Lainnya

Mengawal Wak Tini, Tukang Pijat Mualaf Menuju Baitullah

KISAH SI TUKANG PIJAT

Satu hari, saat melintasi pelataran Masjid Nabawi di Madinah, tiba-tiba saja pandangan saya tertuju kepada sosok perempuan tua yang duduk seorang diri sambil terus menatap keindahan masjid yang dibangun langsung oleh Rasulullah SAW ini.

Ntah apa yang ia rasakan saat itu. Apakah dia merasakan haru yang sama seperti yang saya rasakan? Sangat mungkin karena tak sedikit orang yang harus melalui perjuangan panjang untuk sampai ke tanah suci.

Wanita ini seolah tak peduli dengan aktifitas manusia yang ada di depannya. Yang dilakukannya hanya duduk terpaku sembari sesekali melantunkan kalam Ilahi. Di tengah kesendiriannya seolah ia ingin berkata, “biarkan aku menikmati momen-momen indah ini.” Dan, saya pun yang tak sengaja melihat akhirnya berlalu pergi untuk memberikan ruang agar ia dapat menikmati semua itu.

Ah, saya jadi teringat seseorang yang dari celotehan-celotehannya tergambar jelas bahwa ada keinginan di hatinya untuk datang ke tanah suci. Sosok sederhana yang secara tidak langsung banyak membantu keluarga kami di saat-saat yang membutuhkan jasanya.

Sosok hebat itu bernama Tini. Ntah apa nama lengkapnya, yang jelas saya dan anggota keluarga lain biasa memanggil beliau dengan embel-embek “uwak” di depannya. Saya tidak tahu berapa usia pasti Uwak Tini. Saya taksir, usianya sudah lebih setengah abad. Rambutnya saja sebagian sudah memutih. Walau begitu, tenaganya masih kuat dan Alhamdulillah, dengan tenaganya itulah beliau menghidupi keluarga.

Sehari-hari, Uwak Tini berprofesi sebagai tukang pijat keliling. Pekerjaan ini setidaknya sudah ia lakoni sejak belasan tahun lalu. Sebelum itu, pelbagai pekerjaan sudah ia lakoni. Dari bekerja sama orang hingga berjualan pempek keliling.

“Dulu, Uwak sering lewat rumah kalian ini saat jualan pempek. Yayan juga dulu sering beli,” ujarnya suatu kali.

Terus terang saya tidak ingat. Apalagi Uwak Tini bilang, ia terakhir kali berjualan pempek keliling di akhir tahun 90-an. Nah, tahun segitu saya aja masih SD. Ingatan saya terhadap dirinya sangat terbatas. Uwak Tini ini ternyata bukan orang baru. Saat awal-awal menikah di tahun 80-an, ia tinggal di kampung yang sama dengan ibu dan ayah saya. Bahkan ia tahu banyak sejarah percintaan ayah-ibuku hingga kemudian ayah dan ibu memutuskan untuk menikah.

Saat Memutuskan Untuk jadi Mualaf

Jika kalian berkesempatan jumpa dengan Uwak Tini, tanpa bertanya lebih lanjut, pasti sudah dapat menerka bahwa beliau keturunan Tionghoa alias orang Cina sebagaimana yang biasa disebutkan masyarakat Palembang. Palembang sendiri memang termasuk kota yang multi-kultur. Gak hanya orang melayu, berbagai orang dengan latar belakang suku di Indonesia tersebar di Palembang. Termasuk para “pendatang” seperti dari Cina dan India.

Konon, orang Cina sudah datang ke Palembang sejak tahun 1407. Dan, Sultan Mahmud Badarudin I yang memimpin Kesultanan Palembang Darussalam antara tahun 1724-1757 pun menikahi putri kerajaan Cina dan memiliki anak keturunan hingga kemudian populasi orang Cina di Palembang semakin banyak.

Orang Palembang sendiri secara perawakan memang mirip seperti seorang Tionghoa. Rata-rata orang Palembang asli berkulit kuning langsat dengan perawakan sedang. Orang Palembang memang terkenal cantik dan ganteng. Uhuy!

Masjid Nabawi, tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan. Semoga Wak Tini dapat berziarah langsung ke sana nanti.

“Ayuk* dulu mualaf saat menikah, ya?” Tanya ibu saya suatu kali saat beliau memberikan pijatan kepada saya.

“Sebelum menikah sudah jadi mualaf. Dulu kan tinggal di kampung mulai belajar-belajar tentang Islam,” jawab Uwak Tini. Ternyata, selain Uwak Tini sendiri, ada saudara lainnya yang juga memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Yang saya salut, sebagai mualaf, Uwak Tini betul-betul menjalankan ajaran Islam dengan baik. Jika ngomongin ibadah salat, gak usah ditanya. Saya tahu betul kebiasaannya setiap kali datang ke rumah. Beliau selalu berhenti sejenak dan langsung salat ketika azan berkumandang.

