Pelesiran

Rekor Eksplor Satu Negara “Hanya” 2 Jam Saja di Luksemburg!

.

Namanya juga baru pertama kali ke Eropa, sebagai tukang jalan berbudget rendah tapi tetep mau pamer, “eh saya sudah pernah ke sana, loh!” maka wajib hukumnya kunjungi banyak destinasi walaupun waktunya gak banyak hwhwhw. Go ahead to judge me, ora peduli. Toh yang ngejalaninnya saya sendiri. Pun, termasuk ketika ada orang yang menjustifikasi perjalanan kamu, abaikan saja gaes, wong dia gak bantu sumbang duit beli tiket atau kasih uang jajan, kan? Hahaha.

Duh, belum apa-apa kok udah insecure gini tulisannya, Yan!

Haha, ya saya maksudnya memperjelas saja. Maklum, judul tulisan ini rada clickbait. Jadi, saya hanya menerjemahkan apa yang ada di pikiran (sebagian besar dari) pembaca yang (mungkin) ngebatin, “ya ampun sayang banget kalau cuma 2 jam!” Eh, sebenarnya nggak 2 jam banget juga. Toh, saya sudah tiba di Luksemburg sehari sebelumnya.

“Trus, kenapa judulnya pakai kata 2 jam?”

Ya karena memang itulah waktu yang saya punya untuk eksplorasi kotanya. Dan, kenapa bisa hanya 2 jam, ada ceritanya. So, disimak sambil ngemil apalah atuh biar gak emosi, ya! Eh kalau camilannya banyak, saya maulah dibagi heuheu.

Sekilas Tentang Luksemburg dari Kacamata Seorang Ray

Di Luksemburg, lagi-lagi saya mengandalkan couchsurfing untuk menghemat biaya akomodasi. Alhamdulillah, di tempat yang nama negara dan ibukotanya sama ini saya tak terlalu kesulitan dalam mendapatkan host. Ialah Ray, seorang guru di sekolah berkebutuhan khusus yang kemudian bersedia menampung saya dan adik. Ray tinggal seorang diri di sebuah apartemen di kawasan perbukitan. Memang agak pinggiran, tapi masih jangkauable kok. Cukup naik bus sekitar 15 menit, sampe deh.

Sah menginjakkan kaki di Luksemburg.

Ray adalah salah satu host yang berkesan. Bagaimana tidak, saya dan adik tiba di apartemennya dalam keadaan sangat lapar haha. Dan, ternyata Ray sudah menyiapkan makanan buat kami. Kedengarannya sederhana, ya! Tapi, untuk ukuran Eropa, ini termasuk satu hal yang langka 🙂 kisah lengkap pengalaman saya menggunakan couchsurfing di Eropa dapat dibaca di sini, ya!

Sembari masak, saya banyak mendapatkan informasi mengenai Luksemburg dari Ray. Negara yang termasuk di daftar negara kecil di dunia ini berbatasan langsung dengan Perancis, Jerman dan Belgia. Biaya hidup di Luksemburg lumayan tinggi. Makanya, banyak para pekerja yang memilih tinggal di negara lain yang kotanya berada di perbatasan.

Pemandangan dari jendela apartemen Ray

Jadi, seru ya! Bisa bergaji berstandar Luksemburg tapi biaya hidupnya ala Jerman misalnya hehe. Luksemburg sih punya bahasa resmi yang disebut Luxembourgish, ya! Tapi negara ini juga mengakui 3 bahasa resmi lainnya, yakni bahasa Perancis, Jerman dan Belanda. Nah, bagi yang berencana mau kerja di sini, paling gak harus menguasai bahasa-bahasa ini hehe.

Saya dan adik menghabiskan waktu cukup lama berbincang dengan Ray sebelum kemudian dia pamit untuk beristirahat. Saya sendiri juga langsung beristirahat setelah menumpang mandi di apartemennya yang punya view super indah. Coba lihat pemandangan dari jendela apartemennya, gimana gak betah coba? Hahaha.

