“Penatlah, berhenti dulu kejap. Ambik gambar kat sana dulu.”
Hei, siapa itu? Mendengar Bahasa yang dapat saya pahami jelas satu hal yang jarang terjadi. Secara, saya lagi berada di India, kan! Walaupun banyak wisatawan Indonesia yang datang ke India, tapi India itu luas dan belum tentu ketemu di tempat yang sama. Jikapaun ketemu, belum tentu enak diajak jalan bareng.
Suara itu rupanya berasal dari salah seorang pengunjung wanita. Saya lihat, dia datang bersama kawannya. Melihat mereka berdua kepayahan menaiki jalanan terjal dan kesulitan mengambil foto, spontan saya menawarkan diri, “sini biar saya yang bantu foto.”

Dari jauh aja kemegahan benteng dan istananya sudah terlihat.

Berada di atas bukit dan besar sekali!

Saya bertemu Debby dan Aisha di sekitaran tangga ini.
Mereka kaget, tapi gak lama langsung ngobrol santai bak kawan lama. Kami berkenalan. Mereka adalah Debby dan Aisha, dua sahabat yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia.
Honestly ketimbang ketemu WNI, saya lebih senang ketemu orang Malaysia kalau lagi pelesiran. Menurut pengalaman, mereka jauh lebih welkom, nggak jaim dan sok ekskulsif haha. Jadilah, tanpa dikomandoi, kami bertiga jalan bareng menyusuri Amber Palace/Amber Fort yang menjadi bagian dari UNESCO WHS ini.
Jalan Menuju Benteng Raksasa di Atas Bukit
Menjelang berakhirnya perjalanan 2 minggu saya keliling Rajashtan, barulah saya berkesempatan mendatangi Benteng Amber atau yang dikenal juga dengan Benteng Amer ini. Di awal kedatangan ke India, saya masuk lewat Jaipur dan sempat mendatangi Istana Angin Hawa Mahal.
Baru di 2 hari menjelang pulang saya spend waktu khusus eksplorasi Benteng Amber ini. Itu pun gak cukup banyak waktu, sebab hari Jumat dan saya harus salat Jumat. Beruntung sopir bajaj yang saya sewa beragama Islam dan sejak awal dia udah janji mau ajak saya salat di masjid bersama.
Dari pusat kota Jaipur letak Amber Fort ini sih gak begitu jauh. Letaknya di kawasan Amer, sebuah distrik dengan luas 4 km persegi.

Gak mau capek jalan? bisa naik gajah. Tapiiii… sebaiknya nggak usah karena gajah bukan “kendaraan”
Terletak di atas Cheel ka Teela atau Bukit Elang, itu yang menjadi keistimewaan Amber Fort ini. Secara letak, mirip dengan Mehrangarh Fort yang saya datangi sebelumnya di kota Jodhpur. Tapi karakter 2 benteng ini terlihat berbeda. Mehrangarh lebih tua dan usianya 565 tahun sedangkan Amber Fort baru dibangun pada tahun 1592 (dan usianya “baru” 432 tahun).
Ketika diturunkan sopir bajaj di pinggir jalan, saya harus melewati sebuah danau yang cukup luas. Danau Maota Namanya dan rupanya menjadi sumber air utama di Istana Amer yang berada di bagian dalam benteng.
Saya kira, sejak di pintu awal pengunjung sudah diharuskan membayar tiket. Eh rupanya tidak. Jadi, dengan berjalan kaki di tangga yang lumayan menanjak, pengunjung dapat menuju lapangan besar di dalam benteng sebelum kemudian membeli tiket.

Loket pembelian tiketnya ada di sisi kiri itu

Bagian depan istananya.

Alun-alun bentengnya lumayan luas.
Kalau gak mau capek sih bisa naik gajah. Tapi ya ogah sih selain mahal, gajah juga bukan hewan tunggangan, kan.
Nah, biaya tiket masuk ke bagian dalam istana sebesar 500 rupee atau sekitar Rp.100.000. Jadi, kalau pengunjung mau eksplor benteng sih gratis. Bisa duduk-duduk di banyak kursi yang tersedia. Bisa lihat pemandangan juga dari atas benteng. Tapi, kalau mau masuk ke dalam istananya ya harus bayar. Untunglah Debby dan Aisha juga berminat masuk. Lumayan ada temennya dan kami bisa saling foto bareng, yekan.