Cerita-cerita Tentang Kehidupan

Kehidupan Uwak Tini berubah drastis pasca kepergian sang suami untuk selama-lamanya. “Meninggalnya mendadak, Yan! Uwak lanang itu kan kerjanya ngecat rumah orang. Pas pulang ke rumah tahu-tahu langsung meninggal. Kena angin duduk kalau kata orang.”

Saya mendengar ceritanya dengan saksama.

“Uwak waktu itu kerja toko di daerah seberang. Begitu dikabari, langsung pulang. Sedih sekali. Mana anak-anak masih kecil,” tambahnya lagi.

Tentang bagaimana kemudian Uwak Tini memutuskan menjadi tukang pijat, itu juga unik. Semua, berasal dari mimpi. “Suatu malam, uwak mimpi didatangi orang tinggi besar. Di hadapan uwak ada orang yang lagi berbaring. Uwak diminta untuk memijat orang tersebut. Uwak awalnya menolak, tapi sama si orang itu, uwak disuruh coba dulu.”

Pasca datangnya mimpi itu, Uwak Tini gak serta merta langsung jadi tukang pijat. “Prosesnya lama, awalnya majikan tempat uwak kerja gak enak badan. Uwak diminta tolong kerok. Uwak pijat-pijat sedikit, eh tahunya katanya enak. Barulah kemudian orang tahu dari mulut ke mulut.”

“Alhamdulillah, sekarang uwak kerjanya mijat orang saja. Bisa untuk makan, jajan cucu sama bayar listrik dan air tiap bulan aja uwak sudah senang,” sahutnya lagi.

Mengenai pijatan, Uwak Tini masih jadi yang terbaik menurut saya. Bayangkan, satu tangan aja bisa setengah jam sendiri dipijat sama beliau. Tak heran, sekali pijat seluruh badan bisa 2 sd 3 jam. Dan, begitu dapat slot pijat, keluarga lain di rumah tak mau ketinggalan. Maklum, sebagai tukang pijat, Uwak Tini ini laris manis, Alhamdulillah. Tiap hari, adaaa aja orang yang minta tolong dipijat. Akibatnya, agak susah minta tolong beliau jika mendadak.

Saya sendiri jika gak enak badan dan gak dapat slot pijat, saya rela nunggu 2 sd 3 hari hingga kemudian jadwalnya kosong. Soalnya jika pijat tempat lain percuma. Ujung-ujungnya akan kembali minta tolong beliau.

Yang bikin saya senang lagi, selama pijat Uwak Tini dapat bercerita banyak hal. Ya, tentang kehidupan sehari-hari yang tanpa sadari banyak mengandung nilai-nilai kebajikan walau saya yakin beliau bercerita tanpa maksud menggurui atau sok tahu.

“Lihat gigi depan uwak ini, Yan,” sahutnya. “Beberapa gigi uwak ini patah di depan Jalan Yaktapena itu. Uwak ditabrak motor oleh anak muda. Untungnya beliau gak lari, dan uwak diobati.”

“Anak uwak marah sama orang yang nabrak. Dibilangin uang pengobatannya gak seberapa. Buat ganti beli gigi baru aja gak cukup,” ujarnya sambil terus memijat.

 “Udahnya anak yang uwak marahi. Soalnya yang nabrak itu juga orang susah. Uwak ikhlas saja. Kan sudah ketentuan Allah semua itu, Yan.”

Dalam hati, saya setuju dengan apa yang ia katakan. Uwak Tini memang orang yang ikhlas menjalani hidup. Sangat nrimo kalau saya bilang. Saya salut dengan ingatannya.

Dia dapat menceritakan kejadian masa lampau dengan sangat detail bahkan hingga ke tanggal dan jam kejadian. Ceritanya juga macam-macam. Ada cerita sedih dan senang. “Namanya hidup ya, kadang ada yang niat jahat sama kita. Tapi ya sudah, sabar aja, Yan.” Ah salut saya, wak!

Kerinduannya Akan Tanah Suci

Saya terakhir kali minta tolong dipijat oleh beliau pasca menunaikan ibadah umroh. Benarlah kata orang bahwa ibadah ke tanah suci itu butuh fisik yang prima. Bayangkan, pulang ibadah 2 minggu saja saya langsung tumbang. Kegiatan di sana sangat padat dan mungkin karena perbedaan cuaca, bikin tubuh mudah drop.

