Pelesiran

Sukses Mengelabui Ketua Adat Kampung Melo

Selain hoping island dan basah-basahan di pantainya yang cantik-cantik itu, menurut saya, kalau berkesempatan ke NTT maka wajib untuk melihat kehidupan masyarakat lokalnya, terutama yang masih berpegang teguh pada adat dan kepercayaan lama. Termasuk peninggalan-peninggalan leluhur yang masih diadaptasi dalam kehidupan sekarang.

Nah, salah satunya melihat rumah kerucut yang disebut Niang. Sebelum ke Kampung Melo ini, saya dan rombongan terlebih dulu main ke Desa Todo. Walau gagal melihat gendang yang konton terbuat dari kulit manusia, tapi saya sudah cukup bahagia dapat melihat langsung Niang dari dekat termasuklah berinteraksi dengan para penghuninya.

Dari sana, sebelum kembali ke pusat kota Labuan Bajo untuk bertemu Komodo -rima, kami diagendakan mampir ke Kampung Melo di Desa Liang-Ndra untuk melihat atraksi Tari Caci. Nama tariannya unik ya! Apakah mereka menari sambil mengumpat? –eh hwhw. Untuk menjawab rasa penasaran, tanpa banyak pertimbangan, kami langsung bergerak menuju kampung yang berada di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat ini.

Kampung di Atas Awan

Mobil terparkir di pinggir jalan. Saya melihat ke sekeliling dan bergumam, “apa spesialnya kampung ini?” karena yang nampak adalah rumah-rumah kayu yang biasa saya lihat di kampung saya sendiri. Setelah mengunjungi Desa Todo, wajar dong jika saya sedikit berespektasi tentang bentuk rumah atau tempat tinggal masyarakat Kampung Melo.

Ternyata, untuk menuju area pertunjukan Tari Caci, kami masih harus berjalan agak ke atas. Nggak jauh, jalan kaki paling beberapa menit. Dan, berhubung saya habis makan siang di Desa Todo, jadi ya amanlah itu. Energi masih penuh haha.

Mendekati senja. Kelihatan kan garis batas laut dan langitnya?

Kampung ini berada di ketinggian 614 meter di atas permukaan laut. Saya memandang sekeliling. Sisi barat dan utara Flores terlihat sangat indah dari atas sana. Nah, sebelum menyaksikan pertunjukkannya, ternyata saya dan rombongan diberi (baca: dikasih pinjam) topi tradisional yang bentuknya menyerupai peci. Saya jadi ingat peci bercorak khas Gayo yang saya beli di Takengon, Aceh beberapa tahun sebelumnya.

Pemandangan dari atas sana indah sekali. Di kejauhan saya dapat melihat laut yang garis batasnya bertemu dengan langit. Sementara itu, beberapa penari pria nampak bersiap diri. Di sudut lain, beberapa mamak juga sudah terlihat memegang alat musik. Mereka duduk bergerombol menyaksikan kami dari kejauhan.

Penyambutan rombongan kami.

Ternyata, sebelum menyaksikan atraksi Tari Caci, kami terlebih dulu dilibatkan di sebuah prosesi penjamuan tamu. Berhubung rombongan kami cukup banyak, jadilah saya, Afif dan Ridha –para pemenang kompetisi menulis, yang didaulat untuk mengikuti prosesi itu.

Pura-pura Mabuk Sembari Mengelabui Ketua Adat

Kami bertiga diminta duduk di balai utama oleh seorang pria tua yang sepertinya menjadi ketua adat Kampung Melo itu. Sambil duduk bak anak sekolahan, ketua adat ini kemudian berbicara dengan menggunakan bahasa setempat. Ntah apa yang dibicarakannya, namun dari gerakannya sih kami seolah tengah didoakan.

