Pasca mendatangi negeri dongeng Cesky Krumlov, tujuan saya selanjutnya terus ke arah timur Eropa demi mendatangi negara-negara yang lebih murah haha. Namun, jika langsung tancap gas ke Slovakia, jaraknya lumayan jauh. Saat melihat peta Eropa, pilihannya harus melewati Austria dulu. Wah ya udah, lumayan bisa sekalian eksplor ke sana.
Di Austria pun ada banyak kota yang cakep. Saya sempat kebingungan menentukan destinasi. Pinginnya sih bisa main ke Salzburg atau Innsbruck, tapi letaknya ada di perbatasan Jerman. Kalau milih main ke sana, artinya saya jalan mundur lagi. Alhasil, saya memutuskan untuk main ke Vienna atau Wina yang juga merupakan ibukota dari Austria. Nantinya, untuk berpindah ke Bratislava —ibukota Slovakia, pun dekat. Naik bus pun gak sampai 1 jam.

Setelah memantapkan itinerary, saya langsung menyusuri laman couchsurfing untuk mendapatkan host. Alhamdulillah, pencarian host berlangsung mudah. Penginapan selama 3 hari 2 malam pun didapat. Beruntungnya lagi, kediaman Dennis —host saya, letaknya di pusat kota. Wah beruntungnya! Jadi mau ke mana-mana tuh dekat, sebagian besar modal dengkul saja. Walau Dennis tinggal di lantai 5 sebuah apartemen dan di sana nggak ada lift, semua nggak jadi masalah yang penting ada tempat untuk bermalam gratis hehe.
Oke, selama di Wina, saya main ke mana saya? Ini dia!
Alun-alun Stephansplatz
Kalian kenal sama Yuji Beleza nggak? Konten kreator sekaligus polyglot —orang yang mampu bicara dalam banyak Bahasa, yang terkenal dengan kontennya, “I think I can speak your language?” nah, Yuji biasanya nyegatin dan mewawancara orang-orang tuh di Stephansplatz alias alun-alun kota Wina.


Nama Stephansplatz sendiri diambil dari nama bangunan paling terkenal yang ada di sana yakni Stephandom sebuah katedral yang juga menjadi salah satu gereja tertinggi di dunia. Sebelum abad ke-20, wilayah ini terpisahkan oleh deretan rumah yang membelah wilayah menjadi 2 yakni Stephanplatz dan Stock-im-Eisen-Platz, namun setelah bangunan-bangunan itu hancur wilayah ini menjadi semakin luas.
Wah emang ini pusat utama wisatawan berkumpul deh. Di sepanjang alun-alun berdiri pertokoan merek ternama dan juga restoran-restoran lokal ataupun jaringan internasional. Sekali lagi, karena jaraknya dekat sekali dengan apartemen Dennis, kami —saya dan adik, sering melewati alun-alun ini baik di siang ataupun malam hari.


Ada banyak patung atau monument di sepanjang Stephanplatz ini. Salah satu yang terkenal dan unik yakni The Plague Column/Pestsäule sebuah monumen kolom Tritunggal Mahakudus yang didirikan pasca wabah pes melanda di tahun 1679. Monumen bergaya Barok ini jadi salah satu seni pahat paling terkenal dan menonjol di Wina. Di sekitaran ini pula Yuji sering membuat konten untuk medsosnya.
Saya pecinta bangunan tua, dan betapa senangnya ternyata Stephandom itu dapat dimasuki wisatawan tanpa tiket masuk. Hmm, mungkin ada aturan soal waktunya ya. Kayaknya selama nggak waktu ibadah, katedral yang bernama resmi Katedral Santo Stefanus ini bebas dimasuki oleh wisatawan. Termasuk saya yang tidak mau melewatkan kesempatan itu.

Katedral ini dibangun pada tahun 1137 dan selesai 23 tahun kemudian. Saat masuk ke dalam, saya dibuat takjub dengan detail interiornya. Bagus banget! Bahan utama pembangunan gereja ini adalah batu kapur. Panjangnya 107 meter, lebarnya 40 meter dan tinggi pada titik paling atasnya 136 meter.
Istana Hofburg di Michaelerplatz
Berjarak kurang dari 1 km, ada pula alun-alun Michaelerplatz yang juga jadi alun-alun publik bersejarah yang ada di Wina. Di Michaelerplatz berdiri Istana Hofburg yang dibangun pada abad ke-13 dan sempat jadi pusat kekuasaan Wangsa Habsburg dan saat ini menjadi kediaman resmi dan tempat kerja Presiden Austria.