Semoga nanti Wak Tini dapat melihat langsung Masjidil Haram ini

Jadilah, Uwak Tini hadir sebagai “penyelamat” dari kekakuan otot-otot saya dan juga dua adik yang beribadah ke tanah suci bersama.  Jadilah, seharian penuh Uwak Tini kami “booking” dari siang hingga malam. Mengetahui jika kami baru pulang dari Arab Saudi, beliau sangat antusias mendengarkan cerita kami.

“Itulah yang namanya rezeki, Yan. Alhamdulillah Yayan dan adik-adik bisa ke Saudi Arabia. Seperti apa sih Mekkah dan Madinah itu?”

Lalu mengalirlah cerita-cerita saya selama di sana. Uwak Tini hikmat mendengarkan sambil terus memijat saya. Sesekali dia menimpali cerita saya dengan pertanyaan lebih lanjut, atau mengkomparasinya dengan pengalaman ibadah umroh orang lain yang pernah ia dengar.

“Uwak banyak kenal orang yang bisa berangkat umroh atau bahkan haji bukan karena beliau orang kaya, Yan!” ujarnya. “Ada yang mesti nabung dulu lama, mengumpulkan rupiah demi rupiah. Ada juga yang pada dasarnya udah panggilan Allah, eh tahu-tahu diongkosin ke tanah suci.”

“Makanya uwak gak habis pikir dengan orang yang nipu jamaah umroh itu ya, kelewatan sekali.”

Saya menimpali cerita itu sekenanya. Dalam hati, saya turut geram dengan kejadian tersebut. Hiks. “Uwak gak pingin ke Mekkah?” Tanya saya iseng.

“Pasti pinginlah Yan. Doain aja, semoga ada rezekinya,” ujarnya menimpali.

“Gak terasa sudah mulai dekat puasa ya, Yan. Bulan depan udah Ramadan lagi.”

“Iya wak, kayak baru berapa minggu lalu puasa ya, eh tahu-tahu udah puasa lagi. Uwak puasa?”

“Oh pastilah Yan. Selagi sehat, uwak puasa. Sayanglah kalau nggak puasa,” jawabnya. “Uwak juga masih ngurut kalau emang ada yang minta tolong. Tapi ya nggak sampai malam lagi. Kan mau tarawih,” sahutnya lagi.

Uwak Tini udah gak muda. Namun semangatnya berpuasa patut diacungi jempol. Sebagai mualaf, ia berusaha menjalankan semua kewajiban yang ada. Ya, saya belajar banyak dari beliau. Dari seorang cina mualaf yang pekerjaannya “hanya” jadi tukang pijat itu.

Di sisi lain saya berharap juga agar keinginan Uwak Tini ke tanah suci dapat terwujud. Dari beliau saja juga belajar dan meyakini bahwa, “rezeki orang baik akan datang dari sudut-sudut tak terduga.” InsyaAllah Uwak Tini akan berangkat ke tanah suci. Sehat terus ya, wak!

*Btw, ayuk adalah kata sapaan untuk perempuan yang usianya lebih tua dalam bahasa Palembang.

Info tambahan, dengan berlakunya Keppres Nomor 12 Tahun 2014, maka semua kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dan penggunaan istilah orang dari atau komunitas “Tjina/China/Cina” diubah menjadi orang dan/atau komunitas “Tionghoa”. Penyebutan “Republik Rakyat China” diubah menjadi “Republik Rakyat Tiongkok“. Saya tetap memakai kata “Cina” ditulisan ini karena istilah itulah yang tetap akrab di telinga sebagian besar masyarakat di Palembang.

MENCOBA PERUNTUNGAN MENGANTARKAN WAK TINI KE BAITULLAH

Beberapa tahun lalu, Mbak Wiwik Waluyo, salah satu penulis hebat yang saya kenal membuat satu buku berjudul The Grand Me Time yang mengisahkan perjalanan spiritualnya ke Arab Saudi dalam melakukan ibadah umroh.

Buku itu ia produksi dan ia jual dengan niatan 100% keuntungannya untuk dipergunakan membiayai umroh seseorang.

Seseorang itu bisa berasal dari kota mana saja. Nah, untuk menemukan orang yang tepat, Mbak Wiwik mengadakan sebuah kompetisi, di mana orang-orang harus menceritakan sosok inspiratif yang ada di sekitarnya untuk kemudian ia berangkatkan umroh.

