Pelesiran

Di Zaanse Schans Bukan Hanya Ada Kincir Angin, Loh!

.

Bus yang saya dan adik tumpangi dari London tiba di Amsterdam lebih cepat 2 jam dari waktu yang diperkirakan. Kalau dari jadwal sih, mestinya tiba jam 8 pagi. Tapi, OUIBus yang kami naiki ternyata sudah sampai di Amsterdam Sloterdijk sekitar jam 6 pagi saat langit masih gelap.

“Jam 6 udah terang kali!”

Begitu kali komen para netijen. Hey, iya kalau di Yogya mau udah terang haha –nganu ini saya keingat pas ke Yogya jam 5 lewat aja langit udah terang euy! Tapi berhubung kami jalannya di musim gugur ya maklum deh kalau matahari terbit lebih lambat. Begitu mengambil ransel dari perut bus, bergegas saya dan adik masuk ke gedung utama yang ada di sana. Sloterdijk sendiri semacam KL Sentral di mana berbagai sarana transportasi ngetemnya di sini. Tapi sebetulnya ada lagi Amsterdam Central yang lebih besar namun OUIBus yang saya tumpangi ternyata berhentinya di Sloterdijk.

Suasana Zaanse Schans

Kami bergegas masuk ke bangunan utama untuk mencari kehangatan –er, sounds wrong? Sayangnya kami nggak menemukan kursi umum yang dapat digunakan. Kalau mau duduk? Ya sana ke kafe. Secara kami traveler kere, ya sudah ngengelepor aja di lantai. Pantat dingin gakpapa asalkan hati tetap hangat, ea.

Sambil makan roti, kami berdua membunuh waktu sambil melihat situasi pagi Amsterdam yang mulai menggeliat. Saya udah ada janji sama Inna, temen lama yang dulu dikenal tak sengaja di blog. Dulu kenal pas Inna sekolah S2 di Nijmegen. Sekarang, lagi ambil S3 di Groningen. Bersama Mas Agung (calon) suaminya, mereka janji akan ngajakin kami jalan-jalan.

Bangunan di sekitaran Zaanse Schans

Tujuan hari itu mau “ngehabisin” Zaanse Schans sama Volendam. Nah, karena kedua daerah ini berada agak pinggiran, saya memutuskan untuk beli Region Travel Ticket seharga EUR 18,5 atau setara IDR 323 ribu yang mana dengan menggunakan tiket itu kami dapat menjangkau kedua wilayah tersebut termasuk dapat menggunakan semua alat transportasi dalam kota Amsterdam.

Saya dan adik mengeksplorasi hari pertama kami di Belanda masih dengan membawa masing-masing backpack seberat 12 kg. Ada sih tempat penitipan ransel di Amsterdam Central. Tapi kan keluar duit lagi, yes, sayang duitnya! Hahaha. Lagian masih gendongable kok ranselnya. Ya sudah dibawa aja ke mana-mana. Mau titip di rumah host kalian tahu sendiri kan dari tulisan ini kalau host kami di Amsterdam ini paling ngehe hahaha.

Menuju Zaanse Schans

Ada dua alternatif penggunaan transportasi umum menuju Zaanse Schans. Pertama, menggunakan kereta. Kedua, menggunakan bus. Semuanya ada kelebihan dan kekurangannya. Kalau naik kereta, jelas lebih cepat, tapi dari stasiun harus berjalan lagi menuju lokasi utamanya. Nah, jika menggunakan bus, berhentinya langsung di halte tak jauh dari gerbang masuk.

Dari halte hanya jalan dikit trus sampe deh.

Kincir anginnya mulai nampak dari kejauhan.

Tipikal jembatan di sekitaran Zaanse Schans

Setelah ngecek di aplikasi 9292 atau situs 9292.nl (bisa juga pakai google maps), bus tujuan Zaanse Schans akan berangkat dalam beberapa menit ke depan. Jadilah, setelah euforia singkat perjumpaan dengan Inna dan Mas Agung, kami bergegas naik ke lantai atas tempat bus biasa ngetem. Hehe iya, jadi Amsterdam Central ini ya semacam Terminal 3 Soetta-lah, jadi nggak heran jika bus bisa jalan hingga ke lantai atas.

Jarak antara Amsterdam Central ke Zaanse Schans yang berada di Zaandijk, Zaandam itu sekitar 18 km. Kalau naik bus sih antara 20 sd 30 menit tergantung kondisi jalan. Dari Amsterdam Central, perjalanan tergolong lancar. Setelah melewati perkotaan, bus mulai bergerak ke area pedesaan yang minim bangunan modern.

