Publikasi

Di Balik Layar Pembuatan Buku Jungkir Balik Dunia Bankir

Emang mbak Cinta aja yang harus menunggu sekian purnama demi bertemu kembali dengan bang Rangga? Lha, saya juga begitu! Saya harus menunggu kurang lebih 4 tahun untuk mendapati sebuah buku dengan sampul bertuliskan nama saya sendiri! Aaaaa! Eh sebentar, permisi, saya mau salto dulu saking senengnya! -lalu pinggang encok. Ah, sungguh usia tidak pernah berlaku bohong.

“Hah, jadi kamu dulu pernah kerja di bank, Yan?”

Iya! Kenapa? Gak meyakinkan ya? Hahaha, jangan sedih. Saya sendiri pun awalnya gak nyangka kenapa bisa keterima kerja di Bank Independen itu. Keterimanya jadi teller pula bukan security! Hehehe, abis gimana ya, bodi kayaknya lebih cocok jadi satpam atau tukang jagal. Tapi, nyatanya saya dapat keterima kerja sebagai teller walaupun harus meng-hire 11 dukun dan harus melewati 2 kali tahapan seleksi.

“Lalu, kok sekarang resign?”

Ah, kalau mau tahu banget sama jawaban ini, kamu harus traktir saya sebaskom pempek dulu, ya! Lagian, kalau saya nggak berhenti bekerja sebagai teller, bisa jadi kamu gak akan pernah melihat foto-foto dan tulisan-tulisan PAMER saya jalan-jalan 2 tahun belakangan ini, kan? Dan, bisa jadi, buku yang menceritakan kehidupan saya selama menjadi bankir ini nggak akan pernah ada.

Sebagaimana judul tulisan kali ini, saya maunya bercerita tentang kisah di balik layar pembuatan bukunya. Emang film bollywood aja yang ada behind the scene-nya? Buku saya juga ada dong! Dan, mungkin cerita ini agak panjang. So, pergilah dulu ke gang depan, siapin cemilan, lalu tidur eh simak tulisan saya inilah.

Motivasi Awal Pembuatan Buku

Secara, habis resign kan jadi pengangguran, ya. Ketimbang produksi iler terlalu berlebihan, mending saya pakai buat nulis. Saat itu sih, buku bergenre PeLit (Personal Literature) emang lagi booming. Banyaklah buku-buku kece yang terbit, bahkan beberapa kemudian difilmkan.

Semua foto yang ada di sini burem. Dulu mah pake BB gemini aja udah ngerasa kaya haha. Gak hobi difoto juga dulu. Ini Kartini Day-an juga.

Saat menunggu waktu resign tiba, saya sudah menyiapkan kira-kira judul tulisannya akan seperti apa. Niatnya sih mau dicicil nulis bahkan sebelum resmi berhenti, tapi apa daya, kerjaan lumayan banyak sehingga saya baru benar-benar dapat menulis kurang lebih seminggu setelah resign dan tulisan saya nyatakan selesai 2 minggu kemudian.

“Cepat, ya?”

Iyalah, wong yang ditulis adalah pengalaman pribadi sendiri. Jadinya mudah, gak perlu mengarang indah –apalagi saya kan tamvvan, bukan indah, dan sejak awal saya sudah mempersiapkan kisah-kisah mana saya yang akan saya angkat. Naskah yang selesai itu lantas saya endapkan selama kurang lebih seminggu, lalu saya baca ulang sambil revisi, dan dengan percaya dirinya seminggu kemudian mulai saya tawarkan ke penerbit.

Di PHP Penerbit Ngehe

Sejak awal, saya sudah mengincar penerbit G yang memang banyak menerbitkan buku-buku PeLit semacam ini. Saya cari tata cara pengiriman naskahnya seperti apa. Ternyata, simpel banget, saya hanya perlu mengirimkannya melalui email.

Naskah tersebut lantas saya kirimkan dengan debar-debar cemas. Ntah deh kalau melamar anak gadis orang gimana rasanya, yang jelas, melamar ke penerbit ternyata tak kalah bikin deg-degannya. Pucuk dicinta, dik Chelsea Islan lewat, sekitar 2 hari kemudian, saya langsung mendapat balasan yang bikin hati saya berbunga-bunga.

Cabang perdana, saat OJT (On Job Training), di sini aku ditempa selama 3 bulan sebelum kemudian dimutasi ke cabang lain 🙂

“Kami tertarik menerbitkan naskah Saudara, namun, kami minta naskah Saudara direvisi dan konsepnya disamakan dengan buku Nuninuninu yang sebelumnya telah kami terbitkan.”

