Pelesiran

Kek Lok Si : Kuil Indah di Langit Kota Penang

DSC_0188

.

“Bang kayaknya kita salah jalan deh.”

“Nah terus kita lewat jalan mana, Ndra?”

“Coba kita tanya ibu itu, yuk!”

Aku dan Indra lantas mempercepat langkah dan menyapa seorang ibu yang nampaknya baru pulang dari warung.

“Mak cik, maaf numpang tanye sikit. Ini jalan nak ke kuil, ke?”

“Wah, kalian orang salah jalan,” jawab mak Cik ini ramah. “Kalian harus turun, trus jalan mutar sikit nanti ketemu jalan menuju kuil. Dari mane?”

“Indonesia, mak cik,” lanjutku lagi.

“Jom sini ikut, nanti saye kasih tunjuk jalan pintas.”

Mak Cik yang namanya tidak aku ketahui ini lalu berbalik arah. Seharusnya beliau jalan menurun dan demi kami… iya, demi kami, dia mau bersusah payah jalan ke arah atas lagi.

“Nah, kalian ikuti saje jalan ni, nanti langsung ke arah kuil,” sahut Mak Cik sembari menunjukkan sebuah jalan setapak. Jalannya sangat kecil. Tidak dapat dilalui kendaraan bahkan sepeda sekalipun. Jalannya pun melewati perkarangan rumah penduduk.

Tak henti kami mengucapkan terima kasih. Dan begitu jalannya disusuri, hup! Tahu-tahu kami sudah berada di jalan setapak diantara kios-kios pedagang yang banyak tersebar di marka jalan menuju kuil. Karena tersasar dan ketemu dengan mak Cik yang baik itu, kami dapat menghemat waktu dan tenaga. Alhamdulillah… bantuan dalam perjalanan selalu muncul secara tak terduga.

* * *

Itu adalah hari terakhir kami di Penang, setelah sehari sebelumnya kami sibuk berburu mural street art, rencananya hari ini (6/4/15) kami mau mengunjungi temple of Supreme Bliss atau yang oleh warga setempat lebih dikenal dengan nama kuil Kok Lok Si (極樂寺). Kuil ini berada di kaki gunung Air Itam ini merupakan salah satu kuil Buddha besar yang berada di Asia Tenggara.

Untuk menuju kuil ini, dari hostel di kawasan Kimberley, aku dan Indra harus berjalan kaki sekitar 5 menit menuju Komtar. Di Komtar banyak sekali bus yang dapat membawa wisatawan ke lokasi wisata yang diinginkan. Sayang aku lupa bus nomor berapa yang kami naiki waktu itu. Jika tidak tahu bus mana yang dipakai, tanyakan saja ke petugas atau penduduk setempat. Yang jelas, berdasarkan buku catatan pengeluran, kami hanya membayar ongkos Penang Rapid sebesar 2 ringgit saja (perorang) untuk menuju kuil Kek Lok Si ini.

Perjalanan menuju kuil Kek Lok Si tidak terlalu lama. Kami sempat melewati kawasan pemukiman warga hingga mobil terus berjalan ke pinggiran kota dan suasana pegunungan mulai nampak. Waktu tempuh dari Komtar ke kul ini sekitar 15 sd 20 menit saja.

Kuil ini berjarak 3 km saja dari stasiun Penang Hill. Sebetulnya sempat terbersit juga untuk mengunjungi Penang Hill. Namun apa daya, itu hari terakhir kami di Malaysia dan persediaan ringgit semakin menipis. Makanya kami memutuskan untuk mengunjungi kuil Kek Lok Si ini saja. Kenapa? Karena kuil ini pun berada di atas ketinggian dan dari atas kuil, aku dapat melihat pemandangan kota Penang yang keren itu!

DSC_0201

Pemandangan kota Penang dari Kek Lok Si

DSC_0166

Fotonya diambil dari atas sini

Kembali ke cerita awal di mana kami sempat tersasar, untuk menuju kuil utama, kami harus melewati deretan pedagang. Pada saat kami datang memang masih pagi jadi belum banyak pedagang yang berjualan. Hanya ada beberapa pedagang pakaian yang mulai mengeluarkan isi dagangan.

Kami terus melangkah menuju atas bersama beberapa wisatawan. Di jalan-jalan kecil menuju kuil utama, terlihat beberapa homeless dan tunawisma yang mengadahkan tangan meminta sedekah. Hmm, tak jauh beda dengan Indonesia, ya! Enaknya, mereka tidak meminta dengan memaksa. Hanya duduk diam sambil mengharap belas kasihan. Yang seperti ini aku juga temukan di Bangkok dulu. Pengemisnya sopan 🙂

Oh ya, karena ini tempat ibadah, sebaiknya berpakaian sopan. Memang tidak ada petugas yang menghalau pengunjung jika kedapatan memakai pakaian yang terlalu minim. Jadi, kesadaran pengunjung sangat dijunjung tinggi di sini.