Keindaan Zaanse Schans

Ada banyak tempat untuk melihat kincir angin. Tapi, yang aksesnya mudah dijangkau dari pusat Amsterdam ya Zaanse Schans ini. Namun, siapa sangka, ternyata kincir angin yang ada di sini itu aslinya berasal dari seluruh Zaanstreek yang dipindahkan menggunakan tailer lowboy antara tahun 1961 hingga 1974.

Gerimis sempat menyambut saya yang belum mandi ini hehehe

Kawasan perumahan di seberang sungai. Nah, kalau nggak salah sih stasiun keretanya berada di sisi seberang sana itu.

Salah satu kincir angin di sana.

Kalau kemudian dinamakan Zaanse Schans sih karena memang letaknya berada di sekitaran Sungai Zaan yang dulu dipakai oleh tentara Belanda untuk bertempur sebelum memperoleh kemerdekaan dari Spanyol eh udahnya menjajah Indonesia.  Bagi yang penasaran lebih dalam soal sejarah Zaanse Schans bisa lihat di sini, ya!

Saat berjalan dari bus menuju pusat kincir anginnya, saya rada merinding gitu. Bukan karena tempatnya serem haha. Tapi, saya keinget permainan dan celotehan saat dulu masih SD. Ntah ya kalau anak sekarang, selain demen main Sega, Nintendo, baca komik dsb, saya dulu gaul-nya sama RPUL atau Buku Pintar. Nah, di sana ada informasi soal julukan negara di dunia.

Dari situ juga saya akhirnya tahu kalau julukan Belanda itu negeri Kincir Angin dan Bunga Tulip. Uniknya, untuk pertama kali, saya akhirnya bisa lihat langsung kebun Bunga Tulip malah di Srinagar, India hehehe. Sebelum zaman internet, saya tahunya bentuk Kincir Angin itu ya dari buku yang saya baca. Dulu rasanya penasaran banget, “buat apa sih kincir angin itu?”

Hewan aja kayaknya bahagia tinggal di Eropa ini ya haha. Gak ada yang ganggu.

Ternyata ya emang banyak fungsinya. Misalnya saja untuk memompa air dan mengairi sawah. Bisa juga untuk membantu menggiling biji-bijian dan yang paling penting dapat menghasilkan energi listrik. Kincir angin juga hanya hanya didominasi oleh Belanda. Memang paling banyak di Eropa. Tapi di Amerika Utara juga ada.

Soal negara mana yang paling awal memilikinya sulit dipastikan. Namun, naskah tertua yang menuliskan tentang keberadaan kincir angin malah tertulis dalam bahasa Arab dari abad ke-9 di mana, saat itu sudah ada kincir angin yang dioperasikan di perbatasan Iran dan Afghanistan. Dulu dikenalnya dengan nama Persian windmill.

Ijo royo-royo

Kalau orang di Belanda pada sehat ya nggak aneh sih.

Inna, Mas Agung dan seseorang yang belum mandi hwhwhw

Makanya, saat saya melihat kincir angin untuk pertama kalinya, rasanya luar biasa. Harapan masa kecil saya terhadap kincir angin lunas di Zaanse Schans!

Tapi saya agak ketar-ketir juga secara begitu datang ke sana langit mendadak gelap dan gerimis tipis. Haa, apa ini karena saya dan adik belum mandi sejak sehari sebelumnya ya? Hahaha. Untungnya, walau belum mandi, kami sudah cuci muka dan sikat gigi di salah satu toilet berbayar di Amsterdam Central. Bukan apa-apa, kasihan Inna dan Mas Agung kan kalau mesti mencium bau naga hehehe.

Icip-Icip Keju di Zaanse Schans

Puas foto-foto di sekitaran kincir angin, kami bergerak masuk ke beberapa bangunan khas yang ada di sekitaran Zaanse Schans. Salah satunya ke pabrik pembuatan keju di toko De Catherine Hoeve. Di toko ini banyak sekali dijual keju glondongan hehe.

Coba bayangkan keju sebesar ini nimpuk kepala, pasti sakit. Lol.

Dulu, saya pernah lihat proses pembuatan keju ini di salah satu episode Amazing Race. Secara di Indonesia dulunya saya paling banter ketemu keju kraft, pas datang ke sini jadinya takjub. Keju segede itu ternyata banyak banget peminatnya. Saya yang bukan tim keju dan susu saya tertarik icip beberapa keju. Ada yang rasanya oke, ada juga yang… rrrr hahaha.

Catharina Hoeve sendiri merupakan pertanian keju sejak abad ke-17 yang sangat otentik. Keju yang diolahpun ternyata berasa dari berbagai jenis susu. Ada yang daris api, domba ataupun kambing. Nah, mungkin yang rasanya aneh itu yang dari susu kambing ini haha. Kalau mau masuk ke dalam boleh loh icip-icip, tapi ya jangan maruk sampe keju tester-nya dibungkus pake taperwer segala ya.

