Pelesiran

Kembali Menyapa Belitong

“Bang, rumah kami sudah tenggelam, doakan kami selamat.”

Diana, sepupu saya yang tinggal di Desa Gantung, Belitong Timur berkata dengan terisak di ujung telepon. Selanjutnya, secara bergantian, keluarga yang ada di sana dengan berurai air mata mengabarkan kondisi yang mereka hadapi. Tidak ada yang lebih memilukan dari mendengar kabar kerabat yang sedang kesusahan namun tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa, bukan?

Ingin rasanya melipat jarak, menembus waktu, hadir di tengah-tengah mereka yang sedang tertimpa musibah. Namun, lagi-lagi semua tidak memungkinkan. Akses menuju Desa Gantung, Belitong Timur benar-benar terputus. Orang-orang yang tinggal di sana terjebak, berdiam diri di bangunan tinggi yang ada sambil berharap keajaiban terjadi.

“Maafkan kami kalau ada salah. Ini mungkin jadi komunikasi terakhir,” ujar Bicik (baca : bibi) sebelum kemudian beliau memutuskan sambungan. Ah, semoga komunikasi terakhir yang dimaksudkan ialah karena baterai gawai mereka habis dan tidak ada sumber listrik tersedia. Bukan karena…. ah, Ya Tuhan, lindungi mereka semua.

*   *   *

Hampir setahun berselang dari bencana banjir yang terjadi di Belitong Timur, saya dan beberapa anggota keluarga kembali datang untuk menghadiri pernikahan Riza -sepupu saya. Bagi saya pribadi, ini kali kedua saya mengunjungi Belitong pasca kunjungan perdana di tahun 2013.

Saat itu, Belitong sudah jadi salah satu destinasi wisata unggulan pasca film Laskar Pelangi yang meledak tahun 2008 silam. Bisa dibilang, sebelum adanya film itu, Belitong hanyalah mutiara terpendam yang ada di Sumatra. Pulau yang indah ini belum banyak “terdeteksi”oleh para wisatawan. Fasilitas penunjang pun masih sangat terbatas.

Pesawat Garuda Indonesia yang kami mengantarkan kami dari Palembang ke Tanjung Pandan.

Makanya, berbekal tiket pesawat Garuda Indonesia yang maskapainya jadi pilihan kami itu mendarat di Bandara HAS Hanandjoeddin, saya merasakan betul perubahan yang terjadi, bahkan ketika masih berada di bandaranya. Bandara yang berada tak jauh dari pusat kota Tanjung Pandan ini memang masih nampak sederhana, namun jika dibandingkan dengan 5 tahun lalu, jelas perbedaannya terasa.

Sudah nampak renovasi terhadap bangunan utamanya. Bahkan, bandara yang kini berstatus sebagai bandara internasional ini bahkan telah memiliki konter imigrasi. Yeah, walaupun belum beroperasi, setidaknya pemerintahan provinsi Bangka Belitung telah mempersiapkan kemungkinan dibukanya gerbang wisatawan asing melalui bandara ini.

Begitu proses pengambilan bagasi selesai, nampaklah Hazri dan Diana, sepupu saya yang telah menunggu tak jauh dari pintu kedatangan. Karena rombongan cukup banyak, mereka membawa kendaraan masing-masing. Diana dan suaminya –Bang Agus, masih harus menunggu kedatangan rombongan lain yang pesawatnya tiba belakangan. Jadilah, saya, kedua orang tua, beserta Hazri memilih untuk meninggalkan bandara lebih dulu.

Keindahan Pantai Tanjung Tinggi, dilihat dari atas bebatuan

Perjalanan dari pusat kota Tanjung Pandan menuju Desa Gantung yang ada di Belitong Timur memakan waktu kurang lebih 1 jam. Walau banyak didatangi wisatawan, saya kira, jalanan Belitong masih termasuk lengang. Jalanan pun mulus sehingga mobil dapat melaju dengan kecepatan sedang tanpa kendala berarti.

“Nah ini salah satu jembatan yang dulunya putus, Yah,” ujar Hazri kepada ayah saya. “Dulu, saat banjir, jalanan di sekitar sini benar-benar tenggelam,” ujar Hazri lagi.

Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Daerah yang Hazri maksudkan adalah rawa. Sejauh mata memandang, hanya area rawa itu yang terlihat. Dan, ukurannya luas sekali. Lantas, jika dulu saat banjir datang daerah ini tertutup air, saya tidak dapat membayangkan betapa besarnya kepungan air pada saat itu.