Pertemuan-Pertemuan dan Salah Perhitungan di Musim Gugur

Sejak merencanakan perjalanan, saya sudah memilih bus jam 12 siang untuk kemudian berpindah ke kota/negara selanjutnya yakni Heidelberg, Jerman, kota di mana saya sempat jatuh dan terjerembab itu loh. Dalam pikiran saya dulu, “lumayanlah, bisa eksplor Luksemburg dari pagi sampe siang.”

Yang saya nggak ngeh itu, saya berangkat di musim gugur di mana matahari aja baru muncul di atas jam 8 pagi haha. Dan, cuaca pagi musim gugur itu lumayan dingin. Jadilah, niat yang tadinya pamitan dari apartemen Ray sekitar pukul 7, yang ada, saya dan adik baru keluar dari apartemennya sekitar jam 9:00 berbarengan dengan waktu bekerjanya Ray.

Old Town kota Luksemburg

Melewati lorong-lorong di bawah tebing

Tipikal jalanan di Luksemburg. Khusus pejalan kaki.

Luxembourg City.

Tipikal rumah warga. Tepat di old townnya.

Saat kami keluar rumah saja jalanan masih sepi. Kayaknya masih pada asyik krungkelan di balik selimut warganya hahaha. Dengan mengendarai bus dengan ongkos 2 euro (well, di Luksemburg harga tiket bus antar kotanya flat. Jauh dekat 2 euro saja), kami berjalan menuju Luxembourg Central. Di sana, saya dan adik berpisah dengan Ray.

Sebelumnya, Ray sudah menyiapkan peta sederhana coretan tangannya sendiri. Dia memberikan rute-rute menarik yang dapat kami eksplor di Luksemburg. Wah lumayan banget, kami dikasih tahu short cut menuju destinasi-destinasi yang memang sebelumnya sudah saya incar.

Saat berpisah yang diakhiri dengan foto bareng, saya melihat ada satu orang berwajah Asia. Saya sih yakin dia orang Indonesia. Tapi, segan juga kalau SKSD menyapa eh tahunya bukan haha. Makanya, untuk menarik perhatian, saya sengaja berbicara keras kepada adik.

“Yoklah jalan, kayaknya mau hujan, nih.”

Dan, gotcha! Trik saya berhasil haha. Beliau yang tadinya sudah melewati kami akhirnya berbalik badan dan menyapa kami. Nganu, mungkin beliau ngiranya saya orang Korea Selatan. Ya maklum, muka ganteng macam oppa gini susah dideteksi keIndonesiaannya hahahaha. Muntah nggak ditanggung loh, ya!

Yang menyapa kami namanya Pak Mahdi.  Asli Indonesia yang ternyata tinggal di Jambi. Pengusaha sukses ini mengaku sudah berkeliling Eropa sekian lama seorang diri. Yang saya salut, Pak Mahdi melakukan perjalanan ini secara acak. Ya, nggak acak-acak banget, tapi dia berpindah tempat sesuai suasana hati. Bekalnya, europe train pass  1 bulan yang memudahkan mobilitas Pak Mahdi.

Ntah bangunan apa ini. Saya nggak masuk.

Tapi sempat intip isi bangunannya. Museum kali, ya!

Sisi lain kota tuanya.

“Mantab, itu mahal banget pak harganya,” ujar saya.

“Iya mahal memang. Tapi sepadan karena saya bisa naik kereta sepuasnya untuk berpindah tempat,” jawabnya.

Benar juga. Jika memiliki kartu sakti itu, mobilitas jauh lebih mudah karena mencakupi banyak sekali negara di Eropa. Lagipula, sebelum ke Eropa, Pak Mahdi udah keliling banyak negara termasuk destinasi  di Afrika sana. Hebat, kan!

Kami lantas jalan bareng mengeliling Luksemburg. Modalnya cukup berjalan kaki mengikuti arahan Ray yang sebelumnya saya dapatkan. Untungnya, sebagian besar objek wisata menarik di negara ini berada di kawasan kota tuanya. Sebut saja Larochette, The Bock Casements atau The Walls of the Corniche yang berada di sekitaran kota tua.

