Pelesiran

Melepas Dahaga di Lihaga

Di Palembang itu cuma ada sungai. Kalau mau menikmati keindahan pantai, ya paling dekat ke Lampung atau Bangka. Makanya, saya jarang “membasahi insang”, apalagi saat pandemi lalu yang praktis membatasi ruang gerak. Jangankan mau ke provinsi lain, main ke mal aja was-was ya kan.

Eh namanya rezeki, seiiring membaiknya kondisi dunia terhadap covid, saya dan 9 orang lain dari Kompasiana berkesempatan diajakin untuk main ke Likupang, salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP) yang ditetapkan oleh Kemenparekeraf bersama Borobudur, Toba, Mandalika dan Labuan Bajo. Alhamdulillah.

Singgah ke Manado

Dari Palembang, saya harus ke Jakarta dulu untuk kemudian terbang ke Manado. Idealnya memang pilih pesawat fly thru yang satu kode booking biar lebih aman jika tertinggal pesawat pertama dari Palembang.

Sayang, pihak pengundang belum berani beli tiket sebelum saya swab antigen dan dinyatakan bebas covid. Ironisnya, begitu hasilnya keluar dan saya dinyatakan sehat, tiket fly thru-nya habis dan untuk menuju Jakarta saya harus muter dulu ke Batam.

Masih oke sebetulnya walaupun risikonya besar jika pesawat dari Palembang ke Batam atau dari Batam ke Jakarta delay. Eh benar saja, 2 hari sebelum berangkat ada pemberitahuan dari maskapai jika pesawat dari Batam ke Jakartanya mundur 1 jam di mana tiba di Jakartanya bertepatan dengan waktu keberangkatan ke Manado.

Pulau Lihaga dilihat dari ketinggian. Sumber gambar Indonesia Travel

“Mas bisa lari nggak nanti?” kata mbak panitia.

“Bisa sih, kalau soal gercep atau lari bisa diatur,” jawab saya. “Tapi bagaimana jika saya tertinggal pesawat mbak? Sebab riskan. Saya tiba di Jakarta pukul 10:30 sedangkan pesawat ke Manado berangkat pukul 10:40. Rasanya, nggak bakalan terkejar. Untuk parkir ke terminal aja butuh waktu berapa menit itu.”

Keputusan kemudian diambil. Tiket saya dibatalkan semua. Lalu diberikan tiket baru dari Palembang ke Jakarta berangkat sore, dan ke Manadonya di hari selanjutnya lewat tengah malam yakni pukul 1:30. Untungnya Kemenparekeraf menyediakan penginapan untuk saya beristirahat. Lumayan, ketimbang duduk bengong semalaman di bandara ya kan.

Tiba di Manado, semua penumpang dites antigen. Ada beberapa penumpang yang kemudian dinyatakan positif. Waduh, ngeri juga kan. Namun untungnya tes saya aman. Dari bandara langsung bergegas ke hotel dan harus mengikuti acara diskusi Likupang, North Sulawesi: Discover The Hidden Paradise bersama  Kemenparekeraf. 

Jalan Panjang Menuju Lihaga

Sebetulnya jumlah undangan itu ada 10, namun satu peserta gagal berangkat karena… terlambat tiba di bandara, lol. Ya salah sendiri. Bukannya mempersiapkan perjalanan dengan baik, mulai dari web check in dan istirahat lebih cepat, eh di grup WA malah heboh cerita begadang nonton bola. Mungkin karena itu jadi telat bangun dan ironisnya sampai bandara konter check in sudah ditutup. Pelajaran yang sungguh mahal. Terlepas dari kejadian ini, untungnya perjalanan kami semua diberikan kemudahan.

Kapal yang kami gunakan

Masih santuy. Sebelum bentar lagi mulai mabok laut hehe

Kapal di sekitar pelabuhan

Untuk menuju Lihaga, saya dan rombongan harus terlebih dulu berkendara dari Manado kurang lebih 1,5 jam menempuk jarak sekitar 50 km menuju Likupang. Asyik, jalannya sama temen-temen gokil yang walaupun mayoritas baru ketemu tapi sebagian udah kenal lama di dunia maya. Rasanya nggak ada perjalanan yang sedemikian seru tanpa dilakukan bersama orang-orang yang menyenangkan.

Tiba di Pelabuhan Serei, kami istirahat sejenak sembari tim mempersiapkan kapal. Terlihat ada beberapa kapal yang tengah bersandar. Ukurannya mirip dengan sepit yang saya naiki saat mendatangi Taman Nasional Sembilang beberapa waktu lalu. Namun, ketika masuk ternyata ukuran perahunya lebih besar.