Termenung di Pice

Begitu tiba dan disambut oleh keluarga yang ada di Desa Selinsing, Gantung, saya langsung diajak Hazri untuk mengunjungi Pice, sebuah bendungan yang berada tak jauh dari rumah Diana –tempat kami semua akan menginap selama di Belitong.

Hanya butuh waktu sekitar 5 menit berkendara, saya dan Hazri sudah tiba di Pice. Sebuah pintu air yang dirancang oleh arsitek Belgia bernama Dr.Vence dan dibangun pada kurun waktu dari tahun 1934 hingga 1936. Pice sendiri konon berasal dari bahasa China Kek yakni dari kata “piche” yang berarti pintu air.

Bendungan yang dulunya jebol sehingga airnya meluap ke pemukiman warga

Bendungan yang memiliki panjang 50 meter dengan 15 buah pintu air yang memiliki ketinggian 10 meter dan lebar 2,5 meter inilah yang jebol sehingga air yang seharusnya dapat tertampung bergerak menuju pemukiman warga. Termasuklah rumah keluarga saya yang ada di sekitar situ.

“Ini kali pertama Belitong Timur banjir pasca kepindahan bicik ke sini,” ujar bicik saya. Ya, adik ayah saya itu memang baru pindah ke Belitong pada tahun 1993 mengikuti suaminya yang bekerja sebagai tentara yang dimutasi ke kawasan ini.

Nah ini bendungan lamanya. Terlihat kan papan penopangnya udah sangat tua. Modelnya sih masih remaja.

“Banjir itu sedemikian mendadak, makanya gak sempat lagi menyelamatkan barang-barang, bang,” ujar Diana. “Nih rumah kami tinggal plafonnya saja. Semua barang habis. Elektronik semua rusak dan dibuang. Alhamdulillah, kami masih sempat lari ke ruko jadi bisa menyelamatkan diri ke lantai 2-nya,” cerita Diana kembali.

Piuh, mendengar cerita mereka saja saya merinding. Nggak kebayang jika harus berhadapan langsung dengan kejadian itu. Walau begitu, selalu ada hikmah dibalik sebuah peristiwa. Yang terpenting, semua anggota keluarga dapat menyelamatkan diri di saat yang tepat.

Terlihat kan bagian timbunan tanah di jalanan itu? nah dulu jalanan ini hancur diterjang air. Begitupun rumah-rumah yang ada di sekitarnya.

Datang Kembali Ke Sekolah Laskar Pelangi

Saat pertama kali datang ke sekolah Laskar Pelangi beberapa tahun lalu, keadaan di sana sepi. Jikapun ada wisatawan, jumlahnya hanya beberapa. Namun, keadaan jauh berbeda sekarang. Mobil-mobil berukuran besar terlihat berjejer rapi di area parkir. Puluhan wisatawan nampak berpose seru di sekitaran sekolah yang dulunya dijadikan tempat lokasi syuting ini.

Sekolah Laskar Pelangi, replika SD Muhammadiyah, Gantung.

Jika dulu tidak butuh biaya untuk datang ke sini, sekarang sudah ada petugas khusus di sebuah loket yang akan menarik iuran kepada setiap pengunjung. Baguslah, dengan adanya iuran pengunjung, pengelola dapat menggunakannya untuk perawatan.

Dengan banyaknya jumlah wisatawan, ternyata berdampak positif terhadap masyarakat sekitar. Yakni dengan cara memaksimalkan potensi kunjungan wisata dengan cara membuka warung dan menjual beraneka macam dagangan. Mulai dari makanan, minuman, cinderamata bahkan batu satam khas Belitong pun mereka jual.

Belajar beralaskan tanah

Bangunan yang merupakan replika dari SD Muhammadiyah ini masih sama bentuknya. Pasir-pasir putih tempat Ikal dan teman-temannya juga masih terlihat di sekitaran bangunan utama. Saat melongok ke bagian dalam, nampak beberapa anak-anak lokal tengah duduk dan belajar bersama seorang guru. Hmm, saya tak tahu pasti apakah itu kegiatan belajar mengajar resmi. Sepertinya itu pelajaran tambahan saja.

Si Ikalnya lagi hamil, eh udah gede.

