Pelesiran

Kena Jebakan Holy Man Palsu di Pushkar, India

.

Jalan ke India tanpa drama? oh mana mungkin! Hahaha. Eh bisa ding, tapi mungkin itu tipe perjalanan hedon ala tamu kenegaraan kali ya. Nah, kalau jalannya ala backpacking, saya rasa, semua pejalan yang menjelajahi India akan menemukan satu, dua, beberapa atau bahkan BANYAK kejadian seru dan “seru” selama di India.

Bagi pembaca lama blog ini, pasti udah tahu pengalaman “seru” saya selama di India. Dari hampir kena rampok di Delhi, ditangkap petugas di Taj Mahal hingga diusir dari atas kereta yang tengah melaju saat akan ke Varanasi. Nah, kali ini pengalaman ngehe saya berkaitan dengan priest/holy man atau orang suci palsu yang berkeliaran di sekitar Danau Pushkar.

Kisah ini sebetulnya menjadi satu rangkaian dengan kejadian saat saya dicolek banci di Danau Ana di kota Ajmer. Ya, secara jarak kota Ajmer dan Pushkar berdekatan, yekan. Dan, sejak awal kayaknya memang saya nggak berjodoh dengan kota ini. Hahaha. Oh ya, sebelum saya cerita panjang, harap dicamkan ya, pengalaman semua orang berbeda. Bisa jadi saya mendapati –katakanlah, kesialan di kota ini. Tapi banyak juga pelancong yang merasa suka dan kerasan. So, jangan mudah justifikasi satu hal hanya dari pengalaman segelintir orang, oke!

Bus Kaleng Menuju Pushkar

Saya tiba di kota Ajmer sekitar pukul 04:00 pagi. Berbekal status saya sebagai turis, saya minta izin kepada petugas stasiun untuk dapat beristirahat di ruang tunggu yang sejatinya hanya boleh dimasuki bagi pemegang tiket kelas AC-3 ke atas. Untunglah saya diperbolehkan padahal tiket saya hanya Sleeper Class hahaha. Baru setelah hari agak terang, saya memutuskan untuk mencari kendaraan menuju Pushkar.

Dari buku panduan yang saya baca, dibilang, bus menuju Pushkar banyak terdapat di sekitaran stasiun. Nyatanya, saya harus berjalan lebih dari 1 km menuju terminal kecil. Sepanjang jalan, saya banyak dicegat sopir taksi. Jarak antara Ajmer dan Pushkar sekitar 15 km. Ya kayak dari rumah saya di Plaju ke bandara SMB II gitu. Tapi berhubung saya pejalan kere dan biaya taksi mahal, naik bus lokal adalah satu-satunya opsi yang dapat saya ambil.

Saya berjalan beriringan dengan 2 warga lokal yang nampaknya baik-baik. Nganu, saya sih gak takut dijahatin, udah pagi dan lumayan rame. Hanya, saya takut dikejar anjing. Trauma sebelumnya dikejar anjing di kota Jodhpur soalnya haha. Soal pengalaman dikejar anjing ini, mungkin akan saya ulas terpisah nanti.

Penampakan Danau Pushkar

Bus menuju Pushkar sudah saya dapatkan. Busnya bobrok bener. Mirip kaleng berjalan. Saya sampai skeptis ini busnya masih bisa melaju di jalanan berbukit dan berkelok-kelok. Untung ongkosnya murah, hanya 20 rupee atau sekitar Rp.4500. Jadi, begitu bus berjalanan dan kursi semakin sempit karena over capasity, dinikmatin aja bro! Hehehe.

Saya tiba di terminal kecil di pinggiran Pushkar. Sayangnya langit tak bersahabat. Hujan rintik mulai menyapa. Saya sempat cek pakai maps.me jarak dari terminal ke penginapan yang sudah saya pesan. Jaraknya 2 km. Jalan kaki sih nggak jauh, tapi karena rintik, saya putuskan untuk naik bajaj.

Harga awalnya 100 rupee. Saya tawar setengahnya, dan deal di angka 60 rupee. Sialnya, begitu saya naik bajaj, maps.me mengoreksi jarak yang tadinya 2 km jadi 700 meter saja lol. Hujan juga mendadak berhenti dan langit cerah. Ah, memang rezekinya si abang bajaj.

