Alarm yang aku setel sebelum tidur meraung tepat pukul 4 pagi. Aku melirik ke ranjang sebelah, nampak Maman @mamanisss masih terlelap. Hmm, mungkin dia lelah setelah konser Korea sebelum tidur hehe. Ya sudahlah, aku kembali mengatur ulang alarm. Aku tambahkan 15 menit untuk lanjut beristirahat karena merasa waktu yang aku punya masih cukup untuk bersiap-siap.
Saat briefing malam sebelum tidur, om Yopie si empu @KelilingLampung_ pun sudah mengingatkan, “besok paling lambat pukul 06:00 kita sudah harus kumpul di Lapangan Kopri ya,” ujar beliau. “Pukul 05:30 sudah siap di lobi hotel, ya!” sahut om Yopie lagi.
Aku dan semua blogger undangan resmi Dinas Pariwisata & Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung angguk-angguk tanda patuh. Kalau mau jujur sih, sebetulnya udah pada gak tahan mau dangdutan di tempat karaoke. Namun, mengingat besok kami semua akan melakukan perjalanan panjang menuju Gunung Anak Krakatau, hasrat untuk pamer joged harus ditunda dulu. Baiklah… 🙂 tahan ya gaes! –lirik bang Indra.
Semburat Cahaya Pagi dari Pantai Sari Ringgung
Ngantuk? Jelas! Namun badan segar dan rasanya bersemangat sekali memulai hari baru di Lampung. Selain aku dan Maman yang datang dari Palembang, tim blogger TBC –sebut saja begitu hehe, juga dimeriahkan dengan kedatangan mbak Katerina @Travelerien dan mas Arie @AriePitax dari Jakarta, mbak Dian @Adventurose dan mbak Lina @LinaSasmita dari Batam, mas Hari JT @MitraWisataId dari Pangkal Pinang, mbak Rian @Atanasia_Rian dari Yogyakarta serta mbak Ros @RosannaSimanjuntak dari Pontianak. (btw, semua itu akun IG-nya ya, follow ea kakak-kakak).
Tak lupa, Blogger TBC ini dikepalai oleh Bang Indra @DuniaIndra dari Lampung. Saat tahu temen jalannya bakalan seru-seru kayak gini, aku tanpa pikir panjang setuju untuk ikutan bergabung di Lampung Krakatau Festival 2016. Apalagi sebagian dari mereka sudah kukenal pasca ikutan di Festival Teluk Semaka tahun lalu. Oke kenalannya udah, diingetin ya nama-namanya. Tak kenal maka tak sayang loh, jangan sampe udah temenan lama trus lupa sama nama itu bikin sedih loh kakak-kakak. Sungguh –pasang muka serius.
Oke kembali ke Lampung Krakatau Festival 2016.
Begitu sampai di Lapangan Kopri komplek perkantoran gubernur prov. Lampung, suasana masih sepi. Hanya nampak beberapa panitia di sana. Terlihat pula ada 3 bus pariwisata berukuran besar terparkir di pinggir jalan.
Blogger kalau udah ngumpul kerjaannya apa coba? Yak benar sekali : foto-foto! biar kata kehebohan kami semua memecah kesunyian pagi, yang penting perjalanan dijalankan dengan hepi.
Tak lama kemudian seorang panitia lokal bernama mbak Rahmi mendata kami di sebuah kertas. Kami diminta mengisi daftar hadir. “Buat jatah makan siang ya, mbak?” ujarku bercanda. Mendengar itu mbak Rahmi hanya tersenyum.
Ntah kemana peserta yang lain, namun setengah jam berlalu, lokasi masih nampak sepi. Mengingat jadwal yang ditetapkan EO cukup ketat, bus 1 yang kami tumpangi mulai melaju walaupun bus tak terisi penuh. Hanya 17 penumpang saja dimana 10 orangnya ya rombongan kami tadi.
Kami berjalan membelah kota Bandar Lampung kurang lebih 40 menit menuju pantai Sari Ringgung. Di dermaga yang ada di sana, kapal-kapal hias sudah siap mengantarkan kami menuju kapal-kapal besar yang disiapkan EO untuk menuju Gunung Anak Krakatau.
Pantai Sari Ringgung sendiri merupakan pantai yang terletak di Desa Sidodadi, Teluk Pandan, Padang Cermin, Pasarawan. Untuk pantai yang berjarak hanya 14 km dari pusat kota, pantai ini patut jadi pilihan destinasi wisata. Terutama lagi bagi kalangan keluarga dengan anak-anak karena terdapat wahana bermain air di sana. Untuk lebih lengkap coba cek di situs pantaisariringgung[dot]com ya. Untuk sebuah pantai, situsnya apik menurutku.
Suasana mulai panas dan kawasan pantai Sari Ringgung mulai ramai. Namun ntah kenapa kami semua belum juga diizinkan menaiki kapal padahal jadwal sudah lama molor. Tak lama kemudian ada satu bus lagi yang datang. Bus no.4. Bus ini ternyata membawa rombongan pemenang lomba blog Lampung Krakatau Festival 2016 berikut 2 jurinya yang sudah lama aku kenal yakni Adis @Takdos dan mas Farchan @Efenerr. Sama Adis kita sempat jalan di fam trip Gerhana Matahari Total beberapa bulan lalu. Sedangkan dengan mas Farchan sempat ketemuan di bandara Changi sepulang dari Kerala Blog Express Bulan Februari lalu. Asyiklah ketemu kawan-kawan lama 🙂
Alhamdulillah, tak lama kemudian acara dimulai. Lampung Festival Krakatau 2016 dilepas oleh perwakilan bapak gubernur dan Ibu Kepala Dinas Pariwisata. Untuk memasuki kapal, lagi-lagi kami dikelompokkan berdasarkan bus yang kami naiki. Satu kapal hias hanya boleh diisi maksimal 10 orang. Sehingga penumpang bus no.1 dibagi menjadi 2 kapal.