Saat itu, saya menceritakan Wak Tini. Sebagaimana yang saya ceritakan di atas, beliau memang pantas untuk mendapatkan kesempatan untuk mendatangi Tanah Suci tersebut. Kompetisi berjalan, kisah tentang Wak Tini yang saya ceritakan berhasil menduduki posisi 2 besar. Sosok inspiratif lain yang masuk ke grand final penilaian ialah seorang asisten rumah tangga yang juga mengimpikan dapat beribadah umroh.

Mungkin belum rezekinya Wak Tini, saat itu, Nek Yati, kandidat satunya itulah yang menang. Jujur saya kecewa, tapi tak lantas berkecil hati dan menyadari sepenuhnya bahwa kalau Allah Swt belum berkenan, maka ya nggak akan bisa.

Bebeberapa bulan berselang, muncul lagi sebuah kompetisi berhadiah umroh yang diadakan oleh salah satu perusahaan. Tata cara mengikuti lombanya pun mirip. Peserta harus menceritakan sosok inspiratif yang dinilai layak untuk memenangi hadiah umroh tersebut. Sayangnya, lagi-lagi kisah Wak Tini yang saya ceritakan belum mampu mengetuk hati para dewan juri.

Sementara, usaha saya untuk mengumrohkan Wak Tini masih belum berhasil.

KABAR MENGEJUTKAN DI AKHIR TAHUN

Saya lupa kapan tepatnya, namun saat itu, Desember 2020 beberapa hari menjelang pergantian tahun ketika saya menerima sebuah DM lewat akun instagram saya. Setelah saya cek, rupanya itu akun milik Mbak Erna, mutual friend saya di facebook.

Jujur saja, awalnya saya tak mengenal Mbak Erna secara dekat. Rasa-rasanya, di facebook pun kami hanya berinteraksi beberapa kali. Komunikasi kami tidak intens sebelumnya. Apalagi sampai ngobrol lewat fitur DM.

Saat itu saya sempat bingung kok Mbak Erna tiba-tiba nge-DM tak hanya menanyakan kabar saya, namun juga kabar Wak Tini, sosok inspiratif yang kisahnya pernah saya tulis untuk lomba dan saya sebarkan linknya di akun sosial media saya.

Bantu Wak Tini biar bisa salat langsung di Masjid Nabawi

Saat itu, saya menginformasikan jika kabar Wak Tini relatif baik. Walaupun usianya sudah menjelang 70 tahun, namun tenaganya masih kuat untuk mencari nafkah sebagai tukang pijat.

“Alhamdulillah jika Wak Tini sehat. Soalnya, saya berniat dan berencana untuk mengumrohkan beliau,” ujar Mbak Erna lagi.

Perasaan saya seketika membuncah senang luar biasa! Ya Allah, akhirnya niat baik saya mengumrohkan Wak Tini itu menuju titik terang lewat Mbak Erna, orang yang tinggal 3000-an kilometer dari Indonesia. Ya, Mbak Erna saat ini tinggal di Australia bersama suaminya.

Tak lama, komunikasi terjalin via telepon. Intinya, Mbak Erna meminta bantuan saya untuk “mengawal” proses keberangkatan Wak Tini menuju tanah suci. Tentu saja permintaan itu saya sanggupi dengan senang hati. Yang ada, saya sudah tak sabar untuk menemui Wak Tini dan mengabari hal ini.

MIMPI KETEMU ONTA

Sebelum menemui Wak Tini, lebih dulu saya mengontak Yuk Leni, salah satu anak beliau. Yuk Leni saya ajak ketemu dan saya ceritakanlah soal niat baik Mbak Erna itu untuk mengumrohkan ibunya.

“Jadi, silakan ayuk kabari dulu saudara yang lain. kalau nanti semua anggota keluarga lain berkenan, baru nanti aku ke rumah untuk ketemu dengan Wak Tini secara langsung.”

Walaupun ini niat baik, tetap saja saya harus minta izin ke anak-anak dan menantu beliau bukan. Sebab, siapa tahu ada yang kurang berkenan dengan alasan-alasan tertentu, terutama alasan kesehatan. Namun, untunglah, tak lama Yuk Leni langsung memberikan kabar bahwa semua anggota keluarga yang lain memberikan izin.

Onta yang ada di sekitaran Makkah

“Oke, nanti tanggal 1 Januari pagi aku ke rumah ya. Tolong rahasiakan dulu kabar ini biar jadi kejutan.”

Tepat di hari Jumat, 1 Januari 2021, saya mendatangi rumah kontrakan tempat Wak Tini dan anak-anaknya tinggal. Sebelumnya, saya juga sudah berkomunikasi dengan Mbak Erna untuk kemudian melakukan sambungan video call dan memberi tahu kabar itu.

