 oleh Raja Arnoraja (atau dikenal dengan nama Ana) di zaman dinasti Shakambhari Chahamana, kakek dari Prithviraj Chauchan. Saya jadi teringat Taman Nasional Periyar di Allepey yang danaunya juga buatan.

Di sekitar bibir danau, terdapat beberapa paviliun yang disebut Baradari. Ternyata, bangunan itu bukan sembarang bangunan, karena dibangun oleh Shah Jahan pada tahun 1637. “Shah Jahan yang bangun Taj Mahal itu?” iya betul banget! Eh omong-omong, kamu udah tahu kan kalau saya sempat ditangkap petugas saat berada di Taj Mahal? Wakakak. Cerita lengkapnya di sini, ya!

Banyak yang datang walau hari kerja

Kek, nelepon siapa? pacar ya?

Nah sebagaimana yang saya singgung sebelumnya bahwa di area danau ini juga ada taman. Daulat Bagh Gardens namanya. Itu dibangun oleh Jehangir alias Mirza Nur-ud-din Beig Muhammad Khan Salim, kasiar Mughal keempat yang memerintah dari tahun 1605 hingga kematiannya di tahun 1627. Wah wah wah, sungguh  bersejarah ya berarti danau ini. Btw, saat saya ke sana, sebagian area tamannya sedang direnovasi. Kayaknya kalau udah selesai bakalan makin keren!

Saya berjalan ke arah paling ujung danau. Nampak di sana beberapa penduduk lokal yang asyik duduk santai di bawah pohon. Sebagian lagi nampak sibuk memberi makan ikan. Ya, danau ini ikannya buanyak banget!

Ngasih makan ikan

Pakannya berbobot ringan. kayak gabus gitu. Ditiup angin dikit terbang. Tapi dimakan ikan sih.

Sayangnya, sebagian besar masyarakat India kan Hindu, ya! Mereka gak makan daging alias vegetarian. Nah, walaupun Ajmer mayoritas penduduknya Islam, tapi mungkin karena kebiasaan di sana gak makan ikan, jadi memang susah nemuin menu seafood di restoran. Jikapun ada, biasanya mahal. Padahal ikan banyak banget di danau ini.

Asyik memotret, saya didekati beberapa anak kecil. Ternyata mereka menawarkan pakan. Satu kantung kecil harganya 20 atau 30 rupee. Saat itu saya nggak beli. Jujur, saya khawatir kalau beli maka pedagang lain akan mengerubuti saya hehe.

Sisi lain danau

Adek cantik, madep sini dong. Om baik kok. Nggak pedofil.

Untungnya, pedagang di sini nggak gragasan kayak di kota lain. Saat ditawarkan dan ditolak, mereka nggak maksa. Eh apa karena mereka udah saya sogok permen kali ya? Haha. Ya, saya bawa beberapa kantung permen dari Indonesia untuk dibagikan ke anak-anak yang saya temui di 2 minggu perjalanan di Rajashtan ini.

Saya terus bergerak menuju titik awal ketibaan saya di danau ini. Di sepanjang perjalanan, saya berjumpa banyak sekali penduduk lokal yang penasaran dengan kehadiran saya. Beberapa menyodorkan pakan ikan yang mereka beli. Walau bahasa Inggris mereka seadanya, saya paham, mereka ingin saya merasakan serunya kasih makan ikan.

Para penjual pakan. Segede gini mah kagak dikasih permen.

“Huaaa mama, tadi aku liat cewek cakep, mataku langsung bintitan”

Di salah satu paviliun, saya sempat duduk lama. Ada kali satu jam. Ngapain? Just doin’ nothing. Hehe. Cuma duduk dan menikmati angin yang menyapa lembut tiap-tiap pori wajah saya. Di sana, warga datang silih berganti. Ada yang ngajak ngomong, ada juga yang sekadar memerhatikan dengan senyum.