Ternyata urutan kedatangan bus tidak berlaku di urutan menaki kapal. Teman-teman rombongan bus no.4 mendapat kehormatan menaiki kapal lebih dulu. Kami yang sudah berada di dermaga diminta mundur oleh panitia, opps maaf pak, menghalangi jalan, soalnya udah gak sabar duduk-duduk cantik di atas kapal warna-warni itu hihi. Tapi untungnya urutannya gak balik mundur jadi 4-3-2-1. Setelah teman-teman di bus no.4 menaiki kapal, kami rombongan di bus no.1 lantas dipersilakan menaiki kapal.
Tujuan menaiki kapal hias ini adalah mengunjungi Masjid Terapung yang berada tak jauh dari bibir pantai. Masjidnya tradisional, terbuat dari kayu dan saat kami datangi sepertinya ada pengajian atau apalah, banyak orang yang memakai pakaian ala arab gitu di dalamnya. Di sana kami bertemu lagi dengan rombongan Adis. Sayang di sana sebentar banget, gak sampai 2 menit kami sudah disuruh masuk kapal lagi.
“Yang lain langsung ke kapal besar,” teriak orang-orang dari perkarangan masjid.
Kapal-kapal hias lain (mungkin rombongan bus no.2 dan 3) yang awalnya mau ke dalam masjid menjadi batal. Mereka langsung menuju kapal besar yang nantinya digunakan untuk mengantar kami ke Gunung Anak Krakatau.
Ada 3 kapal besar yang disediakan oleh EO. 2 kapal berukuran besar seperti kapal pesiar, 1-nya lagi kapal kayu/tongkang yang sepertinya kapal yang digunakan untuk distribusi logistik atau mencari ikan. Om Yopie berusaha mengarahkan pengemudi kapal untuk menuju 2 kapal besar sebelumnya, namun kami ditolak dengan alasan over capacity.
Ya sudah, apa boleh buat. Daripada nggak jadi ke Gunung Anak Krakatau, kan? Apapun keadaanya, pokoknya dibikin asyik aja. Mungkin terkesan kami hanya milih kapal yang bagus aja, ya! Tapi ada banyak alasan yang melatar belakangi sebetulnya. Terutama dari segi keamanan dan keselamatan.
“Eh ini baju pelampungnya kita bawa, kan?” tanyaku ke teman-teman lain.
“Iya bawa aja.”
“Pak, di kapal ada baju pelampung, nggak?” tanyaku ke anak buah kapal. Kebetulan aku berada di ujung kapal dan bersiap masuk ke kapal kayu lebih dulu.
“Nggak ada,” jawab si bapak.
Ya sudah, aku lantas menaiki kapal dengan membawa life jacket. Kepalaku sempat tersantuk di pintu kapal yang sempit itu. Sekilas aku melirik, “hmm kapalnya cukup lebar,” batinku. Ya, kapalnya lumayan besar, namun sayang jarak antara lantai dan langit-langit sempit sekali. Untuk berjalan kami harus merangkak. Untung saja masih bisa dipakai duduk.
Sebagai alas, disediakan tikar rajut. “Lumayanlah, seenggaknya bisa baringan nanti,” pikirku lagi.
Kami satu kapal dengan teman-teman yang tadinya ada di bus no.4. Sebagian memilih duduk di bawah, sebagian lagi memilih duduk di atas atap. Aku sendiri memilih duduk di bawah soalnya tidak tahan dengan sengatan mataharinya. Walaupun di bawah pengap dan berisiko menghirup asap pembuangan dari mesin kapal (mesinnya berada di tengah kapal!) tapi aku berharap nanti saat kapal berjalan, sirkulasi udara jadi jauh lebih baik.
Tiba-tiba, “mas… pelampungnya nggak boleh dibawa,” teriak anak buah kapal.
Lha, kok gak boleh? Tanpa pikir panjang seketika aku lempar pelampung tersebut ke arah anak buah kapal. Ya lebih praktis dilempar ketimbang merangkak kembali ke arah depan, kan? –lirik lipatan lemak di perut hehe. Sayang, keputusanku untuk menyerahkan life jacket tersebut aku sesali kemudian. Aku harusnya ngotot membawa jaket pelampung itu. Kenapa? Karena aku khawatir nggak ada kesempatan lagi untuk menyesalinya –if you know what I mean.
Okelah, tak lama setelah kapal berjalan, aku memilih untuk berbaring. Aku sedikit mengantuk karena efek minum obat anti mabuk dan dengan memejamkan mata, harapanku rasa mual dapat diminimalisasi.
Faktanya, aku tidak betul-betul bisa tertidur. Tolong jangan artikan aku membandingkan kapal ini dengan kondisi ranjang hotel yang empuk. Ya nggak begitu juga, kali! 🙂 secara ya mahluk daratan yang jarang naik kapal, tentu nggak mudah tidur di tengah kondisi seperti itu. Ombak lumayan kerasa (aku mau bilang lumayan gede namun sebagian teman lagi bilang, “ini mah belum ada apa-apanya.” So okelah), dan tidur tanpa bantal itu bukan hal yang mudah.