Kelihatan gajah di bawah dan benteng lain di ujung situ kan?
Menuju Bagian Dalam Istana
Istana Amer adalah contoh menawan peninggalan arsitektur Rajput. Beberapa bangunan dan karyanya mempunyai pengaruh arsitektur Mughal. Dibangun dari batu pasir merah dan marmer, istana mewah dan menarik ini terletak di empat tingkat, masing-masing dengan halaman.
Terdiri dari Diwan-e-Aam, atau “Aula Audiensi Umum”, Diwan-e-Khas, atau “Aula Audiensi Pribadi”, Sheesh Mahal (istana cermin), atau Jai Mandir, dan Sukh Niwas di mana iklim sejuk diciptakan secara artifisial oleh angin yang bertiup di atas air terjun di dalam istana. Oleh karena itu, Benteng Amer juga dikenal sebagai Istana Amer.

Area istana yang dapat dilihat wisatawan.

Bagian dalam istananya.

Yang kukira kolam ternyata danau. Itu sumber air utama pada masanya.
Istana ini merupakan kediaman para Rajput Maharaja dan keluarga mereka. Di pintu masuk istana dekat Gerbang Ganesh benteng, terdapat sebuah kuil yang didedikasikan untuk Shila Devi, Dewi pemujaan Chaitanya, yang diberikan kepada Raja Man Singh ketika ia mengalahkan Raja Jessore, Benggala (sekarang Bangladesh) pada tahun 1604.
Dikarenakan Raja Man Singh mempunyai 12 ratu sehingga dia membuat 12 kamar, satu untuk setiap ratu. Setiap kamar memiliki tangga yang terhubung ke kamar Raja tetapi Ratu tidak boleh naik ke atas. Berbeda dengan Raja Man Singh, Raja Jai Singh hanya mempunyai satu ratu jadi dia membangun satu ruangan yang setara dengan tiga kamar ratu lainnya.
Saat berada di sana, saya tidak melihat kamar-kamar itu sebab tidak semua ruangan dapat dimasuki oleh wisatawan. Walau begitu, bagian istana lain seperti Shessh Mahal atau Istana Cermin, Diwan-e-Aam atau Aula Audiensi Publik atau juga taman yang berada di sekitaran paviliun Jai mandir yang didesain sedemikian rupa agar aliran angin dapat menciptakan iklim di sana menjadi lebih sejuk.
Banyak sekali spot foto menarik di benteng ini. Secara bergantian, saya, Debby dan Aisha saling membantu mengambilkan gambar. Bukan hal yang mudah mengingat tempat ini didatangi lebih dari lima ribu orang setiap harinya.

Sebagian atapnya udah nggak ada. Hmm atau juga emang dari dulu bentuknya seperti ini, ya.

Aku suka view semacam ini.

Area samping yang berbatasan langsung dengan benteng lain.
“Mau permen?” tawar saya kepada keduanya.
“Hmm, apa permen ini kau beli di India?”
“Tidak, saya membawanya dari Indonesia.”
“Oh kalau begitu saya mau,” ujar Debby sambil tertawa. “Saya hanya terbayang video-video di youtube yang memperlihatkan mereka mengolah makanan menggunakan kaki,” sahutnya lagi.
Saya paham, perkara permen bukan berarti menjadikan mereka rasis terhadap negeri ini. Namun, mereka jadi lebih selektif atas sesuatu yang akan masuk ke perut mereka.
Jejak Kerajaan Meena & Kachwana
Amber adalah negara bagian Meena, diperintah oleh klan Susawat. Setelah Kakil Deo mengalahkan Susawat, dia menjadikan Amber ibu kota Dhundhar setelah Khoh. Tak jauh dari Amber Fort terdapat pula sebuah sumur besar bernama Panna Meena Ka Kund. Nanti saya akan tulis terpisah tentang sumur itu. Yang jelas, sumurnya gak sebesar Chand Baori yang ada di Abhaneri, sih.

Membayangkan anggota kerajaan ratusan tahun lalu duduk santuy di pendopo itu.