Jadi, cukuplah bagi saya untuk mendatangi tempat-tempat ini saja karena keterbatasan waktu. Ada sih beberapa kastil yang cakep banget, tapi lokasinya lumayan jauh. Ya sudah, cukuplah di kota tuanya saja. Lagian saya sudah cukup senang bisa berjalan kaki santai mengekplorasi kawasan kota tuanya.

Impian dari Sebuah Kartu Pos itu Akhirnya Lunas.

Hasrat untuk mengunjungi negara ini bermula di tahun 2014 lalu saat saya menerima kartu pos yang memperlihatkan kota tuanya. Cakep banget! Eh, saya mah kalau dapet kartu pos mesti jadinya mupeng hahaha. Tapi yang satu ini beda sih, ntah kenapa, ada hasrat lebih besar untuk dapat mengunjungi negara yang pernah mendapatkan julukan sebagai European Capital of Culture sebanyak 2 kali ini.

Alasan lainnya, mungkin karena kota/negara ini juga termasuk dalam daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO sebagaimana kota Brugge yang sebelumnya saya datangi. Makanya, sebagai pemburu UNESCO WHS, saya makin ngebet untuk dapat berkunjung walaupun waktunya terbatas hahaha.

Kartu pos yang saya terima tahun 2014 lalu. Baru tercapai didatangi 4 tahun kemudian.

Yeay, akhirnya bisa pose di lokasi yang sama!

Sepanjang perjalanan mengitari kota tua, saya banyak ngobrol sama Pak Mahdi. Terutama tentang kisah hidup dan kegigihannya dalam berdagang sehingga bisa sukses dan membuatnya berkeliling dunia. Yang saya salut, Pak Mahdi melakukan perjalanan mostly seorang diri.

“Kalau ke negara yang nyaman kayak Jepang dan mau liburan santai, baru saya ajak anak dan istri,” ujarnya. “Kalau tipe berpetualang kayak gini, saya biasanya sendiri.”

Pak Mahdi bahkan berniat untuk ajak saya jalan bareng suatu saat nanti. Ajakan yang saya aminkan karena rezeki dari Allah Swt kadang datang tak terduga, sebagaimana pertemuan saya dengannya. Kami jalan santai banget. Beberapa kali duduk cukup lama sambil menikmati pemandangan dan camilan. Ya, masing-masing dari kami saling bertukar biskuit hehe.

Setelah melewati bagian benteng dan hutan, tibalah saya di tempat yang dulunya saya lihat di kartu pos. Haaaa, luar biasa bahagianya. Akhirnya satu lagi destinasi impian yang berhasil saya datangi. Jika moto blog galeri kartu pos saya itu, “menatap dunia melalui kartu pos,” maka dengan berhasilnya saya mendatangi satu demi satu destinasi yang tadinya saya lihat di kartu pos, maka makin yakinlah saya tentang mestakung itu hehehe.

Perjalanan menyusuri jalanan benteng.

Jembatan Adolphe yang jadi ikon kota.

Ada skate park yang bisa diakses gratis!

Waktu menunjukkan hampir 11 siang saat kemudian saya dan adik berpamitan dengan Pak Mahdi. Saya memang masih punya 1 jam sebelum naik bus ke Heidelberg, tapi, saya masih punya satu janji pertemuan dengan Suhendro, anak Palembang yang tengah magang di Jerman. Wajib banget jumpa, soalnya dia udah bela-belain ke Luksemburg demi berjumpa saya.

Dengan mengendarai bus lagi (kali ini gratis, karena tiket 2 euro saya itu berlaku 2 jam. Kalau mau berlaku seharian, beli tiket terusan seharga 4 euro), saya segera menuju Luxembourg Central. Nah, di sebuah restoran kebab, saya dan Suhex (sapaan akrab saya) akhirnya berjumpa setelah pertemuan terakhir di Palembang.