Dalam kunjungan ke Belitong kali ini, saya melewatkan kunjungan ke Museum Kata Andrea Hirata. Ntahlah, selain karena biaya masuknya yang tinggi, saya kurang menyukai tempat yang “latah” mengambil konsep wisata warna-warni. Menurut saja, kealamian bangunan lama yang dulu saya datangi, jauh lebih menarik ketimbang yang sekarang.

Salah satu bangunan yang ada di Kampung Ahok

Makanya, saya lebih memilih untuk berkunjung ke Kampung Ahok saja. Kawasan yang merupakan tempat tinggal Bapak Basuki Tjahaja Purnama ini letaknya tak jauh dari sekitaran Pasar Gantung. Ada dua bangunan yang saling berhadapan yang jadi tujuan utama. Yang pertama, berupa rumah kayu yang juga menjadi galeri dan menjual produk lokal.

Bangunan kedua, berbebeton dan berukuran lebih besar, yakni kediaman utama Bapak Ahok yang sebagian areanya dialihfungsikan sebagai penginapan. Di sini pula, saya berkesempatan berjumpa dengan Zulfani Pasha, si pemeran Ikal di film Laskar Pelangi. Ternyata, Fani kembali ke Belitong pasca lulus dari IKJ tengah mempersiapkan sebuah proyek bersama teman-temannya.

Beberapa cinderamata yang dijual di sana

Mengulik Keelokan Pulau Lengkuas

Sehari setelah pesta pernikahan sepupu, oleh keluarga yang ada di Belitong Timur, kami semua diajak berwisata ke Pulau Lengkuas. Lagi-lagi, ini kali kedua saya mendatanginya. Namun, tetap saja terasa spesial, terlebih, kali ini saya mendatanginya beramai-ramai bersama semua anggota keluarga.

Sebelum beranjak ke Pulau Lengkuas, kami terlebih dahulu mendatangi Pantai Tanjung Kelayang. Di sinilah kapal yang kami sewa bersandar. Bang Agus telah mengontak salah satu kenalannya dan dia sengaja memilih kapal berukuran agak besar mengingat jumlah rombongan kami lebih dari 20 orang.

Seperti inilah perahu kapal yang kami sewa

Dan ini bagian dalamnya. 20 orang lebih cukuplah.

Alhamdulillah cuaca sangat bagus. Padahal sempat ketar-ketir juga mengingat beberapa hari sebelumnya cuaca di Belitong kurang bersahabat. Mungkin itu hari baik kami semua. Sehingga perjalanan kurang lebih 30 menit dari Pantai Tanjung Kelayang ke Pulau Lengkuas dilalui dengan lancar hampir tanpa goncangan ombak.

“Hmm, bagaimana ya keadaan Pulau Lengkuas sekarang?” saya bertanya dalam hati.

Jujur saja agak khawatir dengan pulau ini. Saya khawatir, dengan banyaknya jumlah kunjungan wisatawan, maka keadaan pulau ini jadi tak terurus. Namun, begitu kaki saya menjejakkan kaki ke pasir putihnya yang lembut dan secara saksama mengedarkan pandangan, saya lega, ternyata pulau ini masih sama indahnya seperti saat pertama kali saya datangi.

Salah satu “sudut” yang ada di Pulau Lengkuas

Sayang mercusuarnya udah gak boleh dinaiki.

Yang berbeda adalah, kini mercusuar yang ada di pulau ini tak lagi terbuka untuk umum. Hmm, sayang sih, tapi demi keselamatan pengunjung dan juga untuk menjaga keberlangsungan mercusuarnya, saya setuju saja. Untung saja dulu saya pernah naik hingga ke atas, sehingga tidak terlalu merasa kecewa.

Di dekat batang pohon kelapa, para ibu-ibu mengeluarkan bekal yang sudah dipersiapkan sejak di rumah. Kami makan siang bersama dengan lahap sebelum kemudian menjajal air bening yang ada di pulau ini.

Deretan bebatuan yang tersusun rapi. Namun hati-hati, batu ini licin dan tajam.

Menyelam di sekitaran Pulau Lengkuas

Sengaja bawa lazybag biar ketjeh difotonya.

Inilah serunya jalan bersama anggota keluarga. Bersama beberapa sepupu, saya mengeksplorasi sisi lain pulau dan menemukan banyak spot foto menarik di sana. Pulau yang banyak dihiasi dengan bebatuan besar ini memang indah untuk difoto. Saya pun gak menyiakan kesempatan itu untuk berenang diantara bebatuan dan meminta sepupu untuk diambilkan gambar.