Lorong menuju bagian lain. Luas banget istananya.

Semacam menara pemantau.

Dua petugas yang tengah berjaga.
Pada masa awal, negara bagian Jaipur dikenal sebagai Amber atau Dhundhar dan dikendalikan oleh kepala Meena dari lima suku berbeda. Mereka berada di bawah kekuasaan Bargurjar Rajput Raja Deoti. Kemudian seorang pangeran Kachhwaha, Dulha Rai, menghancurkan kedaulatan Meenas dan juga mengalahkan Bargurjars dari Deoli dan mengambil Dhundhar sepenuhnya di bawah pemerintahan Kachwaha.
Benteng Amber awalnya dibangun oleh Raja Man Singh. Jai Singh I mengembangkannya pada awal tahun 1600-an. Perbaikan dan penambahan dilakukan oleh penguasa berturut-turut selama 150 tahun berikutnya, hingga Kachwaha memindahkan ibu kotanya ke Jaipur pada masa Sawai Jai Singh II, pada tahun 1727. Eh ngomongin soal Kachwaha, ingat gak beberapa waktu lalu saya pernah nulis pusat krematorium Gatore Ki Chhatriyan? Nah keluarga Kachwaha dikremasi di sana.
Pada periode abad pertengahan, Amer dikenal sebagai Dhundar (artinya dikaitkan dengan gunung pengorbanan di perbatasan barat) dan diperintah oleh Kachwaha dari abad ke-11 dan seterusnya – antara tahun 1037 dan 1727 M, hingga ibu kota dipindahkan dari Amer ke Jaipur. Sejarah Amer terkait erat dengan para penguasa ini ketika mereka mendirikan kerajaan mereka di Amer.

Sepertinya inilah Benteng Jaigarh yang dimaksud.
Tak jauh dari Amber Fort terdapat pula Benteng Jaigarh. Nah, keduanya berada di rangkaian perbuktan Aravalli yang sama sehingga Istana Amer dan Benteng Jaigarh dianggap satu kompleks terlebih keduanya dihubungkan oleh lorong bawah tanah. Jalur ini dimaksudkan sebagai jalan keluar pada masa perang untuk memungkinkan anggota keluarga kerajaan dan orang lain di Benteng Amer berpindah ke Benteng Jaigarh yang lebih kokoh.
Batal ke Terowongan
Istana ini dibagi menjadi enam bagian terpisah namun utama, masing-masing memiliki gerbang masuk dan halamannya sendiri. Pintu masuk utama melalui Suraj Pol (Gerbang Matahari) yang mengarah ke halaman utama pertama. Ini adalah tempat di mana tentara akan mengadakan parade kemenangan dengan hadiah perang mereka sekembalinya dari pertempuran, yang juga disaksikan oleh kaum wanita keluarga Kerajaan melalui jendela berkisi-kisi.
Gerbang ini dibangun secara eksklusif dan dilengkapi dengan penjaga karena merupakan pintu masuk utama ke dalam istana. Karena menghadap ke timur menuju terbitnya matahari, makanya dinamakan demikian. Iring-iringan kerajaan dan pejabat memasuki istana melalui gerbang ini.
Jaleb Chowk adalah ungkapan bahasa Arab yang berarti tempat berkumpulnya tentara. Ini adalah salah satu dari empat halaman Istana Amer, yang dibangun pada masa pemerintahan Sawai Jai Singh (1693–1743 M). Pengawal pribadi Maharaja mengadakan parade di sini di bawah komando panglima tentara atau Fauj Bakshi. Maharaja biasa memeriksa kontingen penjaga. Di sebelah halaman terdapat kandang kuda, dengan ruangan di tingkat atas ditempati oleh para penjaga.

Banyak penjaga yang bertugas di sekitaran Amber Fort.

Pose dulu hehe

Jendela lain yang memperlihatkan pemandangan yang cakep.
Bagian lain yang kami datangi adalah panel marmer berukir “bunga ajaib” di dasar salah satu pilar di sekitar istana cermin yang menggambarkan dua kupu-kupu yang melayang, bunganya memiliki tujuh desain unik termasuk ekor ikan, teratai, kobra berkerudung, belalai gajah, ekor singa, tongkol jagung, dan kalajengking, yang masing-masing dapat dilihat dengan cara khusus menyembunyikan sebagian panel dengan tangan.