Saya juga beberapa kali didaulat jadi fotografer dadakan haha. Misalnya saja oleh kakek-kakek yang memakai pakaian kurung ala orang Arab ini. Ternyata mereka wisatawan dari kota lain. Kakek ini meminta saya untuk memotret dia menggunakan kamera sakunya.

Terima kasih udah kasih saya opak ya kakek 🙂

Bonusnya, saya dikasih makanan haha. Alhamdulillah. Makanannya berupa opak yang dialiri cairan manis semacam gula merah. Enak sih. Kami juga sempat ngobrol beberapa lama sebelum rombongan kakek ini pergi dan tempat duduknya digantikan oleh warga lokal lain yang sepertinya juga antusias terhadap kehadiran saya.

Di saat itulah, 2 wanita jadi-jadian yang saya lihat sebelumnya perlahan datang mendekat. Tapi, saya memutuskan untuk tidak beranjak karena dalam pikiran saya warga lokal yang ada di samping saya ini tidak akan membiarkan saya diapa-apain. (((DIAPA-APAIN)))

Saya melirik sekilas, 2 banci itu mulai menggoda beberapa pria yang ada di dekat saya. Ntah apa yang bicarakan, kayaknya mereka mau ajak joget atau apa gitu saya nggak paham. Tapi herannya mereka gak bawa alat musik apapun.

Jarak mereka semakin dekat….

Ini loh salah satu dari mereka. Tapi bukan yang ini nyolek aku. Tapi temennya yang jauh lebih agresif.

Salah satu dari mereka melewati saya dan mulai menggoda pria yang duduk di samping saja. Saya pura-pura tidak memperhatikan hingga kemudian si banci yang satunya lagi mencolek tangan saya.

“Hayo bang, joget bareng eneng.”

Gitu kali maksudnya ya. Saya gak paham, dia ngomong bahasa India soalnya. Saya menggelengkan kepala dan kasih gesture menghindar. Penduduk lain mulai memperhatikan. Saya jadi tontonan. Argh.

Tangan saya ditarik-tarik, tapi selalu berhasil saya tepis. Lalu, tiba-tiba di alien itu mulai meraba pipi saya dan menggerakkan telapak tangannya hingga ke dagu saya. Aaarrgggh, hilang sudah keperjakaan saya. #eh hahaha. Gila aja, saya sampe diraba-raba begitu. Ogaaah.

Bagian dalam paviliun yang dibangun oleh Shah Jahan

Keliatan kan kalo danaunya gede banget

Bahan baku paviliunnya sama kayak yang ada di Taj Mahal kayaknya. Bikin adem.

Saya tepis tangannya, saya berdiri dan saya teriak-teriak, “no! No! No!. Opps, maaf saya emang kehilangan kontrol saat itu. Warga lokal gak ada yang bantu, mereka cuma bisa ngeliatin sambil pasang pose ngenes. Ransel saya masih sempat ditarik sih saat akan pergi. Tapi untungnya badan dan tenaga saya jauh lebih besar sehingga saya lepas dari cengkraman tuh banci. Huhuhu.

“Tolong, jangan sentuh aku. Jangan ambil keperjakaanku!”

Beneran ya men-temen. Saya gak masalah dengan orang-orang kayak mereka. Asal, mereka nggak ngeganggu aja gitu. Kalau sudah meraba-raba, ya pelecehan namanya. Coba kalau yang ngeraba Mbak Kajol atau Anushka Sharma, ya saya rela! Gila lu Ndro!

Saya memutuskan untuk segera pergi dari danau itu. Saat akan menuju gerbang keluar, saya sempat mampir di pintu air tua yang berada di sisi kanan danau. Di sana saya melihat bangkai ikan berukuran raksasa mati begitu saja. Ikannya luar biasa gede. Kalau ditimbang mungkin belasan atau bahkan puluhan kilo.

Air danaunya mengalir menuju sungai ini.