Lantai kapal itu bergetar karena mesinnya lumayan kencang. Ya sudah, untung bawa tas dan tasnya disulap jadi bantal. Pokoknya perjalanannya dibikin seasyik mungkin. Yang penting bisa jalan dengan kawan-kawan yang seru rasanya perjalanan yang sulit pun akan terasa mudah dilalui.
Diantara tidur-tidur ayam itu, aku sempat terjaga beberapa kali. Diantaranya ketika tim EO mendatangi kapal kami dan membagikan bekal makan siang. Aku hanya melirik sekilas proses distribusi makanan tersebut. Karena merasa belum lapar dan masih mual, aku kembali memejamkan mata.
Gagahnya Gunung Anak Krakatau
“Hayo bangun, sudah hampir sampai,” ujar Om Yopie sambil membangunkanku.
Aku melirik ke layar ponsel. Pukul 2 siang. No signal. Wow, kami yang seharusnya diperkirakan sampai pukul 11:30 ternyata harus molor dan itu molornya lumayan juga ya. Aku melihat ada 3 boks nasi kotal di kakiku. 2 diantaranya sudah kosong. Ada 1 boks nasi yang kulihat masih “berbentuk”. Boks makanan ini memang masih ada lauk dan nasinya. Namun posisinya nampak seperti sudah berpindah-pindah hehe. Air mineralnya udah nggak ada, dan lauk berupa ayam gorengnya sudah nampak dibelah sedikit.
Aku yang mengira bahwa itu nasi punyaku, langsung saja bersiap-siap makan. Namun, berapa kagetnya aku saat bertanya ke mas Arie, Maman, mas Hari dan om Yopie, mereka juga belum makan. Lho?
Ya, ternyata ada miss komunikasi antara tim EO dan anak buah kapal saat distribusi makanan. Intinya, ada 5 orang yang gak kebagian nasi kotak, salah satunya ya aku. Oke-oke, untungnya (Indonesia banget ya ada untungnya? Hehe), mbak Ros dan mbak Lina masih menyimpan roti dan kue perbekalan di bus. Jadilah, 2 kotak kue itu kami bagi ramai-ramai. Lumayanlah buat ganjelan sembari berharap panitia masih menyimpan stok makanan begitu sampai di daratan.
4 jam di atas kapal, bikin badan goyang-goyang saat menginjak daratan 🙂 kami sempat duduk sebentar di balai-balai yang terbuat dari bambu persis di depan kantor BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) provinsi Lampung. Kita pada kebelet pipis, ya habisnya di kapal tidak ada toilet dan kita berada di kapal lebih dari 4 jam. Sayangnya satu-satunya toilet yang ada di sana pintunya dipalang papan dengan cat bertuliskan : Tidak Dapat Digunakan, Penuh Kotoran.
Jadilah, kami memakai satu-satunya toilet darurat yang ada di sana. Toilet terbuka dengan air tawar yang terbatas. Hanya sekitar 10 sd 15 menit kami beristirahat, selanjutnya kami bergegas berjalan menuju Gunung Anak Krakatau. Hari sudah sore, dan kami tidak mau membuang waktu lebih lama lagi.
Di sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan rombongan 2 kapal besar yang tentu saja sudah lebih dulu sampai. Aku berjalan beriringan bersama bang Indra, Maman dan kak Arie. Sebagai yang paling seksi di antara mereka, aku jelas keder hehe. Apalagi saat melihat sadel/fase puncak pertama (hanya bagian ini yang diizinkan untuk didaki) aku udah ngap-ngap sendiri. Setiap kali melangkahkan kaki mikirnya, “aduh ini bakalan sampe atas nggak ya?”
Eh ternyata, setelah dijalanin sampe loh sodarah-sodarah –sujud syukur terharu. Tisu, mana tisu.
Dan, voila! Subhanallah, pemandangan dari atas sadel Gunung Anak Krakatau itu indah banget! Aku sih belum pernah ke surga, namun kayaknya pinggiran (((pinggiran))) surga BISA JADI cakepnya kayak pemandangan dari Gunung Anak Krakatau ini hihi –ambil wudhu, mau masuk surga.
Rasanya nggak ada lensa buatan manusia yang dapat menangkap panorama indah sedahsyat mata manusia. Berdiri diam, menghirup oksigen sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling bikin aku lupa sama perut yang keroncongan hehehe.
https://www.instagram.com/p/BJniKTCjqr1/
Di atas, aku sempat bertemu dengan Adis dan beberapa rombongan lain, termasuklah 2 warga asing asal Mesir dan Belgia yang sedari tadi diteriaki pakai pengeras suara yang intinya, “kepada Mr anu dari Turki, harap segera kembali ke kapal” (ya, yang manggil salah kira, mereka pikir dari Turki padahal dari Mesir. Kok aku tahu? Ya ngobrol dong sama mereka).
Aku dan mbak Lina memutuskan untuk kembali ke bawah saat kedua bule itu masih diwawancari di atas sadel. Begitu sampai di bawah, kami dipersilakan untuk naik ke kantor BKSDA untuk makan sore eh makan siang.
“Yang tadi belum makan, hayo silakan naik,” ujar mas EO berkemeja kotak-kotak.

Gunung yang berada di depan ini sebelumnya satu kesatuan dengan Krakatau purba, pasca meletuk mereka “muncul”
























Ternyata kamu ama Maman seranjang …. Pasti abis terjadi sesuatu #Kepo
Semoga tahun depan lebih baik festival nya dan panitia nya lebih mengerti. Aku baca nya gemessss pengen tak remet2 tuch eo nya.