Ngelihat istana kepresidenannya yang seterbuka ini, saya jadi ingat Grassalkovich Palace, istana kepresidenan Slovakia yang juga tidak memiliki penjagaan yang sedemikian ketat. Uniknya, pada masa Habsburg, Istana Hofburg ini digunakan sebagai kediaman selama musim dingin. Sementara, Istana Schonbrunn difungsikan selama musim panas.
Mulanya, Istana Hofburg ya tidak sebesar sekarang. Istana ini mengalami perluasan beberapa kali seiring meningkatnya kekuasaan mereka. Awalnya direnovasi pada tahun 1438 hingga 1583, lalu diperluas kembali dari tahun 1612 hingga 1806.

Saat saya datang ke sana, tepatnya ketika berada di area Michaelertrakt —salah satu sayap Istana Hofburg, terlihat pula area yang memperlihatkan pondasi yang dibiarkan begitu saja. Rupanya, pondasi itu usianya lebih dari 2000 tahun dan dibiarkan untuk dijadikan bukti sejarah. Keren! Gak heran sih dengan bangunan-bangunan tua yang terawatt baik, Wina ini masuk sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Oh ya, bagi yang gak kuat jalan kaki plus kebanyakan duit haha, menyusuri kota tua Wina ini bisa banget pakai delman loh ya. Kalau beruntung bisa disais-in sama sais yang tampan kayak gini hwhw. Tapi jangan tanya harganya berapa, saya gak nanya waktu itu. Khawatir banyak istighfar setelahnya haha.
Gereja Karlskirche
Sebagai pecinta wisata kota, jalan dikit udah nemu lagi bangunan bersejarah lainnya. Nah, dari Michaelerplatz sekitar 1,3 km berdiri satu gereja yang juga menjadi ikon kota Wina. Gereja Karlskirche namanya yakni gereja bergaya Barok yang didedikasikan untuk Santo Charles Borromeo, tokoh terkemuka dalam Gerakan Kontra-Reformasi.

Pada tahun 1713, setahun setelah wabah penyakit besar terakhir di Wina, Kaisar Romawi Suci Charles VI bernazar untuk membangun sebuah gereja yang didedikasikan bagi santo pelindung yang namanya ia sandang, Charles Borromeo, yang dihormati sebagai penyembuh bagi para penderita wabah.
Sebuah sayembara arsitektur diadakan, dan Johann Bernhard Fischer von Erlach memenangkannya, mengungguli para pesaing seperti Ferdinando Galli-Bibiena dan Johann Lukas von Hildebrandt. Pembangunan dimulai pada tahun 1716 di bawah pengawasan Anton Erhard Martinelli.

Setelah J.B. Fischer wafat pada tahun 1723, putranya, Joseph Emanuel Fischer von Erlach, menyelesaikan pembangunan tersebut pada tahun 1737 dengan sejumlah perubahan pada rancangan awal. Hmm, ntah deh ya seberapa jauh perubahannya. Yang jelas, rancangan Karlskirche yang sekarang ini pun udah cakep banget. Di sekitaran gereja banyak kursi tempat duduk nyantai.
Berbeda dengan katedral Stephandom yang gratis, untuk masuk ke gereja ini kudu bayar. Sebab itu deh saya nggak masuk. Tapi nggak apa-apa, bisa menikmati keindahannya dari luar saja udah senang kok.
Si Kembar Kunsthistorisches & Naturhistorisches
Dua nama tempat itu merupakan nama 2 museum yang berada saling berhadapan sehingga sering disebut warga sekitar sebagai museum kembar. Kedua museum itu yakni Naturhistorisches Museum (Museum Sejarah Alam) dan Kunsthistorisches Museum (Museum Sejarah Seni) Tapi, berhubung masuk museum di Wina ini berbayar nggak kayak di London yang semua museumnya gratis, saya nggak masuk ke dalam museum-museumnya.