Salah satu area taman di tengah istana
Selain itu, ada pula taman yang terletak di antara Jai Mandir di timur dan Sukh Niwas di barat, keduanya dibangun di atas platform tinggi di halaman ketiga, dibangun oleh Mirza Raja Jai Singh (1623–68) yang berpola garis Chahar Bagh atau Taman Mughal. Letaknya di tempat tidur cekungan, berbentuk desain heksagonal. Itu ditata dengan saluran sempit yang dilapisi marmer di sekitar kolam berbentuk bintang dengan air mancur di tengahnya. Air untuk taman mengalir secara mengalir melalui saluran dari Sukh Niwas dan juga dari saluran air terjun yang disebut “ceruk chini khana” yang berasal dari teras Jai Mandir.
Di sebelah selatan halaman ini terletak Istana Man Singh I, yang merupakan bagian tertua dari benteng istana. Pembangunan istana ini memakan waktu 25 tahun dan selesai pada tahun 1599 pada masa pemerintahan Raja Man Singh I (1589–1614). Itu adalah istana utama.

Ini pendopo yang saya maksudkan.
Di halaman tengah keraton terdapat baradari atau pendopo berpilar, lukisan dinding dan ubin berwarna menghiasi kamar-kamar di lantai dasar dan atas. Kami sempat duduk lama di Paviliun ini (yang dulunya diberi tirai untuk privasi) sembari membayangkan ketika pavilion ini dulu digunakan sebagai tempat pertemuan para maharani (ratu keluarga kerajaan). Seluruh sisi paviliun ini terhubung dengan beberapa ruangan kecil dengan balkon terbuka. Pintu keluar dari istana ini mengarah ke kota Amer, sebuah kota warisan dengan banyak kuil, rumah megah, dan masjid.

Pintu menuju terowongan

Mundur teratur setelah melihat tempatnya gelap dan sempit hahaha

Menuju pintu keluar

Debby dan Aisha, teman perjalanan yang menyenangkan selama di Amber Fort.