Tak lama, kami diberikan gumpalan daun sirih berisi pinang dan kapur. Saya nggak tahu maknanya apa, tapi, kalau di Palembang, mengunyah sirih ini menjadi lambang kehormatan tuan rumah dalam menyambut tamu. Jadilah, sebagai tanda respek, saya mulai mengunyah daun sirih tersebut.

Rasanya?

Nggak enaklah! Haha. Saya jadi keingat gedeh/nenek saya dulu yang terbiasa nyirih sampai giginya merah dan menghitam. Kala itu, beliau nampak sangat menikmatinya. Sayangnya saya nggak. Maklum, sejak kecil saya lebih terbiasa ngunyah pempek ketimbang nyirih. Oke sip.

Tahu bahwa tamunya nggak akan terbiasa nyirih, kami diberi tisu oleh tetua adat. Jadilah, ampas pinang sirih yang tak terkunyah secara maksimal itu saya lepehkan ke tisunya.

“Nah, ini minumnya,” ujar si bapak kemudian.

Seingat saya, minuman itu dia ambil dari sebuah botol beling. Jelas bukan air putih biasa. Ternyata benar, itu adalah sopi, minuman hasil suling tuak nira yang memang khas Indonesia Timur bahkan minuman ini terkenal hingga ke Papua sana.

Ketua adat memberikan sopi. Minuman memabu’kan

Siapa sangka ternyata Sopi ternyata berasal dari bahasa Belanda, “zoopje” yang berarti alkohol cair. Jelas ini minuman keras. Dan, sebagai pemuda soleh dan duta nasional es teh, saya tidak dapat meminumnya.

Melihat ekspresi kami yang jengah, Mbak Rizka –menteri keuangan di perjalanan kami saat itu, kasih kode dan berkata, “pura-pura aja.” Oukeh, baik kalau begitu. Duh untung kan saya jago baca gerakan bibir. Coba kalau nggak, bisa-bisa instruksi Mbak Rizka saya artikan, “minum sampai habis!” lol.

Saya menempelkan gelas ke bibir. Belum apa-apa, aroma kuatnya menyengat hidung. Kalau kata Jerome Polin ini sunguh wadidau. Haha. Saya kemudian akting pura-pura minum dengan cepat. Untungnya si ketua adat nggak merhatiin.

Tak lama, ketua adat ini mengeluarkan selembar uang Rp.5000 dan mengulurkannya ke arah kami. Melihat ekspresi kebingungan kami, dia berkata, “ambil uangnya kemudian ditukar.”

Efek bodi paling boros dan bak kepala keluarga, sayalah yang kemudian mengambil uang itu. Pak ketua kemudian berkata lagi, “nah sekarang tukar pakai uang kamu.”

Mamak pemain musik siap beraksi.

Hmm, ditukar gimana ya? Saya nggak paham walaupun saya dapat menangkap kode maksud si bapak agar saya menukarkannya dengan nominal uang yang lebih besar wakakak. Saya ambil dompet dan aha! Ada lembaran uang Rp.5000 juga di sana.

Uang itu saya berikan ke ketua adat. Beliau menerimanya dengan malas-malasan. Andai bisa membaca isi hatinya, bisa jadi saat itu dia ngedumel, “yaelah, balikan aja ini duitnya berarti.” Haha, si bapak salah target. Mestinya uangnya dikasihkan ke Mbak Rizka aja. Ya siapa tahu kan diganti dengan uang bergambar Soekarno-Hatta hehe.

Tak berlangsung lama setelahnya, prosesi penyambutan tamu selesai dilakukan. Kami berbaur dengan para penari yang memakai ornamen-ornamen khas di sekujur badan mereka.

Atraksi Tari Caci dan Rangka Alu

Nama tarian ini memang unik. Padahal maknanya kontradiktif dengan namanya yang nampak seperti orang perang atau berkelahi. Alih-alih bermakna seperti itu, tari ini dimaksudkan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.