Bagaimana dengan kuil Kek Lok Si ini? Dua kata : indah (pake) banget! –maaf, kelebihan katanya hehe.

DSC_0149

Macam di film-film Tiongkok ya 🙂

Kuil ini berada di beberapa tingkatan. Ya maklum saja, posisinya kan tepat di kaki gunung sehingga bangunannya mengikuti kontur gunungnya. Beberapa kuil terlihat berdiri kokoh. Ornamen tionghoa sangat terasa kental. Kuil ini pun bersih dan dengan banyaknya tumbuhan dan tanaman, menjadikan kuil ini terasa nyaman, sejuk dan damai.

Semakin ke atas, maka pemandangan yang di dapatkan juga semakin cihuy!

DSC_0160

Diambil dari sudut pandang berbeda 🙂

DSC_0177

Gerbang kuil atas

Seluruh kompleks kuil ini dibangun selama periode tahun 1890 hingga 1930 atas inisiatif dari Beow Lean, yakni biksu kepala dari Goddess of Mercy Tempel di jalan Pitt pada tahun 1887. Salah satu bangunan yang paling mencolok adalah keberadaan Pagoda dari Rama VI (Pagoda Sepuluh Ribu Buddha) yang dibangun dari 10.000 alabaster (batu pualam putih) dengan tinggi bangunan 30,2 meter.

DSC_0167

Pagoda dan jejeran patung Buddha

Oh ya, satu keunikan dari pagoda ini ialah adanya 3 ciri arsitektur berbeda pada tingkatan pagodanya. Seperti yang ditulis oleh Wikipedia, gambaran tingkatan pagoda ini ialah, untuk tingkat dasar, arsitekturnya mengambil gaya Tiongkok. Bagian tengah bergaya khas kuil-kuil di Thailand sedangkan bagian puncaknya seperti kuil yang berada di Myanmar. Unik, kan?

DSC_0184

Pagoda dengan 3 jenis arsitektur. Keren!

Yang perlu diketahui ialah, untuk masuk ke pagoda ini kami harus membayar. Aku lupa berapa tarifnya, kalau tidak salah sebesar 4 ringgit. Sekali lagi, karena penghematan dan waktu yang mepet (selepas ini kami langsung menuju bandara), kami berdua memutuskan untuk mengunjungi bagian lain dari kuil Kek Lok Si. Ke mana, kah? Yakni ke patungnya Dewi Kuan Yin. Eh apakah Kuan Yin itu sama dengan Kuan Im di ceritanya Kera Sakti ya? Hmmm… sepertinya sama 🙂

Nah serunya, untuk menuju patung Dewi Kuan Yin, kami harus menaiki semacam lift atau kereta gunung. Namun bentuknya lebih sederhana dan tidak terlalu canggih seperti yang ada di Penang Hill (aku tahu karena pernah dapet kartu posnya dulu hehe). Untuk tarifnya murah, 3 ringgit sekali jalan. Karena kami pulangnya di jalan yang sama, maka kami langsung beli tiket return sebesar 6 ringgit.

DSC_0195

Ngalah-ngalahin penjual emas. Penjual tiketnya di kerangkeng hehehe

Kios penjual tiket ini berada di satu lokasi dengan para pedagang cindera mata. Banyaaaak sekali pedagang yang berjualan di sini. Dari kartu pos, makanan, minuman, miniatur patung Buddha, parfum, ornament Tinghoa, perlengkapan ibadah hingga cincin dan gelang giok menawan seperti ini. Harganya berapa? Kagak tahu. Karena backpacker kere, mending gak usah nanya ketimbang ntar kepingin tapi gak bisa beli hahaha.

DSC_0190

Cincin dan gelang giok yang disukai cewek-cewek biasanya 😀

Kereta gunungnya hanya ada satu buah. Jadi, kami harus menunggu kereta dari atas turun ke bawah dulu sebelum bisa naik ke atas. Untunglah nunggunya nggak lama. Seingatku nggak sampai 5 menit kok. Kapasitas penumpang juga lumayan banyak. Setidaknya bisa lebih dari 5 orang. Aku naik ke dalam kereta gunung tersebut bersama beberapa turis asing lainnya.

????????????????????????????????????