waah gede banget istana dan bentengnya. Kalo ke sana sekalian masuk istana lah walau bayar lagi, toh udah jauh2 ke India.
Aku tahu Amer dari serial Jodha Akbar karena dia putri Rajput kan. Nama keponakannya Man Singh (seingatku) tapi gatau ini apa Man Singh yg sama dengan yg disebut di tulisan ini.
Mengenai permen buatan prindavan yaa begitulah…
Nah karena aku gak nonton Jodha Akbar jadi gak paham juga aku mbak. Tapi bisa jadi emang ada kaitannya dan tokohnya sama dengan yang dimaksudkan.
Sangat menarik sekali perjalanan mengeksplore Amber Fort. Bahkan sempat bertemu dengan dua orang wisatawan dari Malaysia. Pastinya lebih menyenangkan karena ada teman yang bisa saling take foto ataupun video. Sudah gitu keduanya sangat ramah dan bersahabat.
Takjub, melihat setiap sudut. Apalagi mas Yayan ini jago foto. Jadi setiap jepretan yang dihasilkan seolah memperkaya cerita perjalanan kali ini. Megah dan luas banget istana nya. Kebayang berjam-jam berkeliling dengan catatan mengikuti aturan area mana yang boleh dikunjungi dan tidak boleh.
Salut sama arsitektur pada masa tersebut, beneran brilian banget kepikiran ngebangun sedemikian megah, luas dan detail tiap tempat ada khas nya gitu.
Part bertanya terkait permen emang iya sih yang kebayang aneka cara ngolah makanan yang aduhhh bikin pusing liatnya 😅 Jadi wajar banget lebih berhati-hati soal makanan.
Beruntung juga dapat supir Bajaj yang muslim sehingga bisa jumatan dengan nyaman.
Haha ya, soalnya yang banyak beredar di video kan pengolahan makanan yang sangat gak higienis. Alhamdulillah bawa permennya dari Indonesia ^^
Iya beruntung di Jaipur banyak pertemuan yang menyenangkan. Dari sopir bajaj yang asyik hingga duo traveler Malaysia yang seru.
arsitekturnya unik banget mas, sangat terasa kental nilai historis nya dan sepertinya masih cukup terawat. Andai bangunan2 kerajaan masa lampau di Indonesia juga bisa seterawat ini ya…
Aku baru tau kalo orang malay bisa lebih friendly daripada orang Indo. Padahal technicaly orang Indonesia lebih banyak etnis ya 😅
Oya, claustrophobia itu takut sama santa claus ya mas? Hehehe
Haha pengalamanku begitu sih ya. Mungkin karena beda negara jadi gak jaim. Orang Indonesia yang aku temuin kelewat jaim, jadi susah buat ngobrol padahal ya gak lama-lama amat ketemunya di satu resto atau tempat. Tapi mungkin merekanya lagi gak mode basa-basi jadi dimaklumi.
Bukan dong, claustrophobia itu phobia terhadap claus padang. Kalau claus tiram gakpapa. Eh hehe
Istana dan benteng luas dan megah ya. Sebenarnya tanpa perlu ada larangan masuk ke ruangan tertentu, kayaknya sehari juga gak cukup deh mengelilingi tempat ini. Ohya, kalau yang terowongan, gak ada larangan masuk kah dari pengelolanya? Mungkin terowongan itu digunakan ketika mereka berperang ya di jaman dulu? Jd pinisirin… dan sukaaa lihat foto2nya semua ^_^
Yang terowongan bebas masuk tapi kurasa ada batas juga jangan sampe pengunjung terlalu masuk ke dalam dan tersesat. Kayaknya di batasan tertentu ada pintu besinya deh hehe cmiiw.
setujuuu, ketemu orang Malaysia di LN itu mereka malah lebih ramah drpd WNI kebanyakan 😅🤣.
aku sukaaaaa fort ini mas 😍😍. Apalagi pas liat view nya menghadap perbukitan hijau begitu ❤️. Cantiiiik banget. Jadi kesannya ga gersang.
ga kebayang megahnya fort ini saat di masa keemasannya yaa.
salut kalo liat bangunan2 sejarah di India. Krn yg aku baca semuanya itu udh lama, ratusan tahun tp masih keurus bangetttt. Bukti pemerintahannya peduli juga dengan peninggalan sejarah begini 😍❤️.
ga sabar pengen ke India. Tapi kebalikan dengan Debby dan Aisyah, aku malah semangat utk icip street foodnya hahahahahah