Aku mau nya naik kapal speedboat yg manja itu hahahah
Yang jelas aku dimantrain oleh Maman om, katanya tumben aku tidurnya nggak ngorok. Hmm, mungkin besok2 gantian om cumi yang dimantrain hahaha.
Iya, EOnya gede banget, semoga tahun depan bisa lebih mantap. Aku juga mau om naik kapal bagus dan bisa selfie-selfie ganteng muahaha
Kalo mau pilih EO, coba pilih yang berpengalaman ngurus krakatau, Kayak “Cumilebay” yang udah puluhan kali ke krakatau hahahaha #NgarepDapatKerjaan
Om Yop, ini mas cumi bisa jadi EO buat tahun depan hehehe
Insya Allah bisa … mari cari duit gede hahahaha
Huaaa tegang amat. Alhamdullilah terselamatkan. trus jadinya habis nenggak obat anti mabok berapa baskom ???? Yukkk ah, belajar renang 🙂
Haha 2 butir aja mbak 😀
Iya mau banget nih bisa renang, walaupun motivasinya : bikin selfie dari dalam air hahaha
Istimewahhh banget dan aku milih disebelah kamuh buat tidur selama 11jam menahan mual
Hahaha iya, udah kayak ikan sarden kita tidurnya 😀
Semoga EO tahun ini tidak lagi handle tahun 2017. Karena tahun 2014 – trip ke GAK di handle sama EO lokal dan itu berhasil – malah jauh lebih seru – banyak muatan lokal ketimbang susun rundown hayal sehayal hayalnya!! CAhebox laaah semua yang ada dalam EO itu .!! CUCUK.!!!
#SalamTBC hahaha
Lagi-lagi saya hanya ingin mengingatkan kepada semua orang, bahwa dalam kegiatan atau hal apa pun, keselamatan nyawa adalah nomor satu. Kesuksesan sebuah acara, pertama tentu saja dinilai dari tidak adanya nyawa yang terenggut dan tubuh yang tercederai. *Semoga dibaca oleh para penyelenggara festival (EO) lainnya di Indonesia. Terutama Festival Karimata yang sebentar lagi akan dilaksanakan di Kota Tanjungpinang, Kepri. Yayan dkk datang ya ke Tanjungpinang. Mana tau grup TBC bisa reunian kembali 😀
Setuju banget. Semua canda tawa akan sirna takkala hal buruk terjadi.
Ih mau bangeeeet ke Tanjung Pinang mbak 🙂
Melangkah menuju sadel gunung anak krakatau dengan perut lapar itu sesuatu banget om. Banyak drama dalam pertualangan ini, tapi disitulah kenangan itu menjadi semakin membekas.
Sebuah kebanggan bisa naik ke sadel Krakatau bersama om ndud dan tmn2 lainnya. Semoga bukan yang terakhir
Kadang mikirnya, blogger itu emang kadang dikasih pengalaman yang lebih “unik” karena bisa diceritain di blog muahaha.
Ya, nanti jalan bareng lagi yaa 😀
“Penumpangnya sudah kami evakuasi semua, ada 14 orang” duh! Waktu denger si bapak nyebut kata evakuasi kok pikiranku langsung gak enak ya 😀
Alhamdulillah ya, Yan… kita semua selamat dan baik-baik aja. Bener-bener jadi perjalanan dan pengalaman yang warbiyasak ya 🙂
Aku nggak denger itu yang mas wartawan nelepon basarnas, gak kebayang kalo mereka turun tangan, hebohlah kita masuk TV *ya kali hahaha
Baru tau gw, kalo malem2 udah keombang-ambing ombak, trus laper gitu disuguhinnya sepatu kaca. Ya paling tidak, di luar agenda yang sepertinya heboh (gile bo’, gw capek Bali Marathon tiba2 baca ‘drama’ ini di fb) dan simpang siur pemberitaan, ada cerita seru yang bisa dibagi.
Udah di darat. Udah bisa kali buat digoyang #eh 😉
Haha, yuklah mas kita dangdutan *nyari yang lagi kawinan hehe.
Sebenernya kita yang di laut juga heran loh, begitu sampe darat dan dapet sinyal, aku aja ada yang beberapa nanyain di twitter. *makasih kak Bulan, Citra atas perhatiannya. Tapi ya bingung juga kok mereka dapet kabarnya kita hilang di lautan ya? 🙂
Mungkin bisa ditanya langsung ke orang yang pertama kali mengabarkan hal itu. Semoga orang tersebut juga nggak justifikasi yang nggak-nggak kepada kami ya 🙂 *sebagaimana yang aku tulis di atas.
Protes keras memang disampaikan mbak Katerina langsung begitu mendarat via twitter. Juga secara langsung kepada EO yang berada di sana. Karena penanganan mereka emang… aduh! tapi alhamdulillah semua selamat.
Untunglah semua selamat. Kita yg di luar gak tau kejadian yang sebenarnya, kirain fun2 aja. Ternyata setelah dikasitau, mengkhawatirkan.. EO-nya ceroboh, gak mikirin keselamatan orang..
Aku sempet nanya, apakah Lampung kekurangan kapal yang model kapal pesiar itu? ternyata nggak. Artinya mungkin budget atau? ntahlah *semoga EO-nya ada yang mau komen, kalo baca mah aku yakin banget pasti baca.