Saya udah cukup senang menikmati kedua museum ini lewat Maria-Theresien-Platz atau area alun-alun yang berada di antara kedua museum. Baik museum atau alun-alunnya, semua dibangun di waktu yang bersamaan di tahun 1889.

Tepat di area tengah terdapat Monumen Maria Theresa, sebuah patung besar yang menggambarkan Permaisuri Maria Theresa (1717-1780) seorang penguasa monarki Habsburg yang hingga kematiannya menjadi satu-satunya wanita yang memegang jabatan tersebut. Bayangin, saat itu Maria Theresa ini berdaulat tak hanya bagi Austria tapi juga area-area lain seperti Hungaria, Kroasia, Bohemia, dsb.
Cuci Mata di Naschmarkt
Saya percaya, salah satu untuk melihat dan menyaksikan bagaimana warga lokal hidup itu maka datangilah pasarnya. Lagi-lagi saya beruntung, apartemen Dannis sangat dekat dengan Naschmarkt, pasar buah dan sayuran dengan luas 1,5 km!

Walaupun namanya pasar buah dan sayur, tapi tentu saja barang-barang lain seperti peralatan memasak hingga pakaian pun ada di sini. Dulu, pasar ini bernama Aschenmarkt tapi namanya diubah pada tahun 1820.
Pada tahun 1780, pasar tersebut dipindahkan ke ujung jalan Wiedner Hauptstraße yang ada saat ini. Terdapat beberapa kemungkinan penjelasan mengenai nama “Aschenmarkt”. Dulu, Susu dijual menggunakan wadah ember yang disebut “Asch” karena wadah tersebut terbuat dari kayu pohon ash. Lokasi pasar susu lama itu sendiri merupakan bekas tempat pembuangan abu dan sampah.

Nah, karena nama itu dirasa tidak cocok, maka diubahlah menjadi Naschmarkt. Dalam bahasa Jerman, naschen berarti mengudap/makan makanan manis, sedangkan Nascherei berarti makanan kecil atau kudapan/manisan. Dan ya, nama ini lebih cocok kan ya untuk merepresentasikan sebuah pasar.
Seingat saya, sempat juga saya berbelanja di pasar ini. Bukan membeli buah atau sayur…. Tapi membeli mi instan merek terkenal kebanggaan Indonesia itu. Tahu kan mereknya? Hehehe.
Warna-warni Hundertwasserhaus
Jujur kalau nggak diajakin Mas Sony, saya nggak tahu jika di Wina ada Hundertwasserhaus (Rumah Hundertwasser) yang lumayan popular dan dijadikan lokasi wisata oleh pelancong. Hundertwasserhaus sendiri merupakan sebuah gedung apartemen di Wina, Austria, yang rampung dibangun pada tahun 1985 berdasarkan gagasan dan konsep seniman Austria, Friedensreich Hundertwasser.

Friedensreich Hundertwasser mengawali kariernya sebagai seorang pelukis. Namun, sejak awal tahun 1950-an, ia semakin memusatkan perhatian pada bidang arsitektur, serta aktif menulis dan berbicara di depan umum untuk mengampanyekan gagasan mengenai bentuk-bentuk pelapukan alami.
Dalam berbagai kuliah di akademi maupun pertemuan asosiasi arsitektur, Hundertwasser memaparkan pandangannya mengenai arsitektur yang selaras dengan alam dan manusia. Bruno Kreisky, Kanselir Federal saat itu, menyarankan agar Hundertwasser diberi kesempatan mewujudkan gagasan arsitekturnya melalui pembangunan sebuah proyek perumahan yang berwarna-warni dan terkenal sehingga didatangi wisatawan.
* * *
Nah jika tempat wisata yang saya sebutkan di atas tadi letaknya di pusat kota Wina, 2 tempat terakhir ini letaknya agak pinggiran. Namun, kedua tempat ini dapat didatangi dengan menggunakan tram dan bus. Jadi, modalnya Cuma ongkos kendaraan saja sementara tempatnya tidak dikenakan biaya masuk sama sekali (terutama area tamannya). Tempatnya apa saja?
Istana Schönbrunn
Istana ini sempat saya singgung sekilas tadi di atas dan sudah saya tulis lengkap di sini. Tapi, di postingan ini akan saya singgung singkat mengenai Schönbrunn yang berarti “mata air yang indah” di mana nama ini mengacu pada keberadaan sumur artesis yang airnya dikonsumsi oleh penghuni istana. Schönbrunn merupakan kediaman musim panas keluarga kerajaan terutama saat kepemimpinan penguasa Habsburg.