Haha iya, aku juga udah niat nih mbak, kalau balik ke India lagi mau spesial: street food. Pengen ngerasain makanan yang aneh-aneh dan belum pernah aku coba walau tetap harus liat tempat sih. 4 kali ke sana, aku ambil aman terus soal makanan (tetap beli di pinggir jalanan tapi menunya itu-itu melulu: chowmien)
Baca ini plus liat foto2 nya sambil bayangin ini sie guede buanget istananya….dulu dihuni berapa orang ya…dan dibangun sampai berapa generasi bisa sampai semegah itu…
Indis sepertinya banyak peninggalan kerajaan-kerajaan ya mas, entah kerajaan besar ataupun kecil dan semua mempunyai cirikhas nya masing2 tapi beneran aku baca yang ini takjub sie gede banget itu liat gajahnya saja sampai keliatan kecil…
Btw lama juga yamas jelajah sampai 2 minggu, selama itu aman mas dengan kuliner india??hehe
Overall aman mbak, mungkin juga karena perutku termasuk kuat sebab biasa makan cuko pempek pagi-pagi haha makanya di sana gak pernah diare. Lucunya diarenya malah setelah tiba di Malaysia sebab langsung hajar makan sambel sebab 3 minggu gak nemu di India.
Untuk jumlah penghuni istana ini terus terang aku gak tahu, tapi rasanya bisa ratusan orang termasuk para pekerjanya.
Keren sekali Mas, hafal secara detail ya lokasi-lokasinya, saya kalau traveling di tempat-tempat sejarah gini suka lupa-lupa namanya apa pas mau dicatat jadi tulisan, dulu sering liatin beberapa film india tentang kerajaan termasuk kerjaan rajput kurang lebih memang seperti ini kondisi dan suasana kerajaannya, termasuk benteng amer ini lupa ada fi film apa ya, Jhoda Akbar atau apa ya saya lupa-lupa, penasaran jadi pengen lihat aslinya ke sana
Terima kasih wikipedia haha, sebagian besar detail infonya aku ambil di sana mbak, dan situs penunjang lain kl di wikipedia gak nemu yang pas.
Kayaknya bener Jodha Akbar.
mau juga kesini, entah kapan terealisasinya
bentengnya bener-bener luas, megah, diliat dari jauh aja udah berdiri kokoh.
sejam keliling benteng ini ga bakalan cukup buatku, pastinya kalau aku nemu spot foto bagus, ya bakalan poto poto sampe puas.
bangunan bersejarah di India masih terjaga sampe saat ini, keren, pemerintah setempat juga perhatian sama peninggalan sejarahnya. kalau masih berdiri gini, generasi muda selanjutnya jadi tau seperti apa bangunan zaman dulu, nggak hanya sekedar baca dari buku sejarah aja
Karena banyak pemasukan dari wisata, seharusnya memang bangunannya terjaga dengan baik. Jadi sama-sama senang, wisatawan juga hepi karena tempat yang didatangi sesuai espektasi, pemerintah dapat pemasukan untuk pemeliharaan 🙂
Bangunannya luas banget ya. Unik jg warnanya kuning tanah gitu.. keren wisata sejarah semacam ini. Kebetulan bgt ketemu sama duo sahabat itu mas, jd gak sendirian deh keliling Amber Fort.. hehe
Alhamdulillah.
aaaack suka sekali tulisan ini. Berasa balik lagi ke Amber Fort. Menakjubkan sih tempat ini. Sejarahnya, Kisahnya, arsitekturnya, suasananya. Tapi satu yang diingat adalah gajah-gajah yang hilir mudik di jalanan. Foto2mu Bagus OmNduut. Waktu kesana ga puas eksplor buat foto2. Banyak angle cantik yang dirimu dapatkan disini
Kadang emang begitu mas Aip, kalau baca tulisan temen tentang destinasi A, aku mikir, “loh kok gak kepikiran ke bagian itu/foto di situ” hehe. Semoga nanti bisa balik lagi ke India ya amiiin
Amin YRA. Perlu waktu juga sih buat explore, waktu itu bawa ortu , jadi konsentrasi terpecah
istananya keren banget lho ini. Masih kokoh kayaknya. Kebayang aja gimana kehidupan mereka saat berada di masa jayanya.
Iya.
Diriku pernah Amber Fort dan benar-benar terpukau dengan keindahan dan kemegahannya! Arsitektur yang rumit, ukiran yang detail, dan pemandangan Jaipur dari atas benteng sungguh menakjubkan. Rasanya seperti diajak kembali ke masa lalu.
Ada kejadian menegangkan waktu aku dteriakin ama polisi karena lewat jalur “lain”hahahaha
wah jalur mana tuh? haha. Kalau cuma diteriakin abaikan, cuma kl sampe kena tangkap ngeri juga. Aku soalnya pernah ditangkap di dalam Taj Mahal hahahaha.