Jika demikian, dari awal sudah gak niat sama itinerarynya. Jelas kecepatan kapal kayu beda dengan kapal yang kece itu. Ada rencana buat mini games, mampir ke pulau Sebesi dsb, dan nggak ada satupun yang terlaksana,
Emang aneh ya.. masa dibeda-bedain kapalnya.. EO gak professional 😦
Nyawa orang taruhannya..
Kalau tahun-tahun sebelumnya, kapalnya sama, jadi sampai di Gunung Anak Krakataunya juga barengan. Selama perjalanan kan bisa saling “jaga” karena kecepatan kapal sama.
Seru banget nih trip ny! btw banyak juga ya yg ikut.. 😀
Iya, seneng bisa jalan sama temen-temen yang seru, yang mau membaur ke kelompok-kelompok lain. 🙂
Yayan, kamu ngenes banget. Lain kali jalan pake duit sendiri aja ya #EhPiye emang EO ga tau jumlah peserta berapa? Nasi kotak aja sampai kurang. Gemess.
Aku gak paham juga kenapa bisa salah hitung. Kalo menurut temen-temen lain, anak buah kapal ngasih jumlah semua peserta tanpa menghitung jumlah awak kapal sendiri (namun setahuku mereka berdua sama-sama menghitung yakni dari pihak EO dan anak buah kapal).
Namun dengan fakta di lapangan ketika nyampe di Gunung Anak Krakatau, artinya EO emang gak prepare lebih. Mungkin hanya menghitung jumlah panitia dan peserta, anak buah kapalnya nggak dipikirin. Kita yang tidur ya jadinya kalah gesit sama anak buah kapal hehehe.
Aku baca dari awal sampe akhir cerita kok mesakke banget tho om.. Duh gusti, ngebayangin di tengah laut malem2 gitu ngilu rasanya… Semoga, ya, tahun depan EO-nya sigap dan bisa nghandle acara dgn baik…
EO-nya mungkin nggak akan dipake di festival yang sama lagi. Tapi festival lain ya bisa saja, kan? semoga jadi perhatian serius.
hey.. hey… kenapa ada kata surga ??
Ctrl+F : Surga
.
.
.
.
Eh iya ada!
Fiuuuh…aku jadi lega banget setelah baca tulisan ini meski dari beberapa hari lalu sudah lega juga ketika tahu kabar kalian selamat kembali ke daratan setelah dikabarkan hilang. Tulisan ini lebih ‘enak’ dibaca dan menerangkan what really happened. Tapi aku masih merasa sedih dan nyesek dengan kejadian yang menimpa kawan-kawan blogger. Kalau menyangkut safety, semua harus sama rata perlakuannya. Dan tuduhan-tuduhan itu… ah, i feel you, Bang Yayan. Alhamdulillah kali lah pokoknya kalian selamat. Itu yang paling penting.
Walaupun anggapan itu tidak dilakukan di forum terbuka, apa sih yang nggak mungkin bocor di era digital ini? ya nggak Cit? hehehe. Makanya sedihlah pas dibilangin kitanya yang mengeksklusifkan diri, gak mau membaur, gak mau gabung sama yang lain, kesannya sombong banget kami ini. Apalah kami-kami ini Cit, blogger hore aja haha (tapi insyaAllah bertanggung jawab).
Wong kita sesama peserta lain hepi berjamaah kok, aku aja dapet beberapa temen baru selama pelaksanaan. Ya kuncinya harus ngobrol, gak bisa diem-dieman sepanjang jalan, kan?
Kaget juga pas Citra dan kak Bulan mensyen di twitter, nah itu dapet kabarnya dari mana? hihihi.
Hihihi… Ini jadi pelajaran dan pengingat buat aku juga ke depannya.
Iya, cuma harapnya teman-teman yang keburu dapet kabar bahwa kami sengaja mengkondisikan diri seperti itu paham bahwa sesungguhnya kami bukan sengaja mau begitu tapi keadaan yang harus kami hadapi.
Tentang justifikasi yang terlanjur menyebar, biar, Tuhan maha tahu dan maha adil.
Serem amat, Cek Yan. Masalah safety emang jadi Pe-Er besar. Semoga bisa jadi pelajaran buat banyak pihak.
Iya mbak Ira, semoga jadi pelajaran buat kami semua.
Dari kemarin baca tulisan mas Indra aku rasanya pengen ngeremet2 EOnya. Sumpah gak profesional banget. Buat event sekelas ini, oh noooooo
Hari ini baca tulisan Yayan, makin geregetan ih. Tegang dari awal. Bahkan foto2 cakep anak gunung krakatau tak mampu menghiburku.
Syukurlah kalian semua selamat
Semoga jadi pelajaran agar ada perbaikan di event2 berikutnya
Saat bagian tegangnya aku udah gak mikirin foto lagi mbak, jadilah space kosong di tulisan aku isi foto-foto cakep aja hehehe.
Om bacanya merinding sempat mendengar kabar kalian waktu terombang ambing dan Alhamdulillan kalian selamat. Aku kok ikutan gerem ya lihat EOnya tapi semoga mereka berbenah karena yang namanya membawa orang harus memperhatikan keselataman apalagi di laut, AKu juga gak bisa berenang jadi kalau gk ada jaket itu bener2 kesalahan fatal.
Perasaan dag-dig-dug yang gak bisa berenang kayaknya lebih kerasa jika sesama gak bisa renang ya Win hehe. Kabarnya cepat sekali menyebar ya, kita juga kaget pas sampe daratan udah banyak yang nanyain. Alhamdulillah selamat. 🙂
gak apa berarti banyak yang perduli. Aku gregetan loh kalau keselamtan itu di No 2 kan. Udah om next time jalannya amaku aja backpackeran kita hahhaha
Hahaha iya ya, yuklah kapan-kapan kalo waktu dan rezeki ada 🙂
amin
Diceritain berbi dan fak kebayang itu maboknya kek mana. Huhu
Berbi yang mana ini mbak? hehe.