Nahkoda kapalnya di buritan

Jumpa dengan nelayan

Kursinya dibikin kanan kiri sehingga semua penumpang saling berhadapan. Area tengah steril. Ya, Lihaga dikenal sebagai salah satu spot snorkeling terbaik di Sulawesi Utara. Jadi memang area ini digunakan untuk menempatkan peralatan. Beda dengan perahu di Sungai Musi yang ya hanya untuk transportasi saja jadi dibuat susunan bangkunya kayak angkot/bus.

Saat itu gelombang tidak terlalu besar. Namun, tetap saja guncangannya terasa dan saya sukses mabuk laut. Kepala pusing, perut mual. Untungnya nggak sampai muntah walau katanya kalau dimuntahin malah lega, ya?

Terumbu karang di Lihaga. Sumber gambar instagram.com/lihaga.island

Dulu waktu saya mengunjungi Pulau Failonga di Tidore juga gitu. Jalan sebentar eh langsung mual. Tapi begitu snorkeling malah nggak begitu kerasa sebab yang bikin mabuk laut itu adalah goncangan kapal yang berhenti.

Makanya, saya segera memutuskan untuk nyebur dan membasahi insang yang sudah lama tak disiram air asin haha. Sayang, saya nggak punya dokumentasi bawah airnya sebab kamera aksi yang saya bawa nggak bekerja dengan baik, hiks.

Rasanya hanya sekitar 10 sampai 15 menit. Saya memutuskan untuk naik ke kapal diikuti beberapa teman lain. Kami coba bilang ke pengemudi untuk diantarkan ke pulaunya. Untunglah pengemudi bersedia. Jadi, kami nggak harus menunggu teman-teman lain yang masih asyik menjelajahi bawah laut Lihaga.

Ada Hantu di Lihaga?

Sebagai sebuah pulau, Lihaga punya nama yang unik. Rupanya menurut cerita, nama itu berasal dari celetukan nelayan yang mendengar suara merdu dari batu karang. Nelayan itu berkata dalam bahasa Sangihe, “I hoga” yang artinya, “Ih hantu.”

Dermaga Pulau Lihaga

Pasirnya putih dan bebas sampah

Banyak pohon sehingga bikin adem walau cuaca panas

Lama kelamaan, batu karang itu terkikis air laut dan berubah menjadi pasir putih dan kini menjelma sebagai pulau yang indah. Pantai dengan pasir bak bedak bayi! Terus terang, ketika akhirnya menginjakkan kaki ke Pulau Lihaga, saya merasa Pulau Lihaga ini mirip dengan Pulau Lengkuas yang ada di Belitung.

Kedua pulau ini sama-sama cakep! Pasirnya putih, air di pantainya berwarna tosca dan tenang. Bedanya, di Pulau Lengkuas ada mercusuarnya sedangkan Pulau Lihaga ini tadinya nggak berpenghuni sebelum kemudian dikelola dan hadirlah sebuah kafe dan beberapa bangunan yang dijadikan homestay.

Kafe dan restorannya

Banyak spot untuk mojok eh neduh

Loket untuk masuk pulau

Saya yang datang dalam kondisi basah langsung menuju kamar bilas dengan deretan bilik yang dapat digunakan. Wah, fasilitasnya keren! Bilasnya pakai air tawar, toiletnya berfungsi dengan baik dan tersedia juga wastafel dengan cermin untuk dandan hehe. Semua fasilitas ini dapat digunakan setelah membayar biaya masuk ke pulau sebesar Rp.50.000 (untuk WNA Rp.100.000). Jadi, tiketnya terusan gitu untuk menikmati dan memakai fasilitas umumnya, ya kecuali kalau mau makan, beli minuman atau sewa kano baru bayar lagi.

Oh ya, trus tadi itu naik kapal biayanya berapa? Sekitar Rp.100.000/orang. Kalau ramean ya lebih enak sewa sendiri. Dengan kapasitas hingga 15-20 orang, biayanya antara Rp.1000.000 sd Rp.1.200.000 saja, jadi bisa lebih hemat, kan! Mau lebih hemat lagi alias nggak harus mengeluarkan biaya? Bisa naik kapal Pelni yang menggratiskan biaya kapal setiap hari Sabtu dan Minggu. Hanya memang harus mendaftar terlebih dulu di sini.

Mon maap, umang-umang mau lewat

Detha dan Kang Ale semangat pose!

Bisa kali ya duduk seharian di sini.