Nah, kalau kejunya dimakan sama keripik kayak gini saya sih doyan.

Saya baru kerasa makan keju yang enak saat Mas Agung beli nacho. Yakni camilan asal Meksiko berupa keripik tortilla yang disram dengan keju cair. Nah, ini baru uenak! Haha. Konon kalau belinya langsung di Meksiko, selain disiram keju, nacho-nya juga ditaburi cabai jalapeno yang terkenal itu. Wuih, pasti enak ya. Ah, saya kebayang nacho-nya dicocol pake sambal abece coba saat di sana. Lol.

Melihat Proses Pembuatan Klompen

Masih di sekitaran Zaanse Schans, saya tergerak masuk ke satu bangunan di mana, di bagian depan bangunan ini terdapat sebuah sepatu kayu berukuran raksasa! Nah, bagi yang belum tahu itulah klompen atau wooden shoe/sepatu kayu khas Belanda yang sudah ada sejak tahun 1230! Dulu, penduduk menggunakan klompen sebagai alas kaki karena murah dan tahan lama.

Pose pamer lubang hidung di Kooijman Wooden Shoe Workshop.

Walaupun sekarang klompen sudah jarang digunakan sehari-hari, tapi setidaknya 3 juta pasang klompen tetap diproduksi setiap tahunnya loh di Belanda. Salah satunya di Kooijman Wooden Shoe Workshop yang ada di Zaanse Schans ini. Hmm, mungkin klompen masih dipakai di acara-acara tertentu, ya. Yang jelas, klompen inilah salah satu cinderamata yang paling diburu oleh wisatawan.

Saat ke sana, saya beruntung ternyata waktunya pas dengan pertunjukan pembuatan sepatu kayu ini. Menggunakan alat khusus yang masih tradisional, balok-balok kayu kemudian dipahat sedemikian rupa sehingga kemudian membentuk sepatu.

Foto di dinding workshop.

Klompen tua dipajar di dinding kaca.

Nah, sepatu ini kemudian dicat dan dilukis sehingga memiliki corak yang indah. Umumnya, di bagian depan sepatu akan dilukis dengan gambar kincir angin. Oh ya, di sini juga terdapat banyak sekali foto yang memperlihatkan para pekerja yang menjadi pengrajin. Di sebuah dinding kaca, dipajang juga klompen berusia ratusan tahun yang masih nampak kokoh.

Namun, yang bikin saya lapar mata ialah, di bagian belakang bangunan terdapat toko cinderamata di mana ratusan pasang klompen disusun berjejer. Harganya bervariasi, di mulai dari 10 euro. Aaaak, ingin rasanya saya beli untuk pajangan di rumah. Tapi, berhubung perjalanan di Belanda ini masih awal-awal, saya khawatir mendadak jadi gelandangan di tengah perjalanan wakaka. Jadilah keinginan itu saya halau.

Peralatan pembuatan klompen.

Proses pembuatannya.

Mejeng di deretan klompen yang tak mampu dibeli itu heuheu.

Hari semakin siang saat kami memutuskan untuk kembali ke Amsterdam Central. Tujuan kami selanjutnya ke desa nelayan Volendaam. Namun sayangnya nggak ada bus langsung dari Zaanse Schans ke sana. Maklum, lokasinya berlawanan arah. Mau gak mau ke Amsterdam Central dulu sambil mengisi perut.

Nggak tinggi-tinggi banget menaranya kok.

Pemandangan dari atas menara.

Saat menuju halte, saya melihat ada sebuah menara kayu di sana. Saya minta waktu sebentar kepada Inna dan Mas Agung untuk naik ke atas. Dari sinilah pemandangan Zaanse Schans terlihat jauh lebih jelas. Saya yakin, wisatawan yang naik kereta bisa jadi akan melewati menara ini. Lumayan ya, secara saya belum punya drone. Jadi, kalau mau ambil pemandangan dari ketinggian, keberadaan menara ini sungguh berfaedah!

Ah, semoga saya berkesempatan balik lagi ke Zaanse Schans ini dalam… keadaan lebih kaya buahahaha.

29 komentar di “Di Zaanse Schans Bukan Hanya Ada Kincir Angin, Loh!

  1. Nyimak uraian kisah ini saya jadi inget dulu mendatangi Lokasi ini dalam misi Festival Tong Tong di Den Haag. Btw Aku dulu sempet di suruh cicip gratis Keju yang rasanya beda bgd dengan keju keju di Indonesia heheheh…. Semoga Yayan bisa kembali Ke sana (dan saya juga) amiiiinnn.