Seru ya ada kegiatan kayak gitu, blogger blogger diundang..
Btw akomodasi disananya gratis om?
Iya, selain akomodasi, kita juga dapet tiket pesawat gratis. Lampung-Palembang itu paling enak naik kereta, lebih murah pula, tapi kemarin gak boleh, harus naik pesawat.
🙂
Undangan resmi soalnya, bukan blogger selundupan (soalnya ada yang beranggapan gitu hehehe)
Omnduut enakk…udah jadi blogger professional hehehe… bukan amateur lagi 🙂 🙂
Haha gak juga sih Ji. Aku gak ikutan kelompok blogger yang profesional. Masih asyik-asyik aja ngeblog independen. Yang penting banyakin temen 🙂
iya om ajarin dong caranya supaya bisa diundang gratisan kaya gitu 😦
Kalau mau diundang terus, cara paling gampang sih masuk ke komunitas atau bentuk komunitas sekalian.
Aku sendiri, sebagai blogger ala-ala, masuk komunitas jauh dari kata cukup syarat. Bentuk komunitas? blogger jelata kayak aku gini gimanalah coba, hehehe.
Lalu gimana? perbanyak teman 🙂 aku awalnya diajakin jalan gitu ya karena ada temen yang ngajakin. Terlepas dari itu jelas kita harus punya sesuatu kan ya? yang ngajakin jalan pastinya butuh timbal balik. Minimal banget nulis tempat-tempat yang didatangi karena sebagai blogger itulah kemampuan kita yang paling utama.
🙂
Omaigaaatt Yayaaann….. serem banget ya. Kebangeten itu EOnya. Habis ini pasti mereka bakalan disemprot habis2an sama banyak pihak. Semoga EO Krakatau Fest berikutnya lebih baik.
Btw, klo jadi ke Semarang boleh koq les renang sama eike *lirik manjah ala kakcum 🙂
Haha tinggal di kota sungai eh akunya malah gak bisa renang. Bener nih mau ngajarin dugong renang? hahaha.
Barusan udah kirim email ke EO-nya, moga-moga ada tanggapan. Kalo nggak, nanti nama EO-nya aku tulis sekalian di postingan.
Aku pernah keombang ambing kena hujan deres di tengah2 pjalanan ke pahawang pake kapal gitu jg dan i know how you felt that day. Emang gila ombaknya serem bgt -_-“
Nah tuh kan…
Hmm dibilang yang SEREEEEEMMM buangeeeet ya nggak juga, cuma untukku yang anak darat, gak bisa renang pula, itu lumayan bikin semaput.
Alhamdulillah kalian masih dilindungi Allah, entah apa aku bisa bertahan bila berada di posisi kalian. Lha wong kemarin aku ngedrop gara-gara mabuk darat saat baru di Nganjuk dan aku batal ikut ke Yogya. Nasib, aku nggak dapat kedua-duanya, Yogya ya Krakatau hehehe.
Semoga tahun depan EO-nya lebih profesional ya Yan dan siapa tau aku bisa ikutan, aamiin.
Amin, semoga bisa diajakin juga jalan yang di pulau Jawa akunya 🙂
serem banget yan pengalamannya, RESMI yah? duh…nggak diundang diriku hikz
Yes, resmi. Bukan selundupan apalagi ke sana kudu siapin budget sendiri.
yan, bagi info dong soal gimana bisa ikut festival ini taun depan lewat jalur RESMI
mupeng deh.. aku kalo baca postingan dari siapa aja soal india n lampung bikin nyesek kalo nggak bisa ikutan :(( hiks, ngiri samo Yayan
Silakan kontak om Yopie.
🙂
Mana siapa sini yang komen sinis? Saya samperin…
Mau diapain? ditraktir? aku juga mauuuk
Amsyooong… Kalo ombak gede walau bisa berenang yang tetep serem juga sih ya.
Iya betuul >.<
Asyik tuh kak kalo nyasar ke Pahawang. Besok paginya langsung bisa wisata di Kepulauan Pahawang *gagalfokus*
Setidaknya dengan kejadian yang dialami kk n blogger2 lainnya bisa menjadi cambukan untuk terus beribadah kepada Allah. Heru yakin nian, pas peristiwa atau pasca peristiwa ini, byk diantara kalian yg kadar keimanan meningkatkan. Ambil positifnya kak, hehehehe
Hahaha jadi inget Tuhan kalo di situasi genting yak 😀
Wkwwkw, cara ‘simple’ mendekatkan diri ke Tuhan 😀
Hehe yoa 😉
Yang paling menyulut emosi adalah pernyataan bahwa kita ini kelompok eksklusif, tak mau bergabung dengan yang lain. Masya Allah, bahkan saat menulis inipun aku rasanya ingin mendatangi oknum tersebut dan bertanya “Apa maksudnya membuat pernyataan seperti itu?”
But, life must go ON!
Semoga tahun depan lebih baik.