Jalan ke Ujung Pulau

Cuaca saat itu emang panas. Tapi nggak menyurutkan semangat saya dan beberapa kawan lain untuk jalan hingga ke ujung pulau. Saat itu, pulau sedang sepi. Rasanya nggak ada pengunjung lain selain rombongan kami. Jadi, benar-benar serasa pulau pribadi. Barulah setelah kami akan pulang, rombongan lain tiba dengan perahu berjenis sama.

Kapal nelayan parkir

Sangkar burung apa ini? hehe

Ada banyak spot bersantai. Ada kursi, pondokan, spot berfoto yang bisa dipakai percuma tanpa harus membayar lagi. Ya, nggak kayak pantai di Lampung yang apa-apa kudu bayar ya haha.

Berjalan menuju ujung, di sisi kanan terlihat beberapa homestay dengan tarif menginap yang bervariasi. Namun, belakangan ada juga fasilitas glamping dengan biaya 1,5 juta belom termasuk boat, atau 2,8 juta sudah dengan boat dan sarapan untuk 2 orang. Mau sewa setengah hari juga bisa biayanya 850 ribu, ini belum termasuk boat dan tiket masuk, ya!

Salah satu homestaynya

Dermaga lain di ujung pulau

Duduk di sini menikmati angin sepoi-sepoi sambil nyanyi lagu seroja. Alagh

Tim hore berjumlah 9 orang. Yang satu ketinggalan pesawat 😛

Kami nggak menginap di Pulau Lihaga. Gak lama setelah makan siang yang disiapkan oleh panitia, kami pulang dan menuju Likupang lagi. Ya, walaupun hanya menghabiskan waktu beberapa jam di Lihaga nggak sampai menunggu sunset, tapi saya sudah merasa senang. Dahaga liburan setelah sekian lama dikurung pandemi telah terpuaskan di Lihaga.

Kapan terakhir kali kamu “membasahi insang”? 🙂

40 komentar di “Melepas Dahaga di Lihaga

  1. Terakhir aku ke Manado (sekitar 2 bulan yang lalu), Lihaga ini masuk dalam daftar kunjungan. Tapi akhirnyo dibatalke karena biaya sewa speed nyo kemahalan dan harus stay lamo biar puas nikmati Lihaga. Guide yang ngawani aku jugo mengusulkan untuk nginep lah semalem. Yaahh pasti la dak disetujui laki aku hahahaha. Akhirnyo berpuas-puas bae main di Likupang (Paal dan Pulisan) dan makan ikan.

    BTW, la lamo nian kito idak bejalan samo2 ye Yan. Rombongan kito ke Tidore tuh seru nian. Saling klop satu samo lain. Baco cerito awak mabok pas ke Failonga aku laju inget speed Bazarnas yang kito pake hahahaha. Kerendam naik dan turun kapal. Sekarang katonyo di Failonga la ado dermaga Yan. Pasti lebih seru kalo kesano lagi.

    • Dan ayuk pasti ke situ bukan pas akhir pekan yo, sebab kalau akhir pekan biso naik kapal gratis untuk ke Lihaga (walaupun harus daftar dulu), dakpapo yuk, next time akan ke Manado lagi dan siapo tahu biso ke Lihaga.

      Wah seneng kalau Failonga udah ado dermaga, jadi lebih aman dan idak merusak terumbu karang. Dan kapal dan mobil bazarmas itu fenomenal hahahaha

  2. Aku sering baca tuh kalau p Lihaga bagus banget. Kalau ke Likupang, jadi satu paket sama Lihaga. Emang bener yah harus agak lama di sana. Puas-puasin snorkeling. Ya kalik udah jauh-jauh, mosok cuma sebentar.
    Duh…kapan ya ke SULUT? Ke Manado aja aku belum pernah…hiks…

    • Kalau anak pantai/laut pasti puas banget. Berhubung aku anak daratan haha yang kena ombak dikit kepala oleng jadinya kurang puas sebab udah keburu masuk angin dan mabok lol.

      Semoga ada kesempatan main ke Manado ya mbak, amiiin

  3. Wah senangnyaaaa….
    Ternyata Mas Haryadi termasuk yang dapat hadiah ke Likupang?
    Saya cuma nulis untuk jobnya, mau menulis untuk yang lebih prefer (supaya bisa ikut daftar lomba) , eh tiba-tiba writer’s block
    Padahal udah ngeriset data, termasuk legenda Likupang

    jadi senang banget bisa baca kisah perjalanan ke pulau Lihaga
    dan menikmati foto-foto pantai yang masih asri, serasa ikut Mas Haryadi jalan-jalan.

