Serba

“Belajar” Sehari di Kelas Inspirasi

page

“Do what you can, with what you have, where you are.” ― Theodore Roosevelt

Menjadi relawan inspirator di Kelas Inspirasi bukanlah satu perjalanan yang mudah. Kenapa? Karena pada pelaksanaan Kelas Inspirasi #1 di Palembang April lalu, aku ikut mendaftar sebagai relawan namun pada kesempatan tersebut tidak terpilih. Setelah dipikirkan, bisa jadi karena ketika mendaftar aku tidak fokus sehingga menuliskan semua pekerjaan yang pernah dan sedang dijalani.

Nah ketika pendaftaran relawan Kelas Inspirasi #2 dibuka, aku teringat bahwa 2 tahun belakangan, aku aktif sebagai postcrosser di Komunitas Postcrossing Indonesia. Dan, ternyata menjadi postcrosser itu memiliki penyebutan/istilah tersendiri. Deltiologist. Ya, sebetulnya kegiatan ini tidak murni sebuah kerjaan tapi cenderung ke hobi. Namun, ini hobi yang juga dapat menghasilkan uang, lho! Nah ketika pendaftaran menjadi relawan, aku sudah sampaikan itu semua. So, aku nothing to lose aja. Pikirku dulu, jika terpilih, aku bisa memperkenalkan dunia postcrossing ke para siswa. Dan voilà, ntah dengan pertimbangan apa, akhirnya aku benar terpilih menjadi salah satu relawan inspirator di kegiatan ini.

Sebelum hari H, para relawan inspirator, relawan fotografer & videographer serta para fasilitator berkumpul untuk diberikan pengarahan. Pada kesempatan inilah aku bertemu dengan belasan relawan Indonesia Mengajar yang mendapatkan penempatan di penjuru Sumatera Selatan. Sungguh itu jadi pengalaman luar biasa ketika dapat bertemu dengan pemuda/i terpilih yang turut berjuang memajukan pendidikan di Indonesia ini. Semangat para kami –para relawan, mampu dikobarkan. Sampai-sampai rasanya tak sabar menunggu hari pelaksanaan Kelas Inspirasi tiba.

Tibalah pada saat pelaksanaan Kelas Inspirasi #2. Aku tergabung di kelompok 9 yang mendapatkan penugasan untuk mendatangi SD Negeri 169 Gandus, Palembang. Lokasi sekolah ini cukup jauh dan agak terpencil. Bahkan, puluhan tahun tinggal di Palembang, baru pada hari itulah (Kamis, 27/12/2014) aku mendatangi kawasan ini. Bersama dengan ke-4 relawan inspirator lainnya –mas Sigit (staff teknik kontraktor), mbak Fetty (Staff Kementerian Kehutanan), mbak Kiki (Dokter), Fitri (Guru) serta Agung (Fasilisator) dan Syaiful (Fotografer & videographer), kami memulai hari dengan penuh semangat dan siap menerima tantangan dalam berinteraksi dengan para murid hahaha.

IMG_6987

Kakak Kiki, Fitri, Fetty, Sigit dan Yayan. Kakak Ipul dan Agung sibuk foto 😀

Sesampai di SD Negeri 169, kami disambut dengan sangat baik oleh ibu Nur selaku kepala sekolah dan para guru serta jajaran staf. Kami memasuki kawasan sekolah diriingi tatapan penasaran dari para siswa. Sebelum pelaksanaan Kelas Inspirasi dimulai, kami berkoordinasi dengan pihak sekolah terlebih dahulu sembari berbincang ringan. Wah, kami jadi sangat terharu. Kami semua dijamu di ruang perpustakaan sekolah dan disuguhi minuman hangat serta beberapa jenis makanan dan buah. “Hayo dicobain, ini pisang asli Gandus,” ujar Ibu Nur ramah. Sambil berkoordinasi sedikit, kami berbincang dengan Ibu Nur dan beberapa guru.