Begitu tiba di depan penginapan, saya membayar dengan uang pas. Nih ya buat yang mau ke India, selalu sediakan uang receh biar mengurangi drama saat pembayaran.

Bangunan di sekitar Danau Pushkar

“Loh kenapa Cuma 60 rupee? Tadi bukannya deal 70 rupee?” ujar si sopir bajaj.

Hmm mulai deh lagu lama. Khas India banget. Menghadapi sopir bajaj model begini saya selow saja. Udah biasa. Saya bilang aja, “I’ve told you before 60 rupeee. SIX-ZERO, right? So please, don’t try to scam me!” ujar saya tegas. Mendengar itu, si sopir akhirnya memutuskan untuk pergi. Ya, gak perlu bahasa Inggris sekelas Cinta Laura kok untuk marah-marah di India hahaha.

Saya menginap di sebuah hotel kecil bernama Moon Light. Sebetulnya ini rumah yang oleh pemiliknya dijadikan penginapan. Pemiliknya bernama Mr.Raju. Orangnya cukup ramah walaupun saya merasa aktivitas saya terus diawasi selama di sana. Hmm, apakah karena saya diam-diam mencuci pakaian dan kancut saya tanpa menggunakan jasa laundrynya? Hahaha.

Jalanan kota Pushkar. Manusia dan sapi saling berebut jalan.

Saya memesan private room kecil seharga 200 rupee atau sekitar Rp.44.000/malam. Lumayanlah, walaupun kamarnya kecil, ranjangnya usang, dan tanpa kamar mandi dalam plus berlokasi di area roof top, saya sih senang-senang saja, ya. Lebih senangnya lagi, saya diizinkan untuk early check in. “Gak masalah kok kalau kamarnya memang tersedia, tamu bisa langsung masuk ke kamar,” ujarnya.

Jadilah, begitu diizinkan masuk kamar, saya langsung mandi dan istirahat sejenak. Perjalanan lumayan melelahkan karena semalaman saya harus berjaga di kereta. Sambil berselacar di dunia maya menggunakan WiFi-nya yang lumayan, saya memutuskan untuk memesan makanan ke Mr.Raju untuk makan siang sebelum saya memutuskan untuk keluar hotel dan menjelajah Pushkar.

Kena Jebakan Holy Man Palsu

Hotel Moon Light jaraknya tak terlalu jauh dari Danau Pushkar, destinasi wisata utama di Pushkar. Dari hotel, saya sempat galau mau ke mana dulu. Niatnya mau ke Kuil Savithri dulu yang berada di perbukitan. Saya sudah jalan menuju ke sana tapi jauh banget dan saya bingung rutenya. Jadilah saya berbelok dan memutuskan ke danau dulu.

Pushkar kota kecil yang hidup. Di mana-mana nampak toko yang menjual beraneka macam dagangan. Sapi banyak berkeliaran di jalanan sempit tak ubahnya kota Varanasi. Makanya harus ekstra waspada, soalnya banyak ranjau.

Menuju Brahmanji Temple

Bebekal aplikasi maps.me, saya berjalan menuju Brahmaji Temple. Kuil utama di Pushkar. Sebelum ke sana, saya sudah tahu bahwa ada semacam jebakan yang berhubungan dengan holy man. Saya sudah baca di buku perjalanan. Pun, saat bertemu Ege –traveler asal Turki, yang jadi satu room mate dorm di Udaipur, Ege mengingatkan. “Mereka akan minta donasi. Sebagai ganti kamu akan diberi gelang yang terbuat dari benang.”

Ya, di buku perjalanan yang ditulis oleh Mbak Rini Raharjanti juga sudah diingatkan soal keberadaan orang suci yang ntah asli apa palsu ini. Di buku itu Mbak Rini bilang bahwa jika sudah memiliki gelang, maka saya tidak akan “diganggu” lagi oleh holy man/penjaga di sana.

“Kasih saja mereka 50 rupee, Haryadi,” ujar Ege.