Editor yang membalas email saya itu meminta agar naskah saya diubah sehingga mirip dengan buku Nuninuninu yang emang best seller banget (well, buku ini kemudian difilmkan dengan tokoh utama pria botak berperut besar yang harus saling tempur dengan sekretarisnya yang kiyut).

Saya pembaca setia buku yang dimaksudkan. Bukunya emang keren banget! Namun, di satu sisi, naskah yang sudah saya siapkan ini tidak cocok jika harus diubah sedemikian rupa. Bagi kalian yang dapat menebak apa buku yang saya maksud, pasti tahu kalau buku tersebut dibangun dengan sub cerita yang singkat. Bahkan satu judul isinya hanya 2 halaman saja.

Sedangkan, buku yang sudah saya siapkan ini tidak begitu. Soalnya gak mungkin satu adegan (((ADEGAN)) yang terjadi harus saya singkat hanya dalam beberapa halaman saja. Sejak awal, buku yang saya buat mirip dengan buku lain yang masih diterbitkan di penerbit yang sama (dan juga difilmkan), yakni berupa kumpulan kisah namun dengan jumlah halaman yang sesuai dengan naskah yang telah saya buat.

Dengan berat hati, saya lantas menarik naskah tersebut dan mencoba menawarkan ke penerbit kedua, yang saya tahu, penerbit ini juga banyak menerbitkan buku bergenre PeLit (dan beberapa bukunya juga best seller).

Di penerbit kedua ini (sayangnya huruf depannya juga G), saya diminta mengirimkan naskah tersebut dalam bentuk cetakan. Gak tanggung-tanggung, mereka minta 2 rangkap. Well, mesti keluar modal buat ngeprint, ngejilid, lalu kirim pake pos. Lumayan sih biayanya, namun demi sebuah impian, ya dijalani saja.

Lupa foto beginian depan kantor dalam rangka apa. Tim lengkap satu cabang 🙂

3 bulan adalah batas waktu yang umum untuk mengetahui apakah naskah yang kita kirimkan dapat diterbitkan atau tidak. 3 bulan saya menunggu, tidak ada kabar. Saya lantas memberanikan diri menelepon ke penerbit tersebut, dan jawaban yang saya terima adalah, “naskahnya masih dalam penilaian tim kami, mas. Nanti kami kabari, ya!”

Saya sempat curhat mengenai hal ini ke beberapa teman dekat –yang tentu saja lebih berpengalaman dalam hal hubungan penulis dan penerbit. Rata-rata mereka menyarankan, “tarik aja, Yan! Kalau penerbitnya serius, harusnya udah ada kepastiannya bakalan diterbitkan atau tidak.”

Mendengar itu, saya galau. Maklum, udah kadung menunggu, kan! Makanya saya masih berusaha sabar dan sabar. 3 bulan pertama lewat. Lalu disusul lagi 3 bulan berikutnya… dan, 3 bulan berikutnya lagi yang sungguh cocok buat melatih kesabaran.

Singkat cerita, naskah saya dianggurin selama 1 tahun dengan jawaban template, “masih dalam tahap penilaian” tiap kali saya telepon. Selang beberapa minggu kemudian, mungkin karena mereka capek saya tanyain terus, datanglah sebuah amplop besar berisi 2 jilid naskah yang setahun sebelumnya saya kirimkan dan dilengkapi sebuah surat cinta yang bertuliskan, “maaf, naskah Anda belum dapat diterbitkan di tempat kami.”

Di bagian bawahnya, terdapat beberapa check list box yang berisi poin-poin kelemahan dari naskah saya. Ya, naskah saya dianggap tidak menariklah, tidak menjuallah, intinya jelek banget! Down? Pasti! Tapi, di satu sisi saya boleh dong GR. Bayangin! untuk menilai naskah SAMPAH saya, pihak editor penerbit ini harus menungu 1 tahun lebih untuk memutuskan!

“Artinya kan naskah saya gak ancur-ancur banget, toh!” batin saya menghibur diri, sampai-sampai mesti lama banget menilainya. Kalau sejak awal jelek, pasti lebih cepat diputuskan untuk dikembalikan ke penulis. Sejak itu, penerbit G***S ini saya blacklist. Emang penerbit aja yang bisa nge-blacklist penulis? Hohoho.

