Serba

Menyelami Arti Sejarah Sriwijaya di Indonesia Bersama JJ.Rizal

DSC_0166

Mas JJ.Rizal saat menyampaikan materi

“Coba lihat foto ini. Apa yang menarik di sana?”

Semua peserta workshop berebut menjawab. Namun rata-rata berkata, “oh itu, wanita yang memakai pakaian tradisional Palembang.”

“Ya benar,” ujar beliau. “Lalu, diantara sebegitu banyak pakaian tradisional yang ada Indonesia, kenapa yang dipilih kemudian adalah pakaian tradisional Palembang?”

Mendengar pertanyaan lanjutan tersebut, kami semua terdiam.

*   *   *

Penulis yang lebih dikenal sebagai sejahrawan Indonesia, JJ.Rizal memulai pertemuan yang diprakarsai oleh Akademi Berbagi Palembang (@AkberPLG) Sabtu, (23/7) dengan memamerkan sebuah foto yang memperlihatkan peristiwa peresmian Hotel Indonesia oleh presiden pertama RI, Ir.Soekarno pada tanggal 5 Agustus 1962.

Sekilas foto tersebut nampak biasa, namun ternyata ada sebuah alasan penting yang mendasari keputusan presiden Soekarno memilih penggunaan pakaian tradisional Palembang dalam acara peresmian Hotel Indonesia tersebut.

DSC_0162

Ini dia foto yang bersejarah itu. Peresmian Hotel Indonesia

Hal ini tak terlepas dari kebesaran kerajaan yang dalam bahasa sansakerta berarti Kejayaan (yang) Gemilang, yakni jika mengacu pada kata Sri yang berarti “bercahaya” atau “gemilang” dan Wijaya yang berarti “kemenangan” dan “kejayaan”.

Lebih dari itu, presiden Soekarno berkata, “aku ingin kita mengingat Sriwijaya seperti mengingat Majapahit yang sejarahnya mengantarkan kita menjadi Indonesia.”

Sriwijaya itu kerajaan atau (hanya) sebuah peradaban?

Pertanyaan itu dilontarkan oleh salah satu peserta workshop bertajuk Membaca Sriwijaya yang diadakan di lantai dasar Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Pemuda tersebut membagikan pengalamannya bertemu sejarahwan lain di kota Palembang yang memberikan pernyataan bahwa Sriwijaya itu bukanlah sebuah kerajaan, namun sebuah peradaban.

Mendengar pertanyaan itu JJ.Rizal yang pernah mendapatkan penghargaan Anugrah Budaya Gubernur DKI Jakarya pada tahun 2009 menjawab dengan sederhana, “peradaban hanya akan ada jika terdapat sebuah sistem yang sudah matang.”

????????????????????????????????????

Para peserta Akademi Berbagi yang hadir. Rame!

JJ.Rizal banyak bercerita mengenai kerajaan Sriwijaya dan pransertanya dalam menyokong kemerdekaan Indonesia. Bahkan beliau berkata, “Majapahit dan Sriwijaya seyogyanya adalah embrio akan lahirnya bangsa Indonesia.”

Hal yang sama juga diingatkan kembali oleh Mohammad Yamin, seorang sastrawan, budayawan dan sejarahwan yang kemudian dinobatkan sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia, pada saat Deklarasi Juanda dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 1957. Beliau kembali mengingatkan semua orang betapa pentingnya keberadaan Sriwijaya dalam menyokong terlahirnya bangsa Indonesia.

“Suatu bangsa itu lebih seperti roh daripada tubuh dan roh ini dapat ditelusuri dari masa lalu,” ujar beliau.

Kemerdekaan Indonesia tentu tak terlepas dari peran pemuda-pemudi Indonesia yang kemudian kita kenal sebagai pahlawan proklamator kemerdekaan Indonesia, namun memang, seiring penjajahan hampir 300 tahun (yang kita ketahui lebih dari 350 tahun namun ternyata itu salah ujar JJ.Rizal) keberadaan kerajaan, baik itu Majapahit ataupun Sriwijaya merupakan salah satu bagian penting berdirinya Indonesia menjadi negeri yang hebat seperti sekarang ini.

JJ.Rizal dan Kuntilanak

Walaupun materi pertemuan terasa berat namun faktanya adalah pertemuan JJ.Rizal dan kami semua berjalan dengan santai bahkan seringkali diselingi gelak tawa. Sosok yang selama ini aku hanya lihat di TV tampil dengan ramah dan penuh senyuman.

Guyonan-goyonan yang disampaikan begitu ngena. Paling banyak sih jika sudah mengaitkan suatu kejadian dengan kuntilanak.

DSC_0168

“Coba bayangkan, untuk membaca prasasti itu sungguh sulit. Ibaratnya, akan lebih mudah kita menemukan kuntilanak ketimbang membaca prasasti peninggalan bersejarah.”