Nah ini di ujung tebing sisi lainnya.

Di sini saya berpisah dengan Pak Mahdi.

Bangunan di Luksemburg.

Next time semoga bisa masuk ke bangunan-bangunan ini.

Suhex yang aslinya mahasiswa universitas mentereng di London ini berada di Luksemburg untuk magang. Dari Suhex, saya banyak mendengar cerita lagi tentang kehidupan masyarakat Eropa khususnya di Luksemburg. Ya, suka dukanya lah. Walaupun hidup di negara maju enak, tapi ya tetap saja ada gak enaknya. Misalnya susah nemuin bakso dan sate hehehe.

So, itu dia kisah petualangan saya selama 2 jam mengitari kawasan kota tua Luksemburg. Masih banyak yang dapat didatangi tapi sungguh saya tidak menyesal memutuskan datang ke kota ini. Selain kotanya memang cantik, ada pertemuan-pertemuan istimewa di kota ini. Sebetulnya ada satu teman lagi yang tadinya mau saya jumpai, namun beberapa saat sebelum saya tiba ke Luksemburg, teman saya ini –Mia, harus pindah ke Geneva, Swiss.

Gakpapa, artinya ada banyak alasan untuk saya kembali ke Eropa, bukan? Hahaha.

Iklan

32 thoughts on “Rekor Eksplor Satu Negara “Hanya” 2 Jam Saja di Luksemburg!

  1. Aduh duh aku pengen kayak Pak Mahdi keliling gitu. Sebenarnya banyak orang Indonesia yang hebat berpetualang di belahan dunia. Sayangnya tidak semua mendokumentasikan ceritanya hiks. Btw lihat foto-fotonya aku bakalan nginep dua harian deh klo ke Luksemburg. Tjakeeeeep.

    Sama sih kayak aku, mumpung jalan jadi rakus pengen banyak tujuan meski waktu mepet wkwkw.

    • Lucunya aku sempat nanya, “Pak gabung di grup jalan-jalan gak di FB?”

      Dijawabnya, “nggak. Duh saya gak ngerti gituan.” Wakakak. Beliau udah pernah “ditangkap” di India dan ke Pakistan seingatku. Sukanya ke negara-negara aneh gitu Lid haha. Iya, yang model dia banyak, cuma gak eksis di sosmed. Jalan karena emang suka jalan aja.

  2. Hadu haduh. Bingung mau komen yang mana dulu.

    Kadang kepikiran dengan orang-orang yang punya pemandangan super dari jendela mereka. Apa mereka pernah bosen ya? Apa Ray pernah merasa kalo pemandangan dari jendelanya itu B aja?

    Hahahahaa. Trik yang memang paling ampuh buat ngecek orang Indonesia apa bukan, ngomong kenceng kenceng. Saya sempet sih karena saking yakinnya langsung bilang, “Orang Indonesia yaaaa?” Nggak habis pikir kalo ternyata bukan! Wkwkwkwk.

    Kotanya sepi ya Mas. Asik banget. Banyak kota kota begini di Eropa yang nampaknya aja sepi, pas ke sana ternyata rame banget.

    • Hmm mungkin bukan bosan, tapi rasa antusiasnya akan berkurang dari hari ke hari. Tapi ntahlah dengan Ray. Di teras belakangnya dia punya ayunan dan saat komunikasi dan ngabarin kalo kami akan terlambat dia bilang, “gakpapa, aku akan tunggu. Lagian aku lagi asyik duduk di ayunan.”

      Di pagi hari, dia akan “meditasi” selama 15 menit dengan membuka jendela rumahnya dan duduk diam, kayak yoga gitu sambil memandang ke alam.