Tari caci dimainkan oleh pria. Mereka memakai panggal atau penutup kepala berupa kain tradisional. Mereka juga mengenakan topeng berbulu yang dibiarkan separuh terbuka. Ornamen pelengkap lainnya ialah gorong, yakni ekor dengan kerincing lonceng.

Panggal-nya berekor.

Tari caci mesti dimainkan bersama. Minimal 2 orang. Kalau sendirian ya gak seru.

Toda alias tamengnya terbuat dari bambu juga.

Tarian ini memang nampak seperti adegan perkelahian. Untuk itulah dibutuhkan juga cambuk yang terbuat dari kulit kerbau. Sebagai pelindung, tak lupa mereka membawa toda alias tameng untuk melindungi tubuh mereka dari besetan cambuk.

Atraksi tari ini berlangsung sekitar 10 menit dengan iringan alat musik berupa gendang dan gong yang dimainkan oleh para mamak. Setelah selesai, kami berkesempatan dilibatkan dalam tarian itu. Masing-masing dari kami mulai memegang cambuk dan menghentakkannya ke salah satu penari.

Tari caci dimulai!

Siap memukulkan cambuk ke lawan.

Aslinya sih kalau mau ikutan ya mesti telanjang dada. Biar fair haha. Tapi untuk ada pengecualian untuk para tamu. Apa jadinya jika orang-orang melihat lemak saya yang bergelambir, kan. Oh ya, sedikit tips jika mau menjajal atraksi ini. Lakukanlah dengan sedikit melompat saat menggunakan cambuk agar suaranya semakin menghentak saat terkena toda lawan.

Nah siapa yang pernah main Rangka Alu dulu pas kecil?

Pose bersama pemain Tari Caci

Saat saya pikir pertunjukan sudah selesai, ternyata para mamak juga mau unjuk gigi dengan menari bambu. Tarian atau permainan ini dikenal dengan nama Rangka Alu. Cara memainkannya cukup mudah. Kita hanya diminta untuk berjalan di tengah bambu-bambu yang dibuka-tutup oleh para mamak ini.

Sekilas nampak mudah, namun semakin lama temponya semakin cepat. Ya, lumayan sih bikin ketek basah hahaha. Bagi yang penasaran dengan tari caci atau permainan Rangka Aku, dapat lihat di video di atas ya!

Indonesia kayak banget! Semoga nanti bisa berkesempatan menyaksikan atraksi kesenian lainnya.

32 komentar di “Sukses Mengelabui Ketua Adat Kampung Melo

  1. Wkwk…nyesel itu si bapak nukernya. Untung dia ga bales dendam, minta Oomndut jadi relawan bagian dicambuk di tarian Caci.

  2. Hemmm nerbener, udah kagak minum, kasihnya goceng doang lagi. Btw aku pernah diceritain sama teman, katanya warga lokal sana ada yg bisa bahasa komodo, sempet denger-denger gak mas yan? Jadi mereka bisa ngomong sama komodo gitu, supaya kalau komodo mau gigit bisa gak jadi.

    • Baru denger soal bahasa Komodo. Dan, kayaknya itu nggak ada deh haha. Tapi ntah ya. Selama di sana asal sama ranger yang bawa tongkat, aku merasa aman 🙂

  3. Oomndut asli ngakak aku tuh pas oomndut kasih balik uang 5rb ke bapak ketua 😂 masih bagus ga duit seribuan ya oom, rugi bandar deh bapak ketua kl di tuker seribuan 🤣🤣🤣
    Duh ternyata NTT ga hanya terkenal dgn obyek wisata nya ajh ya om tp juga keseniannya 👍

    • Haha kalau isengku lagi kumat, bisa jadi aku balikin 1000 perak aja hwhw, paling dia bengong atau protes 😀

      Iya NTT keseniannya juga apik. Seapik pemandangan alamnya 🙂

  4. Aku langsung bayangin ekspresi ketua adat kampung Melo waktu tahu uang 5000 nya balik lagi hihihi…Tapi seriusan ku suka dengan atraksi penyambutan tamunya. Apalagi di bagian nyirih dan sopi…gantian kubayangkan ekspresi kalian yang mesti nyirih dan pura-pura minum tuak haha…Seru bener ceritanya Mas Yayan:)