Ada kisah di balik layar yang sedikit lucu. Saat saya tiba di rumah Wak Tini, mbak Erna masih belum merespon pesan saya. Saya maklum dengan perbedaan waktu dan juga kesibukan beliau. Makanya, saat ketemu Wak Tini, saya pura-pura keseleo sehingga minta tolong diurut/pijat sambil menunggu sambungan video dari Mbak Erna.

Tak lama, sambungan video berhasil dilakukan. “Wak ini ada temenku mau kenalan dan ngobrol sama Wak Tini,” ujar saya sambil memberikan hape ke beliau.

Momen saat saya menemui Wak Tini di tanggal 1 Januari 2021. Harus pura-pura keseleo dulu biar beliau nggak curiga hehehe

Wak Tini punya masalah dengan penglihatan. Walaupun sudah pernah dioperasi, namun katarak yang ada di matanya kembali datang. Nah, untungnya pendengarannya masih sangat bagus. Walaupun saat itu Wak Tini tak dapat melihat sosok Mbak Erna dengan jelas, namun tawaran berangkat umroh yang Mbak Erna berikan tersampaikan dengan baik.

“Ya Allah, alhamdulillah,” ujar Wak Tini dengan suara bergetar. “Beberapa hari lalu saya mimpi keluar dari sebuah tempat namun disambut oleh beberapa onta yang menunduk kepada saya,” cerita Wak Tini.

Ya, situasi haru langsung terasa. Bukan main senangnya Wak Tini saat itu. Mbak Erna pun bahagia niat baiknya disambut sedemikian positif. Serentet ucapan terima kasih serta doa langsung keluar dari bibir Wak Tini.

“Untuk selanjutnya, nanti saya akan transfer dana secara berkala ke Yayan untuk digunakan membiayai keperluan Wak Tini umroh, ya!” ujar Mbak Erna saat itu.

TERKENDALA PANDEMI DAN KELENGKAPAN ADMINISTRASI

Awal 2021 pandemi masih ganas. Saat itu Arab Saudi menutup akses bagi jamaah yang ingin umroh. Sampai kapan? Saya juga tidak tahu. Namun, semua dokumen harus segera dipersiapkan terutama sekali: paspor.

Syarat untuk membuat paspor harus ada akte kelahiran, ijazah atau buku nikah. Sayangnya, Wak Tini nggak memiliki dokumen itu. Jadilah, Yuk Leni dibantu saudaranya yang lain mencoba membuat akte kelahiran dulu. Berhubung ini di Indonesia, kalian pasti kebayang ya betapa ribetnya proses itu. Butuh biaya dan waktu.

Saat pas foto, KTP, Akte Kelahiran, surat pengantar dari tour and travel berhasil dipegang, mulanya saya sempat ingin mengikutsertakan pembuatan paspor secara kolektif di sebuah lembaga kurus bahasa Inggris. Saya dapat infonya dari seorang sepupu.

Sayangnya, permintaan itu ditolak karena hanya keluarga siswa kursus yang boleh ikut proses pembuatan paspor secara kolektif itu. Ya sudah, mau nggak mau harus mengurus langsung di Kantor Imigrasi Palembang. Terus terang, belum apa-apa saya sudah lelah membayangkan proses pendaftaran onlinenya. Beruntung, rupanya lansia diberikan hak khusus untuk langsung datang tanpa harus mendapatkan nomor antrean online.

Sesaat setelah paspor selesai dibuat. Wak Tini ditemani Nanang, anak bungsunya.

Kamis, 17 Juni 2021 akhirnya paspor dapat dibuat. Selanjutnya yang menjadi concern saya adalah vaksinasi covid untuk Wak Tini. Mengenai hal ini lumayan panjang. Saat pertama kali datang ke puskesmas, Wak Tini ditolak karena tekanan darahnya begitu tinggi.

Jadilah, Wak Tini harus berobat dulu ke dokter spesialis untuk menurunkan tekanan darah tingginya. Alhamdulillah, semua proses pembuatan akte kelahiran, biaya pas foto, paspor hingga berobat sepenuh-penuhnya ditanggung oleh Mbak Erna.

Bahkan, jauh sebelum Wak Tini harus ke dokter demi kepentingan vaksinasi covid, Mbak Erna secara berkala sudah memberikan biaya untuk keperluan vitamin dan obat mata. Bahkan, dari sejumlah uang yang ia titipkan kepada saya, sebagian harus dikeluarkan setiap kali saya Jumatan.

“Kita sama-sama berdoa biar perjalanan Wak Tini berjalan lancar.”