Penasaran banget, maaff yaa, omnduut ijin tanya.
Ini di India kan panasnya mungkin bisa jadi 11 12 ama Jekarda kan..
Dengan bangunan Istana Amer yang sebegini tingginya, apakah terasa aliran udara agar gak panas?
Aga gimana yaa.. kalau baca sejarah itu.. suami istrinya sampek berpuluh puluh gitu, huhuhu.. katanya demi kestabilan politik. Tapi bisa hebat gitu tinggal serumah.
Dih, maapp omnduut, pikiranku melayang kemana-mana.
Hebatnya yaah.. bangunan bersejarah di India tuh semuanya terbuka dan boleh dijelajahi yaa… gak ada “Panggon singit”, istilahnya.
Kalo di Indonesia, katakanlah kayak Lawang Sewu, ajaa.. ga semua ruangan dibuka. Ada yang masih forbidden karena ada “kisah serem” mewarnai dan belum dapat ijin.
Nah hebatnya walaupun panas, di dalam bangunannya gak kerasa, mungkin karena plafonnya tinggi, jendelanya banyak dan berada di ketinggian sehingga angin juga banyak.
Ya, zaman dulu mereka menikah karena politik. Kawin anak raja A biar bestian kerajaannya dsb. Nah kalo kayak Lawang Sewu, benar di Amber fort juga gak semua ruangan dibuka, mungkin dijaga agara gak diacak-acak wisatawan ^^
Aah, tetep ada yaa.. ruangan yang gabole dimasukin wisatawan. Kalau masa kini, di India masih ada Raja gitu gasi, omnduut?
Di Indonesia kan masih ada yaa.. Sri Sultan Hamengkubuwono.
Seriously,
Naik gajah itu rasanya emejing kalo sebentar yaak…
Kalo aga jauh, cape juga kali, nahan badan keganjruk-gajruk.. Secara dudukannya juga bukan bantal yang empuk gitu kaan..
Nggak ada lagi setahuku mbak di sana. Ntah kalo yang ngaku-ngaku keturunannya ya haha soalnya di Palembang jg ada 2 kubu yang saling klaim keturunan sultan Palembang hwhw.
Jikapun ada yang ngaku sebagai keturunan langsung raja di sana, kayaknya gak punya andil apa2 juga, gak kayak sultan Yogya yang merangkap jadi gubernur.
Tapi kalau ketemu aku lagi traveling jangan sungkan loh hihihi Insya Allah aku ga ekslusif kok.
Lama juga ya keliling di Rajashtan 2 minggu puas eksplore berbagai tempat deh meskipun gak bisa terlalu lama ya stay disatu lokasinya.
Siapkan fisik ya kalau ke sini bakal banyak jalan kaki. Kalau di sana ga dibedakan ya tiket warga lokal dan turis gak kaya di sini 🙂
Puas banget aku baca postigannya serasa jalan-jalan ke Amber fort beneran
Pastinyaaa haha, kita terakhir ketemu di mana ya mbak? udah lama banget. Sayangnya dulu gak banyak waktu ngobrol ya.
Di sana dibedakan tiketnya mbak, ada yang timpang banget kayak Taj Mahal, ada juga yang gak jauh beda dan pada dasarnya udah murah kayak Hawa Mahal.
Kalau saya berkesempatan ke sana, kayaknya bakal dari buka sampai tutup. Itu lihat semua fotonya cakep-cakep banget. Kayaknya setiap beberapa langkah bakal berhenti untuk foto. Gak berani juga sendirian. Kelihatan luas dan saya takut nyasar hihihi.
Haha ya, ada tempat2 yang pengen didatangi seharian, tapi karena waktu terbatas harus salat Jumat jadi terpaksa pulang dan udahnya juga harus main ke tempat lain.
Benteng dan istana Amer luas banget. Sepertinya untuk melihat area yang dimilikinya gak cukup sehari mengelilinginya ya. Arsitektur bangunannya unik.
Perkara permen dan makanan jadi sesuatu yg menyiagakan kepala kalau dolan ke India ya, krn video2 cara mengolah makanannya yg tersebar diberbagai plaform medsos.
Haha ya, walau sebetulnya yang produksi permen secara higienis juga banyak di India.
Woooow, asli takjub banget lihat foto Benteng Amber dan juga istananya ini, ternyata luas banget bangunannya ya. Salut banget dengan pemerintah India yang masih merawat bangunan bersejarahnya ini dengan sangat baik. Semoga nanti saya bisa datang ke sini juga, pengen lihat langsung kemegahan istana dan benteng ini. 🙂
Amiin, semoga ada kesempatannya.