Beberapa foto berhasil didapatkan. Walaupun, yeah, saya harus “membayar”nya dengan sederet luka di tangan dan kaki akibat menahan bobot tubuh saat terjatuh dari bebatuan yang licin. Ironisnya, terdapat karang-karang tajam di bawahnya. Untungnya lukanya tidak terlalu besar sehingga tidak perlu dijahit. Penting nih bagi para pengunjung yang akan kesana, agar memilih sisi lain pulau saja yang lebih aman ketimbang harus mendapatkan pengalaman seperti yang saya rasakan.

Leyeh-leyeh di Pantai Tanjung Tinggi

Tak puas mengeksplorasi Pulau Lengkuas, di kesempatan lain, kami kembali mendatangi pantai-pantai indah yang ada di Belitong. Salah satunya dan yang paling terkenal tentu saja Pantai Tanjung Tinggi, yang lagi-lagi dijadikan tempat lokasi syuting Laskar Pelangi.

Batu-batu besar masih menjadi ciri khas dari pantai-pantai yang ada di Belitong. Termasuklah pantai ini. Saat saya datangi, kondisi pantai ini lumayan ramai. Mungkin karena akhir pekan, ya! Hal ini juga jadi ladang rezeki bagi penduduk setempat yang mencari nafkah dengan cara menyewakan perahu karet atau juga pelampung renang beraneka bentuk. Para pemilik warung yang menjual makanan juga mendapatkan imbas positif dari ramainya wisatawan yang datang ke sana.

Wisatawan mengeksplorasi Pantai Tanjung Tinggi dengan menggunakan perahu karet

Keindahan Pantai Tanjung Tinggi

Karena sudah puas main air dengan cara berenang dan menyelam di Pulau Lengkuas, di Pantai Tanjung Tinggi ini, saya hanya duduk santai sambil menikmati es dan jajanan di warung. Itu saya lakukan setelah mengeksplorasi bebatuan besar dan beberapa spot foto yang ada di sana.

Saya dan rombongan sejak awal tidak menyiapkan tiket balik karena kami memiliki waktu yang fleksibel di liburan kali ini. Lagipula, hari gini, tidak sulit mendapatkan tiket pesawat. Berbekal jaringan internet, saya dengan mudah dapat menemukan tiket yang sesuai budget dan waktu keberangkatan melalui situs atau aplikasi Skyscanner.

Batunya gede-gede banget. Tapi keberadaan bebatuan inilah yang bikin pantai ini makin kece.

Silakan disewa pelampung dan perahu karetnya.

Dengan melakukan pencarian melalui Skyscanner, dijamin harga yang ditampilkan adalah harga yang termurah, karena sesuai namanya, Skyscanner melakukan scan atau pemindaian diantara sekian banyak situs penjualan lainnya. Jadi gak perlu repot mengecek satu persatu, kan? Toh dengan satu kali klik melalui aplikasi atau situs Skyscanner, penumpang seperti saya langsung mendapatkan rincian harga tiket pesawat termurah!

Sambil leyeh-leyeh di hamparan pasir putih yang lembut di Pantai Tanjung Tinggi, tiket kepulangan kami berhasil saya dapatkan. Mudah sekali! Intinya sih, hari gini yang ribet-ribet itu udah gak musim. Eh? Hehehe.

Kerusakan Belitong dilihat dari jendela pesawat

Kami pulang ke Palembang 2 hari kemudian masih dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Sesaat setelah take off, dari balik jendela pesawat, saya menatap pedih bopeng-bopeng galian timah yang ada di tanah Belitong. Ya, -bersama Pulau Bangka, Belitong memang dikenal sebagai pulau penghasil timah. Namun sayang, esploitasi secara besar-besaran dan dengan minimnya upaya perbaikan lingkungan turut andil dalam terjadinya bencana banjir besar setahun lalu.

Ah, semoga pemerintah daerah segera melakukan perbaikan terhadap kerusakan lingkungan yang telah terjadi. Memang akan butuh waktu yang lama. Atau bahkan, sangat lama. Namun setidaknya dampak kecil yang dilakukan lebih baik ketimbang terus dilakukan pembiaran. Dan semoga, banjir besar tidak akan terulang lagi di tanah Belitong.