PERJALANAN KE BAITULLAH SEMAKIN DEKAT

Hingga Juni 2022, itu artinya Wak Tini sudah menunggu selama 1,5 tahun untuk bisa datang ke Tanah Suci. Semua karena pandemi. Mau tidak mau kami semua hanya dapat menunggu. Saat kemudian Arab Saudi sudah membuka pintu bagi jamaah umroh untuk beribadah, namun biayanya sangat tinggi.

Bayangkan saja, biaya umroh yang sebelumnya berkisar antara 20 hingga 22 juta, melonjak hingga 33 hingga 35 juta! Kenapa bisa semahal itu? Sebab saat itu masih ada aturan jamaah harus dikarantina dulu 7 hingga 10 hari. Pemeriksaan covid lewat tes PCR pun harus dilakukan berulang kali.

Terus terang rasanya nggak tahu diri banget kalau saya dan keluarga Wak Tini “memaksa” Mbak Erna untuk membiayai umroh di saat harga melambung tinggi seperti itu. Makanya kami berusaha menunggu hingga harga kembali normal.

Sayangnya, sulit menemukan travel umroh yang mematok harga seperti sebelum adanya pandemi. Kisaran umroh sekarang sekitar 27 hingga 28 juta rupiah.

Hal ini saya sampaikan kepada Mbak Erna. Beliau setuju untuk segera mendaftarkan Wak Tiki ke travel umroh pilihan keluarga Yuk Leni itu. Kenapa memilih umroh lewat agen perjalanan itu? Sebab kondisi Wak Tini yang sudah tua harus mendapatkan penanganan dan pengawasan yang baik. Dan, Yuk Leni mengenal ustad pembimbing travel tersebut makanya harapannya Yuk Leni dan keluarga lebih tenang melepas Wak Tini ke Tanah Suci.

Butuh 1,5 tahun untuk kemudian perjalanan ke Baitullah ini terasa makin pasti dan dekat.

Akhirnya, setelah penantian panjang, Kamis 9 Juni 2022 lalu, akhirnya saya dan Yuk Leni mendatangi travel umroh tersebut untuk melakukan DP (Down Payment) sebesar Rp.7000.000 untuk umroh Wak Tini yang sekiranya akan berlangsung pada akhir Agustus atau awal September 2022 ini.

Dari uang yang secara berkala dikirimkan oleh Mbak Erna sejak awal 2021, terkumpul 7,5 juta rupiah (ini setelah dipotong biaya berobat dan pengurusan dokumen, dsb). Namun yang saya setorkan 7 juta saja sebab sisanya akan digunakan untuk suntik meningitis/kartu kuning.

Biaya umroh yang semula Rp.28.000.000 mendapatkan diskon Rp.500.000 sehingga kami cukup membayar Rp.27.500.000 saja. Nah, dengan DP yang sudah dilakukan, itu artinya biaya umroh yang harus kami lunasi ialah Rp.20.500.000.

BANTU WAK TINI MENUJU BAITULLAH

Alhamdulillah, salah satu tahapan penting sudah berhasil dilakukan. Yang harus dipersiapkan selanjutnya adalah vaksin booster covid, pembuatan kartu kuning dan pelunasan biaya umroh  1 bulan sebelum berangkat (itu artinya setidaknya 30 Juli 2022).

Dengan perubahan biaya umroh ini, terus terang saya masih kepikiran. Walaupun Mbak Erna tidak menyatakan keberatan atas biaya umroh tersebut, namun saya merasa itu masih memberatkan beliau.

Belum lagi, ada biaya-biaya lain yang dibutuhkan Wak Tini sebelum berangkat. Misalnya pakaian yang layak, biaya transportasi dari rumah menuju bandara dan sebaliknya, biaya dam (jika nanti Wak Tini tak sengaja diharuskan membayar dam itu), dan yang paling saya pikirkan ialah biaya penanganan khusus petugas saat pelaksanaan inti ibadah umroh.

Seiring bertambahnya usia, Wak Tini yang saya temui di awal 2021 sudah berbeda dengan pertengahan 2022. Kalau dulu, saya dapat menjemput Wak Tini menggunakan motor untuk minta tolong pijat di rumah, sekarang nggak bisa lagi.

Wak Tini sudah kesulitan berjalan. Problemnya ya dari kekuatan kaki dan juga penglihatan. Walau begitu tangannya masih super kuat jika dipakai untuk memijat. Ya mungkin Allah Swt kasih kekuatan di situ sebab dari situlah Wak Tini mencari nafkah.

Sebab itu, saya kepikiran jika nanti Wak Tini membutuhkan penanganan khusus berupa kursi roda dan petugas yang bersedia mendorong selama pelaksanaan ibadah inti umroh.