DSC_0001

Sarapan pagi dengan kue dan buah. Untuk ukuran SD di Gandus, perpustakaannya sudah cukup baik.

“Jadi, di sekolah ini hanya ada 2 guru yang berstatus pegawai negeri. Sisanya honorer semua,” sahut Ibu Nur. Aku tidak mau menerka guru mana saja yang sudah menjadi PNS atau belum. Namun, sebagian besar guru disana usianya sudah ‘senior’. Jelas sekali mereka sudah mengabdi sebagai tenaga pendidik belasan bahkan puluhan tahun. Ah, semoga nasip para guru berdedikasi seperti mereka ini lebih diperhatikan oleh pemerintahan yang baru. *lirik Pak Anies Baswedan.

Tak lama kemudian kami keluar dan ikut berbaris di lapangan. Akan ada (semacam) upacara pagi dan perkenalan dari Ibu Nur. Aku, yang kebetulan ditunjuk menjadi ketua kelompok juga kebagian ngomong di hadapan para siswa/i ini. Oh ya, kapan terakhir kalian mengikuti upacara? Sudah lama sekali, bukan? Pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, aku merinding euy!

Upacara selesai dan saatnya “mengajar”. Di sesi pertama, aku kebagian ‘menghadapi’ siswa/i kelas 4. Begitu masuk kelas aku disambut dengan….”SIAAAAP. Beri saaalaaam. Assaaaalaamuaaalaaaikuuuum warraaahmatullaaaahi waaabarakaaatuuuuh” hahaha, ingatkanku langsung meloncat ke belasan tahun lalu ketika aku masih SD. Surprise! Ketika aku masuk kelas, sebagian dari mereka berteriak, “kak Yayaaan!” nah artinya mereka menyimak ketika aku tadi berbicara ketika upacara.

Untuk pelaksanaan Kelas Inspirasi ini, aku sudah menyiapkan beberapa ‘senjata tempur’ hehehe. 4 album kartu pos aku bawa. Aku sengaja menyiapkan peta Indonesia dari rumah karena khawatir peta tersebut tidak tersedia di kelas. Aku juga sudah menyiapkan beberapa gambar khas sebuah kota untuk bahan games tebak-tebakan gambar dan juga puluhan kartu pos dan prangko yang akan mereka kreasikan dan kirim ke teman-teman di Komunitas Postcrossing Indonesia.

Utama

Antusias membolak-balik album kartu pos 🙂

Begitu album kartu pos aku bagikan, wow mereka antusias sekali. Sampai-sampai kelas jadi sedikit ricuh.

“Haaaaiii,” ujarku.

“Haloooo,” balas mereka.

Ya, untuk memfokuskan konsentrasi para siswa/i, kami diajarkan beberapa cara ketika briefing. Salah satunya meneriakkan sapaan yang berbalas seperti itu. Para siswa berebutan bertanya, “Kakak ini batu emas ya?” teriak salah satu siswa. Oh ternyata kartu pos Kyaiktiyo Pagoda yang aku dapatkan dari Myanmar menarik perhatian mereka. Aku pun menjelaskan sedikit informasi mengenai batu tersebut.

IMG_7061

Sibuk menerangkan 😀

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Kakaaaaak, ini hewan apa?” Tanya siswa lain yang mungkin baru pertama kali mengetahui hewan Tarsier Mawmag yang sekilas mirip monyet. Begitulah seterusnya. Masing-masing kelompok antusias dan bertanya macam-macam. Jadi, fokusku pada saat itu tak ubahnya pelajaran IPS (sejarah dan geografi). Sesuai jargon blog kartu posku, aku memang ingin mengajak adik-adik ini untuk, “menatap dunia melalui kartu pos”.

