Pelesiran

Menembus Lorong Waktu di Rumah Tjong A Fie

Saya pertama kali ke Medan itu tahun 2018. Itu pun cuma numpang transit sebab tujuan utama saya dan rombongan adalah menuju Lhokseumawe untuk menghadiri nikahan sepupu. Pulangnya via Medan lagi tapi saya nggak punya cukup waktu untuk eksplor Medan karena harus mengejar jadwal penerbangan.

Saat terpilih sebagai salah satu emerging writers di Balige Writing Festival 2026 (kapan-kapan akan saya ceritakan terpisah) yang berlangsung di Balige, harapan saya untuk dapat mendatangi rumah Tjong A Fie ini kembali mencuat. Tapi, hitung-hitungan jadwal tidak memungkinkan. Tapi, ini yang mungkin namanya mestakung, pelatihan menulis di BWF jadwalnya berlangsung lebih cepat sehingga saya punya waktu setengah hari untuk eksplor Medan. Alhasil, rumah Tjong A Fie sebisa mungkin harus saya datangi.

Menembus Gerimis di Minggu Sore

Begitu tiba di pengianapan di pusat kota Medan, hujan turun. Saya sempat degdegan sebab jam kunjungan rumah Tjong A Fie ini hanya dibuka hingga pukul 17.00 WIB (dengan penjualan tiket terakhir 16.30 WIB). Makanya, saat hujan mulai berkurang intensitasnya, dengan masih gerimis kecil saya mulai memesan ojol untuk mengantarkan saya ke sana.

Sebetulnya dari hotel sih dekat, kurang dari 2 km. Masih sangat walkable. Tapi, saya nggak mau ambil risiko nyasar sehingga waktu untuk saya eksplor kediaman saudagar kaya itu menjadi berkurang dan saya keburu diusir karena tempatnya mau ditutup haha.

Mengendarai motor, kurang lebih 10 menit (terasa agak lama karena kebanyakan jalan di Medan ini satu arah sehingga harus memutar), saya kemudian tiba di kawasan Kesawan tepatnya di Jl.A.Yani tempat rumah ini berada.

Suasana cukup sepi, saya sempat ngobrol sebentar sama security-nya. “Iya mas soalnya habis hujan. Biasanya jam segini ramai,” sahutnya.

Ah begitu rupanya. Masuk akal sih. Sebetulnya situasi ini lebih menguntungkan. Kalau terlalu ramai kadang susah mau menikmati satu tempat. Mau foto juga jadinya “bocor” hehe.

Oke, setelah mengambil beberapa foto dari depan, saya menuju loket tiket. Harganya Rp.35.000/orang. Menurut saya harganya cukup murah untuk dapat menikmati rumah tua bersejarah ini. Tak lama saya masuk ke dalam dan mulai menjelajahi bangunan berusia lebih dari 120 tahun ini.

Teguran Petugas

Saat masuk ke bagian depan, saya baru sadar bahwa belum mengambil video menggunakan kamera aksi. Saya kemudian keluar lagi dan mengeluarkan kamera aksi dan mulai merekam. Tak lama, dua orang petugas bergegeas masuk dan menegur.

“Maaf bang, nggak boleh merekam pakai kamera selain HP.”

“DSLR juga nggak boleh?” tanya saya.

“Iya nggak boleh.”

Waduh. Jujur saya masih gak ngerti dengan aturan kayak gini. Kalau nggak boleh ambil video dan foto mending semua perangkat dilarang sekalian. Soalnya gini ya, saya lihat banyak video cakep di sosmed yang diambil pakai ponsel mahal (iya, ponsel apel kegigit itu). Yang mana, harga ponsel itu 3 bahkan 4 kali lipat dari DSLR murahan saya. Kalau dibandingkan kamera aksi saya yang “Cuma” 1 jutaan, HP milik orang bisa 30x lipat lebih mahal harganya.

Tapi ya sudah, apa boleh buat. Saya jadinya gak bisa ngerekam buat youtube. Jadinya cuma bisa ambil foto pakai kamera ponsel seadanya yang juga udah mulai uzur hiks. Ditambah, saya datang sendirian, dan nggak ada yang bisa saya mintai tolong foto pula. Komplet kan!