Setelah kejadian satu-tahun-menunggu-dengan-H2C, saya sempat mengirimkan naskah ini ke beberapa penerbit lain. Saking banyaknya saya sudah lupa ke penerbit mana saja. Yang terakhir sih penerbit A, yang komik-komik terbitannya banyak saya baca. Saya sempat berkomunikasi beberapa kali dengan editornya, tapi ujung-ujungnya menguap begitu saja.

Dengan begitu, resmi sudah saya mengubur impian saya untuk memiliki buku solo perdana.

Menemukan Jalan dari Wattpad

Pertanyaannya kemudian, “kenapa gak coba self publishing?” hmm, sempat juga kepikiran untuk menerbitkan melalui penerbit indie. Apalagi beberapa teman saya memiliki usaha di bidang ini. Beberapa novel/buku terkenal pun awalnya lahir dari self publishing ini, sebut saja buku favorit saya Travellous atau dulu yang sempat booming dan bakalan ada sekuel filmnya tahun depan : Eiffel I’m in Love.

Namun, tantangan menerbitkan indie lumayan juga. Pertama, tentu saya harus cari modal sendiri. Dengan mengais-ngais sisa tabungan, sebetulnya bisa saja saya menggunakan cara ini. Namun, nah ini yang jadi alasan kedua, tentu saja buku saya kelak distribusinya akan terbatas sekali. Jika diterbitkan oleh penerbit mayor, tentu jumlah produksinya jauh lebih besar dan distribusinya lebih luas. Saya mau dong narsis-narsis di Gramedia sambil selfie memegang buku sendiri hihihi. Lantas, karena 2 alasan inilah, saya memutuskan untuk tidak menempuh cara itu.

Kartini day! jadi melayani nasabahnya berpakaian kayak gini. Udah tahu aku yang mana? hehehe. Sebagian besar orang yang ada di sini muncul di buku.

4 tahun saya nganggurin naskah tersebut (well, 3 tahun sih, jika jangka waktu PHP penerbit ngehe gak dihitung). Satu-dua tulisan saya rombak dan saya unggah di blog ini. Saya sudah nggak kepikiran lagi tentang naskah itu secara keseluruhan. Bener-bener terlupakan hingga kemudian saya tersadar ada satu kanal bernama wattpad.

Saya sudah tahu tentang wattpad ini sejak lama. Tapi ntah kenapa saya nggak tertarik untuk mengenal lebih dekat. Saya terlalu malas untuk mencari tahu kinerja wattpad itu seperti apa. Padahal, di luar sana, wattpad menjadi jembatan megah bagi banyak penulis-penulis baru.

Saya sempat ingin membuat kategori khusus di blog ini dan rencananya ingin memposting satu demi satu secara berkala. Namun, sayang banget, blognya udah “bagus” dan sayang kalau  jadi amburadul dan tercampur antara catatan perjalanan dan keseharian (termasuk pengalaman menjadi teller, dulu).

Makanya, tanpa niat aneh dan harapan yang terlalu muluk, -misalnya saja dibaca jutaan kali lalu diterbitkan, saya mulai memposting satu demi satu cerita naskah ini. Harapan saya sederhana saja, tulisan-tulisan itu dapat jadi bahan nostalgia antara saya dan rekan-rekan satu perusahaan yang sudah lama tidak bertemu/jumpa.

Bersama bu Mariani, kepala cabang sementara yang aku curhatin tentang banyak hal. Makasih, Bu 🙂 yang sebelah kanan mbak Icha, yang di buku namanya menjadi Caca 🙂

Dan memang, cerita-cerita konyol selama jadi teller itu ternyata menarik perhatian ex kolega saya yang secara antusias berkomentar tentang jalan ceritanya. Terus terang, saja jadi bersemangat untuk secara rutin mengupload cerita-cerita yang ada di wattpad.

Ternyata, tak hanya teman-teman saya yang tertarik. Adalah Ayun, seorang editor dengan motto hidup, “Be Nice! I might be your editor someday!” yang dulu pernah nyasar di blog saya karena cerita perjalanan di India, yang kemudian mengontak saya dan bilang bahwa naskah saya akan dibawa ke dalam rapat redaksi minggu depan. Saya lantas diminta mengirimkan file naskah tersebut.

Naskah itu lantas saya kirimkan tanpa ada perasaan apapun. Bener-bener simpel. Saya cari naskahnya (bahkan hanya saya forward dari email yang saya kirim ke penerbit terakhir), saya kirim lagi via email. Done.