Ga nyangka ya Pak, indah banget peninggalan sejarah yang mereka miliki. Bangunannya emang kelihatan vintage asli tapi dipadu sama view alamnya malah makin indah.
Alhamdulillah.
Kalau membicarakan Amer, dan Rajput jadilah keinget sama serial Jodha Akbar, hehe. Apalagi nama Man Singh yang merupakan keponakannya ratu Jodha. Apa bangunan istananya itu, tempat syutingnya ya? mirip sih.
Meski begitu, terbilang ciamik sih ini, karena masih terjaga bangunannya ya, sehingga siapapun bisa melihat secara langsung, sambil mempelajari sejarahnya juga
Wah, banyak juga fans Jodha Akbar haha. Soal lokasi syuting aku kurang tahu mbak, soalnya gak nonton. Tapi kurasa dilakukan di studio dan sebagian adegan diambil di sini. Cmiiw.
Dak heran kalau Fort Amer jadi salah satu situs mendunianya UNESCO. Aku pelan-pelan melamati foto-foto di atas aja langsung paham. Tak terbayangkan bagaimana ratusan tahun yang lalu, ada sekian banyak orang yang memiliki kemampuan merancang, menata, dan melahirkan karya seni bangunan dan ukiran, hingga lahirlah benteng rasa istana ini. MashaAllah. Merinding aku Yan.
Untuk aku pribadi, India sebenarnya dak masuk dalam wish list ku. Tapi setelah baca ini seperti Rajashtan patut masuk dalam agenda. Kalau aku sih pasti ngajak kawan supaya bisa maksimal foto-foto. Aku tipe orang yang gak pedean pake tripod atau alat bantu foto dan video hahaha. Jadi lebih seneng kalau ada yang motretin.
Beruntung ya Yan bisa ketemu duo cewek dari Malaysia itu. Kesempatan bisa ketemu teman jalan dan saling motret. Mereka pasti juga senang betul dipotretin Yayan.
Setuju yuk, lebih oke kalo ajak kawan yang minimal punyo kemampuan foto basic. Jadilah, yang penting biso diarahin dan dak mbebel haha. Aku pun termasuk yang dak pede pake tripod, dan perasaan aku jelek terus kl foto pake tripod haha. Jadi kebantu kl ketemu kawan di perjalanan yang biso motret.
hihihi ditawarin permen pun parno
Saya penasaran, kok Mas Haryadi bisa jalan-jalan ke destinasi unik seperti ini, solo traveling atau ikut grup?
Juga penasaran dengan jamban mereka. Sekarang aja masih sejorok itu, gimana dulu ya?
Untuk perjalanan yang ini dilakukan sendirian ambu 🙂
Lebih enak sebetulnya jalan sendiri, cuma emang gak bisa patungan haha. Gak bisa share ongkos bajaj atau penginapan.
Ratunya raja banyak amat ya, Mas. Sampai 12 atau selusin hahaha.
Tapi benteng Amber ini memang keren sekali, Mas. Arsitekturnya sangat juara. Juga sangat terawat. Saya seperti ikut menyusuri benteng Amber bersama Mas Haryadi. Semoga saya bisa ke sana juga. Aamin. Segera meluncur youtubenya Mase nih.
Hwhw ya zaman itu pernikahannya pun politik. Nikahin putri dari kerajaan A untuk perluasan kekuasaan dsb. 🙂
molly juga ketemu ibu2 malaysia pas di masjidil haram dan mereka emang ramah2. ternyata ibu2 itu dosen dan beliau cerita pernah ke palembang =D
Alhamdulillah.
seluas itu lokasinya, buat saya membayangkan udah lelah banget sepulangnya ini. langsung tepar. Hehe…
btw beda saat pelesiran kali ya, kalau saya saat jadi TKW, justru senang banget kalau ketemu sesama WNI. Mau bagaimana pun serasa jumpa tetangga atau sodara. Hehe…
Aku juga seneng banget kl ketemu orang Indonesia di negara luar. Pas ke Hongkong ketemu mbak2 TKI ternyata satu provinsi. Cuma gak semua orang mau diajak ngobrol haha.
Amber Fort di datangi 5 ribuan orang setiap harinya, wow…
Tapi emang bagus banget sih ini, boleh saya situs kan ya, walau usianya “baru” 400 tahun lebih. Untung ya ketemu sama Debby dan Aisha, jadi bisa gantian memotret
Iya, soalnya Jaipur masuk golden traingle (bersama Agra dan Delhi) sebagai kota yang banyak dikunjungi
Bentengnya megah, luas dan terawat ya, India menjaga betul warisan budayanya, mana pengunjungnya ribuan setiap orang..senang banget akhirnya wishlist bisa tercapai ya yan….
Alhamdulillah makasih mbak Dew