Nah, saya sih niatnya mau menchallange diri sendiri. Niatnya saya nggak mau terkena jebakan holy man ini. Sayangnya, “kejahatan” seputar gelang benang dan donasi ini nampak sangat terorganisir dengan rapi. Penjagaan di tiap-tiap ghat/dermaga danau juga sangat ketat.

Tempat saya kena jebakan holy man. Sesajen di piring harus dibuang di kolam kecil di bawah itu.

Saat kebingungan mencari Brahmaji Temple, saya dipandu oleh seseorang pendudul lokal. Dia nampak sangat terpelajar. Dia berjalan menunjukkan pintu masuk dan kemudian dia pergi setelah mempertemukan saya dengan pengurus kuil. Nah, di sinilah jebakan itu bermula.

“Hayo lepaskan sepatumu, kamu harus berdoa di bawah,” ujarnya.

Saya cuek dan asyik berfoto. “Kamu bisa dapat foto yang lebih bagus dari bawah sana,” ujarnya lagi.

Mau gak mau saja melepaskan sepatu. Padahal di sana banyak sekali kotoran euy, huaaa. Dari kotoran tikus, burung sampai yang besar-besar seperti kotoran sapi.

“Ini kamu pegang dulu piring ini dan berdoa di bawah sana.”

Dia mencoba memberikan saya sebuah piring berisi rempah-rempah. Saya tolak, tapi dia berkata, “don’t worry. This is free. You’re lucky because today is festival,” ujarnya. Walau ragu, saya akhirnya mengambil piring itu. Saya lalu dipertemukan dengan seseorang yang mengaku priest. Lelaki bertampang seram yang jauh dari kesan orang suci ini lalu mengiring saya untuk mengikuti perkataannya. “Hayo ikuti doa saya,” ujarnya.

Pemandangan indah ini tidak dapat saya nikmati dengan baik.

Para warga mandi di danau. Err, para emak-emak santai aja telanjang dada di sini loh. Hohoho.

Saya menolak dengan keras. “I can’t do that,” ujar saya.

Tapi dia memaksa. Tatapannya tajam dan bola matanya membesar. Jadilah, mantera-mantera yang diucapkannya saya ikuti walau dalam hati mengumpat haha. Untungnya doanya kemudian berganti dalam bahasa Inggris yang saya paham. Doanya universal semacam, “lindungi keluarga kami blablabla.”

“Nah, sekarang kamu buang isi nampan ini di danau, lalu kamu dapat berdonasi,” ujarnya.

Ngehe,bukan! Hahahaha. Saya merutuki kebodohan diri saya sendiri yang dapat masuk ke dalam perangkap mereka.

Di bibir danau, saya bertemu sepasang traveler. Saya coba ajak bicara. “Sepertinya kita sama-sama kena jebakan,” ujar saya membuka obrolan.

Tipikal bangunan di sekitar Danau Pushkar.

Saya lupa siapa nama mereka, yang jelas sepasang traveler asal Amerika Serikat ini menyambut obrolan saya dengan tertawa.  “Haha iya, kita senasip. Tapi kau tak usah khawatir, kasih saja mereka sedikit uang dan pergi dari sini,” ujar si bule perempuan.

Saya balik ke atas, dan dicegat oleh si holy man abal-abal. “Okay, saatnya kamu berdonasi. Berapa yang akan kamu donasikan?” tanyanya.

“50 rupee,” jawab saya.

Mendengar itu, dia terperanjat. Saya menikmati kekagetan yang ntah betulan apa sekadar akting, tak ubahnya peran sebagai orang suci palsu yang ia lakoni.

“Yang benar saja, orang lain biasa berdonasi 100 sd 200 dolar,” ujarnya.

Mendengar itu, gantian saya yang (pura-pura) kaget. “Hah, yang benar saja? Saya mana punya duit sebanyak itu!” cecar saya.

“Kalau kau mau berdonasi dengan rupee, kau lihat di papan itu, minimal 2500 rupee,” ujarnya sambil menunjuk papan tarif donasi yang berada di bagian dalam pos penjagaan. Sinting, kan! Berdonasi kok dipaksa gini? Ini mah namanya pemerasan!

Saya mengeluarkan uang 50 rupee dan memberikan kepadanya. “Saya hanya ada uang segini. Jika kamu mau, silakan ambil, jika gak mau, ya sudah saya bawa pulang.”