Saya gak kepikiran tentang model rapat macam apa yang dimaksudkan Ayun, dan perjalanan macam apa lagi yang harus dilalui oleh naskah saya itu.

Telepon dari Nomor Tak Dikenal

Sehari-hari saya berjualan. Namun, herannya saya selalu malas angkat telepon dari nomor yang tak dikenal hehe, padahal bisa saja itu telepon dari pembeli, kan? Di satu siang di hari Senin, telepon saya berdering beberapa kali. Namun karena tidak saya kenal, maka telepon itu saya abaikan. Siapa tahu itu telepon dari agen asuransi atau pedagang yang menawarkan obat pelangsing, kan? 🙂 tak lama, muncul sebuah notif di WA saya.

“Hei ini Ayun, tadi aku yang telepon dari nomor kantor, tolong diangkat, ya!”

Tak lama, telepon kembali berdering. Saya lantas mengangkat telepon tersebut. Perbincangannya singkat saja, intinya penerbit Diva Press -tempat Ayun bekerja, berniat menerbitkan naskah saya. Well, ada jeda sekian detik untuk saya meluapkan kegembiraan dengan (lagi-lagi) salto, kayang, joget dumang dan leloncatan di toko sebelum kemudian saya tersadar ada orang di ujung telepon yang masih menunggu respon saya.

Bersama teman-teman satu per-kuli-an 🙂 pegawai pimpinan dan pegawai pelaksana lagi pada baekan muahahaha

Hihihi. Ya ampun, gak kebayang bahagia eh noraknya, kan?

Beberapa hari kemudian, tepatnya di tanggal 11 Agustus 2017 –tanggalnya inget, karena habis cek history di email hehehe, Tiwi yang merupakan redaktur pelaksana Diva Press mulai menghubungi saya via email. Beliau menginformasikan beberapa hal mengenai kerja sama penerbitan naskah saya, termasuk perbicaraan tentang royalti –uhuy, dan konsep MoU yang harus saya baca dan pelajari untuk kemudian jika disetujui akan segera dikirimkan dalam bentuk cetak dan harus saya tanda tangani.

Semua proses ini berjalan dengan begitu mudahnya. Saat kemudian kiriman MoU tiba di Palembang, saya tanda tangani di bagian yang ada materainya, lalu kemudian saya kirim balik ke Yogyakarta di hari yang sama. Rasanya saya masih gak percaya kalau sebentar lagi saya akan punya buku yang hanya ada nama saya seorang di bagian sampul bukunya!

Main ke kantor Diva Press. Yang kiri Ayun, yang kanan Tiwi. Yang tengah umang-umang.

“Ini nggak mimpi, kan?” batin saya. Untuk memastikan jika itu semua nyata, gak hanya halu dan khayalan semata, saya merayakannya dengan jajan pempek di warung depan. Oke sip.

Perombakan Naskah

Naskah yang awalnya saya beri judul Bankir Ketelleran itu ternyata terlalu tebal untuk diterbitkan. Maklum, dalam satu naskah terdapat kurang lebih 40 cerita tentang pengalaman saya selama menjadi teller. Jadilah, untuk menyesuaikan dengan persyaratan dari penerbit, ada beberapa cerita yang saya hilangkan. Yakni, cerita yang saya pikir kurang terlalu menarik dan mirip dengan cerita di bab lain.

Ada 37 cerita yang kemudian lolos di tahap akhir. Sedikit ya yang dihilangkan? Hehe iya. Sebagai gantinya, saya harus merevisi di bagian isi cerita-cerita yang ada agar jumlah halamannya sesuai seperti yang diinginkan. Dan cerita yang dibaca oleh pembaca tetap banyak. (Nah kalau nanti kamu baca, lumayan kan bisa ngerasain 37 pengalaman seru dan konyol saya, dulu, sebagai teller hehehe)

Ayun, si editor yang juga blogger dan Net CJ itu, mulai bekerja menggarap naskah saya. Beberapa kali saya dikontak untuk menanyakan beberapa istilah perbankan yang saya pakai. Pun, ketika ada di satu bab yang banyak bertaburan huruf kapitalnya –Hmm, ini cerita saat saya dituduh mencuri uang nasabah hehe, saya lihat, oleh Ayun, kalimat-kalimat penuh kemarahan itu kemudian diganti menjadi huruf kecil hihihi.