Tiba-tiba…

BAK BIK BUK… dua siswa laki-laki baku hantam di sudut kelas. Waduh, yang satu malah sampai menangis dan berusaha untuk mengejar temannya yang terlebih dahulu memukul. Nah, ketika di briefing sih sudah diajarkan juga bagaimana menghadapi siswa yang menangis. “Cukup dibiarkan, usahakan untuk mengalihkan semua konsentrasi teman-temannya agar tidak fokus ke siswa yang menangis tersebut.” Eh ternyata gak bisa euy, lha bocah lanangnya mau mengejar dan balas memukul gitu. Mau gak mau ya aku pisahkan. Salah satu bahkan sampe kupeluk karena selalu mau berlari mengejar ‘musuh’nya itu.

Tapi… ya namanya juga anak-anak. Setelah itu semua kembali normal. Yang berantem sudah main bersama lagi. *antiklimaks haha. Nah sambil ‘mendongeng’ aku berusaha memaparkan bagaimana kerja seorang deltiologist itu. Aku juga memberitahu mereka mengenai korespondensi dan bagaimana berkomunikasi dengan teman yang ada di seluruh dunia.

“Jadi harus bisa bahasa Inggris, ya, kak?” Tanya salah satu siswa.

Aha! “Ya, makanya kita harus terus semangat belajar. Termasuklah belajar bahasa asing seperti bahasa Inggris,” sahutku. Mereka angguk-angguk tanda  mengerti. Selanjutnya, peta yang sudah aku siapkan aku jadikan bahan untuk bermain bersama.

Aku panggil secara berkelompok. Ada puluhan gambar kecil yang bagian belakangnya sudah aku temple double tape. Misalnya saja aku menyiapkan gambar Rumah Gadang. Nah tugas mereka ialah menempekkan gambar tersebut di peta yang menunjukkan kota padang. Hasilnya? Wah bisa dibilang mereka buta peta Indonesia euy.

Jadilah, yang sebelumnya diniatkan untuk games jadi kami lakukan secara bersama-sama. “Nah itu gambar apa dik?”

“Bunga bangkai!” jawab seseorang. “Oke sekarang tempelkan gambar itu di kota Bengkulu. Yuk kita cari bersama-sama.” Teruuus begitu hingga gambar-gambar yang aku persiapkan habis tertempel.

Terlihat, ada beberapa siswa yang pengetahuannya cukup baik. Namun sebagian lagi hanya bisa bengong dan harus diarahkan terlebih dahulu.

“Nah, sekarang siapa yang mau nyobain kirim kartu pos untuk teman-teman kakak yang berada di seluruuuh Indonesia.” Dan… semua pada rebutan dong ya hahaha. Nah, berhubung jumlah kartu pos terbatas, aku gak kuat modalnya siapin 120 kartu pos + prangko buat seluruh siswa/i. Jadilah biar gak terjadi rasa iri, so, aku buat pertanyaan dulu. Yang bisa jawab baru deh aku kasih kartu pos.

“Ada yang tahu ibukota Jawa Barat?”

….hening.

“Ada yang bisa sebutkan 2 aja nama provinsi di Indonesia?”

….hening (lagi).

Wah, apa pertanyaanku terlalu ketinggian ya?

“Kalo ibukota Indonesia tahu nggak?”

…(masih) hening. Tapi akhirnya ada yang bisa jawab. Piuh. Mereka bukannya malu-malu loh, tapi beneran bingung. Wah, aku jadi menerka-nerka. Apakah memang pertanyaan itu terlalu sulit atau memang belum dipelajar (atau sudah tapi mereka tidak ingat?)

Kartu pos sudah dibagikan. Walaupun terbatas semua bisa ikutan keroyokan nulis kartu pos. Ada yang malu-malu, ada yang terlalu dominan sehingga nggak mau kartu posnya ditulis sama temannya. Haha. Ada yang seru berkelompok ngegambar ada juga yang Cuma ngelihatin doang. “Kok gak ikutan nulis,” tanyaku. Eh dijawab cuma geleng-geleng aja. >.<

Bagaimana rasanya berinteraksi dengan siswa SD? LUAR BIASA! Kemeja yang tadinya rapi basah oleh peluh. Selepas kelas pertama, lengan aku gulung hahaha. Sekali minum setengah botol habis. Keringat bercucuran? Gak usah ditanya. Tapi memang rasanya senang dan ikutan semangat karena terserap antusias siswa/i tersebut.

“Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once he grows up,” – Pablo Picasso.

IMG_7274

Satu…dua…tiga… LOMPAT!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kegiatan di kelas lainnya kurang lebih sama. Rencananya aku hadir di 3 kelas, eh hanya bisa 2 kelas. Yakni kelas 4 dan 5 saja. Kalau kata relawan lain sih kelas 5 lebih kalem. Nyatanya? Aku nyerah. Hahaha, bisa jadi karena pada saat aku masuk kelas 5 tenagaku sudah banyak terkuras. So, ketika situasi mulai ricuh, aku sudah tidak berdaya lagi hwhw.

Di sesi terakhir kami semua relawan meminta untuk para siswa menuliskan cita-citanya. Kertas beraneka bentuk itu lantas ditempel di “Dinding Cita-cita” yang sudah dipersiapkan oleh Agung. Wah, seru sekali walaupun tetap profesi dokter-polisi-guru mendominasi namun setidaknya cita-cita siswa/i SD Negeri 169 makin bervariasi. Ada yang bercita-cita jadi pedagang, pelukis, pemain bola, ustad dan….

DSC_0061

Hihi, keren cita-citanya ingin jadi Potomodel (kayaknya yang nulis orang Sunda ^_^)

IMG_7405

Aku ingin jadi polwan!

IMG_7402-tile

Kejar cita-citamu ya Dik!

P1020952-tile

Mukromin, siswa kelas 6 yang awalnya ditanya, “Mau jadi apa nanti?” yang dijawab, “Aku gak mau jadi apa-apa, aku gak punya cita-cita” eh di akhir sesi bercita-cita jadi Dokter sekaligus Ustad. Alhamdulillah 🙂

Kegiatan hari itu ditutup dengan menanam pohon yang sudah disiapkan oleh mbak Fetty. Siapa sangka, kegiatan menanam pohon ini ternyata kegiatan yang paling ditunggu sama para murid. Bahkan ketika pagi hari aku masuk ke kelas 4 pun sudah ditanyain, “kak kapan kita menanam pohon?”

IMG_7473-tile

Selalu bersemangat!

Sebelum pulang, kami semua (seperti) upacara (lagi). Bu Nur sangat mengapresiasi gerakan semacam Kelas Inspirasi ini. Begitu pun kami, sangat berterima kasih atas semua kebaikan dan penerimaan yang baik atas kedatangan kami. Siapa yang sebetulnya belajar? Ya kami semua ini. Kami belajar bahwa masih banyak harapan-harapan besar yang terpendam di sebuah sekolah di sudut kota Palembang. Semoga cita-cita kalian semua akan tercapai adik-adik SD Negeri 169. SEMANGAAAAAAT!!! 🙂 Salam wuuuzzzz!

IMG_7522

Foto bareng selepas kegiatan Kelas Inspirasi. Haha, gak gampang loh bikin foto rapi kayak gini 😀

IMG_7520

Foto bersama kepala sekolah beserta jajaran guru

DSC_0072

Para relawan dan “dinding cita-cita”

“…and, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it,” Paulo Coelho, The Alchemist.