Keliatan kan ceceran kotoran sapinya? ini agak mendingan, di area lain bertumpuk-tumpuk iiyyy

Si orang suci ini melihat saya dengan kesal. Saya pasang muka lempeng. Tak lama diambilnya juga uang itu dan dia berlalu pergi. “Hei, mana gelangnya?” pinta saya. Tapi, dia tak mengindahkan ocehan saya. Oke fix, saya udah “kehilangan” uang 50 rupee, gak dapat gelang pula.

Saya berlalu ke atas, mengenakan sepatu dan beranjak keluar dari pintu gerbang kuil. Sampai di luar, saya bertemu lagi dengan pemuda-berpenampilan-terpelajar-tetapi-tukang-jebak itu. Dia menyapa saya, “udah di dalam?” tapi saya diamkan saja sambil menatap tajam ke matanya. Tatapan seolah berkata, “Gila ya lo, ngejebak gue!” Melihat tatapan saya itu, dia diam saja.

Berusaha Mencari Ghat Lain

Saya keluar dan menyurusi jalanan kota Pushkar. Ntah kenapa, hari itu Pushkar ramai sekali. Beberapa kali saya berpapasan dengan iringan penduduk yang mengendarai bus. Sepertinya mereka penduduk kota sebelah. Mereka heboh banget! Rata-rata mobilnya dipasang sound system dan terdengar musik keras.

Warga lokal dengan mobil yang berisik!

Saya berkeliling dan menemukan beberapa ghat lain. Saya coba masuk. Tapi belum apa-apa saya sudah dicegat, disuruh ambil piring sesajen. Saya keras menolak. “Kau tidak lihat jidat saya, hah? Saya sudah didoakan di ghat sebelumnya,” cecar saya galak. Maklum, masih kesal.

“Kalau sudah berdoa, mana gelang kamu?” tanyanya.

“Nggak tahu, mereka nggak kasih, padahal saya sudah kasih uang.”

Dia melihat saya yang rada emosi dengan agak takut. Aslinya sih saya yang keder hahaha secara itu wilayah kekuasaannya, kan. Saya lantas melepas alas kaki di mana di area ini lebih banyak lagi kotoran hewannya. Ya ampun, ini tempat ibadah kok ngehe amat ya? Beda banget dengan Golden Temple di kota Amritsar yang tenang dan nyaman.

Di ghat ini saya dicegat lagi

Nampak sepi, tapi ada penjaganya ghat-ghat ini

Saya mengambil foto dengan cepat. Tidak banyak objek menarik di sana. Saya lantas memutuskan pergi dan coba cari ghat lain. Sayangnya, rata-rata semua ada penjaganya. Lelah akan drama, saya mengalah. Saya terus berjalan dan mencari jalur lain menuju danau.

Akhirnya nemulah jalan setapak yang sepi. Saya masuk ke sana dan tidak ada orang. Saya ambil gambar, lalu tiba-tiba ada seorang kakek menegur dan membentak saya. “Hei, gak boleh foto sini. Kalau mau foto dari ghat sana.”

Ada turis asing –kaukasian di belakang saya. Mendapati kakek pemarah itu, kami memilih pergi dan berpisah jalan. Saya terus berjalan, melewati pertokoan tapi tak kunjung menemukan ghat lain yang tak berpenjaga. Lelah, saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel.

Di dalam itu Danau Pushkar, tapi saya udah illfeel mau masuk apalagi jika penampakan jalannya kayak gini

Celengan donasi di hampir setiap ghat

Mood saya berantakan. Saya sudah malas ke Savithri Temple. Yang ada di pikiran saya saat itu hanya ingin duduk santai di balkon hotel. Sialnya, saya nyasar berkali-kali karena peta yang ditampilkan maps.me ngaco. Saya seolah masuk ke sebuah labirin yang melewati jalanan yang sama berulang-ulang.

Setelah beberapa kali nyasar, akhirnya saya tiba di hotel dan memesan minuman hangat ke Mr.Raju. Saya ceritakan pengalaman saya, dan dia tidak berkomentar apa-apa seolah maklum dengan praktik kecurangan yang ada di sekitaran Danau Pushkar.