Di sisi kiri sungai ini, para babi nampak asyik berjemur haha

Dari pintu air itu, alirannya menuju ke sungai kecil yang berada di sisi kanan dimana di sanalah belasan babi nampak duduk santai sambil menikmati suasana (((SUASANA))). Saya sempat makan chow mein alias mie di sebuah kedai dekat pintu gerbang sebelum kemudian memutuskan ke stasiun dengan berjalan kaki.

Selamat tinggal Ajmer, no more “sampai jumpa lagi” hahaha.

Iklan

50 thoughts on “Pengalaman Dicolek Banci di Ana Sagar di India

  1. Wakakakaka ku ngakak bagian yang dicolek-colek manjaaaaaaaah. Emang sih yak transgender di manapun pada genit hahaha. Di sini lagi ngetrend “hijrah” klo “hijra” di sana ya para transgender itu hehe. Aku beberapa kali lihat film dokumenter tentang hijra di berbagai negara seperti India, Bangladesh, Pakistan, Afghanistan, Indonesia, dll yang notabene negara-negara Islam. Mencoba menyelami dari sisi mereka, halah. Kaum Hijra di India lebih terbuka karena alasan karma dsb.

    PS: Sagar sendiri artinya Danau, kalau Danau Ana Sagar jadi gimana gitu bagi aku yang ngerti dikit bahasanya hehehehe.

  2. wkwkwkwkwkwkw aku bisa ngebayangin kamu paniknya pas dicolek :D. sama kayak suamiku, dia juga takuuuut banget ama banci :p. pasti deh lgs menghindar ato lgs megang tanganku kuat banget krn takutnya :D. untungyaaa wanita sepertiku aman hahahahaha..

    sukaaa deh ngeliat kota ini. apalagi danaunya itu. tp ga nyangka ada babinya berkeliaran juga hihihi…sayang amat ikanny sampe ada yg mati segede itu 😦

  3. wkwkwkwkwkwkw aku bisa ngebayangin kamu paniknya pas dicolek :D. sama kayak suamiku, dia juga takuuuut banget ama banci :p. pasti deh lgs menghindar ato lgs megang tanganku kuat banget krn takutnya :D. untungyaaa wanita sepertiku aman hahahahaha..

    sukaaa deh ngeliat kota ini. apalagi danaunya itu. tp ga nyangka ada babinya berkeliaran juga hihihi…sayang amat ikanny sampe ada yg mati segede itu 😦

    • Haha sepertinya aku dan mas Raka butuh membentuk satu komunitas IPTB (Ikatan Pria Takut Banci) hahaha. Pilu aku tuh, saat dicolek penduduk lokal gak ada yang bantu even kasih gesture nyuruh dia pergi gitu huhuhuhu. Eh aku malah dijadikan tontonan.

  4. Hahahaha,aku bacanya sambil keselek.Membayangkan dikau di elus manjah,lah aku yang wanita saja geli melihatnya apalagi cowok.Tapi kok mereka suka deketin cowok ya?Eh maaf,salah pertanyaan 😄😄

    • Di Palembang juga ada. Biasanya ngamen, dan suka datang ke toko. Aku kalau denger suaranya di toko sebelah udah ngacir ke dalam. Gak ganggu sih mereka, cuma ntah kenapa ada rasa gak nyaman. Kadang sama mereka dipanggil-panggil, “omeeeduuuuut” hahaha karena papan tokoku kan pake nama Omnduut juga.

  5. Ajmer sharuf darah ini Sufi terkenal bahkan para mughal sering kesana untuk berdoa. Para artis, politikus sering kesini. Dan film india sendiri banyak yang shoot disini. Rameeeeee banget yang kesini karena nggak cuman muslim juga orang hindu.