Saya sudah tanya ke petugas travel, kalau dulu biayanya SAR 500 atau sekitar IDR 2000.000. Nah, biaya ini harus dipersiapkan demi kelancaran ibadah beliau. Dan, lagi-lagi rasanya gak mungkin jika biaya ini pun harus saya bebankan ke Mbak Erna.

Makanya, saya meminta izin kepada Mbak Erna untuk melakukan funding atau pengumpulan dana untuk keberangkatan Wak Tini umroh ini. Mbak Erna sudah membuka pintu sedemikian lebar untuk keberangkatan umroh ini. Selanjutnya, saya minta izin kepada beliau agar teman-teman saya yang lain diberikan kesempatan untuk turut membantu perjalanan Wak Tini ini.

Biar makin banyak orang-orang yang mendapatkan pahala dari niat baik ini. Saya yakin, hal itu tidak akan mengurangi pahala yang Allah Swt berikan kepada Mbak Erna walaupun setelah ini akan lebih banyak orang yang membantu perjalanan umroh Wak Tini ini.

Untuk transparansi pengumpulan dana, ada beberapa lembaga pengumpulan dana yang saya ketahui. Sebut saja Sajiwa Foundation, Rumah Yatim, Insan Bumi Mandiri, dsb. Namun saya menggunakan Kita Bisa untuk dijadikan wadah pengumpulan dana ini. Saya menargetkan dana yang terkumpul sebesar Rp.15.000.000. Mudah-mudahan, dana tersebut dapat terkumpul dari kalian semua, orang-orang baik yang berkenan membantu melancarkan pejalanan ibadah umroh Wak Tini ini.

Berapapun bantuan dana yang dapat kalian berikan, sangat berarti. Sumbangan dapat diberikan lewat KITA BISA di link berikut ini, ya!

KLIK DI SINI UNTUK BERDONASI

Terima kasih banyak atas kebaikan hatinya. Mohon doa agar perjalanan ibadah Lie Cun Ngo atau Listini ini dapat berjalan dengan lancar. Amin ya Rabbal alamin. Semua proses penggalangan dana ini akan saya update secara berkala di akun sosial media saya dan juga blog saya ini.

UPDATE

Untuk memeriahkan projek Penggalangan Dana ini, ada beberapa teman yang ingin memberikan bukunya untuk memotivasi para donatur.  Sejauh ini sudah cukup banyak buku yang terkumpul untuk dihadiahkan. Misalnya saja The Grand Me Time, Yatra & Madhyaantar, Eric Stockholm, The Million Faces, Discovering Uzbekistan, Ibn Firnas dsb (lihat gambar).

Bagaimana untuk mendapatkannya? Caranya cukup memberi konfirmasi ke postingan donasi saya yang ada di IG dan FB.

Langsung berkomentar saja di instagram, ya!

atau

Berkomentar di facebook

40 komentar di “Mengawal Wak Tini, Tukang Pijat Mualaf Menuju Baitullah

  1. Kebayang betapa enaknya dipijat bisa sampai 2-3 jam dengan Wak Tini. Ah, semoga tetap kuat dan kesehatan yang menurun bisa segera pulih. Semoga niat baik Wak Tini untuk umroh (dan niat baik memberangkatkan Wak Tini untuk umroh) bisa terlaksana. Aamiin.

  2. harus pakai akte lahir ya?
    Aduh semua surat2 saya hilang, saya pikir bisa menggunakan buku nikah
    Inipun saya gak yakin, ada di mana
    Semoga saya bisa mengikuti jejak wak Tini ya?
    Duh pingin banget

  3. Wah perjalanan hidup orang kita gk tahu ya ke depannya seperti apa. Semuanya bisa jadi mudah karena Allah. Dan luar biasa wak tini bisa ke baitullah. Sy sendiri saja belum pernah kesana.

    • Betul mas Wahid. Ya secara keadaan agak sulit kalau berangkat pakai uang sendiri. Eeeh tahu-tahu ada yang berangkatkan. Kalau Allah yang bukan kasih izin, mana mungkin bisa kejadian.

  4. MashaAllah. Sampai bergetar baca tulisan ini Yan. InshaAllah dengan gelombang ujian sebelum keberangkatan ini, menjadikan ibadah umrah Wak Tini lebih sarat makna karena ada kenang-kenangan peristiwa dan perjuangan yang pasti tak akan terlupakan sepanjang usia.

    Mudah-mudahan langkah-langkah yang Yayan ambil beserta Mbak Erna tentunya, membawa berkah dan menjadi ladang pahala seluas-luasnya.

    Aku bantu sebarkan ya Yan. Siapa tahu jadil salah satu jalan yang membuka dukungan atas kegiatan amal ini. Aamiin YRA

    • Drama pengurusan dokumen dan vaksin itu aku persingkat haha aslinya lebih drama.