Hari libur tapi ngumpul di kantor area buat ikutan NFC (National Frontliner Championship, semoga gak salah artinya hehe) aku mewakili cabang di perlombaan sebagai teller. Lumayanlah, juara 3 se kantor Area, walau gak sampe ke tingkatan nasional. 🙂

Saya juga dilibatkan dalam konsep pembuatan sampulnya. Kebetulan sekali, sebelum naskah saya ini diterbitkan, sudah ada 2 naskah sejenis yang lebih dulu terbit oleh penerbit lain. Judulnya Bankir Sesa(a)t yang diangkat dari blognya Ichanx dan satu lagi Teller Sampai Teler karya Ferhat, blogger asal Aceh. –Tadaaa, believe it or not, saya sempat bekerja di bank yang sama dengan Ferhat, dan buku saya ini menceritakan bank yang sama seperti yang dituliskan di bukunya Ichanx (namun beliau sebagai CSO alias pegawai pimpinan dan saya sebagai kuli-kroco alias teller hehe).

2 buku ini banyak menginspirasi saya. Saya banyak belajar dari 2 penulis ini saat mempersiapkan Bankir Ketelleran. Pun, begitu selesai, saya tidak bilang bahwa naskah saya lebih baik dari 2 buku di atas, namun, bolehlah saya bilang jika Bankir Ketelleran kian melengkapi cerita keseruan yang ada dari 2 mantan bankir tersebut.

Oke, kembali ke naskah saya.

Lama tak ada kabar, saya kerap bertanya-tanya, “jadi kapan ya terbitnya?” Namun, jujur saja, saya segan untuk bertanya terus. Macam orang tak sabaran banget –padahal iya! Hahaha. Bahkan, saat saya main ke kantor Diva Press saat ke Yogya beberapa waktu lalu, saya pun tak berani bertanya lebih rinci. Satu yang saya yakini, bahwa naskah saya sedang mereka persiapkan. Dan saya harus bersabar.

Sebuah Babak Baru

28 November 2017, sekitar pukul 9 pagi, perjalanan naskah saya akhirnya masuk ke babak baru. Saya dikirimi desain sampul bukunya. Nampak di sana, judul naskah saya yang sebelumnya Bankir Ketelleran diubah menjadi Jungkir Balik Dunia Bankir : Curhat Gokil Mantan Teller Bank.

Bukan main senangnya perasaan saya hari itu. Akhirnya, desain sampul yang hanya-ada-nama-sayanya-itu jadi juga! Hehe, maaf saya norak, tapi ini pengalaman pertama bagi saya. Dulu-dulu, paling banter nama saya ada di bagian belakang sampul atau malah tidak ditulis sama sekali karena bukunya ditulis bersama-sama/antologi.

Salah satu aksi norakku saat dikontak editor 😀

Saya langsung jatuh cinta dengan desain sampul buku ini saat pertama kali menatapnya. Namun, ada beberapa revisi kecil yang saya ajukan. Pertama, saya minta dihilangkan tulisan “Jaminan Lucu” berbentuk bundar yang ada di sampul. Kenapa? Karena kebanyakan ceritanya cerita ngenes, dan embel-embel “Jaminan Lucu” itu sungguh mengerikan! Hehehe.

Kedua, saya minta ditambahkan desk name plates bertuliskan “Omnduut” di atas konter tellernya. Lumayan, biar followers twitter dan IG nambah tanpa harus beli followers. -ngakak di pojokan. Dan terakhir, saya minta si tokoh utamanya ditambahkan kacamata, biar otentik hihihi.

Next counter please 🙂

Permintaan saya disetujui dan, hola, di hari yang sama, permintaan saya itu langsung dikerjakan oleh mas ilustratornya (yang menurut pengakuan Ayun, adalah salah satu ilustrator terbaik di Diva Press). Dan, tadaaa ini dia sampul depan dan sampul belakang finalnya!

Ini yang desainnya kece banget. Kayaknya bisa tahu kalau dulu rambutku pernah kribo hahaha

Kini, buku ini tengah masuk proses percetakan untuk kemudian nanti mulai didistribusikan ke toko-toko buku di (sebagian besar kota di) Indonesia. “Apakah buku ini akan dijual juga di toko buku online?” oh tentu saja! Namun, sampai detik ini, saya belum mendapatkan kepastian kapan waktunya. Semoga saja akhir Desember atau awal Januari nanti sudah dapat didistribusikan.

Sedikit memodifikasi kata-kata dari bang Zia Ulhaq terhadap bukunya, yang kemudian saya terapkan terhadap buku saya ini, yakni, “Buku Jungkir Balik Dunia Bankir ini bukanlah sebuah karya yang sedemikian spektakuler. Tapi, ini adalah karya yang hebat, setidaknya bagi saya sendiri.”