  5. Duh nipu kepala suku nya kurang sreg, hehehe… Coba kalau yang dibalikin uang koin, keberatan pasti hehehe…

    Bener banyak banget seni dan budaya bangsa kita ini ya… Senang bisa ikut baca pengalamannya

  6. Oalaaaaa pake kode pura2 minum sopi beneran yak, Mas Haryadi 🤣🤣 Sebagai penghormatan kepada tetua adat siiiip… untung ga salah mengartikannya hahahaha. Ga kebayang kudu nyirih … kira2 sanggup berapa detik? Coba mas ikutan nari, gpp lah telanjang dada kan ga semua wkwkwkwkw 😂😅

  7. Kampung Melo, aku jadi teringat tahun lalu mau ke sana diajak Celly, tapi ga jadi karena saat itu hujan lebat dan longsor, kendaraan ga bisa lewat. Kami mau bawa buku buat disumbangkan ke anak-anak kampung yang belajar sama sepasang suami istri asal NTT yang nikah sama bule. Ternyata kampungnya seindah ini ya Yan. Beruntung banget Yayan pernah ke sini. AKu waktu itu akhirnya cuma tinggal di Labuan Bajo saja, orang Kampung Melo nya yang mengunjungi kami di hotel. Malah kebalik hahaha

    Trus itu, minuman Sopi nya diminum gak yan? hahahaha

  8. Masya Allah….seruuuu. Alhamdulillah ya, Duta Es Teh Nasional tetap pada prinsip nggak minuman beralkohol :))

    Btw, jadi kepikiran nih kalo pergi2 dompet kudu diisi sama uang kertas berbagai nominal 😀

  9. Paling exciting kalo saya mengikuti ragam budaya Indonesia, apalagi datang langsung ke tempatnya. Sayang nggak banyak waktu buat keluar-keluar menikmati pesona Indonesia. Hiks!

  10. MashaAllah. Keren tulisannya, keren juga videonya. Timur Indonesia ini memang kaya dengan budaya dan keindahalan alam. Selalu ada pengalaman dan cerita-cerita menarik saat mengunjungi tempat-tempat indah di sana. Aaahhh jadi pengen banget ke NTT.

    Tari Cica kalau difoto dan divideokan cakep banget ya Yan. Apalagi pas salah seorang dari penari itu meloncat dan mengayunkan cambuk nya. Kulit para lelakinya juga eksotis untuk jadi obyek foto.

  11. Hahhaha..lucu banget ngebayangin ekspresi ketua adatnya yang males2an ambil duitnya. Jadi pingin ke laboan bajo..seru banget ya…jadi tau adat dan budaya baca artikel ini keren sekali.

  12. Ternyata banyak banget daerah yang punya kebiasaan mengunyah sirih ya. Belum pernah nyoba sih, tapi dari yang dilihat sejauh ini kayanya memang mayoritas yang nyirih itu generasi senior ya. Sepanjang ampasnya ga dilepeh sembarangan sih ga masalah ya hehe.

    Btw, abis duitnya dituker, ketua adatnya ada komen ga mas? Atau emang cuma diem aja bersungut-sungut? Atau abis acara ada yang ngasi insight gitu, mestinyu gimana sesuai adatnya. Apa ada keharusan dituker dengan nominal yang lebih besar misalnya?

    • Gak ada bilang apa-apa. Cuma kasih ekspresi, “lha balikan doang nih?” wakakak. Lagian toh mereka melakukan atraksi itu ada bayarannya. Sudah disiapkan sama tour leader lokal di Labuan Bajo 🙂

Jika ada yang perlu ditanyakan lebih lanjut, silakan berkomentar di bawah ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s