Sama mbak, aku juga pinginnya nanya langsung. Sayangnya perkataan beliau dilontarkan di grup tertutup (walaupun cukup banyak orang ada di grup tersebut). Mestinya beliau sekarang paham kalo apa yang dia sampaikan itu salah. Itupun jika beliau mau menurunkan ego untuk mengakuinya.
waduh Pink yg udah naik kapal kayu ke Pahawang aja pusing apalagi harus naik kapal kayu ke AGK sampe 4 jam lebih mungkin bakalan lemes, ombaknya gede dan tiba2 bisa hujan deras padahal terang benderang, pokoknya cuaca diatas laut susah diprediksi makanya safety no 1 kalau perjalanan diatas laut meskipun orang yg bisa berenang kalau kecebur di laut ya tetap probabilitas selamatnya kecil, sedih sih kalau ada yg kena musibah bukannya bersimpati tetapi menyebarkan berita yg tidak enak, terus ada yg berasumsi macam2 tanpa tahu cerita sebenarnya. Dalam kasus ini EO lah yg salah siapapun manusianya entah itu blogger atau bukan blogger harus diperlakukan dengan layak dan adil, nyawa manusia sering terlalu murah bagi orang Indonesia nah mental seperti itu yg harus dibasmi. Namun sebagai traveler kita juga harus punya standar keselamatan dan bisa mengukur kemampuan diri contoh kecilnya kalau mau naik kapal dan main ke laut gak boleh tidur larut malam sebelumnya dan kondisi tubuh bugar kalau gak bakalan mabuk dan masuk angin di kapal nanti malah merepotkan teman seperjalanan atau sakit sepulang traveling, sayangilah nyawa kita yg cuma satu itu om, tetap kalau traveling safety nomor 1, lain kali kalo gak standar dr EO nya dan tidak adil dr awal cepat komplain, speak up demi keselamatan pribadi
Iya ini pengalaman banget. Gak boleh nrimo kalo ujung2nya membahayakan keselamatan.
Ternyata di balik kemeriahan Lampung Krakatau Festival 2016, banyak cerita yang mengaharu biru dari harusnya naik kapal pesiar jadi kapal tongkang 😦
Iya, jadinya 3 kapal ini sampainya nggak barengan. Itinerary langsung rusak. Lebih-lebih jika ngomongin faktor keselamatan. Selesai dah.
Wah, kayaknya tahun lalu malah mendingan ya Yan, semoga tahun depan naik ke krakatau hehehe
Amin amiin, pasti bisa! aku aja bisa nyampe ke Sadel hehe.
Ya Allah, mengenaskan banget, sih… Gemes bacanya 😥
Ho oh >.<
Om, setahu saya, perahu kayu tangkap ikan tradisional macam tu biasanya ada kompas. lah itu nggak ada juga? ini aneh..
dan lebih aneh lagi adalah EO nya.. ntah dia ngeh atau nggak ini kan skala acaranya kan nasional? masa acara keren gini pake EO kere?
pake acara nggak makan pula lagi? alamaaak.. klo kena maag gimana? klo tiba2 pingsan gimana?? klo tiba2 om dut jadi kurus gimana??
Mbak Rosanna sempat ngelihat ada benda kecil yang saat ditanya dan dijawab sama awak kapal dibilang itu kompas.
Tapi ntah kenapa, mungkin karena malam atau gimana (penerangan minim banget) jadinya yang nyupirin kapal galau. Kita jadi ikutan galau deh >.<
Jadi inget perjalanan ke kraktau nntang ombak. Serem. Ku jg pake kapal kayu kok, bedanya aku pakai pelampung. Eh ngga ding, pelampungnya aku jadiin bantal. Dan bedanya lagi, aku jalan sendiri suka2, jd gpp pake kapal seadanya jg. Lha kalo kamu kan tersisih macam kaum termarjinalkan. *udah jatuh ketimpaa tangga diomelin, eh skrg aku ngeledekil*
Btw, Alhamdulillaah masih selamat. Aku geregetan sama EO nya sumpah.
Hahaha sini sini ledekin dan traktir aku #eh 😀
Kronologisnya runut Yan. Aku saksinya…
Soal naik kapal kayu, jujur aku tidak terlalu masalah. Malah, kapal kayu yang dinaiki kemarin sedikit lebih besar dan memadai dari yang aku naiki saat festival krakatau tahun 2015 lalu. Kapal yang sekarang beratap dari depan sampai belakang, bisa tiduran, bisa selonjoran, bisa duduk2 santai dan berbaring di atas kapal. Hanya ga bisa berdiri saja dalam kapal, karena atapnya pendek. Jumlah peserta yg ga seramai tahun lalu juga bikin kapal tampak lengang. Gak berjejal seperti tahun lalu.
Tahun lalu kapal yang aku naiki lebih kecil dan ramping, kami duduk ramai2 di depan, tidak bebas selonjoran, apalagi tiduran. Saat ombak menerjang, sering kecipratan, sering pula kepanasan, karena tidak tertutup seperti yang sekarang. Tahun ini, malah kupikir ga bakal ada kapal bagus dan besar seperti kapal putih itu. Perkiraanku semua kapal kayu. Padahal kalau semua sama kapal kayu mlaah bagus, ada muatan lokalnya, juga bisa memberdayakan warga setempat.
Yang aku sesalkan soal ketiadaan alat keselamatan. Ini vital. Di tengah problem inilah muncul problem lainnya, kejadian miskom soal jumlah jatah makanan, orang2 yg rebutan naik kapal besar saat pulang (bikin kapal besar kelebihan muatan), hingga ada tuduhan ga berdasar yang ga mengandalkan kesaksian mata sendiri. Cuaca malam itu juga kurang bagus. Lengkap sudah. Nah, keadaan campur aduk inilah yang memicu kemarahan dan kecemasan. Sayangnya, saat kita dinyatakan “tak ada kabar”, malah ada segelintir manusia yang menanggalkan keprihatinan, menggunakan asumsi pribadi yang cenderung negatif yang entah untuk tujuan apa padahal tak melihat kejadian yang sebenarnya.