Sampai jumpa lagi Belitong!

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

Iklan

32 thoughts on “Kembali Menyapa Belitong

  1. Belitung ini seolah dua sisi mata uang logam ya, om. Di satu sisi begitu indah saat dikunjungi langsung di daratan, apalagi pesisirnya. Tapi di sisi lain, begitu miris, terutama wilayah bekas penambangan, seperti Kaolin misalnya. Tapi, yakin bikin aku melongo, saat tahu sekolah laskar pelangi sekarang kudu bayar, haha. Padahal pas ke sana 2015 silam masih gratis. Tapi, kalau itu untuk kesejahteraan masyarakat sekitar tempat wisata, aku sih setuju aja. Asal gak dinikmati sebagian oknum saja. 😀

    • Iya, aku juga kaget mesti bayar hehe, tapi ya kayaknya resmi, ada karcisnya. Dan, semoga pemasukannya sepenuhnya dipergunakan untuk masyarakat/perawatan bangunannya.

      Museum Kata Andrea Hirata gak kira-kira naik harganya. Rp.50k haha. Padahal dulu cuma 2k.

  2. Aku pun teringin kembali ke Belitong. Sudah 4 tahun sejak kunjungan pertama. Tapi entah kapan bisa balik lagi, karena tempat-tempat lain di Indonesia juga menunggu.Sementara budget dan umur sudah mulai membatasi hahaha..

  3. Semoga gak banjir lagi ya.. Aku pas ke sana juga sempat lihat masih ada jalan rusak karena banjir yang lagi diperbaiki.. Sempat kecewa mercusuarnya udah gak boleh dinaiki, tapi iya om demi mercusuar itu tetap tegak berdiri ya.. Jadi kangen Belitung, pingin island hopping lagi di sana.. 🙂

  4. btw itu replika sekolah sd muhamadiyah gantong, masih di pakai kah?? itu foto anak2 di dalam kelas? jd penasaran harga tiket museum andrea hiratanya:D wah someday pgn tau belitong-.-‘ taunya cm lewat film laskar pelangi saja, lautnyaaa

  5. Kalo pantainya cakeeep kayak gini, siapa yang sanggup menolaknya Bang. Cantik bingitz ini mah

    Belitung, salah satu tempat yang pengen aku datangi selain Sabang. Bali juga sih, tapi karena udah pernah ke Bali. Dua tempat itu lebih bikin penasaran

    Semoga bisa dapet tiket murah deh ntar kalo udah di Jakarta … Aamiin *di Aamiin keun dulu, siapa tau dikabulkan Allah*

  6. Baca ini jadi kangen euy dengan Belitong, wkwk. Dari beberapa tulisan saya jadi tahu bahwa di sana tidak cuma alamnya yang unik, peninggalan sejarahnya pun keren-keren, termasuk bendungan yang diceritakan di sini. Mudah-mudahan bisa berkunjung ke sana, euy. Banyak objek di Belitong yang ingin saya kunjungi. Semoga berhasil dengan lombanya, Om! Hadiahnya nanti buat jalan-jalan ke Belitong lagi, hihi.

    • Haha makasih Gara. Iya, aku juga baru ngeh kalau bendungan ini ada sejarahnya. Bendungan tua soalnya. Kalau Gara ke Belitong kabari, siapa tahu pas aku ke sana (lagi), dan bisa jalan bareng nanti.

  7. Pertama kali dapat cerita keindahan Belitong ini dari Mbak Rien pas kami sama-sama ke Palembang tahun 2016 itu. Balik dari Palembang baca-baca posting Mbak Rien dan jadi tambah pengen. Cuma masih sebatas pengen aja. Kali ini jadi makin bertambah nih kadar pengennya, semoga nanti ada rejeki dan kesempatan untuk ke Belitong. Jejak sejarah juga banyak to di sini.

    Btw, good luck ya, Yan.

  8. Sama mas, Bangka juga jalanannya lengang. Padahal aku kira udah bakal crowded kayak Lombok gitu. Jadi seneng banget touring 😀

    aku kalo ke Belitung kudu bawa cancut colorful kalo gitu, wahahahaha

  9. skrg malah byk sekolah wisata ke sini ya. Mulai dari guru sampai murid-muridnya. Film Laskar Pelangi efeknya emg sampe ke wisata ya. Gak beda jauh sama efek AADC2 sampe ada wisata napak tilasnya hahaha

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s