Pertemuan Akademi Berbagi kali ini juga kembali dimeriahi oleh para pengisi pertemuan Akademi Berbagi sebelumnya. Diantaranya mbak Terry (@NegeriID) yang pertemuannya juga aku hadiri, ada lagi fotografer handal Denny Tumbelaka (@DTumbelaka) dan blogger sekaligus traveler kece Sutiknyo Bolang (@Lostpacker).

DSC_0170

Terlihat mbak Terry, om Denny dan rekan-rekan yang lain 🙂

Selain berbagi informasi dan pengalaman di Akademi Berbagi, mereka semua hadir di kota Palembang dalam rangka memeriahkan Festival Sriwijaya ke-25 yang berlangsung di seputaran Benteng Kuto Besak Palembang. Selain mereka, masih banyak lagi orang-orang hebat yang hadir untuk membagikan pengalamannya. Eh, selain membagikan pengalaman, mereka juga membagikan beberapa benda loh, misalnya saja mas JJ.Rizal yang membagikan 4 buah buku mengenai sejarah Sriwijaya. Hiks, sayang aku belum beruntung hehe.

Pertemuan selama kurang lebih 2,5 jam tentulah bukan waktu yang cukup untuk mengulik sejarah kerajaan Sriwijaya. Namun paling tidak, dari pertemuan tersebut, timbul keinginan untuk kian mengenal Palembang beserta sejarah yang menyertainya.

DSC_0169

Eh ada Joshua eh Omnduut :p

“Apa cara yang paling mudah?” tanya peserta yang lain.

“Langkah awal, coba cintai dulu museum dan perpustakaan,” jawab JJ.Rizal.

Hmm, benar juga ya. Sebagai penggemar museum, aku sangat setuju dengan pernyataan itu. Walau begitu, aku pribadi harus lebih banyak belajar dan mencintai lebih maksimal terhadap dua hal itu. Bagaimana dengan kamu?

Iklan

52 thoughts on “Menyelami Arti Sejarah Sriwijaya di Indonesia Bersama JJ.Rizal

  1. Ping-balik: 5 Hal Ini Seharusnya Bikin Kamu Mupeng Datang Ke Festival Sriwijaya | Omnduut

  2. Aku baru tahu kalau ternyata kenyataan sejarahnya Indonesia cuma dijajah selama 300 tahun, bukan 350 tahun seperti yang mafhum kita pahami selama ini. Ada penjelasan lebih lanjutnya gak Yan, tepatnya seperti apa?

    • Iya mas Bart, bahkan kata JJ Rizal gak sampai 300 tahun. Menurut beliau (dan seingatku), Indonesia dijajah tidak sampai 300 tahun itupun HANYA Manado dan Batavia (aka Jakarta), mungkin yang dimaksud JJ Rizal tentang penjajahan di sini adalah penjajahan yang terstruktur ya.

      Trus kenapa jadi 350 tahun? itu tercetus dari guyonan Soekarno. “Emang kalian mau kita dijajah lagi selama 350 tahun?” begitu sahutnya ke orang-orang (aku lupa siapa).

      Jadi pertanyaannya, kenapa kok kita masih mengenal kalo dijajah 350 tahun ya? nah ini rumit. Padahal buku pelajaran yang memuat sejarah itu pertama kali dicetak tahun 1956 dan sampai sekarang belom ada perbaikan lagi.

      • Wah menarik banget itu info dan teorinya. Dan bisa jadi itu tepat. Karena selama yang aku ingat, kenyataannya adalah Belanda berusaha menguasai daerah-daerah di Indonesia yang secara de facto masih berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan lokal. Berbeda dengan Batavia dan sekitarnya, serta Manado yang sudah tidak berada di bawah kekuasaan kerajaan manapun. Dan setiap penyerahan kekuasaan yang bersifat paksa, selalu didahului dengan adanya pertempuran. Tidak pernah ada yang sukarela menyerah begitu saja untuk dijajah.

        Makasih infonya Yan, ini menarik untuk diulik lagi 🙂

  3. Dari foto2nya keliatan banget klo bincang2nya menarik. Gak keliatan muka bosen para pesertanya

    “Cintai museum dan perpustakaan.”
    Suka kalimat ini 🙂

  4. Semoga suatu saat bisa ketemu dan ngobrol panjang dg kak JJ. Rizal, kak. Masih penasaran dengan taman Sriksetra. Taman terindah berdasarkan isi prasasti Talang Tuo. Andai ada mesin waktu yg bisa membawaku ke zaman Sriwijaya *ngimpi*

    • Ho oh, aku juga sering mikir, “hmm kawasan ini beberapa tahun lalu kayak gimana ya?” mungkin di surga ntar semua bisa disetel ulang hehehe

  5. Saya pernah dengar mas, salah satu cara untuk melihat masa depan adalah dengan membaca masa lalu. Tulisannya bagus, menambah wawasan. Salam kenal mas 🙂

  6. ah.. saya gak tau ada acara ini… kalau tau saya pasti ikutan…

    selalu tertarik dengan cerita sejarah masa lalu walaupun gak ngerti dan selalu lupa… he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s