    Bakal betah nih kalo jadi novelis D

    Sebulan cukup gak ya?

    • Iya Ambu, alhamdulillah aku salah satu yang terpilih dan bisa ikutan trip ke Likupangnya 🙂

      Aku beberapa kali juga kena Writer’s block padahal lombanya aku idam-idamkan banget. Walaupun tetap nulis, tapi feelnya beda dan ya jelas saja kalah.

      Sebulan bisa sih haha.

  4. Senangnya suasana Lihaga secara ekslusif bisa saya lihat di sini nih…
    Tapi mengingat perjalanan awal banyak drama merasa semua ini harus dibayar dengan penuh perjuangan juga ternyata ya
    Yaitu, terbayang dari Palembang harus ke Jakarta lalu lanjut ke Manado tapi karena satu hal diubah jadi harus ke Batam dulu. Eh malah waktunya mepet.
    Haha, mbak panitia malah minta lari secepat mungkin biar pesawat keburu? So cute andai itu bener kejadian. Bisa-bisa si om nih jadi atlet pemecah rekor sprint tercepat haha…
    Beruntung semuanya direschedul ya jadi bisa lebih santai bahkan dipilihkan hotel buat nginap dulu

    Perjalanan yang banyak kenangan nih pastinya…

    • Haha mungkin di sisi dia udah bingung itu nanti laporan pertanggungjawaban ke bos gimana. Soalnya tiket udah kepalang dibeli. Dan harus dibatalkan dan beli ulang jadinya.

  5. Asli sih. Aku yakin itu yang gagal berangkat pasti menyesal memilih begadang nonton bola. Melihat teman-temannya mengunjungi tempat yang sangat indah kayak di foto-foto.

  6. Wah asyiknya jalan-jalan ke Lihaga ya.. bisa bersantai menikmati indahnya pantai bareng teman-teman.
    Tapi kalau saya mungkin harus prepare yang cukup karena saya mabuk laut kalau naik perahu. Obat-obatan anti mabuk harus ready hehehe

  7. Harus siap menggelap yaa.. sebagai anak pantai, tentu ga khawatir masalah begini.. hihihi..
    Aku ngliat ada Arai di rombongan ke Lihaga.
    Pasti selama perjalanan penuh keceriaan yaa..

    Pas ke Pulau Lihaga serasa lagi syuting acara My Trip My Adventure gasii, omduutt??
    Soalnya Pulau Lihaga sepii banget.

    • Haha Arai, bestieku sesama duta AW lol.
      Kami sama-sama penggemar AW. Dan terhitung sejauh ini udah 2 kali jalan sama Arai dan sangat menyenangkan.

      Bener, bahkan kami bikin video norak ala-ala host MTMA buahahaha

      • Wkkw.. jadi kepo sama videonya, omdut.
        Btw, aku aga shock pas baca harganya dan segala yang ditarif. Tapi bisa dipahami karena mereka retribusi mandiri yaa.. bukan dibiayai oleh dana pemerintah?

        Rasanya seneng kalau main ke Pulau Lihaga yang kayanya kalau mengitarinya menggunakan sepeda hanya butuh waktu beberapa jam. Hehhee, so soan kuat sii.. kalau ngliat panasnya, kayanya enakan duduk santuy di pinggir pantai sambil minum es degan.

        • Haha aku lupa siapa yang rekam. Kayaknya kang Ale dan ntah diunggah atau nggak di sosmed.

          Sayang banget dulu gak sampe sore. Padahal pengen juga sepedaan sore-sore gitu ^^

  8. Aku kebayang sedihnya yang telat check in di counter tuw … sayang sekali nggak jadi mencicipi serunya perjalanan ke Lihaga. Ya ampun tadinya aku deg-degan bakalan ada cerita soal hantu yang tinggal di Pulau Lihaga. Eeehhh ternyata nama pulaunya yang memang dari kata i hoga dari para nelayan jaman dahulu kala. Aku menanti-nanti foto Abang megang pasirnya yang katanya seputih bedak bayi. Kan pengen nyocokin hihihihi ….