Masih belum puas lihat foto-fotonya? yuk intip kegiatan kami di Kelas Inspirasi melalui video ini 🙂

eh… ada yang ketinggalan 😀

IMG_7514

Iklan

51 thoughts on ““Belajar” Sehari di Kelas Inspirasi

  1. Gw tertarik mengikuti program ini. Apalagi mengajar merupakan salah satu passion gw. Gw rencananya mau menjelaskan bagaimana listrik itu bisa dibangkitkan hingga akhirnya bisa sampai ke rumah. Hanya sayang, kegiatannya selalu bentrok dengan kegiatan kerja di kantor. *sigh

    • Tenang Ncha, kegiatan ini akan terus ada 🙂 katanya di Februari atau Maret tahun depan serentak di semua kota yang sudah pernah mengadakan kegiatan ini. Mudah-mudahan ketika pelaksanaan Ancha bisa cuti dan menginspirasi mereka 🙂

  2. Ini fotografer timnya sungguh keren abis, juga para relawannya terutama kakak deltiologist 😉
    Congrats ya Mas Yayan, sudah menjadi bagian dari “Bangun mimpi anak Indonesia” 🙂 Seru kaaann…

    • Ipuull Ipuuull ada yang muji (lagi) niiih hahaha.
      Jadi inget omongan mbak Uniek yang kalo bawa peralatan bisa rusak. Aku deg-degan abis euy haha, alhamdulillah semua aman. Iya mbak, senang dan bangga bisa menjadi salah satu bagian dari gerakan Kelas Inspirasi ini 🙂

    • Iya 🙂 untuk kegiatan Kelas Inspirasi ini hanya sehari. Jadi para profesional yang bersedia ikutan harus siapin 1 hari cuti ketika pelaksanaan karena dilaksanakan pada hari kerja 😉

  3. Ahhh mass aku seneng banget baca cerita ini!!! Soalnya kebetulan aku suka mengajar dan passs banget, kegiatan kampus KKN di desa di Bali juga mengajarkanku banyak hal 🙂 Aku sering pantengin infonya di twitter sayangnya blm sempat terus untuk ikut programnya mereka. Semoga next program bisa ikut AMIN.
    Ah jadi pengen posting tentang kegiatan mengajarku juga 😉

  4. Ping-balik: Memandang Takjub Bait Al-Quran Al-Akbar | Omnduut

  5. Wuih ceritanya sangat sangat sangatttttt menarik. Interaksi ama anak2 sekolah selalu bikin ketagihan. Aku pengen banget ikut Kelas Inspirasi tapi waktunya gak pas ama jadwal mudikku. Aku biasanya mudik di bulan Juni – Agustus, sedangkan Kelas Inspirasi biasanya diadakan sekitar Februari April ya?

    Waktu aku ke kampung Tarak di Papua (2012 & 2014), itu salah satu penempatan Pengajar Muda, senengggggg banget interaksi ama siswa2nya.

    Eh aku baru ngeh dirimu suka ngumpulin kartu pos. Aku demen banget kirim kartu pos. Ngirim aja, kalau terima seneng juga, tapi gak suka nyimpen.

    Ada email yg bisa dihubungi gak? Atau kalau gak nyaman emailnya dipublish di sini, hubungi aku di Private Message ya? Ada di blogku.

    • Wah mbak Evia, terima kasih susah baca tulisan ini 🙂 iya mbak, ini pengalaman yang sangat hebat! akan aku kenang terus sampai kapan pun hihi. Kelas Inspirasi bisa dibilang dilaksanakan sepanjang tahun, tapi memang daerah pelaksanaannya berbeda-beda. Silakan cek di kelasinspirasi.org untuk melihat jadwalnya. Siapa tahu, ada jadwal yang bertepatan dengan pulkam 😉

      Aku juga rasanya senang ketika bertemu dengan pengajar-pengajar muda yang di tempatkan di Sumatera Selatan ini. Mereka orang-orang pilihan 🙂

      Oh ya emailku haryadiyansyah@gmail.com nanti aku kirim juga PM-nya 🙂

  6. Ping-balik: Mengenal FoodPanda dan Mencicipi Lezatnya Bakso Malang Mas Raffa |

  7. Ping-balik: Jerit Hati Para Guru di Kelas Inspirasi |

  8. Ping-balik: Inspirasi dari SDN No. 282/VI Bangko XV – djangki | Avant Garde

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s