Terletak di Hietzing, distrik ke-13 wina, Istana Barok yang memiliki 1.441 kamar ini merupakan monumen arsitektur, budaya, dan memiliki sejarah penting di Austria. Sayangnya, memutuskan untuk tidak masuk ke dalam istana sebab berbayar haha. Barusan saya cek, ada beberapa macam jenis tur untuk masuk ke dalam istana. Rata-rata tarifnya 32 euro.
Untungnya, untuk menikmati istana dan area tamannya, nggak dikenakan biaya. Jadilah, saya dan sebagaimana sebagian besar rombongan lain sudah cukup bahagia dapat menikmati istana berusia 324 tahun ini dari luar. Setidaknya, saya dapat melihat langsung istana bergaya barok yang bentuknya mencerminkan selera, minat dan aspirasi raja-raja Habsburg terdahulu, kan!



Pembangunan istana ini memang baru dilakukan sekitar tahun 1740 namun rencana pembuatannya sudah ada 171 tahun sebelumnya ketika Kaisar Romawi Suci Maximilian II membeli dataran besar di sungai Wien yang ada di bawah bukit, tepatnya terletak di antara Meidling dan Hietzing.
Menurut saya, Istana Schönbrunn ini wajib banget dikunjungi jika berkesempatan ke Wina. Walau gak masuk ke dalamnya tapi menjelajahi area tamannya saja sudah sebegitu menyenangkannya.
Area perbukitan Leopoldsberg
Bagi yang suka datang ke area ketinggan, Leopoldsberg adalah pilihan yang pas. Ini adalah bukit paling terkenal di Wina. Berada di 1.394 kaki atau 425 meter di atas permukaan laut, Leopoldsberg menjulang di atas Sungai Danube. Tak seperti kebanyakan pegunungan di zona flysch, Leopoldsberg memiliki lereng curam karena kekuatan erosif dari Sungai Danube di satu sisi dan dari sebuah sungai kecil di sisi lainnya.

Syukurnya, dari tempat pemberhentian bus, jalanan menuju ke atas sudah bagus dan dipagari beton sehingga nyaman dan aman. Untuk menuju puncak juga nggak sulit. Jalan kali sekitar 10 menit juga sampai. Oh ya, sebelum naik ke atas, di dekat halte bus terdapat sebuah monumen berupa 3 buah patung yang dinamakan Cossacks Monument. Monumen ini dibangun untuk mengenang peperangan Austria melawan Ukraina.
Saat saya datang ke sana, matahari bersinar terang walau cuaca dingin. Sepanjang perjalanan ke atas, saya dapat melihat kota Wina dari kejauhan. Sayang, kabut cukup tebal sehingga kota nampak samar terlihat. Namun, hal itu tidak mengurangi rasa hepi yang saya rasakan.


Nggak lama, kami kembali ke bawah, menuju sebuah bangunan yang ternyata merupakan Gereja Leopoldsberg. Gereja yang dibangun pada tahun 1679 sebagai bentuk dedikasi terhadap Saint Leopold ini tidak dapat kami masuki. Terkunci dari luar. Tapi ya melihat Wina dari ketinggian dan kejauhan pun sudah cukup sih.
Cerita mengenai Leopoldsberg ini juga sudah saya tulis terpisah secara rinci, ya. Ini adalah tempat yang berarti buat saya sebab mimpi saya ke Eropa lunas di tempat ini.
Ah, lumayan banyak ya tempat yang bisa dikunjungi di (sekitaran) Wina. Dengan waktu 2 hari yang saya punya, cukup sih kalau eksplor sekitaran kotanya aja. Tapi kalau mau jelajah museumnya dengan lebih detail, kayaknya butuh waktu lebih banyak. Apalagi kalau kamu tipe penikmat museum yang sekali kunjungan bisa berjam-jam hehe.