Soal makan telat, tidur di kapal beralas tikar, kena angin, gelap2an, aku rasa kita pasti pernah alami yang lebih parah dari itu dalam perjalanan2 kita yang lainnya/sebelumnya. Tapi karena ini event nasional, jadi beda cara memandangnya. EO nya sendiri sepertinya baru kali ini handle event wisata dan budaya, baru ‘kenalan’, makanya belum paham sikon di lapangan. Moga jadi pelajaran buat semua pihak.
Aku pribadi sama sekali ga kapok ke Lampung, pesona Lampung – The Treasure of Sumatra terlalu besar untuk ‘dirobohkan’ oleh kejadian ini. Aku pun percaya Yayan dan kawan blogger lainnya bicara apa adanya soal kejadian atas dasar rasa sayang pada Lampung. Kejadian ini bahkan punya hikmah besar buat persahabatan kita para blogger, jadi makin dekat, solid, dan sama-sama masih mau bantu memajukan pariwisata daerah, entah itu Lampung atau pun provinsi lainnya.
Dan buat saya, gratis atau pakai uang pribadi, saya tetap akan ke Lampung dan menulis tentang Lampung :).
Mbak Rien, makasih atas komen panjangnya. Ditunggu postingannya ^_^
aku kepingin fam trip bareng kalian, blogger2 keren nan menginspirasi.
AMiiin, trip ke LN dong haha
Semoga jadi catatan sehingga di kemudian hari jadi lebih baik 🙂
Amin, terima kasih mbak Kayla eh mbak Eka 🙂
Heh! Jangan ada fitnaaah. Kayla itu fiksiii. Fiksiiiiii :p
Iya iyaaa haha aduh salah lagi aku *jedotinkepalakekasur 😀
Emang keputusan nekat sih berlayar tanpa life jacket itu
Iya, nekat dan bodoh *tunjuk hidung sendiri
Baiklah.. ambil positifnya saja …
mana kripik nangka akuuuu :p
Nah dak nemu nangko, pisang ado, di toples di rumah hahaha
Ping balik: Tempat Nongkrong Ngehits & Instagramable Baru di Kota Lampung : Munca Teropong Laut | Omnduut
“Yo, serunya jalan2 ke krakataunya”
“Memang tau dari mana ma?”
“itu blognya omnduut, mama baca sampe habis”
gitu percakapanku dengan ibuku 🙂
Mamanya om yo asyik hahaha, makasih mama udah baca tulisanku sampe habis. Kapan-kapan main ke Palembang atuh 🙂
akan ku ingat perbuatan EO itu seumur hidup hauahhauahahahaha #PeranAntagonis #Sinetron #KejarTayang
Dak cocok man, katek mano.
Idiiih, mengerikan ya Om perjalanannya.
Tapi pengalaman buruk itu pasti membuat Omdut menjadi lebih kuat kan? #ManusiaSuper 😀
Haha iya 🙂 makasih
sungguh pengalaman yang sangat menegangkan,tapi seru juga ya bisa jadi pengalaman yang tak akan pernah terulang dan terlupakan hehehe
Hahaha jangan sampai terulang 😀
hehe. semoga ada perbaikan untuk penyelenggaraan trip tahun depan yaa.
hehe. di balik itu smua, yg ku salut adalah kalian menjadi kompak, saling peduli, dan semakin erat pertemanannya.
btw, ini tulisan ke empat dengan cara penyampaian yg sama dari 4 blogger yg diundang trip kemarin. hehe. curhatan semuaa isinyaa.
salam kenal
hanif insanwisata.com
Dibilang curhatan iya, tapi lebih ke apa yang ditulis sesuai pengalaman yang dirasakan. Walau begitu inti perjalanannya tetap dapet, yakni naik ke GAK. Alhamdulillah kesampaian 🙂
semoga taun depan lebih memperhatikan keselamatan ya bro.. yang penting disyukuri saja masih selamet dan bisa traveling lagi..keep jalan 2 mas bro heheh
Amiin, ya semoga ya mas. Yakin tahun depan akan lebih heboh dan rame 🙂
Iya om duut duut, semangat y
Saya sudah baca tulisannya Om Indra di blognya. Ikut prihatin, tegang, dan kesal dengan tindakan EO yang tidak profesional dan buta medan. Bersyukur kalian semua kembali pulang dengan selamat.
Adapun hikmahnya, perjalanan menegangkan setidaknya telah membentuk dan melatih mental Om Yayan dan teman-teman, dan (bukan berarti saya menyetujui ketegangan itu) saya lebih salut dan angkat topi kepada kalian yang menaiki kapal kayu pulang-pergi. Kekompakan dan friendship kalian tiada duanya! 🙂
Alhamdulillah Qy, masih selamet sehingga ntar bisa ketemu sama Rifqy 😀
Hahahaha 😀
nampak menarik untuk dikunjungi 😀
Jangan lupa setelahnya ke Palembang ya 🙂
suatu hari nanti akan ku ke sana. 😀
Ping balik: Traveling, Lampung, Gunung Anak Karatau | Hari JT
Ping balik: Just Relax; Traveling, Lampung, Gunung Anak Karatau – beritasae.info
perjalanan nya terlihat menyenangkan sekali.
Hehehehe
Hehe tengkyu
Ping balik: Norak Bergembira di Gala Premiere Trinity The Nekad Traveler | Omnduut