  2. Duuuh ntah kapan bisa kesini :D. Impianku kalo ke Belanda itu bisa nyicipin keju2 nya mas :D.

    Btw itu orang2 sana kok bisa tahan pake klompen yaaa. Mama mertuaku ada, aku prnh coba dan jujur aja ga nyaman dipake :p. Ga kebayang sih kalo dipake utk jangka wkt lama. Bisa lecet kakiku hahahaha

  3. Seperti biasa, cerita di blog mas ini selalu enak dibaca 😀

    Saya juga salah satu pembaca RPUL dan termasuk yang punya mimpi kecil bisa lihat bunga tulip dan kincir angin di Belanda~ tapi nyatanya sama seperti mas juga, saya justru pertama kali lihat bunga tulip bukan di Belanda :3

    By the way, keju dari susu kambing memang kurang cocok sama lidahnya orang Indonesia. Saya pun nggak begitu suka. Soalnya rasanya aneh dan kurang savory dibanding keju lainnya. Hihi, dan keju plus nachos memang juara, apalagi kalau ditambah saus daging cincang :9

    Ditunggu cerita-cerita berikutnya yaaa mas :>

    • Terima kasih ya 🙂

      Iya, bisa jadi karena rasa susu kambingnya sendiri pun udah khas ya haha. Mana pula aku memang nggak terlalu cocok konsumsi keju. Beli martabak atau roti yang ada keju-nya aja aku gak doyan haha

  4. Daaan, kami kesini menggunakan kereta soalnya gabisa naik bus ada 2 bocah harus sedia car seat..dan emang jauh sih harus berjalan kurang lebih 1,5 km kalo ga salah inget. Tapi tepat di stasiun pemberhentian kereta itu ada cafe dan salah satunya yang jaga itu anak muda keturunan Indonesia tepatnya Surabaya tapi dominan bule krn sekilas mirip Justin Bieber. Baik banget, ngasih gratisan banyak camilan buat anak2 hahaa.
    Sempat dikasih kartu nama tapi sayang hilang. Sekitar stasiun juga ada masjid terdekat. Semoga suatu saat bisa balik lagi kesana.

    • Nah iya, di Eropa ketat ya mas soal car seat ini. Aku baru ngeh pantes selama di sana naik bus gak pernah ketemu anak-anak 🙂

      Amin semoga bisa balik lagi ke sana.

  5. Yang aku belum ngeh sampai sekarang kalau baca2 travelogue itu, dari London ke (benua) Eropa daratan macam Amsterdam atau Paris itu orang naik bus atau kereta lewat terowongan atau gmn ya? Atau naik kapal gitu? Soalnya kok ada kereta dari Paris ke London.

    • Pengalamanku keluar masuk Inggris naik bus selalu naik kapal feri mas Adi. Jadi pas di atas kapal, semua penumpang diminta turun. Persis kalau nyeberang Lampung ke Banten-lah hehe. Untuk kereta, setahuku ada jalur kereta bawah tanah dan lautnya.

  6. Memang harus sedia banyak uang saku ya kalo ke Eropa, biar bisa duduk menghangatkan diri di cafe dan menitipkan tas di loker 😀
    Asyik nih ke Zaanse Schans pagi-pagi.

    Aku juga bukan fans keju, tapi aku luluh sama cheesecake :3

    • Haha iya. Otakku masih sangat rupiah. Well, selain kalau di Indonesia juga aku jaraaaaaang banget beli minuman kayak gitu. Biasanya beli pun kalau lagi kopdar aja hwhw.

  7. Aku jadi lapar liat kejunya. Hahaha. Btw aku salut sama dirimu soal mencoba mencari tahu naik kendaraan umum di sana, keren. Aku biasanya nyerah dan jadi tugasnya Adrian. Huahaha

    • Soalnya nggak ada opsi lain selain naik kendaraan umum mbak haha. Dan, adekku menyerahkan semua urusan ke aku. Jadilah mau gak mau harus cari tahu ^^

  8. Ping balik: Aha! Ini Dia Persiapan dan Itinerary 25 Hari Jelajah Eropa | Omnduut

  9. aku waktu kelayaban 1,5 bulan lebih itu ranselku cuma 7kg lho wkwk.. btw itu 12kg boleh masuk kabin??

    kincir angin pertamaku kulihat di toko roti (iykwim) wkwk.. etapi di indo aku pernah liat kincir angin beneran tapi bentuknya ngga kaya di holland (bakery), di sulsel..

    bangunan deket klompen itu dari batu bata atau kayu omnduut? suka bgt liat bangunan2 bergaya eropa klasik gini..

    aamiin, semoga omnduut bke sana lagi dengan fulus yg berlipat2 haha..

    -Traveler Paruh Waktu

Tinggalkan Balasan ke CREAMENO Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s