Tak lama, area rooftop ramai. Para traveler yang menginap di Moon Light nampak duduk santai di balkon. Ada yang main kartu, ada yang nonton film melalui laptop. Malam tiba, tak ada satupun dari mereka yang beranjak ke luar hotel. Saya nggak bicara banyak dengan mereka, tapi sepertinya mereka juga mendapati pengalaman tak menyenangkan selama berada di Pushkar.

Padahal kalau mood bagus, foto di sini cakep deh hehe

Ghat lain menuju danau. Liat loncengnya deh, dililit kawat gitu. Keseringan dicuri orang kali ya haha

Teka teki ini terjawab saat saya kembali bertemu para traveler ini di bus kaleng yang akan mengantarkan saya kembali ke Ajmer. Dari cerita mereka, jelas sudah bahwa kami terperangkap di jebakan yang sama. Pertanyaan selanjutnya, apakah pengelola tempat wisata di sana tahu? Mesti tahu! Tapi sepertinya mental jelek mereka belum cukup untuk mengubah pengelolaan terhadap tempat wisata ini.

Saya tidak menyesal datang ke Pushkar. Tapi, saya berjanji dalam hati untuk tidak mendatangi kota ini lagi. “Hah, jadi kapok ke India?” oh kalau ke India-nya sih nggak. Malah kalau bisa sih tiap tahun ke sana hehehe. Pengalaman jelek semacam ini sih dijadiin seru-seruan aja. Lumayan kan buat posting di blog wakakakak.

Iklan

16 thoughts on “Kena Jebakan Holy Man Palsu di Pushkar, India

    • Mau gak mau ke bawah kalau mau liat Danau Pushkar. Tapi kata temen ada ghat di dekat masjid yang bebas penjaga. Tapi aku gak nemu ghat yang dimaksudkan.

  1. Macam film warkop ya. Maju kena mundur kena. Kmana aja di India selalu saja kena drama. Wkwkkwkw

    Tp bener sih om, sepulangnya dr sana justru drama2 itu jd cerita seru. No drama no party. Wkwkwkwk

  2. Wakakakaka mirip kayak di Varanasi, waktu Ganga Aarti pendeta-pendeta nyocolin tika ke jidat dan minta duit. Aku dong lempeng ngacir masa bodo. Giliran pas di ghat pembakaran mayat. Ada yang nyerocos ngedoain di api abadi, dan bisa ditebak. Minta duit wkwkwkw. Ngasih dikit ya ngamuk-ngamuk, giliran aku amuk diam wkwkw.

    Asli ingin menantang diri sendiri lagi ke tempat-tempat scam begitu, secara sudah agak sedikit kebal ahahaha. Btw aku juga minta izin orang stasiun buat istirahat, padahal tiket ekonomi murah haha. Turis menang klo untuk itu wkwkw.

    • Tapi dulu pas pertama 2005 ke India, di stasiun Kolkata cukup ketat. Kalau bukan pemegang tiket AC, gak dibolehin masuk hehe. Untung dulu tiket AC. Aku liat ada yang ditolak. Eh bisa jadi ditolak karena dia orang lokal juga kali ya :p

  3. Ping-balik: Menatap Sirik ke Unta Genit di Padang Pasir Jaisalmer, India | Omnduut

  4. Baca tulisan ini jadi ingat tulisan serupa yang ditulis oleh Agustinus Wibowo di bukunya yang “Titik Nol”. Kesannya sama, di sana banyak holy man palsu wkwkwkwk.

    Agaknya kalau ke India solo backpacker dan baru pertama kali ke sana, agak rawan ya mas?

    • Iya, di mana-mana banyak holy man palsu. Di kota lain juga banyak. 🙂

      Rawan gimana kah? nggak ah, aman kok. Apalagi buat kamu yang udah ngerasain road trip ke Sumatra, India kecil maaah hehe.

      • Rawan kriminal gitu sih mas.
        Teman Jermanku pernah cerita kalau di hari pertama di India dia udah lgsg kena copet haha.

        Tp sepertinya itu tergantung kewaspadaan kita masing-masing ya.

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s