  9. Masa2 covid memang selalu bikin was was…was was sdh beli tiket ternyata positif jd gagal deh…eh malah curhat hahaha…
    Btw haduhh itu kasian sekali satu temennya ketinggalan gegara telat check in bikin nyesek gak siee 🫣

    Pulaunya cantik bangetttt…apalgi terumbu karangnya itu..wahh pasti bener2 memanjakan mata keindahan bawah airnya…
    Pulau nya juga bersih terawat jadi bikin betah pengunjung…jadi berasa pulau pribadi kalo sepi kayak gitu 😊

    Meskipun cuma setengah hari tapi pasti jadi salah satu pengalaman yg berkesan ya mas 😊

  10. “membasahi insang” , duh kalimat ini rasanya merasuki darah saya, lama tidak soalnya, terus membaca eh ada Manadonya trus lagi eh foto2nya bikin saya sesak nafas, sakauuuuu. ok Terima kasih sudah membangkitkan rindu dengan Manado. Semoga diberi waktu untuk bisa datang ke pulau Lihaga.

  11. Huaaa kangen mantai. Pantai Lihaga cakep bener ya. Apalagi ada restorannya jadi gak usah ribet buat bawa makanan dari luar.

    BTW aku melihat penampakan Chimot di sana :D.

  12. minggu kemarin aku maen ke pantai dan membasahi insang hehehe cuman karena sekarang sedang musim hujan jadi sorenya kehujanan dipantai dan airnya menjadi keruh. Seneng banget kalau ke pantai lalu dapet cuaca yang bagus begini!

  13. Sejak awal, perjalanan nya sudah mengajarkan beberapa pelajaran berharga terutama terkait ontime dan waktu. Luar biasa banget, sebuah kesempatan yang amat keren bisa ke Likupang ber-9 dari Kompasiana, rezeki dan anugerah luar biasa..

    Takjub dan suka banget sama Lihaga, best view, bersih banget pantainya, pasirnya putih, beneran indah dan cantik.

    Kebetulan udah lama banget enggak ke pantai, melihat dokumentasi serta membaca kisah perjalanan ini, bikin ber-doa semoga saya pun dapat kesempatan kesana 😇.

    • Bener banget. Pelajaran untuk manage waktu dan emosi (secara nih orang udahlah salah, tapi dia yang ngotot hehe). Amiin semoga ada kesempatan main ke pantai segera ya mbak.

  14. indah banget pantainya Mas jadi kangen pantai sudah lama gak pergi ke pantai, lihatnya bener-beenr auto kangen laut dan udaranya, itu cantik banget ya karangnya dan masih bersih pantainya jadi mau pefotoan geletakan juga ga takut sama sampah

  15. oh, jadi kalau menginap, bisa memilih dari beberapa homestay yang ada di sana ya? Pasir putihnya cakeppp, sayang ya jauh banget… Belum lagi mesti mikirin ongkos untuk transport dan akomodasi belum makan dan hiburan lainnya… Tapi emang worth it ya dilihat dari pemandangannya

  16. Uwaaaaaah kalo yg begini aku lebih milih baca pengalaman teman2 yg ngerasain langsung aja mas 🤣. Pertama ga bisa berenang, kedua ga kuat panas Ama suhunya pantai 😅. Tapi selalu sukaaa melihat cantiknya bawah air kayak apa.

    Krn sadar diri aku ga mungkin bisa melihat sendiri 😄.

    Jadi tahu tempat Lihaga ini. Dan Likupang kotanya. Pengalamanku ke daerah indonesia timur bisa dibilang dikiiiiit bgt. Cuma Makasar Thok 🤣.

    Pengen sih kesana, tapi memang tujuan utamaku utk kuliner, bukan wisata pantainya

    Semoga tempat ini bisa sama terkenalnya dengan Bali nantinya, tapi tetep terawat dari tangan2 jahil

    • Makassar itu wishlistku. Pengen banget ke sana bahkan pernah kemimpi berada di bandara Makassar mbak haha. (dan aku bikin status di FB sambil liat ntar kapan bisa kejadiannya hehe).

      Amiin amiiin semoga tetap terawat dan gak banyak kerusakan yang dilakukan oleh wisatawan.

  17. pastinya event ini jadi kenangan ter ter terindah dan nggak bakal dilupain.
    Memang penuh perasaan was-was ya kalau connecting flight kita mepet banget, aku kalau pas traveling kudu mikir space waktu antara flight 1 dan yang kedua. Apalagi kalau pas naik AA, kadang nggak bisa diprediksi akhir-akhir ini, suka direschedule ga jelas.

    Lihaga, pasirnya putih banget, terus kalau nongkrong di pinggir pantai sambil menikmati senja aja udah bikin seneng

    • Iya, kalau orang suka yang connecting flightnya singkat, aku sih mending > 3 jam mengingat domestik flight kita terkenal ngaretnya. Mending nunggu ketimbang ketinggalan.

Jika ada yang perlu ditanyakan lebih lanjut, silakan berkomentar di bawah ini.