Ya, sebagai karya perdana, pembaca mungkin akan dengan mudah menemukan kekurangan-kekurangan dari buku ini. Bagi banyak teman, bisa jadi buku ini “not my cup of tea” alias bukan jenis bacaan yang dapat dinikmati bagi mereka. Terlebih, teman-teman yang bahan bacaannya sedemikian berkualitas, misalnya pelahap buku-buku sastra. Ya sah-sah saja, karena saya pun tak semua jenis buku dapat saya baca dengan nikmat.

Jungkir Balik Dunia Bankir adalah karya saya yang sederhana. Karya yang saya tulis dengan jujur karena semua cerita yang ada, betul-betul saya alami saat dulu bekerja sebagai teller. Bahkan, nama-nama tokoh yang ada di sana, benar-benar ada (hanya saya modifikasi sedikit, seperti Yudi jadi Iyus) dan sebagaian besar wajahnya dapat kalian lihat di postingan ini.

Ada 37 kisah yang saya bagikan di buku ini. Jika nanti ada satu atau dua cerita yang menarik, yang benar-benar kalian suka, maka sudah cukuplah hal itu bagi saya. Karena apa? kenikmatan seorang pembaca (walaupun hanya seujung kuku) adalah penghargaan tertinggi yang diterima bagi seorang penulis seperti saya.

Akhir kata, terima kasih buat semua teman-teman yang selama ini sudah mendukung saya. Meyakini bahwa suatu saat saya akan punya buku sendiri (yang kadang keyakinan mereka itu jauh lebih besar ketimbang keyakinan saya sendiri). Ternyata inilah waktunya 🙂

Foto di hari terakhir jadi teller. Sebelum kemudian dimutasi ke Kantor Wilayah dan kerja sebagai back office di Human Capital di sana. Yang sebelah kiri itu Alm.Yudi, yang di buku namanya kuganti Iyus. Dia pernah dikerjain nasabah hingga 10 juta uangnya melayang. Kisah lengkapnya di buku dong ah 🙂

Oh ya, pesan sponsor, jangan lupa P.O ya! Dukung para penulis dengan cara MEMBELI karyanya, bukan dengan cara berkata, “gue jangan lupa dikirimi gratis, ya!” Nah, bagi siapapun kalian yang mungkin tertarik dengan buku ini (semoga benar begitu, bukan hanya membeli karena kalian kenal saya dan merasa tidak enakan), ditunggu saya kabar selanjutnya mengenai pemesanan awal buku Jungkir Balik Dunia Bankir ini.

Setelah 8 buku antologi, akhirnya punya buku sendiri!

Perjalanan buku ini masih panjang. Dan mari kita simak sama-sama bagaimana perjalanan buku ini kedepannya.

Sekali lagi terima kasih.

Iklan

139 thoughts on “Di Balik Layar Pembuatan Buku Jungkir Balik Dunia Bankir

  1. Wah hebat dong mas udah bisa terbitin buku karya sendiri.
    Kayaknya seru banget ya selama jadi Teller di Bank M, hahhaa.
    AH jadi ingat pengalman dulu waktu jadi Head Teller.
    Banyak dukanya dibanding sukanya 😆

  2. Baca ini aku ingetlah pengalaman pas msh jd anak baru, teller yg blm ngerti apa2. Apalagi aku ditempatin di pd indah yg mana OKB nya banyaaak cuy :p Tau dong yaaa, pd minta dilayani kyk raja.. Pernah ngerasain dilempar kertas, disemprot sampe di amuk hahahaha.. Makanya yg kamu alami, aku bisa ngerti bangettt :p. Skr, anak2ku di branch yg kdg aku share, cara handle nasabah marah, cara nenanginnya, dan jgn prnh memperlihatkan muka cemberut ato judes, secapek apapun kita menghadapi mereka. Nasabah sbnrnya cm mau 1, didengerin kalo marah, dan bantu cari solusi :p

  3. Woww,congrat om nduutt,mau nih bukunya.Sudah terlanjur jatuh cinta sama om ndutt*uppsss nanti saya di gebukin sama Chelsea Islan nih😄😄.Tulisannya maksutnya,beneran ini saya mau bget tp saya di LN.Cara dapetnya gimana om,di tunggu responnya.Please om,l am looking forward for your stories.

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s