Teringat Queeny Chang

Tahun lalu, saya menamatkan buku Queeny Chang: Anak Tjong A Fie Orang Terkaya di Medan (2016) yang sesuai judulnya buku itu bercerita banyak tentang Queeny Chang, salah satu anaknya Tjong A Fie. Oh ya, buku itu juga aslinya berjudul Memories of a Nonya, ya. Dan ini adalah Queeny Chang saat memegang buku yang ia tulis sendiri.

Luar biasa kisah perjalanan keluarga ini yang bersisian dengan beberapa peristiwa sejarah dunia yang penting termasuk Perang Dunia I. Pada mulanya, Queeny dipersiapkan untuk menempuh pendidikan tinggi hingga ke Belanda. Namun, ketika ia dinikahkan di usia muda, impian itu pupus walaupun Queeny masih dapat mempelajari banyak hal (Bahasa Inggris, Bahasa Belanda hingga Bahasa Mandarin) dengan mendatangkan guru ke rumah.

Ia dan suaminya juga punya minat khusus terhadap sastra. Tidak heran, cara Queeny Chang dalam menuturkan kisah hidupnya rapi sekali. Tidak banyak orang yang bisa menuturkan kisah hidupnya secara langsung bukan?

Dan walaupun memoar itu tentang Queeny Chang, tentu kehidupan ayahnya Tjong A Fie pun dibahas. Tjong A Fie sendiri adalah Majoor der Chineezen atau walikota pertama untuk komunitas Cina di Medan. Dia adalah pengusaha, bankir dan kapitan holongan Hakka asal Meizhou, Guangdong yang sukses membangun bisnis besar di bidang perkebunan di Sumatra.

Karyawannya ada 10.000 orang! Dengan kekayaannya gak heran Tjong A Fie punya kedekatan dengan Sultan deli serta pejabat kolonial Belanda pada saat itu. Bahkan, hingga sekarang kehebatannya masih terus dikenang dan kediamannya masih banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

Perpaduan Cina dan Eropa

Ada banyak sekali benda-benda yang dipamerkan di rumah dengan luas 8000 meter yang terdiri dari dua lantai dan konon memilki 35 kamar ini. Entah ya apakah dulu perabotannya memang memiliki tata letak seperti itu atau sudah disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung, yang jelas saya kayak diajak masuk ke mesin waktu.

Dari foto dan tulisan informasi, pengunjung —yang datang sendirian kayak saya hehe, dengan mudah dapat mengetahui sejarah benda-benda yang dipajang.

Di lantai pertama, saya sempat masuk ke salah satu ruangan yang diyakini sebagai kamar Tjong A Fie yang menggunakan ranjang dari kayu mahoni. Pakaian-pakaian Tjong A Fie pun turut dipajang. Cukup luas dan megah.

Nggak kebayang berapa nilai rumah dan isinya. Untungnya kediaman ini dilengkapi CCTV. Soalnya, banyak perabotan-perabotan kecil yang bisa saja diambil diam-diam oleh pengunjung kan.

Nuansa Tionghoa sangat kental. Namun ada perpaduan Eropa juga, misalnya dengan penggunaan ubin venesia dan lampu-lampu dari Eropa. Cakep banget!

Di lantai 2 ruangannya juga banyak. Tapi, ada ruangan utama yang dikasih penghalang. Pengunjung hanya dapat melihat dan memotret dari satu titik saja. Tapi, itu pun udah lumayan banget sih. Bisa ngeliat beberapa perabotan lain yang ditata dengan sedemikian apik dan rapinya.

Aahh hepi banget! Akhirnya wishlist sekian tahun akhirnya tercapai. Jujur belum puas sih, pinginnya bisa balik lagi dan bisa ditemenin sama guide-nya biar bisa lebih paham sejarah ruangan-ruangan yang ada di rumah ini. Semoga kalau balik lagi ke sana udah dengan HP model terbaru yang canggih ya hahaha biar bisa ambil foto dan video tanpa harus dilarang kayak kamera aksi dan DSLR >.<

Jika ada yang perlu ditanyakan lebih lanjut, silakan berkomentar di bawah ini.