      Amin amiin ya Allah. Mudah-mudahan semua lancar. Makasih juga buat ayuk yang selalu dan selalu support.

  5. Sosok mualaf yang kisahnya menginspirasi. Semoga impian Wak Tini untuk menginjakkan kaki di tanah suci segera terwujud ya. Dengan uluran tangan dari orang2 baik, in syaa Allaah

  6. Masya Allah, semoga lancar segala urusan Uwak Tini, dalam keadaan sehat dan lindungan Allah SWT, serta sampai dengan selamat saat kembali dari tanah suci dan mabrur umrohnya, aamiin.

  7. Ada banyak keajaiban di dunia ini.
    Percaya banget kuasa Allah yang ditunjukkan melalui kisah Wak Tini.
    Perjuangan untuk tegak berdiri di atas dien Allah.

    Semoga uwak Tini sehat selalu dan perjalanan umrohnya bisa lancar.

    • Yeesh betul. Rasanya gak sabar liat wak Tini foto dengan latar belakang kabah haaa. Kalau udah bisa sampe di sana, baru aku lega selega-leganya. *kayak lagu ya hwhwhw

  8. Insyaallah aku nanti juga ikutan donasi mas Yayan. Terharu baca ceritanya… Berharap banget wak Tini beneran bisa melihat baitulah yaaa.

    Duuuh aku kalo baca ttg ahli pijat begini langsung envy sih. Krn di sekitar rumahku ga ada. Dulu sempet ada, suami sering pake jasanya. Tapi tiba2 meninggal padahal LBH mudah dari suami. Katanya jantung :(. Sampe skr belum Nemu lagi yg bagus

    • Makasiiiih Mbak Fanny dan Mas Raka.

      Iya mbak, ini nggak mengada-ngada haha, pijatan Wak Tini menurutku the best di Palembang. Rasanya pingin tiap bulan dipijetin hwhwhw.

      • MashaAllah~
        Call to actionnya langsung disambut hangat oleh kak Fan.

        Senang sekali blogger bisa saling memberikan kebaikan.
        Semoga Allah membalas semua kebaikan kak Omdut dan kak Fanny.

        Barakallahu fiikum.

  9. Wah luar biasa banget kisah perjalanannya, semoga bisa benar-benar berangkat ke tanah suci dan terkabulkan keinginannya untuk melihat Mekkah.. Salam buat Wak Tini.. Saya bantu share yaa..

  10. tidak terbayangkan betapa nikmatnya badan dipijat selama 2-3 jam, apalagi jika pijatannya enak dan badan sedang tidak enak badan, auto tidur pulas itu.
    Semoga Wak Tini dimudahkan urusannya dan segera lekas bisa berangkat ke tanah suci

  11. masyaallah. kalau allah sudah ngunbdang hambanya, mau gimanapun akan terjadi dan menjadi mungkin. masyaAllah tabarakallah…….semoga allah mudahkan dunia dan akhirat siapapun yang membantu saudaranya ya mba. aamiin

  12. Seketika aku bergetar dan merinding begitu sampai pada bagian Mbak Erna yang menanyakan kabar dan berniat mengumrohkan. Sungguh Maha Besar Allah dalam memuliakan hamba-hambaNya. Dengan jalan melalui tulisan inspiratif hasil omnduut, bisa membawa berkah untuk orang lain.

    Nice sharing kang.

  13. Masya Allah ikut terharu dengan semua niat baik kalian yang ngebantu Wak Tini untuk mewujudkan impiannya umroh. Alhamdulillah aku juga udah ikut donasi saat Om Ndut share di grup WA. Semoga dari donasi yang sedikit itu bisa menjadi berkah untuk kita semua.

  14. wah senengnyaa bisa jadi perantara sesama untuk berangkat umroh. salut sama Wak Tini inii, mijit 2jam itu rasanya udah lama buanget loh, dan di usia segitu masih kuatt hebat bangett

  15. wah senengnya bisa jadi perantara sesama untuk berangkag umroh, semoga berkah selalu rezekinya, Om! aku salut sama Wak Tini, mijet 2 jam aja udah lama banget loh itu

  16. Masya Allah, emang kalau Allah udah ridho, ada aja jalannya. Salut juga buat dirimu mas, yang istiqomah berikhtiar buat ngeberangkatin Wak Tini ke tanah suci. Barakallahu fii kum. Semoga yang kamu kerjakan dapat balasan dari Allah.

    Aammiin.

Jika ada yang perlu ditanyakan lebih lanjut, silakan berkomentar di bawah ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s