    Hijra biasanya pegang kepala dan mendoakan dan kita kasih uang. Karena ada sebuah cerita dibalik itu. Pengalaman pertamaku di India gate ketika mereka pegang kepala trus berdoa dan aku pingin ngakak guling guling tapi kok takut kualat. Trus Ini kenapa Hijra pegang pipi dagu dan… Ahhh Untung berhenti disitu. Mungkin dia khilaf menatap ketampanan mu…. Hahaha

    • Wah ada cerita apakah? kok dia gak pegang kepala banyak orang sebelum aku dan doa? kalau begitu mestinya aku gak bereaksi gitu huhu. Tapi dari awal dia udah pegang-pegang tangan aku udah bete abis.

      Ajmer Sharif itu memang udah masuk list. Niatnya dari Ana Sagar mau ke sana. Tapi kelamaan di Ana Sagar (terlalu asyik, sebelum digangguin para Hijra), aku jadi males. Mana lagi mikirnya para pengurusnya ntar minta duit maksa-maksa kayak di Pushkar, ha aku udah males banget.

    • WAKAKAKAK
      Kalau di Thailand aku akan teriak, Yes yes yes hwhw. Eh tapi pas ke Bangkok 2015, aku sempat ketemu bancinya yang jauh lebih manly ketimbang yang ada di India ini. Mungkin waria cakep-mulus-tralala itu hanya di club-club kali ya.

  6. Wahahaha, pengalaman yang berkesan sekali ya. By the way, kok banyak yang bilang di India itu sering terjadi tourist scam ya, hmm agak bahaya juga buat yang polos Dan lugu macam saya ini..ahaha. Ditunggu cerita pengalaman “gak enak” nya ya Mas, biar jadi pelajaean buat yang mau ke deatinasi yang Mas kunjungi ini.

    • Haha iya, India banyak scam, tapi sebetulnya praktik scam ini ada di mana-mana, nggak hanya di India. Indonesia juga buanyak. Tinggal kitanya berhati-hati saja.

      Oke, mungkin nanti aku siapin artikel khusus soal scam. Dulu udah pernah nulis, tapi mungkin emang gak spesifik.

  7. Hahahahaha. Pipimu menggemaskan kali Mas bagi mereka. 😹😹
    Aku kalo ketemu bencong sok cuek padahal dalam hati udah deg degan pingin lari.

    By the way, di danaunya nggak ada yang mandi mandi kah Mas? Sewa ban atau banana boat gitu? 😅

    • Bang Bardiq orang ke 1.765.543 yang bilang pipiku menggemaskan. (baca : kebanyakan lemak).

      Nggak ada yang berenang. Bisa jadi di sisi lain danau ada tempat landai yang orang bisa menjangkau airnya dengan mudah. Kalau yang di tempat ini dia dibeton. Kalau mau berenang ya loncat, sambil mikir naiknya gimana hahaha.

      Atau juga bisa jadi itu tengah hari dan panas. Mungkin kalau sore, ada yang berenang di sekitaran situ 😀

  8. Haha ngakak bacanya, hampir saja dikekep banci impor..untung selamat ya Yan, hihi..ternyata danau sebesar itu buatan ya..jadi pengen duduk-duduk di tepi danau deh..

  9. Ooommm, kamu udah gak suci lagiii.. Hihihi.. Agresif juga yes, padahal udah ditolak.. Pantang nyerah ya, mungkin dirimu menurut mereka lebih cakep dari Shahrukh Khan.. Haha.. Btw, yang senyumin di paviliun gak disebut om, sapaa? Wkwkwk.. Seru ya.. Bagus pun danaunya gede amat..

  10. Hadeuh seru ceritanya nih..jauh kesono tapi hampir dilecehkan hahaa, mau ngakak takut dosa. Agresif bener mereka ya liat orang asing..btw luas bener danau buatannya..

  11. Ping-balik: Menatap Sirik ke Unta Genit di Padang Pasir Jaisalmer, India | Omnduut

  12. Ping-balik: Kena Jebakan Holy Man Palsu di Pushkar, India | Omnduut

Tinggalkan Balasan ke omnduut Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s