      Haha, soal menyapa, aku beberapa kali kejadian. Ternyata orang Malaysia. Tapi gakpapa, tetep seru hihi, bahkan bisa jalan bareng 🙂 kota ini gak begitu ramai memang. Di centralnya lumayan banyak, tapi untuk ukuran Eropa tetap sepi. Lebih ramean kecamatan tempat aku tinggal hahaha

      • Ah, I’m pretty sure he’s never got bored. 😁

        Ehehehehe. Iya sih Mas. Karena aku sendiri (kita?) lebih sering dikira orang Jepang dan China bahkan Ladakhi dari pada dikira rumpun Melayu. 😁

        • Hahaha iya sama. Mungkin karena mata sipitku ini. Kalo disapa orang (India terutama), aku malah suruh mereka nebak. Dan gak ada yang bener hehehe.

          • Wkwkwkwk. Pernah aku disapa ‘Ni Haaoo’ pas lagi papasan. Pas aku jawab ‘Im not Chinese’. Eh dia yang kekeuh tebak tebakan.
            “Japanese? Korean?”

            Aku cuma ber. “Nope. Nope. Keep guessing.”

    • Kalo benar akan dapet gelas lucu atau payung cantik! hahaha.

      Aku yang item ini aja disangka orang Jepang, cemmana kalau aku putih? bisa-bisa ada cewek Jepang beneran yang naksir, muahahahaha

  3. Hahaha. Sebagai sesama flashpacker, tos mas! Kemarin pas cerita sama temen aku ke Hong Kong sama Macau cuma 4 hari juga dinyinyitin, katanya rugi. Well, rugi enggaknya kita yang ngerasain sih, karena gue nggak terpaku pada uang.

    Luxembourg ini memang menarik karena bangunan-bangunan tuanya dan suasana tenangnya. Mungkin kalo aku bisa ke sana, bakal stay 1 malam dan seharian penuh eksplor.

    Trikmu menarik, next time kucontoh deh

  4. Bagus banget ya kota dengan pohonnya warna warni gitu, padahal fall season ya, tapi daunnya masih ada (bukannya harusnya gugur ya wkwk). Ini Masyan jam berapa sih kelilingnya? Kok masih sepi betul sampai siang. Hari weekend kah?

    • Jam 10 pagi. Dan ini hari kerja 🙂 Antara semua udah sampe di kantor/sekolah kali ya, jadi keliatan sepi. Kalau di centralnya sih lumayanlah, walau tetap sepi untuk ukuran satu kota.

  5. Ya ampun, Luksemburg sekecil itu ya. Eksotik sekali negaranya. Musim gugur memang waktunya peluk guling sampai siang Om. Kamu kepagian kalau mau eksplor kota jam 7/8 pagi. Suhunya bikin masuk angin, bagus-bagus gak mimisan. hahahaha. Apalagi pas winter datang, matahari baru benar-benar keliatan pukul 10 di Eropa.

    • Walaupun kecil, ternyata posisinya nomor sekian belas di daftar negara terkecil di dunia. Berarti masih lumayan gede ya ini.

      Iya, jam 10 aja masih dingin hehe

  6. Jangan insecure mas, hehehe, walau 2 jam juga kalau sukses menikmati kotanya pasti akan punya banyak cerita dan pengalaman. Sometimes saya juga cuma sehari dua hari saja di satu kota biar bisa loncat-loncat dengan cepat, soalnya kadang kalau kelamaan pun rugi juga (rugi uang hahahaha) dan sebenarnya dari post ini juga membantu banget sih untuk teman-teman yang nggak punya banyak waktu tapi tetap mau menikmati satu kota penuh 😀 saya juga jadi penasaran sama couchsurfing, belum pernah coba hihi~

  7. Waduh bikin mupeng nih. Aku langsung mikir keras gimana atur buat ke sana ya? Jatah cuti tahun depan udah buat ke negara lain. Mungkin tahun 2021 baru bisa ke Luksemburg

  8. Sebuah tutorial yang menarik. Hehehe. Tapi misal pas kita jalan sendiri dan nggak ada partner orang Indonesia gitu gimana ya mas? Teriak-teriak sendiri? **Responnya langsung gini : ya kalau situ mau, yo monggo. tapi aku tidak merekomendasikan XD

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s