“Naik…naik… ke puncak gunung” *nyanyi*

DSC_0233

Kalau turun begini pemandangannya 🙂

Pada ngeh gak sih kenapa tiket keretanya dijual one way dan return? Aku sendiri awalnya bingung. Kalau gak pakai kereta trus lewat mana? Ternyata pengunjung dapat pulang melalui jalan lain. Aku kaget ketika berada di atas mendapati beberapa mobil terparkir dengan rapi. Oalah ternyata ada jalan besar di atas sana. Hebat juga, soalnya dari awal aku gak melihat ada jalan. Sepertinya jika ingin memakai mobil, perjalanannya agak sedikit memutar.

DSC_0206

Mobil di atas gunung :p

Tak jauh dari tempat parkir mobil itulah berada patung Dewi Kuan Yin. Patungnya gedeeee banget! Dan takkala melihat patung ini, ingatanku akan serial Kera Sakti makin menjadi-jadi. 🙂 Patung ini dilindungi oleh pavilion octagonal yang dibangun belakangan dan selesai pada tahun 2009. Sebelumnya, patung dewi Kuan Yin ini berdiri tanpa pelindung apapun. Untuk melihat seberapa besar patung ini, coba lihat foto ini.

DSC_0202

Patung Dewi Kuan Yim

DSC_0200-vert

Perbandigan ukurannya 🙂

Tak jauh dari patung Dewi Kuan Yin, ada sebuah kuil yang masih digunakan untuk beribadah. Uniknya, di depan kuil disiapkan berbagai macam pita beraneka warna dan pengunjung dapat menuliskan harapannya pada pita tersebut untuk kemudian digantung di pohon harapan. Ingat, pita itu dijual loh hehe. Satu pita seingatku harganya 1 ringgit. Uangnya dimasukkan ke dalam sebuah kotak donasi.

Masih berada di kawasan yang sama, terdapat sebuah kawasan yang terdapat 12 patung melambangkan zodiak. Suasana di sini sangat asri!

????????????????????????????????????

Zodiakku : kelinci 🙂

DSC_0214

Paviliun di atas kolam. Ikannya buanyak!

Tak jauh dari patung zodiak ada sebuah paviliun kecil yang berada di tengah kolam. Suasana teduh ditambah suara gemericik air di air terjun buatan semakin bikin betah berlama-lama berada di sini. Jika tak ingat tiket pulang ke Kuala Lumpur rasanya ingin berlama-lama hingga malam hari. Dari foto-foto yang dipajang di beberapa bagian kuil, Kek Lok Si ini makin cakep kalo didatangi ketika hari mulai gelap. Cahaya lampu yang bertebaran di seluruh kuil semakin menciptakan kesan megah, mewah dan sakral di kuil ini.

Berkesempatan berkunjung ke Penang? Jangan lewatkan kuil Kek Lok Si yang “berada” di atas langit ini! 🙂

Iklan

41 thoughts on “Kek Lok Si : Kuil Indah di Langit Kota Penang

    • Mungkin karena ini sudah pinggirannya Penang ya mbak Ira, jadi nampak hijau 🙂 kalo di pusat kota sih kayaknya kebanyakan bangunan ^^

      Aku kurang begitu paham soal perhiasan, tapi kakak cewekku sempat minta rikues oleh-oleh gelang giok kayak gitu pas kami ke Malaka. Sayang harganya…. 😀

  1. Ooh… Om shionya kelinci :hehe.
    Keren kompleks kuilnya, bersih dan sangat megah, dan pemandangannya juga bagus banget. Saya juga suka keretanya, menanjak dan asyik, ah semoga di Indonesia suatu hari juga ada kereta seperti itu :haha.
    Dan, Bodhisatva Avalokitesvara (lagi)! Memang penggambarannya sangat universal di seluruh dunia, dengan posisi tangan seperti itu dan muka yang menyorot bijak ke bawah. Ah, selalu damai kalau melihatnya, bahkan ketika hanya lewat foto seperti di postingan ini.
    Nice story!

  2. Bis ke Kek Lok Si itu 203 (Air Itam) atau 204 (Penang Hill), Om. Ya ampun hapalnya saking setahun ini ada ke sana 2x. Hahahaha. Tapi Kek Lok Si emang lebih indah daripada Penang Hill yg overpriced itu. Cuma jalanan masuknya yg diapit kios-kios itu panasnya luar biasa.

    • Aha bener! tadinya aku inget no 202 ternyata 203.
      Makin banyak aja yang komen kalo Penang Hill biasa aja hehe, alhamdulillah, pilihan yang tepat berarti waktu itu.

  3. Mas Yan, ke sini pas lows season kali ya, Kek Lok Si tampak sepi soalnya. Waktu aku, lebaran kemarin, ramainya gak ketulungan, ngambil foto aja susah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s